yukberbagi!


YOUR ONLY LIMIT IS YOU ~ Di balik layar : Inspirasi Tanpa Batas 1.0 – 25 Nov 18
30/11/2018, 4:12 pm11
Filed under: Uncategorized

Sebuah status saya di facebook

Q : mbak Ivy anaknya difabel?
A : ya…difabel yg invisible. Maksudnya tak kentara secara fisik.
Q : tapi sepertinya anak mbak punya talenta tertentu ya
A : ya..saya bersyukur karena Arsa bisa ditemukan talentanya, bisa kami fasilitasi dan anaknya sendiri mau belajar
Q : berarti udah sukses dong Arsa ya..saya denger karyanya sampai ke luar negeri
A : wah.. relatif kalo dibilang sukses ya. Kami bersyukur talentanya bisa terus difasilitasi oleh banyak pihak. Ada tmn2 yang mau mendukung dan mengajarkan.
Q : nah lalu untuk acara besok..Apa Arsa tampil begitu?
A : besok Arsa akan hadir bersama karya2nya. Guru Arsa yg pertama kali mengenalkan mesin jahit juga akan sharing pembelajaran Arsa
Q : apa yang mbak Ivy belajar banyak sebagai orang tua Arsa yang autis
A : untuk tak kenal menyerah. Arsa tak kenal menyerah.. Arsa selalu menyelesaikan apa yg ia mulai.
Satu lagi.. Arsa dicintai banyak orang. Yg sayang dia banyak.
Jadi karenanya saya pun perlu lebih mencintai banyak orang.

#yourlimitisonlyyou

==============

Acara apa sih sampe buat saya menulis kisah di baliknya ini?

Jadi…..

Beberapa bulan lalu sebuah ide dicuatkan seorang teman difabel. Long short.. ia lahir dengan cerebral palsy di tengah keluarga yang tak sepenuh hati menerima.

(Pfiuuhhh emang kita bisa memilih lahir dengan kondisi bagaimana…) *netizen ngejitak, jgn curcol mbak.. hahaha

Ide acaranya mengeksplor karya-karya teman difabel. Agar mereka semakin dikenal dan lebih diapresiasi.

Saya..si emak sok sibuk ini menyambut…okeh..mari kita wujudkan. Gaya sih. Belum kebayang duitnya dari mana, acara kayak apaan.

Lalu…mulailah sesi ngobrol tentang acara. Pertama tak ada kendala tempat karena sang ketua merasa bisa pinjam sebuah pendopo di seberang rumah.

Awal-awal idealis. Acaranya dua hari..trus padat dari jam ke jam. Diskusi berlanjut. Karena panitia belum pro kayak EO , timing antar acara perlu ada jeda. Biar panitia ga lari pontang panting. Nekad terasa..padahal waktu itu awal-awal yang ngumpul ngobrolin ini kurang lebih 8-10 orang.

Waktu bergulir. Rencana berubah. Struktur panitia pun berubah. Tapi yang ga berubah sedari awal adalah teman-teman difabel yang akan mengisi acara. Sejak awal..mereka bak ‘bensin’ yang menyulut api semangat. Terutama saya sih. I don’t know. Maybe i have Arsa. Tahu banget rasanya berbeda di dunia reguler.

Unik banget ya. Biasanya inti acara dulu dipikirin baru siapa pengisinya..tapi ini kebalikannya. Pengisi acara ada, tapi bagaimana bentuknya belum terpikirkan. Tapi sekali lagi saya merasa banyak yang berharap banyak dengan acara ini.

Belum lagi rancangan budget yang pertama disusun adalah hil yang mustahal. Uang dari mana. Saya aja masih mengencangkan ikat pinggang untuk budgeting keluarga kami.

Pencarian donasi pun dimulai. Proposal disebar ke berbagai arah. Tapi mendapatkan kemurahan hati tak sebegitu mudahnya. Mungkin kini orang berhati-hati untuk tidak sembarang memberi dana karena maraknya oknum yang ‘memanfaatkan’ kaum disabilitas untuk mencari uang. Saya sendiri bersusah payah menjelaskan difabel itu apa, meski Indonesia baru saja menyelenggarakan Asian Para Games.

Singkat kata, waktu bergulir..tiba-tiba lokasi pertama dan kedua yang direncanakan tidak bisa digunakan. Satu persatu personil panitia, pun ‘berguguran’ menjadi 2 orang saja; karena kesibukan dan alasan personal masing-masing.

2 orang yang tertinggal saya dan Ervina, ketua panitia dan kakaknya Yovin (sebenarnya 3 dengan si pengagas, Yovin). Kami berusaha memahami bahwa masing-masing teman tersebut punya talenta masing-masing dan tak semua orang bisa duduk bersama layaknya SC – Steering Committee (konseptor) . Ada yang lebih cocok dan memilih untuk menjadi OC – Operational Committee (pelaksana). Dan karena ini volunteering, saya tak berhak memaksa teman-teman untuk terus concern.

Ngenes sih rasanya duduk bertiga aja di kamar Yovin yang notabene ikut berpikir, ikut komen termasuk marah-marah, walau dalam keadaan tengkurap (bonus 2 anak saya yang ngikut tiap rapat, tapi mereka happy karena bisa wifian dan ngemil) Plus jujur saya juga kecewa atas kondisi putus asa yang terjadi.

Tapi satu kali Yovin bilang. “Masih ada beberapa belas hari, apapun bisa terjadi.” Oh my..tiba-tiba saya merasa tertampar. Saya yang lebih sehat, lebih reguler, lebih ‘able’ kok ya hilang semangat gini.

Dan tak dinyana, saat saya buka twitter pas ada postingan pelari estafet jepang yang berdarah-darah menyeret kakinya yang patah untuk bisa mengoper tongkat estafet ke pelari selanjutnya. It was opening my eyes.. never give up.. never ever give up.

Akhirnya berdua Ervina saya mulai memikirkan berbagai alternatif. Meringkas acara, menyederhanakan event, sambil memangkas budget sana sini. Dua hari menjadi 1 hari. Acara pun dipilih yang inti-inti saja namun mewakili semua dan tentu paling kuat mengusung Inspirasi Tanpa Batas. Kami pun berbagi tugas.

Namun galau dan cemas kami untuk mampu wujudkan ini..masih saja ada. Tapi sekali lagi saya ingat untuk tak menyerah. Teman-teman saya baik melalui japri maupun grup, sambung menyambung memberi semangat.

Tahu-tahu ada yang menawarkan untuk ikut saja pada acara sebuah instansi dalam rangka hari Difabel Internasional. Namun ujung-ujungnya kita hanya sebagai tempelan saja dari acara tersebut plus…malah diminta urun dana. Pfiuhhh….kita saja masih megap-megap gini.

Ervina menelpon saya untuk tanya apa kita sendiri lanjut atau tidak. Spontan saya bilang “lanjut. Yang bisa hentikan kita hanya umur dan kondisi yg tak terduga / force mayeure. Chaos..Rusuh..bencana alam.” Ervina tampaknya kaget saya bilang gitu.

Tapi kekagetan itu dan mungkin keyakinan saya mengundang hal baik. Tiba-tiba saja donatur bermunculan. Dana…tempat..kaos panitia..termasuk orang-orang baru yang bersedia jadi panitia. Oma Ina dan Padma.

Itu awal November. Waktu yang cukup pendek untuk persiapkan acara besar. Mulailah kami mengkonfirmasi ulang pengisi acara.. melobby bantuan sana sini. Rapat berlangsung melalui whats app dan ngobrol bareng. Tapi kebanyakan kami keliling menghubungi ini itu.

Singkat kata.. jelang beberapa hari.. kami sudah dengan pressure tingkat tinggi. Yovin kena marah. Anak-anak dan suami saya pun berhadapan dengan galaknya saya (maaf dear). Kecemasan kami mungkin karena tempat yang dipakai punya deadline waktu pinjam. Hanya boleh dari pagi sampai jam 16.00 saja. Persiapan pun demikian. Khawatir acara akan molor, sedikit volunter yang bisa bantu, ga ada audience, beberapa persiapan teknis yang musti direminder berkali-kali, komplainan sana sini. Rasanya hari-hari itu tidur kami tak nyenyak.

Sampai tiba hari H.

Sedari pagi siap-siap berjalan baik. Banyak volunter yang tahu-tahunya datang membantu. Dan saat satu persatu pengisi acara hadir, hati kami terus menghangat. Cuaca cerah, audience datang silih berganti, masalah teknis bisa tertangani.

Satu persatu mata acara berjalan lancar. Tak ada pengisi acara yang terlambat dan mengganggu jadwal, walau briefing hanya lewat wa. Momen-momen kekaguman, terharu, merasa bersyukur banyak terekam. Tagar kami YOUR ONLY LIMIT IS YOU benar-benar menguar dari teman-teman difabel.

Saya sendiri merasakan banyak doa..dukungan dan cinta untuk kelancaran acara ini. Beberapa ketidaksiapan kami bisa tertangani dengan baik. Jumlah konsumsi yang pas, malah banyak sumbangan kudapan yang bisa dibagi untuk dibawa pulang.

Setiap mata acara yang tersaji sungguh membuka mata dan menginspirasi yang hadir. Mereka bahkan meminta agar acara ini ada kelanjutannya.

Dan ternyata belum jam 16.00, kami panitia sudah meninggalkan tempat kegiatan dalam keadaan bersih dan kembali ke settingan mereka semula. Tak ada yang bisa melukiskan perasaan saat itu. Walau saya sendiri ‘terkapar’ sesampainya di rumah.

Dan yang paling membuat kami panitia terpukau dengan kekuatan cinta dan dukungan banyak orang ini adalah saat menghitung budget. Semua tercukupi dengan baik bahkan kami kini punya modal sedikit untuk event selanjutnya.

Ah.. Tuhan apapun sebutannya…semesta raya sungguh mencintai kami dan teman-teman difabel. Benar adanya..saat kau berniat dengan hati dan tujuan baik, hal-hal baik akan terundang dengan sendirinya tanpa kau minta.

Saya, Ervina, Yovin, Oma Ina, Padma banyak belajar dari event ini dan punya mimpi-mimpi lain sebagai kelanjutannya.

YOUR ONLY LIMIT IS YOU.

Tak ada yang bisa menghentikan cinta, niat baik, kerja keras dan impianmu.. selain dirimu sendiri.

Terima kasih..terima kasih luberan cinta teman-teman yang telah mendukung acara kemarin. Luv u all

Advertisements

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: