yukberbagi!


Bukan cuma “tinggal Lep”
15/10/2017, 4:12 am10
Filed under: Uncategorized

Waktu ide acara di salah satu gerai makanan kekinian pizza muncul di antara ibu-ibu Kelompok Bermain, sempat muncul keraguan, mosok Salam yang mengusung pangan lokal dan sehat ikut acara yang ditawarkan mereka. Membuat pizza lho? Bukan meracik gudeg atau mengolah jenang gempol.

Namun, yang jadi pertimbangan kemudian adalah bagaimana anak-anak KB (kelompok bermain) Salam yang sedang asik melontarkan mau jadi apa mereka nanti, untuk belajar proses dan pengalaman baru.

Ya, tanggal 22 September kemarin teman-teman kecil tidak hanya melihat dapur. Dalam kelompok berisi lima siswa, bersama-sama memakai celemek, bertudung kepala dan mengenakan sarung tangan kebesaran. Semua bersemangat mengantri giliran masuk dapur.

Tentang pemakaian tudung kepala (shower cap) , sempat beberapa anak terutama laki-laki tidak mau. Bungsu saya Adyatma salah satunya. Dalam pikiran sederhananya tudung kepala digunakan saat membungkus rambut di kamar mandi atau perawatan di salon. Namun ketika dijelaskan hal tersebut untuk mencegah masuknya helaian rambut yang terjatuh ke makanan, ia dan teman kecil yang semula enggan mau memakainya.

Teman-teman kecil inilah yang akan ‘memasak’ pizza mereka sendiri. Walau hanya memoles ‘dough’ pizza yang telah disiapkan dengan saus tomat, menaburkan keju plus daging atau sosis atau jamur sebagai topping sesuai keinginan mereka. Mereka juga yang akan menyaksikan sendiri bagaimana pizza-pizza hasil kreasi mereka itu keluar dari oven untuk siap disantap. Wah… seru yaaa. Sampai Terang minta digendong ibunya untuk melihat pizza buatannya keluar dari oven

Teman-teman kecil belajar jadi koki atau chef. Yang biasanya dikenal lebih kepada pekerjaan ibu atau perempuan. Tapi hari itu, anak laki-laki maupun perempuan sama antusiasnya untuk bercelemek dan ‘mengacak-acak’ dapur gerai pizza, yang dipandu bapak-bapak. Lho kok bapak bukan ibu-ibu?

Kompor yang besar, kulkas yang besar, oven yang besar memang lebih sesuai untuk dipergunakan bapak-bapak. Karenanya pesan yang disampaikan sebelum masuk dapur adalah untuk berhati-hati dan tidak saling mendorong. Jaga diri, jaga teman selalu diingatkan para fasilitator.

Pekerjaan memasak memang bukan hal baru bagi teman-teman Salam. Anak-anak kelompok bermain bahkan sudah terbiasa membersihkan, memotong sayur untuk dimasak ibu-ibu mereka pada Jumat tertentu. Herannya, biasanya saat itu mereka lahap menikmati makanan yang (ikut) mereka siapkan. Ada kebanggaan melihat wortel, sayur yang tadi dipotong kemudian dinikmati.

Anak-anak pun belajar bahwa ada cara, ada alat yang digunakan untuk mengolah makanan. Dan yang terpenting, belajar proses bagaimana sampai sebuah makanan tersaji di hadapan mereka dan melakukannya membuat teman-teman kecil ini lebih paham. Bukan cuma tinggal hap atau tinggal glek, seperti iklan lauk cepat saji. Teman-teman kecil juga belajar untuk menghargai, tidak hanya menghargai makanan yang disajikan namun juga menghargai orang yang membantu menyiapkannya.

Selain belajar tentang proses memasak, kunjungan ke gerai pizza ini sekaligus menjadi sarana anak-anak mengenal profesi yang mungkin nantinya menjadi pilihan cita-cita mereka. Bahwa tak selalu cita-cita itu melulu dokter, pilot, tentara, arsitek, guru atau bahkan ultraman, boboiboy, princess Anna…ehh..(ini benar diucapkan teman-teman kecil) tapi juga menjadi koki.

Belum ada sih teman kecil yang mengutarakan hendak jadi koki, tapi dari cerita ibu-ibu mereka ada beberapa yang selalu bersemangat membantu saat memasak di dapur. Vadin dan Dunia salah dua di antaranya.

Sebagai penutup, saya mau menggarisbawahi. Bahwa mengenal, mempelajari dan mencoba memasak adalah salah satu ketrampilan hidup yang wajib dipelajari setiap anak, apapun jenis kelamin mereka. Karena saat seseorang hendak makan, alangkah elok adalah saat ia mampu mencari, mempersiapkan dan mengolah sendiri bahan-bahan yang akan jadi makanannya. Bukan melulu tergantung atau disediakan orang lain.

Mudah-mudahan ide gerai pizza ini juga diikuti gerai makanan tradisional lain. Sehingga teman-teman kecil bisa belajar dan bereksplorasi ke sana suatu hari nanti.

Advertisements

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: