yukberbagi!


Wisata asik dan edukatif seputaran Jogja (latepost)

Bawa anak2 ga bisa wisata cuma buat bikin foto instagramik doang. Bisa bisa isi fotonya manyun semua karena ga ada yang dimainin…ga ada yang menarik minat mereka…ga ada yang bisa dikerjakan.

Saat sempat rehat dari aktivitas..keluarga kami survey buat pindahan sekaligus liburan di Jogja akhir bulan Juni 2016 kemarin. Maunya sih ikutan wisata ala ala AADC ituh. Tapi anak-anak bisa tantrum karena wisata itu lebih cocok untuk gaya-gayaan sama follower di instagram.

Akhirnya kami pilih-pilih tempat wisata. Yang pertama-tama Taman Pintar. Letaknya di tengah kota di jl Sultan Agung. (Pssttt..sayangnya bayar parkirnya dikenakan 10rb dan bukan di area wahana tersebut) 

Ini bukan pertama kali sih buat kami. Tapi karena baru berkunjung usai makan siang..waktu untuk eksplorasi terutama bagi si bungsu (dulu pertama kunjungan masih bayi) agak kurang.

Biaya tiket masuk (karena masing2 wahana punya tiket sendiri2) tergolong murah. Kami hanya milih gedung oval dan gedung kotak. Jadi uang yang dikeluarkan ga lebih dari selembar yang merah.

Area2 di dalam gedung oval dan gedung kotak masih seru..walau ada yang pindah lokasi… pindah letaknya dan ada yang baru.

Sayangnya (mungkin karena menjelang sore) banyak staf yang sudah tak siap untuk menjelaskan alat atau benda yang terpasang. Padahal anak2 sangat ingin tahu. Perlu diingat lho belum semua pengunjung anak bisa membaca penjelasan secara tertulis. Bila dinarasikan secata atraktif..tentu lebih menarik lagi.

Taman Pintar memang sungguh ‘pintar’ dalam memberi hak pada orang tua dan anak untuk memutuskan wahana yang dipilih sesuai bujet yang disiapkan dan sesuai kesukaan anak-anak. 

Sedikit catatan..hanya pada wahana dinosaurus dan 4D Cinema yang agak sedikit provokatif untuk menarik konsumen…menjelang keliling kita di gedung kotak berakhir; walau dengan tiket yang tak murah. 

Catatan tambahan dan oke untuk Taman Pintar adalah toilet yang bersih (walau berbayar) dan area makanan minuman cukup variatif dengan harga terjangkau. 
Tempat wisata selanjutnya adalah Kebun Binatang Gembiraloka. Ini dekat daerah Janti. Bayar parkir Rp 5000,- dan area parkir cukup luas dengan pedagang asongan yang sigap menawarkan topi..kacamata maupun cinderamata. Ga maksa kok mereka. 

Sepertinya kebun binatang ini terus berbenah diri, sejak kunjungan saya saat masih jadi anak sekolah dulu. 

Tiket yang cukup terjangkau, dengan catatan beli paket lebih murah. Lingkungan yang lebih hijau dan nyaman. Beberapa photobooth bersama hewan pun gratis..(kecuali naik gajah atau unta-yg kami sekeluarga pribadi tidak setuju dan tidak mau..itu pun elephant riding termurah menurut saya) . 

Bila lelah berjalan..belilah paket kereta kelinci..yang bisa turun naik sesuka kita di beberapa perhentian. Termasuk bersantai naik kapal di danau buatan. Atraksi hewan juga cukup menarik..dengan berbagai burung..linsang dan beruang. 

Kata petugas di sana sih..lebih baik kunjungan jangan di hari libur Nasional atau lebaran. Karena bukan kita yang mengamati hewan..tapi hewan yang mengamati kita saking banyaknya pengunjung yang hadir. 

Catatan kami mungkin untuk beberapa wahana penjelasan ttg hewan perlu diperbanyak, 

plus ketersediaan makanan untuk dibagikan cuma-cuma ke hewan, seperti rusa-rusa perlu disiapkan lebih baik lagi.  

Tapi keramahan petugas-petugasnya yang masih muda-muda dan enerjik patut diacungi jempol. Dan..kita bisa lho bawa bekal makan minum untuk ngemil atau penghilang haus. Asal diingat untuk ikut menjaga kebersihan atau tidak membuang makanan sembarangan ke kandang hewan ya..

Yang terakhir adalah Kids Fun Park di area Wonosari. Kesannya luar kota banget yah. Memang lebih jauh dari kedua tempat lainnya sih. Tapi dari area airport ini tidak terlalu jauh.

Areanya besar…mainan banyak. Tapi nggak boleh bawa makanan ya..diperiksa lho. Karena tersedia counter2 makanan dan harganya ga sampe menguras kantong kok. Kalau untuk makanan minuman bayi atau balita sih masih diperbolehkan ya. 

Area kids park terpilah-pilah dalam kategori usia tertentu. Ada yang untuk balita saja…anak2 serta remaja/dewasa. Tiket terusan tidak mencakup semua wahana permainan. Seperti gokart..atau flying fox. Tidak termasuk juga mainan yang menggunakan koin. 

Jadi kalau kita wisata ke sana dengan berbagai tingkatan usia..pilihlah dengan selektif yang mana yang mau kita nikmati..supaya semuanya senang. Di sini ada beberapa area ketangkasan..area untuk uji keberanian..area mengenal era2 pada kehidupan manusia termasuk budaya Indian..dunia para koboy..dinosaurus..dll..termasuk ada pertunjukan dan workshop2 juga. 

Untuk hal2 informatif sepertinya sih orang tua sendiri yang perlu menjelaskan tentang hal2 tersebut. 

Yang mengherankan..area kids park yang lumayan luas ini..operator permainannya terbatas banget. Padahal itu hari biasa. Sehingga ada beberapa kali operator harus berlarian ke sana ke mari untuk mengoperasikan wahana mainan sesuai keinginan pengunjung. Sayang ya…dan kasihan juga operatornya kewalahan lari sana sini. Tapi hebatnya mereka tetap ramah2 lho..biar lelah seperti itu. 

Dan yang menyenangkan..biar area terbuka… semuanya kids area dan semua non smoking. Para perokok diminta untuk merokok di area khusus saja. Ini patut diacungi jempol.

Setelah puas bermain di area kids park, baru kita bersantai-santai di water park nih.

Water parknya cukup bersih termasuk area shower dan kamar gantinya. 

Di sini ya water park jadi intinya main. Bukan belajar berenang ya. Karena semua kolamnya lebih asik untuk main air daripada berenang serius. 

Sayang area yang saya foto di atas..(ember besar yang tumpah) tidak dioperasikan sesering mungkin. Sehingga saat kami sudah mandi dan bersiap pulang, baru si ember siap-siap tumpah. 

Demikian sih pengalaman saya di tiga tempat wisata edukatif tadi yang kami nikmati akhir bulan Juni kemarin.  

Mudah-mudahan bermanfaat yaa. 

Buat cari lokasi..silakan google map atau waze nya dipergunakan. 



Determined ato kepala batu kah saya? 
26/08/2016, 4:12 pm08
Filed under: catatan saya, ngalamin sendiri | Tags: , , ,

Saya suka dibilang orang yang keras kepala. Suka susah patuh atau mengiyakan sebelum berargumentasi dulu. Tapi saya pikir..mungkin itu modal saya berani merantau ke mana-mana. Dan juga modal saya untuk tough hadapi keseharian bersama Arsa..putra sulung saya yang autistik, yang juga keras kepala..ga kalah sama saya.😉

Tapi… sikap saya itu keras kepala apa teguh hati ya. Penasaran saya browsing. Dapetnya sih pertama gambar ini. 

Uhuk..langsung tertohok sih. Seberapa sering saya teguh pada pilihan saya tanpa ‘ngeyel’ dan bisa terbuka pada pendapat orang lain yang berbeda. 

Kalo lihat dari bahasannya Kris Smyth ttg berteguh hati atau determination.

Your path to success is always based on the determination that you have engrained within yourself. 

Determination aligns your energy and attention towards your focus.

Determination is not whether you’re a good or bad person, it’s about what you’re willing to do to achieve your end goal. 

Nah…sebenarnya bagus toh berteguh hati. Tapi terlalu berkhayal ahh.. kalau sikap saya sudah sepenuhnya mencerminkan sikap itu. 

Saya browsing lebih lanjut. 

Dan ternyata bahasan berikut dari Srinivasan Pillay CEO of NeuroBusiness Group dan award-winning author, bagus banget. 

Jadi beliau mengelompokkan determination ini dalam beberapa kelompok. 

  1. Uphill determination digambarinnya kayak seorg single mom yg mau tidak mau membagi dirinya utk karir dan pekerjaan rumah tangga. Atau seseorang yg udah cape banget tapi mau tidak mau harus menyelesaikan pekerjaan sehari2nya. Jadi keinginannya n niatnya sangat terfokus padahal hambatannya banyak banget. Keteguhan hati model gini bagus kalo lagi kehilangan inspirasi ato lagi perlu mengatasi hambatan yg tahu2nya muncul. Tapi…kata si penulis, jadikan sebagai generator saja..saat semangat kita mulai padam.
  2. Downhill determination digambarkan seperti orang yang baru mulai bisnis tapi mengambil peluang-peluang dengan resiko yang paling kecil atau jalan yang paling mudah. Akhirnya apapun yang dicapai tak pernah sesuai dengan apa yang menjadi targetnya. Ini orang yang berteguh hati untuk menghindari hal-hal beresiko…he2
  3. Coasting determination digambarkan seperti org yg menunda kesuksesan2 kecil..untuk mendapatkan prestasi yang lebih besar. Atau orang yang melakukan disiplin diri..lebih untuk menginspirasi org banyak daripada cuma dibilang pekerja keras. Jadi berteguh hati tercermin dalam sikap perilaku keseharian orang tersebut.

Katanya sih… setiap diri kita pasti akan ‘bermain2’ dengan ketiga keteguhan hati yang disebutkan itu meski poin yang ketiga yang terbaik jadi dasar sikap perilaku kita.

Nah..itu kan teorinya. Kalo saya sih kebanyakan yang pertama. Tiap hari sok tough aja…sambil merapal mantra “semua bisa beres…semua bisa dikerjakan”. Tapi kenyataannya, ga sesuai rencana..ngomel. Ada yang ganggu..bertengkar. 

Jadi..boro2 menginspirasi orang lain… (atau jangan2 ada yang sudah terinspirasi sama saya? )  ..inget omongan seorang kawan..”wuih..semuanya ibu kerjakan sendiri. Dampingin Arsa yg autistik..ada Dy yg masih balita..jadi istri dengan kerjaan domestik yg ga kelar2..masih nyuri2 waktu berbisnis online lagi… ibu tuh beneran super mom” 

Saat saya tersanjung..sebenarnya saya lagi draining..kyk uphill determination itu. Saat cuping hidung mengembang..sebenarnya mulut mau muntahin kata2 dan bilang…sebenarnya saya cape tauk. Mau Me time bisa feel guilty mulu… akhirnya ujung2nya kekeraskepalaan saya yang muncul. 

Mo komenin gw..siap2 senggol bacok. Ibarat kata tuh kayak gitu…kata org Betawi. 

Bener..ya kagak. 

Ga bener..ya itu pilihan saya saat itu. Walo saya ga pernah mo milih dilabelin super mom. 

Finally..kuncinya cuma satu. Saya ngejalaninnya gimana. Terlepas dari segala teori berteguh hati tadi ya. Saya pernah berkata dalam hati. Saya ga perlu jadi orang terkenal..tapi saya ingin apa yang saya lakukan..menginspirasi..mendorong..memberi semangat orang lain..untuk melakukan hal yang sama atau lebih dari saya malah. 

Tapi kira2 kalo saya cuma berkutat di keras kepala.. kira2 cita2 saya itu bisa kesampaian ga ya? 

*ngomong sama cermin* 

Sumber tulisan : 

How to Be Determined in 10 Ways

 http://m.huffpost.com/us/entry/552632



Smartphone for smart people??
07/08/2016, 4:12 pm08
Filed under: Uncategorized

Mau eksplor dunia..cukup punya kuota. Mau makan enak tapi ga mau keluar rumah..tinggal instal aplikasi.  Mau jualan hore2 bergembira…ga perlu punya toko. Tinggal klik sana sini..degdeg byar dagangan laku. Mau planning trip murah meriah..tinggal mata melototin screen, lusa langsung berangkat. Mau jadi model tapi ga sempet ke salon, tinggal klik aplikasi foto… jerawat ilang..flek ga keliatan.. muka pun tirus.

Sebegitu melesatnya teknologi untuk meringkas dunia hingga dalam genggaman saja.
Mau harga 6 ratus ribu sampe belasan juta, tergantung budget n fitur apa yang mau dipilih.

Sayangnya…teknologi dan terbukanya informasi.. tak berbanding lurus dengan keterbukaan pikiran dan kecerdasan seseorang.

Oh ya…apa teknologi tak bisa mencerdaskan seseorang?
Seperti ditulis Parja di blognya, yang mengutip pendapat Toynbee yang menyatakan bahwa Teknologi adalah sebuah manifestasi langsung dari bukti kecerdasan manusia.

Jadi… manusia yang cerdas akan menciptakan teknologi.
Tapi manusia yang menggunakan teknologi, belum tentu benar2 cerdas. Yg terakhir itu IMHO lho ya..

Sementara menurut artikel yg ditulis Dida Handayani Sasmita di blognya
Pengetahuan dan teknologi memungkinkan terjadinya perkembangan keterampilan dan kecerdasan manusia. Hal ini karena dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan
a. Tersedianya sarana dan prasarana penunjang kegiatan ilmiah
b.  Meningkatkannya kemakmuran materi dan kesehatan masyarakatnya.

Nah kalo ini… teknologi yang berpengaruh terhadap apa yang dilakukan manusia2 dalam mengembangkan diri dan menjadi cerdas.

Lah..terus kok bisa ga selaras kalo udah ngomongin sosial media.
Yah..gini deh.. hp boleh smartphone super duper canggih..tapi :
– kerjaannya posting n share berita hoax tiap hari. Ya..mau ngetop karena jadi tukang share hoax? Saya sih kaga
– kerjaannya mempermalukan diri sendiri atau orang lain.
Banyak jalan jadi ngetop..tapi ya ngga harus ngelepasin urat malu juga sih
– kerjaannya cuma provokasi..fitnah sono sini..padahal juga ga gitu ngerti sama apa yang diposting. Nah sekali dilaporin pencemaran nama baik…nangis2 minta ampun atau ngakunya di-hack

Kata temen saya..ga usah ngurusin deh apa yang orang mau lakukan dengan media sosialnya. Karena katanya…banyak juga yang hanya menemukan jati dirinya di media sosial padahal sehari-harinya super lonely person.
Denger gitu….ya (maaf kalo saya nge-judge)…ga heran menjadi smart bukan pilihan mereka.

*saya jd berusaha memahami*
Smartphone not (only) for smart people. But for anyone who can buy.

 



Sekilas tentang Hypersensitive dan hyposensitive auditory disorder
14/07/2016, 4:12 pm07
Filed under: catatan saya, ngalamin sendiri | Tags: , , , , ,

Pernah dengar istilah ini?
Ga ada hubungannya sama tulisan saya beberapa waktu lalu sih. Mungkin benang merahnya cuma di definisi sensitif…he2

Sejujurnya nulis ini karena lagi geregetan sama abegeh autistikku.
Tutup telinga trusss..terutama di tpt umum atau dgn suara tertentu.
Jadi ga heran banyak tampang curious ato penasaran waktu liat si Arsa jalan sambil tutup telinga.
Mungkin..pikir mereka, ganteng2 K-Pop gitu kok aneh prilakunya!!..

Konsumsi suplemen Magnesium ato sayur buah yg mengandung si Mg (brokoli..waluh) yg katanya perlu untuk yang sensitif pada suara ato bunyi2an udah dilakukan. (Ato jangan2 suplemen itu menjadikan asupan Mg berkecukupan hingga buat Arsa terlalu sensitif)… Truly i don’t know.

Tapi…emaknya jadi rajin googling nih untuk lebih paham..apa sih istilah2 di judul itu.

Berikut yang bisa emaknya rangkum yak..

Apa sih istilah auditori itu?
Simpelnya ya…
Waktu kita mendengar suara atau bunyi..sensor dengar kita menghantar suara tersebut untuk dianalisa di otak, untuk kemudian otak memerintahkan bagaimana kita merespon terhadapnya. Senang…sedih..ngeri..waspada..cemas..menenangkan…menghibur..dsbnya.

Telinga kita memang luar biasa fungsinya. Bukan cuma sbg indra pendengaran..tapi juga berperan dalam keseimbangan dan olah anggota gerak tubuh kita.

Seorang anak dengan sistem pendengaran yang sehat mampu merespon pada suara dan bunyi2an secara alami, menoleh saat namanya dipanggil atau refleks mencari ke arah sumber bunyi. Mereka juga mampu mengikuti petunjuk verbal dari org tua dan guru. Anak juga mampu menyaring suara atau bunyi latar dari sebuah situasi. Seperti saat mendengar penjelasan guru di sekolah..ia juga mampu mendengar bunyi ketukan pensil yang dilakukan teman di meja yang lain.

Kebanyakan anak2 mampu mendengar walau dalam situasi yang bising. Tanpa bereaksi berlebihan..tanpa terganggu kebisingan..sensor pada sistem pendengaran mereka bisa memilah dan otomatis mengenali suara familiar seperti dering telpon, bunyi alarm, bel sekolah atau suara ibu yang memanggil.
Karenanya kebanyakan anak2 senang mainan atau bermain yang berhubungan dengan bunyi2an..termasuk senang menirukan suara atau bernyanyi mengikuti irama musik.

Anak2 dengan sistem pendengaran yang sehat memiliki kepekaan sekitar yang juga sehat, mengembangkan berbagai kemampuan merespon dan bereaksi terhadap berbagai suara dan bunyi .
Pada akhirnya sistem pendengaran yang sehat ini akan terintegrasi dengan perkembangan kemampuan menyimak (listening) , berkomunikasi timbal balik dan kemampuan bersosialisasi anak2

Nah trus yang problem gimana?
Biasanya sih hal ini ditemukan pada anak2 dengan spektrum autistik.

Anak2 yang bermasalah dengan sistem pendengarannya…adalah saat otak tidak akurat menginterpretasikan dan berespon pada suara atau bunyi2an. Beberapa anak salah menalar apa yang mereka dengar atau tak lengkapnya informasi verbal yang diperoleh. Seperti contoh : “berbarislah saat mau ke ruang olahraga” berbeda dengan “berbarislah dulu saat mulai olahraga”. Jika anak kehilangan satu frasa saja seperti mau ke ruang itu tentu akan menghasilkan respon yang jauh berbeda.

Para ahli menggolongkan gangguan sistem pendengaran ini dalam dua bagian.
Yang hipersensitive dan yg hiposensitive.
Anak yg hipersensitive kyk Arsa bisa bereaksi berlebihan terhadap suara atau bunyi yg mungkin biasa bagi kebanyakan orang. Mereka bisa tutup telinga untuk volume, pitch dan suara keseharian yg secara personal ‘menyakitkan’ telinganya. Umumnya mereka lebih suka tempat2 yang lebih tenang daripada pusat keramaian..seperti taman..perpustakaan atau toko buku…pantai.
Biasa mereka sangat mudah menjadi impulsif..emosional…merasa terganggu dan hanya fokus pada ‘kebisingan’ personalnya saja.
Tanda fisik yg tunjukkan ia terganggu adalah tutup telinga atau menundukkan kepala dalam2.

Kebalikannya…untuk yg hiposensitive. Anak2 ini bukan tuli secara fisik. Namun mereka tidak ‘nalar’ dengan suara yang dihasilkan sekitar. Mereka ada atau hadir secara fisik namun seolah2 tidak mendengar apa2 dan tentu tidak reaktif dalam merespon instruksi, panggilan, bunyi2 yang menarik perhatian org pada umumnya.

Biasanya anak yg hiposensitive ini justru anak2 yang berisik (lah kok Arsa sy yg hipersensitive malah berisik bersuara2 aneh kalo di rumah – caper kah???) , selalu bicara, menyanyi, bergumam atau membuat bunyi2an sendiri untuk menambah input pendengaran mereka. Mereka bicara keras2 untuk memberi petunjuk apa yg harus mereka lakukan saat mengerjakan sesuatu. Mereka tidak merespon saat berkomunikasi dengan kita karena mereka tidak tahu bahwa kita sedang bicara dengannya. Anak2 ini juga mudah sekali untuk lupa pada apa yang dikatakan org lain.

Nah.. mendengar lalu merespon sebenarnya baru satu aspek saja dari sistem pendengaran kita. Proses keseluruhan dari sistem pendengaran sebenarnya lebih kompleks lagi…karena sampai tahap mampu membedakan dari suara2 yg mirip…, merespon hanya pada sebuah hal yg telah dipilah sebelumnya untuk kemudian memberi tanggapan terfokus, menyimak penjelasan untuk kemudian menyampaikan kembali.

Pfiuhhh…jadi bisa dibayangkan ya…kalo proses mendengar dan merespon yang tampak sederhana pada diri seorang anak sudah terganggu….masih jauh perjalanan ia mampu melalui dan mencapai tahap selanjutnya.

Bukan pesimis sih..karena saya juga masih ada PR. Arsa yang sampai saat ini masih tutup telinga di tempat umum bahkan tutup telinga mendengar suara rating mobil…suka emosional kalo ada denting piring keramik dgn alat makan lainnya.. jadi impulsif dengan suara benda yg diletakkan.
Tapi Arsa juga berisik bersuara2 kalau di rumah..

Nah dari yg saya baca2 hsl googling itu…katanya ada aktivitas2 yg bisa kita lakukan untuk memberikan stimulus untuk pendengaran anak2. Ga salah buat dicoba sih..biar Arsa hipersensitive gitu juga.
Siapa tahu nanti kita akan temukan yg mana yang disukai dan cocok dengan kondisi Arsa.

-bermain alat musik atau apapun yg menghslkan bunyi2an

-menggunakan mikrophone utk pengeras suara (sering2 diajak ke karaoke keluarga nih)

-games2 yg berkaitan dgn pendengaran (blm yakin Arsa bisa main pesan berantai sih)

-dengerin suara2 saat hujan (ide yg menarik)

-bernyanyi sambil menari (kebtln Arsa udh punya beberapa lagu favorit- patut dicoba)

-mengajarkan bersiul..bertepuk berirama, dll (sekalian bareng adiknya nih..pasti seru)

Mudah2an bermanfaat sekilas info yg saya rangkum dari berbagai sumber ini.

Saya pun masih belajar…
Utk lebih paham dan analisanya mendalam…silakan konsul ke ahlinya ya…
Terus semangatttt!!!



Di’Uber’ sama Arsa yang autistik

Sudah seminggu ini..aplikasi Uber di android saya yang entah kapan diinstall, berubah aktif.
Tentu karena mobil kami sudah duluan di ‘lodging’ berkenaan dengan kepindahan keluarga kami ke kota lain.

Bila yang lain bercerita tentang pengalaman mengesankan baik maupun buruk tentang drivernya..saya berbeda. Bersyukur sih tak pernah dapat driver yang error atau berperilaku tak sesuai juga.

Saya mau berkisah tentang bagaimana berkendara Uber bisa menaklukkan salah satu karakter spektrum autistik Arsa, putra sulung kami. Maksudnya?

Ya..karena Arsa punya karakter Obsessive Compulsive Dissorder (OCD) terutama tentang rute jalan. Memori fotografis tentang rute jalan yang harus dilalui dari suatu tempat menuju rumah..itu luar biasa rigidnya. Ada jalan yang harus bahkan wajib dilalui..ada jalan yang pantang dilewati (sebelum dia ngambek atau menggerutu sepanjang jalan)

Kalau yang jadi sopirnya saya atau papinya..tentu kami paham dan kadang terlalu menuruti kemauan OCD nya itu. Sebenarnya sebagai cara paling malas karena tak mau menghadapi gerutuan Arsa. Tapi kalau orang lain? Dan..tentu suatu saat ia harus hadapi realita bahwa tak selamanya sopirnya itu saya atau papinya yang senantiasa bisa menuruti keinginannya untuk melalui rute tertentu. (Masalahnya kadang rute yang dimintanya itu tak selalu rute tersingkat menuju rumah)

Malam ini buktinya. Kami menggunakan Uber lagi untuk pulang dari daerah Sanur.
Rute yang diinginkan Arsa adalah lewat Renon…area Denpasar Kota baru menuju rumah kami di Denpasar Utara. Namun driver Uber dan tentu saja kami (sudah agak malam) memilih lewat sepanjang Gatsu Timur..Gatsu Tengah baru masuk wilayah Denpasar Utara.

Begitu di perempatan Hang Tuah, Arsa sudah mengatur untuk berbelok ke Renon. Namun driver jalan terus. Mulailah Arsa menggerutu. Saya berusaha menenangkan dengan mengatakan jalanan area Renon ditutup. Maaf deh saya harus berbohong sama Arsa. Dia berusaha mencerna tapi terus menggerutu.

Akhirnya saya memberi alasan lain, bahwa dua anak yang ikut di mobil bersama kami akan dijemput pulang oleh tante mereka. Sedikit berhasil tapi tetap saja menggerutu sampai setibanya kami di rumah.

Yang kami takutkan soal tantrum ternyata tak terjadi. Di rumah pun tak menggerutu lagi.
Jadi….sebenarnya ke’rigid’an Arsa sudah mulai bisa dinegosiasi.
Tanpa harus emosi baik di pihak Arsa maupun kami.

Wah berkendara dengan Uber sungguh memberi kontribusi positif  bagi Arsa yang autistik. Mulai dari bersabar menunggu kedatangan mobil dan tentu (mudah2an) akan mengurangi ke’rigid’an Arsa dalam mengikuti rute tersingkat yang dipilih gps Uber.

Terima kasih ya…
Siap2 naik Uber lagi nih untuk menguji rigid nya Arsa. ;))



Peka atau sensi ya?

Entah ada hubungannya dengan bulan puasa apa ga.. beberapa waktu belakangan ini orang-orang jadi lebih mudah tersinggung di media sosial. Postingan atau komen orang dengan mudah menyulut amarah.
Saya jadi berpikir…orang yang tersinggung itu peka atau sensi ya.
Buat menjawab penasaran, saya googling di Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Nah..berikut dua definisi yang saya dapatkan.

peka/pe·ka/ /péka/ a 1 mudah merasa; mudah terangsang; 2 mudah bergerak (tentang neraca peralatan mekanis); 3 tidak lalai; 4 mudah menerima atau meneruskan pengaruh (cuaca dan sebagainya)

Berarti artinya tak selalu negatif ya.

Nah kalau sensi…berasal dari kata sensitif yang kemudian dimodifikasi jadi sensi biar tampak gaul.

sensitif/sen·si·tif/ /sénsitif/ a 1 cepat menerima rangsangan; peka: alat perekam itu — sekali; 2 ki mudah membangkitkan emosi: tiap konflik antarsuku yang timbul harus segera diatasi karena masalah kesukuan sangat sensitif–

Ada definisi disitu yang menjelaskan bahwa sensi bisa membangkitkan emosi..entah kesedihan atau kemarahan.

Lalu bagaimana soal peka dan sensi di media sosial ini. Saya mau kemukakan saja dalam beberapa contoh..baik yang sudah sering terjadi atau pun belum. Ini beneran IMHO (In my humble opinion)

Kita sangat peka bila tidak memposting penderitaan seseorang hanya untuk menunjukkan kita bersimpati atau berempati. Mau simpati dan empati ya natural aja..langsung bantu bukan dengan posting memposting penderitaan orang.

Kita sangat peka bila tidak ‘nyelonong’ komen yang tak berhubungan (bahkan numpang jualan) pada postingan seseorang; tanpa ijin OOT (out of topic).

Kita sangat peka bila tidak memenuhi newsfeed atau timeline orang dengan hoax..jualan..bahkan fitnah atau isu provokatif.

Kita adalah orang yang sensi bila menarik kesimpulan sendiri tentang postingan seseorang terus marah-marah, tanpa mau mendiskusikannya lebih lanjut.

Kita adalah orang yang sensi saat tidak bisa membedakan apa itu sarkas…apa itu to the point…apa itu bersikap frontal dalam sebuah status.

Kita adalah orang yang sensi saat saling berbalas komen terus tersinggung tak beralasan apalagi disambung-sambungkan masalah pribadi, padahal itu sudah di luar topik yang diposting.

CMIIW (Correct me if i’m wrong)…sejatinya dunia media sosial itu tetaplah dunia maya. Selama proses komunikasi berlangsung tanpa bertatap muka, kita bisa menjadi atau pura2 menjadi orang lain. Kita bisa menjadi sangat cerewet di media sosial tapi kenyataannya sangat pendiam. Atau kebalikannya.

Buat mengakhiri tulisan ini..saya ketemu di Pinterest yg kurang lebih gambarin bagaimana media sosial

image

Saya hanya mau tambahin.

People include us will choose how to react upon a status in social media . It’s truly up to them and we couldn’t do anything to stop, unless  block… log/sign out or leave them behind a k a not having social media interaction anymore.

Dalam hidup begitu banyak hal yang perlu dikerjakan..banyak hal yang lebih urgen daripada sekadar sensi2an di media sosial.



Jangan2 kita (ternyata) ‘menjadikan’nya pelaku
02/06/2016, 4:12 pm06
Filed under: catatan saya | Tags: , , , , , ,

Beberapa waktu ini.. beberapa orang ibu curhat di media sosial. Tentang tindakan bullying (perundungan) yang dialami anaknya. Komentar yang muncul beragam. Mulai dari yang simpati…menunjukkan empati bahkan yang menyakitkan hati.

Dari dua kasus saja..reaksi bisa berbeda. Ketika yang menyandang status pelaku bullying dari penyedia jasa publik..semua berpihak pada korban dan keluarganya lalu betamai-ramai mengecam keras. Menganggap ketidakadilan masih terjadi di mana-mana. Terutama kepada anak/individu dengan kebutuhan khusus.

Namun..ketika yang menyandang status pelaku bullying dari kalangan guru pada suatu kejadian di kelas…tak semua berpihak pada korban dan keluarganya. Ada yang menganggap itu bagian dari pendidikan? (Oh ya???)
Ada yang menganggap si korban terlalu lemah hatinya…hingga jadi baper. Padahal banyak juga yang mengalami semasa kecil dan menjadikan itu motivasi untuk maju dan survive. (Wohooo…alasannya…)
Tapi ada juga yang sepaham untuk  tidak membenarkan tindakan bullying dalam proses belajar mengajar..apalagi antara guru dan siswa.

Setiap kejadian bullying memiliki berbagai penyebab. Waktu saya browsing beberapa sumber termasuk hasil penelitian..saya temukan ada benang merah dari pendapat-pendapat tersebut.
Saya coba tulis ulang beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab.

* pelaku pernah menjadi korban bullying / tindak kekerasan juga (nah jadi tahu kan begitu hebatnya efek bullying yang akan berimbas ‘menjadikan’ pelaku-pelaku bullying lain)

*  pelaku adalah orang yang kesepian dan atau punya masalah dalam keluarga (bullying dalam keluarga pun akan ‘menghasilkan’ produk pelaku bullying juga)

Dua sebab di atas mungkin..karena secara alamiah, saat seseorang ditekan pihak lain, akan serta merta mencari orang lain untuk pelampiasan. Bisa dengan tindakan yang sama atau berbeda.

* pelaku punya masalah kepribadian. Entah harga diri yang rendah, ego yang besar, ingin menarik perhatian atau sekadar sirik.

Coba lihat deh..semua masalah tersebut berasal dari harga diri yang rendah. Besar kemungkinan pelaku bullying tersebut tak pernah dihargai..sekecil apapun usahanya. Padahal ia ingin juga mendapatkannya. Atau ia terus menerus dibandingan dengan orang lain..entah dari sisi fisik, kemampuan, status dsbnya.

Saat ia berlaku baik tak dihargai..ia pun mencoba berlaku jahat. Kalau dengan itu ia menarik perhatian plus menjadi percaya diri, ia belajar..dengan cara demikian ia akan diperhatikan plus diperhitungkan. Jadi ia pun memilih untuk melakukan tindakan tersebut.

* pelaku adalah bagian dari golongan mayoritas atau grup yang populer.
Biasanya hal ini terjadi saat pelaku sudah aware terhadap kelompok sosial yang berpengaruh. Hal ini bisa dimulai saat mereka remaja. Saat perasan belum stabil, masuk dalam kelompok yang populer di lingkungan pergaulan menjadi sebuah kebanggaan. Dan karenanya perilaku-perilaku ‘show off’ sebagai bagian dari kelompok tersebut menjadi penting.

Tak hanya populer…hal ini juga bisa berkembang saat kelompok tersebut punya unsur mayoritas. Beragama tertentu, dari status sosial tertentu, dari kesukuan/kebangsaan tertentu, punya kemungkinan menjadi pendorong perilaku bullying kepada pihak yang dianggap minoritas.

Hmmm…
Membaca ulasan saya sendiri di atas…saya jadi khawatir..jangan-jangan apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita..sikap perilaku sehari-hari yang kita tunjukkan pada orang di sekitar kita, telah menanam benih-benih pada diri seseorang untuk menjadi pelaku bullying?

Dan itu tak kita sadari sampai kemudian muncul tindakan bullying.

Sementara itu..bagi yang pernah jadi korban bullying; hal ini perlu diingat. Sebaik apapun sikap dan perilaku kita, yang benci kepada kita tetap saja ada. Terus menerus berurusan sama yang benci-benci aja…sungguh buang waktu dan energi yang tak berguna.

Kalau saya sih…lebih baik..teruslah melakukan hal yang positif
Bisa menjauh dari pelaku bullying..lakukan. Bisa asertif kepada pelaku..lebih baik lagi. Apalagi bisa menyadarkan pelaku bullying untuk tidak melanjutkan perbuatannya kepada orang lain..itu lebih mulia lagi.

Eh..masih ada lagi. Bisa mengendalikan diri untuk tak jadi pelaku bullying selanjutnya.  (Walau berat..mudah-mudahan yang terakhir ini bisa dilakukan)

***
Catatan bagi saya sendiri…..
setiap perilaku baik yang kita lakukan akan mengundang ‘jodoh’ yang baik dari semesta.
Walau kita kadang tak tahu kapan ‘jodoh’ baik itu datang…minimal kita terus dan tetap berusaha.

Tak diminta pun..semesta tak pernah lalai mencatat segala kebaikanmu.
Percaya deh…

image

Beberapa sumber yg saya ambil.