yukberbagi!


‘Harga’ sebuah karya 
31/12/2016, 4:12 am12
Filed under: Uncategorized

Semenjak Arsa, putra saya yg autistik memulai wirausaha dengan memproduksi karya jahit sulam untuk dimiliki para kolektor, saya semakin respek pada para pengrajin. 

Karena untuk sebuah karya yang dihasilkan, apalagi karya buatan tangan kerja keras dan proses berlangsung tak selalu mulus. Tergantung mood, kondisi fisik, bahkan cuaca. Cuaca? Apa hubungannya? Nanti ya..terus baca deh..

Bukan berarti yang made in pabrik ga ada kerja kerasnya ya..nanti ada yang pentung saya lagi. Hi..hi..

Ya..balik lagi ah. Karya tangan atau handmade memang menjadi langka sekaligus kembali populer akhir-akhir ini. 

Langka karena waktu produksi kalah bersaing efektif dengan karya mesin, yang bisa memproduksi masal. Populer karena karya tangan biasanya limited. Hanya satu atau dua saja. 

Seiring dengan wirausaha Arsa, saya pun berwirausaha. Tak jauh-jauh sih masih seputaran kain. Mulai dari lurik..lurik batik..batik grosiran..sampe batik yang kemudian ingin saya populerkan. Batik pewarna alam. 

Nah…yang terakhir saya sebut ini, memang perlu proses dan kerja keras. Saat saya keliling-keliling Jogja..kisah ttg proses dan kerja keras pengrajin sungguh menarik dicermati. 

Pewarnaan batik secara alami dengan daun..kulit pohon..buah..batang tanaman memang tak mudah, namun sehat dan ramah lingkungan. 

Beda takaran..warna berbeda. Beda jumlah celupan..beda kualitas warnanya. Apalagi saat penjemuran..beda intensitas cahaya matahari..warna batik bisa berbeda walau dengan takaran dan jenis pewarna yang sama. Cuaca mendung apalagi hujan terus menerus bisa menghambat proses. Walau saat ini..pengrajin batik tulis tak harus berpuasa sampai karyanya benar-benar selesai..tapi untuk menghasilkan karya yang indah..komitmen sungguh-sungguh berperan. 


Ada sih yang sudah menemukan solusi untuk pewarna alam yang tak mempermasalahkan cuaca, yaitu dengan membuat bahan-bahan alam itu jadi formula bubuk yang cepat kering . Tapi tetap saja tak bisa menghindar dari prosesnya yang kompleks, sehingga banyak pengrajin batik menyerah dan kembali ke pewarna sintetis yang paparannya malah bersifat karsinogenik

Apresiasi untuk kompleksitas proses karya-karya buatan tangan ini memang masih minim. Pertanyaan, ” kenapa mahal?” sungguh mematikan tanpa diikuti hal yang melatarbelakanginya..apalagi bila sudah dibandingkan dengan karya massal yang murah.

Karya-karya jahit sulam Arsa lebih rumit lagi. Ya..tentu karena Arsa autistik. Walau bagi individu autis mengerjakan sesuatu yang rutin justru menyenangkan baginya, mood tak bisa dipastikan selalu stabil. Kalau sedang tidak mood…mustahil memintanya melanjutkan karya tersebut. Spidol untuk menggambar di kain saja hilang, dia sudah kesal. Belum lagi kalau pemidangan rusak..benang habis saat belum selesai atau benang kusut…warna benang yang diinginkan tak ada…ibunya cerewet komen jahitannya.


Jadi…paham kan kenapa produk-produk handmade menjadi istimewa?Karena ia sungguh terlalu berharga untuk di’instan’ kan. 

Advertisements