yukberbagi!


Saat Konten Jadi Candu, Empati pun Luruh Satu-Satu

2002, saat itu saya hamil muda anak pertama. Saluran tv belum sebanyak sekarang, tapi semua serentak menayangkan musibah Bom Bali. Tiga kali ledakan di tempat berbeda dan menewaskan ratusan orang, terbanyak warganegara Australia.

Alih-alih berkabung, hampir tiap saat gelimpangan mayat yang dijejerkan di ruang mayat RS Sanglah terekspos hampir setiap menyalakan tv. Maksud hati hendak mengetahui perkembangan terkini, malah saya terus bersedih dan tentu saja muntah tak henti-henti. Bercampur aduk rasa mual karena hamil muda dan gundah melihat tayangan jenazah.

Itu hampir sembilanbelas tahun lalu. Saat belum ada Facebook yang baru muncul tahun 2004 atau Twitter di tahun 2006 dan Instagram di tahun 2010. Apalagi aplikasi chat semacam WhatsApp dan teman-temannya. Hanya SMS dan telepon yang menghubungkan satu sama lain.

Dunia jurnalisme pun masih belum jelas kode etiknya dalam memburamkan kondisi korban di media. Empat tahun kemudian, tahun 2016 barulah disahkan Kode Etik Jurnalistik yang pada pasal 2 dikatakan, Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Di mana cara-cara yang profesional salah satunya di poin f adalah menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara.

Bayangkanlah sendiri bagaimana rasanya sebagai keluarga korban saat menyalakan tv, di saat masa berkabung atau harap-harap cemas. Saat itu saya sempat mengunjungi teman sekantor di rumah sakit. Dia selamat namun dengan luka bakar yang levelnya perlu penanganan lebih lanjut sampai ke Australia. Mendengar bagaimana kisahnya terinjak injak, panik di antara luka-luka dan benda terbakar sampai lolos dari maut, mendengar rintih kesakitannya karena rasa panas pada luka bakar di sebagian tubuh membuat saya merasa begitu sedih dan tak tahu harus berkata apa.

Karenanya, saya sungguh takjub dan geram dengan postingan yang sedang hits beberapa hari ini terkait musibah Sriwijaya Air. Meski saya menelusuri satu platform media sosial saja yaitu instagram, namun konten yang beredar sudah di luar akal sehat dan tentu empati sebagai manusia.

Caption [pesawat blabla hilang kontak, pasti pilotnya kang ghosting nih…] atau [bayangin aja tadi mereka teriak-teriak di pesawat dan kita lagi scrol di tiktok] direspon dengan berbagi cara. Direpost berkali-kali bak info berharga.

Belum lagi berbagai konten cocoklogi (istilah untuk mencocok-cocokan berbagai hal) mulai dari nomor kode penerbangan dengan tanggal kejadian, lalu jitunya ramalan seorang seleb peramal, serta adanya tulisan nama yang menyerupai lafal Allah di goresan moncong pesawat. Bertambah lagi banyaknya postingan jualan yang mencomot tagar nomor kode penerbangan sebagai aji mumpung, agar orang yang mencari tagar bersangkutan siapa tahu ada yang akhirnya ‘nyangkut’ menjadi konsumen.

Meski teman saya bilang, itu bot atau sudah biasa untuk membeli like atau tagar, saya jadi prihatin. Produk jualan ini mulai dari t-shirt, kue, online store, injeksi vitamin kecantikan, properti sampai bantal couple kekinian.

Hoaks jangan ditanya lagi. Tentang rekaman video pesawat sebelum jatuh yang kemudian dilansir kenyataannya sebagai rekaman salah satu film komersil produksi China. Lalu hoaks tentang rekaman dari black box sebelum terjadi crash yang kemudian diklaim hal tersebut sebenarnya dari insiden kecelakaan pesawat Adam Air. Bahkan ada akun hoaks yang mengatasnamakan salah satu penumpang, yang herannya langsung melejitkan follower puluhan ribu.

Video-video wawancara keluarga korban, bahkan ada yang saat pengambilan sampai mengganggu privasi dan kenyamanan narasumber. Akun blogger @iniami memuat kutipan sbb, “Udah, udah ya Pak. Mata saya aduuh..,” kata Pak Yaman Zai merasa tidak nyaman dengan flash dari kamera yang disorot ke wajahnya, saat Beliau tengah sibuk menelpon dan sedang menangis karena kehilangan istri serta tiga anaknya dalam kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182. Kata Fahmi Aviani pemilik akun, bahkan tak ada yang menepuk-nepuk bahu, menenangkan atau memberi minum, malah sibuk berkerumun bertanya-tanya demi update.

Ternyata bukan hanya saya saja atau Fahmi Aviani yang geram. Akun @mwv.mystic malah membuat postingan yang menyesalkan ketololan mengekspos kesedihan termasuk liputan wawancara terhadap keluarga korban tentang adakah firasat, atau pesan terakhir, termasuk status terakhir Instagram, WhatsApp, atau bahkan apa yang ingin dikatakan bila ternyata almarhum/ah masih hidup.

Salah satu sahabat saya, seorang diver yang tak mau dipublikasikan namanya menuturkan pengalaman saat diajak menjadi relawan rescuer, menyelam di laut dalam saat musibah kapal tenggelam.
Dia menjawab pertanyaan saya, apakah dirinya dan tim terlarut kesedihan ketika melakukan tindakan SAR tersebut.

