yukberbagi!


Menuliskan ibu
14/05/2017, 4:12 am05
Filed under: Uncategorized

Disclaimer :
Hubungan ibu dan saya sungguh personal dan it’s not your business. Saya banyak belajar. Kalau dulu saya sering berdebat karena ya pengen aja berdebat. Kalau sekarang..saya sering prihatin atas apa yang beliau rasakan.

Dan tulisan ini saya buat untuk berbagi…agar perempuan-perempuan di luar sana tak berhenti mengejar mimpi, bila mau (lebih) bahagia dan ‘lepas’ perasaannya di hari tua nanti.

Ini ibu saya..sebentar lagi 76 tahun. Ibu terbiasa lone fighter. Karenanya keras, punya area teritorial plus OCD dan hanya percaya pada pikirannya sendiri. Anak sulung dari 5 bersaudara. Tidak dididik kaya perempuan jaman dulu yang bisa masak dan beres2 rumah. Sekolah… belajar… menjahit. Seperti itulah. Tapi ga pernah sampe ‘mentas’. Sekolah hanya D1. Menjahit pernah punya belasan siswa, tapi kemudian berhenti dengan alasan.. menikah. 

Menikah bukan dengan pacarnya. Menikah dengan bapak saya karena dijodohkan. Dulu saat sd saya yang dekat bapak dan benci pada ibu. Tapi usai saya paham betapa cinta penting bagi sebuah pernikahan…saya tak bisa membayangkan bagaimana bisa tidur tiap malam untuk kemudian diajak hubungan suami istri dengan laki-laki yang tak kita cintai. Sungguh2 sebuah penderitaan.

Karenanya ketika bapak saya sakit sakitan lalu meninggal, yang ada padanya adalah beban. Beban yang harus ditanggung karena mau tak mau menjadi bapak. Tak berpendidikan tinggi..apapun dilakoni. Pernah ada kesempatan ‘hebat’ memasarkan produk2 A*way dan sejenis saat belum ada distributor resmi Indonesia..tapi tak membuatnya sukses karena dijalani penuh beban. 

Bertahun-tahun saya memahami bahwa apa yang dilakukannya penuh penyesalan. Mengapa berhenti ngajar menjahit? Mengapa tak serius menjadi distributor? Mengapa mau dulu saat dijodohkan? Mengapa tak kawin lari dengan pacarnya? Mengapa ini..mengapa itu?

Penyesalan itu ternyata berbuah ketidakmampuan memiliki standar bahagia. Seringkali saya berusaha mem’bahagia’kan nya dengan mengajak, memberi atau membelikan ini dan itu, tapi senang dan merasa dihargai sesaat ujung-ujungnya kritik. Jarang sekali yang disyukuri sepenuh hati. 

Sedih sebenarnya melihat orang terdekat yang melahirkan saya, tak bisa lepas bahagia. Padahal ada yang bilang..menjadi ibu dari anak2 yang tidak memiliki persoalan rumah tangga serius, itu seharusnya membahagiakan. Namun..sekian lama menjadi tulang punggung keluarga, bukan tulang rusuk laki2 ya ;  ukuran kebahagiaannya lebih pada punya uang dan tak habis-habis, a k a kaya selamanya. 

Wah..berat itu. Jadi uangnya harus tetap ada tapi semua kebutuhannya terpenuhi. Saya bilang..mama salah kawin. Mustinya kawin dengan konglomerat yang hartanya 7 turunan ga habis-habis. Jadi mama bisa jadi nyonya. Dia bilang..ya sebelum wafat..mau kaya sekali lagi..(tapi halal ya) buat punya rumah besar..buat pilgrimage bersama..buat ini..buat itu. Saya ketawa dan bilang, bisa kayak gitu kalau kita mati2an usaha. Uang ga jatuh dari langit begitu saja.

Dan sekali lagi, seorang diri ibu tak pernah berani punya usaha. Tak berani investasi. Pengalaman dan luka batin puluhan tahun, membuatnya takut akan hal-hal beresiko. Lucunya.. sejak 14 tahun yang lalu, ibu malah memilih tinggal bersama keluarga saya yang lebih adventerous dan beresiko. Suka merantau, ga takut perubahan, dll. Tahu kan…keluarga kayak gini bisa bikin deg2an. Dan.. kalau perhitungan nominal simpanan, ibu jelas lebih mampu dari saya dari hasil kumpul ini itu bertahun-tahun. Berapa banyak sudah ibu membantu. Mulai yang besar2 sampai yang remeh temeh. Terbayang bagaimana perasaannya akan hal-hal yang tidak pasti dalam keluarga saya. Setiap saat cemas. 

Saya pernah bilang sama ibu. Mama lebih beruntung dari ibunya si anu..mertua si ini karena mama sehat. Tak pernah ada keluhan berarti karena ibu sangat menjaga tubuhnya dengan konsumsi berbagai suplemen kesehatan. Walau terindikasi diabet, hipertensi juga..kondisi ibu lumayan fit di usia 3/4 abad. Ya..sayangnya itu hanya menghibur sesaat untuk kemudian dilupakannya. 

Ibu juga orang yang terakhir denial tentang Arsa, cucu pertamanya yang autistik. Kebanggaan sebagai nenek yang lebih dahulu punya cucu di antara saudara yg lain, laki-laki pula, tapi kemudian autis itu benar-benar mengoyak perasaannya. Bila tak ada insiden Arsa menghilang saat bepergian berdua ibu..tentu ia akan terus ‘menolak’ Arsa yang autistik. 

Saya yakin..beberapa hal setelah punya cucu yang autis membuatnya banyak belajar. Kadang-kadang dia bilang.. aku sepertinya tak sanggup kalau berada di posisimu. Sering saya melihat air mata di pelupuknya saat Arsa berlaku begini dan begitu. Hei..jujur, kalau dibalik..saya juga tak bisa di posisi ibu. 

