yukberbagi!


1001 Alasan Markonah bersiar kabar

WhatsApp grup kampung kami tiba-tiba riuh tak henti-henti. Sejak Markonah, yang dikenal terdepan mengunggah berita; mengeposkan tadi pagi.

[Berita duka cita : Innalillahi wainna ilaihi rajiun..Bapak Mrono meninggal semalam. Ga boleh dibawa pulang, langsung dikubur. Katanya covid.]

Beberapa ibu menanggapi dengan sedih dan menyatakan simpati. Beberapa ibu lain mempertanyakan kebenaran covid atau tidak? Beberapa lagi mengekspresikan ketakutan. Takut kalau sebelumnya Pak Mrono sudah menularkan ke orang lain.
Lalu mereka berdebat, ada yang menyarankan untuk menunggu visum rumah sakit tapi ada yang mendesak Markonah untuk membuktikan postingannya. Markonah tak bergeming.

Keesokan paginya, WhatsApp grup riuh lagi. Karena Markonah mengeposkan seperti ini.

[Saya, Markonah mohon maaf sebesar-besarnya pada keluarga dan kerabat alm Pak Mrono. Menurut rumah sakit, Pak Mrono meninggal karena serangan jantung akibat kelelahan kurang tidur bermalam-malam menunggui istrinya yang sakit. Alm langsung dimakamkan mengingat istrinya sedang sakit dan anak-anaknya tak bisa pulang karena lokdon di mana-mana. Abaikan postingan saya kemarin tentang pak Mrono positif covid]

Dan, semua anggota WhatsApp grup menjadi marah kepada Markonah. Berbagai umpatan dari halus sampai kasar tumpah semua. Mereka terlupa. Yang sepatutnya marah adalah Sepia, istri Pak Mrono bila satu hari nanti membaca percakapan tentang penyebab meninggalnya almarhum.

Sensasional atau mengejutkan sepertinya kunci agar pesan kita menarik lalu dibaca.
Dalam konferensi ‘Fakta Global 7’ edisi tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Jaringan Pemeriksa Fakta Internasional, Edwin Tallam, kandidat PhD, Universitas Moi menyebutkan bahwa “hubungan yang erat” menjadi penentu dipercayanya sebuah postingan di WhatsApp; meski postingan itu belum tentu benar. Setiap kali pesan datang dan penerima pesan mempercayai pengirimnya, pesan akan dianggap lebih dapat dipercaya.

Mengomentari studi Edwin tersebut Dimitra Dimitrakopoulou, asisten profesor tamu, Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengatakan bahwa cepatnya penyebaran berita pada postingan WhatsApp menunjukkan bahwa orang lebih percaya satu sama lain daripada mereka mempercayai media dan institusi sosial lainnya.

Lalu bagaimana dengan fenomena hoaks pada WhatsApp grup keluarga?
Sejak fitur WhatsApp grup diluncurkan oleh aplikasi tersebut tahun 2011, lalu mulai banyak digunakan di Indonesia pada tahun-tahun berikutnya, pilihan mengobrol beramai-ramai ini menjadi platform yang cukup diminati. Termasuk untuk menjalin komunikasi bila anggota keluarga banyak yang merantau dan berjauhan tempat tinggal.

Dari sekian banyak grup, mungkin WhatsApp Grup keluarga yang menjadi tricky dan menantang untuk anak-anak muda millenial. Terutama saat orang-orang yang lebih tua di grup menyampaikan pendapat atau membagikan berita yang provokatif. Sebut saja saat pilpres atau pilkada yang baru saja berlalu. Ketika para calon malah berkompetisi dalam diam karena tak boleh ada kampanye terbuka; perseteruan malah terjadi di WhatsApp grup keluarga meski para pendukung tak langsung saling mengenal calon yang maju.

Tak hanya isu politik. Isu kesehatan pun banyak dijadikan bahan hoaks yang menarik. Seperti ilustrasi di awal tulisan, covid-19 menjadi topik hits selama tahun 2020. Sampai Agustus saja, Kemkominfo menyatakan melalui laman resminya telah menjaring ratusan hoaks maupun disinformasi terkait covid-19 melalui AIS yang merupakan sensor pengais konten negatif di media sosial dan situs. Disinformasi yang dimaksud adalah sejak awal informasi tersebut sudah direkayasa sedemikian rupa dan tak mengandung kebenaran sama sekali.

Hoaks yang terjaring mesin AIS terkait informasi Covid-19 di era pandemik ini memunculkan istilah baru yang menurut Kemkominfo disebut sebagai disinfodemic. Diartikan sebagai kondisi di mana terjadi disinformasi tentang pandemik ini namun terus disebarluaskan; dimana WhatsApp grup keluarga sebagai penyumbang terbesar tersebarnya hal tersebut.

Tantangan yang lalu muncul menjadi dilematis. Orang-orang dalam WhatsApp grup keluarga biasanya adalah Ayah, Ibu, Om, Tante, Kakek, Nenek, Sepupu, Ipar, Keponakan di mana kita menjadi gamang dan segan bagaimana menegur mereka-mereka yang lebih tua; yang secara kodrat patut dihormati.

Tapi… tentu saya tidak akan memberi tips untuk menyerang balik para kerabat yang mungkin kerap dan tanpa sadar senang menyebar hoaks tersebut. Saya malah akan mengulas alasan mengapa seseorang seperti Markonah mengunggah sebuah disinformasi atau misinformasi.

Josh Stearns, pernah menulis sebuah artikel menarik di situs First Draft tahun 2016 tentang alasan-alasan di baliknya.

  1. Keinginan untuk membantu
    Saat tahu-tahunya menyaksikan atau mendengar insiden atau tragedi, banyak orang tergerak ingin membantu. Mereka ingin memberi tahu apa yang sedang terjadi, menyampaikan informasi penting terkait, serta berbagi foto dramatis. Tidak salah dan sebenarnya sungguh bermaksud baik. Sayangnya, bila yang tersebar adalah disinformasi maupun misinformasi, yang mungkin terjadi adalah menambah kekacauan informasi sebenarnya. Karena tergesa-gesa berbagi tanpa melakukan verifikasi keabsahan informasi bisa sangat merugikan daripada membantu. Di beberapa kasus, perilaku ini malah mendorong orang yang berkarakter buruk untuk mengeruk uang dengan melakukan penggalangan dana dari menjual rasa kasihan dan simpati.
  2. Keinginan memahami dunia
    Saya terkejut membaca alasan kedua ini. Sepertinya keren sekali keinginannya. Namun mulai sedikit paham ketika membaca penjelasan Craig Silverman dalam penelitian tentang penyebaran informasi yang salah, bahwa rumor, gosip, isu atau hoaks hanyalah cerita, dan cerita adalah mesin, seperti media atau alat; yang melaluinya kita jadi seolah memahami dunia.
    Kata Craig lagi, seringkali orang-orang dengan cepat berbagi rumor selama berita terbaru karena rumor tersebut memberi mereka sesuatu untuk dijadikan pegangan, mengkonfirmasi beberapa cerita dalam pikiran mereka, atau beresonansi dengan pandangan mereka tentang dunia.
    Mengapa berita terbaru asik untuk dijadikan rumor, isu atau hoaks? Karena dalam berita terbaru lebih banyak hal-hal yang menjadi misteri, banyak hal tidak diketahui daripada diketahui.
  3. Keinginan untuk merasa menjadi bagian dari pengalaman bersama.
    Mungkin ini yang terjadi pada kasus Markonah. Craig mengungkapkan, dalam menghadapi ketidakpastian, kesedihan, dan ketakutan saat adanya insiden, krisis dan bencana, tidak mengherankan jika orang mencari koneksi. Mencari keterkaitan satu hal dengan yang lain.
    Kini yang tercepat adalah secara online. Diilustrasikan Craig; orang-orang pun tak sadar berkumpul dalam kerumunan digital di sekitar tagar dan streaming langsung sebuah kejadian.
    Mereka seperti tertarik untuk menjadi bagian dari momen bersama ini, untuk melihat rasa sakit mereka sebagai efek insiden, krisis atau bencana tersebut. Dan kemudian merefleksikan kembali dengan mereka menyebarkan berita tersebut.
    Pada saat-saat seperti itu, berbagi berita bisa terasa seperti tindakan empati. Walau berita, foto, videonya sudah disinformasi. Pada kasus Markonah, memang bukan disinformasi. Karena info tentang pak Mrono meninggal benar adanya, namun penyebabnya yang keliru. Hal ini lebih dikenal sebagai misinformasi. Berita memiliki unsur kebenarannya tapi lalu dirombak. Nah ketika misinformasi menyebar, informasi itu dibagikan Markonah lebih untuk menguatkan seberapa urgen pesan yang dikirim dan bagaimana hubungan baik yang (seolah) dibangun Markonah dengan keluarga alm pak Mrono yang telah dibuatnya. Dalam hal ini, bagi Markonah sebagai orang yang berbagi berita, berita itu tidak perlu benar, tapi hanya perlu merasa “benar”. Kasus Markonah ini akan lebih jelas saat kita melihat alasan selanjutnya.
  4. Emotional network versus Information network
    Dalam penelitiannya, Craig mewawancarai Kenyatta Cheese terkait cuitannya di twitter usai serangan Paris November 2015. Cheese menuturkan mengapa banyak sekali kekeliruan informasi saat itu. “Mungkin yang ingin dibagikan orang bukanlah informasi tetapi pemicu emosionalnya. Dalam konteks sosial ini yang terjadi bukan lagi jaringan informasi tetapi jaringan emosional.”
    Seperti pada kasus Markonah.
    Ketika berita duka yang dibuat Markonah beredar di WhatsApp grup, jaringan yang menghubungkan seluruh anggota grup menjadi percampuran antara informasi dan juga emosi.
    Dan emosi itu justru malah mendorong berbagi dengan cara yang makin mempersulit pencarian kebenaran, di saat adanya insiden, tragedi, krisis atau bencana; karena akal sehat seolah terlupakan.
    Craig mengungkapkan Cheese menulis lebih lanjut di blognya, “Ketika orang membagikan informasi yang salah, mereka lebih tertarik pada emosi yang akan ditimbulkan oleh informasi tersebut.”
    Menjadi tantangan kemudian, ketika orang-orang hanya benar-benar tergantung pada berita di media sosial mengingat dalam situasi krisis, kedukaan atau bencana di mana kecepatan penyampaian informasi akurat diperlukan segera; apa yang dibagi (melibatkan emosi) dan apa fakta yang ingin diketahui menjadi bisa berlawanan dan malah menjadi sangat berbahaya.
    Bayangkanlah kasus Markonah. Bila ibu-ibu segrup sebenarnya ingin tahu fakta penyebab meninggalnya pak Mrono, namun sudah ketakutan terlebih dulu bahwa salah satu dari mereka mungkin tertular; atau lebih ekstrem lagi malah menjauhi bu Sepia yang diasumsikan juga sudah tertular; tapi misinformasi tersebut terus tersebar luas, tentu akan terjadi kekacauan dan syak wasangka satu sama lain.Dan semua kekacauan itu bermula dari satu postingan saja.

Apakah kita akan menggunakan 1001 alasan Markonah untuk terdepan bersiar kabar? Atau kita tipe saring sebelum sharing? Atau kita malah penikmat kekacauan atau oportunis pengeruk duit akibat disinformasi atau misinformasi?
Yuk gunakan jari dengan bijak.

Jadilah orang yang asik tanpa asal nge-klik.

Referensi :
https://www.google.com/amp/s/www.thequint.com/amp/story/news/webqoof/why-do-people-believe-in-fake-news-even-after-reading-fact-checks

https://www.google.com/amp/s/beritadiy.pikiran-rakyat.com/nasional/amp/pr-70649408/hoax-menyebar-di-grup-wa-keluarga-kenali-disinfodemic-dan-cara-penanganannya

Why do people share rumours and misinformation in breaking news?



