yukberbagi!


SAKIT
29/04/2016, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Di rumah kami lagi wabah batuk dan pilek. Sakit kok ya kompakan…..

Tapi…kalo fisik yang sakit…bukan sakit kronis ya…, dengan perawatan dan penanganan yang tepat..sepertinya tak terlalu sulit untuk menghadapinya hari demi hari. .

Tak demikian halnya dengan sakit yang bukan fisik. Sakit hati tepatnya. Coba aja kita berada di situasi kita ga suka sama seseorang terutama sikap dan perilakunya. Biar secara fisik kita sehat..tapi yang di dalam selalu merasa sakit.

Rugi sih…tapi sebagai manusia..tak mungkin kita terhindar begitu saja dari sakit hati. Mungkin kita sudah ‘mengatur’ untuk tidak mudah sakit hati pada orang lain. Namun kita tak kuasa mengatur orang yang tak sakit hati pada kita. Ujung-ujungnya kita juga bisa kena pelampiasan sakit hatinya itu.

Maunya sih kita sehat-sehat selalu..secara fisik dan hati. Dengan mengubah gaya hidup..menu makanan..berolahraga..mengubah pola pikir…beribadah…
Tapi sekali lagi kita tetap manusia.

Saat kita tak bisa menghindar; minimal saat sakit fisik..kita tak menggunakannya untuk menarik simpati orang/mempermainkan belas kasihan orang…
Atau saat sakit hati…kita tak berniat mengumpulkan massa untuk membenci orang tersebut.

Kalo kita masih melakukannya… sungguh kita benar-benar SAKIT.



Jahitan Arsa merantau ke Buitenzorg
20/04/2016, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Arsa, putra sulung saya yang didiagnosa ASD (autism spectrum disorder) saat usia 2thn8bln mulai beranjak remaja. Bulan depan usianya 13 tahun. 
Dari sisi akademis..dia bukan bright child. Bukan tidak cerdas..namun kemampuan dalam calistung 4 atau 5 tahun lebih ‘rendah’ dari teman seusianya.  

Jadi dalam hal ini sebaiknya tidak berasumsi semu bahwa semua individu autistik pasti cerdas kayak Temple Grandin.
Atau malah jangan-jangan ada orang tua yang berharap anak autisnya bisa kayak Einstein nanti.
Ya..yang luar biasa bright juga ada..tapi anak autistik yang underachiever atau slow learner juga ga kalah banyaknya.

Sejak tahu kemampuan akademis Arsa hanya basic, saya tak berharap banyak ia mampu belajar sampai universitas atau nantinya bekerja sebagai orang kantoran. Walau sempat terpikir…kalau punya ijasah..asik juga ya. Maksudnya diikutkan kejar paket gitu. Tapi sesudah itu, ijasahnya untuk apa?
Ujung-ujungnya saya belajar untuk realistis. Toh..IMHO untuk bisa hidup di atas kakinya sendiri..seseorang tak perlu kuliah atau bekerja kantoran.

Karenanya saya mulai fokus untuk menelusuri apa yang menjadi kelebihannya. Dan itu harus bermula dari tahu apa yang disukainya. Jujur itu bukan hal yg mudah. Karena Arsa belum mampu mengekspresikan..apalagi soal passionnya.

Pernah Arsa menunjukkan ketertarikan pada memasak. Tapi saya melihat ia memang suka segala aktivitas di dapur termasuk suka menyalakan kompor (pfiuhhh bahaya banget yah). Itu saja. Bila sudah menguasai menumis sayur misalnya..ya ia akan saklek dengan urutan2nya. Tidak ada eksplorasi lebih jauh.

Ketertarikan Arsa yang kemudian menyita perhatian saya..  berkaitan dengan kesukaannya pada handicraft. Dari awal belajar gunting tempel..meronce..dll tangannya memang trampil. Detail dan rapi pula karena ia cenderung perfeksionis.
Ini terkait dengan motorik halus, yang untuk sebagian anak autistik masih menjadi hambatan yang besar. Arsa sebaliknya. Ia lemah di motorik kasar. Tidak trampil berolahraga (kecuali renang) dan belum bisa bersepeda sampai saat ini.

Saya pun mulai ingin mengeksplor motorik halus ini. Mulailah saya membeli kertas dengan pola gambar yang sudah ada lubang-lubang kecil untuk menjahit.

image

Arsa suka sekali mengerjakannya. Mulai gambar mobil…buah-buahan..rumah dll.
Dari kertas..mulailah saya eksplor kemampuannya untuk bisa menjahit di kain strimin.
Mula-mula tulisan namanya. Biar mudah saya beri titik-titik pake spidol. Dan mulailah Arsa di dunia jahit menjahit dan sulam menyulam ini.

Di Rumah Belajar Autis Sarwahita tempatnya sekolah…Arsa memang dikenal yang paling trampil menjahit dengan detail..rapi dan cepat dibanding teman-temannya yang lebih trampil painting atau coloring. Pernah ia beserta seorang temannya mengerjakan (paling banyak) boneka jari untuk anak-anak penderita kanker. Saya jadi makin termotivasi untuk mendorongnya berkarya di dunia jahit menjahit ini.

Akhirnya beberapa bulan yang lalu saya memberanikan diri membingkai karya-karya Arsa yang telah selesai 4-5 tahun lalu. Ada yang diperjelas atau ditambah ini itu sebelumnya. Lalu memberanikan diri (nekad malah) mempostingnya di Facebook saya. Neneknya Arsa yang pesimis..siapa juga yang mau beli karya sulam seperti itu. But she’s wrong…  Responnya ternyata luar biasa. 4 dari 5 karya yang dipasang langsung booked dan sold. Malah ada beberapa yang order lagi.

Dimulailah perjalanan saya melatih Arsa berwirausaha. Mula-mula saya  yang keluar modal dulu untuk membelikan kain dan melengkapi aneka warna benang. Setelah itu saya browsing gambar..membantu menjiplak…memberi titik-titik ..trus membawa ke tempat bingkai plus jadi marketingnya di fb dan beberapa app chat.

Menjahit buat Arsa kayak candu. Ia dengan senang hati melakukannya. Seperti melepas stress menurut saya. Arsa menjadi lebih tenang dan berkonsentrasi saat proses. Ada teman yang sempat bertanya..”Arsa ga capek ya jahit terus?” Saya bilang..justru kalau tidak tahu mau melakukan apa..Arsa mulai menguliti bekas luka gigitan nyamuk atau mem’bongkar’ jahitan baju. Destruktif banget ya… Tangannya terlalu ‘iseng’ bila tidak diberdayakan.

Nah..di perjalanan saat order Arsa silih berganti..(sekarang Arsa pakai uangnya sendiri lho untuk membeli benang dan memproses orderan) ; seorang teman penggiat acara untuk anak berkebutuhan khusus (terutama autis)  Bogor yaitu Ade Soviany tiba-tiba menghubungi dan menyatakan Arsa boleh mengikuti pameran di acara Festival Anak Istimewa, Deklarasi Bogor ramah ABK tgl 22-24 April 2016 di Botani Square lt 2, Bogor. Acara yang bermula dari ide komunitas..kemudian bersambut dukungan dari pemerintah kota Bogor.
Sungguh surprais yang menyenangkan. Mulailah kami bersiap.

Kali ini saya juga mau Arsa tak cuma menjahit saja. Karena lahir di Bali dan kali ini sebagai satu-satunya anak Bali yang ikut festival ini. Kami putuskan mengambil gambar Barong, anak Bali dan layangan Janggan serta tas bersulam dari bahan kain Bali.
Arsa juga membaca dan menuliskan makna dari gambar-gambar tersebut. Saya yang browsing sih dari berbagai media.

image

Barong diselesaikan dalam waktu kurang lebih setengah bulan..Rare Angon dan layangan Janggan dalam waktu seminggu lebih…sedang tas berbahan kain Bali…sulamannya sudah dibuat sejak tahun 2011 hanya ditambah sana sini saja sebagai pemanis.

Bangga? Iya..karena sulaman bertemakan budaya Bali ini tingkat kesulitannya tinggi. Ada manik-manik..ada yang memakai flanel untuk gigi Barongnya…untuk layangan Janggan dan awan2nya..
Tapi ternyata Arsa mampu mengerjakannya.

Waktu mau buat framenya ada yang sempat bertanya… dan senangnya saat owner toko frame bilang…”ini dijahit lho ya…sama putranya ibu ini. Dia autis tapi trampil sekali”
Senangnya ada yang mengapresiasi. Karena si owner tahu bagaimana perkembangan sulaman Arsa dari waktu ke waktu.

Yahh…jalan kami masih panjang. Bermimpi dan berdoa…. suatu saat Arsa bisa mandiri mengerjakan semua tahapan ini termasuk memesan frame dan mengupload ke page fb nya dia (yg akan saya buat dan jadi hadiah saat ulang tahun dia bulan depan) . Plus mulai mengumpulkan modal untuk makin memperdalam ketrampilannya, termasuk mengajarkan Arsa menggunakan mesin jahit dan membordir.

Saya percaya..Arsa saja yang masih daydreaming…masih teriak-teriak…masih terus belajar pemahaman dan meningkatkan kemampuan berkomunikasinya…BISA. Berarti teman-temannya yang lain harusnya juga BISA.
Ayo ayah bunda..dorong dan berdayakan anak2 ini hingga mereka punya bekal untuk mandiri nanti.

image

Arsa dan karya-karyanya.
“Jahitan Arsa merantau ke Buitenzorg”



“Burung”
11/04/2016, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Si kecil saya yang baru 3 tahun lagi seneng2nya nambah kosa kata baru.
Nah berkaitan dengan giat2nya toilet training..saya pun perlu mengajarkan nama2 anggota tubuh yang terkait. Tentu saya menjelaskannya dengan bahasa resmi..bahasa ilmiah. Bukan bahasa gaul…atau malah bahasa pasaran. Semacam ‘burung’ ,  tit*t. Apalagi k*n**l.

Ibu saya sempat komen karena tiba2 cucunya fasih bilang penis.
Itu waktu ibu saya bilang. ” Ngapain burungnya dipegang2 Dy.. mau pipis?” Si kecil saya menjawab. “Ini bukan burung. Kalau burung bisa terbang. Ini namanya penis”
Ibu saya kaget
“Wah…nanti kamu ditegur orang..kenapa kecil2 ngomong penis”

Saya spontan komen. “Orang itu yg mustinya ditegur. Ini saya justru ajarin anak2… bahasa/sebutan yang bener. Kalau anak saya bilang k*n**l  baru boleh ditegur karena itu bukan bahasa yang tepat untuk  diajarkan ke anak-anak. Ajarin nama2 anggota tubuh harus yang ilmiah. Biar dia paham sama apa yang dimilikinya. ”

Ibu saya diam saja..tak tahu harus komen apa.

*he…mudah2an ga ketemu juga org yg negur ato kepo krn anak saya membahasakan anggota tubuhnya secara ilmiah*



Toilet training
09/04/2016, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Biar kita sebagai orang tua ga pernah jadi lulusan sekolah orang tua..ada satu hal yang mau ga mau harus kita ajarkan ke anak.
Toilet training!

Ya..masa kita biarkan anak kita yang udah ga bayi lagi untuk ke mana2 pakai diapers sekali pakai. Pebisnis sih membaca ini sebagai sebuah peluang. Makanya ada diapers2 berukuran ekstra sampai si balita berbobot 25kg. Astagahhh…ga kebayang anak saya udah segitu bobotnya..trus ke mana2 masih pake diapers.

Putra saya yang sulung, Arsa yang autistik udah ga pakai diapers sejak 2 tahunan. Terakhir itu ia sukarela melepas sendiri saat opname kedua kali di rs karena diare dan dehidrasi. Bayangin tahu2nya dia minta pipis ke toilet saat tangan masih tertusuk jarum infus. Antara lega karena Arsa udah tahu untuk pipis ke toilet  dan deg2an mengantarnya dengan tangan diinfus gitu.

Habis itu sih masih belum benar2 bisa pipis ke toilet. Ngompolnya banyak. Sampai akhirnya dia benar2 kapok..karena saat terapi ABA dan dia ngompol..dia harus memgepel..memeras ke ember..membawa ember ke kamar mandi untuk buang pipisnya dan mencuci kain pelnya. Supaya tidak melakukan itu…ia harus bilang mau pipis..agar dibukakan pintu ruang terapi yang dikunci plus diajak ke toilet.

Bisa pup dan bersihkan sendiri saja baru 3-4 tahun belakangan ini. Dulu Arsa sampai harus diseret2 ke toilet agar pupnya ga kececer ke mana2.
Nah kesadaran ini timbul setelah dia benar2 jijik bila pupnya berceceran.

