Filed under: turun langsung | Tags: agama Buddha, partisipasi, sosial, world silent day
Cuaca makin panas, jelas! Semakin banyak bersliweran di jalan tukang servis AC yang laku jasanya. Di toko-toko pun varian kipas angin makin banyak untuk dipilih. Namun apakah kesadaran tentang peningkatan suhu bumi ini menggugah kita untuk mendukung World Silent Day 21 Maret? Nanti dulu….
Seorang bapak tinggi besar, sebut saja Wen asal Tabanan mengungkapkan ide yang menurutnya lebih bermanfaat. “Harusnya PLN Pusat mematikan listriknya 4 jam di seluruh Indonesia. Jadi yah orang mau nggak mau tidak menggunakan listrik. Kalau perlu advokasi ke SBY…karena kalau pemimpinnya concern mengenai hal ini, dia akan menginstruksikan pemadaman listrik serentak setiap 21 Maret!”
Tapi…coba kita telusuri bila usul tersebut dijalankan. Contoh yang sederhana saja. Jakarta dan kota besar lain termasuk Denpasar tiba-tiba macet karena traffic light mati di mana-mana. Lalu pabrik yang terus berproses maupun pertokoan yang terus buka, akan kehilangan laba sekian milyar rupiah, karena menambah biaya generator. Mengoperasikan generator berarti menambah pembuangan emisi akibat bensin atau solar sebagai bahan bakarnya. Wah…ternyata penghematan yang satu berakibat pemborosan yang lain.
Di pihak lain, Audi gadis mungil berkacamata kelas X di SMA swasta di Denpasar justru paling bersemangat untuk mengumpulkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan disahkannya World Silent Day oleh PBB. “Ya….aku cuma ingin bantuin aja karena ngeri juga dengan akibat global warming. Dengan ngumpulin tanda tangan aku juga jadi punya kesadaran buat jaga bumi ini. Walau nggak dapat apa-apa… tapi aku ngerasa seneng aja bisa bantuin…Mudah-mudahan dapat banyak”tuturnya saat total tanda tangan yang dikumpulkannya dari hasil meminta teman, siswa sekelas dan guru telah melewati angka 500! Sebuah alasan sederhana untuk perbuatan sederhana, namun maknanya mendalam sekali.
Kedua responden dengan pendapat berbeda tersebut hanya sebagian dari 100an umat Buddha Dharma Indonesia daerah Bali yang beraksi pada World Silent Day, 21 Maret lalu. Ketika orang ramai menggunjingkan pelecehan Nyepi di Facebook, justru umat BDI beramai-ramai hendak mengajukan ditetapkannya World Silent Day yang berakar dari budaya Nyepi di Bali, yang notabene bukan tradisi agama mereka.
“Ini kan isu global, bukan masalah agama. Dalam agama kami, yang merasa paling menderita justru yang harus berubah. Kita kan yang kepanasan dan merasakan betul perubahan cuaca yang nggak jelas ini. Maka kita sendiri yang berubah dulu baru orang lain. Kita sendiri yang mulai dulu, nggak perlu menunggu orang lain ”ujar salah seorang panitia yang enggan disebut namanya.
Acara yang dikemas sebelum jam 10.00 dan selesai sesudah jam 14.00 di areal Vihara Vimalakirti, jalan Apit Yeh, daerah Sempidi ini memang bukan hening sepenuhnya. “Yang penting dengan menghadirkan mereka di Vihara, mereka nggak bersliweran di jalan atau sibuk pake handphone dan peralatan listrik lain, “ujar Karina, ibu dua anak yang juga membantu panitia.
Kegiatan dari diskusi pria dan wanita, penghijauan dengan tanaman gantung, belajar pembibitan bagi anak-anak, makan bersama, kuis pengetahuan umum dan lingkungan berhadiah tanaman penghijau, serta diakhiri dengan doa bersama; semua dilakukan dengan minimal listrik (sebagian malah diganti batere), tidak menggunakan kendaraan selama acara,mematikan handphone dan diselingi mengumpulkan tanda tangan. “Panas sih…tapi kalau dengan berpanas-panas sekarang, bisa mengurangi panas yang dialami anak cucu kita nanti, okelah kalau begitu,” ujar seorang nenek sambil mengipas. Wah…siapa yang nggak setuju?
Leave a Comment so far
Leave a comment



