yukberbagi!


Bu..jgn bilang mama saya ya…
01/12/2016, 4:12 pm12
Filed under: Uncategorized

Hari ini 1 Desember, dunia memperingati World Aids Day. Orang-orang mengkampanyekan untuk lebih peduli, lebih waspada dan berperan serta menekan penyebaran virus HIV yang belum ada obatnya itu. 

Reaksi dan respon masyarakat bisa bermacam-macam. Mulai dari melabel bahwa yang mudah tertular hanya para pelaku seks komersial atau para junkies (padahal ibu rumah tangga dan anak-anak juga banyak). Ada yang merasa perlu buat status awareness di sosial media.  Ada juga yang cuma merasa ini yah hari biasa saja. Atau malah termakan hoax tentang jarum suntik di bioskop sampai pisang disuntik darah bervirus HIV.

Soal hoax plus labeling tentang pelaku-pelaku yang  mudah tertular virus ini, sudah sejak dulu. Saat saya aktif mengajar dan menjadi fasilitator pendidikan kesehatan reproduksi untuk siswa SMA. 

Karenanya tiap tanggal hari ini, ada momen awareness di sekolah saya. Entah mengundang narasumber dokter atau aktivis peduli HIV/AIDS , bahkan mendengarkan testimoni ODHA (orang dengan HIV/AIDS). 

Apakah pengetahuan siswa dan guru bertambah terutama terhadap hoax ttg hal tersebut? Iya.

Apakah kesadaran untuk waspada penularan HIV/AIDS meningkat? Tentu. 

Apakah dengan demikian, perilaku seksual siswa atau coba-coba narkoba bisa dikendalikan? Bisa dalam arti mereka paham resiko penyakit menular seksual dan resiko penularan pemakaian jarum suntik bersama. Namun memastikan apakah siswa menjadi takut dan tidak aktif secara seksual lagi…saya tidak bisa menjamin.  

Lalu… orang-orang mulai bertanya untuk apa acara-acara kesehatan reproduksi atau peduli HIV/AIDS tanggal 1 Desember ini? Kalo ternyata tidak bisa menekan perilaku beresiko, terutama pada remaja.
Baiklah..saya cuma mau cerita apa yang terjadi di kelas saya dulu. 

Ketika kita bicara tentang penyakit menular seksual..tentang kehamilan..tentang alat kontrasepsi, saya biasa mengajak mereka studi kasus atau memperdebatkan sebuah opini. Seru?? Tentu saja. 

Ada siswa yang menanyakan apa boleh menyimpan kondom di dompetnya..sambil menunjukkan dompetnya ke saya. 

Ada siswa yang mengaku sudah intercourse tapi hanya dengan pacarnya saja. Waktu saya tanya sudah berapa kali pacaran, dan dia memberi tanda lewat jarinya, seluruh kelas tertawa. 

Ada debat-debat yang tak pernah selesai tentang aborsi, tentang siswa hamil melanjutkan sekolah, tentang pernikahan dini, tentang praktik prostitusi. 

Semua seru, semua mau cerita. Saya pun heran, kelas saya begitu menakjubkan sampai ditunggu-tunggu jadwalnya. Bahkan kalau ada guru mereka yang absen, saya diminta mengcover dengan pendidikan kespro ini. 

Saya ditanya kolega, kok bisa kelasnya seru dan terbuka. Saya jawab, mungkin..mungkin ya karena saya mau membuka diri untuk mereka. Saya jujur cerita proses persalinan saya dengan bahasa ilmiah. Saya cerita kasus-kasus kehamilan yang mungkin hanya mereka dapatkan dengan googling saja. 

Membuka diri bukan hanya bercerita apa saja. Tapi juga membuka diri untuk ditanya, “kalau ibu bagaimana?” Awal-awal sih..memerah muka saya. Tapi lama kelamaan saya bisa menanggapi dengan lebih santai. 

Saya hanya berpikir, kalau kita yang lebih dewasa tidak mau terbuka tentang kesehatan reproduksi yang sejatinya nanti menjadi pengalaman paling personal siswa, bagaimana mungkin mereka juga akan terbuka dan bebas berpendapat. 

Prinsip saya waktu itu..saya mau beritahu informasi yang mereka inginkan, asal mereka juga terbuka menceritakan permasalahan dan kegalauan mereka di masa remaja. Karena posisi saya dan siswa sama, diskusi menjadi enak. 

Seenak seorang remaja yang tahu-tahunya datang konseling untuk curhat kegalauan apa dia mungkin bisa tertular penyakit seksual karena ‘dijebak teman’ intercourse dengan psk di suatu tempat di luar pulau. Berkali-kali dia wanti-wanti,”Bu..jangan bilang-bilang mama saya ya..”

Atau anak perempuan yang tiba-tiba begitu polos bercerita dengan santai tentang bagaimana mereka ‘berpesta’ cumbu rayu, yang jujur buat saya cukup terkejut. 

Atau remaja laki-laki  yang lebih tua bertutur pengalaman bertualang di dunia hitam kelas bawah sambil takut terkena virus HIV. 

Kalau saya menjaga jarak, mana mungkin mereka mau datang sendiri lalu konseling untuk cerita kegalauannya. Akhirnya kalau ada yang tertular atau bagaimana, bukankah saya jadi ikut merasa bersalah. 

Keterbukaan informasi tentang resiko, tentang segala hal dalam kesehatan reproduksi menjadi penting. Plus harus sejalan dengan keterbukaan diri sebagai fasilitator atau sebagai orang dewasa, saat ingin menjadi tempat mereka bertanya dibanding internet atau pihak-pihak yang tidak jelas pertanggungjawabannya. 

Nah jadi paham maksud tulisan ini kan. 1 Desember – AIDS awareness day cuma momen. 

Yang lebih penting adalah..sudahkah kita jadi teman bagi para remaja yang sedang ingin tahu dan tahap coba-coba? 

Kalau belum…yuk mulai. Bekali diri dengan informasi kespro yang akurat, membuka diri, dan jadilah teman serta tempat bertanya bagi anak-anak kita. 

Selesai masalah remajanya..belum juga sih. Ya..minimal kita telah mulai berupaya. 

Advertisements

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: