yukberbagi!


‘Harga’ sebuah karya 
31/12/2016, 4:12 am12
Filed under: Uncategorized

Semenjak Arsa, putra saya yg autistik memulai wirausaha dengan memproduksi karya jahit sulam untuk dimiliki para kolektor, saya semakin respek pada para pengrajin. 

Karena untuk sebuah karya yang dihasilkan, apalagi karya buatan tangan kerja keras dan proses berlangsung tak selalu mulus. Tergantung mood, kondisi fisik, bahkan cuaca. Cuaca? Apa hubungannya? Nanti ya..terus baca deh..

Bukan berarti yang made in pabrik ga ada kerja kerasnya ya..nanti ada yang pentung saya lagi. Hi..hi..

Ya..balik lagi ah. Karya tangan atau handmade memang menjadi langka sekaligus kembali populer akhir-akhir ini. 

Langka karena waktu produksi kalah bersaing efektif dengan karya mesin, yang bisa memproduksi masal. Populer karena karya tangan biasanya limited. Hanya satu atau dua saja. 

Seiring dengan wirausaha Arsa, saya pun berwirausaha. Tak jauh-jauh sih masih seputaran kain. Mulai dari lurik..lurik batik..batik grosiran..sampe batik yang kemudian ingin saya populerkan. Batik pewarna alam. 

Nah…yang terakhir saya sebut ini, memang perlu proses dan kerja keras. Saat saya keliling-keliling Jogja..kisah ttg proses dan kerja keras pengrajin sungguh menarik dicermati. 

Pewarnaan batik secara alami dengan daun..kulit pohon..buah..batang tanaman memang tak mudah, namun sehat dan ramah lingkungan. 

Beda takaran..warna berbeda. Beda jumlah celupan..beda kualitas warnanya. Apalagi saat penjemuran..beda intensitas cahaya matahari..warna batik bisa berbeda walau dengan takaran dan jenis pewarna yang sama. Cuaca mendung apalagi hujan terus menerus bisa menghambat proses. Walau saat ini..pengrajin batik tulis tak harus berpuasa sampai karyanya benar-benar selesai..tapi untuk menghasilkan karya yang indah..komitmen sungguh-sungguh berperan. 


Ada sih yang sudah menemukan solusi untuk pewarna alam yang tak mempermasalahkan cuaca, yaitu dengan membuat bahan-bahan alam itu jadi formula bubuk yang cepat kering . Tapi tetap saja tak bisa menghindar dari prosesnya yang kompleks, sehingga banyak pengrajin batik menyerah dan kembali ke pewarna sintetis yang paparannya malah bersifat karsinogenik

Apresiasi untuk kompleksitas proses karya-karya buatan tangan ini memang masih minim. Pertanyaan, ” kenapa mahal?” sungguh mematikan tanpa diikuti hal yang melatarbelakanginya..apalagi bila sudah dibandingkan dengan karya massal yang murah.

Karya-karya jahit sulam Arsa lebih rumit lagi. Ya..tentu karena Arsa autistik. Walau bagi individu autis mengerjakan sesuatu yang rutin justru menyenangkan baginya, mood tak bisa dipastikan selalu stabil. Kalau sedang tidak mood…mustahil memintanya melanjutkan karya tersebut. Spidol untuk menggambar di kain saja hilang, dia sudah kesal. Belum lagi kalau pemidangan rusak..benang habis saat belum selesai atau benang kusut…warna benang yang diinginkan tak ada…ibunya cerewet komen jahitannya.


Jadi…paham kan kenapa produk-produk handmade menjadi istimewa?Karena ia sungguh terlalu berharga untuk di’instan’ kan. 



