yukberbagi!


Nyaman
26/01/2016, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

Sebagai individu autistik…Arsa punya standar kenyamanan yang mungkin beda dengan saya, adiknya atau org lain.
Terutama kenyamanan yg berkaitan dengan kehadiran orang2 di sekitar atau kehadiran Arsa di acara atau tempat tertentu. Arsa cukup peka akan hal ini. Mungkin karena ia punya sensor yg unik ato malah hasil belajar peristiwa yang pernah dialaminya. Atau…ini yg terpenting, karena ia jujur untuk bersikap perilaku. Ga ada yg artifisial..ga ada pasang muka manis ato berbasa basi busuk…yg jelas untuk ini Arsa ga bisa.

Mudah kok tahu Arsa nyaman apa ga… Kalau dia ga menggerutu saat kita memasuki tempat baru atau menghadiri sebuah acara. Malah excited, curious dan sampe lama kita ngobrol bla bla..ha..ha..hi..hi… dia tenang2 aja..itu artinya dia nyaman. Tapi kalo sejak datang sudah menggerutu (kami sebut suara tawon) dan tampak gelisah..biasa karena ia tak merasa nyaman.

Nah..untuk kehadiran org lain. Kalau dia menunjukkan ketertarikan , sebut saja si X dan Y…dengan berusaha mendekat..menyentuh atau senyum2 simpul saat mengucapkan kata perkenalan….itu bukti kehadiran X dan Y membuatnya nyaman.
Tapi..kalau belum apa2 ia sudah bilang ga…ga…atau menolak bersalaman..atau menunjukkan kegelisahan saat X dan Y bersama kami…tanpa berusaha menutup2i Arsa jelas kurang nyaman atau bisa dibilang ia ga suka akan kehadiran X dan Y.

Arsa sih enak ya…jujur tanpa basa basi..org maklum karena dia autistik. Lalu kita gimana?
Tak mudah untuk jujur bersikap seperti Arsa. Ada keinginan berusaha menghargai..padahal dalam hati sudah tak suka. Ada rasa tak enak hati jujur bersikap…karena jaga perasaan dan masih ada hubungan pertemanan atau keluarga.

Saya pribadi..orgnya juga bukan tipe basa basi atau bertutur kata semanis madu. Tapi ya suka setengah mati jaga perasaan. Maunya sih kalau ga suka bisa langsung bilang ga suka. Ternyata kemudian saya sadar ini ada kaitan dengan instink saya.

Begini ceritanya.
Dulu..sahabat dekat saya ditaksir cowok. Dari pertama ketemu…feeling saya langsung ga enak. Saya rasa si cowok mau brainwash sahabat saya. Jadi saat itu mati2an saya menghalangi kedekatan mereka. Hubungan dgn sahabat pun jadi renggang. Karena ada yg tambahin bumbu…saya cemburu karena saya pasangan le*bia* nya.  Wahhh…
Tapi belasan tahun kemudian..sahabat saya cerita ternyata cowok itu menggunakan ilmu pelet utk bisa memacari sahabat saya. Sahabat saya sampai harus istirahat total beberapa lama karenanya…
Hiiii….serem yah.

Nah ternyata feeling saya itu masih suka terasa beberapa tahun kemudian. Kayaknya alarm ketidaknyamanan saya langsung ‘bunyi’ saat melihat hubungan seseorang dengan orang lain yang menurut saya ga menyenangkan. Terutama kalau saya cukup dekat dengan salah satunya. Duh rasanya ga nyaman banget ngeliat segala sesuatunya. Sayangnya kali terakhir alarm itu bunyi…saya belum bisa jujur untuk menyatakan pendapat terhadap hubungan tersebut. Pfiuhhh…susah juga ya..jadi mendem di hati.

Ya…tapi balik lagi soal nyaman ga nyaman. Ada satu pernyataan yg jlebbb banget buat saya. Dapat dari ceramah di tv siapa gitu yg bilang..
“Jangan sampe deh… kehadiran kita tak diinginkan…ketidakhadiran kita diharapkan”

Saya sih ga mau… πŸ™‚

Advertisements