Filed under: catatan saya
Saya mantan guru namun bukan mantan orang tua. Saya tetap orang tua seorang putra yang istimewa dalam dunia psikologi dan sekolah karena belum ada sulit banget mencari institusi yang mampu menerima dan mendidik anak saya sesuai dengan kebutuhannya yang memang khusus.
Namun bukan itu yang ingin saya utarakan kali ini….
Pagi…ketika karyawan bergegas ke kantor dan murid tergesa ke sekolah…
3 abg berkendara motor, salah satunya mencoba memaksa menelusup di sela mobil saya dan tembok pembatas jalan. Alhasil…seorang bapak pengendara yang sabar menunggu di tepian, menjadi terusik marahnya… Meluncurlah kata-kata dalam bahasa lokal untuk memperingati pelaku. Saya pun membuka jendela, “Mundur dulu ya…De!”
Tanpa menatap, dia memundurkan motornya tanda tak senang.
Pfuhhhh…heran kok maksa betul! Tapi lebih heran lagi adalah yang terlintas di benak saya…
apa yang orang tua ajarkan untuk abg yang notabene punya SIM nembak, untuk santun berkendara di jalan.
Apakah ….
”Selama masih bisa dikejar…kejar terus, jangan kasih kesempatan yang lain….”
YA…kalau untuk cita-cita atau pendidikan tinggi, saya setuju.
Namun kalau untuk menyalip kendaraan dan membahayakan diri sendiri dan orang lain, wah…..nanti dulu!
Pertengahan siang….saya sedang berada di sebuah kelas di salah satu sekolah swasta di Denpasar. Tiba-tiba riuh rendah suara anak-anak sedang bertengkar. Salah seorang anak terus bersikeras dengan kebenaran sikapnya. “Dia robek buku gambarku, jadi sekarang aku boleh robek buku tulisnya!!!!!”ujarnya disela sesenggukan tangis. “Iya…tapi kamu nggak berarti boleh merobek buku temanmu!”timpal sang guru menengahi pertengkaran. “Iya tapi dia mulai duluan.” Sang guru menjawab lagi,”iya tapi temanmu sudah minta maaf…”Terus…dan terus perdebatan itu terjadi. Sementara anak pelaku perobek buku gambar, hanya shock kebingungan…tak menyangka kalau perilakunya berakibat pembalasan, dan sang anak yang bersikeras terus menangis dengan tatap wajah penuh amarah dan dendam.
Saya terdiam. Anak ini baru berusia 7 tahun. Tapi sudah memiliki konsep,”kalau saya diperlakukan X oleh orang lain, saya juga boleh membalas dengan perbuatan X juga.”
Dari mana dia belajar? Jelas, jawabnya dari mana dia berasal. Dari rumah. Dari orang tua atau keluarga terdekat yang mendampingi sehari-hari.
Apa yang orang tua ajarkan untuk anak hingga ia sulit memaafkan perbuatan orang lain?Apa yang orang tua ajarkan untuk anak tidak membalas perbuatan keliru temannya?
YA…kalau untuk dunia hukum dan peradilan di mana apapun perilaku buruk kita mendapat konsekuensi termasuk hukuman, denda atau semacamnya, saya setuju.
Namun kalau untuk pertemanan, sang anak menerapkan aturan kaku tentang balas membalas, dendam mendendam; saya menjadi takut sendiri. Takut pada apa yang akan terjadi pada anak itu dalam relasinya dengan orang lain.
Senja hari, saat sang matahari kembali ke peraduan.
Di layar kaca sedang ditayangkan sebuah infotainment tentang ulah seorang artis muda yang telah memiliki bayi tanpa melalui proses pernikahan. Ketika artis lainnya mengakui ia adalah ayah biologis anak tersebut dan mau bertanggung jawab, yang kemudian bergulir adalah kenyataan saat ini bahwa perilaku dan hubungan seksual tak selalu korelasi dengan cinta ataupun keinginan membangun sebuah keluarga. Yang perempuan tidak merasa harus meresmikan sebuah pernikahan dengan ayah biologis anaknya.
Saya termangu…inilah potret tentang relasi laki-laki dan perempuan jaman ini. Apapun bisa dilakukan selama mereka ingin dan mampu bertanggung jawab atas diri sendiri.
Melakukan hubungan seksual di luar pernikahan yang berbuah bayi mungil, bukanlah sebuah momok lagi atau aib yang perlu ditakuti.
Saya jadi bertanya. Apa yang diajarkan para orang tua tentang relasi pria wanita? Apa yang telah ditunjukkan orang tua mereka tentang bagaimana menghormati dan menghargai pasangan lawan jenis? Apa yang telah dicontohkan mengenai cinta, kesetiaan, dan segala bentuk perasaan mengapresiasi orang lain?
Apakah “lakukan apapun selama itu akan membahagiakanmu! Ikuti kata hatimu!” telah bergeser pemaknaannya.
Ketika pesan yang disampaikan menjadi kurang lengkap, apa yang ditangkap anak menjadi berbeda.
Saya menyadari betul…ada sekolah untuk menjadi guru, ada sekolah menjadi dokter, ada sekolah menjadi pilot.
Sayang…tak pernah ada sekolah untuk menjadi orang tua. Profesi yang justru menjadi cikal bakal pekerjaaan mulia lain.
Secara alami, trial by error atau malah berkaca dari pengalaman masa kecil dulu, adalah sebagian dari proses pembelajaran menjadi orang tua.
Namun kembali pada ketiga cerita tadi, saya merenung sendiri…bahwa nggak ada guru yang paling sejati selain orang tua. Muara di mana anak-anak, generasi penerus berasal.
Lalu bagaimana dengan para yatim piatu di panti asuhan atau anak jalanan yang tak beribu bapak?
Tentu orang-orang dewasa di sekitar yang secara tidak langsung berperan sebagai orang tua tanpa mereka sadari….
Seperti kata James Baldwin “Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them”
So……para orang tua atau orang dewasa yang tak sadar berperan sebagai orang tua, sudahkah anda menjadi GURU sejati bagi anak? entah anak anda atau anak-anak lain di dunia ini
Leave a Comment so far
Leave a comment



