yukberbagi!


Anak-anak semesta

#toleransi

Kejadian ini setahun lalu. Sebenarnya saya ragu-ragu untuk menceritakannya. Karena persepsi orang mungkin saja tak sepakat dengan saya dan suami; tentang hubungan manusia dan Tuhannya.
Tapi…bagi saya sendiri, tiap mengingat cerita itu; hati saya menghangat.

Saat itu kelas TK anak saya yang bungsu sedang mengadakan kemping akhir tahun. Salah satu mata acaranya adalah mancakrida. Si bungsu, sebut saja namanya Dyat sudah bersemangat sejak awal.

Sementara anak-anak lain, ada yang menangis atau teriak-teriak, karena takut ketinggian, atau takut karena tidak didampingi orang tua saat bergelayut di tali temali itu. Dyat tidak demikian. Dengan penuh semangat, ia melalui satu persatu rintangan, hingga terakhir di flying fox. Flying fox pertama berjarak dekat, dan ia berani meluncur sendiri, sementara beberapa temannya memilih tandem untuk berbagi kecemasan.

Usai flying fox berjarak dekat itu, Dyat seperti juga beberapa teman yang berani, ditawarkan tantangan meluncur di jarak yang lebih jauh. Awalnya Dyat ragu-ragu, apalagi berat badannya tidak memenuhi persyaratan; kecuali tandem dengan salah satu temannya.

Melihat Dyat ingin sekali mencoba, saya spontan berkeliling mencari temannya; yang mungkin mau tandem dengannya. Akhirnya ada Alva, yang meski usianya lebih muda tapi berbadan lebih besar dari Dyat. Mereka pun sepakat untuk tandem.

Sebelum mendapat giliran, usai dipasang tali melintang di badan tampak mereka berbelok ke arah aula. Oh, mungkin ke toilet dulu, pikir saya. Saya berusaha menjaga jarak, agar Dyat tak terpengaruh kehadiran saya.

Ternyata, mereka tidak ke toilet, melainkan menuju mushola. Dengan rasa ingin tahu, saya mengendap-endap lalu mengintip dari belakang pintu. Rupanya mereka sedang mengobrol.
“Sebelum meluncur, kita doa dulu ya Dyat. Biar ga takut!” Suara Alva yang terdengar pertama kali.
“Ok, mari kita berdoa. Tapi bagaimana?” ujar Dyat pelan.
“Begini, karena kamu lebih tua…kamu yang mimpin di depan.” Alva mendorong Dyat agar maju ke depan.
“Ya…tapi aku ga tau caranya. Aku sembahyang ga gini.” Dyat tampak bingung, tapi tetap maju ke bagian depan.
“Nanti kucontohin…ya..ya..” Alva meyakinkan Dyat.
Di balik pintu, saya menahan nafas, agar tak berkomentar dan lalu mengganggu mereka.

Tampak Alva bersimpuh sholat, Dyat menoleh ke belakang lalu menirukannya.
Saat Alva memulai doa, Dyat berusaha mencontoh walau tak sama persis.
Begitu pun saat Alva bangun, berlutut, bersimpuh, maupun menangkupkan tangan ke wajah, Dyat mengikuti dengan badan setengah menoleh ke belakang.
Yang lalu jelas terdengar adalah ketika mereka berseru, “Aminnnnn….”
Alva dan Dyat pun bersalaman dan berpelukan.
Sambil berjalan keluar, keduanya berujar bersama, “Kita ga takut lagi ya…” dengan kepala terangguk-angguk, saling setuju.

Saya cepat-cepat sembunyi agar tak ketahuan mengintip sejak tadi. Ada rasa yang tak bisa tergambarkan. Saya hanya bersyukur untuk tidak bereaksi berlebihan melihat kejadian itu; dengan berprasangka Dyat mau diajak pindah agama misalnya. Tentu momen berdoa bersama mereka akan hilang.

Justru saya merasa hati saya menghangat.
Dyat dan keluarga kami adalah umat Buddha. Alva berasal dari keluarga dengan bapak Muslim dan ibu Kristiani. Melihat Alva mengajak Dyat berdoa, dengan cara agamanya; menunjukkan kepolosan anak-anak tentang bagaimana mengatasi rasa takut dengan berdoa. Tentu tidak ada niat apapun yang mungkin hanya terpikir oleh orang dewasa.

Saya sungguh belajar hari itu.
Belajar kepada anak-anak, bahwa kemurnian hati mereka sejatinya sungguh indah seperti semesta. Berteman, bergaul, berdoa, sejatinya tanpa berpikir kamu berbeda denganku, aku lebih tinggi kamu lebih rendah.
Hanya kita orang dewasa, yang kerap disadari maupun tidak ‘mengotori’ kemurnian itu.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: