yukberbagi!


#NAD_Battle 2021 – Hidup yang Puitis
13/05/2021, 4:12 am05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021
#Pasukan_Asterix
#Challenge_5
#HidupYangPuitis

Santorini, The Journey
Postcard from Heaven
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2822 kata

Gelap mulai menyelimuti hari ketika Adya berdiri di pintu pemeriksaan imigrasi Bandara Soekarno Hatta. Sebelum menyerahkan passport dan menunjukkan e-ticket lewat layar ponselnya, ia masih terus berpikir apakah perlu menunggu sebentar lagi.

Waktu di ponsel sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Masih banyak waktu sebenarnya. Adya gamang. Seraut wajah muncul dalam ingatannya. Lelaki dengan mata yang seolah punya daya magis saat bertatapan dengannya. Seorang sahabat dari masa kecil yang telah bersedia menjadi tempat sandaran baginya saat ia terpukul atas kecelakaan yang membuat orang tuanya pergi untuk selamanya.

Sepanjang hari itu, Adya mengalami kesialan yang tak kunjung berakhir. Mulai dari bangun kesiangan yang berarti akan ada tanda terlambat di daftar absennya. Roti panggang yang terjatuh karena bertabrakan dengan orang saat menuju kantor hingga laptopnya yang mendadak hang dan perlu tenaga IT untuk menanganinya, dan terakhir ponselnya habis baterai saat tengah menerima panggilan dari kantor KBRI Yunani tentang kematian orang tuanya.

Hati Adya terasa hancur berkeping-keping seperti kaca yang tak bisa lagi direkatkan. Dua orang yang ia sayang pergi pada waktu yang bersamaan. Bapak yang menghargai perempuan dan belum pernah Adya temukan di sosok lelaki mana pun serta ibu yang sangat ekspresif dan berpandangan modern. Bagi Adya, mereka adalah pasangan yang sempurna dan saling melengkapi.

Kedua orang tuanya tak pernah menyuruh atau memaksa Adya untuk menikah, akan tetapi kini ia merasa menyesal. Belum sempat Adya memberikan kebahagiaan paripurna kepada mereka sebagai kakek nenek untuk menimang cucu-cucu. Air mata Adya mulai merebak mengenang hal itu.

***
“Adya … sori aku terjebak macet! Ada kecelakaan tadi. Are you alright?” Suara Ken mengejutkan lamunannya.

Tangan Ken yang langsung mengusap air mata di pipi Adya mengalirkan kehangatan.

“It’s ok. Thanks for coming. Masih banyak waktu, kok!” Adya mencoba tersenyum semanis mungkin meskipun sulit.

Ken merengkuh Adya dan mengajaknya mencari tempat duduk. Mereka menikmati detik demi detik tanpa bicara. Adya membiarkan dirinya dalam pelukan Ken. Entah mengapa ia merasa nyaman seperti itu. Padahal sebelumnya Adya sering merasa jengah saat lelaki itu tiba-tiba memeluk untuk memberi selamat, misalnya.

“Enggak ada yang ketinggalan, are you sure? Postcard Ibu?”

Adya mengangguk tanpa kata. Tak mungkin ia lupa membawa postcard-satu-satunya benda yang tiba lima belas hari lalu-yang bisa meyakinkan Adya untuk berangkat ke Santorini. Pesan terakhir dari orang tuanya agar ia menemui seseorang di sana untuk masa depannya.

Panggilan dari pihak bandara terdengar. Adya beranjak seusai dahinya dikecup Ken.

“Kamu baik-baik di sana ya. Semoga perjalanan ini mampu menuntaskan rindumu kepada mendiang orang tuamu. Don’t forget to contact me, if you need. Take care and safe flight, Dear.”

***
Adya menyeberangi jalan setapak di Perivolas, pinggiran Desa Oia. Ia menghidu aroma laut. Area itu begitu tenang dan bebas kendaraan, mengingatkan pada rumahnya di pinggiran Jakarta. Sejenak dada Adya terasa nyeri mengingat kini tak ada lagi yang menunggunya di rumah dengan sepiring jajanan pasar dan sepoci teh pahit yang selalu menyambutnya sekembali bertualang.

Sambil mengusap air matanya yang menganak sungai, tangan Adya membalik kartu pos untuk mencocokkan lukisan di sana dengan bangunan bertingkat di hadapannya. Rivida Villas. Ibunya pernah bercerita bahwa bangunan hotel ini sudah berusia 150 tahun, bermula dari rumah kediaman kakek pengelolanya, lalu turun temurun dikembangkan dan dialihfungsikan menjadi penginapan. Ketika ia menoleh ke belakang, pemandangan kaldera dan laut lepas pantai sungguh menyejukkan matanya yang mulai terasa berat karena kelelahan menempuh perjalanan lintas benua. Badannya penat, meski pikirannya tak henti mengembara.

“Kalispera! Hello!” Seorang lelaki paruh baya keluar dari balik pintu kaca. “Miss Adya Kallisti?” sapanya lagi sambil tersenyum ramah.

Adya mengangguk dan sedikit terkejut akan respon lelaki itu.

“Yassas, Hello! ”

“Saya Gerome, host dari Rivida Villas. Selamat datang di Oia. Wah! Wajahmu benar-benar perpaduan kedua orang tuamu.” Sambil berkata demikian, ia mengangsurkan kunci kamar yang akan ditempati Adya.

“Efcharistó, Thank you.”

Ketika Adya membuka pintu kamar yang biasa ditempati orang tuanya, ia seperti menemukan sekeping puzzle kenangan tentang mereka. Kamar yang didominasi warna putih, krem, cokelat dan abu-abu dengan balkon menghadap laut, yang selalu dikunjungi setiap lima tahun sekali saat keduanya merayakan ulang tahun pernikahan. Bapak dan ibunya selalu romantis dan itu sungguh membuat Adya merasa iri.

Ia mulai memindai sekeliling kamar. Pandangannya dipenuhi memori seperti memutar ulang rekaman video yang pernah ditunjukkan Bapak. Saat itu, Ibu khusus memasangkan kamera pada tripod di sudut ruangan untuk mengabadikan Bapak yang duduk menghadap jendela, menyesap segelas wine dingin sambil membaca novel-novel JK Rowling kesukaannya. Ibu sendiri membuka koper, menata makanan kecil di mini pantry lalu menggantungkan beberapa kemeja putih Bapak dan gaun musim panas Ibu, yang juga memiliki warna dasar broken white atau krem di mini hanger yang disiapkan di kamar itu.

Pertanyaan Adya sedikit demi sedikit terjawab tentang kesukaan Bapak dan Ibu akan Santorini. Bahkan warna kamar hotel ini pun selaras dengan warna-warna kesukaan mereka berdua. Air mata Adya mulai merebak lagi. Ia jatuh bersimpuh di lantai sambil terisak.

***
“Adya, kamu beneran enggak mau ikut kita ke Santorini?” Bapak langsung menodong Adya ketika ia baru saja pulang dari kantor.

“Ahhh, Bapak. Aku nanti cemburu lihat Bapak Ibu bermesraan di sana, sementara aku nggak punya siapa-siapa.”

“Ajak aja Ken, Dya. Lumayan buat nambah portofolio dia sebagai travel photographer kan. Ibu yang traktir deh.” Ibu segera menangkap peluang untuk membujuknya.

“Eh, Ibu. Memang Ken siapanya Adya? Kok bawa-bawa dia sih?” Adya membelalakkan matanya menanggapi ibunya.

“Aih, kau kira Ibu enggak bisa baca sorot matanya setiap memandangimu? Ken memang sahabat kecilmu, tapi dia sangat kentara menyukaimu. Feeling Ibu 99% selalu tepat, kok. Bener ‘kan, Mas?”

Bapak mendeham sambil mengacungkan jempolnya.

Adya merengut dan menghela napas. “Kalian ajalah yang nikmatin anniversary. Enjoy yourselves. Mumpung Bapak baru bisa menikmati liburan lama, setelah diperbolehkan resign sebagai orang kepercayaannya grup Padma, kan? Adya juga lagi banyak deadline proyek ini. “

Acara bujuk-membujuk itu terus berlangsung berhari-hari. Meski merasa sedikit aneh mengapa keduanya sangat antusias mengajak Adya ikut ke Santorini kali itu, ia tak mau berprasangka apa-apa. Adya hanya menunda kepulangannya dari kantor, agar tak diajak mendiskusikan hal itu melulu.

Sampai akhirnya tiba hari keberangkatan.

“Adya, hati-hati ya, Sayang. Kita jumpa lagi akhir bulan. If you need help, call Ken. No worries, Ibu sudah pesan kepadanya untuk menjagamu, selama kami mengelilingi Yunani.”

Bapak tak banyak bicara hanya berkata, “We love you Adya. Take care of yourself. Adya Kallisti, puteri kecilnya Bapak.” Terlihat mata Bapak berkaca-kaca, sebelum memeluknya erat.

Suara ketukan di pintu kamar yang tak kunjung henti, mengejutkan Adya yang jatuh tertidur usai menangis tadi. Bagaikan film yang diputar berulang-ulang, kejadian sebelum Bapak dan Ibunya berangkat, senantiasa muncul setiap ia memejamkan mata.

Suara ketukan terdengar lagi.

“Me synchoreis, excuse me, Miss Adya.” Suara Gerome langsung menyambutnya ketika Adya membuka pintu.

Gerome menyodorkan sebuah notes kecil yang Adya kenali sebagai milik ibunya. Ia terkesiap, tak sanggup berkata-kata.

“Sebelum saya lupa, ini bucket list yang diminta Mrs. Kalyana dan Mr. Pradipta untuk Miss Adya lakukan. Ada lebih dari lima hal yang keduanya minta untuk dijadikan pengalamanmu di Santorini. Berhari-hari mereka berdiskusi setiap makan pagi, memintakan pendapat dari saya sebagai orang lokal. Semuanya saya rasa menarik. Cobalah dibaca pelan-pelan.”

Adya menggenggam buku saku warna marun itu erat-erat, bak diserahterimakan warisan yang sangat berharga. Baru saja ia hendak mengucapkan terima kasih, …

“Oya, bila Miss Adya lapar, ada Portokalopita, kue dengan rasa jeruk yang sangat disukai Bapak Ibu untuk kudapan sore. Ada juga Elliniko Kafe, kopi khas Yunani tersehat di dunia yang harus Miss coba. Mau ala sketos, metrios, glikos atau variglikos (1).”

Adya tersenyum kecil melihat keramahan Gerome seperti yang biasa dilihatnya pada sikap para pengusaha wisata, tetapi sosok ini jauh lebih tulus dan hangat, tanpa kesan artifisial.

“Terima kasih, Gerome. Saya menyegarkan diri dulu sebentar.”

Tangan Adya yang menggenggam notes bergetar tak terkendali. Apakah ia sanggup menguasai perasaannya membaca permintaan orang tuanya itu.

***
Malam pertama Adya di Santorini dilewatkannya berdiam di kamar dengan membaca berulang kali apa yang ditulis ibunya, lalu menimbang-nimbang mana yang akan dilakukannya terlebih dahulu.

Antusiasme Adya untuk melakukan semua permintaan mendiang orang tuanya berbaur dengan kesedihan yang tiada tara. Sebelum tidur, Adya membuka jendela kamar dan berucap pada bintang-bintang di langit Santorini. “Pak, Bu, temani aku tidur malam ini, ya. Aku sungguh merindukan kalian.”

Alarm di ponselnya membangunkan Adya tepat pada pukul delapan waktu Indonesia. Rupanya ia belum mengatur waktu di ponsel menjadi waktu Yunani yang berbeda lima jam lebih lambat. Tak heran di luar masih gelap. Meski merasa istirahatnya belum cukup, Adya memaksakan diri bangun untuk kemudian berkeliling area penginapan.

Suasana masih sepi. Tampaknya tamu kamar yang lain masih terlelap dalam tidur mereka. Adya melihat-lihat foto-foto dalam pigura yang terpasang di dinding ruang tengah. Ia terperangah di depan salah satu foto yang bertuliskan In Memoriam. Ada wajah orang tuanya bersanding dengan kliping koran yang menyatakan peristiwa kecelakaan naas itu.

Kapal pesiar Blue Crystal yang mengangkut 280 wisatawan asing sebagian besar orang AS, Rusia dan Asia itu menyenggol dinding karang di daerah sebelah utara pulau Teluk Saronic Poros sekitar 50 km sebelah selatan Athena. Orang tua Adya adalah dua orang korban yang dinyatakan meninggal oleh pihak kepolisian setempat, setelah jenazahnya gagal diketemukan.

“Kami selalu mengapresiasi kehadiran orang tua Miss Adya di vila ini. Mereka sangat rendah hati dan tak segan berbaur dengan tamu-tamu yang lain. Setiap datang dari Indonesia, ada saja cenderamata yang selalu dibawa untuk kakek, nenek, ayah ibu kami. We’re truly missed them, tous chasame pragmatika.” Kehadiran Gerome secara tiba-tiba di dekatnya menjawab pertanyaan besar Adya tentang foto itu.

Adya hanya terdiam, duduk merenung sendiri di depan foto sampai semburat matahari mulai masuk lewat kaca jendela. Ia juga menikmati sarapan dalam diam, sambil membuka lembar demi lembar notes Ibu.

Hari itu ia merencanakan memenuhi permintaan pertama tentang keledai. Aneh. Akan tetapi, begitulah permintaan Ibu.
Di situ dituliskan sebaiknya Adya tidak menunggangi keledai di Santorini, karena terkadang mereka tidak diperlakukan selayaknya. Adya juga diminta memberi minum pada setiap keledai kehausan yang ia temui.

Kepingan kenangan bersama menjadi terkuak kembali. Sejak kecil, Adya selalu tidak tega dengan hewan terlantar. Kucing, anjing, burung bahkan tupai yang ditemukan di jalan, selalu dibawanya pulang. Ibu tahu, hati Adya akan tergugah bila melihat nasib-nasib keledai di Santorini.

Benar saja, sepanjang hari itu Adya terlarut dalam kehebohan menghampiri setiap keledai yang dijumpainya sepanjang jalan di Oia. Ia mengusap-usap kepala mereka, mengangsurkan sebotol air putih kepada keledai yang tampak kehausan, sekaligus berbincang-bincang dengan pemilik keledai agar mereka memperlakukan keledai-keledai itu dengan baik.

Keasyikan Adya membuatnya lupa akan kesedihannya. Baru ketika tercium aroma Moussaka (2) dari salah satu restoran, ia pun memberi tanda di notes ibunya. Mission Accomplished.

Permintaan kedua ibunya adalah mencari Atlantis Books. Toko buku di Santorini yang katanya didirikan dengan semangat yang mirip dengan Shakespeare & Co. Toko buku itu terselip di antara jajaran toko dan kafe cantik di Oia. Adya perlu menuruni banyak undakan tangga semen sampai akhirnya bertemu dengan pintu depan.

Saat membuka pintu toko buku ini, Adya seperti déjà vu. Bak memasuki ruang kerja dan perpustakaan Bapak dan Ibu. Meski dengan dinding yang berbeda dan buku-buku di Jakarta tak disusun menjulang langit-langit. Adya seolah melihat dirinya yang masih balita dipangku Bapak dekat jendela, untuk dibacakan fabel karya Aesop.

Sementara ibunya di samping mereka sibuk membuka-buka buku resep masakan yang akan diujicobakan untuk makan malam.

Saat mengusap air matanya yang mulai mengalir, sekelebatan memori lain ikut menggedor-gedor benaknya juga.

Ketika Adya remaja mulai ingin tahu dan bertanya, mengapa orang tuanya selalu ke Santorini setiap lima tahun sekali untuk merayakan ulang tahun pernikahan. Ibu dengan mata berbinar mulai bercerita sambil membuka buku Treasury of Greek Mythology keluaran National Geographic.

