yukberbagi!


That’s me
13/04/2020, 4:12 am04
Filed under: Uncategorized



Surat untuk pejuang
10/04/2020, 4:12 am04
Filed under: Uncategorized

Untuk dokter, perawat dan para pekerja kesehatan lainnya…
Mudah-mudahan selalu dalam keadaaan sehat saat menjalankan tugas

Saat pandemi ini merebak, saya, kami di rumah sempat merasa kecil hati belum mampu berbuat banyak untuk berdonasi APD yang urgensi dibutuhkan kalian.

Lalu apa yang bisa kami lakukan selama kami di rumah?
Membuat eco enzyme, sudah. Membuat kombucha, sudah. Mengolah limbah kemasan plastik untuk eco brick, juga sudah. Bercocok tanam, sudah juga.

Oh ya…saya baru teringat; sulung saya punya ‘harta’ kain perca yang cukup banyak untuk proyek patchwork selimut sebagai tugas sekolah. Saya mulai terpikir untuk mengolah perca yang bermotif lucu dan berwarna menarik menjadi masker kain.

Apalagi..saat sebelum kebijakan stay at home ini; satu kelas si bungsu saya sempat bepergian dengan kereta api ke Solo bertepatan dengan hujan abu Gunung Merapi yang mengarah ke sana.

Saat itu, masker sekali pakai sudah mulai ‘ditimbun’ orang-orang. Saat turun di Stasiun Balapan, rombongan kami harus bermasker mengingat abu vulkanik yang beterbangan.

Teringat itu, saya termotivasi coba-coba membuat masker kain berdasar tutorial youtube. Mengingat kebutuhan di Yogyakarta tak hanya karena pandemi covid-19 saja; namun masker kain juga diperlukan bila ada hujan abu atau saat bepergian dengan motor. Target pertama saya; anak-anak dengan senang hati memakai masker karena bergambar karakter kesukaannya.

Awalnya masih dengan jahitan tangan saja. Alhasil proses pengerjaannya cukup lama. Bapaknya anak-anak yang mampu menjahit dengan mesin menawarkan bantuan; sembari mengawasi sulung saya menyelesaikan proyek selimut patchwork.

Sekarung kain perca; yang tadinya serupa limbah, kini bisa direduce dan direcycle. Yang bergambar karakter lucu-lucu untul masker, yang netral atau berjumlah banyak untuk bahan patchwork, yang kecil panjang untuk keset ibu saya; dan yang paling berbentuk ‘sisa-sisa’ untuk pengisi sandaran duduk.
Jadi tak ada lagi sisa dari sekarung kain perca ini. Ia menjadi bermanfaat adanya.

Dari teman dekat, tetangga, kenalan lama mulai bergantian memesan. Semula saya sungguh ingin menggratiskannya. Namun, teman-teman memaksa untuk membayar; yang katanya untuk ongkos benang, karet elastis dan biaya listrik.

Saya, kami tak berniat memasang masker ini di market place; karena pekerjaan ini kami sambi dengan aktivitas domestik dan pendampingan sulung saya mengerjakan patchworknya. Harganya pun kami buat sangat terjangkau; agar semakin banyak anak dan orang tuanya sadar untuk bermasker di saat pandemi ini belum teratasi.

Seperti rekan-rekan dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain..senang bila pasien sembuh ; saya, kami sekeluarga senang bila anak-anak senang dan sadar gunanya memakai masker kain buatan kami.
It’s priceless, more than its price.


Dengan anak-anak senang memakai masker, kami berharap bukan kalian- tenaga kesehatan yang jadi garda depan.
Kamilah..keluarga-keluarga; yang bisa tertib stay at home, sadar penuh bermasker saat keluar rumah dan menjaga kesehatan dengan makan minum dan mengatur pola hidup yang baik.

Kita berjuang bersama ya. Di medan ‘perang’ masing-masing.
We truly have our own battle; keep fight bro n sis !!!

ig @ivy_sudjana – yogyakarta



Nyepi dan pandemi
25/03/2020, 4:12 pm03
Filed under: Uncategorized

Saya tetiba rindu malam pengerupukan, arak arakan Ogoh-Ogoh ; sehari sebelum Nyepi. Ya.. tau banget kalau semalam di se antero Bali acara itu ditiadakan, sehubungan dengan pandemi ini.

2016 saya sekeluarga masih ikut menonton, terperangkap pemblokiran jalan dan pulang ke rumah tengah malam dengan si kecil sudah tertidur dengan pulasnya. Namun rasanya puas…senang bukan kepalang.

Dulu…ketika Arsa masih kecil dan belum memahami suasana Nyepi, kami sekeluarga masih terbawa suasana perantau kebanyakan. Memborong sembako (yang kenyataannya makanan minuman hore2, bukan basic) maupun mencari akomodasi Nyepi gratis di hotel kenalan.
Apa sih yang kami takutkan waktu itu?
Gelap kah? Tak bisa keluar rumahkah? Atau apa..kami juga tidak tahu. Padahal ujung-ujungnya ya malah jadi konsumtif karena pengeluaran tidak perlu.

Seusai itu, kami sekeluarga makin menyadari nikmatnya memaknai Nyepi. Arsa pun..yang autistik akhirnya paham bahwa saat Nyepi itu kita memadamkan lampu-lampu di rumah dengan kesadaran sendiri serta berdiam di rumah dengan kesadaran sendiri. Mungkin karena ia lahir dan tumbuh di Bali, yang budayanya begitu ia cintai.

Kami menikmati… memandang bintang-bintang yang tahu-tahunya bertebaran luar biasa indah sejauh tangkapan mata, menikmati udara yang segar dan bersih sepanjang hari baik saat Nyepi maupun keesokan paginya, menikmati suara alam yang jernih dan mungkin baru terdengar saat tak ada distorsi dan kebisingan hidup manusia.


  1. Kini saya berusaha menyesapi himbauan stay at home yang sedang digencarkan terkait dengan pandemi ini. Betapa banyak orang yang merasa bosan, terkungkung, terhambat segala aktivitas rutinnya. Apalagi orang-orang yang memerlukan interaksi dan sosialisasi dengan orang lain. Saya salah satunya. Saya tidak terlalu ingin untuk jalan-jalan atau bagaimana. Tapi saya perlu bertemu orang, bertukar pikiran atau cerita; yang tidak selalu pas dibuat virtual saja.

Ya…memang kondisi sekarang tidak bisa disamakan dengan kesadaran saat Nyepi, yang hanya berlangsung satu hari saja
Saat Nyepi di Bali saja, masih banyak orang yang memilih keluar pulau atau rumahnya saat menjelang hari raya tersebut.
Berdiam di rumah sepertinya sebuah kungkungan akan kebebasan sebagai manusia jaman modern.
Tak bisa ke mana-mana seolah ‘mematikan’ energi yang biasa tumpah tumpah untuk dibagikan.

Saat ini…hari Nyepi, hampir dua minggu diam di rumah saja. Ya…saya totally..tak sepenuhnya tertib. Beberapa kali ke luar rumah, setiap hari singgah ke warung atau pembuangan sampah. Berusaha social distancing dengan menjaga jarak dengan orang lain..plus mendesinfeksi diri sendiri saat kembali ke rumah.

Saya mencoba menelaah. Betapa dunia tiba-tiba berubah, saat banyak orang di rumah saja; saat banyak juga orang yang masih mau tak mau bertugas di luar rumah. Entah kewajiban, entah tuntutan kehidupan.

Tiba-tiba keluarga hendak berkumpul, yang tadinya jarang punya waktu mengobrol, kini panjang berdiskusi. Tiba-tiba orang tua mau tak mau berpikir ekstra untuk membantu anak-anak menyelesaikan tugas sekolah.
Tiba-tiba ibu menyusun rancang menu apa yang tidak membosankan, hanya dengan sejumlah uang di tangan.
Tiba-tiba barang-barang tak perlu dirapikan, rumah menjadi sangat diperhatikan kebersihannya.
Tiba-tiba kita dihadapkan perlunya bersyukur akan privilage memiliki uang gajian untuk melalui hari demi hari, tak terdampak seperti pekerja harian yang kini banyak dirumahkan.

Ya..banyak sekali hal-hal tetiba yang menjadi efek situasi dunia akibat pandemi ini. Hal-hal yang banyak membuat kita tercenung, untuk kemudian merutuk atau mensyukuri yang terjadi.

Anak saya ya..memang belum berhenti bertanya kapan lagi mereka bersekolah seperti biasa. Meski ada hal-hal yang tetap mereka lakukan sebagai bentuk school from home; akan tetapi saya justru melihat ada sebuah pelajaran besar dari situasi kini.

Ketika Nyepi sebagai sebuah kondisi yang pernah mereka nikmati sebagai sebuah kesadaran memurnikan Bumi dan semesta; kini mereka juga belajar tentang ‘berperang’ .
Melawan musuh yang tak terlihat di belantara semesta, tanpa terancam senjata bila kita tertib bersikap, meski dengan tindakan perlawanan; hanya boleh di area rumah saja.

Anak-anak ini..akan belajar bahwa battle sesungguhnya adalah saat kau (mau tak mau) dihadapkan pada situasi tertentu; yang strugglenya akan berbeda-beda tergantung bagaimana menyikapinya.

Anak-anak ini pun belajar, bahwa taktik yang terhebat sekali pun; tak melulu bisa dipakai di setiap pertempuran. Tak melulu dengan menyerang sampai mati, karena berdiam diri saja kini punya arti.

Dan tetiba, saya jadi merasa beruntung, anak-anak saya hidup dan berada dalam masa ini.

Let they learn something, that would not be repeated in any other years.
Mudah-mudahan semesta mendengar permintaan saya.



W A R A S , is that what i need nowadays (self note ibu remaja autistik)
05/08/2019, 4:12 am08
Filed under: Uncategorized

Kata-kata itu masih terngiang di telinga saya. “ada penelitian yang bilang tekanan psikologis orang tua individu autistik itu serupa dengan tekanan pada tentara yang baru kembali dari medan perang.” Reaksi saya saat itu hanya tersenyum, gestur santai sambil berujar. “ya..akan makin stress kalau diri sendiri denial atau ga ngurusin anaknya kan mbak…”

Bertahun-tahun ujaran itu [ternyata] menghakimi orang tua dan keluarga lain. Anggapan tentang saya yang devoted ..dengan keluar dari pekerjaan saya, untuk kepentingan Arsa; jadi senjata ampuh untuk berburuk sangka.

Di sisi lain, hal itu juga yang mungkin jadi senjata saya untuk ‘kuat’ terhadap segala hal yang terjadi sebagai ibu dari individu autistik.

Telusuri dan baca saja cerita saya mengasuh didik Arsa yang terlahir dengan spektrum autistik. Lengkap adanya. Haru biru..gado gado, jatuh bangun, putus asa semangat ada di sini

https://balebengong.id/author/ivy/?lang=id

Bila tulisan-tulisan tentang bagaimana Arsa, sulung saya yang kini 16 tahun, dibaca semuanya; tentu menuai tanggapan : mbak Ivy..keep strong ya. Jadi ibu yang kuat. Ga kebayang kalau saya jadi mbak Ivy. Kamu luar biasa mbak..dstny dstny.

Ditambah lagi, menyimak bagaimana Arsa berkembang sedemikian rupa. Seorang handembroidered artisan dengan karya yang sudah ke manca negara. Diwawancara, dikenal, jadi tempat curhat plus konsultasi. Semakin saja menguatkan imej saya tentang ibu yang ‘sukses’

Tanggapan, respon, reaksi itu memang menguatkan dan melambungkan saya. Kuat dalam arti tak gampang menyerah, namun juga berarti ‘keras’. Keras untuk tanpa sadar menyombongkan diri.

Kamu udah melakukan asuh didik apa aja sama anakmu? Bertanggung jawab gih sebagai orang tua.

(Walau sepertinya saya memberi saran dan dukungan, namun kadang dalam hati saya jengkel dan berkomentar…duh ibu/bapak ini maunya apa sih. Capek aku tuh)

atau saya malah toxic positivity , memberi saran dengan membandingkan situasi kondisi saya untuk meyakinkan bahwa saya benar, mereka salah.

Saya sungguh jahat. Lupa saat-saat saya jatuh dan terpuruk. Benar-benar lupa.

Hingga akhirnya bulan Juni saat Arsa akan melanjutkan ke SMA. Dengan badan remaja, dengan semakin fleksibel dan cairnya interaksi dan komunikasi dia dengan orang lain selain keluarga, dengan semakin berkembang kemampuan menjahit sulam; termasuk fase puber yang jelas membingungkannya, tahu-tahunya Arsa tetap saja tantrum di tempat umum.

Dan tantrumnya remaja autistik lebih mengkhawatirkan, karena bisa membuat orang salah sangka. Puncaknya Arsa dua kali tantrum yang menuai respon emosi orang- orang sekitar lokasi kejadian. Kali pertama seorang bapak sampai membantu menegur Arsa, karena Arsa menyerang adiknya. Kali kedua seorang bapak sampai ingin memukul Arsa karena tak senang anaknya (entah) dicubit atau dijambak rambutnya.

Saya shock berat. Tiba- tiba saya diserang kecemasan berlebihan. Di tantrum kedua, saya menampar Arsa di depan bapak anak itu, lalu memaksanya masuk mobil. Saya menangis histeris tak terkendali sambil menelpon suami yang sedang di luar kota.

Saya terus histeris, Arsa kebingungan. Dan itu berlangsung sampai malam. Beberapa kali saya sampai perlu mengkonsumsi chamomile untuk menenangkan diri. Suami yang menelpon hanya bilang, histeris tak akan menyelesaikan apa-apa; dan bisa memicu Arsa untuk emosi juga. Yang terlintas di benak saya saat itu, hanyalah Arsa perlu ke psikiater mendapat obat penenang (sesuatu yang kami hindari selama ini) dan saya perlu bantuan psikologis.

Sejak tantrum pertama, saya terserang insomnia. Tidur malam hanya empat atau lima jam, tanpa saya mengantuk di siang harinya. Bak zombie saya menjalani hari dengan perasaan down. Usai memasak, memastikan anak-anak beres segala keperluannya, membersihkan rumah; lalu saya pakai earphone/headphone dan menonton streaming film. Media sosial termasuk whatsapp grup di mana saya sangat intens, menjadi tak menarik lagi. Saya merasa tak perlu tahu urusan orang lain, malas merespon chat dan statusnya orang. Saya merasa dengan menonton film saya melupakan sejenak urusan Arsa. Apalagi bila Arsa impulsif ‘menyerang’ adiknya, dengan sapu lidi saya bisa memukuli tembok dan meja untuk melampiaskan emosi saya yang terekskalasi hebat. Arsa ketakutan dan adiknya diam lalu menangis. Usai itu, bisa berjam-jam saya tak mau tahu urusan apapun dan siapapun.

Saya pun tak berani bepergian dengan Arsa (baik sendiri maupun dengan adik atau neneknya) tanpa didampingi suami saya. Tiba-tiba saya menyadari..bepergian dengan Arsa yang autistik, adiknya usia 6 tahunan yang selalu curious dan neneknya yang jelang 80 tahun akan memecah fokus saya; ke mana saya harus memberi perhatian lebih. Merespon bahwa kami akan bepergian dan ada Arsa yang ikutserta saja sudah membuat saya stress dan degdegan.

Padahal dulu, bertahun-tahun saya bisa cukup menguasai diri saat Arsa ngambek dan tantrum. Kalaupun tak kuat, saya lari sembunyi di kamar. Namun kini malah mendengar Arsa berisik, teriak-teriak; saya merasa Arsa annoying dan saya segera menutup telinga dengan earphone.

Saya sempat curhat ke beberapa teman, terutama tentang bantuan psikologis. Mendengar cerita dan menyimak bagaimana sikap saya akhir-akhir ini, mereka pun menyimak dan berujung saran tentang bantuan psikologis.

(namun jujur sampai saat ini saya belum pernah berangkat)

Suami berupaya mendukung saya dengan memberi waktu ‘hibernasi’. Saya jadi banyak waktu untuk diri sendiri. Beberapa kali saya menyempatkan bepergian seorang diri. Cukup melegakan perasaan dan mendorong saya berpikir.

Belasan tahun lamanya saya dihantui perasaan bersalah karena meninggalkan Arsa (anak-anak) dan rumah. Bersalah karena seperti meninggalkan tanggung jawab utama, sebagai orang tua; sebagai ibu. Bersalah karena seperti menjilat ludah apa yang saya hakimi kepada orang tua lain.

Namun saat ‘hibernasi’ itu, saya disadarkan perlunya untuk memulihkan diri, menjadi lebih waras. Terbayang akan jadi apa, bila jiwa saya tidak sehat, fragile dan mudah terpancing emosi; lalu kemudian mengasuh didik anak-anak.

Setiap usai ME time, saya jadi agak terpompa semangatnya. Langsung memasak untuk anak-anak, bercanda dengan mereka dan membersihkan rumah.

Saya pun sadar. Betapa adiknya Arsa selalu saya salahkan sebagai pemicu atau saya malah tak memedulikan perasaannya saat konflik muncul atau tetiba Arsa bersikap buruk. Bertahun-tahun juga saya mengabaikan bahwa baik saya dan suami pun perlu di’sayang’, diperhatikan, satu dan lainnya. Sesuatu yang mungkin tak sengaja kami kesampingkan untuk (berharap) Arsa menjadi lebih baik.

Saya tahu kondisi itu sungguh tidak sehat. Saat sendiri saya berupaya menyesap apa yang selama ini terjadi. Ya..saya ternyata tidak se-strong yang dikatakan orang. Saya tetap manusia biasa..perempuan dengan segala kerumitannya dan tak ada bedanya dengan ibu-ibu kebanyakan.

Saya pun berusaha menanamkan ke diri..

ME time beberapa saat adalah tidak apa-apa. Seperti tubuhmu yang perlu rehat untuk kemudian segar lagi

Bahkan seorang sahabat memberi catatan.

kita perempuan yang biasa take care orang, perlu belajar bahwa take care diri sendiri juga merupakan hal yang penting. Kalau kita ga take care diri kita kita juga ga mungkin take care org lain.
Being taken care by ourselves or by others perlu dipikirkan banget

Saat ini, saya menjalani hari-hari dengan dukungan teman-teman dan sugesti tentang pentingnya kewarasan saya dalam mendukung Arsa ke hari depannya.

Yang jelas..jari-jari saya makin terkontrol untuk tidak mudah menuliskan toxic positivity atau judging pada penyataan dan pertanyaan orang lain di media sosial terutama berkaitan dengan autisme, parenting dan semacamnya.

Sungguh saya masih banyak perlu belajar. Belajar waras, belajar tulus..tanpa menghakimi.



mini fiksi #3
02/07/2019, 4:12 am07
Filed under: Uncategorized

“xin..kamu tahu aku kemarin ketemu siapa” aku menatap Mei yang tiba-tiba sumringah. “siapa?”

“ganendra” aku tercekat. “sama pacarnya, mungkin satu sekolah. wajah dan gerak geriknya nyaris seperti kamu”

aku tiba-tiba terdiam. “tampaknya dia sulit melupakanmu.”

aku makin terdiam. “kenapa hubungan kalian berakhir?”

aku hanya menggeleng sambil berucap “tak berakhir. tak ada juga yang mengakhiri”

=====

sepucuk surat menyembul dari retsluiting ranselku. dear x111NN

hatiku mendadak berbunga, tapi tak mungkin kubaca sekarang. terlalu banyak orang di kelas. apalagi..pengirimnya ada di ruangan yang sama. kutatap punggungnya dari tempat dudukku. tampak ia sedang serius mengerjakan soal.

“axinta, apa kamu sudah selesai? nyantai banget bengongnya” suara pak B mengejutkanku. satu kelas tertawa, termasuk ia.

sambil tergagap menjawab sudah, ekor mataku menangkap senyum di sudut matanya. entah bermakna apa.

=====

kata-kata mei masih terus terngiang. bahkan sampai saat ini. saat aku menemukan nama ganendra di rikues pertemanan, padahal tak ada apapun setelah masa sekolah…hal-hal yang bisa menghubungkan kami kembali. pindah sekolah, pindah negara. terlalu berjarak.

aku dan ganendra, tak pernah bertutur sapa, tak pernah bisa berkata saat bertemu, tak pernah bisa bercanda tanpa ada orang lain sekitar kami.

tapi surat-surat kami, menyatakan interaksi yang hangat, keakraban..ah bukan..malah keintiman yang sangat.

dalam skala yang lebih lanjut adalah kiriman lagu-lagu darinya, di radio setiap jam 8 malam.

tak ada yang bisa mendefinisikan apa yang terjadi antara kami saat itu.

seperti tak ada yang bisa mendefinisikan saat aku akhirnya mengkonfirmasi rikues pertemanan itu sekarang.

“we truly never talk in reality, gndr. i truly miss your letters”

– akhir ’80 –