yukberbagi!


#NAD_Battle 2021 – Cerita Silat
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , , ,

Disclaimer : Tidak disarankan untuk pembaca yang belum dewasa.

#NAD_BATTLE_2021
#PASUKAN_ASTERIX
#CHALLENGE_2
#BABADTANAHPUDYA

INTAN RAKAMALA

Judul : Lika Liku Luka Laksmi
Tokoh : Laksmi
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2096

18+

Rinai gerimis malam itu, mengawal pertemuan kesekian antara Laksmi dan Lohat. Di belakang rumah batu penyimpanan besi-besi sisa membuat senjata, tempat terbaik yang tak akan diketahui oleh siapa pun.

Laksmi melihat Lohat tengah membelakangi pintu. Perlahan ia mendekati lelaki gagah itu, memeluk tubuhnya dari belakang. Aroma cendana dan kayu manis dari tubuh Laksmi menguar memenuhi ruangan seketika.

Laksmi mengecup berulang kali tengkuk Lohat, menyebabkan napas lelaki itu mulai memburu. Jari jemari Laksmi langsung menyusup ke dalam pakaian Lohat dan bergerak menelusuri perut dan pinggangnya. Dengan sekali hentak Laksmi menarik ujung pakaian Lohat dan melepaskannya.

Tampak tubuh Lohat bergetar. Dengan cepat ia memutar tubuhnya yang sudah setengah telanjang untuk merangkul Laksmi.

Laksmi mendesah. Tangan kanan Lohat mengangkat dagu Laksmi dengan lembut. Seraut wajah menawan Laksmi yang membuatnya tergila-gila kini tepat di hadapannya begitu dekat. Mata cokelat keemasan, hidung bangir dan bibir ranumnya sangat membangkitkan gairah Lohat untuk menaklukkannya.

Jari jemari Lohat membelai rambut Laksmi yang harum.
Laksmi melirikkan mata dan menarik sudut bibirnya membentuk lesung pipi yang kian menggugah birahi Lohat.

Lohat terpukau menatapnya. Dengan ibu jari, diusapnya bibir ranum itu sebelum kemudian mencecapnya. Sekali, dua kali, disambung saling melumat antara keduanya. Lidah-lidah mereka bertaut bertukar ludah. Gelinjang tubuh Laksmi, desah napas Lohat bagaikan pertarungan birahi dan rindu yang tertuntaskan.

Tiba-tiba Laksmi menarik bibirnya. Lohat terkejut dan menatapnya.
Sambil mengatur napas yang tersengal,
“Ka-kan-da, ka-kanda … tolong berhenti dulu. Bukankah malam ini kita hendak berbincang-bincang?”

Lohat hanya tertawa menggelengkan kepalanya. Lelaki itu lalu menyurukkan kepalanya antara leher dan dada Laksmi.
Ia mendesis. “Pssttttt … Dinda terlalu menawan hanya untuk berbincang.”

Napas Lohat makin memburu. Laksmi sangat tahu, perbincangan ini lagi-lagi akan tertunda. Desakan birahi Lohat sudah tak tertahan lagi.

Jari jemari lentik Laksmi mulai mengusap janggut kasar lelaki itu, menelusuri rahang lalu membelai bahunya yang bidang. Lohat mendesah.

Bibir Lohat mulai menjelajahi dan menelusuri kulit cokelat kemerahan Laksmi yang terlihat berkilau dalam cahaya lentera. Laksmi sendiri terseret dalam pusaran birahi.

Suara gerimis berubah semakin deras. Waktu seakan terhenti saat keduanya saling bergumul untuk meraih puncak kenikmatan duniawi bersama-sama.

Fajar pun datang. Secercah sinar menelusup melalui sela-sela atap di ruangan itu.
Laksmi bergegas memunguti pakaian, yang terlempar berserakan di lantai.

Baru saja Laksmi hendak beranjak, dehaman Lohat mengejutkannya.
“Tak mau mengucapkan selamat tinggal, Laksmi? Mengapa Dinda begitu terburu-buru? Bukankah semalam Dinda mengatakan hendak berbincang?”

Laksmi hanya tersenyum dan menatapnya lekat.
“Kanda, Dinda hanya ingin menagih janji untuk selalu menjaga Dinda dan adik Lekha. Kanda juga berjanji untuk menolak perintah Raja Ranajaya dan Aji Wura. Dinda tak mau kaum Pandya berperang. Dinda tak mau Kanda sampai terluka.”

Lohat tak menjawab, melainkan merengkuh tubuh Laksmi kembali ke pangkuannya. Mereka larut dalam peluk cium penuh gairah.

Namun, Laksmi tak mau terlarut, meski Lohat menciumi tanpa henti. Ia melepaskan diri dan merapikan pakaiannya. “Ka-kanda, ini sudah pagi. Sebentar lagi para pandai besi akan ke sini. Dinda juga sudah ditunggu Lekha di rumah. Dinda pulang dulu. Tolong janji Kanda ditepati.”

Begitu terlepas, tangan kanan Laksmi melambai pamit, tangan kirinya sudah disusupi sekantong kain berisi puluhan keping lukaya, mata uang Kota Yamun. Laksmi tersenyum lagi.

Senyuman itu kembali mengguncang hati Lohat. Ingin ia mengejar, merengkuh, melumat habis tubuh molek perempuan yang sepantar Linakandi, putrinya.

Akan tetapi, kakinya segera terpaku, ketika suara-suara beberapa orang pandai besi mulai ramai terdengar.

Laksmi berjalan cepat ke arah berlawanan dari pandai besi yang mulai berdatangan. Sambil menyelubungi kepalanya dengan selendang, Laksmi bergegas-gegas. Ia harus segera pulang. Ia mempercepat langkahnya. Ia berlari, berlari, dan terus berlari ….

=====

Laksmi bangun dan terkejut. Bulir-bulir peluh menetes dari pelipisnya. Kenangan bersama Lohat beberapa waktu lalu selalu muncul dan muncul lagi. Sudah beberapa lama, mimpinya selalu sama. Asyik masyuk mereka yang pada kenyataannya hanya diketahui Lekha selalu saja nyaris dipergoki para pandai besi, dalam mimpi itu.

Secercah cahaya menyelinap melalui tirai jendela kamar Laksmi. Senja telah datang, tanda ia harus bersiap. Malam ini ada seorang tua yang ingin menemuinya. Pesan itu disampaikan lewat Lekha, yang ditemui sepulang dari rumah Nyai Lodya, tabib kaum Pandya yang tersohor. Katanya orang itu adalah Langkerta salah satu tetua kaum Pandya.

Ah, mengapa orang itu hendak menemuinya, apakah hubungannya dengan Lohat sudah mulai terendus. Sial, Lohat lagi Lohat lagi. Mengapa sosok lelaki itu begitu menghantuinya.

Laksmi mendesah dan mulai menyisir rambutnya lalu memercikkan beberapa tetes minyak cendana dan kayu manis. Ia juga menepukkan serbuk Angglang Amaranggana beberapa kali, rahasia kehalusan wajahnya campuran butiran emas dan air mantra.

Ia memandang wajahnya pada cermin oval warisan mendiang ibunya dulu. Tampak seraut wajah yang pernah Laksmi kutuki sendiri.

Tak heran, setiap ia berangkat menuju area tambang batu mulia dulu; meski pakaiannya tertutup dari leher hingga kaki, rambut diselubungi selendang panjang yang juga menutupi sebagian wajahnya, setiap lelaki yang bertemu akan segera mengulurkan tangan mereka untuk menjamah Laksmi. Aura kecantikan Laksmi selalu terpancar, meski tertutup pakaian apapun.

Laksmi ingin meludahi, menampar dan memukul saat mereka menjamahnya. Namun, ia terpaksa mengurungkan niat untuk melakukannya agar bisa tetap mengais serpihan batu mulia di antara mereka.

Ayah Laksmi dan Lekha telah meninggal bertahun-tahun silam, saat kerja paksa membuat saluran air dari Danau Soga ke kota Yamun di masa pemerintahan Raja Narwastu —ayahanda raja yang memerintah sekarang.

Sejak saat itu, Laksmi dan Lekha jatuh miskin. Ia harus meminta bantuan sana sini, termasuk kepada Nyimas Lindu. Perempuan terkaya Kota Yamun, pemilik Sanggraloka Sedelinggam.

Meski mereka berdua telah menghaturkan sembah, menangis, dan mencium kaki untuk mengerjakan apa saja di Sanggraloka Sedelinggam, Nyimas Lindu bergeming. Wanita culas itu hanya menatap Laksmi dan Lekha, tanpa bicara apa-apa.

Ia hanya melemparkan beberapa keping lukaya tanpa menghiraukan air mata kedua gadis tersebut

Mengingat kenangan itu, menimbulkan rasa perih di dada Laksmi.
Ia lalu bertahan hidup dengan menjadi pengais di sekitar area tambang. Serpihan demi serpihan intan, emas dan batu mulia dikumpulkannya lalu dijual untuk menyambung hidupnya dan adiknya.

Sampai suatu saat, seorang lelaki datang menghampiri. Ia menyodorkan sekantong kain yang tampak berat dan berbunyi gemerincing.

“Apa benar namamu, Laksmi? Aku Lohat! Mungkin Adinda pernah mendengar namaku. Ayah dan Ibumu adalah tetanggaku dulu. Laksmi, sayang sekali perempuan rupawan sepertimu harus mengais serpihan logam mulia untuk menyambung hidup. Bagaimana jika Adinda menemani malam-malam Kakanda saja? Datanglah ke belakang rumah batu penyimpanan besi-besi sisa pembuatan senjata, milikku. Letaknya di ujung bukit sana. Berhiaslah yang cantik, Kakanda akan menunggumu.” Lohat tak menunggu Laksmi menjawab. Ia berbalik badan, meninggalkannya.

Laksmi terlalu terkejut untuk berkata-kata. Ia bukan perempuan bodoh yang tidak mengetahui maksud Lohat, pemimpin kaum Pandya. Ditimbang-timbangnya kantong koin lukaya itu lalu membuka pengikatnya. Laksmi terbelalak melihat ratusan keping lukaya, yang berarti ia dan Lekha bisa menyambung hidup selama berbulan-bulan.

Sesampainya di rumah, Laksmi berpikir langkah apa yang akan dipilihnya. Tetap mengais serpihan sisa batu mulia, dengan ingatan mengerikan jamahan lelaki yang tergoda melihat paras wajahnya, atau memilih menjual diri pada Lohat yang sepantar mendiang ayahnya. Keduanya tak sama bagusnya.

Keduanya sama-sama meruntuhkan harga dirinya sebagai perempuan. Terbayang apa kata-kata rakyat kaum Pandya jika mengetahui hal itu: ‘Sudah miskin, melacur pula. Dasar perempuan sundal. Terkutuklah segala kecantikanmu.’

Akhirnya Laksmi memilih menjadi kekasih gelap Lohat. Kantong keping-keping lukaya dari lelaki itu menjamin kelangsungan hidupnya dan Lekha.

Namun, makin Laksmi larut dalam percintaan terlarang itu, makin khawatir pula jika suatu saat Lohat akan meninggalkannya karena ia tak lagi cantik dan menarik seperti gadis remaja.

Laksmi tak pernah lagi ke area tambang untuk mengais serpihan. Kalau dulu ia menjual serpihan batu mulia demi menyambung hidup, kini ia membeli segenggam emas untuk diberikan kepada Nyai Lodya, tabib tersohor Kota Yamun.

Melalui Lekha adiknya, Laksmi memohon Nyai Lodya membuatkan bedak Angglang Amaranggana yang membuat kecantikan Laksmi awet sepanjang hidupnya. Laksmi juga meminta Nyai Lodya membuatkan jamu Rameteng Jo Mlendung untuk mencegah Laksmi hamil.

Bagaimanapun Laksmi tak mau terbebani akan kehadiran anak antara dirinya dengan Lohat. Lelaki itu hanya sumber pundi kekayaan baginya untuk bisa terus bertahan hidup.

“Kak Laksmi, mengapa engkau belum bersiap?” Suara Lekha mengejutkan lamunan panjang Laksmi.

“Sudah, aku hanya tinggal berganti pakaian saja. Kau tak usah khawatir, Lekha,” jawab Laksmi.

“Ya, Kak. Ingatlah kau harus menemui Langkerta di rumahnya. Ia mengatakan akan membicarakan hal yang sangat penting, terutama untuk hidup kita. Tapi, mengapa aku punya firasat buruk?”

Mendengar hal itu, Laksmi makin khawatir. “Lekha, jika hingga larut nanti, aku belum kembali, susullah aku ke Pedepokan Wesi.”

Mencoba menepis kecemasannya, Laksmi segera berangkat setelah berpamitan pada Lekha.

Sang surya telah turun dari peraduan. Laksmi berjalan ke arah Barat menuju rumah Langkerta. Suasana begitu sepi seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia pun bergidik merasa ada yang tak beres.

Laksmi berdiri dengan gelisah, berjalan bolak balik di dekat pintu.
Terlihatlah sesosok lelaki berjalan pelan ke arahnya. Rambutnya panjang dengan warna keperakan. Tak salah lagi ia pasti Langkerta, sesepuh Widura.

Begitu keduanya saling berhadapan, Laksmi melihat seorang tua dengan kerutan-kerutan di wajahnya.

Segera Laksmi menghaturkan sembah dengan berlutut dihadapan Langkerta, tanda hormat kepada sesepuh kaum Pandya itu.

“Anakku Laksmi, kukira kau tak akan datang. Aku hendak membicarakan sesuatu yang penting. Bangunlah, Nak, tak baik kau berlutut terus di hadapanku.”

Laksmi pun bangkit

“Anakku, aku hendak bertanya kepadamu. Apakah benar kau menjalin hubungan dengan Lohat, pimpinan kaum Pandya?”

Disergap pertanyaan itu, Lasmi tergagap. “Ehm … ehm … Be-benar, Guru!”

“Kau tahu apa akibatnya bila hal ini diketahui rakyat kaum Pandya apalagi sampai ke telinga raja. Kau telah memberi aib, kutukan bagi kaum kita.”

Mendengar perkataan itu, Laksmi menatap Langkerta tanpa berkedip.
Rasa hormat tadi kini berangsur menjadi benci.

Air mata Laksmi mulai mengalir. Tak disangkanya, mimpi buruknya menjadi kenyataan.

“Simpan air matamu, Laksmi. Perempuan sepertimu tak pantas menangisi perbuatan zinahmu dengan Lohat. Kau tak lebih dari pendosa yang seharusnya pergi dari Yamun. Hubungan gelapmu dengan lelaki yang lebih pantas menjadi ayahmu memberi aib bagi kaum Pandya.”

Laksmi tak menjawab, ia terduduk bersimpuh di tanah dengan air mata yang terus keluar tanpa bisa ditahan.

“Kau tak ada bedanya dengan Lohat, perempuan bodoh. Sama-sama pengkhianat, sama-sama penista kaum Pandya!”

Laksmi terperangah. Lohat berkhianat? Kepada siapa? Ia pemimpin yang baik, yang Laksmi kenal.

“Kau tak percaya bahwa Lohat juga berkhianat? Sini … ikut denganku ke Pedepokan Wesi. Lihatlah apa yang Lohat lakukan.” Suara Langkerta meninggi, bersamaan dengan tangannya menarik Laksmi bangkit.

Suara hujan yang mulai turun bersamaan dengan jantung Laksmi yang mulai berdegup kencang melihat banyak prajurit kerajaan Widura berkeliaran.

Dengan tak sabar Langkerta makin kuat menyeret tangan Laksmi menuju Pedepokan Wesi. Laksmi merasa sakit di pergelangan tangan dan kedua kakinya. Ia tak tahu, cairan apa yang mulai mengalir di sepanjang kakinya. Apakah ia berdarah? Ataukah itu air dari hujan yang begitu deras?

“Perempuan bodoh, dengar baik-baik. Saat bertemu Lohat nanti, kau harus tersenyum dan menahan air matamu. Kalau tidak, kau sudah tahu akibatnya.”

Laksmi semakin ketakutan. Apalagi makin mereka mendekati Pedepokan Wesi, terdengar keributan, dentingan senjata, teriakan teriakan yang makin menjadi-jadi dari dalam.

‘Lekha, Lekha tolonggg datanglah! Selamatkan aku’. Laksmi memanggil adiknya dalam hatinya.

Laksmi nyaris terjerembab ke depan didorong keras oleh Langkerta. “Ayo berdiri! Tunjukkan bahwa kau datang dan menemui Lohat.”

Baru saja ia menegakkan tubuhnya yang limbung, dilihatnya sosok Lohat tengah diseret prajurit kerajaan. Laksmi terkesiap, ingin sekali menghampiri kekasihnya itu. Namun ancaman Langkerta tadi mengurungkan niatnya.

Ia pun menyembunyikan perasaannya dengan mencoba berdiri seperti menunggu. Senyuman manis yang digilai Lohat pun disunggingkannya.

Mata mereka bersirobok. Ada rasa yang ingin diungkapkan keduanya.

Akan tetapi, prajurit-prajurit Widura kembali menyeret Lohat, menerobos hujan yang semakin deras.

Laksmi beringsut, berniat mengejarnya. Ia belum mengerti apa yang terjadi. Mengapa Lohat dibawa tentara, mengapa ia terluka?

Melihat Laksmi berniat mengejar Lohat, Langkerta menarik tubuh Laksmi lalu mendorongnya lebih keras dari tadi hingga ia tersungkur, jatuh ke tanah.

“Kau bodoh, Laksmi. Lohat tak akan bisa melawan perintah Raja. Ia telah berkhianat pada Widura. Ia tak pantas memimpin kaum Pandya. Apalagi ia berbuat nista dengan perempuan kotor sepertimu.” Suara Langkerta tiba-tiba lantang terdengar di antara gemuruh hujan.

“Kau menipu aku. Apa salah Lohat? Apa salahku, hingga kau begitu membenciku?” teriak Laksmi di antara tangisnya.

Langkerta mulai tertawa keras, badannya sampai terguncang saking kerasnya. Suara tawa itu menusuk-nusuk gendang telinga Laksmi.

“Apa salahku kepadamu? Aku perempuan miskin yang kalian tinggalkan saat ayahku mati waktu membangun saluran air kota ini. Kemana kaum Pandya saat aku dan adikku mencari sesuap makan? Kalian para pandai besi malah menikmati menjamah tubuhku saat mengais rejeki di tambang. Lalu, apa salahku menghidupi diri? Aku tak minta uang kalian, tak mengganggu keluarga kalian.”

Langkerta menjadi marah mendengar perkataan Laksmi. “Tak tahu malu kau Laksmi! Perempuan sepertimu, yang mencari uang dengan menjual tubuh, tak pantas hidup di sini, di antara kaum Pandya. Jangan banyak bicara kamu pendosa!”

Tiba-tiba Laksmi merasa sebilah benda tajam menusuk lehernya. Darah Laksmi menyembur deras diiringi suara petir yang menggelegar.

Sesaat sebelum Laksmi jatuh terkulai dan menutup matanya, di antara derai hujan ia melihat sosok Lekha yang berlari tergesa menghampirinya.

Lekha datang terlambat tanpa sempat menolongnya.

Yamun, malam terakhir


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: