yukberbagi!


Nilai Plus Plus Jika Orang Tua dan Anak Bergerak Bersama Menjawab Kebermanfaatan Internet

 

Ini Indonesia di tahun 2022!

Gulirkan tanganmu di layar ponsel sesuai kebutuhanmu saat ini … mau melihat orang-orang paruh baya sedang bicara apa, lihatlah di timeline Facebook.

Mau melihat citra visual yang memberi kenikmatan, tengok dan jelajahilah Instagram. Tak penting apakah hal tersebut settingan atau tidak.

Namun, bila dirimu hendak update hal-hal yang trending atau viral, apalagi dunia anak muda, eksplorasilah Twitter di mana cuitan akan terbarukan setiap detiknya.

Demikian catatan yang dihadapkan kepada saya sebagai orang tua, ketika memperbaru pengetahuan dan pemahaman tentang manfaat Internet terkait dengan media sosial baru-baru ini, ketika teknologi dan digitalisasi terus bergerak dan terbarukan.

Saya pribadi pernah berasumsi, TikTok yang lalu diikuti IG reels bakal melampaui popularitas Twitter. Ternyata kedua aplikasi tersebut tak serta-merta mengalihkan keseruan anak muda di aplikasi burung biru ‘berisi’ ini, apalagi ketika di rumah, di tempat publik, di kafe, IndiHome menjadi jawaban untuk mereka terus terhubung dan saling cuit.

Sumber : Pixabay

Hasil kajian Hootsuite, yang diulas Nata Connexindo,

https://www.nataconnexindo.com/blog/kenali-segmentasi-pengguna-media-sosial-agar-tidak-salah-pilih-target-pemasaran

mengungkapkan bahwa, pengguna Twitter di Indonesia mencapai jumlah hingga 10,65 juta orang yang membuat Indonesia menjadi negara ke 5 dengan pengguna Twitter terbesar di dunia dengan rentang umur 16-24 tahun merupakan yang mayoritas menggunakan platformnya. Fase usia yang sebagian terbilang generasi Z dengan karakteristik kuat digital native di mana aspek pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, bahkan hingga karakternya terbentuk dari hasil interaksi di ruang siber.

Tak heran, meski fitur yang disajikan Twitter terbatas 280 karakter , maksimum durasi video hanya 2 menitan, tampilan foto tanpa filter kecantikan visual Instagram, tetapi Twitter punya keunggulan menyajikan utas (thread) yang sering dinikmati sebagai bahan bacaan anak muda yang ditenggarai makin pendek rentang konsentrasi membacanya.

Beraneka utas yang bisa dipilih tak sekadar algoritma saja seperti aplikasi media sosial lain, tetapi tanpa disadari lama-lama punya kekuatan menyuarakan ‘sesuatu’.

Cuitan yang diawali “Twitter, please do your magic …. dstnya” kemudian bagaikan corong dengan kecepatan lebih, menggalang massa untuk bertindak. Bukankah hal itu saja segera mendeskripsikan sebuah gerakan, yang viral, yang menyatukan tujuan, walau dengan catatan tidak selalu benar. Bisa saja hal yang kemudian viral itu menjadi bahan untuk merundung seseorang secara beramai-ramai.

sumber : Pixabay

Sulutan emosi entah berdasar SARA, strata sosial maupun keberpihakan akan misi visi tertentu, termasuk politik; mempermudah membesarnya isu tersebut tanpa mampu dicegah lagi. Semudah administrator Twitter memenuhi permintaan pihak untuk nge-banned akun tertentu, semudah itu pula akun alter baru dibuat lagi.

Gerakan yang terjadi, baik maupun buruk dalam aplikasi Twitter ini bagai gerakan akar rumput, yang menyatukan aksi dari berbagai lokasi. Tak hanya di Twitter, media sosial lain pun punya efek negatifnya.

Namun, dibanding melencengnya gerakan tersebut menjadi negatif, manfaat Internet dalam menggerakkan hal lain yang lebih besar tak kalah implikasinya.

Pada koridor yang lebih formal, gerakan anak muda terealisasi dalam Youth 20 (Y20) yang menghubungkan antar negara dan lintas benua. Y20 merupakan wadah konsultasi resmi bagi para pemuda dari seluruh negara anggota G20 untuk dapat saling berdialog dan mendorong para pemuda sebagai pemimpin masa depan untuk meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan global, untuk bertukar ide, berargumen, bernegosiasi, hingga mencapai konsensus.

https://sherpag20indonesia.ekon.go.id/y20

Ketika Twitter meramu segala isu acak baik buruk, menjadi gerakan anak muda, Youth 20 ini lebih terpusat. Misalkan saja isu “Planet yang Berkelanjutan dan Layak Huni”, satu dari empat area prioritas Y20 Indonesia 2022, bersama tiga prioritas lainnya, yaitu Ketenagakerjaan Pemuda, Transformasi Digital, serta Keberagaman dan Inklusi.

Isu yang diolah dari pemahaman bahwa kesadaran anak muda sebagai generasi pewaris planet Bumi di tahun-tahun mendatang, penting memperjuangkan agar tetap menjadi tempat yang layak huni dan berkelanjutan termasuk masih memberi peluang pekerjaan, karir dan hidup mereka di masa datang.

sumber : Pexels

Masa yang kian rumit karena tak terbatas hanya kondisi bumi yang makin ringkih, tetapi juga dengan kebutuhan tenaga kerja yang menciut dan tergantikan oleh digitalisasi, serta ‘menghilangnya’ profesi yang dulu mungkin masih menjadi impian generasi Y maupun milenial, seperti akunting, auditor, data entry, operational manager maupun executive secretary, seperti diulas Bisnis Indonesia pada Edisi Weekly terbitan Minggu, 18 Juli 2021.

Lalu, bagaimana menyiasatinya? Di satu sisi kesigapan generasi Z bergegas dengan kemajuan teknologi internetnya Indonesia, perlu diimbangi dengan bagaimana agar kepekaan sosial dalam hal berkomunikasi, bersikap empati dan berkarakter tangguh , atau istilah anak sekarang, ‘tak kena mental’. Tentunya agar tak menjadi generasi rigid tanpa hal-hal manusiawi.

Hal manusiawi ini kemudian banyak dikenal sebagai soft skill yang menjadi cakupan literasi manusia, dan mampu mengedepankan generasi mendatang menjadi cultural agility global citizenship, yang di-Indonesia-kan menjadi warganegara dunia yang memiliki kelincahan dan kematangan kebudayaan.

Pertanyaan selanjutnya, siapa pihak yang paling berkepentingan dalam membentuk soft skill tersebut, terutama dalam mempersiapkannya menjadi agent perubahan?

Banyak pihak sontak sepakat menjawab orang tua. Namun, percepatan teknologi yang tak serta-merta mampu dikejar orang tua generasi ini, menjadikan mereka sedikit gagap dan tak mampu menjawab pertanyaan dan keingintahuan anak-anaknya, sehingga gap di antara keduanya menjadi kian besar saja.

Berkaca pada pengalaman pribadi penulis, yang baru mengikuti pelatihan bagaimana membuat kampanye sosial yang diselenggarakan campaign.com, tantangan terbesar tentu ketika diperkenalkan teknologi macam aplikasi slack, thinkific maupun padlet dimana saya perlu waktu lebih lama untuk memproses dan mengaplikasikan, dibanding peserta lain dengan usia yang lebih muda. Kadangkala saya juga berupaya mengelak dari share screen ketika sesi break out room webinar, lebih karena belum paham betul bagaimana caranya.

Kesimpulannya, kecepatan teknologi dan digitalisasi dari waktu ke waktu ini, memang perlu dikejar dan dipelajari bersama-sama antara orang tua dan anak. Dengan harapan, terbukanya ruang komunikasi yang timbal balik karena saling paham dan ada keinginan mau belajar, akan mampu memuluskan jalan generasi Z ini siap lahir batin menghadapi masa depan, yang tak selalu mampu diprediksi.

Tentu dengan catatan penting kepada orang tua, untuk tak gengsi belajar kepada yang lebih muda, tak sungkan bertanya bila ada yang tak dimengerti, dan tentu saja mau berusaha mengejar ketertinggalan agar tak makin lebar jurang perbedaannya. Karakter pembelajar yang sangat baik ini saja mampu menjadi role bagi anaknya sendiri, generasi di bawahnya, maupun dengan sesama orang tua.

sumber : Pexels

Pada akhirnya, keberadaan IndiHome produk Telkom Indonesia, telah menunjang digitalisasi dan teknologi sekian jauh untuk memenuhi kebutuhan dan bagian krusial dari kehidupan manusia Indonesia, tanpa bisa dielakkan.

Kita semua, ayah, ibu, anak, tanpa batasan usia, tak pelak lagi dituntut untuk menyesuaikan diri dan bisa mengikutinya dengan lebih bijak dan cerdas. Harapan yang semua orang kehendaki, bukan?



