yukberbagi!


NANI yang mengabdi
21/01/2019, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

Keberanian memilih mempertahankan tradisi yang diwarisinya, daripada keluarga yang beralih ke aliran kepercayaan baru yang menentang apa kecintaannya selama ini.

Mungkin yang membuatnya tegar (di sela derai air matanya) adalah rangkaian ritual belasan puasa yang telah dimulai sejak usia 8 tahun.

Tak pernah memilih panggung, tapi takkan bisa dipaksa berdangdut erotis demi menambal genteng sanggarnya yang bocor.

Selalu menawarkan diri untuk bisa tampil menari di setiap acara, karena baginya…

Menari adalah nyawa. Tak menari adalah tiada.

View this post on Instagram

@30haribercerita 3-4 jam ME time saya hari ini sungguh bermakna. Bertemu, belajar beberapa gerakan tari dan mendengar sejarah, kisah manis pahit bagaimana @nani_topenglosari , turunan ke 7 trah langsung penari Topeng Losari -Cirebon melestarikan warisan itu. Hentakan tangan, gerak kaki dengan energi besar tapi indah maupun tolehan kepala yang sungguh memukau mata. °°°° "Menari itu berdoa" Untuk Tuhan, tubuh dan bumi. Karenanya saat menari, penari topeng Losari tidak merias diri. (Bukan sengaja seperti tren no make up make up style kekinian yaa) °°°° "Menarilah dengan hati" Karenanya saat menari, penari topeng Losari biasa menutup matanya. Seperti topeng usia 400an tahun yang ditunjukkannya, tanpa lubang mata. Kini, bertopeng atau tidak, penari topeng Losari biasa menutup mata atau tidak menatap ke arah penonton. (Tak masalah gebetan, calon mertua atau debt collector kartu kredit duduk di baris terdepan) □□□ Menarilah terus mbak Nani. Menyesap energi dan semangatmu; sungguh menghangatkan hati.. Meski untuk melestarikan sebuah kekayaan budaya Nusantara, banyak hal yang telah kau korbankan. Semesta tak pernah tidur dan lepas memperhatikan usahamu. #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1916

A post shared by Ivy Sudjana (@ivy_sudjana) on

Advertisements


Menerima dan toleransi
13/01/2019, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

View this post on Instagram

Regram dari @ivy_sudjana – @30haribercerita Sejak sulung saya terlahir dengan spektrum autistik, tiba-tiba saya diam-diam diasah indra yang lain. Namanya acceptance. °° Bagaimana kemudian saya belajar tentang indra ini, sungguh memperkaya hati saya. Karena indra saya ternyata tak semua orang memiliki. Tak semua orang tua bisa menerima bagaimana keadaan anaknya saat lahir. Kecewa, sedih melihat kecacatan atau ke'taknormalan' anak wajar saat awal. Namun bila terus berlanjut, kamu harus minta sama Tuhanmu indra penerimaan. °° Bagaimana ketika si sulung bertumbuh dalam lingkungan yang berbeda, tak semua memperlakukannya baik-baik saja. Tak semua orang memandang anak autis dengan tatapan wajar dan empati, tak bisa dan tak kuasa juga menutup mulut orang untuk tak mengolok-olok. Marah dan emosi melihat sikap diskriminatif tak akan serta merta membuat anak berubah. Menuntut orang lain untuk menghargai, bagai pisau bermata dua. °° Apakah saya, kamu dan kita juga dianugerahi semesta indra toleransi? Bisa memahami bahwa tak semua bisa sempurna seperti yang diinginkan. Bisa melihat bahwa tak selalu segala sesuatu berjalan dengan baik. Bisa tak menuntut bahwa kondisi, status, pilihan hidup orang lain; tak selalu sama dengan diri sendiri. Tak mudah memang. Saya pun masih berupaya mengasah. Yang menjadi pengingat selalu, bila saya tak menerima dan bertoleransi; bagaimana mungkin saya menuntut orang lain mau berlaku sama kepada sulung saya. Yang autistik dan jelas berbeda. #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1913 Pic credit : www.healthyplace.com

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on



YOUR ONLY LIMIT IS YOU ~ Di balik layar : Inspirasi Tanpa Batas 1.0 – 25 Nov 18
30/11/2018, 4:12 pm11
Filed under: Uncategorized

Sebuah status saya di facebook

Q : mbak Ivy anaknya difabel?
A : ya…difabel yg invisible. Maksudnya tak kentara secara fisik.
Q : tapi sepertinya anak mbak punya talenta tertentu ya
A : ya..saya bersyukur karena Arsa bisa ditemukan talentanya, bisa kami fasilitasi dan anaknya sendiri mau belajar
Q : berarti udah sukses dong Arsa ya..saya denger karyanya sampai ke luar negeri
A : wah.. relatif kalo dibilang sukses ya. Kami bersyukur talentanya bisa terus difasilitasi oleh banyak pihak. Ada tmn2 yang mau mendukung dan mengajarkan.
Q : nah lalu untuk acara besok..Apa Arsa tampil begitu?
A : besok Arsa akan hadir bersama karya2nya. Guru Arsa yg pertama kali mengenalkan mesin jahit juga akan sharing pembelajaran Arsa
Q : apa yang mbak Ivy belajar banyak sebagai orang tua Arsa yang autis
A : untuk tak kenal menyerah. Arsa tak kenal menyerah.. Arsa selalu menyelesaikan apa yg ia mulai.
Satu lagi.. Arsa dicintai banyak orang. Yg sayang dia banyak.
Jadi karenanya saya pun perlu lebih mencintai banyak orang.

#yourlimitisonlyyou

==============

Acara apa sih sampe buat saya menulis kisah di baliknya ini?

Jadi…..

Beberapa bulan lalu sebuah ide dicuatkan seorang teman difabel. Long short.. ia lahir dengan cerebral palsy di tengah keluarga yang tak sepenuh hati menerima.

(Pfiuuhhh emang kita bisa memilih lahir dengan kondisi bagaimana…) *netizen ngejitak, jgn curcol mbak.. hahaha

Ide acaranya mengeksplor karya-karya teman difabel. Agar mereka semakin dikenal dan lebih diapresiasi.

Saya..si emak sok sibuk ini menyambut…okeh..mari kita wujudkan. Gaya sih. Belum kebayang duitnya dari mana, acara kayak apaan.

Lalu…mulailah sesi ngobrol tentang acara. Pertama tak ada kendala tempat karena sang ketua merasa bisa pinjam sebuah pendopo di seberang rumah.

Awal-awal idealis. Acaranya dua hari..trus padat dari jam ke jam. Diskusi berlanjut. Karena panitia belum pro kayak EO , timing antar acara perlu ada jeda. Biar panitia ga lari pontang panting. Nekad terasa..padahal waktu itu awal-awal yang ngumpul ngobrolin ini kurang lebih 8-10 orang.

Waktu bergulir. Rencana berubah. Struktur panitia pun berubah. Tapi yang ga berubah sedari awal adalah teman-teman difabel yang akan mengisi acara. Sejak awal..mereka bak ‘bensin’ yang menyulut api semangat. Terutama saya sih. I don’t know. Maybe i have Arsa. Tahu banget rasanya berbeda di dunia reguler.

Unik banget ya. Biasanya inti acara dulu dipikirin baru siapa pengisinya..tapi ini kebalikannya. Pengisi acara ada, tapi bagaimana bentuknya belum terpikirkan. Tapi sekali lagi saya merasa banyak yang berharap banyak dengan acara ini.

Belum lagi rancangan budget yang pertama disusun adalah hil yang mustahal. Uang dari mana. Saya aja masih mengencangkan ikat pinggang untuk budgeting keluarga kami.

Pencarian donasi pun dimulai. Proposal disebar ke berbagai arah. Tapi mendapatkan kemurahan hati tak sebegitu mudahnya. Mungkin kini orang berhati-hati untuk tidak sembarang memberi dana karena maraknya oknum yang ‘memanfaatkan’ kaum disabilitas untuk mencari uang. Saya sendiri bersusah payah menjelaskan difabel itu apa, meski Indonesia baru saja menyelenggarakan Asian Para Games.

Singkat kata, waktu bergulir..tiba-tiba lokasi pertama dan kedua yang direncanakan tidak bisa digunakan. Satu persatu personil panitia, pun ‘berguguran’ menjadi 2 orang saja; karena kesibukan dan alasan personal masing-masing.

2 orang yang tertinggal saya dan Ervina, ketua panitia dan kakaknya Yovin (sebenarnya 3 dengan si pengagas, Yovin). Kami berusaha memahami bahwa masing-masing teman tersebut punya talenta masing-masing dan tak semua orang bisa duduk bersama layaknya SC – Steering Committee (konseptor) . Ada yang lebih cocok dan memilih untuk menjadi OC – Operational Committee (pelaksana). Dan karena ini volunteering, saya tak berhak memaksa teman-teman untuk terus concern.

Ngenes sih rasanya duduk bertiga aja di kamar Yovin yang notabene ikut berpikir, ikut komen termasuk marah-marah, walau dalam keadaan tengkurap (bonus 2 anak saya yang ngikut tiap rapat, tapi mereka happy karena bisa wifian dan ngemil) Plus jujur saya juga kecewa atas kondisi putus asa yang terjadi.

Tapi satu kali Yovin bilang. “Masih ada beberapa belas hari, apapun bisa terjadi.” Oh my..tiba-tiba saya merasa tertampar. Saya yang lebih sehat, lebih reguler, lebih ‘able’ kok ya hilang semangat gini.

Dan tak dinyana, saat saya buka twitter pas ada postingan pelari estafet jepang yang berdarah-darah menyeret kakinya yang patah untuk bisa mengoper tongkat estafet ke pelari selanjutnya. It was opening my eyes.. never give up.. never ever give up.

Akhirnya berdua Ervina saya mulai memikirkan berbagai alternatif. Meringkas acara, menyederhanakan event, sambil memangkas budget sana sini. Dua hari menjadi 1 hari. Acara pun dipilih yang inti-inti saja namun mewakili semua dan tentu paling kuat mengusung Inspirasi Tanpa Batas. Kami pun berbagi tugas.

Namun galau dan cemas kami untuk mampu wujudkan ini..masih saja ada. Tapi sekali lagi saya ingat untuk tak menyerah. Teman-teman saya baik melalui japri maupun grup, sambung menyambung memberi semangat.

Tahu-tahu ada yang menawarkan untuk ikut saja pada acara sebuah instansi dalam rangka hari Difabel Internasional. Namun ujung-ujungnya kita hanya sebagai tempelan saja dari acara tersebut plus…malah diminta urun dana. Pfiuhhh….kita saja masih megap-megap gini.

Ervina menelpon saya untuk tanya apa kita sendiri lanjut atau tidak. Spontan saya bilang “lanjut. Yang bisa hentikan kita hanya umur dan kondisi yg tak terduga / force mayeure. Chaos..Rusuh..bencana alam.” Ervina tampaknya kaget saya bilang gitu.

Tapi kekagetan itu dan mungkin keyakinan saya mengundang hal baik. Tiba-tiba saja donatur bermunculan. Dana…tempat..kaos panitia..termasuk orang-orang baru yang bersedia jadi panitia. Oma Ina dan Padma.

Itu awal November. Waktu yang cukup pendek untuk persiapkan acara besar. Mulailah kami mengkonfirmasi ulang pengisi acara.. melobby bantuan sana sini. Rapat berlangsung melalui whats app dan ngobrol bareng. Tapi kebanyakan kami keliling menghubungi ini itu.

Singkat kata.. jelang beberapa hari.. kami sudah dengan pressure tingkat tinggi. Yovin kena marah. Anak-anak dan suami saya pun berhadapan dengan galaknya saya (maaf dear). Kecemasan kami mungkin karena tempat yang dipakai punya deadline waktu pinjam. Hanya boleh dari pagi sampai jam 16.00 saja. Persiapan pun demikian. Khawatir acara akan molor, sedikit volunter yang bisa bantu, ga ada audience, beberapa persiapan teknis yang musti direminder berkali-kali, komplainan sana sini. Rasanya hari-hari itu tidur kami tak nyenyak.

Sampai tiba hari H.

Sedari pagi siap-siap berjalan baik. Banyak volunter yang tahu-tahunya datang membantu. Dan saat satu persatu pengisi acara hadir, hati kami terus menghangat. Cuaca cerah, audience datang silih berganti, masalah teknis bisa tertangani.

