yukberbagi!


Sosialisasi tanpa mispersepsi
02/02/2010, 4:12 pm02
Filed under: catatan saya | Tags: , , , ,

Ketika kembali dari sebuah penyuluhan Kesehatan Reproduksi dan Seksual di desa Sidatapa, sebuah desa di pelosok gunung daerah Singaraja, Bali; saya membawa serta sebuah bulletin terbitan lembaga penanggulangan AIDS yang memuat data statistik ODHA (orang dengan HIV/AIDS) sampai periode akhir 2008 di Bali. Saya terhenyak mendapati bahwa daerah yang baru saya kunjungi beserta teman-teman LSM ini ternyata menduduki peringkat kedua teratas dari seluruh ODHA yang terdeteksi di propinsi ini.

Keterhenyakan itu menjadi tanda tanya besar, ketika melihat begitu besar antusiasme peserta yang hadir dan didominasi kaum perempuan ini. Terbersit pikiran, ‘kalau antusiasme dan keingintahuan orang mengenai kesehatan reproduksi dan seksual ini begitu besar, mengapa tidak sering saja diadakan penyuluhan ke desa-desa di daerah ini?’ Dan tentu yang menjadi pemikiran selanjutnya adalah dengan banyaknya informasi, mudah-mudahan kesadaran sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS di daerah ini makin meningkat.

Namun harapan ini sedikit pupus ketika mendengar upaya teman-teman LSM untuk masuk ke pelosok-pelosok desa terkendala banyak hal. Mulai dari masalah birokrasi sampai dengan hal yang menurut saya sungguh tidak masuk akal, yaitu ketika ada tokoh setempat yang begitu pongahnya mengklaim bahwa tidak mungkin ada penduduk di desanya yang terinfeksi atau malah mengidap penyakit menular seksual tertentu.

Lalu saya berusaha memandangnya dari sisi yang berbeda. Kalau upaya sosialisasi ini terkendala dengan masalah ‘turun langsung’ ke lapangan, mengapa tidak kita menggunakan media lain. Toh inti dari istilah sosialisasi sendiri adalah proses ketika anggota masyarakat mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat tempat ia menjadi anggota kelompoknya dari agen-agen sosialisasi, yang bermula dari keluarga, sekolah, teman sebaya termasuk juga yang dijembatani oleh media massa.

Jadi berbagai cara, metode maupun media sah-sah saja  digunakan sebagai alat atau sarana mensosialisasikan hal ini.

Media massa memang telah sering menyasar tema seputar HIV/AIDS baik dalam bentuk wacana, informasi ilmiah, wawancara ahli kesehatan, tokoh masyarakat, maupun testimonial ODHA sendiri. Tujuan utama untuk mengikis mitos masyarakat tentang AIDS maupun mencegah stigmatisasi teman-teman ODHA, memang bisa dikategorikan cukup berhasil. Ini terlihat dari semakin banyaknya respon positif saat acara tersebut ditayangkan di televisi maupun disiarkan radio.

Wawancara di radio ataupun televisi memang menjadi salah satu metode yang ampuh untuk memberikan informasi yang benar dan akurat. Namun ketika upaya sosialisasi bukan hanya dengan metode wawancara saja, penyampaian informasi yang benar, valid dan dapat dipercaya adalah pekerjaan rumah selanjutnya. Semisal memasukkan tema seputar HIV/AIDS dalam tayangan-tayangan tertentu.

Sebut saja sebuah sinetron remaja pada akhir April lalu.  Sang sutradara mencoba mengangkat tema remaja dengan HIV/AIDS sebagai salah satu episode. Penyampaian untuk menolak stigma dan pendiskriminasian orang dengan HIV/AIDS telah tampak dideskripsikan. Namun kelanjutannya menjadikan episode ini tak bernilai. Adegan sang korban AIDS yang tahu-tahunya parah…, terjatuh dengan darah keluar dari hidung dan mulut, dibawa ke RS dan meninggal bagaikan puncak yang tak klimaks. Sungguh sayang sekali. Dengan maksud mendramatisasi, korban yang collapse tak lebih digambarkan seperti penderita TBC atau kanker di saat sekarat mereka.

Bayangkan bila tayangan ini yang ditonton oleh teman-teman remaja di pelosok desa yang gemar menonton televisi dan belum mendapatkan penyuluhan. Asumsi yang spontan terbentuk menurut saya ada 2 yang utama. Pertama….kalau ada teman yang sakit parah kemudian dia dikenal suka gonta ganti pacar, lalu ditemukan muntah darah ~ itu berarti dia penderita AIDS. Jelas ini menyesatkan persepsi remaja tentang HIV/AIDS. Padahal gonta ganti pacar tanpa adanya hubungan seksual ataupun bila dilakukan dengan hubungan seks aman, tidak serta merta menyebabkan orang tersebut terinfeksi HIV atau spontan menjadi ODHA.

Kedua….bahwa akhir hidup dari seorang ODHA adalah tampak sehat, tiba-tiba muntah darah dan sesaat kemudian meninggal. Memang infeksi oportunistik yang menyertai AIDS di antaranya termasuk TBC (tuberculosis) dimana biasanya seseorang akan batuk yang disertai bercak darah. Itupun sang penderita harus batuk darah terus menerus dalam 2 tahun dan sangat tidak sehat sehingga menyebabkan ia kesulitan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari, sebelum akhirnya menghadapi maut. Tidak serta merta dalam rentang waktu pendek seperti yang digambarkan dalam tayangan tersebut.  Sungguh sebuah sosialisasi yang salah persepsi. Persepsi sang sutradara yang salah telah menggiring penontonnya untuk memiliki kesalahan persepsi yang sama.

Media terutama televisi memang masih menjadi magnet hiburan bagi masyarakat Indonesia. Seperti survey BPS tahun 2006 yang  menunjukkan bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk. Sedangkan, menonton televisi sebanyak 85,9 persen dan mendengarkan radio sebesar 40,3 persen. Jadi bisa dibayangkan seandainya media televisi menyampaikan sebuah informasi yang salah, berapa banyak masyarakat Indonesia yang terimbas kesalahan informasi tersebut. Sungguh sebuah keadaan yang tidak kita inginkan.

Oleh karena itu, penyisipan informasi mengenai HIV/AIDS dalam tayangan apapun di televisi perlu dikemas dengan lebih baik dan seksama. Baik dari segi artistiknya, sehingga tidak terkesan kampanye terselubung dan yang terpenting dari segi muatan informasi sehingga bukan asal sisipkan saja supaya dibilang ikut peduli. Tayangan tersebut diharapkan benar-benar bisa mendidik para penontonnya dengan cara yang benar, valid dan dapat dipercaya. Contohlah film Philadelphia yang diperankan Tom Hanks dan Denzel Washington. Film yang dikemas cantik dengan situasi dunia peradilan ini mampu memberikan gambaran bagaimana prasangka-prasangka yang harus dihadapi seseorang yang harus hidup dengan HIV, dan bagaimana berjuang meluruskan persepsi orang mengenai HIV/AIDS. Sungguh sebuah tayangan yang dapat dijadikan contoh.

Bila mimpi kita untuk bisa mensejajarkan tayangan sinetron Indonesia sebagai sarana sosialisasi dan edukasi informasi HIV/AIDS yang berkualitas dapat tayang sebaik Philadelphia, tentu kekhawatiran teman-teman LSM termasuk saya akan mulai berkurang. Kita tinggal melanjutkan usaha sosialisasi tersebut dengan melebarkan sayap menjangkau masyarakat di pelosok yang mungkin tidak terakses siaran televisi, atau kelompok usia yang bukan penggemar tayangan televisi. Memang, pekerjaan rumah kita dalam mensosialisasikan isu-isu seputar HIV/AIDS tidak pernah selesai. Tak akan.

(tulisan ini pernah saya ikut sertakan dalam sebuah lomba menjelang ICAAP tahun 2009 lalu)

sekarang saya bagi di sini saja   :-)

Advertisement

3 Comments so far
Leave a comment

wah, wah, keren sekali…dunia akan sangat indah bila kita memiliki banyak orang tua dan pendidik seperti ibu ivy….

masih lemahnya pemahaman dan stigma yang terlabeli pada kasus HIV AIDS adalah pekerjaan kita semua. bukan cuma dokter sepert saya atau pendidik seperti ibu ivy saja, bukan juga KPA yang sering kali terlalu birokratis, tetapi tugas semua orang. selagi ketiadaan kepedulian dan penyangkalan hanya gara2 HIV sering kali tidak berwujud, di saat itu pula si virus akan terus melakukan penetrasi ke wilayah-wilayah yang tak pernah melakukan tindakan tercela. Ibu rumah tangga yang selalu setia dan bayi-bayi yang masih polos tak berdosa pun bisa terkena infeksi ini.

setuju sekali sebenarnya bahwa kita harus sudah mulai ramah kepada infeksi ini, disamping mengerti cara penularan dan senantiasa melakukan pencegahan dengan pola hidup sehat, juga menghargai dan menjadikan pengidap HIV sebagai teman, seperti kita juga memperlakukan hal yang sama terhadap pengidap hepatitis, hipertensi, diabetes, kanker darah dan lainnya, karena saat ini sudah banyak kemajuan pada infeksi HIV. pencitraan orang yang sudah AIDS dalam wujud mengerikan dan sakit berat sehingga perlu ditakuti dan dijauhi bukan lagi pendekatan yang humanis dan preventif. media harus bisa berperan banyak di sini.

pokoknya mari semua kita mengambil peran bersama. salut buat ibu ivy.

Comment by okanegara

aduh, ngomong soal HIV/AIDS itu kadang2 bikin hopeless. advokasi media juga begitu2 saja.

sudah berkali2 diadakan pelatihan utk media, tetep aja ada media yg salah nulis. bukan wartawannya sih tapi redakturnya yg suka ngawur.

parahnya lagi LSM jg trlalu menggantungkan diri pada KPA terutama dalam advokasi media. mereka jarang punya inisiatif. keliatan banget LSM HIV/AIDS itu kerja cuma buat proyek. pada males berpikir di luar kotak.

udah gitu ketua KPA yg sekarang jg jarang gaul sama LSM. ampun, deh..

Comment by a!

hopeless…jangan!!!
walau saya ga seaktif temen2 di LSM, saya senang menyuarakan yang satu ini…
Media…yg jelas seperti di tulisan saya, terutama TV dan kerabatnya yang masih jadi teman bagi remaja, memang perlu sering di-reminder-

Comment by uinspireivy




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.