Surat dalam rangka Kartini

https://www.salamyogyakarta.com/surat-untuk-sri-wahyaningsih/

Yogyakarta, 10 Mei 2022

Kepada Yth.

Ibu Sri Wahyaningsih,

Pendiri Sanggar Anak Alam Yogyakarta

Di

tempat

Salam Hormat,

Teruntuk Bu Wahya, sosok ‘Kartini’ masa kini yang saya kagumi dan menjadi inspirasi tentang semangat inklusi dalam dunia pendidikan.

Kemarin sulung saya, Arsa yang autistik berulang tahun ke-19. Tak percaya bahwa dia sudah masuk fase usia dewasa muda dan ternyata sekian lama saya dan suami mampu juga membesarkannya.

Memiliki anak autis dalam masyarakat dan sistem pendidikan yang belum paham makna inklusif sungguh merupakan perjalanan roller coaster bagi kami. Namun untuk Ibu ketahui, dalam kurun enam tahun terakhir peran Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta yang Ibu ampu telah banyak membuka mata saya dan mungkin lembaga pendidikan lain tentang makna inklusi yang sesungguhnya.

Baca selanjutnya di link sda ya



Tulisan ini 40 besar di lomba Opini Bisnis Indonesia 2022

Ketika saya menulis pemberdayaan perempuan dalam ekonomi global, terus terpilih sebagai 40 besar opini dari 300-400 peserta lomba yang diselenggarakan Bisnis Indonesia, jujur saya sangat bersyukur dan banyak-banyak berterima kasih.

Apalagi ketika teman-teman merespons positif tulisannya.

Siapa juga yang mimpi bisa nulis tentang ekonomi di media bisnis, secara saya enggak berlatar bidang itu. Sementara peserta lain berlatar dosen, peneliti, mahasiswa dan jurnalis.

Untuk teman-teman yang belum sempat baca, ini saya repost. Dengan link asli juga.

=====

WOMEN IN THEIR 20S DAN G20, KAUM PENIKMAT JADI PENYEDIA

Ketika MotoGP di Mandalika mencuatkan pawang hujan yang notabene perempuan, ada beberapa postingan baik artikel maupun TikTok yang membahas kemunculannya lebih bernilai marketing secara global, dibandingkan dukun lelaki. Bahasa awamnya, perempuan memiliki nilai jual tersendiri sebagai agen pemasaran.

Terlepas dari bias gender, kaum misoginis dan budaya patriarki, kaum perempuan memang terbukti menjadi unsur penting dalam industri periklanan atau dengan kata lain memberi peran ekonomi dalam bidang pemasaran di seluruh belahan dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menjadi pembicara utama pada sebuah seminar tahun 2021 lalu pernah mengungkapkan, di Indonesia, peranan perempuan dalam perekonomian menunjukkan peningkatan signifikan. Pada sektor UMKM, 53,76%-nya dimiliki oleh perempuan, dengan 97% karyawannya adalah perempuan, dan kontribusi dalam perekonomian 61%. Di bidang investasi, kontribusi perempuan mencapai 60%.

Sejalan dengan yang dikemukakan Menkeu, ada contoh nyata yang muncul baru-baru ini. Annisa Inawati Siswanto, yang masih taraf mengerjakan skripsi pendidikan S1-nya telah merintis bisnis thrift yang dinamai skirtizen, berawal dari kesenangannya menggunakan rok untuk keseharian.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret Surakarta tersebut sukses meraup keuntungan hingga jutaan rupiah dalam sebulan.

Padahal berlatar alasan sederhana kesenangan menggunakan rok yang dipasarkan sendiri, di mana produk thrifting ini lagi-lagi banyak yang berasal dari China dan Korea.

Annisa memang belum menjadi produsen dan mengalami jatuh bangun seperti Nurhayati Subakat, pendiri utama merek kosmetik Wardah yang juga mengelola Make Over, Emina, dan perawatan rambut Putri.

Keberhasilan Nurhayati yang dimulai dengan menawarkan produk Putri sejak tahun 1985 dari rumah ke rumah, membuatnya diperhitungkan sebagai salah satu dari 25 perempuan dunia yang berpengaruh di bidang bisnis, oleh majalah Forbes tahun 2018.

Anissa dan Nurhayati menjadi contoh bahwa perempuan pada dasarnya mampu berperan lebih sebagai produsen dalam perputaran ekonomi. Tak selalu hanya berada di posisi model produk, tim pemasaran, baik agen, reseller maupun dropshipper, apalagi berhenti hanya di posisi konsumen.

Tak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan rumah kita masih banyak untuk mengubah kedudukan perempuan, yang dari sekedar konsumen menjadi produsen, dalam perekonomian Indonesia yang tahun ini dipercaya untuk menjadi tuan rumah G20.

Kata Data pernah melakukan survey, bagaimana perempuan melakukan transaksi e-commerce (sebanyak kurang lebih) 26 kali dalam setahun dibandingkan pria yang hanya 14 kali, meski nilai transaksinya tak berbanding sama. Apalagi semasa pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia.

Populix juga pernah melakukan survei pada akhir 2020 tentang rentang usia pembelanja e-commerce.

Sebanyak 6.285 responden di seluruh Indonesia, usia 18-21 tahun dan 22-28 tahun memiliki angka tertinggi dalam aktivitas belanja online, yang lagi-lagi didominasi oleh kaum perempuan sebagai konsumen.

Ditilik dari sisi psikologis, dari kedua temuan survey tersebut dapat disimpulkan bahwa kurang lebih mayoritas perempuan berusia 20-an masih menempati posisi sebagai konsumen. Lalu bagaimana kita mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi situasi ekonomi Global dengan area market yang lebih luas, di mana para konsumen tak dibatasi oleh ruang mapun waktu dan persaingan antar produk makin kompetitif, bila kondisi ini terus berlangsung.

Ada yang meng-klaim bahwa adalah hal yang wajar apabila perempuan seusia ini hanya berperan sebagai konsumen semata, karena mereka sedang berada dalam fase pendewasaan diri dari remaja menjadi wanita dewasa dengan kebebasan mutlak untuk mengatur keuangan mereka sendiri. Meski tidak semuanya sudah mulai mencicipi kebebasan finansial dengan menjadi pekerja penuh waktu, misalnya.

Mungkin Korean Waves yang juga berimbas besar bagi perempuan usia 20-an ini, bisa dijadikan pelajaran yang sangat baik.

Lihatlah fanatisme para penggemar yang rela mengumpulkan uang untuk membeli merchandise bias kesayangan, maupun menonton konser online yang tak terbilang murah.

Pelajarilah bagaimana pengemasan drama Korea yang sekaligus optimal memasarkan produk-produk yang digunakan dalam film tersebut. Tak heran roti lapis ala Drakor seperti ramyeon, tteokbokki, minuman, wardrobe (pakaian, tas, ransel, sepatu), dsbnya menjadi hal yang memiliki daya jual.

Amatilah, bahwa produk yang ‘diiklankan’ tak semata endorse-an saja, tetapi justru sengaja diperkenalkan dalam acara tersebut. Ini belum termasuk penggunaan layanan streaming video on demand (VoD) yang ikut mendongkrak perekonomian Korea Selatan selama pandemi covid-19 berlangsung.

Walau Menkeu Sri Mulyani menegaskan dalam acara G-20 Women’s Empowerment Kick-Off Meeting pada Desember 2021 lalu, bahwa pemberdayaan perempuan dalam ekonomi dan kesetaraan gender adalah hal yang fundamental bagi pemulihan ekonomi global; pemaparan saya tentang mengubah posisi perempuan usia 20-an dari konsumen menjadi produsen adalah awal dari tindakan pemberdayaan itu sendiri.

Mengubah pandangan dunia yang cenderung bias gender, misoginis dan patriarki untuk mengakui bahwa perempuan memiliki kesempatan dan pengakuan kompetensi sebagai pelaku ekonomi yang setara, tidaklah semudah menarik minat masyarakat untuk beralih berbelanja melalui e-commerce misalnya.

Mungkin yang disampaikan Sri Mulyani tentang pembangunan satelit, fiber optic, agar setiap pelosok Indonesia bisa terkoneksi internet untuk mendukung promosi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), di mana banyak perempuan yang bekerja maupun berwirausaha di sektor ini; bisa menjadi langkah awal yang efektif.

Dengan jaringan internet yang semakin baik, teman-teman perempuan muda di berbagai pelosok diharapkan juga makin teredukasi, berdaya dan mengoptimalisasi kekuatan naturalnya sebagai perempuan.

Kemampuan otak manusia yang menurut para ahli neuroscience mampu membaca dan peduli terhadap situasi, diasumsikan dapat memudahkan kaum perempuan untuk mengenali trend, di mana kemampuan berkomunikasi yang lebih lancar tentu akan mendorong kemunculan berbagai bentuk kreatifitas dalam memasarkan produk.

Apalagi kemampuan multitasking yang dimiliki oleh hampir semua kaum perempuan yang pada akhirnya memampukan ia untuk tidak hanya memproduksi sendiri, tetapi juga menilai kualitas sekaligus memasarkannya.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip pernyataan Ndidi Nwuneli, peraih penghargaan Global Fund For Women; Memberdayakan perempuan untuk memulai dan membangun usahanya sudah selayaknya dilakukan, tetapi mengedukasi mereka adalah hal yang paling tepat sebagai langkah awal. Ya, mengedukasi lebih banyak lagi perempuan usia 20-an untuk mengubah pemikirannya sebagai penikmat untuk mulai beralih menjadi penyedia, seperti Anissa.

=====

Tulisan asli dimuat di Bisnis Indonesia



seleksirbcl2022
12/04/2022, 4:12 am04
Filed under: Uncategorized

Jumlah kata : 1848 (hanya isi)

===

Menyelamatkan Phoenix

Tubuhku mendadak lemas. Suara-suara para saudara di sekitar panggung tempat kami berfoto seperti dengung lebah hendak menyerangku.

Kepalaku sakit, terasa keringat dingin susul menyusul merembes ke seluruh permukaan kulit. Ketika terasa aliran hangat berbau besi turun lewat sela-sela gaun, energi yang melingkupi tubuhku perlahan melayang pergi.

“Mayleen , kamu kenapa. Kok banyak darah begini … Bangun Leen, buka matamu … buka. Mama Sioe, Mama, tolong … Mayleen pingsan!”

Suara James masih lamat-lamat terdengar, sebelum keheningan menyergap.

*

Aku memilih diam ketika Papa terus saja berbicara mengapa aku tak boleh berpacaran dengan Ben.

“Shio kalian itu ciong. Seumur-umur bisa bawa sial. Udah gitu lo tau sendiri kan Ben itu anaknya Harris, saingan toko kita. Enak aja gua besanan. Nanti dipikirnya toko kita bisa kongsi, gua nggak sudi! Ben cuma kuliah seni lagi. Mau dikasi makan apa anak gua?”

Aku menatapnya dengan mata yang mulai terasa basah.

“Hei, elo nangisin dia? Elo mo bilang elo cinta sama dia? Makan tuh cinta! Elo kira cuma cinta doang, kita bisa idup kayak gini. Pokoknya elo kudu putus! Jangan au ban lo! Sekarang juga elo yg putusin si Ben duluan, biar lebih terhormat!”

Disorongkannya ponsel yang sudah disambungkan nomor Ben.
Ketika suara Ben terdengar di ujung sana, aku menghela napas berat.
Sejujurnya tak tega aku berkata-kata.
“Leen, what’s wrong, dear?”
Suara Ben terdengar bergetar.

Papa menepak bahuku. Membuatku tergagap dan melontarkan kalimat yang tadinya hendak kutelan saja.
“Kita putus ya Ben.”

Ponsel direbut disusul kata-kata Papa sambung menyambung bagai denging belasan nyamuk yang ingin cepat-cepat kutepuk. Kata-kata ciong, sial, nggak tahu diri, putus, berhamburan bersama makian dalam Bahasa Cina pasar yang tak mau kutahu artinya.

*

“Ci Sioe, ini ada Ben depan pager. Nungguin Mayleen dari tadi.”

Aku terkesiap. Tak sengaja mendengar percakapan ponsel Ayi Yuni dan Mamaku yang dipanggilnya Cici.

Ada Ben? Jauh-jauh dateng ke Manado sini seusai aku mematahkan hatinya bertahun lalu? Tahu darimana dia?

Sejak Papa mengganti sim card dan mengubah seluruh akun media sosialku, kami benar-benar hilang kontak.

Waktu awal putus, sempat sekali aku kabur untuk menemui Ben. Hasilnya aku diseret Papa sepanjang jalan Petekoan sebagai hukuman tak menemuinya lagi. Wajah Ben pun tampak lebam membiru terkena tamparan tangan Papa.

Kedua kali, Ben memanjat pagar menyelinap masuk kamarku. Kalau kemudian aku tidak menangis-nangis menelepon ambulan, nyawa Ben nyaris tak bisa diselamatkan.

Jerit tangisku bahkan tak bisa menghentikan pukulan dan tendangan Papa. Ketika Mama pasang badan menjadi tameng Ben barulah Papa menyudahinya.

Kebencianku kepada Papa makin berkobar. Sejak saat itu mulutku kukunci rapat-rapat. Apapun makanan yang dibelikannya, tak kusentuh. Kuliah tak kuhadiri, siapapun mengajak bicara tak aku ladeni. Aku menarik diri dari semuanya, masuk ke dalam cangkangku yang sunyi.

Dokter dipanggil, psikiater didatangi, tetapi diagnosa apapun tak kunjung bisa mereka berikan untukku. Dukun didatangkan, rumahku diasapi lalu aku didudukkan di tengah kamar untuk didoakan. Tidak ada perubahan juga.

Papa mulai melepaskan burung gereja ke udara dan kura-kura bulus ke dalam sungai. Katanya agar kesialan dan segala hal celaka lainnya menjauhiku, keluarga dan rumahku.

Apakah berhasil? Tidak. Tubuhku terus mengurus drastis, lingkar mata akibat insomnia sangat kentara. Beberapa kali kugunting rambut panjangku, di hari lain baju dan rokku. Sampai semua benda tajam maupun tumpul dijauhkan dari jangkauanku.

Setiap hari Mama menangis mencemaskan aku menjadi gila atau yang terparah mengakhiri hidup. Air mata Mama kurespons dengan tertawa. Cemas? Dia sendiri kuanggap nggak melakukan banyak hal juga untuk membantu.

Akhirnya suatu hari perempuan yang melahirkanku itu memohon Papa agar segera mengungsikanku ke Manado untuk menenangkan diri. Daripada harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa, lebih baik aku tinggal di rumah adiknya, Yuni.

Kata menenangkan diri lalu menjadi bias ketika hari itu aku dibawa layaknya pesakitan. Lenganku dipegang kuat-kuat kiri kanan sepanjang naik mobil maupun pesawat. Mereka berbanyak tetapi demikian takut aku melarikan diri.

Ketika pesawat lepas landas melintasi cakrawala, aku meyakini betul diriku yang bernama Mayleen Puteri Widjaja sudah tiada.

*

“Oke, Ci. Bentar aku lihat Ben dulu.”
Suara Ayi membuyarkan kenangan menyedihkan itu. Sosoknya menghilang ke balik pintu.

Merasa punya kesempatan, aku mengendap-endap hendak mengintip lewat tirai jendela,

“Ben udah kuminta pergi, Leen. Mama lo bilang nggak boleh ketemuan. Bentar lagi elo merid. Harus tau diri sebagai perempuan. Jadi dong burung phoenix jangan burung pipit.”

Mendengar Ben diusir, hatiku bukan main sakitnya.

Ditambah lagi omongan tentang Phoenix ingin membuatku muntah saja.

Sejak kedatanganku ke Manado, Ayi Yuni selalu bicara tentang satwa itu.
Katanya, Papa menyuruhnya menceritakan kepadaku maknanya sebagai raja para burung. Makhluk mitologi satu-satunya yang menjadi motif resmi kerajaan yang digunakan hanya untuk ornamen ratu dan permaisuri.

Aku mendengkus, cih … perbuatan Papa kepadaku lebih serupa memperlakukan budak daripada ratu yang dimuliakan.

Ayi menambahkan lagi. Katanya, sebagai perempuan aku sudah terlahir cantik dan kuat seperti Phoenix. Tinggal dipoles saja untuk membuatku terhormat dan berkharisma.

Awalnya aku hanya tertawa mendengar semua itu. Namun, ketika esok … lusanya, lalu seminggu lagi arti Phoenix Ayi ulangi, aku mulai histeris dan tertawa tanpa henti.

Sambil meneriaki Ayi, aku mencaci mengapa semua orang mengharapkan aku menjadi Phoenix tetapi memperlakukanku semena-mena.

Ayi ketakutan melihat ekspresiku sedemikian rupa. Pelan-pelan ia mengubah strateginya.

“Mulai besok, gua ajarin elo masak dan jahit aja deh. Biar laki elo seneng luar dalem! Elo juga bakal gua bikinin ciak po biar subur. Papa dan mertua elo nanti pasti pengen banyak cucu dari kalian.”

Ucapan itu awalnya terdengar memuakkan, tak ubahnya aku barang atau mesin hanya untuk menyenangkan orang. Namun, daripada bosan hanya menjalani terapi saja, tentu aku memilih memasak di dapur atau belajar menjahit saja.

Perasaanku lebih baik karena Ayi tak bicara lagi soal Phoenix mapun hal lain yang bisa membuatku murka.

Bulan demi bulan terlewat. Aku makin jarang marah-marah dan tertawa tak beralasan. Ketika suatu hari Mama menelpon dan mulai mendorongku untuk melanjutkan kuliah jarak jauh dari universitas di Australia, aku menyetujuinya.

Meski alasan Papa yang hanya memperbolehkanku belajar daring untuk mencegah aku bertemu lelaki sembarangan lalu pacaran lagi, sesungguhnya momen itu malah mempertemukan takdirku dengan James. Anak sahabat baik Mama yang sengaja diperkenalkannya kepadaku.

Pesan Mama saat itu, “Aku nggak minta apa-apa darimu, Leen. Tapi bertemanlah dengannya. Dia anak yang baik, lucu dan menyenangkan. Mudah-mudahan dia bisa menghibur dan membantumu belajar.”

*

“Leen, bangun Leen. Aku nggak apa-apa kalau kamu nggak mau punya anak lagi. Aku nggak peduli anak kita perempuan semua. Leen, please don’t leave me … I love you.”

Kubuka mata yang terasa berat. Meski tubuhku masih terasa lemas, mataku sempat menangkap sosok lelaki yang telah menjadikanku Ibu dari dua kembar perempuan yang lucu-lucu.
Wajah James tampak sembab, isakannya terdengar satu dua.

Lelaki tampan bermata elang itu ternyata sungguh-sungguh mencintaiku lebih dari yang kuduga.
Dia lebih tua lima tahun dariku. Pengalaman kuliah di mancanegara dulu membuatnya bisa menjadi pembimbingku untuk kuliah jarak jauh.

Walau sepertinya Ayi Yuni dan Mama yang mengatur, aku merasa senang karena sikap dan perilaku James sungguh menghibur.

Dia benar-benar lucu, sering melontarkan lelucon dan sabar mendengarkan setiap aku bercerita.
Walau sebenarnya dia sudah tahu kondisiku kurang baik sehingga diungsikan jauh dari rumah, lelaki tinggi besar itu tetap mau mendengarkan semua tumpahan kekesalan berdasarkan versiku.

“James, kamu tahu … ketika aku dilahirkan, Papa nggak bisa terima bahwa anak pertamanya perempuan. Hilang sudah kebanggaannya di keluarga Akung. Makin besar aku satu-satunya anak perempuannya yang berani melawan dan berbantahan. Kebencian Papa berlipat ganda. Puncaknya waktu aku berpacaran dengan Ben, anak saingan bisnisnya. Papa begitu murka lalu mengambil tindakan.”

Kulihat James tak menunjukkan reaksi berlebihan meski kusebut nama lelaki lain di hadapannya. Matanya terus menatapku tanda memperhatikan.
“Kamu masih mencintainya, Leen?”

Sebulir air mata yang hendak mengalir turun segera diusap punggung telapaknya.
“Bila masih pun, sebagai anak perempuan aku tetap wajib menghormati Papa.”

Tangannya mengusap puncak kepalaku.
“Aku tahu, Leen. That’s hurt, right? Dipaksa menghilangkan rasa cinta kepada seseorang.”

Usapan tangannya waktu itu sungguh-sungguh mengalirkan kehangatan dan kenyamanan.

*

“Mayleen baru melahirkan nggak lebih dari sebulan. Kalian ‘kan percaya aturan kesehatan, kenapa musti dipaksa hadir di nikahan Wilson?”

Papa Johny seketika murka.
“Elo anak tertua, James. Cie fen-nya Wilson adek lo cuma sekali seumur idup. Datengnya pas foto keluarga aja, emang Mayleen segitu lemah apa badannya?”

Papaku tak kalah galak bicaranya.
“Mayleen pasti tau diri sebagai mantu pertama. Kalian berdua musti ada di foto keluarga. Bikin malu kalo James foto sendirian.”

Semua perdebatan itu tak juga berhenti bila aku tak menjerit-jerit meminta mereka pergi.
Meski hal itu tak kuasa juga menghentikan paksaan untuk menghadiri foto bersama.

Perias wajahku seketika mengeluh melihat wajahku yang begitu pucat. Entah berapa banyak kosmetik dipoleskan agar aku bisa tampil layak. Aku sendiri merasa terkejut kemudian, melihat wajahku di cermin seperti boneka tak bernyawa. Cantik tanpa aura.

Bagaimana tidak, mentalku yang perlahan pulih atas cinta dan perhatian James runtuh seketika bayi yang kulahirkan kembar perempuan.

Papa dan Papa Johny tak bisa menyembunyikan kekecewaan, terus menggerutu yang baru berhenti ketika James melontarkan bentakan.

Mamaku dan Mama Ling tak bicara apa-apa, bergantian mereka mengirimkan makanan dan ciakpo agar tubuhku segera pulih.

Aku menertawakan usaha itu. Percuma, karena tubuhku mulai bertindak secara mekanik tanpa disertai rasa.

Ketika pengurus bayi atau Mama Ling menyodorkan bayi-bayi untuk kususui, aku mau melakukannya. Namun, ketika mereka menangis aku bisa diam saja tak bereaksi apa-apa.

James seorang diri yang pontang panting mengurusiku. Dengan sabar ia menyuapiku, memandikan dan menggantikan pakaian.

Bahkan terkadang dia membawa kedua bayi kami ke dekat tempat tidurku untuk menunjukkan bagaimana besar cintanya kepada mereka tak peduli apa jenis kelaminnya. Menyaksikan apa yang dilakukan James membuat air mataku mulai mengalir.

*

“James …”
Suaraku yang serak dan bergetar terdengar menakutkan bahkan di telingaku sendiri.

Tubuhnya bergerak. Kepalanya terangkat pelan lalu mata elangnya berbinar menatapku.
“Leen, oh God, please don’t make me scare again. Aku takut sekali kamu pergi!”

Tangisnya pecah, air mata kami saling berbaur ketika wajah kami saling mendekat. Bibirnya menciumi setiap permukaan wajahku.

Kriettt.
“Pak James … Eh maaf menganggu. Bu Mayleen, ah syukurlah Ibu sudah siuman. Pak James gelisah sekali menunggui Ibu selama hilang kesadaran.”

Suara lelaki yang selama ini menjadi tangan kanan dan pengacara James yang mendadak masuk ruangan, refleks menggerakkan kepala kami untuk berjauhan.

“Ya … Roby. Gimana surat-suratnya?”
James menjawab sambil menggenggam sebelah tanganku erat-erat.

“Beres, Pak. Meski tadi Pak Johny terus mencaci maki, mau tak mau ia menandatanganinya. Tanda tangan Wilson dan Gilbert sudah saya dapatkan juga.”

Aku menatap mereka berdua. Kueratkan genggaman di tangan James, merasa panik tertinggal berita apa.
James membalas genggaman tanganku. Kehangatan hatinya segera tersalur, menjalar ke seluruh tubuh.

Sambil menghela napas tanda kelegaan, lelaki yang menyayangiku itu berkata dengan lugasnya.

“Leen, kini hidup kita hanya aku, kamu dan anak-anak. Aku sudah bukan bagian dari perusahaan Papa, jadi dia tak dapat mengancamku bila tak menuruti apa keinginannya.

Aku memutuskan pecah kongsi, mengurus usahaku sendiri tanpa campur tangan keluarga. Aku juga sudah memberikan ultimatum agar kedua Papa tak ikut campur.

Orang-orang seperti Papa kita itu perlu diberi boundaries agar tak semaunya mengutak-atik hidup kita. Kalau masih ngelakuin juga, saat itu kita sudah pindah ke Kanada, Leen.”

Perkataan James betul-betul mencengangkanku.
Tak kusangka ia mengambil langkah yang sangat berani untuk keluarga kami.

“Trust me, Leen. Kita mulai buat bahagia kita sendiri. Kamu jangan sedih lagi ya.”

Tak mampu kutahan air mata yang mengalir menganak sungai membasahi wajah.

Keberanian dan cinta James membuat kehadiranku sebagai seorang perempuan terasa demikian berharga.

=====
shio = zodiak dalam kepercayaan orang Cina, berjumlah 12 dengan simbol hewan

ciong = tidak cocok, bertentangan, ditenggarai bisa menyebabkan kesialan

ciak po = ramuan obat yang bisa dikonsumsi langsung atau dicampur makanan, dengan tujuan meningkatkan qi atau energi vital tubuh

kongsi = kerjasama, biasa dalam bisnis

au ban = keras kepala

Ayi = tante

Akung = kakek

cie fen = pernikahan

Jalan Petekoan = salah satu jalan daerah Pecinan yang menjadi area perdagangan di Jakarta Kota



Tentang Konsensual

https://www.ghibahin.id/esai/mengapa-mengajarkan-konsensual-kepada-anak-anak/?amp=1