Akhir2 ini saya paling merasa sedih melihat ibu tak punya sahabat dekat. Saya tak tahu harus menelusuri dari mana penyebabnya. Sepertinya ketika dulu getol-getolnya cari uang untuk keluarga, dia ‘melupakan’ cara utk berteman. Dia tidak merasakan pentingnya untuk punya sahabat tempat cerita, curhat dan lain-lain. Kehadiran orang di sekitarnya adalah in purpose..berdasar kepentingan. 

Padahal di saat2 menua seperti sekarang, ada sahabat tempat cerita sungguh baik adanya. Sampai suatu ketika saya terhenyak. Saat diceritakan seorang teman, yang anaknya sekelas dengan anak saya di kelompok bermain. Entah bagaimana awal cerita nya. Ibu saya berujar, “Biarin sekarang cape kau gendong anak perempuanmu ke sana ke mari. Kayak saya nih. Dulu si Ivy udah mau saya ‘buang’ . Saya malu kakaknya baru 6 bulan, masa hamil lagi. Tapi liat sekarang saat tua gini..malah dia jadi sahabat saya. Suka berantem sih.. tapi ya itu yang sama saya di hari tua ya..si Ivy anak yang dulu saya mau buang” 

Ternyata perkataan ibu itu tanpa sadar mengubah pandangan teman saya yang lagi kritis postpartum sindrom. She turned back to love her younger kid. Wah…saya ikut mbrebes mili mendengarnya. Jadi..walo kita berdua sering ketus-ketusan..debat tak henti-henti, itung2an .. diem2an atau apalah sejatinya konflik; yang jelas ibu saya tetap menganggap saya sebagai teman. 

Ya..saya dan ibu memang punya cara berpikir dan cara hidup yang beda. Tapi entahlah..mungkin perbedaan ini membuat kami kuat dengan cara kami masing-masing. Mungkin dia jadi kuat menghadapi hidup dengan berandai2 seperti kejadian di serial Asoka, Anandi atau Himalaya, kesukaannya. Mungkin saya bisa melepas ketegangan dengan larut dalam gamelan Jawa saat saya menari klasik. 

Mungkin dia jadi sehat dengan pola makan yang ia buat dan yakini sendiri. Sementara saya sehat dengan diet dari karbo yang berlebihan, serta banyak makan masakan rumah. 

But anyway…saya juga tak pernah tahu ‘pertemanan’ kami sampai berapa lama lagi. Siapa yang bisa tahu kapan cerita hidup kita masing-masing akan berakhir kan? Yang jelas ‘pertemanan’ kami bagai ladang belajar. Saya belajar banyak dari impian-impian ibu yang belum tercapai..kerja keras..bahkan luka hatinya. Entahlah apa beliau juga belajar. Saya tak perlu mencek juga. Biarlah waktu yang akan menguji bagaimana belajar kami masing-masing. 

Happy international mother day, mom. 

You are irreplacable. Truly.  

I love you. 

14 Mei 2017



Ini (bukan) kelas parenting
06/04/2017, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Sebagai orang tua dari dua putra yang berbeda kondisi, sulung saya autistik dan bungsu saya bisa dikatakan sinkron sekali dengan tumbuh kembangnya; mau tak mau saya terus belajar. 

Salah satu yang menarik saya cermati adalah perbedaan kemampuan berimajinasi pada mereka. 

Sulung saya Arsa, yang autistik bisa dikatakan memiliki imajinasi yang terbatas. Atau mungkin bila berimajinasi pun, malah membuatnya cemas berlebihan. Yang ia katakan ya demikian adanya. Bila diberitahu adanya acara tertentu atau kedatangan tamu tertentu, kita harus bilang sebelumnya dengan kata-kata sederhana yang membuatnya nyaman dan tak menjadi cemas.  

Apalagi kelebihannya sebagai individu visual adalah memori fotografis. Jadi yang terekam adalah apa yang benar-benar dilihatnya bukan apa yang ada dalam imajinasinya. 

Meski kemudian saya menganalisa lagi, mengapa saat Arsa berproses kreatif, dalam hal ini sedang me’lukis’ gambar sesuatu dengan menjahit sulam, ia kadang tampak seperti berimajinasi. Warna-warna yang nyeleneh dari seharusnya, garis lurus yang kemudian berlekuk. Hmm..saya perlu mengamatinya lebih dalam. 

Berbeda dengan adiknya Adyatma yang sedang masa-masa emas berimajinasi, kalau menurut teori Piaget. Ia suka sekali mendengar cerita, sesuka ia menceritakan kembali apa yang dilihat dan didengarnya sembari bertanya apa, siapa dan kenapa? Spontanitasnya selalu mengajak saya berpikir ketika ditanya sesuatu yang kadang luput saya perhatikan. Apa itu food chain setelah menonton Happy Feet two? Siapa nama kambing di film Robinson Crusoe? Atau apa sih warna nila di pelangi? Apa itu haloween? Atau ucapan spontan sambil buka korden, ini malam, di luar sudah gelap.

Di usia 4 tahun ini, setiap malam ia minta belajar. Dan tak semuanya dari buku cetakan. Malah ia minta dibacakan gambar- gambar..warna..angka dari apa yang sudah digambar dan diwarnainya, dan itu dalam dua bahasa. Bila ia belum paham, teruslah ia bertanya. Tak berhenti. Kadang-kadang saya sampai harus me’motong’ keasyikannya ini karena melihat ucapannya sudah ngawur dan hampir jatuh tertidur. 

Arsa di usia Dy saat ini, bukan tidak mendengarkan saat saya bercerita. Namun ia hanya mendengarkan untuk kemudian menelannya setepat mungkin tanpa bumbu imajinasi. Dulu, saya menggunakan ini sebagai sugesti kepadanya untuk membangun pemahamannya akan sesuatu. Saya akan bicara berulang-ulang agar terekam dan ia paham. 

Arsa kecil bermain dengan caranya sendiri. Memegang mobil-mobilan bukan untuk berandai andai tentang mobil yang berjalan. Tapi semua mobil-mobilan itu dideret bak parkir. Demikian halnya dengan binatang. Semua dibuat baris berderet-deret. Imajinasi Arsa dengan keautistikannya ya seperti demikian. 

Arsa kecil suka mendengar saya menyanyi. Jadi dulu sepanjang ia berangkat sekolah, saya akan bernyanyi sepanjang perjalanan. Semua lagu anak-anak yang ternyata kemudian direkamnya (hafal) untuk kemudian bisa dinyanyikannya sekarang. 

Dy lebih suka saya bercerita.. lebih suka kalau saya membacakan sesuatu karena dengan demikian ia bisa bertanya dan bertanya lagi. Dy tak terlalu suka mendengar saya menyanyi. Karena ia tak bisa bertanya di tengah-tengahnya. Tapi dari cerita, melihat gambar, mendengar saya membaca ; Dy akhirnya mengenal huruf, menulis dan nanti mungkin bisa membaca. 

Arsa belajar membaca juga dengan caranya sendiri. Sebagai visual learner, ia memahami simbol-simbol, gambar-gambar, huruf, kata per kata. Ia lebih suka dibawakan brosur dengan gambar-gambar dibanding dibelikan buku khusus untuk membaca.  

Mengamati dan melalui perkembangan keduanya setiap hari membuat saya sungguh belajar sebagai orang tua. Bahwa teori pengasuhan di kelas parenting manapun perlu sangat lentur. Setiap anak adalah individu yang unik, dengan kondisi, kebutuhan dan yang pasti keinginan mereka berbeda-beda. Berharap output dari asuh didik kita akan murni 100% seperti apa yang kita inginkan apalagi cuma berdasar teori ; sungguh sebuah tindakan yang tak elok. 

Hanya diri kita yang sungguh-sungguh tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan anak-anak. Ya..betul..selama kita, mau terus belajar sebagai orang tua; seumur hidup.  



Selasar
10/03/2017, 4:12 am03
Filed under: Uncategorized

Sengaja nulis ini sebagai self healing. Bahwa (mudah-mudahan) trauma saya berjalan di selasar rumah sakit…akan kian memudar. 

Ketemu hantu? Tidak. Mudah-mudahan tak pernah dipertemukan. 

Tapi ini tentang pengalaman sangat personal. Merasa deja vu; berjalan di samping jenasah papa saat masih smp kelas 2. Waktu itu hampir tengah malam. Selasar rumah sakit gelap dan kosong, rimbunan pepohonan gelap, langit kemerahan. Hanya ada kucing dan tikus yang melintas serta denging nyamuk di telinga. 

Hati saya juga kosong. Air mata saya pelan-pelan mengering sepanjang jalan. Papa yang begitu dekat tiba-tiba kini tak bisa saya ajak bicara, makan mi dan es krim bareng plus jalan-jalan naik bajaj. Rasa kehilangan saya mixed up dengan derit roda brankar rumah sakit..yang pelan-pelan memasuki kamar jenasah. 

Temaram lampu.. beberapa jenasah yang tampak setelahnya, sungguh merobek-robek hati saya saat itu. Melebihi rasa takut anak belasan tahun saat melihat mayat. 

Rasa aneh itu ternyata terus muncul saat melintasi selasar rumah sakit dengan setting yang sama. Melihat brankar berisi pasien sama mengejutkannya dengan melihat perawat mendorong brankar kosong dengan bantal habis ditiduri.  

Walau (untung) tak ada saat saya hendak melahirkan. Karena rs ybs tak memiliki selasar yang bisa membuat saya deja vu…seperti layaknya selasar rumah sakit besar atau rumah sakit pemerintah. 

Kali terakhir adalah ketika mama saya mau tak mau diopname minggu lalu. Mengikuti brankar mama sejak di ugd lalu melewati selasar yang panjang, lebih merobek-robek hati saya dibanding melihatnya meringkuk dalam ruang ugd yang full house atau harus melewati malam itu tanpa ada satupun yang mendampingi. 

Saya mulai merenungkan…maybe i’m afraid of being death or feel loss. Mestinya saya makin menyadari bahwa kematian bukan akhir, walau tentu secara fisik menjadi tiada. Mungkin saya mesti terus belajar bahwa siklus lahir, tua, sakit dan mati adalah kewajaran dalam hidup  

Memiliki perasaan berlebihan tak membuat hal2 tersebut menjadi lebih bermakna juga buat hidup saya. Bahwa nantinya selasar rumah sakit tak lagi memberi efek traumatis bagi saya, kini berbuah kesadaran baru. 

Bahwa semua fana. Yang abadi adalah kenangan yang kita buat bersama siapapun yang melintas dalam hidup. Sudahkah ia cukup indah atau cukup berharga untuk dikenang? 

I wish. 

Photo credit : Netterku.com 



‘Menaklukkan’ diri dengan menari
11/02/2017, 4:12 pm02
Filed under: Uncategorized

Saya tipe orang yang ga sabaran menunggu. He2..tapi herannya banyak yang bilang saya penyabar (sama Arsa abegeh autistik saya sih mau ga mau deh sering nyetok kesabaran).

Jangankan dikejar deadline kerjaan..orang serumah belum siap saat mau berangkat sekolah/kerja..saya bisa senewen dan panik.

Maunya cepat..maunya bergegas. Maunya sih untuk selalu on time. Tapi pikir-pikir..sikap itu lebih karena saya malu. Malu untuk diliatin sebagai orang yang ga tepat waktu. Bukan karena karakter saya yang sungguh2 disiplin. 

Lhadalah.. anugerah hidup saya ya si autistik Arsa. Yang punya jam dan ritme sendiri. Yang ga bisa diburu-buru. Yang sangat prepare cuma kalau mau jalan-jalan/bepergian naik pesawat atau kereta api. 

Pfiuhhh.. pasrah deh setiap pagi ‘memburu’ semuanya terutama Arsa biar cepat. Belum kalau adiknya yang masih usia balita tiba2 drama. Yah..makin lama aja kitah. 

Lah..kok saya jadi curcol tentang anak-anak. Ini tentang saya. Si overactive mind (yang bikin saya suka susah tidur karena pikiran masih berkelana ke mana-mana) dan si supermultitasking person. Sekali ngapain..nyambinya banyak. Suka merasa bersalah kalau sehari aja ga ngapa2in. Kecuali saya lagi beneran terkapar. 

Dulu saya pikir karena saya tumbuh dan besar di Jakarta. Semua harus serba cepat. Tapi saat saya pindah ke yang kata orang lebih slow seperti Denpasar…sikap itu terus kebawa. Begitupun saat ini di Jogja yang kata orang lebih slow lagi..saya tetap aja ga sabaran. (Untung suami saya sabar hadapin saya..eeaaaa)

Finally saya berpikir. Kok gini caranya saya menghargai hidup? Akhirnya saya memberanikan diri berlatih tarian klasik Jogjakarta di sebuah sanggar. Selain ingin menantang diri..anggap aja ini me time dan waktunya berolahraga. 

Ternyata..walau saya sudah berlenggak lenggok dari kelas 2 SD.. tak semudah itu saya menguasai gerak gerik tari Jogja klasik. Postur tubuh masih terbawa agem tarian sebelumnya…sampe sering ditegur. Pinggulnya jgn ndoyok kayak tari Bali..mbak. Hal yang lucu sebenarnya..karena sepanjang sejarah saya di tari..saya tak pernah benar2 mendalami tari Bali. Betawi iya. Hampir 8 tahun kurang lebih mendalaminya plus jam terbang manggung yang lumayan banyak.

Mungkin kalau tari Betawi..lebih pengaruhi  wirasa saya yang akhirnya cenderung berlenggak lenggok centil daripada mengalir kaya air. Karena joget bagi saya mengasyikkan. 

Itu baru postur badan dan bagaimana saya bergerak. Belum lagi, memposisikan gemulai tangan ..kadang terlalu lebar..terlalu tinggi..terlalu patah-patah. 

Jujur…kali ini menari, saya benar-benar menantang diri untuk lebih tahu aturan. Tahu untuk membatasi gerak tubuh..disiplin dalam mengayunkan lengan..tangan..plus kudu lentur menggerakkan leher saya yg semakin kaku. Sehingga tidak seenak atau seheboh saya bergoyang  tanpa ada lemah lembutnya.

Dan itu sungguh tidak mudah. Apalagi teman sesanggar lebih cocok jadi adik saya atau anak sulung saya bila menikah muda. Sementara… Saya si emak2 beranak dua yang sekian taun membentengi diri untuk kuat hadapi segala masalah..untuk keras pada diri saya biar ga gampang menyerah pada kondisi Arsa yang autistik..untuk ga mudah mellow sama situasi…

Sungguh menari kali ini bak meditasi bagi saya. Menghafal gerak satu tarian memang sudah biasa. Mudah-mudah saja karena saya jarang absen. Namun tetiba saatnya gamelan mengalun…saya bak melangkah masuk dalam lorong waktu. Menuju asal jenis kelamin saya. Menjadi benar-benar perempuan. 

Awal-awal latihan, jujur saya pernah diingatkan untuk memperhalus gerak.. karena saya melangkah dan bergerak seperti penari pria. Oooopppsss. *tutup muka*

Jadilah menari kali ini..saya belajar untuk ‘lemah lembut itu tidak apa-apa’ Sungguh..me time kali ini benar-benar pelajaran. Untuk menantang diri …belajar mengalir seperti air..tak melulu membara seperti api atau keras bagaikan baja. 



Me, my newborn n you..yes youuu ♡
06/01/2017, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

Seorang teman memposting di fb baru-baru ini, yang intinya do’s and don’s saat menjenguk ibu melahirkan. Jadinya..saya pengen cerita juga. Iya saya kan emak-emak juga. N saya udah 2 kali melahirkan. 

Mungkin habis ini saya dibilang ga tau berterima kasih sama perhatian teman, kerabat ato saudara saya atau dibilang mau ‘matiin’ ladang nafkah pemilik baby shop. Ya terserah aja sih. Yang jelas ini blak-blakan saya tentang saat-saat hidup dan mati itu. Lebay..he2..lanjutin dulu baca ya baru komen. 

Mei 2003. 

Kandungan saya sudah tua betul. Jumat sore saat cek terakhir ke SpOg, ultimatum dikeluarkan. Sectio besok..tak bisa ditawar, ketuban mengeruh. 

Semalaman puasa persiapan operasi, tak halangi pemeriksaan akhir. Periksa dalam, istilahnya..saat tangan dokter meraih tepatnya masuk lubang vaginamu untuk menentukan posisi bayi. Diminta rileks, tetap aja tegang. Setegang wajah dr yang bilang, jauh sekali kepalanya..ga ada jalan lahir. Wajah saya yang udah pucat karena belum sarapan..makin pucat aja saat menuju ruang bedah. Tawaran induksi sama-sama tak kami sepakati. Iya kalau merangsang konstraksi, kalau nggak..saya pengsan..trus disectio pula. Sakitnya double. 

Sectio dilaksanakan. Masih terdengar dalam kesadaran bius lokal saya..denting gunting dan pisau bedah bergantian dengan bonus tangisan bayi kencang yang disorongkan dekat wajah saya. Tanpa sadar airmata saya mengalir. 

Ruang pemulihan tidaklah nyaman. Otak saya memerintahkan kesadaran saya untuk cepat pulih. Karena disamping saya seorang bapak pasca operasi amandel berekspresi begitu tak enak dipandang. 

Balik ke kamar perawatan. Lelah..belum sadar sepenuhnya..lapar..dan kaku pasca operasi. Nyeri di luka hilang muncul..yang ternyata semakin menjadi karena perawat lupa menyuntikkan saat obat bius benar-benar menghilang. Saya menangis kesakitan. 

Satu persatu ucapan..teman-teman..murid-murid yang datang bergantian tak bisa membuat saya tersenyum. Karena kondisi saya saat itu ingin meringkuk…tidur lelap..ingin makan juga…ingin menimang bayi..ingin menyusuinya (dan belum bisa). Benar-benar galau saat itu. 

Dan itu tidak terbantu dengan kehadiran orang-orang. Saya stress..wajah saya tak menunjukkan ibu baru yang bahagia. Perawat-perawat tak mau memanjakan dan meminta saya belajar berdiri..belajar jalan. Saya di bawah tekanan. 

Sepertinya dalam sebulan pasca sectio…wajah saya baru berangsur-angsur gembira. (Mungkin yang menjenguk saya di rumah waktu itu bisa menceritakannya) 

April 2013

Sepuluh tahun kemudian. Dalam usia yang sudah masuk masa beresiko hamil dan melahirkan, kandungan saya samgat dijaga betul sejak awal. Secara mental saya lebih siap, siap menyusui total malahan. Walau sempat ada masalah anemia dan hipertensi..saya tetap bumil yang sehat sampai akhir kehamilan. Di minggu-minggu terakhir, flek-flek bermunculan. SpOg sudah ultimatum..begitu flek meningkat atau pecah ketuban segeralah ke rs. 

Saat itu Jumat malam kami baru selesai konsul ke dr gizi untuk masa menyusui dan mpasi. Senin pagi saya akan sectio. Masih sempat ngewedang ronde lagi setelah dari dr gizi. Malam jam setgh 12..tiba-tiba saya ngompol… yang tidak tertahan. Ini pecah ketuban. Telp SpOg dan diminta segera ke rs. 

Tengah malam itu..saat esok pagi umat Hindu merayakan Manis Kuningan, saya malah siap sectio. Semua personel bedah dipanggil kembali..padahal baru saja pulang. Akhirnya jam 1.30 saya sectio. Tapi karena ronde yang saya santap, di tengah-tengah sectio bisa mo muntah segala. Saat mual menghilang dan rasa kantuk menyerang..masih kulirik bayi yang menangis kencang yang disorongkan ke wajahku. 

Habis itu ‘penderitaan’ dimulai. Ruang perawatan benar-benar penuh terutama dengan pasien DBD. Jadi saya harus di ruang pemulihan sampai besok pagi ada kamar kosong. Bayangkan..lelah..ngantuk.. plus tensi saya yang tinggi..mau tak mau berbaring dalam keadaan telanjang berbalut baju bedah..di atas spon brankar yang dingin. Lucky my hubby stay beside me. 

Sambil bercerita ngalor ngidul, dengan sirik kami memandangi seorang perawat jaga yang tertidur lelap di kasur yang lebih empuk. Tidur2 ayam..nyaris tak bisa terlelap kami berdua.

Esok pagi..saya bersyukur bisa pindah ke kamar perawatan kelas 1. Langsung saja ada yang berkunjung. Malah teman-teman itu langsung mengiringi kepindahan saya ke ruang vip. Setelah itu pengunjung silih berganti. Sampai malam hari. Jadi saya dan suami tak sempat memejamkan mata. Itu hampir 24 jam. Dan tensi saya pun naik. 

Bersyukur kali kedua ini..saya bisa segera menyusui dan lebih pulih pasca sectio. Tapi kelelahan yang amat sangat akibat begadang itu dan tensi saya yang tinggi…belum juga terbayar dengan kedatangan teman-teman..rekan kerja dan kerabat, sampai kami pulang. 

Dan di kelahiran bayi kedua ini..saya masih menerima tamu-tamu silih berganti di rumah sampai si kecil genap 2 bulan. Mulai dari yang personal sampai rombongan. 

Nah… dari dua peristiwa itu saya mau menyimpulkan dan akhirnya saya praktekkan juga kepada ibu2 yang lain: 

*ini di luar kejadian khusus..emergency..ibu/bayi dlm keadaan darurat*

  • Plissss…sebaiknya tidak menjenguk di hari pertama ibu melahirkan. Biarkan ibu istirahat, tidur dan memulihkan diri. Lebih baik saat ibu sudah akan keluar rs hari itu. (Pernah jenguk teman di hr terakhir aja, wajahnya masih belum sepenuhnya ‘present’ waktu diajak bicara, atau seorang teman jahitannya sampai membengkak karena kebanyakan berdiri menyambut tamu)
  • Plissss…datanglah saat jam berkunjung walaupun kamarnya vip. Reschedule lah bila ingin menjenguk malam menjelang tidur. Anda tidak tahu kondisi dan stamina ibu dan ayah si bayi. Plus tak mau menganggu masa-masa belajar ibu menyusui kan.  
  • Plissss…kalau mau mengajak ngobrol..curhat..diskusi, sebaiknya berkunjung saat ibu dan bayi sudah pulang dari rs. Dalam suasana yang lebih akrab dan intim..di rumah. 
  • Plisss…tak usah berdiskusi tentang mana proses melahirkan yang lebih mulia..normal atau sectio. Mana yang lebih mulia menyusui atau memberi sufor. Setiap ibu dan bayi punya perjuangan yang tak bisa dibanding2kan. Don’t make them stress with this topic. 
  • Plissss..bila anda dari luar…cucilah tangan dulu sebelum menggendong bayi baru lahir. Ingat juga memfoto bayi dengan fitur flash/blitz tidak diperkenankan
  • Plissss..ini soal kado. Tak mau kado anda mubazir kan atau diwrap ulang untuk diberikan ke bayi lain. Beri amplop merah untuk penghargaan pada ayah dan ibu atau buku parenting, resep mpasi, dll…daripada (maaf) baby toiletries (bedak..sabun..sampo) alat makan, atau…bila inginnya memberikan kado si bayi berikanlah pakaian untuk bayi saat 9 bln atau 1 tahun nanti. Dan..kalau si bayi punya sibling..boleh juga diberikan hadiah menjadi kakak. Buku misalnya.
  • Plissss…bila mungkin tidak datang dalam rombongan besar. Tak ada tempat duduk…mengurangi oksigen dalam kamar..serta membuat suasana menjadi riuh. Ini bukan arisan lho ya. 

Ya…maaf kalau sepertinya saya tidak mementingkan tali silaturahmi. 

Tapi..jujur..sejatinya menerima ucapan dan doa yang tulus walau by phone..by social media saya sudah sangat bersyukur dan berterima kasih. Apalagi bila sahabat-sahabat kesayangan tersebut bisa hadir dan memberi support…itu akan sungguh membahagiakan. 

Bukan cuma.. ‘saya sempatin lho ya..’ atau karena ada maksud ‘ ini istri atasan/istri kolega/istri partner’ jadi musti dijenguk. Yang akhirnya tanpa sadar ‘mengganggu’ si ibu yang baru dan sedang pemulihan. 

Truly and absolutely…peristiwa melahirkan apapun tekniknya adalah pengalaman personal…antara hidup dan mati…proses inisiasi menjadi seseorang yang baru yang akan dipanggil IBU. 



Bukan tentang foto2 instagramik, tapi……
01/01/2017, 4:12 am01
Filed under: Uncategorized

Waktu sahabat dan keluarganya hendak berlibur akhir tahun di Jogja, kami sempat melirik-lirik akun di media sosial tentang tujuan wisata baru di Jogjakarta. Foto-fotonya cukup bikin baper buat ke sana. Entah memang beneran indah atau mainan sotosop..he2

Tapi… rombongan kami nanti random secara usia. Ada ibunda usia 75 tahun, ada balita 3 tahun setengah plus ada si kakak abg autistik. Sisanya ya ada abg lain yang lagi pengen belajar dan emak bapak reguler kayak saya. 

Jadi… inilah akhirnya liburan kami. Disini sekalian tips dan info-info nya untuk ke sana. 

1. Borobudur

Tips rute : hindari jalan Magelang. Kami start lewat Godean dari perempatan Demak Ijo dstnya (pakai google map ya)

Ternyata lebih cepat. Keluar dari jalan shortcut itu sudah area Borobudur. Tengah hari saja..parkiran sudah nyaris penuh. Plus dikerubungi pedagang acung yang menawarkan topi..kaus..minuman dan payung sewa. Ga bakal maksa kok kalau kita ga tunjukkin keinginan belanja.

Tips yang wajib dipakai/dibawa : pakaian yang sejuk nyaman, walking shoes atau sepatu gunung, ada topi atau selendang pakailah. Tapi payung lipat ternyata paling efektif untuk panas menyengat di sana. Ga punya..sewa aja . Harga mulai 5-10rb sekali perjalanan. Topi bertuliskan borobudur juga ada dan dihargai 20rb. Kamera..phone camera..tongsis..kacamata hitam silakan dipilih untuk dibawa berdasar kesukaan.

Ada sih yang berpakaian cantik  dengan kaftan satin berbordir..rambut sasakan..sepatu pantovel kayak mau kondangan,atau mini dress buat casual party. Busettt……katanya sih untuk selfie atau wefie cantik. Tapi..saya ga tau segitu niatnya selfie apa dia ga ‘meleleh’ di jalan atau roknya sobek saat naik turun tangga borobudur yang setengah dipanjat.  

Walau tidak diperbolehkan bawa makanan..(terutama tidak boleh makan di pelataran candi), tumbler wajib bawa deh. Panasnya..bisa buat kita mau minum terus dan terus. 

Toilet berbayar terpusat di beberapa lokasi. Biayanya 2rb rupiah saja. 

TIKET MASUK : dewasa dan remaja 30rb, anak-anak 15rb, balita free. 

Ibu saya yang sepuh menunggu di area pusat audio visual di dekat pintu masuk, sehingga tak terlalu jauh saat dijemput menuju pintu keluar.

Yang perlu menjadi catatan : sebaiknya mematuhi peraturan yang ada dengan tidak memanjat candi dan stupa-stupa demi kelestarian bangunan bersejarah ini. Karena kenyataannya, walau sudah dijaga banyak security di area puncak, ada saja wisatawan yang nakal memanjat..sehingga sempritan atau suara security lewat megaphone untuk menegur dan mengingatkan terus terdengar. 

Perjalanan dari pintu masuk lalu memanjat dan menuruni candi sampai pintu keluar cukup menguras keringat di siang yang terik.


*kami tidak makan di area wisata, jadi tidak bisa merekomendasikan kios makanan yang oke* 

Oh iya..jalan keluar dipenuhi sentra pedagang kerajinan dan makanan, termasuk robot dan tokoh dongeng untuk kita berpose dengan biaya sukarela. 

2. Ullen Sentalu

Tips rute : hindari jalan Kaliurang terutama dari kota. Kami mengambil jalan Palagan (juga pakai goggle map) sehingga keluar langsung di daerah Pakem – Kaliurang km 14.

 Tips yang perlu dibawa/dipakai : bekal makanan. Resto di Ullen Sentalu yg bernuansa Belanda sebenarnya oke banget jenis makanan dan minumannya. Tapi siap-siap waiting list di saat kita udah kelaparan. Ada sih penjual bakso tusuk, buah salak maupun jadah tempe di area parkir museum. 

Jadah tempe ini sejenis uli (dari ketan) yang gurih dan dimakan dengan tempe bacem. Rasanya enak sih..tapi kalo kita punya gangguan lambung dan kelaparan.. hati2 dengan rasa tak nyaman setelahnya. 

Oh iya ada catatan ttg kunjungan ke museum secara berkelompok yang sudah ada SOP nya ini. Sepertinya pihak museum perlu menyiapkan toilet dekat loket pendaftaran. Karena jarak tempuh dari kota Jogja ke Ullen Sentalu cukup jauh (untuk mau buang air kecil)

Waktu rombongan kami kemarin yang di mix dengan orang lain..ada seorang ibu yang akhirnya mengacaukan sedikit jadwal sesuai SOP. Karena ia nyelonong menuju toilet tanpa bisa dicegah..lalu diikuti orang-orang lain juga. Sehingga sang edukator (guide museum) sempat dimarahi supervisor karena membiarkan rombongan terpecah2. 

Penjelasan tentang museum sangat menarik karena membahas hal-hal keperempuanan di kraton Jogja dan Solo yang tidak terlalu diungkap bila kita berkunjung ke kraton.

Ada juga kisah Gusti Nurul yang sangat menarik plus kanjeng Ratu Mas yang bahkan minuman racikannya disajikan untuk para pengunjung. Campuran 7 rempah-rempah yang menyegarkan dan membuat panjang umur. 🙂

NOTE : kita tidak diperkenankan untuk selfie/wefie atau berfoto selain di area yang ditentukan atau di luar museum. 

TIKET MASUK : 30rb dewasa dan balita free 
 

3. Taman Wisata Gunung Merapi – Kaliurang — Goa Jepang

Hanya beberapa menit dari Ullen Sentalu…kita sudah sampai di area Taman Wisata Gunung Merapi. Koreksi ya kalau saya keliru..sepertinya ini tempat paling puncak di area Kaliurang. 

Area parkir cukup luas dengan biaya 5rb saja plus tiket naik ke area goa Jepang masing-masing orang 3rb saja. 

Petugasnya ramah-ramah, bahkan bisa menyarankan untuk singgah di warung terdekat di pintu masuk, untuk makan siang dulu. Menu cukup variatif mulai dari nasi pecel, tongseng, mi goreng, soto sampai sate kelinci. Rasa lumayan dan pelayanan cepat dan harganya murah. 

Di area parkir ini ternyata banyak monyet berkeliaran. Cukup jinak sih. Mendekat saat kita menyodorkan makanan tapi menjauh saat kita dekati.

Sarana toilet pun cukup banyak dengan biaya 2rb rupiah. 

Jalan menuju Goa Jepang cenderung sempit dengan pinggiran langsung jurang..dan jarak tempuh yang jauh. (Itu kata teman saya sekeluarga plus Arsa yang excited) . Mereka pun menyerah sebelum sampai tujuan. Trekking ini sungguh tidak direkomendasikan untuk membawa anak balita maupun lanjut usia. 

4. Gardu Pandang Kaliurang – Festival of light. 8 Desember – 29 Januari 2017

Namanya festival lampion ya harusnya datang ke sana saat senja menggelap menuju malam. Tapi karena ini masih satu area dengan dua wisata barusan, ya sekalian saja. 

Begitu masuk parkiran, petugas langsung menghitung untuk 5 dewasa, 2 remaja dan 1 balita biayanya 20.000 rp. Si bapak juga bilang datang malam lebih bagus lagi..tapi dengan resiko area foto yang menyempit. 

Mulailah anak-anak excited melihat bentuk lampion yang bagus di waktu siamg dan cantik di waktu malam. Ada berbagai bentuk hewan nyata jaman sekarang..jaman purba maupun hewan mitos seperti naga maupun simbol 12 zodiak China. Tokoh dongeng..superhero..istana..candi borobudur ada juga di sana.

Penasaran dengan gardu pandang.saya pun naik sama anak-anak. Wah indah banget pemandangan Kaliurang saat mendung menggelayut. 

Yah..harusnya kalau malam hari bakal lebih keren lagi nih. Apalagi sepanjang jalan menuju sana spoiler lampion bentuk berbagai hewan sungguh mempercantik Kaliurang. 

Cuma..jangan lupa berjaket ya kalau di malam hari, sore itu saja sudah cukup sejuk dan semriwing. Tapi kata bapak petugas, datanglah lebih sore biar dapat tempat parkir. 

5. Hutan Pinus Mangunan, Bantul

Berbekal google maps lagi, kali ini kita eksplor yang dibilang orang kekinian. Lewat jalan Imogiri..ya karena masih dekat dengan area makam raja-raja di Imogiri, Bantul. 

Perjalanan yang tadinya rata, mulai berkelok dan menanjak. Lama kelamaan tanjakan makin curam dan mobil harus bergantian dari dua arah. 

Entah karena kekinian atau memang hari Minggu, tempat ini sungguh ramai. Ada dua spot di hutan pinus ini. Karena tak dapat tempat di spot pertama yang sungguh ramai, kami menuju spot kedua yang malahan jauh lebih sepi, nyaman dan indah. 

Tempatnya terorganisir rapi, oleh karang taruna setempat yang berseragam batik, rapi, ramah terkoordinasi pakai ht dan sangat informatif. Saat memarkirkan mobil, kami hanya membayar 10ribu rupiah saja.

Tempat makan pun terorganisir, kata bapak pemilik warung, hanya boleh untuk warga setempat yang mendaftar.Menu makanan cukup variatif, murah dan lumayan untuk ukuran warung di area hutan seperti itu. 

Katanya sih area camping ground juga sedang dipersiapkan, mengingat minat dan permintaan untuk berkemah di area tersebut makin meningkat. Namun sekarang kalau ada yang mau berkemah, diperbolehkan di area hutan namun waktu pasang tenda harus malam hari dan waktu lepas tenda harus jam 5 pagi keesokan harinya. 

Toilet yang tersedia memang belum banyak. Tapi koordinasi mereka untuk menyediakan air bersih di hutan seperti itu pantas untuk mematok harga 2rb rupiah/orang. 

Masuk ke hutan pinus, banyak spot foto yang sungguh menarik. 

Di perjalanan…di spot-spot foto yang disediakan plus di gardu pandang berjarak 100m dari pintu masuk. Untuk ke gardu pandang..jalan cukup terjal dan turun naik. Karenanya pakai sepatu olahraga atau sepatu gunung, wajib hukumnya. Di kanan kiri banyak pohon nanas hutan dengan buahnya yang masih muda. Waspada ya kalau-kalau ada 🐍 ular yang melintas jalur trekking kita.

Harusnya sih kalau mau dapat spot foto yang lebih bagus lagi..harus subuh-subuh sehingga ada efek sunrise dan kabut di sekitar. 

*saran : jangan merokok dan buang sampah sembarangan ya.  Rawan kebakaran nihhhh* 😣

Yang jelas hutan ini sungguh selfie-able.

6.Kebun Buah Mangunan

Areanya tidak jauh dari hutan pinus. Tiket masuk tidak dipatok mahal, hanya untuk biaya parkir saja.Ada dua area di kebun ini. Satu tempat kebun buahnya. Sayang..begitu ramainya wisatawan, sampai kami tidak tertarik untuk mengeskplor lebih jauh. Yang sempat terlihat area orang berdagang juice buah-buahan. 

Menuju puncak kebun buah..jalur jalan harus dipandu petugas karena hanya muat satu kendaraan, sangat curam dan hanya untuk kendaraan berkondisi baik. 

Setelah tiba di puncak, kami baru tahu ternyata momen yang paling baik adalah saat subuh atau saat senja waktu puncak berkabut. Siang hari kurang lebih jam 3an seperti saat itu, yang ada adalah terik matahari yang menyilaukan, angin kencang dan debu beterbangan. 

Sepertinya pihak pengelola sedang berbenah, karena walaupun sudah ada spot untuk foto-foto, area lain masih dalam pembenahan. Tampak dari beberapa spot bahan bangunan yang berserakan. 

Untunglah toilet cukup tersedia, warung makan cukup banyak, pengaturan parkir dan informasi arah ke luar menuju kota Jogjakarta cukup membantu.  

Jadi mungkin nanti tunggu momen yang lebih baik untuk kembali ke sana dan mendapat spot catik kebun buah ini. 
Bagaimana ulasan saya? Mudah-mudahan cukup informatif ya… 

Sila saran dan masukannya untuk perjalanan lain kali.

Yang mau share silakan..demi kemajuan pariwisata Jogjakarta dan tentu saja Indonesia ya. 

Atau mau ikut wartakan..yuk…ga hanya foto-foto cantik tapi juga info-info serta tips asik tentang tempat wisata tersebut. 

 



‘Harga’ sebuah karya 
31/12/2016, 4:12 am12
Filed under: Uncategorized

Semenjak Arsa, putra saya yg autistik memulai wirausaha dengan memproduksi karya jahit sulam untuk dimiliki para kolektor, saya semakin respek pada para pengrajin. 

Karena untuk sebuah karya yang dihasilkan, apalagi karya buatan tangan kerja keras dan proses berlangsung tak selalu mulus. Tergantung mood, kondisi fisik, bahkan cuaca. Cuaca? Apa hubungannya? Nanti ya..terus baca deh..

Bukan berarti yang made in pabrik ga ada kerja kerasnya ya..nanti ada yang pentung saya lagi. Hi..hi..

Ya..balik lagi ah. Karya tangan atau handmade memang menjadi langka sekaligus kembali populer akhir-akhir ini. 

Langka karena waktu produksi kalah bersaing efektif dengan karya mesin, yang bisa memproduksi masal. Populer karena karya tangan biasanya limited. Hanya satu atau dua saja. 

Seiring dengan wirausaha Arsa, saya pun berwirausaha. Tak jauh-jauh sih masih seputaran kain. Mulai dari lurik..lurik batik..batik grosiran..sampe batik yang kemudian ingin saya populerkan. Batik pewarna alam. 

Nah…yang terakhir saya sebut ini, memang perlu proses dan kerja keras. Saat saya keliling-keliling Jogja..kisah ttg proses dan kerja keras pengrajin sungguh menarik dicermati. 

Pewarnaan batik secara alami dengan daun..kulit pohon..buah..batang tanaman memang tak mudah, namun sehat dan ramah lingkungan. 

Beda takaran..warna berbeda. Beda jumlah celupan..beda kualitas warnanya. Apalagi saat penjemuran..beda intensitas cahaya matahari..warna batik bisa berbeda walau dengan takaran dan jenis pewarna yang sama. Cuaca mendung apalagi hujan terus menerus bisa menghambat proses. Walau saat ini..pengrajin batik tulis tak harus berpuasa sampai karyanya benar-benar selesai..tapi untuk menghasilkan karya yang indah..komitmen sungguh-sungguh berperan. 


Ada sih yang sudah menemukan solusi untuk pewarna alam yang tak mempermasalahkan cuaca, yaitu dengan membuat bahan-bahan alam itu jadi formula bubuk yang cepat kering . Tapi tetap saja tak bisa menghindar dari prosesnya yang kompleks, sehingga banyak pengrajin batik menyerah dan kembali ke pewarna sintetis yang paparannya malah bersifat karsinogenik

Apresiasi untuk kompleksitas proses karya-karya buatan tangan ini memang masih minim. Pertanyaan, ” kenapa mahal?” sungguh mematikan tanpa diikuti hal yang melatarbelakanginya..apalagi bila sudah dibandingkan dengan karya massal yang murah.

Karya-karya jahit sulam Arsa lebih rumit lagi. Ya..tentu karena Arsa autistik. Walau bagi individu autis mengerjakan sesuatu yang rutin justru menyenangkan baginya, mood tak bisa dipastikan selalu stabil. Kalau sedang tidak mood…mustahil memintanya melanjutkan karya tersebut. Spidol untuk menggambar di kain saja hilang, dia sudah kesal. Belum lagi kalau pemidangan rusak..benang habis saat belum selesai atau benang kusut…warna benang yang diinginkan tak ada…ibunya cerewet komen jahitannya.


Jadi…paham kan kenapa produk-produk handmade menjadi istimewa?Karena ia sungguh terlalu berharga untuk di’instan’ kan.