“Saat rescue semua pembicaraan bersifat teknis, setelahnya baru muncul perasaan-perasaan. Waktu itu kami melihat jenasah ibu dan anak, pikiran yang muncul sangat teknis; bagaimana mengangkat dengan minim kerusakan baik di area ditemukan maupun pada korban.” Katanya lagi, tentu sampai sebuah prosedur SAR dilakukan, koordinasi dan kerjasama termasuk peran pengemudi kapal karet pun menjadi penting; sebagai pengantar ke lokasi titik pencarian.

Kenyataannya, yang hendak diketahui publik saat ada musibah sejatinya adalah bagaimana progress proses pencarian, bagaimana support system yang perlu untuk mendukung proses evakuasi termasuk dukungan psikologis untuk keluarga korban.

“Bila lalu ada foto atau rekaman video tersebar saat liputan bencana, yang sering kali menyebarkan justru warga atau relawan atau tim terkait di lokasi; meski kadang ada juga oknum jurnalis yg nyebarin. Kalau jurnalis, jelas akan kena kode etik, diberi sanksi bahkan mungkin dicopot keanggotaan jurnalistiknya.” ungkap Nur Hidayah, salah seorang jurnalis di tirto.id kepada saya.

Belajar dari Jepang, koresponden senior NHK Kenji Sugai pada pre summit workshop, Pertemuan Media Untuk Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana yang diadakan di Jakarta tahun 2014; pada saat bencana yang terjadi adalah liputan yang bertujuan mendukung operasi penyelamatan dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi berdasarkan kerusakan.

Dia mencontohkan, seperti saat gempa bumi 11 Maret 2011 yang disusul tsunami, saat terjadi getaran gempa semua saluran akan berubah pada penyiaran darurat dan menginformasikan langsung ke masyarakat. Tidak ada saluran yang lalu mengekspos kesedihan atau drama di antaranya. Sehingga semua pihak fokus untuk informasi akurat dan bagaimana penanganan setelahnya.

Saya jadi merenung. Berpikir keras mengapa akun-akun yang seenaknya mencari konten demi menaikkan follower ini sudah mati akal sehat dan empatinya? Lalu bagaimana dengan netizen yang lalu merepost, like dan membagikan ulang di platform media sosial lain?

Bisakah kita katakan, akan lebih menantang lagi untuk bicara toleransi dengan orang-orang ini? Karena di salah satu postingan, malah ada netizen mencuatkan komen, [semoga penumpang **********(beragama tertentu) diampuni dan mendapatkan pahala mati ******** (istilah meninggal dalam keadaan suci) ].
Komentar itu seolah membenarkan korban beragama lain tak perlulah dihargai sebagai sesama manusia.

Begitu juga dengan judul-judul yang menunjukkan unsur kedaerahan crew pesawat dan penumpang, sangat tak bisa dipahami apa maksud dan tujuannya. Bagi saya, siapapun dia, dari mana asalnya, apapun agamanya, adalah korban yang sudah berpulang lebih dulu karena musibah kecelakaan dan kita selayaknya berbelasungkawa sebagai sesama.

Jujur saja, dari sebuah insiden di awal tahun ini; kita jadi semakin sadar bahwa toleransi masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang belum kunjung selesai.

Definisi empati menurut kbbi : em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;

Referensi :
“KODE ETIK JURNALISTIK”, https://tirto.id/8Nb.

https://aji.or.id/read/kode-etik.html
https://m.antaranews.com/berita/437977/belajar-peliputan-bencana-dari-media-jepang



Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”
Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”
Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.
Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi.

Seringkah kita menemui obrolan anak-anak dengan muatan semacam itu sehari-hari? Mengandung stereotip dalam memandang orang lain. Bila menjawab sering, lalu apakah stereotip itu?

Menurut kbbi, ste·re·o·tip /stéréotip/ 2 n merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Jadi secara sederhana, stereotip lebih mengarah pada prasangka dan patut diragukan kebenarannya.

Lalu apakah kasus di bawah ini termasuk di antaranya? Seorang ibu bercerita, sebuah insiden di sebuah tempat ibadah. Ada beberapa anak yang berteriak mengejek saat melihat anak dari salah satu pulau di timur Indonesia. “ih ireng banget koyo tai… njijiki… hih tai kok neng grejo.”
(ih hitam banget kayak kotoran/tai, menjijikkan, hih tai kok ada di gereja)
Ibu ini begitu geramnya, namun tak berkuasa apa.

Berprasangka kepada yang berbeda dengan kita, biasa diawali dengan melakukan body shaming, seperti, ujaran “Moko kulitnya item banget, kalo mati lampu ga bakal kelihatan.” Atau “Sucen matanya sipit, kalo ketawa cuma satu garis aja.”; mungkin biasa terjadi sehari-hari. Pertama mungkin dari ciri fisik seseorang, lama kelamaan berkembang menjadi prasangka subjektif tentang karakter khas sebuah suku, ras atau bangsa tertentu.

Awalnya hanya bercanda, selanjutnya sengaja menyindir, dan kalau dilakukan berkali-kali, sama saja dengan mengolok-olok yang cenderung menghina. Contoh ucapan yang ditujukan pada seorang yang sejak kecil pintar berwirausaha. “Ahhh, pasti dia Cina atau Padang. Apa-apa dijadiin duit. Apa-apa didagangin.” Atau ucapan. “Males deh temenan sama dia. Lambat banget ngapa-apainnya. Psst… orang Jawa sih.” Atau, “Jangan temenan ah sama dia. Kan orang Timor, bawaannya marah mulu.”

Hal apa yang sebenarnya mendorong seorang anak melakukan tindakan stereotip? Dan apakah benar sikap orang tua atau bahkan pola orang tua asuh ternyata menyuburkan tindakan tersebut?

Asmiati Malik dari Universitas Bakrie dan Andi Muthia Sari Handayani dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu mengungkapkan stereotip terbentuk dalam proses pembentukan karakter dari individu sejak kecil dan kemudian melekat secara alamiah di bawah otak tidak sadarnya.

Pendapat yang lebih detail diungkapkan Erin N. Winkler, professor dan Kepala Departemen Afrology di Universitas of Wisconsin-Milwaukee. Beliau mempelajari bagaimana anak-anak membentuk gagasan mereka tentang ras selama tahap awal perkembangan.

Ketika anak-anak mulai mencari tahu dan belajar membedakan bentuk dan warna, mereka juga mulai mengamati perbedaan yang terlihat di antara orang-orang dan membedakan identitas mereka sendiri, termasuk konsep rasial.

Winkler juga mengulas bagaimana bayi berusia 3 sampai 6 bulan dapat secara non-verbal mengkategorikan orang menurut karakteristik ras, lalu anak-anak berusia 2 tahun dan seterusnya dapat menggunakan kategori ini untuk “bernalar” tentang perilaku orang.

Secara perkembangan, normal bagi anak prasekolah untuk memperhatikan dan bertanya tentang perbedaan warna kulit dan ciri-ciri lainnya, terutama karena anak usia 3 sampai 5 tahun sering belajar mengkategorikan segala macam hal. Besar kecil, tinggi pendek, hitam putih, cantik jelek, dan seterusnya.

Anak-anak bahkan dihadapkan pada stereotip rasial secara terbuka, melalui buku, majalah, televisi dan pengalaman mereka di lingkungan. Bagi anak-anak di usia ini, apa yang terjadi dan ada di sekitarnya mengundang rasa ingin tahu.

Jadi ketika mereka memperhatikan sebuah sikap atau perilaku sebagai pola, lalu mereka tidak mendapatkan penjelasan mengapa pola-pola ini ada, mereka menyimpulkan bahwa memang begitulah seharusnya bersikap.

Inilah sebabnya sikap orang dewasa yang tak mau terbuka mendiskusikan tentang ras bisa dianggap mendorong anak untuk memiliki prasangka kepada temannya atau orang lain.

Lalu, apakah mudah mendiskusikan hal ini dengan anak-anak dan sebaiknya di usia berapa kita membicarakan hal ini. Beberapa orang tua khawatir tentang mengenalkan masalah seperti diskriminasi pada usia dini. Yang lain enggan membicarakan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya mereka pahami atau tidak nyaman untuk dibahas. Namun bagi mereka di keluarga yang pernah mengalami perlakuan pembedaan berdasarkan stereotip, tentu tidak memiliki pilihan seperti itu.

Pembicaraan tentang stereotip, rasisme dan diskriminasi mungkin terlihat berbeda untuk setiap keluarga. Meskipun tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua, panduannya sebenarnya sama. Semakin dini orang tua memulai percakapan dengan anak-anak mereka, semakin baik.

Menurut Unicef, usia anak yang cukup baik untuk diajak berdiskusi tentang hal ini, ternyata usia balita. Pada usia ini, anak-anak mungkin mulai memperhatikan dan menunjukkan perbedaan pada orang yang mereka lihat di sekitar mereka. Seperti pada contoh yang dialami Dydy saat TK di awal cerita.

Lalu apa saja langkah-langkah kita sebagai orang tua mengajarkan hal ini? Apalagi sudah dipastikan bahwa orang tua lah yang meletakkan dasar dari bagaimana anak-anak bersikap kepada orang yang ‘berbeda’.

Unicef sempat menyusun panduan seperti selalu mengajak anak mengenali dan mensyukuri perbedaan dengan sering mengajak anak play date dengan teman dari berbagai keluarga, selalu terbuka terhadap pertanyaan dan keraguan anak-anak saat menghadapi orang yang berbeda, selalu berusaha memfasilitasi dengan bersama-sama membaca buku anak-anak maupun menonton bersama serial Upin Ipin atau sejumlah film Disney seperti Mulan, Brave, Frozen, Wreck it Ralph, Monster’s Inc., dan Shrek yang banyak memberi contoh tentang stereotip dan keberagaman.

Dan termasuk mengajak anak ke pekan budaya atau festival seni untuk mengenalkan betapa berwarnanya lingkungan sekitar kita.

Namun, kuncinya kembali lagi ke orang tua, yang sejatinya adalah ‘pintu’ anak mengenal apa-apa di dunia. Ingatlah untuk mempraktikkan selalu apa yang kita katakan.
Kita mungkin mengajari anak-anak tentang tak boleh membeda-bedakan teman termasuk bersikap toleran. Namun jika mereka mendengar kita berbicara negatif tentang orang yang berbeda, jangan kaget jika mereka akan meniru kita.

