yukberbagi!


Selasar
10/03/2017, 4:12 am03
Filed under: Uncategorized

Sengaja nulis ini sebagai self healing. Bahwa (mudah-mudahan) trauma saya berjalan di selasar rumah sakit…akan kian memudar. 

Ketemu hantu? Tidak. Mudah-mudahan tak pernah dipertemukan. 

Tapi ini tentang pengalaman sangat personal. Merasa deja vu; berjalan di samping jenasah papa saat masih smp kelas 2. Waktu itu hampir tengah malam. Selasar rumah sakit gelap dan kosong, rimbunan pepohonan gelap, langit kemerahan. Hanya ada kucing dan tikus yang melintas serta denging nyamuk di telinga. 

Hati saya juga kosong. Air mata saya pelan-pelan mengering sepanjang jalan. Papa yang begitu dekat tiba-tiba kini tak bisa saya ajak bicara, makan mi dan es krim bareng plus jalan-jalan naik bajaj. Rasa kehilangan saya mixed up dengan derit roda brankar rumah sakit..yang pelan-pelan memasuki kamar jenasah. 

Temaram lampu.. beberapa jenasah yang tampak setelahnya, sungguh merobek-robek hati saya saat itu. Melebihi rasa takut anak belasan tahun saat melihat mayat. 

Rasa aneh itu ternyata terus muncul saat melintasi selasar rumah sakit dengan setting yang sama. Melihat brankar berisi pasien sama mengejutkannya dengan melihat perawat mendorong brankar kosong dengan bantal habis ditiduri.  

Walau (untung) tak ada saat saya hendak melahirkan. Karena rs ybs tak memiliki selasar yang bisa membuat saya deja vu…seperti layaknya selasar rumah sakit besar atau rumah sakit pemerintah. 

Kali terakhir adalah ketika mama saya mau tak mau diopname minggu lalu. Mengikuti brankar mama sejak di ugd lalu melewati selasar yang panjang, lebih merobek-robek hati saya dibanding melihatnya meringkuk dalam ruang ugd yang full house atau harus melewati malam itu tanpa ada satupun yang mendampingi. 

Saya mulai merenungkan…maybe i’m afraid of being death or feel loss. Mestinya saya makin menyadari bahwa kematian bukan akhir, walau tentu secara fisik menjadi tiada. Mungkin saya mesti terus belajar bahwa siklus lahir, tua, sakit dan mati adalah kewajaran dalam hidup  

Memiliki perasaan berlebihan tak membuat hal2 tersebut menjadi lebih bermakna juga buat hidup saya. Bahwa nantinya selasar rumah sakit tak lagi memberi efek traumatis bagi saya, kini berbuah kesadaran baru. 

Bahwa semua fana. Yang abadi adalah kenangan yang kita buat bersama siapapun yang melintas dalam hidup. Sudahkah ia cukup indah atau cukup berharga untuk dikenang? 

I wish. 

Photo credit : Netterku.com