Satu persatu mata acara berjalan lancar. Tak ada pengisi acara yang terlambat dan mengganggu jadwal, walau briefing hanya lewat wa. Momen-momen kekaguman, terharu, merasa bersyukur banyak terekam. Tagar kami YOUR ONLY LIMIT IS YOU benar-benar menguar dari teman-teman difabel.

Saya sendiri merasakan banyak doa..dukungan dan cinta untuk kelancaran acara ini. Beberapa ketidaksiapan kami bisa tertangani dengan baik. Jumlah konsumsi yang pas, malah banyak sumbangan kudapan yang bisa dibagi untuk dibawa pulang.

Setiap mata acara yang tersaji sungguh membuka mata dan menginspirasi yang hadir. Mereka bahkan meminta agar acara ini ada kelanjutannya.

Dan ternyata belum jam 16.00, kami panitia sudah meninggalkan tempat kegiatan dalam keadaan bersih dan kembali ke settingan mereka semula. Tak ada yang bisa melukiskan perasaan saat itu. Walau saya sendiri ‘terkapar’ sesampainya di rumah.

Dan yang paling membuat kami panitia terpukau dengan kekuatan cinta dan dukungan banyak orang ini adalah saat menghitung budget. Semua tercukupi dengan baik bahkan kami kini punya modal sedikit untuk event selanjutnya.

Ah.. Tuhan apapun sebutannya…semesta raya sungguh mencintai kami dan teman-teman difabel. Benar adanya..saat kau berniat dengan hati dan tujuan baik, hal-hal baik akan terundang dengan sendirinya tanpa kau minta.

Saya, Ervina, Yovin, Oma Ina, Padma banyak belajar dari event ini dan punya mimpi-mimpi lain sebagai kelanjutannya.

YOUR ONLY LIMIT IS YOU.

Tak ada yang bisa menghentikan cinta, niat baik, kerja keras dan impianmu.. selain dirimu sendiri.

Terima kasih..terima kasih luberan cinta teman-teman yang telah mendukung acara kemarin. Luv u all



Meminta maaf dan memaafkan
14/06/2018, 4:12 pm06
Filed under: Uncategorized

Mistakes are always forgivable, if one has the courage to admit them. Bruce Lee
Read more at: https://www.brainyquote.com/quotes/bruce_lee_383809?img=4

Di antara gelegar petasan dan kemeriahan takbiran.. saya jadi tertarik untuk menulis tentang memaafkan.

Saya pemaaf? Hehe..coba tanya suami deh biar tahu lebih jauh.

Saya malah dibilang suka mengumbar permintaan maaf sama orang lain. Kerjaan ada yang keliru..dengan ekspres saya bilang maaf. Tak sengaja mencubit si kecil karena tak sanggup menahan emosi..kata sorry segera meluncur. Tiba-tiba orderan orang agak melenceng dikit.. dengan spontan kata maaf dengan emoticon tangan terkatup segera menghiasi dinding chat saya.

Ya dengan mudahnya saya mengatakan MAAF. Tapi apa begitu juga mudahnya saya belajar untuk memperbaiki segala tindakan saya yang dimintakan maaf itu.

Hmmm.. sedikit..kadang-kadang mungkin.

Buktinya saya tau taunya melakukan kesalahan lagi dan minta maaf lagi.

Kata-kata Bruce Lee di atas memang sudah saya bisa lakukan. Saya berani dan mau minta maaf atas kekeliruan saya.

Sebuah langkah awal dari proses pembelajaran diri untuk menjadi lebih baik. *netizen tepuk tangan

Sebenar perkataan, apapun kesalahan selalu bisa dimaafkan.

Selalu…? Hmm..tiba-tiba terbayang..bermacam kejadian. Saya dibully saat remaja.., Arsa sulung saya yang autistik diperlakukan semena mena, klien yang tahu-tahunya PHP – pura-pura ga pernah memesan, sikap saya yang kurang dihargai…, orang yang memperlakukan saya diskriminatif.

Eitts.. ini bayangan saya atau ego saya yang bicara. Baru bicara soal memaafkan saja..tak terlintas apa yang terjadi di sekitar atau yang orang lain alami.

Lihat deh semua kalimat itu pasif adanya. Di mana saya yang jadi objek…dan orang lain jadi pelakunya. Saya merasa jadi korban. Korban ketidakadilan..korban diskriminasi..Saya merasa patut dikasihani.

Padahal saya sendiri yang suatu waktu, dengan percaya diri pernah berujar. Semesta itu tak pernah salah mendengar, melihat dan membaca kita.

Menempatkan diri menjadi korban.. ya.. mungkin karena saya tak bersikap lebih baik..tak berusaha mengubah diri..sehingga memang pantas di’korban’kan.

Saya memang berani minta maaf tapi tak berlanjut dengan perubahan sikap yang signifikan.

Lihat si kecil saya. Bila suatu saat bertengkar dengan teman..terus baikan..minta maaf…, terus suatu saat bertengkar lagi untuk urusan yang sama ; pasti lama-lama temannya tersebut akan kapok dan menghindar.

Nah anak-anak saja sudah belajar proses maaf memaafkan ini. Bagaimana dengan kita?

MEMINTA MAAF ~ REFLEKSI DAN BERUBAH ~ MEMAAFKAN = PROSES MENJADI DIRI LEBIH BAIK.

Ini sih #selftalk saya.

Besok udah lebaran aja…

Maaf lahir batin ya… 🙏🙏



Move on…bergerak apa?
03/02/2018, 4:12 am02
Filed under: Uncategorized

Ket foto : ini waktu eksibisi komunitas tari inklusi #nalitari pada hari Disabilitas Internasional.
Saat itu semua penari diminta berpose diam (aturan koreografinya) dan hanya berganti gerak saat tubuh kita tak mampu lagi. Sebagai bentuk meng ‘alami kondisi teman2 yang sehari2nya bergerak terbatas. ==========================
Saya merasakan betul. Saya yang merasa bersalah bila mager dan tidak melakukan atau mengerjakan apa2..saat ikut eksibisi itu perlu banyak kontemplasi diri. Termasuk mengendalikan pikiran agar tak terlampau berkelana. Yup…berarti comfort zone saya selama ini bergerak. Duduk diam saja bukan tipikal saya sesungguhnya. °•° Namun kemudian saya bertemu life partner a k a suami yang menantang saya dengan keluar dari comfort zone yang lebih luas lagi.
Pindah kota.. dari rumah sendiri ke rumah sewa.. dari kemapanan ke kesederhanaan.. dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru.. dari rutinitas yang sudah tertata..ke rutinitas yang lebih baru.
Berkenalan dengan orang2 baru. Menjalin..membangun interaksi baru. °•°
Kata suami..itu perlu jiwa move on.
Dan move on itu bukan cuma perpindahan fisik, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Karena belum tentu apa yang kami lakukan/kerjakan beroleh hal yang sama enak dan nyamannya seperti sebelumnya.
Seorang teman malah bilang itu semacam spiritual journey.
Bagaimana jiwa kamu melakukan perjalanan.. merasa berbagai pengalaman baru. °•°
Kata suami lagi…kalau cuma fisik aja yang pindah..tapi jiwanya tidak.., itu kayak punya pacar baru tapi apapun sikap perilaku bahkan mungkin penampilannya selalu dibandingkan dengan mantan. Ga pernah ketemu apa kelebihan pacar baru; plus (jangan2) dipacari sebagai bukti ke mantan..dirinya masih ‘laku’
Ahaiii… analoginya serem cuyyy… Sapa hayo yg mau dibandingin trus sama mantannya… @30haribercerita
#30haribercerita
#30haribercerita2018
#30hbc1828
#bergerak
#30hbc18bergerak



Lucky me…. 😉
03/02/2018, 4:12 am02
Filed under: Uncategorized

Saya bukan perempuan yang good looking. Dari remaja..bukan primadona. Mungkin cowo2 yang dulu pernah naksir itu lebih karena saya misterius dan dikenal pinter. ▪ Dikenal ya…pinter ga tau juga.. nyaris ga naek kelas tapi bisa keterima di negeri..hahahehe. Udah ah ini bukan cerita tentang itu. ▪ Tapi saya yang ga good looking ini, malah disayang semesta. Kini malah dikelilingi cowo cowo yang berebut cinta dan perhatian saya. Suami dan 2 anak cowo yang gantengnya ngalahin aktor k-pop lah. Anak saya ya…hahaha (Walo saya bukan fans drakor..k-pop dan sejenisnya) ▪ Mau tau gimana romantisnya masing2 ke saya… ah.. tapi yang anak2 aja ya. Nti kalo cerita suami.. para jones merana lagi hahaha. ▪ Yang besar mau 15 tahun sangat concern sama rambut saya. Ga boleh tuh terurai2..melambai2. Ga boleh tali bra tampak. Trus kalo di depan dia, saya dan suami ga boleh pelukan. Jealous. Padahal dia autistik. ▪ Yang kecil (mau 5 tahun) lain lagi. Romantisnya lucu. Ah..happy saya kalo nanti dia jadi cowo yang humoris. Pasti jd org yang menyenangkan. Tadi sore contohnya. Perut saya sedang tidak nyaman karena PMS. Begitu saya bilang…dia lantas meluk saya dan berbisik i love you. Terus diikuti bilang i’m sorry mami.. i’m so sorry mami. Sambil hati saya meleleh leleh.. saya bilang..ini bukan salah kamu. Perut mami memang lagi ga nyaman. Tetap saja ia memeluk saya dari belakang.. Ah.. bakal jadi cowo yang bikin cewe meleleh leleh.. Yuk..mahmud..sapa putrinya mo masuk list? Hahaha.. bercanda ya…masih jauh perjalanan nih. @30haribercerita #30haribercerita #30hbc1822 #30haribercerita2018



(Saya/Arsa) ‘Menantang’ (Arsa/saya)
15/10/2017, 4:12 pm10
Filed under: Uncategorized

Saya baru saja naik panggung (lagi). Emak2 beranak dua dengan seonggok lemak di perut. Usai lihat fotonya baru malu dan termotivasi diet lagi. Waktu menari, tak terasa. Pokoknya bergerak. Mengapresiasi dan memaknai musik.

Dalam rangka apa? Tanya seorang teman. Ceritanya (tak) panjang. Ada bukaan workshop tari gratis dari sebuah komunitas. Namanya Nalitari, prinsipnya dance ability. Semua orang bisa menari, tak terbatas kecacatan apapun.

Pertama saya yang tertantang. Tapi sewaktu isi formulir, saya langsung teringat Arsa. Putra sulung saya dengan spektrum autistik. Sepertinya asik untuk memberi pengalaman baru untuknya. Waktu itu saya memang sedikit otoriter, mendaftarkannya tanpa ijin, tanpa paham Arsa minat atau tidak. Saya cuma bilang, ayo kita menari. Dan akhirnya kami berdua diterima.

Karenanya..bila sewaktu workshop, ia agak ngambek bahkan sampai marah; semua salah saya. Kurang memberi prolog yang panjang.

Tantangannya yang paling besar waktu itu kalau waktu latihan jatuh di akhir pekan. Bagi Arsa, akhir pekan = jalan-jalan. Tak perlu ke taman hiburan atau makan di restoran..keliling naik mobil sudah membuat ia bahagia.

Namun Arsa banyak belajar di komunitas Nalitari ini. Satu di antaranya tentang memupuk percaya diri. Sebagai individu autistik, perfeksionis dan zero fault itu utama. Hampir setiap usai latihan, saya perlu minta maaf di grup whats app untuk gangguan suara latar Arsa yang memanggil2 saya, mengoceh tentang sabar, tunggu, menari, tidak marah, pergi, tunggu mobil dan lain-lain.

Mungkin ketidaknyaman Arsa ikut serta sama tidak nyamannya dengan telinga orang lain mendengar suara latar. Tapi salah satu PR saya sebagai orang tua individu autistik adalah menariknya dari zona nyaman. Tak bisa melulu kita hidupnya merasa nyaman terus. Karena hidup itu bergerak, berubah, menuju lebih baik.

