yukberbagi!


Nyepi dan pandemi
25/03/2020, 4:12 pm03
Filed under: Uncategorized

Saya tetiba rindu malam pengerupukan, arak arakan Ogoh-Ogoh ; sehari sebelum Nyepi. Ya.. tau banget kalau semalam di se antero Bali acara itu ditiadakan, sehubungan dengan pandemi ini.

2016 saya sekeluarga masih ikut menonton, terperangkap pemblokiran jalan dan pulang ke rumah tengah malam dengan si kecil sudah tertidur dengan pulasnya. Namun rasanya puas…senang bukan kepalang.

Dulu…ketika Arsa masih kecil dan belum memahami suasana Nyepi, kami sekeluarga masih terbawa suasana perantau kebanyakan. Memborong sembako (yang kenyataannya makanan minuman hore2, bukan basic) maupun mencari akomodasi Nyepi gratis di hotel kenalan.
Apa sih yang kami takutkan waktu itu?
Gelap kah? Tak bisa keluar rumahkah? Atau apa..kami juga tidak tahu. Padahal ujung-ujungnya ya malah jadi konsumtif karena pengeluaran tidak perlu.

Seusai itu, kami sekeluarga makin menyadari nikmatnya memaknai Nyepi. Arsa pun..yang autistik akhirnya paham bahwa saat Nyepi itu kita memadamkan lampu-lampu di rumah dengan kesadaran sendiri serta berdiam di rumah dengan kesadaran sendiri. Mungkin karena ia lahir dan tumbuh di Bali, yang budayanya begitu ia cintai.

Kami menikmati… memandang bintang-bintang yang tahu-tahunya bertebaran luar biasa indah sejauh tangkapan mata, menikmati udara yang segar dan bersih sepanjang hari baik saat Nyepi maupun keesokan paginya, menikmati suara alam yang jernih dan mungkin baru terdengar saat tak ada distorsi dan kebisingan hidup manusia.


  1. Kini saya berusaha menyesapi himbauan stay at home yang sedang digencarkan terkait dengan pandemi ini. Betapa banyak orang yang merasa bosan, terkungkung, terhambat segala aktivitas rutinnya. Apalagi orang-orang yang memerlukan interaksi dan sosialisasi dengan orang lain. Saya salah satunya. Saya tidak terlalu ingin untuk jalan-jalan atau bagaimana. Tapi saya perlu bertemu orang, bertukar pikiran atau cerita; yang tidak selalu pas dibuat virtual saja.

Ya…memang kondisi sekarang tidak bisa disamakan dengan kesadaran saat Nyepi, yang hanya berlangsung satu hari saja
Saat Nyepi di Bali saja, masih banyak orang yang memilih keluar pulau atau rumahnya saat menjelang hari raya tersebut.
Berdiam di rumah sepertinya sebuah kungkungan akan kebebasan sebagai manusia jaman modern.
Tak bisa ke mana-mana seolah ‘mematikan’ energi yang biasa tumpah tumpah untuk dibagikan.

Saat ini…hari Nyepi, hampir dua minggu diam di rumah saja. Ya…saya totally..tak sepenuhnya tertib. Beberapa kali ke luar rumah, setiap hari singgah ke warung atau pembuangan sampah. Berusaha social distancing dengan menjaga jarak dengan orang lain..plus mendesinfeksi diri sendiri saat kembali ke rumah.

Saya mencoba menelaah. Betapa dunia tiba-tiba berubah, saat banyak orang di rumah saja; saat banyak juga orang yang masih mau tak mau bertugas di luar rumah. Entah kewajiban, entah tuntutan kehidupan.

Tiba-tiba keluarga hendak berkumpul, yang tadinya jarang punya waktu mengobrol, kini panjang berdiskusi. Tiba-tiba orang tua mau tak mau berpikir ekstra untuk membantu anak-anak menyelesaikan tugas sekolah.
Tiba-tiba ibu menyusun rancang menu apa yang tidak membosankan, hanya dengan sejumlah uang di tangan.
Tiba-tiba barang-barang tak perlu dirapikan, rumah menjadi sangat diperhatikan kebersihannya.
Tiba-tiba kita dihadapkan perlunya bersyukur akan privilage memiliki uang gajian untuk melalui hari demi hari, tak terdampak seperti pekerja harian yang kini banyak dirumahkan.

Ya..banyak sekali hal-hal tetiba yang menjadi efek situasi dunia akibat pandemi ini. Hal-hal yang banyak membuat kita tercenung, untuk kemudian merutuk atau mensyukuri yang terjadi.

Anak saya ya..memang belum berhenti bertanya kapan lagi mereka bersekolah seperti biasa. Meski ada hal-hal yang tetap mereka lakukan sebagai bentuk school from home; akan tetapi saya justru melihat ada sebuah pelajaran besar dari situasi kini.

Ketika Nyepi sebagai sebuah kondisi yang pernah mereka nikmati sebagai sebuah kesadaran memurnikan Bumi dan semesta; kini mereka juga belajar tentang ‘berperang’ .
Melawan musuh yang tak terlihat di belantara semesta, tanpa terancam senjata bila kita tertib bersikap, meski dengan tindakan perlawanan; hanya boleh di area rumah saja.

Anak-anak ini..akan belajar bahwa battle sesungguhnya adalah saat kau (mau tak mau) dihadapkan pada situasi tertentu; yang strugglenya akan berbeda-beda tergantung bagaimana menyikapinya.

Anak-anak ini pun belajar, bahwa taktik yang terhebat sekali pun; tak melulu bisa dipakai di setiap pertempuran. Tak melulu dengan menyerang sampai mati, karena berdiam diri saja kini punya arti.

Dan tetiba, saya jadi merasa beruntung, anak-anak saya hidup dan berada dalam masa ini.

Let they learn something, that would not be repeated in any other years.
Mudah-mudahan semesta mendengar permintaan saya.