yukberbagi!


Peka atau sensi ya?

Entah ada hubungannya dengan bulan puasa apa ga.. beberapa waktu belakangan ini orang-orang jadi lebih mudah tersinggung di media sosial. Postingan atau komen orang dengan mudah menyulut amarah.
Saya jadi berpikir…orang yang tersinggung itu peka atau sensi ya.
Buat menjawab penasaran, saya googling di Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Nah..berikut dua definisi yang saya dapatkan.

peka/pe·ka/ /péka/ a 1 mudah merasa; mudah terangsang; 2 mudah bergerak (tentang neraca peralatan mekanis); 3 tidak lalai; 4 mudah menerima atau meneruskan pengaruh (cuaca dan sebagainya)

Berarti artinya tak selalu negatif ya.

Nah kalau sensi…berasal dari kata sensitif yang kemudian dimodifikasi jadi sensi biar tampak gaul.

sensitif/sen·si·tif/ /sénsitif/ a 1 cepat menerima rangsangan; peka: alat perekam itu — sekali; 2 ki mudah membangkitkan emosi: tiap konflik antarsuku yang timbul harus segera diatasi karena masalah kesukuan sangat sensitif–

Ada definisi disitu yang menjelaskan bahwa sensi bisa membangkitkan emosi..entah kesedihan atau kemarahan.

Lalu bagaimana soal peka dan sensi di media sosial ini. Saya mau kemukakan saja dalam beberapa contoh..baik yang sudah sering terjadi atau pun belum. Ini beneran IMHO (In my humble opinion)

Kita sangat peka bila tidak memposting penderitaan seseorang hanya untuk menunjukkan kita bersimpati atau berempati. Mau simpati dan empati ya natural aja..langsung bantu bukan dengan posting memposting penderitaan orang.

Kita sangat peka bila tidak ‘nyelonong’ komen yang tak berhubungan (bahkan numpang jualan) pada postingan seseorang; tanpa ijin OOT (out of topic).

Kita sangat peka bila tidak memenuhi newsfeed atau timeline orang dengan hoax..jualan..bahkan fitnah atau isu provokatif.

Kita adalah orang yang sensi bila menarik kesimpulan sendiri tentang postingan seseorang terus marah-marah, tanpa mau mendiskusikannya lebih lanjut.

Kita adalah orang yang sensi saat tidak bisa membedakan apa itu sarkas…apa itu to the point…apa itu bersikap frontal dalam sebuah status.

Kita adalah orang yang sensi saat saling berbalas komen terus tersinggung tak beralasan apalagi disambung-sambungkan masalah pribadi, padahal itu sudah di luar topik yang diposting.

CMIIW (Correct me if i’m wrong)…sejatinya dunia media sosial itu tetaplah dunia maya. Selama proses komunikasi berlangsung tanpa bertatap muka, kita bisa menjadi atau pura2 menjadi orang lain. Kita bisa menjadi sangat cerewet di media sosial tapi kenyataannya sangat pendiam. Atau kebalikannya.

Buat mengakhiri tulisan ini..saya ketemu di Pinterest yg kurang lebih gambarin bagaimana media sosial

image

Saya hanya mau tambahin.

People include us will choose how to react upon a status in social media . It’s truly up to them and we couldn’t do anything to stop, unless  block… log/sign out or leave them behind a k a not having social media interaction anymore.

Dalam hidup begitu banyak hal yang perlu dikerjakan..banyak hal yang lebih urgen daripada sekadar sensi2an di media sosial.



Jangan2 kita (ternyata) ‘menjadikan’nya pelaku
02/06/2016, 4:12 pm06
Filed under: catatan saya | Tags: , , , , , ,

Beberapa waktu ini.. beberapa orang ibu curhat di media sosial. Tentang tindakan bullying (perundungan) yang dialami anaknya. Komentar yang muncul beragam. Mulai dari yang simpati…menunjukkan empati bahkan yang menyakitkan hati.

Dari dua kasus saja..reaksi bisa berbeda. Ketika yang menyandang status pelaku bullying dari penyedia jasa publik..semua berpihak pada korban dan keluarganya lalu betamai-ramai mengecam keras. Menganggap ketidakadilan masih terjadi di mana-mana. Terutama kepada anak/individu dengan kebutuhan khusus.

Namun..ketika yang menyandang status pelaku bullying dari kalangan guru pada suatu kejadian di kelas…tak semua berpihak pada korban dan keluarganya. Ada yang menganggap itu bagian dari pendidikan? (Oh ya???)
Ada yang menganggap si korban terlalu lemah hatinya…hingga jadi baper. Padahal banyak juga yang mengalami semasa kecil dan menjadikan itu motivasi untuk maju dan survive. (Wohooo…alasannya…)
Tapi ada juga yang sepaham untuk  tidak membenarkan tindakan bullying dalam proses belajar mengajar..apalagi antara guru dan siswa.

Setiap kejadian bullying memiliki berbagai penyebab. Waktu saya browsing beberapa sumber termasuk hasil penelitian..saya temukan ada benang merah dari pendapat-pendapat tersebut.
Saya coba tulis ulang beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab.

* pelaku pernah menjadi korban bullying / tindak kekerasan juga (nah jadi tahu kan begitu hebatnya efek bullying yang akan berimbas ‘menjadikan’ pelaku-pelaku bullying lain)

*  pelaku adalah orang yang kesepian dan atau punya masalah dalam keluarga (bullying dalam keluarga pun akan ‘menghasilkan’ produk pelaku bullying juga)

Dua sebab di atas mungkin..karena secara alamiah, saat seseorang ditekan pihak lain, akan serta merta mencari orang lain untuk pelampiasan. Bisa dengan tindakan yang sama atau berbeda.

* pelaku punya masalah kepribadian. Entah harga diri yang rendah, ego yang besar, ingin menarik perhatian atau sekadar sirik.

Coba lihat deh..semua masalah tersebut berasal dari harga diri yang rendah. Besar kemungkinan pelaku bullying tersebut tak pernah dihargai..sekecil apapun usahanya. Padahal ia ingin juga mendapatkannya. Atau ia terus menerus dibandingan dengan orang lain..entah dari sisi fisik, kemampuan, status dsbnya.

Saat ia berlaku baik tak dihargai..ia pun mencoba berlaku jahat. Kalau dengan itu ia menarik perhatian plus menjadi percaya diri, ia belajar..dengan cara demikian ia akan diperhatikan plus diperhitungkan. Jadi ia pun memilih untuk melakukan tindakan tersebut.

* pelaku adalah bagian dari golongan mayoritas atau grup yang populer.
Biasanya hal ini terjadi saat pelaku sudah aware terhadap kelompok sosial yang berpengaruh. Hal ini bisa dimulai saat mereka remaja. Saat perasan belum stabil, masuk dalam kelompok yang populer di lingkungan pergaulan menjadi sebuah kebanggaan. Dan karenanya perilaku-perilaku ‘show off’ sebagai bagian dari kelompok tersebut menjadi penting.

Tak hanya populer…hal ini juga bisa berkembang saat kelompok tersebut punya unsur mayoritas. Beragama tertentu, dari status sosial tertentu, dari kesukuan/kebangsaan tertentu, punya kemungkinan menjadi pendorong perilaku bullying kepada pihak yang dianggap minoritas.

Hmmm…
Membaca ulasan saya sendiri di atas…saya jadi khawatir..jangan-jangan apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita..sikap perilaku sehari-hari yang kita tunjukkan pada orang di sekitar kita, telah menanam benih-benih pada diri seseorang untuk menjadi pelaku bullying?

Dan itu tak kita sadari sampai kemudian muncul tindakan bullying.

Sementara itu..bagi yang pernah jadi korban bullying; hal ini perlu diingat. Sebaik apapun sikap dan perilaku kita, yang benci kepada kita tetap saja ada. Terus menerus berurusan sama yang benci-benci aja…sungguh buang waktu dan energi yang tak berguna.

Kalau saya sih…lebih baik..teruslah melakukan hal yang positif
Bisa menjauh dari pelaku bullying..lakukan. Bisa asertif kepada pelaku..lebih baik lagi. Apalagi bisa menyadarkan pelaku bullying untuk tidak melanjutkan perbuatannya kepada orang lain..itu lebih mulia lagi.

Eh..masih ada lagi. Bisa mengendalikan diri untuk tak jadi pelaku bullying selanjutnya.  (Walau berat..mudah-mudahan yang terakhir ini bisa dilakukan)

***
Catatan bagi saya sendiri…..
setiap perilaku baik yang kita lakukan akan mengundang ‘jodoh’ yang baik dari semesta.
Walau kita kadang tak tahu kapan ‘jodoh’ baik itu datang…minimal kita terus dan tetap berusaha.

Tak diminta pun..semesta tak pernah lalai mencatat segala kebaikanmu.
Percaya deh…

image

Beberapa sumber yg saya ambil.