Dan memberikan pemahaman pada Arsa tentang ini bukan perkara mudah. Karena begitu abstrak. Bagi Arsa dengan rutinitas dan alur waktu sehari-hari yang rigid, perubahan bukan sesuatu yang menyenangkan.

Hal itulah yang membuat saya makin tertantang ‘menjebloskan’ Arsa dalam komunitas dan pertunjukan ini. Apalagi sepengamatan saya, Arsa sejatinya menikmati alunan musik dan senang hati menari di beberapa sesi latihan.

Berbagai siasat pun dilakukan. Bepergian dulu sebelum latihan di akhir pekan, ternyata tak terlalu berefek. Mengiming-imingi untuk bepergian setelah latihan, hanya membuatnya echolalia mengulang ucap kata-kata pergi.. toko merah..tunggu.. sabar. Atau..pergi..mau makan..tunggu..sabar…Itu kalau akhir pekan.

Di hari biasa, tantangannya adalah apakah Arsa menjahit dulu (rutinitas) sebelum latihan, atau membawanya ke tempat latihan. Pernah menjahitnya kelamaan, hingga kami datang terlambat. Pernah membawa jahitan dan menjahit sambil menunggu, cukup merilekskannya; namun saat giliran berlatih Arsa tengah asyik menjahit dan tak mau berhenti yang artinya tidak ikut berlatih.

Setengah optimis saya mulai mendoakan agar Arsa nyaman saat menuju pentas hari H. Berulang kali saya bilang, kalau ia marah-marah atau ribut semasa latihan, nanti teman-teman jadi takut. Tak ada yang mau menari bersamanya lagi (padahal ini tak mungkin terjadi di Nalitari) Terapi homeopathy untuk meredam kecemasannya pun sudah saya siapkan.

Saat gladi kotor, Arsa masih bersuara latar terutama memanggil saya, walau ia mulai menyadari ada sorot lampu, ada panggung dll. Saat gladi bersih saya inisiatif sembunyi. Saat itu setting lampu seperti saat pertunjukkan. Surprise suara latar Arsa berangsur berkurang.

Hingga saat mulai berkostum dan dirias, Arsa mungkin menyadari ia akan tampil. Yang membuat Arsa tak nyaman mungkin face painting bak orang Indian. Berkali-kali ia hendak menghapus polesan cat di muka. Namun teman-teman satu repertoarnya terus memberinya semangat.

Saat Arsa masuk ke panggung..saya malah sempat ke toilet. Sengaja saya menghindar. Sambil terus berdoa dalam hati dengan mantra “Arsa baik-baik saja… Arsa bisa…Arsa nyaman…Arsa mau menari bersama teman-teman”

Tak satupun kecemasan saya terjadi. Arsa naik panggung, menari dengan suara latar cuma satu dua kali..yang kata ayahnya dari area penonton tersamar oleh hingar bingar suara musik repertoarnya.

Pelupuk mata saya nyaris basah, kalau tak ingat saya masih harus menari di repertoar ke empat dengan make up rapi. Perasaan saat itu campur aduk antara bangga dan bahagia. Karenanya begitu Arsa mulai menghapus riasan dan sedikit menggerutu, saya hanya beri sedikit chamomile untuk membuatnya tenang.

Hingga ketika giliran saya tampil, saya tak berpikir harus tampil cantik atau bagaimana. Saya mau tampil ekspresif dan lebih baik; karena saya mengapresiasi Arsa. Mengapresiasi teman-teman di Nalitari dengan cinta dan kasih sayang mereka. Tak hanya buat Arsa tapi juga untuk teman- teman Arsa yang lain.

Dan ketika semua repertoar usai dan menyimak respon penonton; perasaan saya hanya satu. Berterima kasih sungguh-sungguh karena saya bisa memiliki kesempatan menantang diri saya untuk tak lelah membuat Arsa terus ‘hidup’ . Walau saya ‘terkapar’ sampai dua hari setelahnya , namun kesabaran, lelah hati dan kerja keras kami berdua terbayar dengan kesan teman-teman usai menonton.

Kata mbak Fani, “kami harus lebih bisa bersyukur dan belajar mengasihi tanpa batas”.

Wow…Terima kasih atas keberuntungan memiliki kesempatan untuk ‘menari’ dengan hati. Bersama Arsa apalagi.