Anak-anak semesta

#toleransi

Kejadian ini setahun lalu. Sebenarnya saya ragu-ragu untuk menceritakannya. Karena persepsi orang mungkin saja tak sepakat dengan saya dan suami; tentang hubungan manusia dan Tuhannya.
Tapi…bagi saya sendiri, tiap mengingat cerita itu; hati saya menghangat.

Saat itu kelas TK anak saya yang bungsu sedang mengadakan kemping akhir tahun. Salah satu mata acaranya adalah mancakrida. Si bungsu, sebut saja namanya Dyat sudah bersemangat sejak awal.

Sementara anak-anak lain, ada yang menangis atau teriak-teriak, karena takut ketinggian, atau takut karena tidak didampingi orang tua saat bergelayut di tali temali itu. Dyat tidak demikian. Dengan penuh semangat, ia melalui satu persatu rintangan, hingga terakhir di flying fox. Flying fox pertama berjarak dekat, dan ia berani meluncur sendiri, sementara beberapa temannya memilih tandem untuk berbagi kecemasan.

Usai flying fox berjarak dekat itu, Dyat seperti juga beberapa teman yang berani, ditawarkan tantangan meluncur di jarak yang lebih jauh. Awalnya Dyat ragu-ragu, apalagi berat badannya tidak memenuhi persyaratan; kecuali tandem dengan salah satu temannya.

Melihat Dyat ingin sekali mencoba, saya spontan berkeliling mencari temannya; yang mungkin mau tandem dengannya. Akhirnya ada Alva, yang meski usianya lebih muda tapi berbadan lebih besar dari Dyat. Mereka pun sepakat untuk tandem.

Sebelum mendapat giliran, usai dipasang tali melintang di badan tampak mereka berbelok ke arah aula. Oh, mungkin ke toilet dulu, pikir saya. Saya berusaha menjaga jarak, agar Dyat tak terpengaruh kehadiran saya.

Ternyata, mereka tidak ke toilet, melainkan menuju mushola. Dengan rasa ingin tahu, saya mengendap-endap lalu mengintip dari belakang pintu. Rupanya mereka sedang mengobrol.
“Sebelum meluncur, kita doa dulu ya Dyat. Biar ga takut!” Suara Alva yang terdengar pertama kali.
“Ok, mari kita berdoa. Tapi bagaimana?” ujar Dyat pelan.
“Begini, karena kamu lebih tua…kamu yang mimpin di depan.” Alva mendorong Dyat agar maju ke depan.
“Ya…tapi aku ga tau caranya. Aku sembahyang ga gini.” Dyat tampak bingung, tapi tetap maju ke bagian depan.
“Nanti kucontohin…ya..ya..” Alva meyakinkan Dyat.
Di balik pintu, saya menahan nafas, agar tak berkomentar dan lalu mengganggu mereka.

Tampak Alva bersimpuh sholat, Dyat menoleh ke belakang lalu menirukannya.
Saat Alva memulai doa, Dyat berusaha mencontoh walau tak sama persis.
Begitu pun saat Alva bangun, berlutut, bersimpuh, maupun menangkupkan tangan ke wajah, Dyat mengikuti dengan badan setengah menoleh ke belakang.
Yang lalu jelas terdengar adalah ketika mereka berseru, “Aminnnnn….”
Alva dan Dyat pun bersalaman dan berpelukan.
Sambil berjalan keluar, keduanya berujar bersama, “Kita ga takut lagi ya…” dengan kepala terangguk-angguk, saling setuju.

Saya cepat-cepat sembunyi agar tak ketahuan mengintip sejak tadi. Ada rasa yang tak bisa tergambarkan. Saya hanya bersyukur untuk tidak bereaksi berlebihan melihat kejadian itu; dengan berprasangka Dyat mau diajak pindah agama misalnya. Tentu momen berdoa bersama mereka akan hilang.

Justru saya merasa hati saya menghangat.
Dyat dan keluarga kami adalah umat Buddha. Alva berasal dari keluarga dengan bapak Muslim dan ibu Kristiani. Melihat Alva mengajak Dyat berdoa, dengan cara agamanya; menunjukkan kepolosan anak-anak tentang bagaimana mengatasi rasa takut dengan berdoa. Tentu tidak ada niat apapun yang mungkin hanya terpikir oleh orang dewasa.

Saya sungguh belajar hari itu.
Belajar kepada anak-anak, bahwa kemurnian hati mereka sejatinya sungguh indah seperti semesta. Berteman, bergaul, berdoa, sejatinya tanpa berpikir kamu berbeda denganku, aku lebih tinggi kamu lebih rendah.
Hanya kita orang dewasa, yang kerap disadari maupun tidak ‘mengotori’ kemurnian itu.



Toleransi dalam sepiring pecel
02/12/2020, 4:12 am12
Filed under: catatan saya, tentang toleransi

Pernahkah diet dengan sayur rebus tanpa seasoning apapun? Saya pernah dan sungguh tak menikmati, bila saja tak membayangkan tumpukan lemak saat dulu hamil akan berkurang atau timbangan tak bergerak lagi ke kanan.

Bagaimana tidak? Sejatinya saya penikmat gado-gado, lotek, pecel, urap, karedok dan teman-temannya yang sungguh khas Indonesia. Penganan sayuran yang murah, mudah ditemukan, sehat karena direbus, creamy dan tasty. Isi sayur, bumbu siram, taburan kelapa tergantung selera. Harga mulai dua ribu sampai duapuluh ribu tergantung siapa penjualnya.

Kalau gado-gado Jakarta ada yang pakai bumbu kacang mete sementara gado-gado Jawa Timur tidak diulek tapi disiram. Kalau lotek di Yogyakarta, biasa beraroma kencur dan disertai mi goreng atau gorengan bakwan. Sementara pecel, kemanisan siraman bumbu ulegnya bekisar dari manis ke pedas tergantung asal daerah pembuatnya.


Eh…jadi berliur saya membayangkannya. Namun, akankah saya tetiba menjadi food blogger membahas makanan itu? Tidak juga. Saat menulis ini, saya baru usai makan pecel buatan sendiri. Seusai juga membaca sliweran berita di lini masa media sosial saya.

Sejak hari Toleransi Internasional 16 November lalu, kita kembali disadarkan bahwa isu intoleransi di sekitar kita masih begitu rapuhnya. Serapuh pernyataan netizen berikut yang muncul di komen teman saya saat menuliskan pengalaman sebagai etnis Tionghoa di Indonesia.
Menurut saya, sebagai minoritas seharusnya kalian tak usah protes tak usah banyak bicara. Karena ya sebagai minoritas seharusnya memang begitu. … yang namanya minoritas harusnya mengalah, diam, tak banyak protes. Karena memang bukan nenek moyang kalian yang punya wilayah ini. Seharusnya sudah bersyukur bisa hidup aman dan mencari uang di wilayah ini dengan bebas. Walaupun dengan gangguan sedikit di sana sini. Itulah resikonya sebagai minoritas. Kalo misalnya tidak suka, ya tahu dirilah.

Lalu rekan-rekan yang sangat toleran menjadi panas menanggapi ujaran yang bisa menyulut kebencian itu. Saya sendiri jujur tidak langsung bisa berkata apa-apa. Terlalu sering saya mendapatkan komen semacam yang intinya, “ga usah banyak ngomong.”, karena kamu minoritas.

Membungkam dengan kata-kata kamu minoritas memang terasa pedas bagai adonan bumbu pecel dengan lima cabe di piring saya. Komen netizen tersebut seolah membenarkan teori hukum alam untuk diberlakukan pada interaksi sosial manusia. Yang kuat, yang banyak itu yang berkuasa. Yang bernenek moyang di tempat tersebut, adalah yang boleh bicara.

Narasi semacam ini tak satu dua saja bisa kita temui. Merasa berkuasa terhadap sebuah daerah atau teritorial bahkan banyak diungkapkan sejak kecil. Coba lihat percakapan, “Anak mana lo? Anak baru ya? Jangan macem-macem lo!” Sikap yang tentu melibatkan agresi yang awalnya verbal lalu mengarah pada fisik.

Sebuah artikel di New York Times tahun 1999 yang ditulis oleh Steven Levingston, International Herald Tribune mengangkat tentang hal ini sebagai tanggapan apa yang terjadi di Kosovo saat itu. Steven mengungkapkan teori antropolog Robert Ardrey yang kontroversial, “the territorial instincts of animals apply equally to man.”

Dalam tulisan Steven, teori Ardrey itu secara sederhana ingin mengungkapkan bahwa manusia, seperti halnya hewan didorong naluri memiliki dan mempertahankan wilayah yang mereka yakini sebagai milik mereka secara eksklusif.

Jadi tak heran kemudian muncul istilah pribumi, penduduk asli dan pendatang. Yang mana pribumi seolah memiliki hak lebih dibanding kaum pendatang. Padahal bila mau mencari tahu, adakah yang benar-benar pribumi, asli Indonesia sejak puluhan ribu tahun lalu?

Dalam liputan Antaranews tentang diskusi Jejak Manusia Nusantara dan Peninggalannya yang diadakan oleh Historia.id di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Selasa 5 November 2019, arkeolog Harry Widianto mengemukakan nenek moyang Indonesia berdasarkan genetis sendiri, berasal dari beberapa gelombang migrasi yang dimulai ketika manusia modern atau Homo sapiens keluar dari benua Afrika sekitar 150.000 tahun lalu.

“Tidak ada yang bisa disebut sebagai pribumi asli di Nusantara, karena berdasarkan genetika sendiri ras di Indonesia sudah bercampur meski berasal dari pohon evolusi yang sama dan berasal dari Afrika,” kata Harry lagi. Yang bermigrasi dari Afrika lalu menetap di Papua dan Halmahera disebut ras Melanesia. Yang bermigrasi dari Taiwan; yang lalu ditelusuri ternyata dari Cina untuk menetap di Indonesia Barat kebanyakan tampak seperti subras Mongoloid. Sementara di area Nusa Tenggara Barat dan Timur, terjadi pencampuran ras keduanya.

Jadi sebenarnya tidak ada yang disebut penduduk asli atau bernenek moyang di wilayah Indonesia. Lalu mengapa ujaran yang memprovokasi hal tersebut terus ada? Apalagi terkait dengan keturunan Tionghoa di Indonesia, yang terus dianggap pendatang. Mereka tak mau peduli bila saya angkat bicara kakek saya sudah duapuluh generasi tinggal beranak pinak di Indonesia.

Tirto.id pernah memuat beberapa liputan tentang hal ini. Salah satunya mengungkapkan penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat. Kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto.
Saat Orde Baru, Soeharto memaksa masyarakat Tionghoa melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi, termasuk dengan adanya pemberlakuan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) untuk mengurus pembuatan KTP dan paspor, nama tiga huruf yang di-Indonesiakan agar tak menimbulkan sentimen termasuk pemberian tanda atau nomor khusus keturunan Tionghoa pada KTP. Saya dan kakak sendiri, mau tidak mau suka tidak suka tercantum selamanya sebagai anak luar nikah pada akte kelahiran, demi kemudahan segala administrasi di kemudian hari.

Masa-masa tersebut sungguh merupakan fase tidak percaya diri dan keraguan identitas. Saya etnis Tionghoa, yang teridentifikasi sebagai bukan pribumi. Tapi juga tidak ‘termasuk’ etnis Tionghoa yang katanya menikmati berbagai fasilitas investasi hingga menjadi kaya. Sehingga saat terjadi kerusuhan, ada generalisasi bahwa sebuah kewajaran bila menargetkan semua etnis Tionghoa sebagai sasaran kebencian. Bahkan sahabat saya kesulitan mendaftarkan kuliah di universitas negeri karena namanya masih tiga huruf Cina.

Sentimen rasial ini ternyata sudah begitu tuanya. Merunut ke masa penjajahan Belanda, saya teringat cerita almh tante saya tentang Geger Pecinan di Jakarta yang menyebabkan lebih dari sepuluh ribu orang Tionghoa dieksekusi di tempat umum sehingga sungai berwarna merah. Relasi antara masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat yang tadinya setara sebagai pedagang, ketika VOC masuk menjadi bergeser; dengan posisi Tionghoa sebagai rekan bisnis dan mendapatkan perlakuan istimewa ketimbang kebanyakan masyarakat setempat. Hal ini menyulut kebencian beratus tahun kemudian.

Dan itu tidak saja di Jakarta, sejarah mencatat begitu banyak etnis Tionghoa menjadi sasaran sentimen rasial yang dimanfaatkan kelompok tertentu, seperti Perang Jawa, kerusuhan di Solo, Kudus, Tangerang, Palembang, Makassar, Medan, Kalimantan dan pamungkasnya kerusuhan Mei 1998. (seperti dalam liputan Tirto.id : Sejarah Kebencian Terhadap Etnis Tionghoa oleh Arman Dhani tanggal 1 September 2016)

Membaca referensi sejarah kelam itu dan mengingat lagi komen netizen di postingan teman membuat saya berpikir panjang. Apa saya perlu menunggu negara turun tangan mengupayakan berkurangnya ujaran provokatif dan sentimen rasial ini? Paling dengan UU ITE yang masih meragukan saya dengan pasal karetnya. Sementara netizen di luar sana maupun pembenci di dunia nyata tak bisa serta merta dibungkam.

Yang mungkin dilakukan adalah ‘menyerang balik’. Dalam arti, berani bicara, berani bersuara, berani bersikap, berani berpendapat, berani menuliskannya, dan terus berkarya dengan semangat meredam kebencian itu dengan hal-hal yang lebih bernilai. Bukan hanya diam saja, seperti bungkamnya banyak keturunan Tionghoa bila sudah terpojok dengan kata-kata minoritas.

Mudah? Tentu tidak. Bahkan ketika saya mengajak untuk bersama-sama melanjutkan semangat toleransi, ada yang bicara, “Ya.. pokoknya tetap berjalan pada koridor, situ jangan mencampuri ajaran kepercayaan saya; saya juga ga ikut campur urusan situ. Itu baru bisa toleransi.”

Mendengarnya membuat saya hendak menyodorkan sepiring pecel. Dengan hanya isian kenikir dan mentimun saja, bahkan tanpa bumbu dan rempeyek. Agar ia bisa merasa betapa hambarnya berjalan sendiri, tanpa keinginan menjalin interaksi dan kerjasama dengan orang lain.

Sepiring pecel dengan isian sayur berbagai rupa dalam takaran yang pas, lalu disiram bumbu uleg dan ditaburi peyek, bak mensinergikan kelebihan kekurangan setiap manusia, tanpa mempermasalahkan siapa mayoritas minoritas di antaranya.


Referensi :


https://www.nytimes.com/1999/04/14/opinion/IHT-meanwhile-does-territoriality-drive-human-aggression.html


https://www.google.com/amp/s/m.antaranews.com/amp/berita/1148200/arkeolog-sebut-tidak-ada-pribumi-asli-indonesia


https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/sejarah-kebencian-terhadap-etnis-tionghoa-bFLp


https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/hilangnya-identitas-orang-tionghoa-akibat-asimilasi-paksa-el92



Age is only number : ketika nekad apply beasiswa
20/11/2020, 4:12 am11
Filed under: Uncategorized



Suatu waktu mengulas film
20/11/2020, 4:12 am11
Filed under: Uncategorized