​Dua perempuan 
16/12/2016, 4:12 pm12
Filed under: Uncategorized

Perempuan pertama. Cantik..imut..muda, berbekal notes kecil dan kamera mampir ke sekolah anak saya tadi. Dia bukan sarjana apa-apa, karena ayahanda memintanya untuk ‘kuliah’ pada bacaan-bacaan dan perjalanan. Sejak lulus SMA, ia mulai travelling ke berbagai pelosok negeri. Dituliskan dan didokumentasikan pengalaman berkenalan dan ‘berguru’ dengan banyak orang. Ayahanda memberi masukan sana sini. Sambil bersama-sama mempersiapkan kebun organik, area peternakan untuk bekal putri tercinta.
Pengalaman perjalanan ternyata membuatnya menjadi penulis yang cukup ‘menghasilkan’ bahkan cukup sering dikontrak untuk melakukan perjalanan. Kini saat ayahanda telah tiada, ia pun masih terus berjalan. Saat kembali ke rumahnya di pelosok Jawa Barat sana, ia membuat perpustakaan kecil dan kelas kerajinan (hsl yg ia pelajari) untuk anak-anak warga setempat. Impiannya satu..di areal rumahnya kini, akan ada jungle school tempat anak-anak belajar dari alam; seperti yg ia pelajari sepanjang perjalanan. 
Perempuan kedua. Ibu usia pensiun pengelola warung sederhana di dekat kota Jogja. Makanan yang dijual enak, bersih dan bergizi karena ia mantan staf gizi sebuah rumah sakit. Kakinya tampak mulai berat dibawa berjalan, tapi ia ramah kepada setiap pengunjung. 

Tadi saat kami membayar, ibu bertanya pada Arsa dan tak dijawab. Saya memberitahu bahwa Arsa autistik dan tak selalu menjawab saat ditanya. Tiba-tiba ia menepuk bahu saya dan bilang, “Sabar ya nduk..kuncinya ibu itu cuma sabar” Lalu mengalirlah cerita putri pertamanya. Saya sempat berasumsi  wah jangan-jangan autistik juga atau berkebutuhan khusus lain. Tebakan saya meleset. Sambil bergetar, ibu bertutur, “Anak saya itu dari kecil selalu yang terbaik, di sekolah..di mana-mana. Ga pernah buat susah..ga pernah buat repot. Bahkan pernah jadi paskibraka sampai ke Jakarta. Sampai dia kuliah. Suatu hari ia pergi kuliah dan tak pernah kembali. Sempat dirawat di Panti Rapih 5 hari tapi Tuhan lebih sayang padanya.” 

Saya diam dan tercekat. Sekali lagi ia menepuk bahu saya, “kuncinya sabar, nduk. Sabar!”
Terima kasih semesta. Saya bisa bertemu dua perempuan yang mengajarkan saya tentang impian dan kesabaran. 

Saya sungguh masih harus belajar! 

Good night universe.



Bu..jgn bilang mama saya ya…
01/12/2016, 4:12 pm12
Filed under: Uncategorized

Hari ini 1 Desember, dunia memperingati World Aids Day. Orang-orang mengkampanyekan untuk lebih peduli, lebih waspada dan berperan serta menekan penyebaran virus HIV yang belum ada obatnya itu. 

Reaksi dan respon masyarakat bisa bermacam-macam. Mulai dari melabel bahwa yang mudah tertular hanya para pelaku seks komersial atau para junkies (padahal ibu rumah tangga dan anak-anak juga banyak). Ada yang merasa perlu buat status awareness di sosial media.  Ada juga yang cuma merasa ini yah hari biasa saja. Atau malah termakan hoax tentang jarum suntik di bioskop sampai pisang disuntik darah bervirus HIV.

Soal hoax plus labeling tentang pelaku-pelaku yang  mudah tertular virus ini, sudah sejak dulu. Saat saya aktif mengajar dan menjadi fasilitator pendidikan kesehatan reproduksi untuk siswa SMA. 

Karenanya tiap tanggal hari ini, ada momen awareness di sekolah saya. Entah mengundang narasumber dokter atau aktivis peduli HIV/AIDS , bahkan mendengarkan testimoni ODHA (orang dengan HIV/AIDS). 

Apakah pengetahuan siswa dan guru bertambah terutama terhadap hoax ttg hal tersebut? Iya.

Apakah kesadaran untuk waspada penularan HIV/AIDS meningkat? Tentu. 

Apakah dengan demikian, perilaku seksual siswa atau coba-coba narkoba bisa dikendalikan? Bisa dalam arti mereka paham resiko penyakit menular seksual dan resiko penularan pemakaian jarum suntik bersama. Namun memastikan apakah siswa menjadi takut dan tidak aktif secara seksual lagi…saya tidak bisa menjamin.  

Lalu… orang-orang mulai bertanya untuk apa acara-acara kesehatan reproduksi atau peduli HIV/AIDS tanggal 1 Desember ini? Kalo ternyata tidak bisa menekan perilaku beresiko, terutama pada remaja.
Baiklah..saya cuma mau cerita apa yang terjadi di kelas saya dulu. 

Ketika kita bicara tentang penyakit menular seksual..tentang kehamilan..tentang alat kontrasepsi, saya biasa mengajak mereka studi kasus atau memperdebatkan sebuah opini. Seru?? Tentu saja. 

Ada siswa yang menanyakan apa boleh menyimpan kondom di dompetnya..sambil menunjukkan dompetnya ke saya. 

Ada siswa yang mengaku sudah intercourse tapi hanya dengan pacarnya saja. Waktu saya tanya sudah berapa kali pacaran, dan dia memberi tanda lewat jarinya, seluruh kelas tertawa. 

Ada debat-debat yang tak pernah selesai tentang aborsi, tentang siswa hamil melanjutkan sekolah, tentang pernikahan dini, tentang praktik prostitusi. 

Semua seru, semua mau cerita. Saya pun heran, kelas saya begitu menakjubkan sampai ditunggu-tunggu jadwalnya. Bahkan kalau ada guru mereka yang absen, saya diminta mengcover dengan pendidikan kespro ini. 

Saya ditanya kolega, kok bisa kelasnya seru dan terbuka. Saya jawab, mungkin..mungkin ya karena saya mau membuka diri untuk mereka. Saya jujur cerita proses persalinan saya dengan bahasa ilmiah. Saya cerita kasus-kasus kehamilan yang mungkin hanya mereka dapatkan dengan googling saja. 

Membuka diri bukan hanya bercerita apa saja. Tapi juga membuka diri untuk ditanya, “kalau ibu bagaimana?” Awal-awal sih..memerah muka saya. Tapi lama kelamaan saya bisa menanggapi dengan lebih santai. 

Saya hanya berpikir, kalau kita yang lebih dewasa tidak mau terbuka tentang kesehatan reproduksi yang sejatinya nanti menjadi pengalaman paling personal siswa, bagaimana mungkin mereka juga akan terbuka dan bebas berpendapat. 

Prinsip saya waktu itu..saya mau beritahu informasi yang mereka inginkan, asal mereka juga terbuka menceritakan permasalahan dan kegalauan mereka di masa remaja. Karena posisi saya dan siswa sama, diskusi menjadi enak. 

Seenak seorang remaja yang tahu-tahunya datang konseling untuk curhat kegalauan apa dia mungkin bisa tertular penyakit seksual karena ‘dijebak teman’ intercourse dengan psk di suatu tempat di luar pulau. Berkali-kali dia wanti-wanti,”Bu..jangan bilang-bilang mama saya ya..”

Atau anak perempuan yang tiba-tiba begitu polos bercerita dengan santai tentang bagaimana mereka ‘berpesta’ cumbu rayu, yang jujur buat saya cukup terkejut. 

Atau remaja laki-laki  yang lebih tua bertutur pengalaman bertualang di dunia hitam kelas bawah sambil takut terkena virus HIV. 

Kalau saya menjaga jarak, mana mungkin mereka mau datang sendiri lalu konseling untuk cerita kegalauannya. Akhirnya kalau ada yang tertular atau bagaimana, bukankah saya jadi ikut merasa bersalah. 

Keterbukaan informasi tentang resiko, tentang segala hal dalam kesehatan reproduksi menjadi penting. Plus harus sejalan dengan keterbukaan diri sebagai fasilitator atau sebagai orang dewasa, saat ingin menjadi tempat mereka bertanya dibanding internet atau pihak-pihak yang tidak jelas pertanggungjawabannya. 

Nah jadi paham maksud tulisan ini kan. 1 Desember – AIDS awareness day cuma momen. 

Yang lebih penting adalah..sudahkah kita jadi teman bagi para remaja yang sedang ingin tahu dan tahap coba-coba? 

Kalau belum…yuk mulai. Bekali diri dengan informasi kespro yang akurat, membuka diri, dan jadilah teman serta tempat bertanya bagi anak-anak kita. 

Selesai masalah remajanya..belum juga sih. Ya..minimal kita telah mulai berupaya. 



Saya (lebih) takut ‘manusia’
31/10/2016, 4:12 pm10
Filed under: Uncategorized

Di sini saya ga mo ulas soal agama. Pertanyaan saya juga kenapa ada acara Haloween? Apalagi sewaktu jadi koordinator OSIS, mau ga mau saya ikut dari bagian perayaan ini. 

Yang benci Amerika jelas ga bakal mau ikut. Tapi..tahu ga bahwa asal mula sejarah dirayakannya Haloween itu adalah tradisi bangsa Celtic 2000 tahun lalu (googling ya posisinya di mana). 

Bagi mereka 1 November merupakan tahun baru..usainya masa panen dan musim panas serta awal musim dingin. Nah bangsa Celtic percaya tgl 31 Oktober atau semalam sebelumnya batas antara dunia makhluk hidup dan mati menjadi tidak jelas termasuk di antaranya bangkitnya arwah-arwah orang yang sudah meninggal. Mereka merayakan dengan berkostum kepala hewan, duduk mengelilingi api unggun dan membakar jagung lalu orang yang dituakan akan membaca peruntungan masa depan. 

Nah sekilas info tadi menjelaskan asal muasal Halloween yang ternyata bukan Made in America. 

Halloween kemudian menjadi perayaan kekinian anak-anak muda di bernagai belahan dunia. Tak terkecuali di tempat saya mengajar dulu. Sebagai koordinator OSIS saya diminta untuk menscreening film dengan kriteria ketat..tidak ada penyiksaan atau berdarah-darah hebat. Jadi film besutan Quentin Tarantino dan sejenis takkan lolos sensor ini. 

Memang usulan dari siswa untuk beberapa judul film. Lalu mulailah proses screening itu. Dari takut, lalu tangan sibuk untuk skip adegan-adegan, lalu terkaget-kaget, lalu berakhir dengan ya kok akhirnya gini atau malah merasa tertohok waktu adegan ending Silent Hill yang sungguh tak terduga. 

Waktu itu sengaja siswa tak menscreening film horor Asia apalagi Indonesia (bukan jenis Nyi Blorong atau Ratu Pantai Selatan) , karena rata-rata merasa khawatir nanti makhluk-makhluk tak nyata di sekitar sekolah merasa ikut terpanggil…hiiiiii….asumsi apaan juga ya soal setan sekitar ikut nonton.

Nah…karena seringnya screening menscreening itu, saya sampai pada kesimpulan. Seremmm sih..saya pun pernah mengalami kejadian bulu kuduk berdiri. Tapi pengalaman-pengalaman yang saya tuturkan berikut jujur lebih menakutkan daripada film-film tersebut. 

  • Kelas 5 SD bersama ayah berlari-lari mencari tempat persembunyian saat tembakan sana sini yang bertujuan membubarkan konflik saat kampanye partai. Jujur saat itu pikiran anak-anak adalah kalau tahu-tahunya kita tertembak gimana? Such an unforgetable moment with my dad. 
  • Masa kuliah, saya sering bepergian naik bis umum. Tiba-tiba suatu sore saya dihampiri seorang pria 40an di halte untuk diajak dengan sinyal seksual (diculik menurut saya) pergi naik mobil..entah untuk diapakan. Berhasil menyelinap ke salah satu bis yang penuh sesak dengan jantung saya yang hampir copot..shock..gemeteran…apalagi melihat pria itu mengacungkan lengan tanda mengancam dari bawah bis
  • Pengalaman naik bis lainnya, saya duduk seorang diri senja hari bersama dua orang kriminal dalam bis (mereka baru naik di pintu tol usai menodong beberapa penumpang di bis dan terminal lain — kesimpulan dari percakapan mereka) . Perasaan saya..apapun bisa mereka lakukan kepada saya. Berharap cepat keluar dari jalan tol dan saya segera turun. Semesta masih melindungi saya.
  • Belum lagi.. suatu malam saya dan teman-teman diserang preman mabuk saat menunggu bis. Di mana teman pria sudah mulai diserang untuk dipukul, sebelum akhirnya diselamatkan penjual nasi goreng. 
  • Saat praktek kerja menjadi guru dan tawuran pelajar kerap terjadi. Beberapa kali berlarian di antara siswa yang membawa senjata yang sedang dikejar musuhnya. Pfiuhhhh. Atau malah berada di bis saat diserang sekelompok siswa yang lalu menghancurkan seluruh kaca bis. Saya dan teman2 hanya bisa tiarap sambil melindungi kepala. 
  • Atau hanya bisa duduk lalu menunduk terus di bis selama pelaku tawuran berpisau berlarian di bis mencari musuhnya. Rasanya..setiap saat saya bisa jadi sasaran salah tusukan. 
  • Saat Mei 1998, suasana layaknya perang. Melihat lewat kaca jendela asrama…kejar-kejaran aparat dengan masyarakat. Bunyi tembakan dan letusan sana sini, pemadaman listrik, menampung air, tidur dalam keadaan siaga…jadi rutinitas sehari-hari saat itu. 
  • Nah ini sudah jadi ibu. Suatu malam saya sendirian di rumah. Tiba-tiba ada pencuri hendak masuk lewat plafon. Ia sudah berupaya melubangi sedikit plafon untuk mengintip. Senjata saya hanya baygon untuk disemprotkan ke lubang dan gagang sapu untuk dipukulkan. Pokoknya nekad aja walau takut sekali. Akhirnya berhasil ‘mengusir’ pergi dengan semprotan-semprotan itu dan kepulangan suami. Begitu dicek bersama tetangga sebelah, ternyata di belakang rumah sudah ada tangga dan beberapa genteng yang dibuka. Astaga..nyaris rumah saya kecurian.

Nah..jujur saya bersyukur masih bisa bernafas dan menuliskan cerita ini setelah mengalami banyak kejadian. Perilaku manusia-manusia tersebut dalam cerita saya sungguh menakutkan  Entah dari merusak, memperdaya, melukai atau menghilangkan nyawa. Bahkan menurut saya bukan cuma menakut-nakuti seperti beberapa makhluk dalam film horor. Dan manusia-manusia ini bisa ada di sekitarmu, tampak olehmu, kadang bersikap baik kepadamu, atau malah berteman atau berinteraksi denganmu.

Jadi.. boleh dong kalau saya bilang..sebenarnya saya (lebih) takut dengan manusia. Isu-isu rusuh..ada orang rame-rame plus berita psikopat sungguh membuat saya tak nyaman. 

Saya sih percaya hukum karma. Kalau kita berbuat hal positif akan mengundang jodoh yang positif juga. Dan kalau karmanya memang belum waktunya untuk celaka/musibah..walau di tempat kejadian pun kita tidak apa-apa. Mudah2an semesta selalu melindungi saya. (Dan keluarga) 

*berdoa selalu untuk kedamaian di muka bumi ini* 



Wisata asik dan edukatif seputaran Jogja (latepost)

Bawa anak2 ga bisa wisata cuma buat bikin foto instagramik doang. Bisa bisa isi fotonya manyun semua karena ga ada yang dimainin…ga ada yang menarik minat mereka…ga ada yang bisa dikerjakan.

Saat sempat rehat dari aktivitas..keluarga kami survey buat pindahan sekaligus liburan di Jogja akhir bulan Juni 2016 kemarin. Maunya sih ikutan wisata ala ala AADC ituh. Tapi anak-anak bisa tantrum karena wisata itu lebih cocok untuk gaya-gayaan sama follower di instagram.

Akhirnya kami pilih-pilih tempat wisata. Yang pertama-tama Taman Pintar. Letaknya di tengah kota di jl Sultan Agung. (Pssttt..sayangnya bayar parkirnya dikenakan 10rb dan bukan di area wahana tersebut) 

Ini bukan pertama kali sih buat kami. Tapi karena baru berkunjung usai makan siang..waktu untuk eksplorasi terutama bagi si bungsu (dulu pertama kunjungan masih bayi) agak kurang.

Biaya tiket masuk (karena masing2 wahana punya tiket sendiri2) tergolong murah. Kami hanya milih gedung oval dan gedung kotak. Jadi uang yang dikeluarkan ga lebih dari selembar yang merah.

Area2 di dalam gedung oval dan gedung kotak masih seru..walau ada yang pindah lokasi… pindah letaknya dan ada yang baru.

Sayangnya (mungkin karena menjelang sore) banyak staf yang sudah tak siap untuk menjelaskan alat atau benda yang terpasang. Padahal anak2 sangat ingin tahu. Perlu diingat lho belum semua pengunjung anak bisa membaca penjelasan secara tertulis. Bila dinarasikan secata atraktif..tentu lebih menarik lagi.

Taman Pintar memang sungguh ‘pintar’ dalam memberi hak pada orang tua dan anak untuk memutuskan wahana yang dipilih sesuai bujet yang disiapkan dan sesuai kesukaan anak-anak. 

Sedikit catatan..hanya pada wahana dinosaurus dan 4D Cinema yang agak sedikit provokatif untuk menarik konsumen…menjelang keliling kita di gedung kotak berakhir; walau dengan tiket yang tak murah. 

Catatan tambahan dan oke untuk Taman Pintar adalah toilet yang bersih (walau berbayar) dan area makanan minuman cukup variatif dengan harga terjangkau. 
Tempat wisata selanjutnya adalah Kebun Binatang Gembiraloka. Ini dekat daerah Janti. Bayar parkir Rp 5000,- dan area parkir cukup luas dengan pedagang asongan yang sigap menawarkan topi..kacamata maupun cinderamata. Ga maksa kok mereka. 

Sepertinya kebun binatang ini terus berbenah diri, sejak kunjungan saya saat masih jadi anak sekolah dulu. 

Tiket yang cukup terjangkau, dengan catatan beli paket lebih murah. Lingkungan yang lebih hijau dan nyaman. Beberapa photobooth bersama hewan pun gratis..(kecuali naik gajah atau unta-yg kami sekeluarga pribadi tidak setuju dan tidak mau..itu pun elephant riding termurah menurut saya) . 

Bila lelah berjalan..belilah paket kereta kelinci..yang bisa turun naik sesuka kita di beberapa perhentian. Termasuk bersantai naik kapal di danau buatan. Atraksi hewan juga cukup menarik..dengan berbagai burung..linsang dan beruang. 

Kata petugas di sana sih..lebih baik kunjungan jangan di hari libur Nasional atau lebaran. Karena bukan kita yang mengamati hewan..tapi hewan yang mengamati kita saking banyaknya pengunjung yang hadir. 

Catatan kami mungkin untuk beberapa wahana penjelasan ttg hewan perlu diperbanyak, 

plus ketersediaan makanan untuk dibagikan cuma-cuma ke hewan, seperti rusa-rusa perlu disiapkan lebih baik lagi.  

Tapi keramahan petugas-petugasnya yang masih muda-muda dan enerjik patut diacungi jempol. Dan..kita bisa lho bawa bekal makan minum untuk ngemil atau penghilang haus. Asal diingat untuk ikut menjaga kebersihan atau tidak membuang makanan sembarangan ke kandang hewan ya..

Yang terakhir adalah Kids Fun Park di area Wonosari. Kesannya luar kota banget yah. Memang lebih jauh dari kedua tempat lainnya sih. Tapi dari area airport ini tidak terlalu jauh.

Areanya besar…mainan banyak. Tapi nggak boleh bawa makanan ya..diperiksa lho. Karena tersedia counter2 makanan dan harganya ga sampe menguras kantong kok. Kalau untuk makanan minuman bayi atau balita sih masih diperbolehkan ya. 

Area kids park terpilah-pilah dalam kategori usia tertentu. Ada yang untuk balita saja…anak2 serta remaja/dewasa. Tiket terusan tidak mencakup semua wahana permainan. Seperti gokart..atau flying fox. Tidak termasuk juga mainan yang menggunakan koin. 

Jadi kalau kita wisata ke sana dengan berbagai tingkatan usia..pilihlah dengan selektif yang mana yang mau kita nikmati..supaya semuanya senang. Di sini ada beberapa area ketangkasan..area untuk uji keberanian..area mengenal era2 pada kehidupan manusia termasuk budaya Indian..dunia para koboy..dinosaurus..dll..termasuk ada pertunjukan dan workshop2 juga. 

Untuk hal2 informatif sepertinya sih orang tua sendiri yang perlu menjelaskan tentang hal2 tersebut. 

Yang mengherankan..area kids park yang lumayan luas ini..operator permainannya terbatas banget. Padahal itu hari biasa. Sehingga ada beberapa kali operator harus berlarian ke sana ke mari untuk mengoperasikan wahana mainan sesuai keinginan pengunjung. Sayang ya…dan kasihan juga operatornya kewalahan lari sana sini. Tapi hebatnya mereka tetap ramah2 lho..biar lelah seperti itu. 

Dan yang menyenangkan..biar area terbuka… semuanya kids area dan semua non smoking. Para perokok diminta untuk merokok di area khusus saja. Ini patut diacungi jempol.

Setelah puas bermain di area kids park, baru kita bersantai-santai di water park nih.

Water parknya cukup bersih termasuk area shower dan kamar gantinya. 

Di sini ya water park jadi intinya main. Bukan belajar berenang ya. Karena semua kolamnya lebih asik untuk main air daripada berenang serius. 

Sayang area yang saya foto di atas..(ember besar yang tumpah) tidak dioperasikan sesering mungkin. Sehingga saat kami sudah mandi dan bersiap pulang, baru si ember siap-siap tumpah. 

Demikian sih pengalaman saya di tiga tempat wisata edukatif tadi yang kami nikmati akhir bulan Juni kemarin.  

Mudah-mudahan bermanfaat yaa. 

Buat cari lokasi..silakan google map atau waze nya dipergunakan. 



Determined ato kepala batu kah saya? 
26/08/2016, 4:12 pm08
Filed under: catatan saya, ngalamin sendiri | Tags: , , ,

Saya suka dibilang orang yang keras kepala. Suka susah patuh atau mengiyakan sebelum berargumentasi dulu. Tapi saya pikir..mungkin itu modal saya berani merantau ke mana-mana. Dan juga modal saya untuk tough hadapi keseharian bersama Arsa..putra sulung saya yang autistik, yang juga keras kepala..ga kalah sama saya. 😉

Tapi… sikap saya itu keras kepala apa teguh hati ya. Penasaran saya browsing. Dapetnya sih pertama gambar ini. 

Uhuk..langsung tertohok sih. Seberapa sering saya teguh pada pilihan saya tanpa ‘ngeyel’ dan bisa terbuka pada pendapat orang lain yang berbeda. 

Kalo lihat dari bahasannya Kris Smyth ttg berteguh hati atau determination.

Your path to success is always based on the determination that you have engrained within yourself. 

Determination aligns your energy and attention towards your focus.

Determination is not whether you’re a good or bad person, it’s about what you’re willing to do to achieve your end goal. 

Nah…sebenarnya bagus toh berteguh hati. Tapi terlalu berkhayal ahh.. kalau sikap saya sudah sepenuhnya mencerminkan sikap itu. 

Saya browsing lebih lanjut. 

Dan ternyata bahasan berikut dari Srinivasan Pillay CEO of NeuroBusiness Group dan award-winning author, bagus banget. 

Jadi beliau mengelompokkan determination ini dalam beberapa kelompok. 

  1. Uphill determination digambarinnya kayak seorg single mom yg mau tidak mau membagi dirinya utk karir dan pekerjaan rumah tangga. Atau seseorang yg udah cape banget tapi mau tidak mau harus menyelesaikan pekerjaan sehari2nya. Jadi keinginannya n niatnya sangat terfokus padahal hambatannya banyak banget. Keteguhan hati model gini bagus kalo lagi kehilangan inspirasi ato lagi perlu mengatasi hambatan yg tahu2nya muncul. Tapi…kata si penulis, jadikan sebagai generator saja..saat semangat kita mulai padam.
  2. Downhill determination digambarkan seperti orang yang baru mulai bisnis tapi mengambil peluang-peluang dengan resiko yang paling kecil atau jalan yang paling mudah. Akhirnya apapun yang dicapai tak pernah sesuai dengan apa yang menjadi targetnya. Ini orang yang berteguh hati untuk menghindari hal-hal beresiko…he2
  3. Coasting determination digambarkan seperti org yg menunda kesuksesan2 kecil..untuk mendapatkan prestasi yang lebih besar. Atau orang yang melakukan disiplin diri..lebih untuk menginspirasi org banyak daripada cuma dibilang pekerja keras. Jadi berteguh hati tercermin dalam sikap perilaku keseharian orang tersebut.

Katanya sih… setiap diri kita pasti akan ‘bermain2’ dengan ketiga keteguhan hati yang disebutkan itu meski poin yang ketiga yang terbaik jadi dasar sikap perilaku kita.

Nah..itu kan teorinya. Kalo saya sih kebanyakan yang pertama. Tiap hari sok tough aja…sambil merapal mantra “semua bisa beres…semua bisa dikerjakan”. Tapi kenyataannya, ga sesuai rencana..ngomel. Ada yang ganggu..bertengkar. 

Jadi..boro2 menginspirasi orang lain… (atau jangan2 ada yang sudah terinspirasi sama saya? )  ..inget omongan seorang kawan..”wuih..semuanya ibu kerjakan sendiri. Dampingin Arsa yg autistik..ada Dy yg masih balita..jadi istri dengan kerjaan domestik yg ga kelar2..masih nyuri2 waktu berbisnis online lagi… ibu tuh beneran super mom” 

Saat saya tersanjung..sebenarnya saya lagi draining..kyk uphill determination itu. Saat cuping hidung mengembang..sebenarnya mulut mau muntahin kata2 dan bilang…sebenarnya saya cape tauk. Mau Me time bisa feel guilty mulu… akhirnya ujung2nya kekeraskepalaan saya yang muncul. 

Mo komenin gw..siap2 senggol bacok. Ibarat kata tuh kayak gitu…kata org Betawi. 

Bener..ya kagak. 

Ga bener..ya itu pilihan saya saat itu. Walo saya ga pernah mo milih dilabelin super mom. 

Finally..kuncinya cuma satu. Saya ngejalaninnya gimana. Terlepas dari segala teori berteguh hati tadi ya. Saya pernah berkata dalam hati. Saya ga perlu jadi orang terkenal..tapi saya ingin apa yang saya lakukan..menginspirasi..mendorong..memberi semangat orang lain..untuk melakukan hal yang sama atau lebih dari saya malah. 

Tapi kira2 kalo saya cuma berkutat di keras kepala.. kira2 cita2 saya itu bisa kesampaian ga ya? 

*ngomong sama cermin* 

Sumber tulisan : 

How to Be Determined in 10 Ways

 http://m.huffpost.com/us/entry/552632



Smartphone for smart people??
07/08/2016, 4:12 pm08
Filed under: Uncategorized

Mau eksplor dunia..cukup punya kuota. Mau makan enak tapi ga mau keluar rumah..tinggal instal aplikasi.  Mau jualan hore2 bergembira…ga perlu punya toko. Tinggal klik sana sini..degdeg byar dagangan laku. Mau planning trip murah meriah..tinggal mata melototin screen, lusa langsung berangkat. Mau jadi model tapi ga sempet ke salon, tinggal klik aplikasi foto… jerawat ilang..flek ga keliatan.. muka pun tirus.

Sebegitu melesatnya teknologi untuk meringkas dunia hingga dalam genggaman saja.
Mau harga 6 ratus ribu sampe belasan juta, tergantung budget n fitur apa yang mau dipilih.

Sayangnya…teknologi dan terbukanya informasi.. tak berbanding lurus dengan keterbukaan pikiran dan kecerdasan seseorang.

Oh ya…apa teknologi tak bisa mencerdaskan seseorang?
Seperti ditulis Parja di blognya, yang mengutip pendapat Toynbee yang menyatakan bahwa Teknologi adalah sebuah manifestasi langsung dari bukti kecerdasan manusia.

Jadi… manusia yang cerdas akan menciptakan teknologi.
Tapi manusia yang menggunakan teknologi, belum tentu benar2 cerdas. Yg terakhir itu IMHO lho ya..

Sementara menurut artikel yg ditulis Dida Handayani Sasmita di blognya
Pengetahuan dan teknologi memungkinkan terjadinya perkembangan keterampilan dan kecerdasan manusia. Hal ini karena dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan
a. Tersedianya sarana dan prasarana penunjang kegiatan ilmiah
b.  Meningkatkannya kemakmuran materi dan kesehatan masyarakatnya.

Nah kalo ini… teknologi yang berpengaruh terhadap apa yang dilakukan manusia2 dalam mengembangkan diri dan menjadi cerdas.

Lah..terus kok bisa ga selaras kalo udah ngomongin sosial media.
Yah..gini deh.. hp boleh smartphone super duper canggih..tapi :
– kerjaannya posting n share berita hoax tiap hari. Ya..mau ngetop karena jadi tukang share hoax? Saya sih kaga
– kerjaannya mempermalukan diri sendiri atau orang lain.
Banyak jalan jadi ngetop..tapi ya ngga harus ngelepasin urat malu juga sih
– kerjaannya cuma provokasi..fitnah sono sini..padahal juga ga gitu ngerti sama apa yang diposting. Nah sekali dilaporin pencemaran nama baik…nangis2 minta ampun atau ngakunya di-hack

Kata temen saya..ga usah ngurusin deh apa yang orang mau lakukan dengan media sosialnya. Karena katanya…banyak juga yang hanya menemukan jati dirinya di media sosial padahal sehari-harinya super lonely person.
Denger gitu….ya (maaf kalo saya nge-judge)…ga heran menjadi smart bukan pilihan mereka.

*saya jd berusaha memahami*
Smartphone not (only) for smart people. But for anyone who can buy.