yukberbagi!


mini fiksi #3
02/07/2019, 4:12 am07
Filed under: Uncategorized

“xin..kamu tahu aku kemarin ketemu siapa” aku menatap Mei yang tiba-tiba sumringah. “siapa?”

“ganendra” aku tercekat. “sama pacarnya, mungkin satu sekolah. wajah dan gerak geriknya nyaris seperti kamu”

aku tiba-tiba terdiam. “tampaknya dia sulit melupakanmu.”

aku makin terdiam. “kenapa hubungan kalian berakhir?”

aku hanya menggeleng sambil berucap “tak berakhir. tak ada juga yang mengakhiri”

=====

sepucuk surat menyembul dari retsluiting ranselku. dear x111NN

hatiku mendadak berbunga, tapi tak mungkin kubaca sekarang. terlalu banyak orang di kelas. apalagi..pengirimnya ada di ruangan yang sama. kutatap punggungnya dari tempat dudukku. tampak ia sedang serius mengerjakan soal.

“axinta, apa kamu sudah selesai? nyantai banget bengongnya” suara pak B mengejutkanku. satu kelas tertawa, termasuk ia.

sambil tergagap menjawab sudah, ekor mataku menangkap senyum di sudut matanya. entah bermakna apa.

=====

kata-kata mei masih terus terngiang. bahkan sampai saat ini. saat aku menemukan nama ganendra di rikues pertemanan, padahal tak ada apapun setelah masa sekolah…hal-hal yang bisa menghubungkan kami kembali. pindah sekolah, pindah negara. terlalu berjarak.

aku dan ganendra, tak pernah bertutur sapa, tak pernah bisa berkata saat bertemu, tak pernah bisa bercanda tanpa ada orang lain sekitar kami.

tapi surat-surat kami, menyatakan interaksi yang hangat, keakraban..ah bukan..malah keintiman yang sangat.

dalam skala yang lebih lanjut adalah kiriman lagu-lagu darinya, di radio setiap jam 8 malam.

tak ada yang bisa mendefinisikan apa yang terjadi antara kami saat itu.

seperti tak ada yang bisa mendefinisikan saat aku akhirnya mengkonfirmasi rikues pertemanan itu sekarang.

“we truly never talk in reality, gndr. i truly miss your letters”

– akhir ’80 –



mini fiksi #2
01/07/2019, 4:12 am07
Filed under: Uncategorized

seonggok berkas masih tergeletak, di hadapanku. nama yang tercantum menyeretku ke usia belasan tahun. frandyarso.

kutatap perempuan dengan raut kelelahan di wajahnya.

“ibu serius ingin melaporkan kasus ini? ini betul suami ibu sendiri?”

dia terisak. ceritanya mengalir tak tertahan. tentang bagaimana ia tak punya waktu istirahat untuk tubuhnya sendiri. lepas masa nifas, selalu saja ia disetubuhi lagi.

“anak-anak kami harusnya enam atau tujuh. tapi kini hanya tiga. dua diantaranya tak bertahan lama, baru trimester pertama sudah luruh. yang lain tumbuh tak sempurna lalu luruh juga. semua…karena saat hamil pun saya harus melayani. badan saya sakit mbak. remuk redam rasanya. tak pernah saya diberi istirahat kecuali saat datang bulan. cape..pusing..ia tak pernah mendengarkan saya”

aku menatapnya lekat. teringat percakapan dengan sesosok perempuan, bertahun lalu.

“gue baru aja putus sama fran. dia nya sih ga mau..tapi gue udah lelah.”

“kenapa..ia pacaran dengan perempuan lain?”

“nope. ia tipe setia..cenderung posesif malahan. ia menganggap gue miliknya yang bisa ia pergunain kapan saja”

“maksudmu apa dengan pergunain. emang elo barang.”

“ya..fran selalu bernafsu. kencan kami adalah cumbuan-cumbuan, tak kenal tempat dan waktu. ia tak peduli gue mau apa..tak peduli gue sedang bagaimana. gue capek”

aku terdiam. lama. fran dan weni. betapa aku iri ketika mereka jadian.

tiba-tiba sang ibu berujar lagi. “kalau ga mau..saya dipukul mbak. dianggapnya saya ga cinta dia lagi. dibilang saya mau selingkuh. habis lapor ini..saya langsung mau ajukan cerai.”

aku menghela nafas.. menatap lagi nama yang tertulis di berkas.

orang yang sama. seperti cerita temanku belasan tahun lalu.

orang yang sama. sosok cinta pertamaku.