Anak-anak akan sering mempraktikkan apa yang mereka lihat dan dengar sebagai kebalikan dari apa yang diajarkan. Inilah sebabnya mengapa anak-anak lebih cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat ketika mereka melihat kita mempraktikkan toleransi dan menerima orang lain apa adanya.

Ini PR besar saya juga untuk Dydy untuk tidak bersikap stereotip dan diskriminatif, termasuk mulai mengajarkannya untuk bersikap asertif saat ada teman yang membeda-bedakan dirinya.

Tak mudah, perlu proses, perlu keteladanan dari kami orang tuanya; tapi bukan berarti tak bisa kan?


Referensi : https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/explainer-ilmu-psikologi-menjelaskan-bagaimana-rasisme-terbentuk-dan-bertahan-di-masyarakat-140071
https://www.wiscontext.org/how-kids-learn-about-race-stereotypes-and-prejudice
https://www.unicef.org/parenting/talking-to-your-kids-about-racism
http://www.aldenhabacon.com/13-tips-how-to-talk-to-children-about-diversity



Fun Flash Fiction 2020 – Nulis Aja Dulu

NAD_FFF20_Lanjutan

Hari_11

Tema_BunuhSajaAku!

Judul : ‘Membunuh’ Ibu
Jumlah kata : jelas lebih dari 100

[Apa….Negatif lagi…kurang apa coba treatment yang kau jalani??]
Suara Ibu yang pertama terdengar saat speaker handphone kunyalakan.
Aku terdiam.
Kebiasaan Ibu, hanya memahami hasil bukan proses. Tak tahu ia..betapa lelahnya aku menjalani segala terapi, demi mendapatkan buah hati.
[Nanti kau bisa diceraikan, Tya. Keluarga Hasto itu berharap keturunan untuk putra sulung mereka. Malu Ibu, punya anak kok mandul!!!]
Hasto menggelengkan kepala sambil berucap, tanpa suara. “Tidak akan!” Lalu ia memelukku yang sudah banjir air mata, penuh kasih sayang.
Speaker itu lalu menyuarakan Ibu, tanpa ada yang mendengarkan.

Itu setahun lalu. Setiap bulan setelahnya, ceramah Ibu tentang urgensi memiliki buah hati terus membombardir hari-hariku. Menyilet, menusuk, menohok semua kewarasanku sebagai anaknya.
Hasto paham betul kondisiku dan mengajukan sebuah rencana ‘gila’ yang melebihi keinginanku menghilangkan nyawa Ibu.
Katanya meyakinkan, “Ibumu memang toxic person, Tya. Tapi membunuh orang tua membuatmu berdosa berkali-kali lipat.”

Sampai akhirnya hari ini. Koper kami telah siap, untuk migrasi ke luar negeri. Bila tak mungkin Ibu yang kami buat pergi, aku dan Hasto yang memilih pergi.

======
Di pintu keberangkatan bandara, usai berpamitan.
Sepucuk surat bertuliskan tes DNA kuacungkan di hadapannya. Di sampingku, Hasto memeluk bahuku…erat.
“Ini buktinya Pak. Bukan hasil Hasto, anakmu; yang azoospermia kronis! Tapi kami akan merawatnya, sebagai anak kami sendiri. Baik-baik di Indonesia ya, Pak.”
Beliau melirik bayi di gendonganku, dengan mata berkaca-kaca.

Aku dan Hasto yakin, bila Ibu tahu hal ini;
Beliau akan teramat menyesal. Dulu tidak berhasil mengakhiri hidupku, dengan jamu penggugur kandungan; jauh sebelum lahir di dunia.

NAD_FFF20_H10

Tema_PenggerakKebaikan

Judul : Kemeja hitam putih
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Sejak pagi, aku dan Vivi bersemangat menyortir tumpukan baju para donatur.
Bangga kami, sebagai remaja bisa ikut berbuat kebaikan kayak gini.
“Itu ada dariku juga!” Aku menunjuk dus bekas air mineral. Vivi melirik sekilas.

Waktu berlalu.
Tibalah acara penyerahan bantuan untuk korban banjir bandang yang digalang sekolah kami.
Bu Wardah sebagai pembina OSIS telah mengingatkan dress code hitam putih untuk panitia.

Jelang acara berlangsung, Vivi belum muncul juga. Padahal ia pemegang kunci gudang.
Bu Wardah gelisah, menatapku bergantian dengan pintu masuk.

Menit-menit sebelum penyerahan simbolis, tampak Vivi membawa satu dus berpita.
Kemejanya hitam putih, yang sebelumnya ada dalam kardus donasiku.

NAD_FFF20_H9

Tema_CantikmuSiapHadapiDunia

Judul : Kecantikan Juliet
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Sejak kenal dulu, Juliet cantik dan pintar merawat tubuh.
Ia selalu fresh, glowing; dengan pakaian chic dan smart di tiap acara.

Bagaimana ia menata isi koper untuk bepergian ya?
“Eh..kok kepalamu pake kresek kayak mau ke pasar. Tunggu ada payung dong!”
“Cuma bawa jaket satu? Kayak aku nih.. tiap foto beda.”
“Ya ampun kulit dan bibirmu kelupasan…Sini pake skincareku!”
Aku membisu. Aku tahu, sebenarnya ia perhatian.

Tapi apa aku ingin secantik Juliet?
Kami seusia. Jabatan pun setara di NGO ini.
Cuma aku kalah cantik.
Hanya saja.. aku ditunggu suami dan anak-anak di rumah; sementara ia baru diperkarakan anak suami ketiganya.

NAD_FFF20_H8

Tema_Kebohongan

Judul : Tiga bulan
Jumlah kata : 99 (isi saja)

Wajah Bapak pucat.
Dilihatnya lagi lembaran kartu keluarga di genggaman. Maria Antionette, lahir 28 Mei 2003. Harusnya, aku — Maria lahir 28 Februari. Namun data itu dimanipulasi, demi restu pernikahan Bapak dan Ibu.

Jadi, aku sudah di perut Ibu 3 bulan saat Bapak bilang ke Eyang Tirto mau bertanggung jawab. Makanya, dengan selipan uang di bawah map, tanggal lahirku diubah di kelurahan.

Dan sekarang,
“Hanya yang sudah 17 tahun sebelum HUT perusahaan — 1 Maret, yang dapat tunjangan. Mensyukuri panjang umur perusahaan dan keinginan menunjang pendidikan lanjutan anak pegawai. Lumayan lho… 1,7 juta tunjangannya!!”

Bapak menatapku… yang duduk di sebelahnya, penuh penyesalan.

NAD_FFF20_H7 (yeayyy..masuk 10 besar hari ke 7 yg ini)

Tema_Putus

Judul : Kisah putus
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bak selebriti di sekolah, dari aktivis OSIS sampai yang pemalu tahu bila Pak Beno dan Bu Niki sedang bermasalah. Ramah ke siswa berarti baik-baik saja. Tapi kalau ketus, pasti bertengkar di rumah.

Gosipnya, Bu Niki tak tahan kelakuan genit Pak Beno. Berulang kali pergelangan tangannya dibalut, uji coba bunuh diri.
“Kok ga minum obat tidur aja…lebih ga sakit!!!”
“Ah..gantung diri aja, biar gentayangan!”
“Pssstttt….dosa ah…ngomongin niat mati gitu.”
Kelas menjadi ramai.

Aku…seperti biasa diam saja.
Mereka tak tahu, mobil kedua orang yang mereka bicarakan itu kuputus tali remnya tadi pagi.
Muak aku!!! Keduanya sukses memaksaku aborsi, bayiku dengan Pak Beno.

NAD_FFF20_H6

Tema_Mentok

Judul : Video terakhir
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Suara Pak Bardi menggelegar.
“Ayo jawab!!!! Apa lagi yang kau share, selain video perundungan itu?”
“Udah ga ada, Pak! Suwerrrr…”
“Bohong kamu! Kalau ga ada, kenapa semua heboh?”

Aku terus menggeleng.
Gigi Pak Bardi bergemeretuk, menahan marah untuk tidak memukul; yang beresiko dilaporkan ke KPAI.

Pak Bardi membujukku. “Coba cek lagi, Loka. Kalau jujur, diskors 3 hari. Kalau ga, kamu dirumahkan 1 semester.”

Aku jengkel. Toh anak lain berlaku sama, tapi mereka tidak diproses.
Sambil klak klik, kutoleh Pak Bardi.
“Itu yang terakhir, Pak.”
Dia segera melihat gawainya. Mukanya pucat pasi melihat rekaman dirinya bernafsu memeluk cium Dyah, ketua kelasku.

NAD_FFF20_H5

Tema_Mancakrida

Judul : Ada yang ngikut
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bapak dan Ibu tak pernah membolehkan kami anak-anaknya mancakrida. Alasannya bukan soal kesehatan, keamanan atau apa.
Sebagai kesayangan Bapak, aku merayunya.
“Pak, nanti dendanya bersih-bersih sekolah selama seminggu nih.”
Bapak tersenyum sinis, “Oh..itu lebih berguna!”
“Tapi kan awal masuk sudah bayar. Sayang uangnya!”
“Bapak ga peduli. Uang segitu ga masalah!”
Aku makin kesal.
“Emang mancakrida seburuk apa?”
Bapak menghela nafas, suara Ibu tiba-tiba menyeruak.
“Itu karena Bapak takut. Dulu…tiap kali mancakrida sama kantor, selalu ada yang ‘ngikut’ pulang lalu Bapak sakit.”
“Eh..siapa? Selingkuhan Bapak?”
“Pssst…ini tak kasat mata! Katanya…keluarga kita disukai ‘mereka’ di hutan dan gunung sana!!”
Aku bergidik. Ngeri.

NAD_FFF20_H4

Tema_Sosis

Judul : Sosis bakar
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Pasar malam dibuka lagi, setelah insiden kebakaran tahun lalu.
Seperti pengunjung lain, euforia menikmati keseruan bercampur cemas kalau-kalau bertemu sosok gentayangan korban insiden.

Hari makin larut, kakiku dan Anto teramat penat. Tapi rasa lapar tak tertahan.
“Na, nyari jajanan yuk? Laper nih!” Aku mengiyakan.
Segera kami ke area makanan.
“Bu, sosis bakarnya dua.” Ucapanku terhenti dengan colekan Anto dan arah kepalanya ke pengemis anak, entah dari mana. Baju lengan panjang dan rambutnya abu gelam kehitaman.
“Oh…jadi tiga, Bu.”
Si anak kini mencolekku. Dia menggeleng dan menggulung lengan panjangnya. Tampak luka bakar merah dan meleleh; seperti sosis yang dibakar si ibu.

NAD_FFF20_H3

Tema_Serdawa

Judul : Bapak pulang
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bapak positif. Berkali-kali mengirim pesan, ingin pulang dan dirawat di rumah. Sampai di gawaiku pesan berlipat ganda. Tentu dari Ibu.
[Pulang dik, Bapak ingin kamu di rumah saat Beliau pulang]

Sayang, pesawatku baru ada kemarin.
Bersamaan selesainya pemakaman Bapak.

Kini rumah kosong. Seluruh keluarga sibuk mengurus ini itu. Aku dibiarkan beristirahat. Hatiku kacau, mataku sembab, tapi kantuk efek jetlag tak tertahan lagi.

Kursi makan berderit, keran wastafel mengalir. Aku seperti daydreaming. Siapa yang pulang?
Lalu, ada denting sendok piring di meja makan. Apa ini? Aku terlalu cemas membuka mata.
Tiba-tiba, eeegghhh…enaknya!
Tuhan…itu serdawa Bapak!
Ia memberitahu, sudah pulang ke rumah.

NAD_FFF20_H2

Tema_Botol

Judul : Tujuh botol
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Dretttt…
Telepon genggamku berbunyi lagi.
[Ya..baru landing. Udah di Uber]
Setengah jam kemudian, gedung bertuliskan Rumah Duka Cahya Abadi di hadapan.

Hawa panas menyambut, bersama Mela dengan mata sembabnya.
“Ayo Koh, tinggal kamu. Semua menunggu.”

Langkahku terhenti depan peti. Mama menatapku dengan ekspresi tak terbaca.
Mela menyodorkan botol 4711 untuk dipercikkan dalam peti. Aku menggelengkan kepala dan mengangkat sekresek plastik.
Kupercikkan satu persatu 4711 yang kubawa.

“Gou le..gou le. Bu yung zai dao le*…hik..hik.”
Suara mama menghentikanku.
Tepat di botol ketujuh; sama seperti jumlah botol arak yang dihantamkan almarhum Papa ke kepala dan badanku, saat kutampar usai memaki Mama ‘Lonte’.

=====
terjemahan dari ibu saya.
*Cukup…cukup. Tak perlu dituang lagi

NAD_FFF20_H1

Tema_Pantai

Judul : Bapak, kondom dan aku
Jumlah kata : 98 (hanya isi)

“Anak-anak, coba jelaskan apa saja yang kita bisa temukan di pantai?”
“Pasir, Bu.”
“Ombak.”
“Air laut.”
“Kerang.”
“Renang, Bu.”
“Bikini.”
Semua anak tergelak.
Kelas menjadi riuh. Bu Guru mengetuk penggaris untuk mendiamkan.
Hanya aku yang belum memberi jawaban.
“Tita, kok diam saja?” tanya Bu Guru.
Semua anak menatapku.

“Bapak dan kondom, Bu.”
Beberapa anak spontan tergelak lalu senyap.
“Maksudmu apa?” Bu Guru berusaha biasa saja.

Aku menatap papan tulis. Suaraku lantang saat berucap, “Ibu ketemu Bapak yang lagi surfing di pantai, tempat jualan lumpia. Lalu mereka peluk cium gitu, tapi kondom yang dipakai Bapak bocor, dan jadilah aku.”



Tentang Arsa, Autistikku Yang ‘Cemerlang’ – neswa.id

https://neswa.id/artikel/tentang-arsa-autistikku-yang-cemerlang/



1001 Alasan Markonah bersiar kabar

WhatsApp grup kampung kami tiba-tiba riuh tak henti-henti. Sejak Markonah, yang dikenal terdepan mengunggah berita; mengeposkan tadi pagi.

[Berita duka cita : Innalillahi wainna ilaihi rajiun..Bapak Mrono meninggal semalam. Ga boleh dibawa pulang, langsung dikubur. Katanya covid.]

Beberapa ibu menanggapi dengan sedih dan menyatakan simpati. Beberapa ibu lain mempertanyakan kebenaran covid atau tidak? Beberapa lagi mengekspresikan ketakutan. Takut kalau sebelumnya Pak Mrono sudah menularkan ke orang lain.
Lalu mereka berdebat, ada yang menyarankan untuk menunggu visum rumah sakit tapi ada yang mendesak Markonah untuk membuktikan postingannya. Markonah tak bergeming.

Keesokan paginya, WhatsApp grup riuh lagi. Karena Markonah mengeposkan seperti ini.

[Saya, Markonah mohon maaf sebesar-besarnya pada keluarga dan kerabat alm Pak Mrono. Menurut rumah sakit, Pak Mrono meninggal karena serangan jantung akibat kelelahan kurang tidur bermalam-malam menunggui istrinya yang sakit. Alm langsung dimakamkan mengingat istrinya sedang sakit dan anak-anaknya tak bisa pulang karena lokdon di mana-mana. Abaikan postingan saya kemarin tentang pak Mrono positif covid]

Dan, semua anggota WhatsApp grup menjadi marah kepada Markonah. Berbagai umpatan dari halus sampai kasar tumpah semua. Mereka terlupa. Yang sepatutnya marah adalah Sepia, istri Pak Mrono bila satu hari nanti membaca percakapan tentang penyebab meninggalnya almarhum.