“Cinta Bapak kepada Ibu itu luar biasa, Nak. Seperti kisah Euphemus, putra Poseidon yang melemparkan segumpal tanah dari Anaphe ke laut, untuk melindungi buah cintanya dengan sang bidadari dalam mimpi, putri Triton. Muncullah Kallisti, pulau yang sangat cantik, tempat di mana Thera, buah hati mereka dilahirkan.”

Saat itu Adya baru 12 tahun dan belum banyak mencerna tentang cinta, meski ia sering dijodoh-jodohkan dengan Ken yang saat itu dua tingkat di atasnya.

“Bapak tak datang dari keluarga kaya raya, tetapi ia pekerja keras. Bapak tak banyak bicara, tetapi benar-benar fokus dan tekun memperjuangkan impiannya. Ketika Bapak memberanikan diri melamar Ibu, Eyang Atma sudah memberi ultimatum bila Ibu, anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara, dibuat kesusahan sepanjang pernikahan, Eyang akan segera memaksa Ibu untuk menceraikan Bapak. Membuat perempuan yang dinikahi tak berbahagia, tak ada dalam kamus keluarga Eyang. Jadi, kamu sudah tahu ya mengapa namamu ada Kallisti dan mengapa kami berdua begitu menyukai Santorini?”

Mendengar kisah tersebut membuat hatinya tenteram melihat orang tuanya begitu harmonis, sementara di sekitarnya pasangan seusia orang tuanya banyak yang berselingkuh dan bercerai.

Di sisi lain Adya menjadi sulit sekali mengiakan bila ada yang menyatakan cinta padanya. Bahkan ketika syukuran usai wisuda, Ken dengan setengah bercanda menyatakan akan melamarnya suatu hari nanti, Adya hanya tertawa dan mengganggap itu sebagai prank terhebat yang pernah dilakukan Ken kepadanya.

Keasyikan Adya memilih buku-buku di Atlantis Books membuatnya lupa waktu. Begitu terkejutnya ia melihat pengunjung mulai beranjak pergi untuk menikmati keindahan matahari terbenam. Adya sendiri tak tertarik keriuhan itu. Meski dalam list-nya ada permintaan Bapak yang mengatakan suatu saat Adya akan menikmati suasana romantis saat senja di Santorini, ia tak yakin mampu mewujudkannya dalam kunjungan kali ini.

Adya memilih membeli sebuket bunga popi berwarna oranye kemerahan, untuk dibawanya ke tujuan terakhir petualangannya hari ini. Berjalan di antara pasangan-pasangan yang sedang berpelukan mengingatkan Adya pada Ken. Tiba-tiba ia merindukan berada dalam dekapan hangat sahabatnya itu. Astaga, ia lupa melakukan video call semalam untuk memberitahukan Ken bahwa ia baik-baik saja!

Kegundahan hatinya kian menjadi kala menyusuri sepanjang jalan menuju pantai Kamari. Tak ada yang indah senja itu, mengingat pandangan Adya setengah kabur dengan genangan air mata. Usai meletakkan buket bunga di permukaan air pantai, Adya cepat-cepat berlalu, bahkan tanpa berlama-lama mengucapkan kerinduan pada mendiang orang tuanya.

Saat kembali ke vila, tubuhnya sudah terlalu penat untuk mengingat keinginan melakukan video call dengan Ken. Seusai mandi, Adya pun cepat terlelap tanpa suara.

***
Alarm di ponsel Adya kini membangunkannya sesuai waktu di Yunani. Pegal-pegal di kakinya sepanjang Adya berjalan kemarin kini baru terasa.

Suara ketukan di pintu dengan tambahan suara Gerome terdengar lamat-lamat. “Me synchoreis, excuse me Miss Adya.”

“Wait a minute, Gerome!” Dengan menyeret kakinya, Adya membuka pintu dan seketika terbelalak. Ia sampai mengucek-ucek mata dan mencubit pipinya.

“Ken? Kamuuu?” Tanpa malu-malu Adya menghambur ke pelukan Ken yang tersenyum lebar dan menyambutnya dengan hangat.

Gerome yang berada di belakang Ken tertawa melihat mereka. “Sungguh pintar Mrs. Kalyana memohon saya mengirimkan kartu pos-kartu pos itu kepada kalian. Ia ingin sekali kalian berdua datang ke sini, namun tak kunjung berhasil. But, finally …. “

Adya sontak menoleh dan bertanya, “Apa maksudnya Gerome?” Tanpa sadar tangannya yang melingkari pinggang Ken makin mengencang. Ken mengecup ujung dahi Adya untuk menenangkannya. “Pssst, dengerin dulu …. ”

Gerome menghela napas dan mulai berkisah. “Kedua orang tuamu seperti memiliki firasat saat kedatangan terakhir itu. Mereka menuliskan bucket list di buku catatan yang minta diserahkan kepadamu, seandainya suatu hari nanti Miss Adya datang kemari. Ibumu malah membeli dua kartu pos, satu untuk Miss Adya, satu untuk Mister Ken yang minta dikirimkan enam bulan kemudian, bila terjadi apa-apa dengan mereka. Sejujurnya saya tidak mau, karena tidak mau membenarkan firasat itu. Namun, pagi sebelum kecelakaan, keduanya memastikan betul agar pesan mereka itu tersampaikan.”

Perkataan Gerome meruntuhkan pertahanan Adya. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini menganak sungai bahkan membasahi kemeja yang dipakai Ken. Gerome yang menyaksikannya tampak kikuk dan akhirnya melambaikan tangan tanda permisi.

Ken mencoba mengalihkan perhatian Adya dengan menyodorkan kartu pos dengan tulisan tangan ibunya Adya.

Bila pada kartu posnya hanya tertulis, ‘Pergilah ke Santorini. Kami ingin kebahagiaan dan cinta ini juga dirasakan olehmu’.
Akan tetapi, tulisan Ibu pada kartu pos Ken lebih panjang.

‘Ken, anakku. Bila suatu saat kamu menerima kartu pos ini, itu tandanya Adya tidak baik-baik saja. Adya perlu bantuanmu. Adya perlu perhatian, cinta dan kasih sayangmu. Bersiaplah bila ia mau ke Santorini dan susullah segera, saat ia terlupa sekali saja untuk tidak menghubungimu.
Tolong jagain Adya, ya, Ken. Cintai dan hormati dia seumur hidupmu, seperti Bapak mencintai Ibu.’

Adya membaca kartu pos itu berulang-ulang kali. Awalnya sambil tersedu sedan lalu diam. Sebelah tangannya diusap-usap dan digenggam Ken sedemikian erat.

Sesaat Adya menoleh ke arah Ken, ingin menatap ke dalam matanya. Apakah perasaan yang mulai tumbuh dan selama ini mengganggunya, juga dimiliki Ken, bukan sekadar merasa diberikan tanggung jawab memenuhi permohonan mendiang Ibu dan Bapak Adya.

Ken balas menatap. Tiba-tiba waktu serasa terhenti saat bibir Ken mulai berkata-kata.

“Tanpa hadirmu, aku tak bernyawa. Izinkan aku mencintaimu, menjagamu sepanjang masa.
Bukan sebagai sahabat, apalagi kawan dekat.
Aku ingin tertidur dan terbangun, dalam pelukanmu yang hangat.”

Di dalam jernihnya pantulan bola mata Ken, tampak sosok Bapak dan Ibu tersenyum lebar melihat ke arahnya.

* S e l e s a i *


(1) Sketos = kopi kental tanpa gula
Metros = kopi dengan gula
Glikos = kopi dengan extra gula
Variglikos = kopi yang sangat manis

(2) Moussaka = pasta berisi daging sapi cincang, terong dan potongan kentang di bagian bawah. Ada saus tomat dan taburan keju panggang di atasnya.
Biasa dimakan dengan Tzaziki = salad dengan saus yoghurt Yunani yang dicampur dengan bawang bombay, oregano, timun dan minyak zaitun.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: