yukberbagi!


Menuliskan ibu
14/05/2017, 4:12 am05
Filed under: Uncategorized

Disclaimer :
Hubungan ibu dan saya sungguh personal dan it’s not your business. Saya banyak belajar. Kalau dulu saya sering berdebat karena ya pengen aja berdebat. Kalau sekarang..saya sering prihatin atas apa yang beliau rasakan.

Dan tulisan ini saya buat untuk berbagi…agar perempuan-perempuan di luar sana tak berhenti mengejar mimpi, bila mau (lebih) bahagia dan ‘lepas’ perasaannya di hari tua nanti.

Ini ibu saya..sebentar lagi 76 tahun. Ibu terbiasa lone fighter. Karenanya keras, punya area teritorial plus OCD dan hanya percaya pada pikirannya sendiri. Anak sulung dari 5 bersaudara. Tidak dididik kaya perempuan jaman dulu yang bisa masak dan beres2 rumah. Sekolah… belajar… menjahit. Seperti itulah. Tapi ga pernah sampe ‘mentas’. Sekolah hanya D1. Menjahit pernah punya belasan siswa, tapi kemudian berhenti dengan alasan.. menikah. 

Menikah bukan dengan pacarnya. Menikah dengan bapak saya karena dijodohkan. Dulu saat sd saya yang dekat bapak dan benci pada ibu. Tapi usai saya paham betapa cinta penting bagi sebuah pernikahan…saya tak bisa membayangkan bagaimana bisa tidur tiap malam untuk kemudian diajak hubungan suami istri dengan laki-laki yang tak kita cintai. Sungguh2 sebuah penderitaan.

Karenanya ketika bapak saya sakit sakitan lalu meninggal, yang ada padanya adalah beban. Beban yang harus ditanggung karena mau tak mau menjadi bapak. Tak berpendidikan tinggi..apapun dilakoni. Pernah ada kesempatan ‘hebat’ memasarkan produk2 A*way dan sejenis saat belum ada distributor resmi Indonesia..tapi tak membuatnya sukses karena dijalani penuh beban. 

Bertahun-tahun saya memahami bahwa apa yang dilakukannya penuh penyesalan. Mengapa berhenti ngajar menjahit? Mengapa tak serius menjadi distributor? Mengapa mau dulu saat dijodohkan? Mengapa tak kawin lari dengan pacarnya? Mengapa ini..mengapa itu?

Penyesalan itu ternyata berbuah ketidakmampuan memiliki standar bahagia. Seringkali saya berusaha mem’bahagia’kan nya dengan mengajak, memberi atau membelikan ini dan itu, tapi senang dan merasa dihargai sesaat ujung-ujungnya kritik. Jarang sekali yang disyukuri sepenuh hati. 

Sedih sebenarnya melihat orang terdekat yang melahirkan saya, tak bisa lepas bahagia. Padahal ada yang bilang..menjadi ibu dari anak2 yang tidak memiliki persoalan rumah tangga serius, itu seharusnya membahagiakan. Namun..sekian lama menjadi tulang punggung keluarga, bukan tulang rusuk laki2 ya ;  ukuran kebahagiaannya lebih pada punya uang dan tak habis-habis, a k a kaya selamanya. 

Wah..berat itu. Jadi uangnya harus tetap ada tapi semua kebutuhannya terpenuhi. Saya bilang..mama salah kawin. Mustinya kawin dengan konglomerat yang hartanya 7 turunan ga habis-habis. Jadi mama bisa jadi nyonya. Dia bilang..ya sebelum wafat..mau kaya sekali lagi..(tapi halal ya) buat punya rumah besar..buat pilgrimage bersama..buat ini..buat itu. Saya ketawa dan bilang, bisa kayak gitu kalau kita mati2an usaha. Uang ga jatuh dari langit begitu saja.

Dan sekali lagi, seorang diri ibu tak pernah berani punya usaha. Tak berani investasi. Pengalaman dan luka batin puluhan tahun, membuatnya takut akan hal-hal beresiko. Lucunya.. sejak 14 tahun yang lalu, ibu malah memilih tinggal bersama keluarga saya yang lebih adventerous dan beresiko. Suka merantau, ga takut perubahan, dll. Tahu kan…keluarga kayak gini bisa bikin deg2an. Dan.. kalau perhitungan nominal simpanan, ibu jelas lebih mampu dari saya dari hasil kumpul ini itu bertahun-tahun. Berapa banyak sudah ibu membantu. Mulai yang besar2 sampai yang remeh temeh. Terbayang bagaimana perasaannya akan hal-hal yang tidak pasti dalam keluarga saya. Setiap saat cemas. 

Saya pernah bilang sama ibu. Mama lebih beruntung dari ibunya si anu..mertua si ini karena mama sehat. Tak pernah ada keluhan berarti karena ibu sangat menjaga tubuhnya dengan konsumsi berbagai suplemen kesehatan. Walau terindikasi diabet, hipertensi juga..kondisi ibu lumayan fit di usia 3/4 abad. Ya..sayangnya itu hanya menghibur sesaat untuk kemudian dilupakannya. 

Ibu juga orang yang terakhir denial tentang Arsa, cucu pertamanya yang autistik. Kebanggaan sebagai nenek yang lebih dahulu punya cucu di antara saudara yg lain, laki-laki pula, tapi kemudian autis itu benar-benar mengoyak perasaannya. Bila tak ada insiden Arsa menghilang saat bepergian berdua ibu..tentu ia akan terus ‘menolak’ Arsa yang autistik. 

Saya yakin..beberapa hal setelah punya cucu yang autis membuatnya banyak belajar. Kadang-kadang dia bilang.. aku sepertinya tak sanggup kalau berada di posisimu. Sering saya melihat air mata di pelupuknya saat Arsa berlaku begini dan begitu. Hei..jujur, kalau dibalik..saya juga tak bisa di posisi ibu. 

Akhir2 ini saya paling merasa sedih melihat ibu tak punya sahabat dekat. Saya tak tahu harus menelusuri dari mana penyebabnya. Sepertinya ketika dulu getol-getolnya cari uang untuk keluarga, dia ‘melupakan’ cara utk berteman. Dia tidak merasakan pentingnya untuk punya sahabat tempat cerita, curhat dan lain-lain. Kehadiran orang di sekitarnya adalah in purpose..berdasar kepentingan. 

Padahal di saat2 menua seperti sekarang, ada sahabat tempat cerita sungguh baik adanya. Sampai suatu ketika saya terhenyak. Saat diceritakan seorang teman, yang anaknya sekelas dengan anak saya di kelompok bermain. Entah bagaimana awal cerita nya. Ibu saya berujar, “Biarin sekarang cape kau gendong anak perempuanmu ke sana ke mari. Kayak saya nih. Dulu si Ivy udah mau saya ‘buang’ . Saya malu kakaknya baru 6 bulan, masa hamil lagi. Tapi liat sekarang saat tua gini..malah dia jadi sahabat saya. Suka berantem sih.. tapi ya itu yang sama saya di hari tua ya..si Ivy anak yang dulu saya mau buang” 

Ternyata perkataan ibu itu tanpa sadar mengubah pandangan teman saya yang lagi kritis postpartum sindrom. She turned back to love her younger kid. Wah…saya ikut mbrebes mili mendengarnya. Jadi..walo kita berdua sering ketus-ketusan..debat tak henti-henti, itung2an .. diem2an atau apalah sejatinya konflik; yang jelas ibu saya tetap menganggap saya sebagai teman. 

Ya..saya dan ibu memang punya cara berpikir dan cara hidup yang beda. Tapi entahlah..mungkin perbedaan ini membuat kami kuat dengan cara kami masing-masing. Mungkin dia jadi kuat menghadapi hidup dengan berandai2 seperti kejadian di serial Asoka, Anandi atau Himalaya, kesukaannya. Mungkin saya bisa melepas ketegangan dengan larut dalam gamelan Jawa saat saya menari klasik. 

Mungkin dia jadi sehat dengan pola makan yang ia buat dan yakini sendiri. Sementara saya sehat dengan diet dari karbo yang berlebihan, serta banyak makan masakan rumah. 

But anyway…saya juga tak pernah tahu ‘pertemanan’ kami sampai berapa lama lagi. Siapa yang bisa tahu kapan cerita hidup kita masing-masing akan berakhir kan? Yang jelas ‘pertemanan’ kami bagai ladang belajar. Saya belajar banyak dari impian-impian ibu yang belum tercapai..kerja keras..bahkan luka hatinya. Entahlah apa beliau juga belajar. Saya tak perlu mencek juga. Biarlah waktu yang akan menguji bagaimana belajar kami masing-masing. 

Happy international mother day, mom. 

You are irreplacable. Truly.  

I love you. 

14 Mei 2017

Advertisements

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: