yukberbagi!


‘Menaklukkan’ diri dengan menari
11/02/2017, 4:12 pm02
Filed under: Uncategorized

Saya tipe orang yang ga sabaran menunggu. He2..tapi herannya banyak yang bilang saya penyabar (sama Arsa abegeh autistik saya sih mau ga mau deh sering nyetok kesabaran).

Jangankan dikejar deadline kerjaan..orang serumah belum siap saat mau berangkat sekolah/kerja..saya bisa senewen dan panik.

Maunya cepat..maunya bergegas. Maunya sih untuk selalu on time. Tapi pikir-pikir..sikap itu lebih karena saya malu. Malu untuk diliatin sebagai orang yang ga tepat waktu. Bukan karena karakter saya yang sungguh2 disiplin. 

Lhadalah.. anugerah hidup saya ya si autistik Arsa. Yang punya jam dan ritme sendiri. Yang ga bisa diburu-buru. Yang sangat prepare cuma kalau mau jalan-jalan/bepergian naik pesawat atau kereta api. 

Pfiuhhh.. pasrah deh setiap pagi ‘memburu’ semuanya terutama Arsa biar cepat. Belum kalau adiknya yang masih usia balita tiba2 drama. Yah..makin lama aja kitah. 

Lah..kok saya jadi curcol tentang anak-anak. Ini tentang saya. Si overactive mind (yang bikin saya suka susah tidur karena pikiran masih berkelana ke mana-mana) dan si supermultitasking person. Sekali ngapain..nyambinya banyak. Suka merasa bersalah kalau sehari aja ga ngapa2in. Kecuali saya lagi beneran terkapar. 

Dulu saya pikir karena saya tumbuh dan besar di Jakarta. Semua harus serba cepat. Tapi saat saya pindah ke yang kata orang lebih slow seperti Denpasar…sikap itu terus kebawa. Begitupun saat ini di Jogja yang kata orang lebih slow lagi..saya tetap aja ga sabaran. (Untung suami saya sabar hadapin saya..eeaaaa)

Finally saya berpikir. Kok gini caranya saya menghargai hidup? Akhirnya saya memberanikan diri berlatih tarian klasik Jogjakarta di sebuah sanggar. Selain ingin menantang diri..anggap aja ini me time dan waktunya berolahraga. 

Ternyata..walau saya sudah berlenggak lenggok dari kelas 2 SD.. tak semudah itu saya menguasai gerak gerik tari Jogja klasik. Postur tubuh masih terbawa agem tarian sebelumnya…sampe sering ditegur. Pinggulnya jgn ndoyok kayak tari Bali..mbak. Hal yang lucu sebenarnya..karena sepanjang sejarah saya di tari..saya tak pernah benar2 mendalami tari Bali. Betawi iya. Hampir 8 tahun kurang lebih mendalaminya plus jam terbang manggung yang lumayan banyak.

Mungkin kalau tari Betawi..lebih pengaruhi  wirasa saya yang akhirnya cenderung berlenggak lenggok centil daripada mengalir kaya air. Karena joget bagi saya mengasyikkan. 

Itu baru postur badan dan bagaimana saya bergerak. Belum lagi, memposisikan gemulai tangan ..kadang terlalu lebar..terlalu tinggi..terlalu patah-patah. 

Jujur…kali ini menari, saya benar-benar menantang diri untuk lebih tahu aturan. Tahu untuk membatasi gerak tubuh..disiplin dalam mengayunkan lengan..tangan..plus kudu lentur menggerakkan leher saya yg semakin kaku. Sehingga tidak seenak atau seheboh saya bergoyang  tanpa ada lemah lembutnya.

Dan itu sungguh tidak mudah. Apalagi teman sesanggar lebih cocok jadi adik saya atau anak sulung saya bila menikah muda. Sementara… Saya si emak2 beranak dua yang sekian taun membentengi diri untuk kuat hadapi segala masalah..untuk keras pada diri saya biar ga gampang menyerah pada kondisi Arsa yang autistik..untuk ga mudah mellow sama situasi…

Sungguh menari kali ini bak meditasi bagi saya. Menghafal gerak satu tarian memang sudah biasa. Mudah-mudah saja karena saya jarang absen. Namun tetiba saatnya gamelan mengalun…saya bak melangkah masuk dalam lorong waktu. Menuju asal jenis kelamin saya. Menjadi benar-benar perempuan. 

Awal-awal latihan, jujur saya pernah diingatkan untuk memperhalus gerak.. karena saya melangkah dan bergerak seperti penari pria. Oooopppsss. *tutup muka*

Jadilah menari kali ini..saya belajar untuk ‘lemah lembut itu tidak apa-apa’ Sungguh..me time kali ini benar-benar pelajaran. Untuk menantang diri …belajar mengalir seperti air..tak melulu membara seperti api atau keras bagaikan baja. 

Advertisements


Me, my newborn n you..yes youuu ♡
06/01/2017, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

Seorang teman memposting di fb baru-baru ini, yang intinya do’s and don’s saat menjenguk ibu melahirkan. Jadinya..saya pengen cerita juga. Iya saya kan emak-emak juga. N saya udah 2 kali melahirkan. 

Mungkin habis ini saya dibilang ga tau berterima kasih sama perhatian teman, kerabat ato saudara saya atau dibilang mau ‘matiin’ ladang nafkah pemilik baby shop. Ya terserah aja sih. Yang jelas ini blak-blakan saya tentang saat-saat hidup dan mati itu. Lebay..he2..lanjutin dulu baca ya baru komen. 

Mei 2003. 

Kandungan saya sudah tua betul. Jumat sore saat cek terakhir ke SpOg, ultimatum dikeluarkan. Sectio besok..tak bisa ditawar, ketuban mengeruh. 

Semalaman puasa persiapan operasi, tak halangi pemeriksaan akhir. Periksa dalam, istilahnya..saat tangan dokter meraih tepatnya masuk lubang vaginamu untuk menentukan posisi bayi. Diminta rileks, tetap aja tegang. Setegang wajah dr yang bilang, jauh sekali kepalanya..ga ada jalan lahir. Wajah saya yang udah pucat karena belum sarapan..makin pucat aja saat menuju ruang bedah. Tawaran induksi sama-sama tak kami sepakati. Iya kalau merangsang konstraksi, kalau nggak..saya pengsan..trus disectio pula. Sakitnya double. 

Sectio dilaksanakan. Masih terdengar dalam kesadaran bius lokal saya..denting gunting dan pisau bedah bergantian dengan bonus tangisan bayi kencang yang disorongkan dekat wajah saya. Tanpa sadar airmata saya mengalir. 

Ruang pemulihan tidaklah nyaman. Otak saya memerintahkan kesadaran saya untuk cepat pulih. Karena disamping saya seorang bapak pasca operasi amandel berekspresi begitu tak enak dipandang. 

Balik ke kamar perawatan. Lelah..belum sadar sepenuhnya..lapar..dan kaku pasca operasi. Nyeri di luka hilang muncul..yang ternyata semakin menjadi karena perawat lupa menyuntikkan saat obat bius benar-benar menghilang. Saya menangis kesakitan. 

Satu persatu ucapan..teman-teman..murid-murid yang datang bergantian tak bisa membuat saya tersenyum. Karena kondisi saya saat itu ingin meringkuk…tidur lelap..ingin makan juga…ingin menimang bayi..ingin menyusuinya (dan belum bisa). Benar-benar galau saat itu. 

Dan itu tidak terbantu dengan kehadiran orang-orang. Saya stress..wajah saya tak menunjukkan ibu baru yang bahagia. Perawat-perawat tak mau memanjakan dan meminta saya belajar berdiri..belajar jalan. Saya di bawah tekanan. 

Sepertinya dalam sebulan pasca sectio…wajah saya baru berangsur-angsur gembira. (Mungkin yang menjenguk saya di rumah waktu itu bisa menceritakannya) 

April 2013

Sepuluh tahun kemudian. Dalam usia yang sudah masuk masa beresiko hamil dan melahirkan, kandungan saya samgat dijaga betul sejak awal. Secara mental saya lebih siap, siap menyusui total malahan. Walau sempat ada masalah anemia dan hipertensi..saya tetap bumil yang sehat sampai akhir kehamilan. Di minggu-minggu terakhir, flek-flek bermunculan. SpOg sudah ultimatum..begitu flek meningkat atau pecah ketuban segeralah ke rs. 

Saat itu Jumat malam kami baru selesai konsul ke dr gizi untuk masa menyusui dan mpasi. Senin pagi saya akan sectio. Masih sempat ngewedang ronde lagi setelah dari dr gizi. Malam jam setgh 12..tiba-tiba saya ngompol… yang tidak tertahan. Ini pecah ketuban. Telp SpOg dan diminta segera ke rs. 

Tengah malam itu..saat esok pagi umat Hindu merayakan Manis Kuningan, saya malah siap sectio. Semua personel bedah dipanggil kembali..padahal baru saja pulang. Akhirnya jam 1.30 saya sectio. Tapi karena ronde yang saya santap, di tengah-tengah sectio bisa mo muntah segala. Saat mual menghilang dan rasa kantuk menyerang..masih kulirik bayi yang menangis kencang yang disorongkan ke wajahku. 

Habis itu ‘penderitaan’ dimulai. Ruang perawatan benar-benar penuh terutama dengan pasien DBD. Jadi saya harus di ruang pemulihan sampai besok pagi ada kamar kosong. Bayangkan..lelah..ngantuk.. plus tensi saya yang tinggi..mau tak mau berbaring dalam keadaan telanjang berbalut baju bedah..di atas spon brankar yang dingin. Lucky my hubby stay beside me. 

Sambil bercerita ngalor ngidul, dengan sirik kami memandangi seorang perawat jaga yang tertidur lelap di kasur yang lebih empuk. Tidur2 ayam..nyaris tak bisa terlelap kami berdua.

Esok pagi..saya bersyukur bisa pindah ke kamar perawatan kelas 1. Langsung saja ada yang berkunjung. Malah teman-teman itu langsung mengiringi kepindahan saya ke ruang vip. Setelah itu pengunjung silih berganti. Sampai malam hari. Jadi saya dan suami tak sempat memejamkan mata. Itu hampir 24 jam. Dan tensi saya pun naik. 

Bersyukur kali kedua ini..saya bisa segera menyusui dan lebih pulih pasca sectio. Tapi kelelahan yang amat sangat akibat begadang itu dan tensi saya yang tinggi…belum juga terbayar dengan kedatangan teman-teman..rekan kerja dan kerabat, sampai kami pulang. 

Dan di kelahiran bayi kedua ini..saya masih menerima tamu-tamu silih berganti di rumah sampai si kecil genap 2 bulan. Mulai dari yang personal sampai rombongan. 

Nah… dari dua peristiwa itu saya mau menyimpulkan dan akhirnya saya praktekkan juga kepada ibu2 yang lain: 

*ini di luar kejadian khusus..emergency..ibu/bayi dlm keadaan darurat*

  • Plissss…sebaiknya tidak menjenguk di hari pertama ibu melahirkan. Biarkan ibu istirahat, tidur dan memulihkan diri. Lebih baik saat ibu sudah akan keluar rs hari itu. (Pernah jenguk teman di hr terakhir aja, wajahnya masih belum sepenuhnya ‘present’ waktu diajak bicara, atau seorang teman jahitannya sampai membengkak karena kebanyakan berdiri menyambut tamu)
  • Plissss…datanglah saat jam berkunjung walaupun kamarnya vip. Reschedule lah bila ingin menjenguk malam menjelang tidur. Anda tidak tahu kondisi dan stamina ibu dan ayah si bayi. Plus tak mau menganggu masa-masa belajar ibu menyusui kan.  
  • Plissss…kalau mau mengajak ngobrol..curhat..diskusi, sebaiknya berkunjung saat ibu dan bayi sudah pulang dari rs. Dalam suasana yang lebih akrab dan intim..di rumah. 
  • Plisss…tak usah berdiskusi tentang mana proses melahirkan yang lebih mulia..normal atau sectio. Mana yang lebih mulia menyusui atau memberi sufor. Setiap ibu dan bayi punya perjuangan yang tak bisa dibanding2kan. Don’t make them stress with this topic. 
  • Plissss..bila anda dari luar…cucilah tangan dulu sebelum menggendong bayi baru lahir. Ingat juga memfoto bayi dengan fitur flash/blitz tidak diperkenankan
  • Plissss..ini soal kado. Tak mau kado anda mubazir kan atau diwrap ulang untuk diberikan ke bayi lain. Beri amplop merah untuk penghargaan pada ayah dan ibu atau buku parenting, resep mpasi, dll…daripada (maaf) baby toiletries (bedak..sabun..sampo) alat makan, atau…bila inginnya memberikan kado si bayi berikanlah pakaian untuk bayi saat 9 bln atau 1 tahun nanti. Dan..kalau si bayi punya sibling..boleh juga diberikan hadiah menjadi kakak. Buku misalnya.
  • Plissss…bila mungkin tidak datang dalam rombongan besar. Tak ada tempat duduk…mengurangi oksigen dalam kamar..serta membuat suasana menjadi riuh. Ini bukan arisan lho ya. 

