yukberbagi!


Awul-awul keren = Cloth Swap!
20/05/2019, 4:12 pm05
Filed under: Uncategorized

Kemarin (akhirnya) meniatkan diri ikut #tukarbaju atau cloth swap.
Sebuah upaya untuk kurangi limbah tekstil dengan memperpanjang usia pakaian krg lebih 9 bulan dan mengurangi emisi karbon krg lebih 30%. Mengapa 9 bulan? Kata Amanda, salah satu pemantik diskusi — angka itu sudah disurvey dari jangka waktu bosannya seseorang akan pakaian yang dimilikinya.

Dengan #tukarbaju usia baju ini diperpanjang ke pemanfaatan oleh pemilik baru. Sehingga tak serta merta berakhir menjadi keset kaki kalau di rumah saya; plus tentu saja ujung-ujungnya mencegah keinginan berbelanja pakaian baru yang belum tentu masuk kategori ethical fashion.

Berat ya bahasannya. Mungkin bila tak paham, browsing akan membantu.

Saya pribadi minat dan tahu tentang gerakan ini sejak follow beberapa akun untuk kepentingan mencari pelapak dan pengisi workshop Pasar Pangan di sekolah anak-anak.

Waktu itu baru berandai-andai acara #tukarbaju ini di Yogya. Sepertinya semesta menjawab. Dalam hitungan hari saya memutuskan untuk register sambil stalking akun-akun terkait. Jujur sedikit tak percaya diri saat memilih pakaian saya yang akan bertukar pemilik. I’m not a fashionable woman. Beberapa baju adalah lungsuran (yeay saya sudah minimize cloth waste juga ya).

Akhirnya sampai juga hari H. Acara ditulis dari jam 9.30 – 17.00.

Buat ibu-ibu macam saya, gak mungkin saya pergi seharian. Jadi masak dulu, main sama si kecil dulu plus bantuin suami nyetrika dulu.

Saya milih berangkat setelah makan siang dan ngopi. Gak yakin ada warung atau dagang gorengan dekat lokasi saat bulan puasa begini kan! Yak..saya juga gak kuat milih baju bila kelaparan. Finally, saya muncul di saat diskusi baru dimulai. Jujur mata saya sudah awas melihat-lihat pakaian di pinggir area diskusi.

Dan, ketika diskusi berakhir; orang-orang yang ikut fase register ulang dan kurasi mengular antriannya. Membawa 6 helai pakaian saya dan suami, hanya berbuah lolos 1 saja.

Kurasi ini menggunakan token dari tutup botol minuman plastik atau soft drink sebagai alat tukar yang mendukung acara. Jadi berapa pakaian yang lolos kurasi panitia = berapa token yang diperoleh.

Kurasi tergolong ekspress. Hanya diperiksa, bukan kaos, bahannya stretch apa gak, sudah melar atau belum, berbulu/bernoda atau tidak, berubah warna atau tidak. Tak perduli masih ada price tag pertanda baru, kalau sudah tak memenuhi kriteria sda, ya tak akan lolos. Seperti salah satu atasan yang saya bawa.

Berbekal 1 token itu, saya kalap berkeliling. Hal yang menarik adalah pergolakan batin… wohooo..emang apaan ya.
Ya..begitu kesempatan menukar, secara alami pikiran atau keinginan kita adalah dapet swap atau tukar pakaian yang lebih bagus, lebih mahal atau lebih keren (pakaian kriteria A pengennya).
Tapi…3 kali milih yang asik dan sesuai selera saya, ketiganya tahu-tahunya robek atau berlubang.
Mau maki..mau jengkel.. sama siapa coba?

☝️salah satu yang robek di bagian saku

——

Akhirnya curcol ke panitia. ” ini jadinya kayak mindahin sampah dari rumah dengan cara yang tak elok ”

Kejadian ini sebenarnya banyak terjadi saat kita mengumpulkan pakaian bekas pakai. Bukan memikirkan apa pakaian itu masih mau dan layak dipakai orang lain, tapi lebih sekalian bebersih rumah πŸ˜‘πŸ˜‘.

Ya saya cukup bersyukur, sudah terlatih menyortir sejak jadi panitia pasar murah di sekolah, garage sale maupun ‘dagang’ awul2 di Sunmor tahun lalu. Jadi tak semudah itu zonk… dapat “sampah”nya orang.

Dulu saat dagang awul-awul pun, kami tak mengambil sekadar ‘sampah’ berkarung-karung dari Cina, Korea atau negara lain seperti banyak pedagang awul-awul di Sekaten misalnya. Tapi lebih pakaian sahabat – sahabat saya yang sudah tak mau mereka pakai di berbagai daerah; sehingga..jujur dagangan kami cepat perputarannya karena kondisinya masih sangat baik.

Ohoho…kok ngelantur ngomong awul-awul. Ya.. karena menemukan lubang sana sini itu, keinginan mendapat baju swap dengan kriteria A, menyadarkan saya.

Untuk apa dapat yang berkategori lebih, bila itu menumpuk lagi dalam lemari.
Tujuan cloth swap adalah menjadikan dirimu fungsional. Belilah secukupnya yang akan kamu pakai, belilah bila kamu betul2 memerlukannya.

Gunakan apa yang kamu miliki. Perbaiki atau sumbangkan apa yang kamu punya agar lebih berumur panjang.

Begitu saya berpikir demikian, tau-tau dapatlah sepotong baju yang langsung manis dan pas dipatut depan cermin dari teman tukar hari itu. Ini terjadi sekian lama setelah sebelumnya zonk dengan lubang sana sini atau dapat beberapa kali model yang ga cocok di tubuh saya. Tunik-tunik misalnya. Saya serasa arem-arem dikostumin. πŸ˜„πŸ˜„

Perasaan saat dapat baju yang cocok…jujur…sungguh melegakan.
Apalagi melihat baju saya yang di swap juga dapat teman tukar a k a pemilik baru.

Acara pun usai. Kerumunan peserta berangsur membubarkan diri menjelang berbuka puasa. Saya masih melirik pakaian yang tersisa di hanger. Beberapa memiliki model yang out of date atau warna yang unik spesifik, sejenis pakaian yang digunakan seumuran ibu saya. Ketika ditawari apa mau membayar bila tak ada token lagi, 1 pcs 10ribu rupiah; tiba-tiba saya merasa sudah sangat cukup.

Ya..pakaian yang ‘aneh2’ menjadi sesuatu hal yang tak bisa dihindari saat acara-acara seperti ini. Karena panitia membuka donasi sebelum hari H, seperti membuka peluang limpahan apa saja.

Saat ngobrol dengan Amanda di akhir acara saya mempertanyakan. “Bagaimana dengan kurasi yang sebaiknya sebelum hari H?”

Pertimbangan panitia adalah peserta jadi harus datang dua kali dan kerepotan itu mungkin akan mengurangi jumlah orang yang berpartisipasi. Padahal target acara ini adalah semakin banyak yang berpartisipasi semakin berhasil tujuannya.

Ya.. walau tetap ada plus minus acara #tukarbaju ini, minimal warga Yogya (saya terutama) sudah memulai. Untuk lebih menyadari bahwa memiliki pakaian adalah melihat manfaatnya. Bukan sekadar iming-iming lapar mata, gemerlap diskon atau tren semata.

Catatan tambahan saya sih..miliki sesuai kebutuhanmu dan pakailah sesuai tempatnya.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: