Filed under: ngalamin sendiri | Tags: kendaraan, perempuan, pola pikir, publik, remaja, sopan santun, sosial
Saya kapok belajar motor. Bekas luka bakar didekat mata kaki telah mengurangi keseksian kaki saya. Namun, tinggal di Bali di mana angkot hanya beroperasi di area terbatas, ketidakmampuan berkendara Honda (sebutan untuk motor di Bali) kemudian menjadi hambatan terbesar untuk beraktivitas.
Tumbuh dan besar di Jakarta dengan segala jenis dan bentuk kendaraan umum, menjadikan saya gagap mengemudikan motor. (mungkin juga berlaku untuk semua perempuan yang tumbuh di kota besar). Lebih PD naik bajaj atau berdesakan di metromini atau bis daripada menyalip semua itu dengan motor. Nah begitu pindah ke Bali…nggak bisa naik motor sama dengan nggak bisa ke mana-mana.
Untung saya bisa menyetir. Biar musti belajar lancar (istilah untuk kursus dan tambahan latihan sendiri)…toh akhirnya kemana-mana saya ditemani si Hitam aka mobil saya. Biar belum semahir sopir angkot atau bis malam, yah minimal si kecil dan omanya merasa aman kalo disupirin saya…..:-)
Tapi….jalanan Bali sudah kayak rimba. Tempat belantara anak ingusan belajar Honda, sampai ibu-ibu yang akrobatik bawa dagangan sekalian anak-anaknya. Pfuhhhh…kalau nggak lihai menyalip, pintar nge-rem dan yang paling utama…pintar menahan emosi, UGD sudah menanti. Makanya…klakson tiba-tiba jadi jimat segala bencana….
Ada ibu menganan-nganan (maksudnya naik motor senengnya di posisi sebelah kanan)…klakson
Ada cewek sibuk handphonan sambil naik motor….klakson
Ada anak-anak naik sepeda ke kiri dan ke kanan asik lenggang lenggok….klakson
Ada ibu keluar gang, nyelonong saja….klakson
Ada mobil belok kanan mendadak tanpa rating…klakson
Ada mobil yang mustinya ngalah, malah ngajak adu jangkrik…klakson (biar diriku ngalah juga…minimal udah nyemprot…hehe..)
Ada pick up atau angkot berhenti sembarangan…klakson juga
Ada cowok ngelamun pagi-pagi sambil bawa motor sampe ngalangin jalan, klakson juga.
Ada cowok berwajah sangar, ambil jalur kita saat berbelok…kalkson juga (walau habis itu matanya udah ngajak berantem)
Sampai….ada julukan dari suami saya…Miss Klakson..katanya.
Kalau di mobil ada alat untuk menghitung jumlah klakson dari sebuah mobil tiap harinya…pasti alat itu sudah berbunyi…full…overloaded…complete…atau apa lah…
Tapi…sekali lagi aku berkilah…biar klakson asal selamat…eh bukan, biar klakson asal pada minggir! Jalan raya kan milik publik, bukan diri sendiri.
Tengok deh kutipan berikut :
“Rabu, 25 November 2009, Denpasar, Kompas – Rata-rata tiga pengendara sepeda motor tewas per hari akibat kecelakaan lalu lintas di Bali. Hal itu akibat rendahnya kesadaran berkendara serta tingginya pertumbuhan kendaraan per bulan. Sebagian besar korban berusia 16-24 tahun.’
Nah itu berarti…. kepemilikan kita terhadap kendaraan dan SIM (TERUTAMA) nggak berarti kita bisa berlaku seenaknya di jalan. Untuk itu perlu santun berkendara.
Ada kutipan lagi nih…
Menurut Direktur Lalu Lintas Polda Bali Komisaris Besar Bambang Sugeng, Selasa (24/11/09) di Denpasar, ”Sebagai upaya menanamkan sopan santun di jalan raya sejak dini, kami berupaya melakukan pendekatan dengan Dinas Pendidikan Bali agar memasukkan program lalu lintas dalam kurikulum sekolah.”
Jadi…pihak berwenang udah sadar betul kalau santun berkendara di jalan raya sudah krusial banget untuk diperhatikan. Masalahnya menanamkan kesantunan bukan hal yang gampang…karena terkait nilai dan kesadaran. Nilai bahwa semua pengendara di jalan memiliki hak dan kewajiban yang sama, nilai bahwa semua pengendara memiliki hidup yang perlu dihargai satu sama lain. Kesadaran bahwa jalan raya adalah milik bersama, kesadaran bahwa tidak ada istilah menang kalah di jalan, yang ada adalah siapa yang mau mengalah dan siapa yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Nah….Apa sih yang termasuk santun berkendara?
A. Piranti kendaraan
1. Kenali apa saja piranti kendaraan kita. (spion, lampu, wiper, klakson, kopling, rem, gas, bemper, standar, kunci starter, tangki bensin)
2. Jangan cuma kenal, tapi tahu juga kegunaannya
3. Tahu juga cara menggunakannya dan kapan menggunakannya (untuk hal ini…aku sedikit nyengir karena penggunaan klakson untukku memang agak berlebihan)
4. Tahu saat harus diganti atau sudah menunjukkan tanda-tanda eror/ kerusakan, seperti berbunyi aneh atau tidak enak saat dipergunakan
B. Peraturan berkendara
Ini bukan cuma biar kita lulus SIM doang…tapi untuk keselamatan diri sendiri
juga.
1. Pakai alat pengaman : kalau motor ya helm dan jaket
Kalo mobil seat belt wajib banget….
2. Berjalan di jalurnya, kalau bukan ingin mendahului; jangan mengambil jalur orang lain.
Perhatikan hanya garis patah-patah di jalan yang membolehkan kita berpindah jalur.
3. Buat berbelok, bawa kendaraan dengan kecepatan rendah.
Perlu rating atau klakson, tapi yang penting lihat … jalan dulu, pantau spion juga;
kalau-kalau ada yang menyalip tiba-tiba dari sebelah kiri
Berbelok di jalurnya, jangan terlalu banyak mengambil jalur orang lain atau jalur berlawanan. Bila untuk berbelok terhalang tembok atau rumah orang, ingat untuk mengklakson terlebih dahulu
4. Buat keluar gang atau jalan perumahan, bawa kendaraan dengan kecepatan rendah lihat situasi kendaraan yang lurus dulu.
Kalau mau belok langsung, lihat yang sebelah kanan saja
Kalau mau menyeberang ke arah kanan, lihat dulu kendaraan dari sebelah kanan baru lihat kendaraan dari sebelah kiri.
5. Untuk berhenti, nyalakan rating dulu ke kiri dan memantau spion.
Berhenti sementara, rating kiri tetap dinyalakan
Mau jalan lagi, pantau spion dan nyalakan rating kanan
6. Menyeberang perempatan, bawa kendaraan dengan kecepatan rendah dan nyalakan kedua lampu
7. Kode untuk mendahului, nyalakan lampu dim
Kode untuk menunggu dan membiarkan kendaraan berlawanan lewat dulu, nyalakan rating kanan
8. Menyeberang untuk berbelok, gunakan rating kiri, jalan pelan-pelan sambil memantau spion
9. Sesudah berhenti di lampu merah, selalu pantau spion karena bisa saja ada kendaraan yang kurang santun akan menyalip
10. Lampu gunakan seperlunya….kalau gelap sekali baru gunakan lampu kabut.
Jangan gunakan lampu kabut untuk memasuki gang atau perumahan, karena akan menyilaukan kendaraan dari arah berlawanan.
11. Bila ingin berhanti, usahakan untuk tidak me-rem mendadak. Dari jarak 2-3 meter, sudah ancang-ancang untuk memberi tanda berhenti.
12. …silakan tambah di sini….
Wah…sekian banyaknya, saya saja masih terus harus belajar santun berkendara….
Terus belajar, terus berlatih, terus mengingat ~ yah untuk keselamatan bersama juga kan…….
Ayo siapa ikut saya?
Leave a Comment so far
Leave a comment