Sensasional atau mengejutkan sepertinya kunci agar pesan kita menarik lalu dibaca.
Dalam konferensi ‘Fakta Global 7’ edisi tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Jaringan Pemeriksa Fakta Internasional, Edwin Tallam, kandidat PhD, Universitas Moi menyebutkan bahwa “hubungan yang erat” menjadi penentu dipercayanya sebuah postingan di WhatsApp; meski postingan itu belum tentu benar. Setiap kali pesan datang dan penerima pesan mempercayai pengirimnya, pesan akan dianggap lebih dapat dipercaya.

Mengomentari studi Edwin tersebut Dimitra Dimitrakopoulou, asisten profesor tamu, Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengatakan bahwa cepatnya penyebaran berita pada postingan WhatsApp menunjukkan bahwa orang lebih percaya satu sama lain daripada mereka mempercayai media dan institusi sosial lainnya.

Lalu bagaimana dengan fenomena hoaks pada WhatsApp grup keluarga?
Sejak fitur WhatsApp grup diluncurkan oleh aplikasi tersebut tahun 2011, lalu mulai banyak digunakan di Indonesia pada tahun-tahun berikutnya, pilihan mengobrol beramai-ramai ini menjadi platform yang cukup diminati. Termasuk untuk menjalin komunikasi bila anggota keluarga banyak yang merantau dan berjauhan tempat tinggal.

Dari sekian banyak grup, mungkin WhatsApp Grup keluarga yang menjadi tricky dan menantang untuk anak-anak muda millenial. Terutama saat orang-orang yang lebih tua di grup menyampaikan pendapat atau membagikan berita yang provokatif. Sebut saja saat pilpres atau pilkada yang baru saja berlalu. Ketika para calon malah berkompetisi dalam diam karena tak boleh ada kampanye terbuka; perseteruan malah terjadi di WhatsApp grup keluarga meski para pendukung tak langsung saling mengenal calon yang maju.

Tak hanya isu politik. Isu kesehatan pun banyak dijadikan bahan hoaks yang menarik. Seperti ilustrasi di awal tulisan, covid-19 menjadi topik hits selama tahun 2020. Sampai Agustus saja, Kemkominfo menyatakan melalui laman resminya telah menjaring ratusan hoaks maupun disinformasi terkait covid-19 melalui AIS yang merupakan sensor pengais konten negatif di media sosial dan situs. Disinformasi yang dimaksud adalah sejak awal informasi tersebut sudah direkayasa sedemikian rupa dan tak mengandung kebenaran sama sekali.

Hoaks yang terjaring mesin AIS terkait informasi Covid-19 di era pandemik ini memunculkan istilah baru yang menurut Kemkominfo disebut sebagai disinfodemic. Diartikan sebagai kondisi di mana terjadi disinformasi tentang pandemik ini namun terus disebarluaskan; dimana WhatsApp grup keluarga sebagai penyumbang terbesar tersebarnya hal tersebut.

Tantangan yang lalu muncul menjadi dilematis. Orang-orang dalam WhatsApp grup keluarga biasanya adalah Ayah, Ibu, Om, Tante, Kakek, Nenek, Sepupu, Ipar, Keponakan di mana kita menjadi gamang dan segan bagaimana menegur mereka-mereka yang lebih tua; yang secara kodrat patut dihormati.

Tapi… tentu saya tidak akan memberi tips untuk menyerang balik para kerabat yang mungkin kerap dan tanpa sadar senang menyebar hoaks tersebut. Saya malah akan mengulas alasan mengapa seseorang seperti Markonah mengunggah sebuah disinformasi atau misinformasi.

Josh Stearns, pernah menulis sebuah artikel menarik di situs First Draft tahun 2016 tentang alasan-alasan di baliknya.

  1. Keinginan untuk membantu
    Saat tahu-tahunya menyaksikan atau mendengar insiden atau tragedi, banyak orang tergerak ingin membantu. Mereka ingin memberi tahu apa yang sedang terjadi, menyampaikan informasi penting terkait, serta berbagi foto dramatis. Tidak salah dan sebenarnya sungguh bermaksud baik. Sayangnya, bila yang tersebar adalah disinformasi maupun misinformasi, yang mungkin terjadi adalah menambah kekacauan informasi sebenarnya. Karena tergesa-gesa berbagi tanpa melakukan verifikasi keabsahan informasi bisa sangat merugikan daripada membantu. Di beberapa kasus, perilaku ini malah mendorong orang yang berkarakter buruk untuk mengeruk uang dengan melakukan penggalangan dana dari menjual rasa kasihan dan simpati.
  2. Keinginan memahami dunia
    Saya terkejut membaca alasan kedua ini. Sepertinya keren sekali keinginannya. Namun mulai sedikit paham ketika membaca penjelasan Craig Silverman dalam penelitian tentang penyebaran informasi yang salah, bahwa rumor, gosip, isu atau hoaks hanyalah cerita, dan cerita adalah mesin, seperti media atau alat; yang melaluinya kita jadi seolah memahami dunia.
    Kata Craig lagi, seringkali orang-orang dengan cepat berbagi rumor selama berita terbaru karena rumor tersebut memberi mereka sesuatu untuk dijadikan pegangan, mengkonfirmasi beberapa cerita dalam pikiran mereka, atau beresonansi dengan pandangan mereka tentang dunia.
    Mengapa berita terbaru asik untuk dijadikan rumor, isu atau hoaks? Karena dalam berita terbaru lebih banyak hal-hal yang menjadi misteri, banyak hal tidak diketahui daripada diketahui.
  3. Keinginan untuk merasa menjadi bagian dari pengalaman bersama.
    Mungkin ini yang terjadi pada kasus Markonah. Craig mengungkapkan, dalam menghadapi ketidakpastian, kesedihan, dan ketakutan saat adanya insiden, krisis dan bencana, tidak mengherankan jika orang mencari koneksi. Mencari keterkaitan satu hal dengan yang lain.
    Kini yang tercepat adalah secara online. Diilustrasikan Craig; orang-orang pun tak sadar berkumpul dalam kerumunan digital di sekitar tagar dan streaming langsung sebuah kejadian.
    Mereka seperti tertarik untuk menjadi bagian dari momen bersama ini, untuk melihat rasa sakit mereka sebagai efek insiden, krisis atau bencana tersebut. Dan kemudian merefleksikan kembali dengan mereka menyebarkan berita tersebut.
    Pada saat-saat seperti itu, berbagi berita bisa terasa seperti tindakan empati. Walau berita, foto, videonya sudah disinformasi. Pada kasus Markonah, memang bukan disinformasi. Karena info tentang pak Mrono meninggal benar adanya, namun penyebabnya yang keliru. Hal ini lebih dikenal sebagai misinformasi. Berita memiliki unsur kebenarannya tapi lalu dirombak. Nah ketika misinformasi menyebar, informasi itu dibagikan Markonah lebih untuk menguatkan seberapa urgen pesan yang dikirim dan bagaimana hubungan baik yang (seolah) dibangun Markonah dengan keluarga alm pak Mrono yang telah dibuatnya. Dalam hal ini, bagi Markonah sebagai orang yang berbagi berita, berita itu tidak perlu benar, tapi hanya perlu merasa “benar”. Kasus Markonah ini akan lebih jelas saat kita melihat alasan selanjutnya.
  4. Emotional network versus Information network
    Dalam penelitiannya, Craig mewawancarai Kenyatta Cheese terkait cuitannya di twitter usai serangan Paris November 2015. Cheese menuturkan mengapa banyak sekali kekeliruan informasi saat itu. “Mungkin yang ingin dibagikan orang bukanlah informasi tetapi pemicu emosionalnya. Dalam konteks sosial ini yang terjadi bukan lagi jaringan informasi tetapi jaringan emosional.”
    Seperti pada kasus Markonah.
    Ketika berita duka yang dibuat Markonah beredar di WhatsApp grup, jaringan yang menghubungkan seluruh anggota grup menjadi percampuran antara informasi dan juga emosi.
    Dan emosi itu justru malah mendorong berbagi dengan cara yang makin mempersulit pencarian kebenaran, di saat adanya insiden, tragedi, krisis atau bencana; karena akal sehat seolah terlupakan.
    Craig mengungkapkan Cheese menulis lebih lanjut di blognya, “Ketika orang membagikan informasi yang salah, mereka lebih tertarik pada emosi yang akan ditimbulkan oleh informasi tersebut.”
    Menjadi tantangan kemudian, ketika orang-orang hanya benar-benar tergantung pada berita di media sosial mengingat dalam situasi krisis, kedukaan atau bencana di mana kecepatan penyampaian informasi akurat diperlukan segera; apa yang dibagi (melibatkan emosi) dan apa fakta yang ingin diketahui menjadi bisa berlawanan dan malah menjadi sangat berbahaya.
    Bayangkanlah kasus Markonah. Bila ibu-ibu segrup sebenarnya ingin tahu fakta penyebab meninggalnya pak Mrono, namun sudah ketakutan terlebih dulu bahwa salah satu dari mereka mungkin tertular; atau lebih ekstrem lagi malah menjauhi bu Sepia yang diasumsikan juga sudah tertular; tapi misinformasi tersebut terus tersebar luas, tentu akan terjadi kekacauan dan syak wasangka satu sama lain.Dan semua kekacauan itu bermula dari satu postingan saja.

Apakah kita akan menggunakan 1001 alasan Markonah untuk terdepan bersiar kabar? Atau kita tipe saring sebelum sharing? Atau kita malah penikmat kekacauan atau oportunis pengeruk duit akibat disinformasi atau misinformasi?
Yuk gunakan jari dengan bijak.

Jadilah orang yang asik tanpa asal nge-klik.

Referensi :
https://www.google.com/amp/s/www.thequint.com/amp/story/news/webqoof/why-do-people-believe-in-fake-news-even-after-reading-fact-checks

https://www.google.com/amp/s/beritadiy.pikiran-rakyat.com/nasional/amp/pr-70649408/hoax-menyebar-di-grup-wa-keluarga-kenali-disinfodemic-dan-cara-penanganannya

Why do people share rumours and misinformation in breaking news?