yukberbagi!


Saat Konten Jadi Candu, Empati pun Luruh Satu-Satu

2002, saat itu saya hamil muda anak pertama. Saluran tv belum sebanyak sekarang, tapi semua serentak menayangkan musibah Bom Bali. Tiga kali ledakan di tempat berbeda dan menewaskan ratusan orang, terbanyak warganegara Australia.

Alih-alih berkabung, hampir tiap saat gelimpangan mayat yang dijejerkan di ruang mayat RS Sanglah terekspos hampir setiap menyalakan tv. Maksud hati hendak mengetahui perkembangan terkini, malah saya terus bersedih dan tentu saja muntah tak henti-henti. Bercampur aduk rasa mual karena hamil muda dan gundah melihat tayangan jenazah.

Itu hampir sembilanbelas tahun lalu. Saat belum ada Facebook yang baru muncul tahun 2004 atau Twitter di tahun 2006 dan Instagram di tahun 2010. Apalagi aplikasi chat semacam WhatsApp dan teman-temannya. Hanya SMS dan telepon yang menghubungkan satu sama lain.

Dunia jurnalisme pun masih belum jelas kode etiknya dalam memburamkan kondisi korban di media. Empat tahun kemudian, tahun 2016 barulah disahkan Kode Etik Jurnalistik yang pada pasal 2 dikatakan, Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Di mana cara-cara yang profesional salah satunya di poin f adalah menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara.

Bayangkanlah sendiri bagaimana rasanya sebagai keluarga korban saat menyalakan tv, di saat masa berkabung atau harap-harap cemas. Saat itu saya sempat mengunjungi teman sekantor di rumah sakit. Dia selamat namun dengan luka bakar yang levelnya perlu penanganan lebih lanjut sampai ke Australia. Mendengar bagaimana kisahnya terinjak injak, panik di antara luka-luka dan benda terbakar sampai lolos dari maut, mendengar rintih kesakitannya karena rasa panas pada luka bakar di sebagian tubuh membuat saya merasa begitu sedih dan tak tahu harus berkata apa.

Karenanya, saya sungguh takjub dan geram dengan postingan yang sedang hits beberapa hari ini terkait musibah Sriwijaya Air. Meski saya menelusuri satu platform media sosial saja yaitu instagram, namun konten yang beredar sudah di luar akal sehat dan tentu empati sebagai manusia.

Caption [pesawat blabla hilang kontak, pasti pilotnya kang ghosting nih…] atau [bayangin aja tadi mereka teriak-teriak di pesawat dan kita lagi scrol di tiktok] direspon dengan berbagi cara. Direpost berkali-kali bak info berharga.

Belum lagi berbagai konten cocoklogi (istilah untuk mencocok-cocokan berbagai hal) mulai dari nomor kode penerbangan dengan tanggal kejadian, lalu jitunya ramalan seorang seleb peramal, serta adanya tulisan nama yang menyerupai lafal Allah di goresan moncong pesawat. Bertambah lagi banyaknya postingan jualan yang mencomot tagar nomor kode penerbangan sebagai aji mumpung, agar orang yang mencari tagar bersangkutan siapa tahu ada yang akhirnya ‘nyangkut’ menjadi konsumen.

Meski teman saya bilang, itu bot atau sudah biasa untuk membeli like atau tagar, saya jadi prihatin. Produk jualan ini mulai dari t-shirt, kue, online store, injeksi vitamin kecantikan, properti sampai bantal couple kekinian.

Hoaks jangan ditanya lagi. Tentang rekaman video pesawat sebelum jatuh yang kemudian dilansir kenyataannya sebagai rekaman salah satu film komersil produksi China. Lalu hoaks tentang rekaman dari black box sebelum terjadi crash yang kemudian diklaim hal tersebut sebenarnya dari insiden kecelakaan pesawat Adam Air. Bahkan ada akun hoaks yang mengatasnamakan salah satu penumpang, yang herannya langsung melejitkan follower puluhan ribu.

Video-video wawancara keluarga korban, bahkan ada yang saat pengambilan sampai mengganggu privasi dan kenyamanan narasumber. Akun blogger @iniami memuat kutipan sbb, “Udah, udah ya Pak. Mata saya aduuh..,” kata Pak Yaman Zai merasa tidak nyaman dengan flash dari kamera yang disorot ke wajahnya, saat Beliau tengah sibuk menelpon dan sedang menangis karena kehilangan istri serta tiga anaknya dalam kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182. Kata Fahmi Aviani pemilik akun, bahkan tak ada yang menepuk-nepuk bahu, menenangkan atau memberi minum, malah sibuk berkerumun bertanya-tanya demi update.

Ternyata bukan hanya saya saja atau Fahmi Aviani yang geram. Akun @mwv.mystic malah membuat postingan yang menyesalkan ketololan mengekspos kesedihan termasuk liputan wawancara terhadap keluarga korban tentang adakah firasat, atau pesan terakhir, termasuk status terakhir Instagram, WhatsApp, atau bahkan apa yang ingin dikatakan bila ternyata almarhum/ah masih hidup.

Salah satu sahabat saya, seorang diver yang tak mau dipublikasikan namanya menuturkan pengalaman saat diajak menjadi relawan rescuer, menyelam di laut dalam saat musibah kapal tenggelam.
Dia menjawab pertanyaan saya, apakah dirinya dan tim terlarut kesedihan ketika melakukan tindakan SAR tersebut.

“Saat rescue semua pembicaraan bersifat teknis, setelahnya baru muncul perasaan-perasaan. Waktu itu kami melihat jenasah ibu dan anak, pikiran yang muncul sangat teknis; bagaimana mengangkat dengan minim kerusakan baik di area ditemukan maupun pada korban.” Katanya lagi, tentu sampai sebuah prosedur SAR dilakukan, koordinasi dan kerjasama termasuk peran pengemudi kapal karet pun menjadi penting; sebagai pengantar ke lokasi titik pencarian.

Kenyataannya, yang hendak diketahui publik saat ada musibah sejatinya adalah bagaimana progress proses pencarian, bagaimana support system yang perlu untuk mendukung proses evakuasi termasuk dukungan psikologis untuk keluarga korban.

“Bila lalu ada foto atau rekaman video tersebar saat liputan bencana, yang sering kali menyebarkan justru warga atau relawan atau tim terkait di lokasi; meski kadang ada juga oknum jurnalis yg nyebarin. Kalau jurnalis, jelas akan kena kode etik, diberi sanksi bahkan mungkin dicopot keanggotaan jurnalistiknya.” ungkap Nur Hidayah, salah seorang jurnalis di tirto.id kepada saya.

Belajar dari Jepang, koresponden senior NHK Kenji Sugai pada pre summit workshop, Pertemuan Media Untuk Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana yang diadakan di Jakarta tahun 2014; pada saat bencana yang terjadi adalah liputan yang bertujuan mendukung operasi penyelamatan dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi berdasarkan kerusakan.

Dia mencontohkan, seperti saat gempa bumi 11 Maret 2011 yang disusul tsunami, saat terjadi getaran gempa semua saluran akan berubah pada penyiaran darurat dan menginformasikan langsung ke masyarakat. Tidak ada saluran yang lalu mengekspos kesedihan atau drama di antaranya. Sehingga semua pihak fokus untuk informasi akurat dan bagaimana penanganan setelahnya.

Saya jadi merenung. Berpikir keras mengapa akun-akun yang seenaknya mencari konten demi menaikkan follower ini sudah mati akal sehat dan empatinya? Lalu bagaimana dengan netizen yang lalu merepost, like dan membagikan ulang di platform media sosial lain?

Bisakah kita katakan, akan lebih menantang lagi untuk bicara toleransi dengan orang-orang ini? Karena di salah satu postingan, malah ada netizen mencuatkan komen, [semoga penumpang **********(beragama tertentu) diampuni dan mendapatkan pahala mati ******** (istilah meninggal dalam keadaan suci) ].
Komentar itu seolah membenarkan korban beragama lain tak perlulah dihargai sebagai sesama manusia.

Begitu juga dengan judul-judul yang menunjukkan unsur kedaerahan crew pesawat dan penumpang, sangat tak bisa dipahami apa maksud dan tujuannya. Bagi saya, siapapun dia, dari mana asalnya, apapun agamanya, adalah korban yang sudah berpulang lebih dulu karena musibah kecelakaan dan kita selayaknya berbelasungkawa sebagai sesama.

Jujur saja, dari sebuah insiden di awal tahun ini; kita jadi semakin sadar bahwa toleransi masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang belum kunjung selesai.

Definisi empati menurut kbbi : em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;

Referensi :
“KODE ETIK JURNALISTIK”, https://tirto.id/8Nb.

https://aji.or.id/read/kode-etik.html
https://m.antaranews.com/berita/437977/belajar-peliputan-bencana-dari-media-jepang



Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”
Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”
Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.
Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi.

Seringkah kita menemui obrolan anak-anak dengan muatan semacam itu sehari-hari? Mengandung stereotip dalam memandang orang lain. Bila menjawab sering, lalu apakah stereotip itu?

Menurut kbbi, ste·re·o·tip /stéréotip/ 2 n merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Jadi secara sederhana, stereotip lebih mengarah pada prasangka dan patut diragukan kebenarannya.

Lalu apakah kasus di bawah ini termasuk di antaranya? Seorang ibu bercerita, sebuah insiden di sebuah tempat ibadah. Ada beberapa anak yang berteriak mengejek saat melihat anak dari salah satu pulau di timur Indonesia. “ih ireng banget koyo tai… njijiki… hih tai kok neng grejo.”
(ih hitam banget kayak kotoran/tai, menjijikkan, hih tai kok ada di gereja)
Ibu ini begitu geramnya, namun tak berkuasa apa.

Berprasangka kepada yang berbeda dengan kita, biasa diawali dengan melakukan body shaming, seperti, ujaran “Moko kulitnya item banget, kalo mati lampu ga bakal kelihatan.” Atau “Sucen matanya sipit, kalo ketawa cuma satu garis aja.”; mungkin biasa terjadi sehari-hari. Pertama mungkin dari ciri fisik seseorang, lama kelamaan berkembang menjadi prasangka subjektif tentang karakter khas sebuah suku, ras atau bangsa tertentu.

Awalnya hanya bercanda, selanjutnya sengaja menyindir, dan kalau dilakukan berkali-kali, sama saja dengan mengolok-olok yang cenderung menghina. Contoh ucapan yang ditujukan pada seorang yang sejak kecil pintar berwirausaha. “Ahhh, pasti dia Cina atau Padang. Apa-apa dijadiin duit. Apa-apa didagangin.” Atau ucapan. “Males deh temenan sama dia. Lambat banget ngapa-apainnya. Psst… orang Jawa sih.” Atau, “Jangan temenan ah sama dia. Kan orang Timor, bawaannya marah mulu.”

Hal apa yang sebenarnya mendorong seorang anak melakukan tindakan stereotip? Dan apakah benar sikap orang tua atau bahkan pola orang tua asuh ternyata menyuburkan tindakan tersebut?

Asmiati Malik dari Universitas Bakrie dan Andi Muthia Sari Handayani dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu mengungkapkan stereotip terbentuk dalam proses pembentukan karakter dari individu sejak kecil dan kemudian melekat secara alamiah di bawah otak tidak sadarnya.

Pendapat yang lebih detail diungkapkan Erin N. Winkler, professor dan Kepala Departemen Afrology di Universitas of Wisconsin-Milwaukee. Beliau mempelajari bagaimana anak-anak membentuk gagasan mereka tentang ras selama tahap awal perkembangan.

Ketika anak-anak mulai mencari tahu dan belajar membedakan bentuk dan warna, mereka juga mulai mengamati perbedaan yang terlihat di antara orang-orang dan membedakan identitas mereka sendiri, termasuk konsep rasial.

Winkler juga mengulas bagaimana bayi berusia 3 sampai 6 bulan dapat secara non-verbal mengkategorikan orang menurut karakteristik ras, lalu anak-anak berusia 2 tahun dan seterusnya dapat menggunakan kategori ini untuk “bernalar” tentang perilaku orang.

Secara perkembangan, normal bagi anak prasekolah untuk memperhatikan dan bertanya tentang perbedaan warna kulit dan ciri-ciri lainnya, terutama karena anak usia 3 sampai 5 tahun sering belajar mengkategorikan segala macam hal. Besar kecil, tinggi pendek, hitam putih, cantik jelek, dan seterusnya.

Anak-anak bahkan dihadapkan pada stereotip rasial secara terbuka, melalui buku, majalah, televisi dan pengalaman mereka di lingkungan. Bagi anak-anak di usia ini, apa yang terjadi dan ada di sekitarnya mengundang rasa ingin tahu.

Jadi ketika mereka memperhatikan sebuah sikap atau perilaku sebagai pola, lalu mereka tidak mendapatkan penjelasan mengapa pola-pola ini ada, mereka menyimpulkan bahwa memang begitulah seharusnya bersikap.

Inilah sebabnya sikap orang dewasa yang tak mau terbuka mendiskusikan tentang ras bisa dianggap mendorong anak untuk memiliki prasangka kepada temannya atau orang lain.

Lalu, apakah mudah mendiskusikan hal ini dengan anak-anak dan sebaiknya di usia berapa kita membicarakan hal ini. Beberapa orang tua khawatir tentang mengenalkan masalah seperti diskriminasi pada usia dini. Yang lain enggan membicarakan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya mereka pahami atau tidak nyaman untuk dibahas. Namun bagi mereka di keluarga yang pernah mengalami perlakuan pembedaan berdasarkan stereotip, tentu tidak memiliki pilihan seperti itu.

Pembicaraan tentang stereotip, rasisme dan diskriminasi mungkin terlihat berbeda untuk setiap keluarga. Meskipun tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua, panduannya sebenarnya sama. Semakin dini orang tua memulai percakapan dengan anak-anak mereka, semakin baik.

Menurut Unicef, usia anak yang cukup baik untuk diajak berdiskusi tentang hal ini, ternyata usia balita. Pada usia ini, anak-anak mungkin mulai memperhatikan dan menunjukkan perbedaan pada orang yang mereka lihat di sekitar mereka. Seperti pada contoh yang dialami Dydy saat TK di awal cerita.

Lalu apa saja langkah-langkah kita sebagai orang tua mengajarkan hal ini? Apalagi sudah dipastikan bahwa orang tua lah yang meletakkan dasar dari bagaimana anak-anak bersikap kepada orang yang ‘berbeda’.

Unicef sempat menyusun panduan seperti selalu mengajak anak mengenali dan mensyukuri perbedaan dengan sering mengajak anak play date dengan teman dari berbagai keluarga, selalu terbuka terhadap pertanyaan dan keraguan anak-anak saat menghadapi orang yang berbeda, selalu berusaha memfasilitasi dengan bersama-sama membaca buku anak-anak maupun menonton bersama serial Upin Ipin atau sejumlah film Disney seperti Mulan, Brave, Frozen, Wreck it Ralph, Monster’s Inc., dan Shrek yang banyak memberi contoh tentang stereotip dan keberagaman.

Dan termasuk mengajak anak ke pekan budaya atau festival seni untuk mengenalkan betapa berwarnanya lingkungan sekitar kita.

Namun, kuncinya kembali lagi ke orang tua, yang sejatinya adalah ‘pintu’ anak mengenal apa-apa di dunia. Ingatlah untuk mempraktikkan selalu apa yang kita katakan.
Kita mungkin mengajari anak-anak tentang tak boleh membeda-bedakan teman termasuk bersikap toleran. Namun jika mereka mendengar kita berbicara negatif tentang orang yang berbeda, jangan kaget jika mereka akan meniru kita.

Anak-anak akan sering mempraktikkan apa yang mereka lihat dan dengar sebagai kebalikan dari apa yang diajarkan. Inilah sebabnya mengapa anak-anak lebih cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat ketika mereka melihat kita mempraktikkan toleransi dan menerima orang lain apa adanya.

Ini PR besar saya juga untuk Dydy untuk tidak bersikap stereotip dan diskriminatif, termasuk mulai mengajarkannya untuk bersikap asertif saat ada teman yang membeda-bedakan dirinya.

Tak mudah, perlu proses, perlu keteladanan dari kami orang tuanya; tapi bukan berarti tak bisa kan?


Referensi : https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/explainer-ilmu-psikologi-menjelaskan-bagaimana-rasisme-terbentuk-dan-bertahan-di-masyarakat-140071
https://www.wiscontext.org/how-kids-learn-about-race-stereotypes-and-prejudice
https://www.unicef.org/parenting/talking-to-your-kids-about-racism
http://www.aldenhabacon.com/13-tips-how-to-talk-to-children-about-diversity



Anak-anak semesta

#toleransi

Kejadian ini setahun lalu. Sebenarnya saya ragu-ragu untuk menceritakannya. Karena persepsi orang mungkin saja tak sepakat dengan saya dan suami; tentang hubungan manusia dan Tuhannya.
Tapi…bagi saya sendiri, tiap mengingat cerita itu; hati saya menghangat.

Saat itu kelas TK anak saya yang bungsu sedang mengadakan kemping akhir tahun. Salah satu mata acaranya adalah mancakrida. Si bungsu, sebut saja namanya Dyat sudah bersemangat sejak awal.

Sementara anak-anak lain, ada yang menangis atau teriak-teriak, karena takut ketinggian, atau takut karena tidak didampingi orang tua saat bergelayut di tali temali itu. Dyat tidak demikian. Dengan penuh semangat, ia melalui satu persatu rintangan, hingga terakhir di flying fox. Flying fox pertama berjarak dekat, dan ia berani meluncur sendiri, sementara beberapa temannya memilih tandem untuk berbagi kecemasan.

Usai flying fox berjarak dekat itu, Dyat seperti juga beberapa teman yang berani, ditawarkan tantangan meluncur di jarak yang lebih jauh. Awalnya Dyat ragu-ragu, apalagi berat badannya tidak memenuhi persyaratan; kecuali tandem dengan salah satu temannya.

Melihat Dyat ingin sekali mencoba, saya spontan berkeliling mencari temannya; yang mungkin mau tandem dengannya. Akhirnya ada Alva, yang meski usianya lebih muda tapi berbadan lebih besar dari Dyat. Mereka pun sepakat untuk tandem.

Sebelum mendapat giliran, usai dipasang tali melintang di badan tampak mereka berbelok ke arah aula. Oh, mungkin ke toilet dulu, pikir saya. Saya berusaha menjaga jarak, agar Dyat tak terpengaruh kehadiran saya.

Ternyata, mereka tidak ke toilet, melainkan menuju mushola. Dengan rasa ingin tahu, saya mengendap-endap lalu mengintip dari belakang pintu. Rupanya mereka sedang mengobrol.
“Sebelum meluncur, kita doa dulu ya Dyat. Biar ga takut!” Suara Alva yang terdengar pertama kali.
“Ok, mari kita berdoa. Tapi bagaimana?” ujar Dyat pelan.
“Begini, karena kamu lebih tua…kamu yang mimpin di depan.” Alva mendorong Dyat agar maju ke depan.
“Ya…tapi aku ga tau caranya. Aku sembahyang ga gini.” Dyat tampak bingung, tapi tetap maju ke bagian depan.
“Nanti kucontohin…ya..ya..” Alva meyakinkan Dyat.
Di balik pintu, saya menahan nafas, agar tak berkomentar dan lalu mengganggu mereka.

Tampak Alva bersimpuh sholat, Dyat menoleh ke belakang lalu menirukannya.
Saat Alva memulai doa, Dyat berusaha mencontoh walau tak sama persis.
Begitu pun saat Alva bangun, berlutut, bersimpuh, maupun menangkupkan tangan ke wajah, Dyat mengikuti dengan badan setengah menoleh ke belakang.
Yang lalu jelas terdengar adalah ketika mereka berseru, “Aminnnnn….”
Alva dan Dyat pun bersalaman dan berpelukan.
Sambil berjalan keluar, keduanya berujar bersama, “Kita ga takut lagi ya…” dengan kepala terangguk-angguk, saling setuju.

Saya cepat-cepat sembunyi agar tak ketahuan mengintip sejak tadi. Ada rasa yang tak bisa tergambarkan. Saya hanya bersyukur untuk tidak bereaksi berlebihan melihat kejadian itu; dengan berprasangka Dyat mau diajak pindah agama misalnya. Tentu momen berdoa bersama mereka akan hilang.

Justru saya merasa hati saya menghangat.
Dyat dan keluarga kami adalah umat Buddha. Alva berasal dari keluarga dengan bapak Muslim dan ibu Kristiani. Melihat Alva mengajak Dyat berdoa, dengan cara agamanya; menunjukkan kepolosan anak-anak tentang bagaimana mengatasi rasa takut dengan berdoa. Tentu tidak ada niat apapun yang mungkin hanya terpikir oleh orang dewasa.

Saya sungguh belajar hari itu.
Belajar kepada anak-anak, bahwa kemurnian hati mereka sejatinya sungguh indah seperti semesta. Berteman, bergaul, berdoa, sejatinya tanpa berpikir kamu berbeda denganku, aku lebih tinggi kamu lebih rendah.
Hanya kita orang dewasa, yang kerap disadari maupun tidak ‘mengotori’ kemurnian itu.



Toleransi dalam sepiring pecel
02/12/2020, 4:12 am12
Filed under: catatan saya, tentang toleransi

Pernahkah diet dengan sayur rebus tanpa seasoning apapun? Saya pernah dan sungguh tak menikmati, bila saja tak membayangkan tumpukan lemak saat dulu hamil akan berkurang atau timbangan tak bergerak lagi ke kanan.

Bagaimana tidak? Sejatinya saya penikmat gado-gado, lotek, pecel, urap, karedok dan teman-temannya yang sungguh khas Indonesia. Penganan sayuran yang murah, mudah ditemukan, sehat karena direbus, creamy dan tasty. Isi sayur, bumbu siram, taburan kelapa tergantung selera. Harga mulai dua ribu sampai duapuluh ribu tergantung siapa penjualnya.

Kalau gado-gado Jakarta ada yang pakai bumbu kacang mete sementara gado-gado Jawa Timur tidak diulek tapi disiram. Kalau lotek di Yogyakarta, biasa beraroma kencur dan disertai mi goreng atau gorengan bakwan. Sementara pecel, kemanisan siraman bumbu ulegnya bekisar dari manis ke pedas tergantung asal daerah pembuatnya.


Eh…jadi berliur saya membayangkannya. Namun, akankah saya tetiba menjadi food blogger membahas makanan itu? Tidak juga. Saat menulis ini, saya baru usai makan pecel buatan sendiri. Seusai juga membaca sliweran berita di lini masa media sosial saya.

Sejak hari Toleransi Internasional 16 November lalu, kita kembali disadarkan bahwa isu intoleransi di sekitar kita masih begitu rapuhnya. Serapuh pernyataan netizen berikut yang muncul di komen teman saya saat menuliskan pengalaman sebagai etnis Tionghoa di Indonesia.
Menurut saya, sebagai minoritas seharusnya kalian tak usah protes tak usah banyak bicara. Karena ya sebagai minoritas seharusnya memang begitu. … yang namanya minoritas harusnya mengalah, diam, tak banyak protes. Karena memang bukan nenek moyang kalian yang punya wilayah ini. Seharusnya sudah bersyukur bisa hidup aman dan mencari uang di wilayah ini dengan bebas. Walaupun dengan gangguan sedikit di sana sini. Itulah resikonya sebagai minoritas. Kalo misalnya tidak suka, ya tahu dirilah.

Lalu rekan-rekan yang sangat toleran menjadi panas menanggapi ujaran yang bisa menyulut kebencian itu. Saya sendiri jujur tidak langsung bisa berkata apa-apa. Terlalu sering saya mendapatkan komen semacam yang intinya, “ga usah banyak ngomong.”, karena kamu minoritas.

Membungkam dengan kata-kata kamu minoritas memang terasa pedas bagai adonan bumbu pecel dengan lima cabe di piring saya. Komen netizen tersebut seolah membenarkan teori hukum alam untuk diberlakukan pada interaksi sosial manusia. Yang kuat, yang banyak itu yang berkuasa. Yang bernenek moyang di tempat tersebut, adalah yang boleh bicara.

Narasi semacam ini tak satu dua saja bisa kita temui. Merasa berkuasa terhadap sebuah daerah atau teritorial bahkan banyak diungkapkan sejak kecil. Coba lihat percakapan, “Anak mana lo? Anak baru ya? Jangan macem-macem lo!” Sikap yang tentu melibatkan agresi yang awalnya verbal lalu mengarah pada fisik.

Sebuah artikel di New York Times tahun 1999 yang ditulis oleh Steven Levingston, International Herald Tribune mengangkat tentang hal ini sebagai tanggapan apa yang terjadi di Kosovo saat itu. Steven mengungkapkan teori antropolog Robert Ardrey yang kontroversial, “the territorial instincts of animals apply equally to man.”

Dalam tulisan Steven, teori Ardrey itu secara sederhana ingin mengungkapkan bahwa manusia, seperti halnya hewan didorong naluri memiliki dan mempertahankan wilayah yang mereka yakini sebagai milik mereka secara eksklusif.

Jadi tak heran kemudian muncul istilah pribumi, penduduk asli dan pendatang. Yang mana pribumi seolah memiliki hak lebih dibanding kaum pendatang. Padahal bila mau mencari tahu, adakah yang benar-benar pribumi, asli Indonesia sejak puluhan ribu tahun lalu?

Dalam liputan Antaranews tentang diskusi Jejak Manusia Nusantara dan Peninggalannya yang diadakan oleh Historia.id di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Selasa 5 November 2019, arkeolog Harry Widianto mengemukakan nenek moyang Indonesia berdasarkan genetis sendiri, berasal dari beberapa gelombang migrasi yang dimulai ketika manusia modern atau Homo sapiens keluar dari benua Afrika sekitar 150.000 tahun lalu.

“Tidak ada yang bisa disebut sebagai pribumi asli di Nusantara, karena berdasarkan genetika sendiri ras di Indonesia sudah bercampur meski berasal dari pohon evolusi yang sama dan berasal dari Afrika,” kata Harry lagi. Yang bermigrasi dari Afrika lalu menetap di Papua dan Halmahera disebut ras Melanesia. Yang bermigrasi dari Taiwan; yang lalu ditelusuri ternyata dari Cina untuk menetap di Indonesia Barat kebanyakan tampak seperti subras Mongoloid. Sementara di area Nusa Tenggara Barat dan Timur, terjadi pencampuran ras keduanya.

Jadi sebenarnya tidak ada yang disebut penduduk asli atau bernenek moyang di wilayah Indonesia. Lalu mengapa ujaran yang memprovokasi hal tersebut terus ada? Apalagi terkait dengan keturunan Tionghoa di Indonesia, yang terus dianggap pendatang. Mereka tak mau peduli bila saya angkat bicara kakek saya sudah duapuluh generasi tinggal beranak pinak di Indonesia.

Tirto.id pernah memuat beberapa liputan tentang hal ini. Salah satunya mengungkapkan penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat. Kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto.
Saat Orde Baru, Soeharto memaksa masyarakat Tionghoa melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi, termasuk dengan adanya pemberlakuan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) untuk mengurus pembuatan KTP dan paspor, nama tiga huruf yang di-Indonesiakan agar tak menimbulkan sentimen termasuk pemberian tanda atau nomor khusus keturunan Tionghoa pada KTP. Saya dan kakak sendiri, mau tidak mau suka tidak suka tercantum selamanya sebagai anak luar nikah pada akte kelahiran, demi kemudahan segala administrasi di kemudian hari.

Masa-masa tersebut sungguh merupakan fase tidak percaya diri dan keraguan identitas. Saya etnis Tionghoa, yang teridentifikasi sebagai bukan pribumi. Tapi juga tidak ‘termasuk’ etnis Tionghoa yang katanya menikmati berbagai fasilitas investasi hingga menjadi kaya. Sehingga saat terjadi kerusuhan, ada generalisasi bahwa sebuah kewajaran bila menargetkan semua etnis Tionghoa sebagai sasaran kebencian. Bahkan sahabat saya kesulitan mendaftarkan kuliah di universitas negeri karena namanya masih tiga huruf Cina.

Sentimen rasial ini ternyata sudah begitu tuanya. Merunut ke masa penjajahan Belanda, saya teringat cerita almh tante saya tentang Geger Pecinan di Jakarta yang menyebabkan lebih dari sepuluh ribu orang Tionghoa dieksekusi di tempat umum sehingga sungai berwarna merah. Relasi antara masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat yang tadinya setara sebagai pedagang, ketika VOC masuk menjadi bergeser; dengan posisi Tionghoa sebagai rekan bisnis dan mendapatkan perlakuan istimewa ketimbang kebanyakan masyarakat setempat. Hal ini menyulut kebencian beratus tahun kemudian.

Dan itu tidak saja di Jakarta, sejarah mencatat begitu banyak etnis Tionghoa menjadi sasaran sentimen rasial yang dimanfaatkan kelompok tertentu, seperti Perang Jawa, kerusuhan di Solo, Kudus, Tangerang, Palembang, Makassar, Medan, Kalimantan dan pamungkasnya kerusuhan Mei 1998. (seperti dalam liputan Tirto.id : Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa oleh Arman Dhani tanggal 1 September 2016)

Membaca referensi sejarah kelam itu dan mengingat lagi komen netizen di postingan teman membuat saya berpikir panjang. Apa saya perlu menunggu negara turun tangan mengupayakan berkurangnya ujaran provokatif dan sentimen rasial ini? Paling dengan UU ITE yang masih meragukan saya dengan pasal karetnya. Sementara netizen di luar sana maupun pembenci di dunia nyata tak bisa serta merta dibungkam.

Yang mungkin dilakukan adalah ‘menyerang balik’. Dalam arti, berani bicara, berani bersuara, berani bersikap, berani berpendapat, berani menuliskannya, dan terus berkarya dengan semangat meredam kebencian itu dengan hal-hal yang lebih bernilai. Bukan hanya diam saja, seperti bungkamnya banyak keturunan Tionghoa bila sudah terpojok dengan kata-kata minoritas.

Mudah? Tentu tidak. Bahkan ketika saya mengajak untuk bersama-sama melanjutkan semangat toleransi, ada yang bicara, “Ya.. pokoknya tetap berjalan pada koridor, situ jangan mencampuri ajaran kepercayaan saya; saya juga ga ikut campur urusan situ. Itu baru bisa toleransi.”

Mendengarnya membuat saya hendak menyodorkan sepiring pecel. Dengan hanya isian kenikir dan mentimun saja, bahkan tanpa bumbu dan rempeyek. Agar ia bisa merasa betapa hambarnya berjalan sendiri, tanpa keinginan menjalin interaksi dan kerjasama dengan orang lain.

Sepiring pecel dengan isian sayur berbagai rupa dalam takaran yang pas, lalu disiram bumbu uleg dan ditaburi peyek, bak mensinergikan kelebihan kekurangan setiap manusia, tanpa mempermasalahkan siapa mayoritas minoritas di antaranya.


Referensi :


https://www.nytimes.com/1999/04/14/opinion/IHT-meanwhile-does-territoriality-drive-human-aggression.html


https://www.google.com/amp/s/m.antaranews.com/amp/berita/1148200/arkeolog-sebut-tidak-ada-pribumi-asli-indonesia


https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/sejarah-kebencian-terhadap-etnis-tionghoa-bFLp


https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/hilangnya-identitas-orang-tionghoa-akibat-asimilasi-paksa-el92