yukberbagi!


Me, my newborn n you..yes youuu ♡
06/01/2017, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

Seorang teman memposting di fb baru-baru ini, yang intinya do’s and don’s saat menjenguk ibu melahirkan. Jadinya..saya pengen cerita juga. Iya saya kan emak-emak juga. N saya udah 2 kali melahirkan. 

Mungkin habis ini saya dibilang ga tau berterima kasih sama perhatian teman, kerabat ato saudara saya atau dibilang mau ‘matiin’ ladang nafkah pemilik baby shop. Ya terserah aja sih. Yang jelas ini blak-blakan saya tentang saat-saat hidup dan mati itu. Lebay..he2..lanjutin dulu baca ya baru komen. 

Mei 2003. 

Kandungan saya sudah tua betul. Jumat sore saat cek terakhir ke SpOg, ultimatum dikeluarkan. Sectio besok..tak bisa ditawar, ketuban mengeruh. 

Semalaman puasa persiapan operasi, tak halangi pemeriksaan akhir. Periksa dalam, istilahnya..saat tangan dokter meraih tepatnya masuk lubang vaginamu untuk menentukan posisi bayi. Diminta rileks, tetap aja tegang. Setegang wajah dr yang bilang, jauh sekali kepalanya..ga ada jalan lahir. Wajah saya yang udah pucat karena belum sarapan..makin pucat aja saat menuju ruang bedah. Tawaran induksi sama-sama tak kami sepakati. Iya kalau merangsang konstraksi, kalau nggak..saya pengsan..trus disectio pula. Sakitnya double. 

Sectio dilaksanakan. Masih terdengar dalam kesadaran bius lokal saya..denting gunting dan pisau bedah bergantian dengan bonus tangisan bayi kencang yang disorongkan dekat wajah saya. Tanpa sadar airmata saya mengalir. 

Ruang pemulihan tidaklah nyaman. Otak saya memerintahkan kesadaran saya untuk cepat pulih. Karena disamping saya seorang bapak pasca operasi amandel berekspresi begitu tak enak dipandang. 

Balik ke kamar perawatan. Lelah..belum sadar sepenuhnya..lapar..dan kaku pasca operasi. Nyeri di luka hilang muncul..yang ternyata semakin menjadi karena perawat lupa menyuntikkan saat obat bius benar-benar menghilang. Saya menangis kesakitan. 

Satu persatu ucapan..teman-teman..murid-murid yang datang bergantian tak bisa membuat saya tersenyum. Karena kondisi saya saat itu ingin meringkuk…tidur lelap..ingin makan juga…ingin menimang bayi..ingin menyusuinya (dan belum bisa). Benar-benar galau saat itu. 

Dan itu tidak terbantu dengan kehadiran orang-orang. Saya stress..wajah saya tak menunjukkan ibu baru yang bahagia. Perawat-perawat tak mau memanjakan dan meminta saya belajar berdiri..belajar jalan. Saya di bawah tekanan. 

Sepertinya dalam sebulan pasca sectio…wajah saya baru berangsur-angsur gembira. (Mungkin yang menjenguk saya di rumah waktu itu bisa menceritakannya) 

April 2013

Sepuluh tahun kemudian. Dalam usia yang sudah masuk masa beresiko hamil dan melahirkan, kandungan saya samgat dijaga betul sejak awal. Secara mental saya lebih siap, siap menyusui total malahan. Walau sempat ada masalah anemia dan hipertensi..saya tetap bumil yang sehat sampai akhir kehamilan. Di minggu-minggu terakhir, flek-flek bermunculan. SpOg sudah ultimatum..begitu flek meningkat atau pecah ketuban segeralah ke rs. 

Saat itu Jumat malam kami baru selesai konsul ke dr gizi untuk masa menyusui dan mpasi. Senin pagi saya akan sectio. Masih sempat ngewedang ronde lagi setelah dari dr gizi. Malam jam setgh 12..tiba-tiba saya ngompol… yang tidak tertahan. Ini pecah ketuban. Telp SpOg dan diminta segera ke rs. 

Tengah malam itu..saat esok pagi umat Hindu merayakan Manis Kuningan, saya malah siap sectio. Semua personel bedah dipanggil kembali..padahal baru saja pulang. Akhirnya jam 1.30 saya sectio. Tapi karena ronde yang saya santap, di tengah-tengah sectio bisa mo muntah segala. Saat mual menghilang dan rasa kantuk menyerang..masih kulirik bayi yang menangis kencang yang disorongkan ke wajahku. 

Habis itu ‘penderitaan’ dimulai. Ruang perawatan benar-benar penuh terutama dengan pasien DBD. Jadi saya harus di ruang pemulihan sampai besok pagi ada kamar kosong. Bayangkan..lelah..ngantuk.. plus tensi saya yang tinggi..mau tak mau berbaring dalam keadaan telanjang berbalut baju bedah..di atas spon brankar yang dingin. Lucky my hubby stay beside me. 

Sambil bercerita ngalor ngidul, dengan sirik kami memandangi seorang perawat jaga yang tertidur lelap di kasur yang lebih empuk. Tidur2 ayam..nyaris tak bisa terlelap kami berdua.

Esok pagi..saya bersyukur bisa pindah ke kamar perawatan kelas 1. Langsung saja ada yang berkunjung. Malah teman-teman itu langsung mengiringi kepindahan saya ke ruang vip. Setelah itu pengunjung silih berganti. Sampai malam hari. Jadi saya dan suami tak sempat memejamkan mata. Itu hampir 24 jam. Dan tensi saya pun naik. 

Bersyukur kali kedua ini..saya bisa segera menyusui dan lebih pulih pasca sectio. Tapi kelelahan yang amat sangat akibat begadang itu dan tensi saya yang tinggi…belum juga terbayar dengan kedatangan teman-teman..rekan kerja dan kerabat, sampai kami pulang. 

Dan di kelahiran bayi kedua ini..saya masih menerima tamu-tamu silih berganti di rumah sampai si kecil genap 2 bulan. Mulai dari yang personal sampai rombongan. 

Nah… dari dua peristiwa itu saya mau menyimpulkan dan akhirnya saya praktekkan juga kepada ibu2 yang lain: 

*ini di luar kejadian khusus..emergency..ibu/bayi dlm keadaan darurat*

  • Plissss…sebaiknya tidak menjenguk di hari pertama ibu melahirkan. Biarkan ibu istirahat, tidur dan memulihkan diri. Lebih baik saat ibu sudah akan keluar rs hari itu. (Pernah jenguk teman di hr terakhir aja, wajahnya masih belum sepenuhnya ‘present’ waktu diajak bicara, atau seorang teman jahitannya sampai membengkak karena kebanyakan berdiri menyambut tamu)
  • Plissss…datanglah saat jam berkunjung walaupun kamarnya vip. Reschedule lah bila ingin menjenguk malam menjelang tidur. Anda tidak tahu kondisi dan stamina ibu dan ayah si bayi. Plus tak mau menganggu masa-masa belajar ibu menyusui kan.  
  • Plissss…kalau mau mengajak ngobrol..curhat..diskusi, sebaiknya berkunjung saat ibu dan bayi sudah pulang dari rs. Dalam suasana yang lebih akrab dan intim..di rumah. 
  • Plisss…tak usah berdiskusi tentang mana proses melahirkan yang lebih mulia..normal atau sectio. Mana yang lebih mulia menyusui atau memberi sufor. Setiap ibu dan bayi punya perjuangan yang tak bisa dibanding2kan. Don’t make them stress with this topic. 
  • Plissss..bila anda dari luar…cucilah tangan dulu sebelum menggendong bayi baru lahir. Ingat juga memfoto bayi dengan fitur flash/blitz tidak diperkenankan
  • Plissss..ini soal kado. Tak mau kado anda mubazir kan atau diwrap ulang untuk diberikan ke bayi lain. Beri amplop merah untuk penghargaan pada ayah dan ibu atau buku parenting, resep mpasi, dll…daripada (maaf) baby toiletries (bedak..sabun..sampo) alat makan, atau…bila inginnya memberikan kado si bayi berikanlah pakaian untuk bayi saat 9 bln atau 1 tahun nanti. Dan..kalau si bayi punya sibling..boleh juga diberikan hadiah menjadi kakak. Buku misalnya.
  • Plissss…bila mungkin tidak datang dalam rombongan besar. Tak ada tempat duduk…mengurangi oksigen dalam kamar..serta membuat suasana menjadi riuh. Ini bukan arisan lho ya. 

Ya…maaf kalau sepertinya saya tidak mementingkan tali silaturahmi. 

Tapi..jujur..sejatinya menerima ucapan dan doa yang tulus walau by phone..by social media saya sudah sangat bersyukur dan berterima kasih. Apalagi bila sahabat-sahabat kesayangan tersebut bisa hadir dan memberi support…itu akan sungguh membahagiakan. 

Bukan cuma.. ‘saya sempatin lho ya..’ atau karena ada maksud ‘ ini istri atasan/istri kolega/istri partner’ jadi musti dijenguk. Yang akhirnya tanpa sadar ‘mengganggu’ si ibu yang baru dan sedang pemulihan. 

Truly and absolutely…peristiwa melahirkan apapun tekniknya adalah pengalaman personal…antara hidup dan mati…proses inisiasi menjadi seseorang yang baru yang akan dipanggil IBU. 

Advertisements

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: