yukberbagi!


Saat Konten Jadi Candu, Empati pun Luruh Satu-Satu

2002, saat itu saya hamil muda anak pertama. Saluran tv belum sebanyak sekarang, tapi semua serentak menayangkan musibah Bom Bali. Tiga kali ledakan di tempat berbeda dan menewaskan ratusan orang, terbanyak warganegara Australia.

Alih-alih berkabung, hampir tiap saat gelimpangan mayat yang dijejerkan di ruang mayat RS Sanglah terekspos hampir setiap menyalakan tv. Maksud hati hendak mengetahui perkembangan terkini, malah saya terus bersedih dan tentu saja muntah tak henti-henti. Bercampur aduk rasa mual karena hamil muda dan gundah melihat tayangan jenazah.

Itu hampir sembilanbelas tahun lalu. Saat belum ada Facebook yang baru muncul tahun 2004 atau Twitter di tahun 2006 dan Instagram di tahun 2010. Apalagi aplikasi chat semacam WhatsApp dan teman-temannya. Hanya SMS dan telepon yang menghubungkan satu sama lain.

Dunia jurnalisme pun masih belum jelas kode etiknya dalam memburamkan kondisi korban di media. Empat tahun kemudian, tahun 2016 barulah disahkan Kode Etik Jurnalistik yang pada pasal 2 dikatakan, Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Di mana cara-cara yang profesional salah satunya di poin f adalah menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara.

Bayangkanlah sendiri bagaimana rasanya sebagai keluarga korban saat menyalakan tv, di saat masa berkabung atau harap-harap cemas. Saat itu saya sempat mengunjungi teman sekantor di rumah sakit. Dia selamat namun dengan luka bakar yang levelnya perlu penanganan lebih lanjut sampai ke Australia. Mendengar bagaimana kisahnya terinjak injak, panik di antara luka-luka dan benda terbakar sampai lolos dari maut, mendengar rintih kesakitannya karena rasa panas pada luka bakar di sebagian tubuh membuat saya merasa begitu sedih dan tak tahu harus berkata apa.

Karenanya, saya sungguh takjub dan geram dengan postingan yang sedang hits beberapa hari ini terkait musibah Sriwijaya Air. Meski saya menelusuri satu platform media sosial saja yaitu instagram, namun konten yang beredar sudah di luar akal sehat dan tentu empati sebagai manusia.

Caption [pesawat blabla hilang kontak, pasti pilotnya kang ghosting nih…] atau [bayangin aja tadi mereka teriak-teriak di pesawat dan kita lagi scrol di tiktok] direspon dengan berbagi cara. Direpost berkali-kali bak info berharga.

Belum lagi berbagai konten cocoklogi (istilah untuk mencocok-cocokan berbagai hal) mulai dari nomor kode penerbangan dengan tanggal kejadian, lalu jitunya ramalan seorang seleb peramal, serta adanya tulisan nama yang menyerupai lafal Allah di goresan moncong pesawat. Bertambah lagi banyaknya postingan jualan yang mencomot tagar nomor kode penerbangan sebagai aji mumpung, agar orang yang mencari tagar bersangkutan siapa tahu ada yang akhirnya ‘nyangkut’ menjadi konsumen.

Meski teman saya bilang, itu bot atau sudah biasa untuk membeli like atau tagar, saya jadi prihatin. Produk jualan ini mulai dari t-shirt, kue, online store, injeksi vitamin kecantikan, properti sampai bantal couple kekinian.

Hoaks jangan ditanya lagi. Tentang rekaman video pesawat sebelum jatuh yang kemudian dilansir kenyataannya sebagai rekaman salah satu film komersil produksi China. Lalu hoaks tentang rekaman dari black box sebelum terjadi crash yang kemudian diklaim hal tersebut sebenarnya dari insiden kecelakaan pesawat Adam Air. Bahkan ada akun hoaks yang mengatasnamakan salah satu penumpang, yang herannya langsung melejitkan follower puluhan ribu.

Video-video wawancara keluarga korban, bahkan ada yang saat pengambilan sampai mengganggu privasi dan kenyamanan narasumber. Akun blogger @iniami memuat kutipan sbb, “Udah, udah ya Pak. Mata saya aduuh..,” kata Pak Yaman Zai merasa tidak nyaman dengan flash dari kamera yang disorot ke wajahnya, saat Beliau tengah sibuk menelpon dan sedang menangis karena kehilangan istri serta tiga anaknya dalam kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182. Kata Fahmi Aviani pemilik akun, bahkan tak ada yang menepuk-nepuk bahu, menenangkan atau memberi minum, malah sibuk berkerumun bertanya-tanya demi update.

Ternyata bukan hanya saya saja atau Fahmi Aviani yang geram. Akun @mwv.mystic malah membuat postingan yang menyesalkan ketololan mengekspos kesedihan termasuk liputan wawancara terhadap keluarga korban tentang adakah firasat, atau pesan terakhir, termasuk status terakhir Instagram, WhatsApp, atau bahkan apa yang ingin dikatakan bila ternyata almarhum/ah masih hidup.

Salah satu sahabat saya, seorang diver yang tak mau dipublikasikan namanya menuturkan pengalaman saat diajak menjadi relawan rescuer, menyelam di laut dalam saat musibah kapal tenggelam.
Dia menjawab pertanyaan saya, apakah dirinya dan tim terlarut kesedihan ketika melakukan tindakan SAR tersebut.

“Saat rescue semua pembicaraan bersifat teknis, setelahnya baru muncul perasaan-perasaan. Waktu itu kami melihat jenasah ibu dan anak, pikiran yang muncul sangat teknis; bagaimana mengangkat dengan minim kerusakan baik di area ditemukan maupun pada korban.” Katanya lagi, tentu sampai sebuah prosedur SAR dilakukan, koordinasi dan kerjasama termasuk peran pengemudi kapal karet pun menjadi penting; sebagai pengantar ke lokasi titik pencarian.

Kenyataannya, yang hendak diketahui publik saat ada musibah sejatinya adalah bagaimana progress proses pencarian, bagaimana support system yang perlu untuk mendukung proses evakuasi termasuk dukungan psikologis untuk keluarga korban.

“Bila lalu ada foto atau rekaman video tersebar saat liputan bencana, yang sering kali menyebarkan justru warga atau relawan atau tim terkait di lokasi; meski kadang ada juga oknum jurnalis yg nyebarin. Kalau jurnalis, jelas akan kena kode etik, diberi sanksi bahkan mungkin dicopot keanggotaan jurnalistiknya.” ungkap Nur Hidayah, salah seorang jurnalis di tirto.id kepada saya.

Belajar dari Jepang, koresponden senior NHK Kenji Sugai pada pre summit workshop, Pertemuan Media Untuk Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana yang diadakan di Jakarta tahun 2014; pada saat bencana yang terjadi adalah liputan yang bertujuan mendukung operasi penyelamatan dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi berdasarkan kerusakan.

Dia mencontohkan, seperti saat gempa bumi 11 Maret 2011 yang disusul tsunami, saat terjadi getaran gempa semua saluran akan berubah pada penyiaran darurat dan menginformasikan langsung ke masyarakat. Tidak ada saluran yang lalu mengekspos kesedihan atau drama di antaranya. Sehingga semua pihak fokus untuk informasi akurat dan bagaimana penanganan setelahnya.

Saya jadi merenung. Berpikir keras mengapa akun-akun yang seenaknya mencari konten demi menaikkan follower ini sudah mati akal sehat dan empatinya? Lalu bagaimana dengan netizen yang lalu merepost, like dan membagikan ulang di platform media sosial lain?

Bisakah kita katakan, akan lebih menantang lagi untuk bicara toleransi dengan orang-orang ini? Karena di salah satu postingan, malah ada netizen mencuatkan komen, [semoga penumpang **********(beragama tertentu) diampuni dan mendapatkan pahala mati ******** (istilah meninggal dalam keadaan suci) ].
Komentar itu seolah membenarkan korban beragama lain tak perlulah dihargai sebagai sesama manusia.

Begitu juga dengan judul-judul yang menunjukkan unsur kedaerahan crew pesawat dan penumpang, sangat tak bisa dipahami apa maksud dan tujuannya. Bagi saya, siapapun dia, dari mana asalnya, apapun agamanya, adalah korban yang sudah berpulang lebih dulu karena musibah kecelakaan dan kita selayaknya berbelasungkawa sebagai sesama.

Jujur saja, dari sebuah insiden di awal tahun ini; kita jadi semakin sadar bahwa toleransi masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang belum kunjung selesai.

Definisi empati menurut kbbi : em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;

Referensi :
“KODE ETIK JURNALISTIK”, https://tirto.id/8Nb.

https://aji.or.id/read/kode-etik.html
https://m.antaranews.com/berita/437977/belajar-peliputan-bencana-dari-media-jepang



Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”
Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”
Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.
Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi.

Seringkah kita menemui obrolan anak-anak dengan muatan semacam itu sehari-hari? Mengandung stereotip dalam memandang orang lain. Bila menjawab sering, lalu apakah stereotip itu?

Menurut kbbi, ste·re·o·tip /stéréotip/ 2 n merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Jadi secara sederhana, stereotip lebih mengarah pada prasangka dan patut diragukan kebenarannya.

Lalu apakah kasus di bawah ini termasuk di antaranya? Seorang ibu bercerita, sebuah insiden di sebuah tempat ibadah. Ada beberapa anak yang berteriak mengejek saat melihat anak dari salah satu pulau di timur Indonesia. “ih ireng banget koyo tai… njijiki… hih tai kok neng grejo.”
(ih hitam banget kayak kotoran/tai, menjijikkan, hih tai kok ada di gereja)
Ibu ini begitu geramnya, namun tak berkuasa apa.

Berprasangka kepada yang berbeda dengan kita, biasa diawali dengan melakukan body shaming, seperti, ujaran “Moko kulitnya item banget, kalo mati lampu ga bakal kelihatan.” Atau “Sucen matanya sipit, kalo ketawa cuma satu garis aja.”; mungkin biasa terjadi sehari-hari. Pertama mungkin dari ciri fisik seseorang, lama kelamaan berkembang menjadi prasangka subjektif tentang karakter khas sebuah suku, ras atau bangsa tertentu.

Awalnya hanya bercanda, selanjutnya sengaja menyindir, dan kalau dilakukan berkali-kali, sama saja dengan mengolok-olok yang cenderung menghina. Contoh ucapan yang ditujukan pada seorang yang sejak kecil pintar berwirausaha. “Ahhh, pasti dia Cina atau Padang. Apa-apa dijadiin duit. Apa-apa didagangin.” Atau ucapan. “Males deh temenan sama dia. Lambat banget ngapa-apainnya. Psst… orang Jawa sih.” Atau, “Jangan temenan ah sama dia. Kan orang Timor, bawaannya marah mulu.”

Hal apa yang sebenarnya mendorong seorang anak melakukan tindakan stereotip? Dan apakah benar sikap orang tua atau bahkan pola orang tua asuh ternyata menyuburkan tindakan tersebut?

Asmiati Malik dari Universitas Bakrie dan Andi Muthia Sari Handayani dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu mengungkapkan stereotip terbentuk dalam proses pembentukan karakter dari individu sejak kecil dan kemudian melekat secara alamiah di bawah otak tidak sadarnya.

Pendapat yang lebih detail diungkapkan Erin N. Winkler, professor dan Kepala Departemen Afrology di Universitas of Wisconsin-Milwaukee. Beliau mempelajari bagaimana anak-anak membentuk gagasan mereka tentang ras selama tahap awal perkembangan.

Ketika anak-anak mulai mencari tahu dan belajar membedakan bentuk dan warna, mereka juga mulai mengamati perbedaan yang terlihat di antara orang-orang dan membedakan identitas mereka sendiri, termasuk konsep rasial.

Winkler juga mengulas bagaimana bayi berusia 3 sampai 6 bulan dapat secara non-verbal mengkategorikan orang menurut karakteristik ras, lalu anak-anak berusia 2 tahun dan seterusnya dapat menggunakan kategori ini untuk “bernalar” tentang perilaku orang.

Secara perkembangan, normal bagi anak prasekolah untuk memperhatikan dan bertanya tentang perbedaan warna kulit dan ciri-ciri lainnya, terutama karena anak usia 3 sampai 5 tahun sering belajar mengkategorikan segala macam hal. Besar kecil, tinggi pendek, hitam putih, cantik jelek, dan seterusnya.

Anak-anak bahkan dihadapkan pada stereotip rasial secara terbuka, melalui buku, majalah, televisi dan pengalaman mereka di lingkungan. Bagi anak-anak di usia ini, apa yang terjadi dan ada di sekitarnya mengundang rasa ingin tahu.

Jadi ketika mereka memperhatikan sebuah sikap atau perilaku sebagai pola, lalu mereka tidak mendapatkan penjelasan mengapa pola-pola ini ada, mereka menyimpulkan bahwa memang begitulah seharusnya bersikap.

Inilah sebabnya sikap orang dewasa yang tak mau terbuka mendiskusikan tentang ras bisa dianggap mendorong anak untuk memiliki prasangka kepada temannya atau orang lain.

Lalu, apakah mudah mendiskusikan hal ini dengan anak-anak dan sebaiknya di usia berapa kita membicarakan hal ini. Beberapa orang tua khawatir tentang mengenalkan masalah seperti diskriminasi pada usia dini. Yang lain enggan membicarakan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya mereka pahami atau tidak nyaman untuk dibahas. Namun bagi mereka di keluarga yang pernah mengalami perlakuan pembedaan berdasarkan stereotip, tentu tidak memiliki pilihan seperti itu.

Pembicaraan tentang stereotip, rasisme dan diskriminasi mungkin terlihat berbeda untuk setiap keluarga. Meskipun tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua, panduannya sebenarnya sama. Semakin dini orang tua memulai percakapan dengan anak-anak mereka, semakin baik.

Menurut Unicef, usia anak yang cukup baik untuk diajak berdiskusi tentang hal ini, ternyata usia balita. Pada usia ini, anak-anak mungkin mulai memperhatikan dan menunjukkan perbedaan pada orang yang mereka lihat di sekitar mereka. Seperti pada contoh yang dialami Dydy saat TK di awal cerita.

Lalu apa saja langkah-langkah kita sebagai orang tua mengajarkan hal ini? Apalagi sudah dipastikan bahwa orang tua lah yang meletakkan dasar dari bagaimana anak-anak bersikap kepada orang yang ‘berbeda’.

Unicef sempat menyusun panduan seperti selalu mengajak anak mengenali dan mensyukuri perbedaan dengan sering mengajak anak play date dengan teman dari berbagai keluarga, selalu terbuka terhadap pertanyaan dan keraguan anak-anak saat menghadapi orang yang berbeda, selalu berusaha memfasilitasi dengan bersama-sama membaca buku anak-anak maupun menonton bersama serial Upin Ipin atau sejumlah film Disney seperti Mulan, Brave, Frozen, Wreck it Ralph, Monster’s Inc., dan Shrek yang banyak memberi contoh tentang stereotip dan keberagaman.

Dan termasuk mengajak anak ke pekan budaya atau festival seni untuk mengenalkan betapa berwarnanya lingkungan sekitar kita.

Namun, kuncinya kembali lagi ke orang tua, yang sejatinya adalah ‘pintu’ anak mengenal apa-apa di dunia. Ingatlah untuk mempraktikkan selalu apa yang kita katakan.
Kita mungkin mengajari anak-anak tentang tak boleh membeda-bedakan teman termasuk bersikap toleran. Namun jika mereka mendengar kita berbicara negatif tentang orang yang berbeda, jangan kaget jika mereka akan meniru kita.

Anak-anak akan sering mempraktikkan apa yang mereka lihat dan dengar sebagai kebalikan dari apa yang diajarkan. Inilah sebabnya mengapa anak-anak lebih cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat ketika mereka melihat kita mempraktikkan toleransi dan menerima orang lain apa adanya.

Ini PR besar saya juga untuk Dydy untuk tidak bersikap stereotip dan diskriminatif, termasuk mulai mengajarkannya untuk bersikap asertif saat ada teman yang membeda-bedakan dirinya.

Tak mudah, perlu proses, perlu keteladanan dari kami orang tuanya; tapi bukan berarti tak bisa kan?


Referensi : https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/explainer-ilmu-psikologi-menjelaskan-bagaimana-rasisme-terbentuk-dan-bertahan-di-masyarakat-140071
https://www.wiscontext.org/how-kids-learn-about-race-stereotypes-and-prejudice
https://www.unicef.org/parenting/talking-to-your-kids-about-racism
http://www.aldenhabacon.com/13-tips-how-to-talk-to-children-about-diversity