yukberbagi!


W A R A S , is that what i need nowadays (self note ibu remaja autistik)
05/08/2019, 4:12 am08
Filed under: Uncategorized

Kata-kata itu masih terngiang di telinga saya. “ada penelitian yang bilang tekanan psikologis orang tua individu autistik itu serupa dengan tekanan pada tentara yang baru kembali dari medan perang.” Reaksi saya saat itu hanya tersenyum, gestur santai sambil berujar. “ya..akan makin stress kalau diri sendiri denial atau ga ngurusin anaknya kan mbak…”

Bertahun-tahun ujaran itu [ternyata] menghakimi orang tua dan keluarga lain. Anggapan tentang saya yang devoted ..dengan keluar dari pekerjaan saya, untuk kepentingan Arsa; jadi senjata ampuh untuk berburuk sangka.

Di sisi lain, hal itu juga yang mungkin jadi senjata saya untuk ‘kuat’ terhadap segala hal yang terjadi sebagai ibu dari individu autistik.

Telusuri dan baca saja cerita saya mengasuh didik Arsa yang terlahir dengan spektrum autistik. Lengkap adanya. Haru biru..gado gado, jatuh bangun, putus asa semangat ada di sini

https://balebengong.id/author/ivy/?lang=id

Bila tulisan-tulisan tentang bagaimana Arsa, sulung saya yang kini 16 tahun, dibaca semuanya; tentu menuai tanggapan : mbak Ivy..keep strong ya. Jadi ibu yang kuat. Ga kebayang kalau saya jadi mbak Ivy. Kamu luar biasa mbak..dstny dstny.

Ditambah lagi, menyimak bagaimana Arsa berkembang sedemikian rupa. Seorang handembroidered artisan dengan karya yang sudah ke manca negara. Diwawancara, dikenal, jadi tempat curhat plus konsultasi. Semakin saja menguatkan imej saya tentang ibu yang ‘sukses’

Tanggapan, respon, reaksi itu memang menguatkan dan melambungkan saya. Kuat dalam arti tak gampang menyerah, namun juga berarti ‘keras’. Keras untuk tanpa sadar menyombongkan diri.

Kamu udah melakukan asuh didik apa aja sama anakmu? Bertanggung jawab gih sebagai orang tua.

(Walau sepertinya saya memberi saran dan dukungan, namun kadang dalam hati saya jengkel dan berkomentar…duh ibu/bapak ini maunya apa sih. Capek aku tuh)

atau saya malah toxic positivity , memberi saran dengan membandingkan situasi kondisi saya untuk meyakinkan bahwa saya benar, mereka salah.

Saya sungguh jahat. Lupa saat-saat saya jatuh dan terpuruk. Benar-benar lupa.

Hingga akhirnya bulan Juni saat Arsa akan melanjutkan ke SMA. Dengan badan remaja, dengan semakin fleksibel dan cairnya interaksi dan komunikasi dia dengan orang lain selain keluarga, dengan semakin berkembang kemampuan menjahit sulam; termasuk fase puber yang jelas membingungkannya, tahu-tahunya Arsa tetap saja tantrum di tempat umum.

Dan tantrumnya remaja autistik lebih mengkhawatirkan, karena bisa membuat orang salah sangka. Puncaknya Arsa dua kali tantrum yang menuai respon emosi orang- orang sekitar lokasi kejadian. Kali pertama seorang bapak sampai membantu menegur Arsa, karena Arsa menyerang adiknya. Kali kedua seorang bapak sampai ingin memukul Arsa karena tak senang anaknya (entah) dicubit atau dijambak rambutnya.

Saya shock berat. Tiba- tiba saya diserang kecemasan berlebihan. Di tantrum kedua, saya menampar Arsa di depan bapak anak itu, lalu memaksanya masuk mobil. Saya menangis histeris tak terkendali sambil menelpon suami yang sedang di luar kota.

Saya terus histeris, Arsa kebingungan. Dan itu berlangsung sampai malam. Beberapa kali saya sampai perlu mengkonsumsi chamomile untuk menenangkan diri. Suami yang menelpon hanya bilang, histeris tak akan menyelesaikan apa-apa; dan bisa memicu Arsa untuk emosi juga. Yang terlintas di benak saya saat itu, hanyalah Arsa perlu ke psikiater mendapat obat penenang (sesuatu yang kami hindari selama ini) dan saya perlu bantuan psikologis.

Sejak tantrum pertama, saya terserang insomnia. Tidur malam hanya empat atau lima jam, tanpa saya mengantuk di siang harinya. Bak zombie saya menjalani hari dengan perasaan down. Usai memasak, memastikan anak-anak beres segala keperluannya, membersihkan rumah; lalu saya pakai earphone/headphone dan menonton streaming film. Media sosial termasuk whatsapp grup di mana saya sangat intens, menjadi tak menarik lagi. Saya merasa tak perlu tahu urusan orang lain, malas merespon chat dan statusnya orang. Saya merasa dengan menonton film saya melupakan sejenak urusan Arsa. Apalagi bila Arsa impulsif ‘menyerang’ adiknya, dengan sapu lidi saya bisa memukuli tembok dan meja untuk melampiaskan emosi saya yang terekskalasi hebat. Arsa ketakutan dan adiknya diam lalu menangis. Usai itu, bisa berjam-jam saya tak mau tahu urusan apapun dan siapapun.

Saya pun tak berani bepergian dengan Arsa (baik sendiri maupun dengan adik atau neneknya) tanpa didampingi suami saya. Tiba-tiba saya menyadari..bepergian dengan Arsa yang autistik, adiknya usia 6 tahunan yang selalu curious dan neneknya yang jelang 80 tahun akan memecah fokus saya; ke mana saya harus memberi perhatian lebih. Merespon bahwa kami akan bepergian dan ada Arsa yang ikutserta saja sudah membuat saya stress dan degdegan.

Padahal dulu, bertahun-tahun saya bisa cukup menguasai diri saat Arsa ngambek dan tantrum. Kalaupun tak kuat, saya lari sembunyi di kamar. Namun kini malah mendengar Arsa berisik, teriak-teriak; saya merasa Arsa annoying dan saya segera menutup telinga dengan earphone.

Saya sempat curhat ke beberapa teman, terutama tentang bantuan psikologis. Mendengar cerita dan menyimak bagaimana sikap saya akhir-akhir ini, mereka pun menyimak dan berujung saran tentang bantuan psikologis.

(namun jujur sampai saat ini saya belum pernah berangkat)

Suami berupaya mendukung saya dengan memberi waktu ‘hibernasi’. Saya jadi banyak waktu untuk diri sendiri. Beberapa kali saya menyempatkan bepergian seorang diri. Cukup melegakan perasaan dan mendorong saya berpikir.

Belasan tahun lamanya saya dihantui perasaan bersalah karena meninggalkan Arsa (anak-anak) dan rumah. Bersalah karena seperti meninggalkan tanggung jawab utama, sebagai orang tua; sebagai ibu. Bersalah karena seperti menjilat ludah apa yang saya hakimi kepada orang tua lain.

Namun saat ‘hibernasi’ itu, saya disadarkan perlunya untuk memulihkan diri, menjadi lebih waras. Terbayang akan jadi apa, bila jiwa saya tidak sehat, fragile dan mudah terpancing emosi; lalu kemudian mengasuh didik anak-anak.

Setiap usai ME time, saya jadi agak terpompa semangatnya. Langsung memasak untuk anak-anak, bercanda dengan mereka dan membersihkan rumah.

Saya pun sadar. Betapa adiknya Arsa selalu saya salahkan sebagai pemicu atau saya malah tak memedulikan perasaannya saat konflik muncul atau tetiba Arsa bersikap buruk. Bertahun-tahun juga saya mengabaikan bahwa baik saya dan suami pun perlu di’sayang’, diperhatikan, satu dan lainnya. Sesuatu yang mungkin tak sengaja kami kesampingkan untuk (berharap) Arsa menjadi lebih baik.

Saya tahu kondisi itu sungguh tidak sehat. Saat sendiri saya berupaya menyesap apa yang selama ini terjadi. Ya..saya ternyata tidak se-strong yang dikatakan orang. Saya tetap manusia biasa..perempuan dengan segala kerumitannya dan tak ada bedanya dengan ibu-ibu kebanyakan.

Saya pun berusaha menanamkan ke diri..

ME time beberapa saat adalah tidak apa-apa. Seperti tubuhmu yang perlu rehat untuk kemudian segar lagi

Bahkan seorang sahabat memberi catatan.

kita perempuan yang biasa take care orang, perlu belajar bahwa take care diri sendiri juga merupakan hal yang penting. Kalau kita ga take care diri kita kita juga ga mungkin take care org lain.
Being taken care by ourselves or by others perlu dipikirkan banget

Saat ini, saya menjalani hari-hari dengan dukungan teman-teman dan sugesti tentang pentingnya kewarasan saya dalam mendukung Arsa ke hari depannya.

Yang jelas..jari-jari saya makin terkontrol untuk tidak mudah menuliskan toxic positivity atau judging pada penyataan dan pertanyaan orang lain di media sosial terutama berkaitan dengan autisme, parenting dan semacamnya.

Sungguh saya masih banyak perlu belajar. Belajar waras, belajar tulus..tanpa menghakimi.