yukberbagi!


Pengalaman warna warni
06/04/2019, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Tiba-tiba berselancar di sosial media akhir-akhir ini begitu membosankan. Berita, link, copas ina ini ita itu bermuatan sama. Yang hoax, yang ngegas, yang klarifikasi — sungguh panggung sandiwara yang jujur ingin segera saya lampaui.

Saya tersadar saya perlu berinteraksi sebenar-benarnya di dunia nyata.

Akhirnya kemarin saya dan si bungsu play date ke rumah salah seorang teman sekelasnya. Dydy asik main dengan kakak beradik laki-laki, saya ngobrol asyik dengan ibunya. Saya senang memberi kesempatan pada si kecil untuk mengalami. Dan ternyata saya pun menikmati pengalaman ngobrol ini.

Keluarga yang saya kunjungi ini bukan satu-satunya keluarga beda agama di Sanggar Anak Alam, Yogyakarta. Cerita demi cerita, suka duka perjuangan pasangan beda agama dalam obrolan kami kemarin sore mengalir lebih pada keingintahuan, bukan kecaman atau malah tuduhan, “kamu ga lelah menghadapi pertanyaan anak-anakmu atau keluarga besar. ”

Jujur..yang terlintas di benak saya bahwa salah satu yang membuat mereka memasukkan anak-anak ke Salam, lebih kepada tidak keponya komunitas ini terhadap apa agamamu atau apakah suami istri beda agama, meski ada di formulir pendaftaran. Walau tak ada aturan atau kesepakatan tertulis di sekolah, agama menjadi suatu yang sangat personal, membumi dan mengejewantah dalam penanaman karakter : jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan.

======

Obrolan kami yang seru itu sayangnya harus dijeda untuk kunjungan sekaligus mengajak anak-anak menyaksikan peristiwa budaya.

Mendekati Festival Qingming atau Cheng Beng sebagai ritual tahunan etnis Tionghoa bersembahyang dan ziarah kubur sesuai ajaran Khong Hu Cu yang biasa berlangsung tanggal 5 April; di PG Madukismo sudah berpuluh tahun mengadakan ritual festival Pengantin Tebu.

Anak-anak kami dari Taman Anak Salam yang berusia 5-6 tahunan jelas berminat dengan karnaval, apalagi diimbuhi adanya pasar malam. Menjelang ba’da ashar, teman-teman kecil ini berbaris manis, rapi dan antusias.

Setelah sebelumnya anak-anak ini diberi penjelasan sederhana tentang acara, mereka tak sabar menunggu iring-iringan peserta karnaval lewat.

Ada beberapa momen menarik saat mereka menunggu. Walau didampingi orang tua, tak ada yang merengek minta gadget seperti anak-anak lain yang tampak sibuk bersamaan dengan orang tuanya. Walau ada penjual mainan, ada penjual makanan; tak ada yang tantrum meminta dibelikan.

Saat mereka mulai merengek kenapa tak jua arak-arakan dimulai, guru-guru dengan piawai menjelaskan tentang belajar sabar. Mau menonton, harus sabar menunggu. Dan itu adalah konsekuensinya.

Sehingga ketika iring-iringan dimulai, mata-mata nan polos takjub memandang. Sambil sesekali bertanya kepada guru, berkomentar atau berbaris atau berjoget seperti peserta, anak-anak ini memuaskan keingintahuannya.

Saya menikmati proses ini. Sebuah akulturasi budaya di mana tradisi masyarakat sekitar pabrik gula mengambil bagian dari aktivitas untuk dirayakan. Bahkan pengantin tebu perlu melangsungkan akad nikah di masjid, sebelum diarak mengelilingi area pabrik gula.

Entah apakah tradisi ini dianggap tidak pas atau berbenturan dengan agama tertentu, yang jelas anak-anak Salam, tidak mempertanyakannya selama menonton. Bersama orang tua dan para guru menikmatinya sebagai sebuah perayaan dan atraksi keramaian saja.

=====

Pengalaman hari itu sungguh memberi rasa yang berbeda pada saya. Bangga bahwa Indonesia masih memiliki tradisi-tradisi unik yang berakar dan menjadi bagian dari masyarakat.

Sekaligus timbul keyakinan. Bahwa apabila agama atau segala sesuatu yang kita yakini adalah hal yang sangat personal, dan berdasar pada prinsip-prinsip kemanusiaan ; kita bisa saling ngobrol dan berdiskusi tentang hal itu, tanpa merasa saling terintimidasi atau terpojokkan.

Dan Indonesia seperti ini lah yang hendak saya wariskan pada anak-anak saya.

Sungguh-sungguh berdoa untuk keberagaman dan toleransi yang lebih baik. (Yang sedang carut marut pada postingan media sosial dan dunia maya akhir-akhir ini)

06.04.19



Stop..playing victim
02/04/2019, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Cerita Dydy :… jangan mami…nanti ditangkap polisi
Kamu begini begitu..nanti ditangkap polisi.

Sekali dua kali masih lucu ya.
Tapi menurut saya..ini tak sehat.
Menakut-nakuti anak akan sosok tertentu sangat tidak sehat.

Tapi..alih-alih siapa teman sekolah yg mau saya jadikan tertuduh, saya berpikir ulang.
Yah siapapun anak kecil itu, ia pun ‘korban’ . Dalam arti sikap orang dewasa yang membentuk dengan menakut2inya.

Yang perlu saya lakukan..hmmm..memang ga mudah ya : ngobrol banyak dengan Dydy bhw tangkap atau tidak ditangkap polisi, bukan hanya masalah belum bayar tiket renang, beli lupa membayar dll.
Dan saya rasa diskusi ini akan lama dan perlu kesabaran saya.

========
Sikap ini saya belajar banyak dari bagaimana bertumbuh bersama Arsa.
Awal-awal asuh didik Arsa yang autistik, sikap saya adalah..ini salah anu..ini salah itu..ini salah X. Termasuk ini salah saya…salah kami.
Tapi apa jadi memudahkan saya mencari solusi untuk Arsa?
TIDAK malah saya jd benci..terpuruk..denial dll.

Sampai sebuah titik balik yang menyadarkan. Bahwa memiliki anak spec needs..autis tepatnya..akan berefek penolakan dan diskriminasi sepanjang hidupnya…dan itu tidak bisa kami tolak atau kami bungkam.
Sejak saat itu saya..kami sekeluarga mulai belajar.
Menyalahkan apa pun..siapa pun tak akan mampu berbuah solusi.

Yang bisa kami lakukan adalah apapun. Apapun yang bisa memfasilitasi..apapun yang bisa memberdayakan akan kami lakukan…sesungguh2nya kami.

Cemoohan..tatap mata aneh..olok-olok..ceramah demi ceramah bukan jadi tak ada. Tapi jadi latar suara bahwa jalan kami masih panjang.

Maaf..bila ada teman..kenalan baru yang tanya, DM, inbox, wa, wawancara lalu saya jawab setegas2nya.
Terkesan judes ya.
Tapi sejatinya saya ingin menuturkan..segera bangkit..segera maju..segera buka pikiranmu.
Jangan berhenti hanya di diagnosa, lalu berputar-putar mencari penyebab saja untuk disalahkan.
Karena jujur…
Pada dasarnya saya, kamu..kita sangat takut disalahkan. Atas sesuatu yang tidak (seutuhnya) kita tahu.

Yuk belajar..
Stop playing victim.
Apapun..bagaimana pun anak-anak kita.
Fokuslah dengan apa yang perlu kita lakukan selanjutnya.

Karena hidup itu terus maju.

*kaset aja maju mundur jadi kusut ya. Eh kok kaset..ketauan saya generasi thn brp πŸ˜‰

020419