yukberbagi!


#NAD_Battle 2021 – Song fiction
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021
#PASUKAN_ASTERIX
#Challenge_3
#KoreaLoveStory

18+
Twice Love Story
Judul : Deserved
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1485 kata

🎶Oh girls, do what you want
You’re going the right way🎶

Suara Twice -girlband Korea- membangunkan Ailee. Itu bunyi nada dering ponselnya.

Bau cairan disinfektan yang seketika menusuk hidung, memaksanya membuka mata. Sesosok lelaki berjas putih berdiri membelakanginya sedang menjawab telepon. Ailee kenal ponsel dalam genggaman si lelaki. Ponsel itu miliknya.

Suaranya berat meski samar-samar. Hanya kalimat ‘nanti akan saya infokan’ yang terdengar oleh Ailee.

Lelaki itu berbalik dan menatap Ailee. Ah, bukan nama-nama yang ia sebutkan tadi. Siapa lelaki ini? Mengapa aku di sini? Siapa dia? Pikiran Ailee dipenuhi tanya.

“Arjuna? Arka?” Suara Ailee memanggil.

***
Sehari sebelumnya di The Jaguar Cafe ….

Usai menutup payung dan cepat- cepat mematikan rokok di tempat sampah depan kafe, Ailee melangkah masuk dan langsung menuju meja bar.

Baru saja Ailee mendaratkan bokongnya di kursi, dilihatnya seorang perempuan yang dikenalnya sebagai dokter NAD General Hospital yang pernah merawat Arjuna saat kebakaran kafe, tiba-tiba beranjak pergi dengan terburu-buru.
Ailee sempat menyapa berbasa basi lalu tersenyum melihat Arjuna yang cengengesan salah tingkah.

Arjuna mendekati Ailee. Hidungnya mengendus pakaian Ailee seperti biasa. Sesaat kemudian embusan napasnya terasa di belakang telinga Ailee. Aroma mint menguar menyentuh indra penciuman Ailee.

“Ngerokok lagi? Kenapa?” tanya Arjuna. Binar di mata Arjuna kini berubah menjadi tatapan menyelidik.

“Akhirnya aku putus sama Arka,” gumam Ailee dengan suara tak begitu jelas. Arjuna spontan membalikkan badan, memegang kedua bahu Ailee.

“Ai … serius? Are you sure? Yeaay! Akhirnya….”

Arjuna melompat kesenangan, tubuh Ailee ikut terguncang.

Ailee segera melepaskan tangan Arjuna dari bahunya. Selain timbul rasa nyeri bekas cengkraman tangan Arka saat marah kemarin, juga agar tidak menarik perhatian pengunjung lain.

“Yaaa …, itu keinginanmu dari dulu ‘kan?” ujar Ailee menghela napas panjang.

“Yesss! Keputusanmu berpacaran dengan Arka memang tak pernah kurestui. Kau cantik, pintar, pekerja keras. Ngapain sama Arka? Mending sama a….”

“Sama kamu maksudnya? Toh waktu itu kamu nggak ada. Kamu pergi dari kota ini saat aku memerlukan seseorang!” Tanpa sadar nada suara Ailee meninggi.
Arjuna langsung menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.

“Psst … Nggak usah ngegas kayak gitu. Aku tahu, aku punya salah hingga kamu jadian sama Arka. Aku seharusnya menjagamu, setelah mendiang kakakmu tiada dan papamu meninggalkan rumah. But anyway, sekarang kamu udah putus, kamu udah bebas dari dia. That’s more important.”

Sambil melepaskan tangan Arjuna, Ailee beringsut pindah ke tempat duduk yang menghadap ke sungai dengan raut wajah sedikit berubah. Arjuna mengikutinya.

Ya, Ailee sudah putus. Ia bebas dari segala kerumitan hubungannya dengan Arka. Ia tidak lagi menjadi samsak hidup. Bilur, lebam serta cakaran di tubuhnya tak akan bertambah lagi. Begitupun dengan tabungannya, tak akan berkurang terus karena diambil oleh Arka untuk gonta ganti gadget maupun hang out di klub bersama teman-temannya.

Ailee juga tak perlu takut lagi akan terkena penyakit seksual yang mungkin saja diidap Arka akibat petualangannya bersama wanita lain di luar sana.

Bahkan ancaman mengekspos foto-foto pose sensual Ailee serta bunuh diri Arka jika Ailee minta putus, kini tak akan mencemaskan hari-harinya lagi.

Arjuna menyadari kalau raut wajah Ailee berubah setelah ucapannya barusan. Ia juga paham, betapa hancurnya Ailee diperlakukan semena-mena oleh Arka selama ini.
Diraihnya tangan Ailee. Kehangatan segera menjalar dari genggaman Arjuna dan tatapan matanya.

“Sori Ailee. Just forget it. Tunggu di sini. Aku cek dapur dulu, ok. After that aku akan temani kamu. Kalau perlu sampe pagi.”

Ailee mengangguk, air mata yang sempat menggenang di matanya dihapusnya cepat-cepat. Ia memasang earphone mendengarkan lagu kesukaannya Girls like us – Twice sambil menunggu Arjuna kembali duduk bersamanya.

🎶 You are not alone, everyone has been on this path before
The happiness you’ll one day find on this road
As expected we’re headed for a distant place too, fly with us 🎶

*
Kafe makin malam makin ramai. Danny sudah menyelesaikan permainan pianonya. Ailee dan Arjuna masih asyik berbincang tentang banyak hal.

Ya begitulah persahabatan Arjuna dan Ailee hampir dua dekade ini. Sejak kecil, Ailee sangat dekat dengan Bree kakak lelaki satu-satunya. Semenjak Bree meninggal, Ailee menjadi sangat pemalu dan tertutup sampai bertemu Arjuna saat SMA. Sejak itu mereka berdua menjadi dekat dan membuat banyak orang cemburu. Bahkan kedua orang tua mereka beranggapan Arjuna dan Ailee akan menikah kelak. Namun, ketika ayahnya memilih meninggalkan rumah dengan kekasih barunya, dan saat yang bersamaan Arjuna berangkat keliling Indonesia untuk belajar tentang kopi dari tempat asalnya, Ailee merasa sendiri dan kesepian.

Kehadiran Arka seakan menjadi penawar gundah hati Ailee. Ketika Arka menyatakan cinta, Ailee menerimanya. Meski lewat telpon Arjuna tak merestui dan berpesan untuk menunggunya.

*
Malam makin larut. Denting lonceng pintu yang keras mengejutkan Ailee dan Arjuna. Sesosok lelaki menghampiri meja mereka dengan sedikit terhuyung, Arka. Mulutnya berbau alkohol dan ia sedikit meracau.

“Ailee … My Honey Bunny … Please, jangan putusin aku ….”

Ia menuju sofa Ailee lalu menubruknya hingga setengah telentang di sofa. Belum sempat Ailee bereaksi, badan Arka tertarik ke belakang.

“Arka. Stop! Buat apa elo cari Ailee? Kalian udah selesai.” Ternyata Arjuna yang menarik kerah baju Arka.

Arka berontak melepaskan tarikan tersebut. Sebelah tangannya masih mencengkeram bahu Ailee. Tangan yang lain menuding Arjuna.

“Elo yang bikin gue sama Ailee putus, Arjuna. Anj*ng lo! Ailee tuh milik gue! Terserah gue mau cari dia, mau apain dia. Gue ga mau putus. Gue mau jemput dia pulang, sebelum nanti ditidurin sama elo!” teriak Arka.

Badan Ailee tertarik bersama Arka, sebelum terhempas lagi saat kepalan tangan Arjuna mengenai dagu Arka.

“Bangs*t. Tutup mulut elu, basta*d!”

Mereka saling meninju, mendorong, memaki, mencengkeram bahu, menendang satu sama lain, memiting lengan.

Ailee berteriak-teriak, berusaha memisahkan mereka. Badannya tertarik ke kiri ke kanan. Sesekali bahu Ailee ikut terdorong, kulitnya tercakar ketika mencoba melerai Arka dan Arjuna.

Tiba-tiba seseorang menarik Ailee di antara mereka berdua.

“Ailee … Nona Ailee. Stop. Kamu bisa terluka,“ ujar Tommy, baker di kafe ini yang selalu menawarkan kue kreasi baru kepadanya. Namun, perkataan Tommy justru makin menyulut Arka.

“Hei, tukang kue! Ngapain ikut campur? Elo juga mo pake dia, hah? Langkahin mayat gue dulu, brengsek. Dia milik gue … cuma gue yang boleh tidurin dia!” teriak Arka langsung menyerang Tommy.

Arjuna makin marah mendengar kata-kata Arka. Ia menyerang Arka dari belakang. Sementara Tommy menyambut serangan Arka dari depan.

Ailee terdorong hingga jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya sakit semua. Ia terlalu syok untuk bersuara serta bingung harus bagaimana.

Suasana kafe tak terkendali. Meja-meja tergeser ke sana ke mari. Kursi berhamburan. Cangkir, piring kue, sendok berserakan di lantai. Dari sudut matanya, Ailee melihat para pelayan dan kasir meminta pengunjung lain untuk segera meninggalkan tempat.

Arka, Tommy dan Arjuna masih terus saling memukul. Arka menendang Arjuna, tetapi ditangkap Tommy dari belakang. Lalu Arjuna maju meninju bahu Arka hingga tersungkur, tetapi kaki Arka sudah menendang kaki Tommy. Kini Tommy yang tersungkur. Ketiganya saling memiting dan bergulat di lantai.

Napas Ailee makin tak beraturan, air matanya terus membanjir turun. Tenggorokannya kering dan sakit. Badan Ailee perlahan rebah tak bergerak di lantai. Sesaat sebelum matanya tertutup, sesosok lelaki merangkul tubuh Ailee lalu semuanya gelap.

*

“Hai…. Syukurlah kamu sudah sadar. Kenalkan saya Dokter Andaru. Saya bertugas di IGD saat kamu dibawa ke sini tadi malam.” Suara lelaki itu menyadarkan Ailee dari ingatan kejadian semalam di kafe.

Tangan Dokter Andaru mengangsurkan ponsel ke hadapan Ailee. Sekilas Ailee melihat batere ponselnya sudah sekarat.

“Oh iya Ailee, benar begitu namamu? Teman kamu yang tadinya sama-sama kamu di sini, sedang di kantor diwawancarai petugas. Kalau nggak salah, namanya Arjuna?”

Ailee terkesiap. “Diwawancarai petugas, Dok? Mengapa?”

“Saya juga tidak tahu, maaf. Cuma saya diminta menjagamu di sini, mengingat kejadian semalam sudah termasuk pelanggaran hukum.”

Ailee terdiam. Arka, Arjuna?

“Nggak apa-apa, Dok. Terima kasih udah jagain saya. Kapan saya boleh pulang?”

Dokter Andaru hanya mengangguk, ia terus menatap Ailee. Senyuman di bibirnya membuat Ailee merasa tenang.

“Maaf Nona Ailee, boleh saya bertanya?”

Ailee tergagap. “Iya Dok? Ma-mau tanya apa?”

“Mohon tidak tersinggung. Kalau boleh saya tahu, ada lebam-lebam di bahu, tangan dan kaki tapi tak sama dengan luka-luka yang saya obati semalam? Sempat jatuh atau kecelakaan beberapa hari lalu?”

Ailee terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Maaf, Nona Ailee. Saya tidak bermaksud ….”

“Semua dilakukan mantan pacar saya bila ia marah atau cemburu. Orang yang sama yang menyerang saya semalam di kafenya Arjuna.”

Embusan napas Dokter Andaru terdengar keras. Tangannya mengepal. Air mata Ailee makin deras saat Dokter Andaru mengangsurkan saputangan.

Baru saja tangan mereka saling bersentuhan,

“Ailee, dear! Oh my God, aku khawatir banget. Syukurlah kamu sudah sadar. Aku tadi minta tolong Dokter Andaru menjagamu selama aku diwawancara petugas. Banyak sekali pertanyaan yang harus aku jawab dan tanda tangani. Habis ini giliranmu. Tapi, kalau kamu sudah cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kalau tidak, bisa ditunda besok.”

Suara Arjuna yang penuh semangat dan kelegaan terdengar seiring tirai pembatas brankar ruang IGD tersibak membuat Ailee segera menyusut air matanya dan Dokter Andaru mundur satu langkah.

Arjuna merangkul Ailee, memeluknya, “Be strong Ailee. Aku akan mendampingimu. Kita sama-sama menyelesaikan masalah Arka.” Arjuna berkata pelan.

Ailee diam dalam pelukan Arjuna, matanya menatap wajah Dokter Andaru yang juga tengah menatapnya sembari mengangguk dan tersenyum, seolah berkata, “Kau berhak bahagia, Ailee.”


NAD City, suatu pagi di ruang IGD.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: