yukberbagi!


​Dua perempuan 
16/12/2016, 4:12 pm12
Filed under: Uncategorized

Perempuan pertama. Cantik..imut..muda, berbekal notes kecil dan kamera mampir ke sekolah anak saya tadi. Dia bukan sarjana apa-apa, karena ayahanda memintanya untuk ‘kuliah’ pada bacaan-bacaan dan perjalanan. Sejak lulus SMA, ia mulai travelling ke berbagai pelosok negeri. Dituliskan dan didokumentasikan pengalaman berkenalan dan ‘berguru’ dengan banyak orang. Ayahanda memberi masukan sana sini. Sambil bersama-sama mempersiapkan kebun organik, area peternakan untuk bekal putri tercinta.
Pengalaman perjalanan ternyata membuatnya menjadi penulis yang cukup ‘menghasilkan’ bahkan cukup sering dikontrak untuk melakukan perjalanan. Kini saat ayahanda telah tiada, ia pun masih terus berjalan. Saat kembali ke rumahnya di pelosok Jawa Barat sana, ia membuat perpustakaan kecil dan kelas kerajinan (hsl yg ia pelajari) untuk anak-anak warga setempat. Impiannya satu..di areal rumahnya kini, akan ada jungle school tempat anak-anak belajar dari alam; seperti yg ia pelajari sepanjang perjalanan. 
Perempuan kedua. Ibu usia pensiun pengelola warung sederhana di dekat kota Jogja. Makanan yang dijual enak, bersih dan bergizi karena ia mantan staf gizi sebuah rumah sakit. Kakinya tampak mulai berat dibawa berjalan, tapi ia ramah kepada setiap pengunjung. 

Tadi saat kami membayar, ibu bertanya pada Arsa dan tak dijawab. Saya memberitahu bahwa Arsa autistik dan tak selalu menjawab saat ditanya. Tiba-tiba ia menepuk bahu saya dan bilang, “Sabar ya nduk..kuncinya ibu itu cuma sabar” Lalu mengalirlah cerita putri pertamanya. Saya sempat berasumsi  wah jangan-jangan autistik juga atau berkebutuhan khusus lain. Tebakan saya meleset. Sambil bergetar, ibu bertutur, “Anak saya itu dari kecil selalu yang terbaik, di sekolah..di mana-mana. Ga pernah buat susah..ga pernah buat repot. Bahkan pernah jadi paskibraka sampai ke Jakarta. Sampai dia kuliah. Suatu hari ia pergi kuliah dan tak pernah kembali. Sempat dirawat di Panti Rapih 5 hari tapi Tuhan lebih sayang padanya.” 

Saya diam dan tercekat. Sekali lagi ia menepuk bahu saya, “kuncinya sabar, nduk. Sabar!”
Terima kasih semesta. Saya bisa bertemu dua perempuan yang mengajarkan saya tentang impian dan kesabaran. 

Saya sungguh masih harus belajar! 

Good night universe.

Advertisements