yukberbagi!


Para pelakon
03/02/2019, 4:12 pm02
Filed under: Uncategorized

View this post on Instagram

@30haribercerita Seperti pelakon, kita cuma memerankan apa-apa di benak sutradara. Begitu kata laki-laki itu. Dan saya tak pernah percaya. ° ° Seperti wayang, kita cuma bisa bergerak sesuai tangan sang dalang. Tiada itu, kita cuma boneka. Dan sekali lagi saya pun tak mau percaya. ° ° Mengapa kamu tak bisa percaya, Ti? Karena sesadar-sadarnya ia bersikap bak dewa. Di mata orang, ia taat beribadah, ia bersikap lurus, ia sangat disiplin, ia family man, ia rajin bekerja, ia pemimpin yang hebat di kantornya. Nah..apa buruknya, Ti? Karena sikapnya tak demikian kepadaku. Semua sikap tadi dilakukannya bak malaikat. Manis, penuh kasih sayang. Untuk selalu ditunjukkan di hadapan ibundanya. Termasuk bapakku. Termasuk di depan anak-anakku. °° Lalu….? ° Di hadapanku ia menjadi iblis. Ia memakiku setiap problem di kantor. Ia melecehkanku setiap malam aku kelelahan membereskan rumah; termasuk saat aku datang bulan. Ia selalu menyalahkanku saat anak-anak bertengkar. Ia memarahiku saat ada yang tak beres dirumah. Bahkan ketika si bungsu kami tampil di sekolah, ia hanya bertanya, "bagaimana tadi?" , padahal ia berleyeh-leyeh depan komputer seharian. Semua kesuciannya tiba-tiba lenyap ketika berhadapan denganku, Na. Hanya denganku..yang selalu dibilangnya perempuan nista yang beruntung dipungutnya di jalan. Kamu sering dipukul begini, Ti? (Tangan Na menunjuk lebam dan bilur di area leher dan kepala) Sesering ia bilang mencintaiku, Na. Sambil gemetar, tanganku menggenggam jeruji besi yang memisahkanku dengan Na. ============ 24 jam sebelumnya. "Ini semua cuma sandiwara kan…. Ak…ak..aku..cinta… cinta kamu, Surti" suara laki-laki itu makin melemah bersamaan dengan tubuh kekarnya tersungkur menabrak meja. Tanganku gemetar. Pisau dapur berlumur anyir darah terjatuh ke lantai. Tiada saksi…anak-anak sudah kutitipkan di tempat eyangnya. #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1927 *KET GBR : area wayang potehi di sudut Ketandan, Yogyakarta, 2018

A post shared by Ivy Sudjana (@ivy_sudjana) on



Kamu tak (benar-benar) cintai aku
03/02/2019, 4:12 pm02
Filed under: Uncategorized

View this post on Instagram

@30haribercerita Beberapa pesan masuk ke gawaiku. ○○ Besok ikut aku plogging yuk. Jam 6.00 di tempat biasa. Apa Sih Plogging?? Ah..masa kamu ga tau… Lari sambil ngumpulin sampah sepanjang jalan..keren kan idenya. Belum menjawab, aku beralih ke status di ig nya. OUTFIT BARU DUNK…UTK PLOGGING. BUATAN HONGKONG NIH. BIAR BANYAK YG NGELIKE DI FEED AKU BESOK. Aku 😏 □□ Bum, retweet dong postinganku barusan. Biar pada beli. Eh Postingan yang mana? Kan Aku Udah Retweet. Itu yang folding grocery bag. Ini yang baru aja kutweet. Reusable stainless straw. Kan lagi hitz tuh.. yah…tolong retweet yaahhh.. follower mu kan banyak. Belum menjawab, ku beralih ke status wa nya. Si super lapak ini.. jualan apa aja. Ngakunya sih pecinta produk ramah lingkungan. Tapi ujung ujungnya bisnis. Dia sendiri tak pernah memakainya. Aku 😏 ◇◇ Mas, besok bawa kotak bekal ya. Aku baru buat resep baru. Tumbler nya juga ya. Pokoknya semua handmade, homemade, pangan lokal, organik. Aku hanya memberi emoticon. 👍 Kulirik sekilas postingan tweet terbarunya. "Yang kalian makan itu semuanya sampah. Menjijikkan" Aku 😏 ======================== Menjadi aktivis, cuek, vokal dan katanya 'sangat laki' membuatku banyak didekati. Salah tiganya adalah pengirim pesan-pesan tadi. Yang lebih intens, konsisten mendekatiku setiap hari. °°°°°°°° Mereka pikir, aku si aktivis lingkungan akan tertarik dengan perempuan yang juga giat menjaganya. Mereka lupa. Bahwa saat aku masuk kelas pertama kali aku telah memberi petunjuk. "Nama saya Bumi Semesta Raya. Agama saya cinta. Pesan ibu saya, mengasihi tanpa meminta, memberi tanpa menerima, berperilaku tanpa diingat. " Dan dari pesan dan postingan media sosial ketiganya, nyata nyata mereka tak sebenarnya menyayangi aku. BUMI mereka. #30haribercerita #30HBC19 #30HBC19bumi #30HBC1923

A post shared by Ivy Sudjana (@ivy_sudjana) on