yukberbagi!


Kala “ia” di tangan kau sia-siakan…… (renungan 2 dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2010)
19/05/2010, 4:12 am05
Filed under: catatan saya

Saya bekerja di sebuah lembaga kebudayaan, di mana ada teman-teman pertukaran beasiswa dari seluruh Indonesia, yang menurut saya sangat amat beruntung. Mereka mendapatkan gelar S2 dari universitas di kota saya dan setelah belajar bahasa di tempat saya bekerja dan terseleksi, mereka akan berangkat ke negara donor , menempuh pendidikan dan mendapatkan gelar S2 yang lain dari negara tersebut.

Hmmmm…dari dulu saya menunggu-nunggu kesempatan itu datang….
Betapa beruntungnya orang yang mendapat kesempatan gratis untuk melanjutkan pendidikan di saat dunia mematok harga tinggi untuk segala pembiayaannya.

Namun….
sebuah berita mengusik telinga saya.
Salah seorang teman yang dari pencapaian akademisnya saja masuk kategori kandidat terbaik, tiba-tiba memutuskan tidak akan berangkat menyelesaikan beasiswanya ke negara nun jauh di sana.
Alasannya sungguh tidak masuh di akal…
“Saya memang tidak tertarik dan dari awal sudah tidak termotivasi untuk belajar di negara tersebut. Saya tidak suka dengan negara itu di mana mereka memperlakukan salah satu kaum berbeda.”
Saya mengernyitkan kening….Lalu…mengapa tidak dari awal saja kau mengundurkan diri dari program ini dan membiarkan orang lain yang jauh lebih ingin, yang jauh lebih berharap, untuk mendapatkan kesempatan berharga yang kini tidak kau pergunakan.
Saya termangu…

Wah….ini serupa dengan problem yang telah dialami salah seorang kolega saya.
Kolega saya ini pintar dan saya merasa ia selalu dikelilingi keberuntungan. Beberapa kali ia berkesempatan ikut ini dan itu atau mendapat kesempatan ini dan itu. Jadi kaya akan pengalaman bisa menjadi salah satu catatan lebih bagi dirinya.
Kesempatan terakhir yang ia peroleh menurut saya sungguh luar biasa berharga. Sama seperti teman-teman pertukaran tadi, rekan saya ini mendapat beasiswa pendidikan S2 dari salah satu negara donor. Kuliah bisa dijalankan di Bali, namun pada tahun terakhir mereka diharapkan dapat ke negara donor, untuk melakukan penelitian dan merampungkannya dalam tesis.
Euphoria rekan ini hanya pada pendidikan gratis saja. Tanpa mempertimbangkan bahwa dirinya yang berkeluarga akan punya konsekuensi saat menempuh pendidikan di negara donor, ia maju tak gentar menerima beasiswa ini.
Sayang….ia tak pernah berangkat ke negara donor dengan alasan keluarga dan anak, dan berarti tesisnya tak kunjung rampung.
Kini ia harus pontang panting membayar kompensasi ganti rugi untuk pembiayaan penundaan kelulusannya setiap semester, yang lumayan jumlahnya.

Kali ini saya hanya bisa menghela nafas…..
Saya tak tahu lagi berkomentar apa….
harusnya keberuntungan yang telah dimiliki bukan malah memicu timbulnya konflik dan segala permasalahnnya
harusnya ‘emas’ di tangan bisa dipergunakan….dengan semestinya!

Coba mereka menyadari betapa banyak di sekitar kita yang masih kurang beruntung.
Contoh saja, seorang anak SMA yang pernah bersama saya menjadi peserta sebuah konferensi internasional.
Tiba-tiba ia mengusik di Facebook.
“Bu..saya sudah lulus, akhirnya…”
Dan ketika saya tanyakan akan mau melanjutkan di mana, dia hanya menjawab, nggak mungkin melanjutkan sekarang karena orang tua tidak memiliki biaya. Jadi harus bekerja dulu untuk bisa kuliah.
Saya masih ingat saat ia begitu antusias dan semangat saat mengikuti konferensi (dan tentu saja ketika bisa menikmati pantai Kuta, yang bagi saya orang Bali …sudah biasa). “Bu..kalau saya tidak terpilih untuk ikut konferensi ini, nggak mungkin deh saya bisa ke Bali.”
Ketika mau pamit pulang pun saya masih dibisiki, “Bu…kapan saya bisa ke Bali lagi?”
Saya hanya menyemangati untuk tidak pernah putus asa…kalau jodoh..kalau ada kesempatan, siapa tahu?
Ternyata belakangan saya baru tahu, selain faktor ekonomi keluarga, keberadaan ayahnya yang hanya sopir angkot di belantara Jakarta membuat teman kecil saya ini sadar betul untuk tidak terlalu berharap terlalu tinggi.

Beberapa waktu kemudian…..seorang teman mengupdate status di Facebook tentang seorang anak SMP di pelosok Karang Asem yang mendapat peringkat 2 dalam lomba fotografi internasional. Sambil membaca, saya terharu sekaligus bangga….
Apalagi saat ia bertutur di sinopsis foto bahwa bukanlah hal yang mudah baginya untuk terus merangkai cita-cita menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Seandainya saya bisa bicara dengannya, saya akan spontan menyemangati…untuk tidak pernah menyerah dengan nasib.

Mereka memang tak punya ‘emas’ di tangan…
tapi saya yakin mereka tak pernah berhenti berharap….
seperti saya juga…yang tak pernah berhenti berharap….
untuk suatu saat menikmati pendidikan di jenjang yang lebih tinggi….

Advertisement

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.