Nah.. kini tentang Adyatma (Dy), adiknya Arsa
Bedanya sama Arsa kan Dy bisa bicara. Sudah berulang kali kami bicarain toilet training..tapi mungkin anaknya belum siap. Sampai saya sudah iming2in mainan yang ia sukai kalau bisa lepas diapers. *sempat saya pikir..tunggu anaknya jijik sendiri deh baru bisa sadar*

Ternyata jelang 3 tahun..tahu2nya dengan kesadaran sendiri mau pipis ke toilet walau sedang pake diapers. Berulangkali diapersnya kering. Cuma kotor karena pup nya..yg belum bisa diatur waktunya.

Tapi karena beberapa kali pipis sembarangan…kita mensugesti untuk tidak melakukan itu. Ternyata ia mengatakannya berulang2 di depan kita..entah untuk pengingat sendiri atau untuk pamer bahwa ia tidak akan begitu.

Nah ini sudah malam kedua..ia tidur tanpa diapers. Kita menguji coba karena sempat tengah malam ia bangun untuk pipis di toilet padahal ia sudah berdiapers. Senangnya…. 
Kemarin malam ia sempat merasa agak risih sendiri karena tak berdiapers saat tidur. Untunglah lulus sampai pagi.

Hari ini juga hari kedua ia bisa bilang mau pup di toilet…dan benar2 melakukannya. Walau sempat juga 2x bablas di celana…tapi ia sendiri juga yg mengingatkan dirinya untuk tidak pup sembarangan. Diapers pun bersih lagi.

Pfiuhhh…walau pelaksanaannya belum benar2 sempurna..saya cukup lega fase toilet training pada Adyatma mulai menunjukkan hasilnya.

Tampak simpel..tapi ternyata untuk melatih anak toilet training sebagai life skill yg patut dikuasai…tidak mudah tapi juga tidak sulit.
Bila si anak belum bisa bicara atau spec need tertentu…tentu lebih sulit. Karena kita harus memahami gerak atau perilaku non verbal.
Tapi bukan berarti tidak bisa kan….???

Yuk..sebelum balitanya 25kg..segera ajarkan lepas diapers. Demi kesehatan, kebersihan dan kemandirian anak.



Positive vibes
06/04/2016, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Tadi…waktu lewat sebuah area makan di jalan yang sangat2 strategis di Denpasar..saya terhenyak mendapati salah satu tempat ‘nongkrong’ kami kalau mau makan di luar..nyaris tutup. Tinggal 1 kios sate saja yang buka.
Sudah beberapa waktu saya perhatikan sih perubahan2nya. Jalan besar yang tiba2 dibagi dua dengan tanggul tinggi di tengah, tak diperbolehkannya parkir untuk mobil di badan jalan, lama kelamaan..satu kios makan tutup diikuti yang lainnya.

Di tempat lain di jalan yang sama beberapa warung pun tutup..karena tanpa akses parkir. Siapa juga mau makan di situ dengan resiko ban digembok…ditilang dan diderek.

Kejadian itu di area ’emas’ atau surga makanan nya Denpasar. Yaitu jln Teuku Umar.
Dulu yang punya space untuk disewakan..mungkin bisa berleha-leha dengan mengenakan tarif sewa yang tinggi.
Kini..saya yakin..biar diobral pun..tanpa akses parkir mobil dan pendapatan akan sangat terbatas; siapa juga yang nekad menyewa.

Ya..kini jamannya perubahan yang tak setiap saat bisa kita duga percepatannya. Apa yang kita pikir aman-aman saja..tiba2 bisa berubah. Sudah punya usaha di tempat strategis..ga mungkin dong kehilangan pelanggan.
Itu dulu…itu bukan pemikiran yang 100% benar untuk masa sekarang.

Semua usaha yang sukses tidak dibangun dalam semalam. Punya modal…punya tempat tapi tidak ada pegawai yang bisa dipercaya = useless. Punya modal…pegawai bisa dipercaya n loyal serta melayani dengan baik..biar tempatnya di pelosok, tetap dicari orang.
Jadi apa dong?

Saya umat Buddha dan saya percaya karma. Saya percaya…saat kita menanam sebuah kebaikan..saat itu ribuan jodoh baik pun akan tertarik. Menghampiri atau tidaknya pada kita saat itu juga…ya tergantung lagi apakah kita selalu berusaha untuk selalu berbuat baik. Kalau pun belum menghampiri..mungkin saatnya belum tepat.
Hanya saja..karena kita selalu menanam kebaikan, saat kita mendapat rintangan…; perasaan  kita jadi lebih mudah/ringan menerimanya.

Pernah nggak..tiba2 kita bertemu dengan seseorang yang tahu2nya bisa mempercayai kita untuk bertanggung jawab akan sesuatu..padahal belum saling mengenal. Itulah jodoh baik..yang tanpa sadar..sudah kita ‘undang’ saat kita menanam kebaikan.

Kembali lagi soal usaha tadi. Kemajuan jaman menuntut kita untuk bergerak lebih maju. Bila kita memilih stag atau merasa putus asa dengan situasi ekonomi sekarang..ya dunia berhenti situ saja.

Pikiran kita harus ditantang. Tempat strategis jadi ga strategis — cari tempat lain atau ganti jadi online. Pegawai blm reliable — rubah sistem jadi made by order atau sistem PO. Usaha belum menunjukkan kemajuan berarti — gunalan promosi2 online yang gratis, atau gunakan strategi paket2 yang ‘menggoda’

Banyak jalan kok sebenarnya..
Masalahnya apa selama ini kita sudah bersikap perilaku yang mengundang jodoh-jodoh baik? Sehingga saat kita membutuhkannya…saat itu ada yang menggandeng tangan kita untuk bersama2 membereskannya.
Atau jangan2 malah sebaliknya.
Answered it by yourself. 🙂

*send positive vibes for everyone who read this*



Besok UN…trus apa?
03/04/2016, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Besok Ujian Nasional SMA. Ada yang tertulis…ada yang berbasis komputer.
Nah yang belakangan ini yang bikin deg2an. Katanya masing-masing mata pelajaran disiapkan 1000 soal yang terus diacak server sehingga menjadi paket2 untuk masing2 siswa.
So…bisa aja saya punya soal A di no 1 dan si Polan punya soal A di no 30. Random banget kan..Gimana bisa curang?

He..he..kok saya ngomong soal curang. Gini ya..tahu sama tahu aja deh… sekolah mana aja sih yang kini bener jujur lurus ga memperbolehkan siswa2nya nyontek? Apa ga malah difasilitasi sama ‘sekolah’ tersebut?
Yang jujur paling cuma segelintir.

Waktu saya ngawas UN bbrp tahun yang lalu…jujur…saya malah sengaja membiarkan anak2 untuk saling nyontek saat pelajaran Bahasa Inggris..karena hampir sebagian besar tak ada yang bisa mengerjakannya. Saat listening..mereka cuma melongo kebingungan denger dari kaset suara native speaker. Prihatin deh…

Nah sekolah-sekolah yang selama ini entah melakukan pembiaran atau malah sengaja mendukung siswa untuk mendapat jawaban yang benar (pssttt dengan cara membayar guru-guru bimbel untuk mengerjakan bocoran sebelum di’share’ ke siswa2 — based on true story) ; pasti sangat panik dengan ujian berbasis komputer ini.

Khayalan liar saya sih… bisa saja dengan ‘menyuap’ petugas server yg ‘nakal’  untuk me’manage’ 1000 soal itu sesuai request. Ho..ho..ho…masalahnya bisa ga bermain cantik kayak gini.
Demi peringkat n status keren sekolah lho…

*berdoa itu tidak terjadi*

Nah..kalo sekolah sibuk dengan peringkat dan status… siswa sendiri bagaimana? Apa rencana selanjutnya?
Pada kenyataannya..ga semua lulusan akhirnya melanjutkan pendidikan lagi..padahal tak sedikit dari mereka yang siapin budget untuk ‘beli’ bocoran.

Jadi..perjuangan gila2an buat lulus apa gunanya? Ada yang jawab… buat tetep punya status lulusan SMA sih. Daripada lulusan SMP aja. Minimal masih bisa jadi SPG/B di swalayan.

Yup…itu bener juga.

Saya ga bermaksud mengecilkan arti UN dalam bentuk tertulis ato berbasis komputer kalau pada kapasitasnya berfungsi sebagai standar pengukuran seseorang menempuh pendidikan pada level tertentu. .
Tapi ingat deh…UN hanya satu ujian dari sekian banyak ujian hidup yang lebih berat dan tak bisa dicurangi.

Kalau saat UN aja kita harus pontang panting…bergiat diri untuk belajar… ; mudah2an itu juga yang kita lakukan untuk ujian hidup sebenarnya. Saat diPHK…saat anak sakit…saat mencari nafkah…saat konflik dalam keluarga.

Selamat berjuang deh…teman2 SMA.
Siap memetik apa yang kamu tanam ya.