yukberbagi!


W A R A S , is that what i need nowadays (self note ibu remaja autistik)
05/08/2019, 4:12 am08
Filed under: Uncategorized

Kata-kata itu masih terngiang di telinga saya. “ada penelitian yang bilang tekanan psikologis orang tua individu autistik itu serupa dengan tekanan pada tentara yang baru kembali dari medan perang.” Reaksi saya saat itu hanya tersenyum, gestur santai sambil berujar. “ya..akan makin stress kalau diri sendiri denial atau ga ngurusin anaknya kan mbak…”

Bertahun-tahun ujaran itu [ternyata] menghakimi orang tua dan keluarga lain. Anggapan tentang saya yang devoted ..dengan keluar dari pekerjaan saya, untuk kepentingan Arsa; jadi senjata ampuh untuk berburuk sangka.

Di sisi lain, hal itu juga yang mungkin jadi senjata saya untuk ‘kuat’ terhadap segala hal yang terjadi sebagai ibu dari individu autistik.

Telusuri dan baca saja cerita saya mengasuh didik Arsa yang terlahir dengan spektrum autistik. Lengkap adanya. Haru biru..gado gado, jatuh bangun, putus asa semangat ada di sini

https://balebengong.id/author/ivy/?lang=id

Bila tulisan-tulisan tentang bagaimana Arsa, sulung saya yang kini 16 tahun, dibaca semuanya; tentu menuai tanggapan : mbak Ivy..keep strong ya. Jadi ibu yang kuat. Ga kebayang kalau saya jadi mbak Ivy. Kamu luar biasa mbak..dstny dstny.

Ditambah lagi, menyimak bagaimana Arsa berkembang sedemikian rupa. Seorang handembroidered artisan dengan karya yang sudah ke manca negara. Diwawancara, dikenal, jadi tempat curhat plus konsultasi. Semakin saja menguatkan imej saya tentang ibu yang ‘sukses’

Tanggapan, respon, reaksi itu memang menguatkan dan melambungkan saya. Kuat dalam arti tak gampang menyerah, namun juga berarti ‘keras’. Keras untuk tanpa sadar menyombongkan diri.

Kamu udah melakukan asuh didik apa aja sama anakmu? Bertanggung jawab gih sebagai orang tua.

(Walau sepertinya saya memberi saran dan dukungan, namun kadang dalam hati saya jengkel dan berkomentar…duh ibu/bapak ini maunya apa sih. Capek aku tuh)

atau saya malah toxic positivity , memberi saran dengan membandingkan situasi kondisi saya untuk meyakinkan bahwa saya benar, mereka salah.

Saya sungguh jahat. Lupa saat-saat saya jatuh dan terpuruk. Benar-benar lupa.

Hingga akhirnya bulan Juni saat Arsa akan melanjutkan ke SMA. Dengan badan remaja, dengan semakin fleksibel dan cairnya interaksi dan komunikasi dia dengan orang lain selain keluarga, dengan semakin berkembang kemampuan menjahit sulam; termasuk fase puber yang jelas membingungkannya, tahu-tahunya Arsa tetap saja tantrum di tempat umum.

Dan tantrumnya remaja autistik lebih mengkhawatirkan, karena bisa membuat orang salah sangka. Puncaknya Arsa dua kali tantrum yang menuai respon emosi orang- orang sekitar lokasi kejadian. Kali pertama seorang bapak sampai membantu menegur Arsa, karena Arsa menyerang adiknya. Kali kedua seorang bapak sampai ingin memukul Arsa karena tak senang anaknya (entah) dicubit atau dijambak rambutnya.

Saya shock berat. Tiba- tiba saya diserang kecemasan berlebihan. Di tantrum kedua, saya menampar Arsa di depan bapak anak itu, lalu memaksanya masuk mobil. Saya menangis histeris tak terkendali sambil menelpon suami yang sedang di luar kota.

Saya terus histeris, Arsa kebingungan. Dan itu berlangsung sampai malam. Beberapa kali saya sampai perlu mengkonsumsi chamomile untuk menenangkan diri. Suami yang menelpon hanya bilang, histeris tak akan menyelesaikan apa-apa; dan bisa memicu Arsa untuk emosi juga. Yang terlintas di benak saya saat itu, hanyalah Arsa perlu ke psikiater mendapat obat penenang (sesuatu yang kami hindari selama ini) dan saya perlu bantuan psikologis.

Sejak tantrum pertama, saya terserang insomnia. Tidur malam hanya empat atau lima jam, tanpa saya mengantuk di siang harinya. Bak zombie saya menjalani hari dengan perasaan down. Usai memasak, memastikan anak-anak beres segala keperluannya, membersihkan rumah; lalu saya pakai earphone/headphone dan menonton streaming film. Media sosial termasuk whatsapp grup di mana saya sangat intens, menjadi tak menarik lagi. Saya merasa tak perlu tahu urusan orang lain, malas merespon chat dan statusnya orang. Saya merasa dengan menonton film saya melupakan sejenak urusan Arsa. Apalagi bila Arsa impulsif ‘menyerang’ adiknya, dengan sapu lidi saya bisa memukuli tembok dan meja untuk melampiaskan emosi saya yang terekskalasi hebat. Arsa ketakutan dan adiknya diam lalu menangis. Usai itu, bisa berjam-jam saya tak mau tahu urusan apapun dan siapapun.

Saya pun tak berani bepergian dengan Arsa (baik sendiri maupun dengan adik atau neneknya) tanpa didampingi suami saya. Tiba-tiba saya menyadari..bepergian dengan Arsa yang autistik, adiknya usia 6 tahunan yang selalu curious dan neneknya yang jelang 80 tahun akan memecah fokus saya; ke mana saya harus memberi perhatian lebih. Merespon bahwa kami akan bepergian dan ada Arsa yang ikutserta saja sudah membuat saya stress dan degdegan.

Padahal dulu, bertahun-tahun saya bisa cukup menguasai diri saat Arsa ngambek dan tantrum. Kalaupun tak kuat, saya lari sembunyi di kamar. Namun kini malah mendengar Arsa berisik, teriak-teriak; saya merasa Arsa annoying dan saya segera menutup telinga dengan earphone.

Saya sempat curhat ke beberapa teman, terutama tentang bantuan psikologis. Mendengar cerita dan menyimak bagaimana sikap saya akhir-akhir ini, mereka pun menyimak dan berujung saran tentang bantuan psikologis.

(namun jujur sampai saat ini saya belum pernah berangkat)

Suami berupaya mendukung saya dengan memberi waktu ‘hibernasi’. Saya jadi banyak waktu untuk diri sendiri. Beberapa kali saya menyempatkan bepergian seorang diri. Cukup melegakan perasaan dan mendorong saya berpikir.

Belasan tahun lamanya saya dihantui perasaan bersalah karena meninggalkan Arsa (anak-anak) dan rumah. Bersalah karena seperti meninggalkan tanggung jawab utama, sebagai orang tua; sebagai ibu. Bersalah karena seperti menjilat ludah apa yang saya hakimi kepada orang tua lain.

Namun saat ‘hibernasi’ itu, saya disadarkan perlunya untuk memulihkan diri, menjadi lebih waras. Terbayang akan jadi apa, bila jiwa saya tidak sehat, fragile dan mudah terpancing emosi; lalu kemudian mengasuh didik anak-anak.

Setiap usai ME time, saya jadi agak terpompa semangatnya. Langsung memasak untuk anak-anak, bercanda dengan mereka dan membersihkan rumah.

Saya pun sadar. Betapa adiknya Arsa selalu saya salahkan sebagai pemicu atau saya malah tak memedulikan perasaannya saat konflik muncul atau tetiba Arsa bersikap buruk. Bertahun-tahun juga saya mengabaikan bahwa baik saya dan suami pun perlu di’sayang’, diperhatikan, satu dan lainnya. Sesuatu yang mungkin tak sengaja kami kesampingkan untuk (berharap) Arsa menjadi lebih baik.

Saya tahu kondisi itu sungguh tidak sehat. Saat sendiri saya berupaya menyesap apa yang selama ini terjadi. Ya..saya ternyata tidak se-strong yang dikatakan orang. Saya tetap manusia biasa..perempuan dengan segala kerumitannya dan tak ada bedanya dengan ibu-ibu kebanyakan.

Saya pun berusaha menanamkan ke diri..

ME time beberapa saat adalah tidak apa-apa. Seperti tubuhmu yang perlu rehat untuk kemudian segar lagi

Bahkan seorang sahabat memberi catatan.

kita perempuan yang biasa take care orang, perlu belajar bahwa take care diri sendiri juga merupakan hal yang penting. Kalau kita ga take care diri kita kita juga ga mungkin take care org lain.
Being taken care by ourselves or by others perlu dipikirkan banget

Saat ini, saya menjalani hari-hari dengan dukungan teman-teman dan sugesti tentang pentingnya kewarasan saya dalam mendukung Arsa ke hari depannya.

Yang jelas..jari-jari saya makin terkontrol untuk tidak mudah menuliskan toxic positivity atau judging pada penyataan dan pertanyaan orang lain di media sosial terutama berkaitan dengan autisme, parenting dan semacamnya.

Sungguh saya masih banyak perlu belajar. Belajar waras, belajar tulus..tanpa menghakimi.



mini fiksi #3
02/07/2019, 4:12 am07
Filed under: Uncategorized

“xin..kamu tahu aku kemarin ketemu siapa” aku menatap Mei yang tiba-tiba sumringah. “siapa?”

“ganendra” aku tercekat. “sama pacarnya, mungkin satu sekolah. wajah dan gerak geriknya nyaris seperti kamu”

aku tiba-tiba terdiam. “tampaknya dia sulit melupakanmu.”

aku makin terdiam. “kenapa hubungan kalian berakhir?”

aku hanya menggeleng sambil berucap “tak berakhir. tak ada juga yang mengakhiri”

=====

sepucuk surat menyembul dari retsluiting ranselku. dear x111NN

hatiku mendadak berbunga, tapi tak mungkin kubaca sekarang. terlalu banyak orang di kelas. apalagi..pengirimnya ada di ruangan yang sama. kutatap punggungnya dari tempat dudukku. tampak ia sedang serius mengerjakan soal.

“axinta, apa kamu sudah selesai? nyantai banget bengongnya” suara pak B mengejutkanku. satu kelas tertawa, termasuk ia.

sambil tergagap menjawab sudah, ekor mataku menangkap senyum di sudut matanya. entah bermakna apa.

=====

kata-kata mei masih terus terngiang. bahkan sampai saat ini. saat aku menemukan nama ganendra di rikues pertemanan, padahal tak ada apapun setelah masa sekolah…hal-hal yang bisa menghubungkan kami kembali. pindah sekolah, pindah negara. terlalu berjarak.

aku dan ganendra, tak pernah bertutur sapa, tak pernah bisa berkata saat bertemu, tak pernah bisa bercanda tanpa ada orang lain sekitar kami.

tapi surat-surat kami, menyatakan interaksi yang hangat, keakraban..ah bukan..malah keintiman yang sangat.

dalam skala yang lebih lanjut adalah kiriman lagu-lagu darinya, di radio setiap jam 8 malam.

tak ada yang bisa mendefinisikan apa yang terjadi antara kami saat itu.

seperti tak ada yang bisa mendefinisikan saat aku akhirnya mengkonfirmasi rikues pertemanan itu sekarang.

“we truly never talk in reality, gndr. i truly miss your letters”

– akhir ’80 –



mini fiksi #2
01/07/2019, 4:12 am07
Filed under: Uncategorized

seonggok berkas masih tergeletak, di hadapanku. nama yang tercantum menyeretku ke usia belasan tahun. frandyarso.

kutatap perempuan dengan raut kelelahan di wajahnya.

“ibu serius ingin melaporkan kasus ini? ini betul suami ibu sendiri?”

dia terisak. ceritanya mengalir tak tertahan. tentang bagaimana ia tak punya waktu istirahat untuk tubuhnya sendiri. lepas masa nifas, selalu saja ia disetubuhi lagi.

“anak-anak kami harusnya enam atau tujuh. tapi kini hanya tiga. dua diantaranya tak bertahan lama, baru trimester pertama sudah luruh. yang lain tumbuh tak sempurna lalu luruh juga. semua…karena saat hamil pun saya harus melayani. badan saya sakit mbak. remuk redam rasanya. tak pernah saya diberi istirahat kecuali saat datang bulan. cape..pusing..ia tak pernah mendengarkan saya”

aku menatapnya lekat. teringat percakapan dengan sesosok perempuan, bertahun lalu.

“gue baru aja putus sama fran. dia nya sih ga mau..tapi gue udah lelah.”

“kenapa..ia pacaran dengan perempuan lain?”

“nope. ia tipe setia..cenderung posesif malahan. ia menganggap gue miliknya yang bisa ia pergunain kapan saja”

“maksudmu apa dengan pergunain. emang elo barang.”

“ya..fran selalu bernafsu. kencan kami adalah cumbuan-cumbuan, tak kenal tempat dan waktu. ia tak peduli gue mau apa..tak peduli gue sedang bagaimana. gue capek”

aku terdiam. lama. fran dan weni. betapa aku iri ketika mereka jadian.

tiba-tiba sang ibu berujar lagi. “kalau ga mau..saya dipukul mbak. dianggapnya saya ga cinta dia lagi. dibilang saya mau selingkuh. habis lapor ini..saya langsung mau ajukan cerai.”

aku menghela nafas.. menatap lagi nama yang tertulis di berkas.

orang yang sama. seperti cerita temanku belasan tahun lalu.

orang yang sama. sosok cinta pertamaku.



mini fiksi #1
30/06/2019, 4:12 am06
Filed under: Uncategorized

langit jakarta kemerahan.
tengah malam.
hening. gerah.
“pesawatmu jam berapa besok?”
aku menggeser kepala, menyentuh lengannya.
“kenapa….kamu mau nganter?
dia tertawa sambil berbisik “nanti aku nangis.”

tiba-tiba keheningan menyergap.
kuelus jambangnya seperti biasa. rambut halus yang biasa menggelitikku saat kami skin to skin.
“emang kamu akan merasa kehilangan”
tanganku ditangkap. sebuah kecupan mendarat.
“kamu juga kan…”

aku menunduk..ada yang mengalir di pipi.
“emmm…tapi ini lebih baik..sebelum kita dan orang lain semakin sakit hati. jadi…sudahlah sudah”

aku dipeluknya kuat-kuat. suaranya bergetar.
“apa kamu menyesal beberapa bulan ini?”

kukecup rambut dan cuping telinganya. “never regret being with you”

malam jatuh ke peraduannya. dia membimbingku menuruni genting menuju kamar kami masing-masing.

esok semua ini tinggal sejarah.

jakarta, 1999.



Awul-awul keren = Cloth Swap!
20/05/2019, 4:12 pm05
Filed under: Uncategorized

Kemarin (akhirnya) meniatkan diri ikut #tukarbaju atau cloth swap.
Sebuah upaya untuk kurangi limbah tekstil dengan memperpanjang usia pakaian krg lebih 9 bulan dan mengurangi emisi karbon krg lebih 30%. Mengapa 9 bulan? Kata Amanda, salah satu pemantik diskusi — angka itu sudah disurvey dari jangka waktu bosannya seseorang akan pakaian yang dimilikinya.

Dengan #tukarbaju usia baju ini diperpanjang ke pemanfaatan oleh pemilik baru. Sehingga tak serta merta berakhir menjadi keset kaki kalau di rumah saya; plus tentu saja ujung-ujungnya mencegah keinginan berbelanja pakaian baru yang belum tentu masuk kategori ethical fashion.

Berat ya bahasannya. Mungkin bila tak paham, browsing akan membantu.

Saya pribadi minat dan tahu tentang gerakan ini sejak follow beberapa akun untuk kepentingan mencari pelapak dan pengisi workshop Pasar Pangan di sekolah anak-anak.

Waktu itu baru berandai-andai acara #tukarbaju ini di Yogya. Sepertinya semesta menjawab. Dalam hitungan hari saya memutuskan untuk register sambil stalking akun-akun terkait. Jujur sedikit tak percaya diri saat memilih pakaian saya yang akan bertukar pemilik. I’m not a fashionable woman. Beberapa baju adalah lungsuran (yeay saya sudah minimize cloth waste juga ya).

Akhirnya sampai juga hari H. Acara ditulis dari jam 9.30 – 17.00.

Buat ibu-ibu macam saya, gak mungkin saya pergi seharian. Jadi masak dulu, main sama si kecil dulu plus bantuin suami nyetrika dulu.

Saya milih berangkat setelah makan siang dan ngopi. Gak yakin ada warung atau dagang gorengan dekat lokasi saat bulan puasa begini kan! Yak..saya juga gak kuat milih baju bila kelaparan. Finally, saya muncul di saat diskusi baru dimulai. Jujur mata saya sudah awas melihat-lihat pakaian di pinggir area diskusi.

Dan, ketika diskusi berakhir; orang-orang yang ikut fase register ulang dan kurasi mengular antriannya. Membawa 6 helai pakaian saya dan suami, hanya berbuah lolos 1 saja.

Kurasi ini menggunakan token dari tutup botol minuman plastik atau soft drink sebagai alat tukar yang mendukung acara. Jadi berapa pakaian yang lolos kurasi panitia = berapa token yang diperoleh.

Kurasi tergolong ekspress. Hanya diperiksa, bukan kaos, bahannya stretch apa gak, sudah melar atau belum, berbulu/bernoda atau tidak, berubah warna atau tidak. Tak perduli masih ada price tag pertanda baru, kalau sudah tak memenuhi kriteria sda, ya tak akan lolos. Seperti salah satu atasan yang saya bawa.

Berbekal 1 token itu, saya kalap berkeliling. Hal yang menarik adalah pergolakan batin… wohooo..emang apaan ya.
Ya..begitu kesempatan menukar, secara alami pikiran atau keinginan kita adalah dapet swap atau tukar pakaian yang lebih bagus, lebih mahal atau lebih keren (pakaian kriteria A pengennya).
Tapi…3 kali milih yang asik dan sesuai selera saya, ketiganya tahu-tahunya robek atau berlubang.
Mau maki..mau jengkel.. sama siapa coba?

☝️salah satu yang robek di bagian saku

——

Akhirnya curcol ke panitia. ” ini jadinya kayak mindahin sampah dari rumah dengan cara yang tak elok ”

Kejadian ini sebenarnya banyak terjadi saat kita mengumpulkan pakaian bekas pakai. Bukan memikirkan apa pakaian itu masih mau dan layak dipakai orang lain, tapi lebih sekalian bebersih rumah πŸ˜‘πŸ˜‘.

Ya saya cukup bersyukur, sudah terlatih menyortir sejak jadi panitia pasar murah di sekolah, garage sale maupun ‘dagang’ awul2 di Sunmor tahun lalu. Jadi tak semudah itu zonk… dapat “sampah”nya orang.

Dulu saat dagang awul-awul pun, kami tak mengambil sekadar ‘sampah’ berkarung-karung dari Cina, Korea atau negara lain seperti banyak pedagang awul-awul di Sekaten misalnya. Tapi lebih pakaian sahabat – sahabat saya yang sudah tak mau mereka pakai di berbagai daerah; sehingga..jujur dagangan kami cepat perputarannya karena kondisinya masih sangat baik.

Ohoho…kok ngelantur ngomong awul-awul. Ya.. karena menemukan lubang sana sini itu, keinginan mendapat baju swap dengan kriteria A, menyadarkan saya.

Untuk apa dapat yang berkategori lebih, bila itu menumpuk lagi dalam lemari.
Tujuan cloth swap adalah menjadikan dirimu fungsional. Belilah secukupnya yang akan kamu pakai, belilah bila kamu betul2 memerlukannya.

Gunakan apa yang kamu miliki. Perbaiki atau sumbangkan apa yang kamu punya agar lebih berumur panjang.

Begitu saya berpikir demikian, tau-tau dapatlah sepotong baju yang langsung manis dan pas dipatut depan cermin dari teman tukar hari itu. Ini terjadi sekian lama setelah sebelumnya zonk dengan lubang sana sini atau dapat beberapa kali model yang ga cocok di tubuh saya. Tunik-tunik misalnya. Saya serasa arem-arem dikostumin. πŸ˜„πŸ˜„

Perasaan saat dapat baju yang cocok…jujur…sungguh melegakan.
Apalagi melihat baju saya yang di swap juga dapat teman tukar a k a pemilik baru.

Acara pun usai. Kerumunan peserta berangsur membubarkan diri menjelang berbuka puasa. Saya masih melirik pakaian yang tersisa di hanger. Beberapa memiliki model yang out of date atau warna yang unik spesifik, sejenis pakaian yang digunakan seumuran ibu saya. Ketika ditawari apa mau membayar bila tak ada token lagi, 1 pcs 10ribu rupiah; tiba-tiba saya merasa sudah sangat cukup.

Ya..pakaian yang ‘aneh2’ menjadi sesuatu hal yang tak bisa dihindari saat acara-acara seperti ini. Karena panitia membuka donasi sebelum hari H, seperti membuka peluang limpahan apa saja.

Saat ngobrol dengan Amanda di akhir acara saya mempertanyakan. “Bagaimana dengan kurasi yang sebaiknya sebelum hari H?”

Pertimbangan panitia adalah peserta jadi harus datang dua kali dan kerepotan itu mungkin akan mengurangi jumlah orang yang berpartisipasi. Padahal target acara ini adalah semakin banyak yang berpartisipasi semakin berhasil tujuannya.

Ya.. walau tetap ada plus minus acara #tukarbaju ini, minimal warga Yogya (saya terutama) sudah memulai. Untuk lebih menyadari bahwa memiliki pakaian adalah melihat manfaatnya. Bukan sekadar iming-iming lapar mata, gemerlap diskon atau tren semata.

Catatan tambahan saya sih..miliki sesuai kebutuhanmu dan pakailah sesuai tempatnya.



Pengalaman warna warni
06/04/2019, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Tiba-tiba berselancar di sosial media akhir-akhir ini begitu membosankan. Berita, link, copas ina ini ita itu bermuatan sama. Yang hoax, yang ngegas, yang klarifikasi — sungguh panggung sandiwara yang jujur ingin segera saya lampaui.

Saya tersadar saya perlu berinteraksi sebenar-benarnya di dunia nyata.

Akhirnya kemarin saya dan si bungsu play date ke rumah salah seorang teman sekelasnya. Dydy asik main dengan kakak beradik laki-laki, saya ngobrol asyik dengan ibunya. Saya senang memberi kesempatan pada si kecil untuk mengalami. Dan ternyata saya pun menikmati pengalaman ngobrol ini.

Keluarga yang saya kunjungi ini bukan satu-satunya keluarga beda agama di Sanggar Anak Alam, Yogyakarta. Cerita demi cerita, suka duka perjuangan pasangan beda agama dalam obrolan kami kemarin sore mengalir lebih pada keingintahuan, bukan kecaman atau malah tuduhan, “kamu ga lelah menghadapi pertanyaan anak-anakmu atau keluarga besar. ”

Jujur..yang terlintas di benak saya bahwa salah satu yang membuat mereka memasukkan anak-anak ke Salam, lebih kepada tidak keponya komunitas ini terhadap apa agamamu atau apakah suami istri beda agama, meski ada di formulir pendaftaran. Walau tak ada aturan atau kesepakatan tertulis di sekolah, agama menjadi suatu yang sangat personal, membumi dan mengejewantah dalam penanaman karakter : jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan.

======

Obrolan kami yang seru itu sayangnya harus dijeda untuk kunjungan sekaligus mengajak anak-anak menyaksikan peristiwa budaya.

Mendekati Festival Qingming atau Cheng Beng sebagai ritual tahunan etnis Tionghoa bersembahyang dan ziarah kubur sesuai ajaran Khong Hu Cu yang biasa berlangsung tanggal 5 April; di PG Madukismo sudah berpuluh tahun mengadakan ritual festival Pengantin Tebu.

Anak-anak kami dari Taman Anak Salam yang berusia 5-6 tahunan jelas berminat dengan karnaval, apalagi diimbuhi adanya pasar malam. Menjelang ba’da ashar, teman-teman kecil ini berbaris manis, rapi dan antusias.

Setelah sebelumnya anak-anak ini diberi penjelasan sederhana tentang acara, mereka tak sabar menunggu iring-iringan peserta karnaval lewat.

Ada beberapa momen menarik saat mereka menunggu. Walau didampingi orang tua, tak ada yang merengek minta gadget seperti anak-anak lain yang tampak sibuk bersamaan dengan orang tuanya. Walau ada penjual mainan, ada penjual makanan; tak ada yang tantrum meminta dibelikan.

Saat mereka mulai merengek kenapa tak jua arak-arakan dimulai, guru-guru dengan piawai menjelaskan tentang belajar sabar. Mau menonton, harus sabar menunggu. Dan itu adalah konsekuensinya.

Sehingga ketika iring-iringan dimulai, mata-mata nan polos takjub memandang. Sambil sesekali bertanya kepada guru, berkomentar atau berbaris atau berjoget seperti peserta, anak-anak ini memuaskan keingintahuannya.

Saya menikmati proses ini. Sebuah akulturasi budaya di mana tradisi masyarakat sekitar pabrik gula mengambil bagian dari aktivitas untuk dirayakan. Bahkan pengantin tebu perlu melangsungkan akad nikah di masjid, sebelum diarak mengelilingi area pabrik gula.

Entah apakah tradisi ini dianggap tidak pas atau berbenturan dengan agama tertentu, yang jelas anak-anak Salam, tidak mempertanyakannya selama menonton. Bersama orang tua dan para guru menikmatinya sebagai sebuah perayaan dan atraksi keramaian saja.

=====

Pengalaman hari itu sungguh memberi rasa yang berbeda pada saya. Bangga bahwa Indonesia masih memiliki tradisi-tradisi unik yang berakar dan menjadi bagian dari masyarakat.

Sekaligus timbul keyakinan. Bahwa apabila agama atau segala sesuatu yang kita yakini adalah hal yang sangat personal, dan berdasar pada prinsip-prinsip kemanusiaan ; kita bisa saling ngobrol dan berdiskusi tentang hal itu, tanpa merasa saling terintimidasi atau terpojokkan.

Dan Indonesia seperti ini lah yang hendak saya wariskan pada anak-anak saya.

Sungguh-sungguh berdoa untuk keberagaman dan toleransi yang lebih baik. (Yang sedang carut marut pada postingan media sosial dan dunia maya akhir-akhir ini)

06.04.19



Stop..playing victim
02/04/2019, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Cerita Dydy :… jangan mami…nanti ditangkap polisi
Kamu begini begitu..nanti ditangkap polisi.

Sekali dua kali masih lucu ya.
Tapi menurut saya..ini tak sehat.
Menakut-nakuti anak akan sosok tertentu sangat tidak sehat.

Tapi..alih-alih siapa teman sekolah yg mau saya jadikan tertuduh, saya berpikir ulang.
Yah siapapun anak kecil itu, ia pun ‘korban’ . Dalam arti sikap orang dewasa yang membentuk dengan menakut2inya.

Yang perlu saya lakukan..hmmm..memang ga mudah ya : ngobrol banyak dengan Dydy bhw tangkap atau tidak ditangkap polisi, bukan hanya masalah belum bayar tiket renang, beli lupa membayar dll.
Dan saya rasa diskusi ini akan lama dan perlu kesabaran saya.

========
Sikap ini saya belajar banyak dari bagaimana bertumbuh bersama Arsa.
Awal-awal asuh didik Arsa yang autistik, sikap saya adalah..ini salah anu..ini salah itu..ini salah X. Termasuk ini salah saya…salah kami.
Tapi apa jadi memudahkan saya mencari solusi untuk Arsa?
TIDAK malah saya jd benci..terpuruk..denial dll.

Sampai sebuah titik balik yang menyadarkan. Bahwa memiliki anak spec needs..autis tepatnya..akan berefek penolakan dan diskriminasi sepanjang hidupnya…dan itu tidak bisa kami tolak atau kami bungkam.
Sejak saat itu saya..kami sekeluarga mulai belajar.
Menyalahkan apa pun..siapa pun tak akan mampu berbuah solusi.

Yang bisa kami lakukan adalah apapun. Apapun yang bisa memfasilitasi..apapun yang bisa memberdayakan akan kami lakukan…sesungguh2nya kami.

Cemoohan..tatap mata aneh..olok-olok..ceramah demi ceramah bukan jadi tak ada. Tapi jadi latar suara bahwa jalan kami masih panjang.

Maaf..bila ada teman..kenalan baru yang tanya, DM, inbox, wa, wawancara lalu saya jawab setegas2nya.
Terkesan judes ya.
Tapi sejatinya saya ingin menuturkan..segera bangkit..segera maju..segera buka pikiranmu.
Jangan berhenti hanya di diagnosa, lalu berputar-putar mencari penyebab saja untuk disalahkan.
Karena jujur…
Pada dasarnya saya, kamu..kita sangat takut disalahkan. Atas sesuatu yang tidak (seutuhnya) kita tahu.

Yuk belajar..
Stop playing victim.
Apapun..bagaimana pun anak-anak kita.
Fokuslah dengan apa yang perlu kita lakukan selanjutnya.

Karena hidup itu terus maju.

*kaset aja maju mundur jadi kusut ya. Eh kok kaset..ketauan saya generasi thn brp πŸ˜‰

020419