Ya…maaf kalau sepertinya saya tidak mementingkan tali silaturahmi. 

Tapi..jujur..sejatinya menerima ucapan dan doa yang tulus walau by phone..by social media saya sudah sangat bersyukur dan berterima kasih. Apalagi bila sahabat-sahabat kesayangan tersebut bisa hadir dan memberi support…itu akan sungguh membahagiakan. 

Bukan cuma.. ‘saya sempatin lho ya..’ atau karena ada maksud ‘ ini istri atasan/istri kolega/istri partner’ jadi musti dijenguk. Yang akhirnya tanpa sadar ‘mengganggu’ si ibu yang baru dan sedang pemulihan. 

Truly and absolutely…peristiwa melahirkan apapun tekniknya adalah pengalaman personal…antara hidup dan mati…proses inisiasi menjadi seseorang yang baru yang akan dipanggil IBU. 



Bukan tentang foto2 instagramik, tapi……
01/01/2017, 4:12 am01
Filed under: Uncategorized

Waktu sahabat dan keluarganya hendak berlibur akhir tahun di Jogja, kami sempat melirik-lirik akun di media sosial tentang tujuan wisata baru di Jogjakarta. Foto-fotonya cukup bikin baper buat ke sana. Entah memang beneran indah atau mainan sotosop..he2

Tapi… rombongan kami nanti random secara usia. Ada ibunda usia 75 tahun, ada balita 3 tahun setengah plus ada si kakak abg autistik. Sisanya ya ada abg lain yang lagi pengen belajar dan emak bapak reguler kayak saya. 

Jadi… inilah akhirnya liburan kami. Disini sekalian tips dan info-info nya untuk ke sana. 

1. Borobudur

Tips rute : hindari jalan Magelang. Kami start lewat Godean dari perempatan Demak Ijo dstnya (pakai google map ya)

Ternyata lebih cepat. Keluar dari jalan shortcut itu sudah area Borobudur. Tengah hari saja..parkiran sudah nyaris penuh. Plus dikerubungi pedagang acung yang menawarkan topi..kaus..minuman dan payung sewa. Ga bakal maksa kok kalau kita ga tunjukkin keinginan belanja.

Tips yang wajib dipakai/dibawa : pakaian yang sejuk nyaman, walking shoes atau sepatu gunung, ada topi atau selendang pakailah. Tapi payung lipat ternyata paling efektif untuk panas menyengat di sana. Ga punya..sewa aja . Harga mulai 5-10rb sekali perjalanan. Topi bertuliskan borobudur juga ada dan dihargai 20rb. Kamera..phone camera..tongsis..kacamata hitam silakan dipilih untuk dibawa berdasar kesukaan.

Ada sih yang berpakaian cantik  dengan kaftan satin berbordir..rambut sasakan..sepatu pantovel kayak mau kondangan,atau mini dress buat casual party. Busettt……katanya sih untuk selfie atau wefie cantik. Tapi..saya ga tau segitu niatnya selfie apa dia ga ‘meleleh’ di jalan atau roknya sobek saat naik turun tangga borobudur yang setengah dipanjat.  

Walau tidak diperbolehkan bawa makanan..(terutama tidak boleh makan di pelataran candi), tumbler wajib bawa deh. Panasnya..bisa buat kita mau minum terus dan terus. 

Toilet berbayar terpusat di beberapa lokasi. Biayanya 2rb rupiah saja. 

TIKET MASUK : dewasa dan remaja 30rb, anak-anak 15rb, balita free. 

Ibu saya yang sepuh menunggu di area pusat audio visual di dekat pintu masuk, sehingga tak terlalu jauh saat dijemput menuju pintu keluar.

Yang perlu menjadi catatan : sebaiknya mematuhi peraturan yang ada dengan tidak memanjat candi dan stupa-stupa demi kelestarian bangunan bersejarah ini. Karena kenyataannya, walau sudah dijaga banyak security di area puncak, ada saja wisatawan yang nakal memanjat..sehingga sempritan atau suara security lewat megaphone untuk menegur dan mengingatkan terus terdengar. 

Perjalanan dari pintu masuk lalu memanjat dan menuruni candi sampai pintu keluar cukup menguras keringat di siang yang terik.


*kami tidak makan di area wisata, jadi tidak bisa merekomendasikan kios makanan yang oke* 

Oh iya..jalan keluar dipenuhi sentra pedagang kerajinan dan makanan, termasuk robot dan tokoh dongeng untuk kita berpose dengan biaya sukarela. 

2. Ullen Sentalu

Tips rute : hindari jalan Kaliurang terutama dari kota. Kami mengambil jalan Palagan (juga pakai goggle map) sehingga keluar langsung di daerah Pakem – Kaliurang km 14.

 Tips yang perlu dibawa/dipakai : bekal makanan. Resto di Ullen Sentalu yg bernuansa Belanda sebenarnya oke banget jenis makanan dan minumannya. Tapi siap-siap waiting list di saat kita udah kelaparan. Ada sih penjual bakso tusuk, buah salak maupun jadah tempe di area parkir museum. 

Jadah tempe ini sejenis uli (dari ketan) yang gurih dan dimakan dengan tempe bacem. Rasanya enak sih..tapi kalo kita punya gangguan lambung dan kelaparan.. hati2 dengan rasa tak nyaman setelahnya. 

Oh iya ada catatan ttg kunjungan ke museum secara berkelompok yang sudah ada SOP nya ini. Sepertinya pihak museum perlu menyiapkan toilet dekat loket pendaftaran. Karena jarak tempuh dari kota Jogja ke Ullen Sentalu cukup jauh (untuk mau buang air kecil)

Waktu rombongan kami kemarin yang di mix dengan orang lain..ada seorang ibu yang akhirnya mengacaukan sedikit jadwal sesuai SOP. Karena ia nyelonong menuju toilet tanpa bisa dicegah..lalu diikuti orang-orang lain juga. Sehingga sang edukator (guide museum) sempat dimarahi supervisor karena membiarkan rombongan terpecah2. 

Penjelasan tentang museum sangat menarik karena membahas hal-hal keperempuanan di kraton Jogja dan Solo yang tidak terlalu diungkap bila kita berkunjung ke kraton.

Ada juga kisah Gusti Nurul yang sangat menarik plus kanjeng Ratu Mas yang bahkan minuman racikannya disajikan untuk para pengunjung. Campuran 7 rempah-rempah yang menyegarkan dan membuat panjang umur. 🙂

NOTE : kita tidak diperkenankan untuk selfie/wefie atau berfoto selain di area yang ditentukan atau di luar museum. 

TIKET MASUK : 30rb dewasa dan balita free 
 

3. Taman Wisata Gunung Merapi – Kaliurang — Goa Jepang

Hanya beberapa menit dari Ullen Sentalu…kita sudah sampai di area Taman Wisata Gunung Merapi. Koreksi ya kalau saya keliru..sepertinya ini tempat paling puncak di area Kaliurang. 

Area parkir cukup luas dengan biaya 5rb saja plus tiket naik ke area goa Jepang masing-masing orang 3rb saja. 

Petugasnya ramah-ramah, bahkan bisa menyarankan untuk singgah di warung terdekat di pintu masuk, untuk makan siang dulu. Menu cukup variatif mulai dari nasi pecel, tongseng, mi goreng, soto sampai sate kelinci. Rasa lumayan dan pelayanan cepat dan harganya murah. 

Di area parkir ini ternyata banyak monyet berkeliaran. Cukup jinak sih. Mendekat saat kita menyodorkan makanan tapi menjauh saat kita dekati.

Sarana toilet pun cukup banyak dengan biaya 2rb rupiah. 

Jalan menuju Goa Jepang cenderung sempit dengan pinggiran langsung jurang..dan jarak tempuh yang jauh. (Itu kata teman saya sekeluarga plus Arsa yang excited) . Mereka pun menyerah sebelum sampai tujuan. Trekking ini sungguh tidak direkomendasikan untuk membawa anak balita maupun lanjut usia. 

4. Gardu Pandang Kaliurang – Festival of light. 8 Desember – 29 Januari 2017

Namanya festival lampion ya harusnya datang ke sana saat senja menggelap menuju malam. Tapi karena ini masih satu area dengan dua wisata barusan, ya sekalian saja. 

Begitu masuk parkiran, petugas langsung menghitung untuk 5 dewasa, 2 remaja dan 1 balita biayanya 20.000 rp. Si bapak juga bilang datang malam lebih bagus lagi..tapi dengan resiko area foto yang menyempit. 

Mulailah anak-anak excited melihat bentuk lampion yang bagus di waktu siamg dan cantik di waktu malam. Ada berbagai bentuk hewan nyata jaman sekarang..jaman purba maupun hewan mitos seperti naga maupun simbol 12 zodiak China. Tokoh dongeng..superhero..istana..candi borobudur ada juga di sana.

Penasaran dengan gardu pandang.saya pun naik sama anak-anak. Wah indah banget pemandangan Kaliurang saat mendung menggelayut. 

Yah..harusnya kalau malam hari bakal lebih keren lagi nih. Apalagi sepanjang jalan menuju sana spoiler lampion bentuk berbagai hewan sungguh mempercantik Kaliurang. 

Cuma..jangan lupa berjaket ya kalau di malam hari, sore itu saja sudah cukup sejuk dan semriwing. Tapi kata bapak petugas, datanglah lebih sore biar dapat tempat parkir. 

5. Hutan Pinus Mangunan, Bantul

Berbekal google maps lagi, kali ini kita eksplor yang dibilang orang kekinian. Lewat jalan Imogiri..ya karena masih dekat dengan area makam raja-raja di Imogiri, Bantul. 

Perjalanan yang tadinya rata, mulai berkelok dan menanjak. Lama kelamaan tanjakan makin curam dan mobil harus bergantian dari dua arah. 

Entah karena kekinian atau memang hari Minggu, tempat ini sungguh ramai. Ada dua spot di hutan pinus ini. Karena tak dapat tempat di spot pertama yang sungguh ramai, kami menuju spot kedua yang malahan jauh lebih sepi, nyaman dan indah. 

Tempatnya terorganisir rapi, oleh karang taruna setempat yang berseragam batik, rapi, ramah terkoordinasi pakai ht dan sangat informatif. Saat memarkirkan mobil, kami hanya membayar 10ribu rupiah saja.

Tempat makan pun terorganisir, kata bapak pemilik warung, hanya boleh untuk warga setempat yang mendaftar.Menu makanan cukup variatif, murah dan lumayan untuk ukuran warung di area hutan seperti itu. 

Katanya sih area camping ground juga sedang dipersiapkan, mengingat minat dan permintaan untuk berkemah di area tersebut makin meningkat. Namun sekarang kalau ada yang mau berkemah, diperbolehkan di area hutan namun waktu pasang tenda harus malam hari dan waktu lepas tenda harus jam 5 pagi keesokan harinya. 

Toilet yang tersedia memang belum banyak. Tapi koordinasi mereka untuk menyediakan air bersih di hutan seperti itu pantas untuk mematok harga 2rb rupiah/orang. 

Masuk ke hutan pinus, banyak spot foto yang sungguh menarik. 

Di perjalanan…di spot-spot foto yang disediakan plus di gardu pandang berjarak 100m dari pintu masuk. Untuk ke gardu pandang..jalan cukup terjal dan turun naik. Karenanya pakai sepatu olahraga atau sepatu gunung, wajib hukumnya. Di kanan kiri banyak pohon nanas hutan dengan buahnya yang masih muda. Waspada ya kalau-kalau ada 🐍 ular yang melintas jalur trekking kita.

Harusnya sih kalau mau dapat spot foto yang lebih bagus lagi..harus subuh-subuh sehingga ada efek sunrise dan kabut di sekitar. 

*saran : jangan merokok dan buang sampah sembarangan ya.  Rawan kebakaran nihhhh* 😣

Yang jelas hutan ini sungguh selfie-able.

6.Kebun Buah Mangunan

Areanya tidak jauh dari hutan pinus. Tiket masuk tidak dipatok mahal, hanya untuk biaya parkir saja.Ada dua area di kebun ini. Satu tempat kebun buahnya. Sayang..begitu ramainya wisatawan, sampai kami tidak tertarik untuk mengeskplor lebih jauh. Yang sempat terlihat area orang berdagang juice buah-buahan. 

Menuju puncak kebun buah..jalur jalan harus dipandu petugas karena hanya muat satu kendaraan, sangat curam dan hanya untuk kendaraan berkondisi baik. 

Setelah tiba di puncak, kami baru tahu ternyata momen yang paling baik adalah saat subuh atau saat senja waktu puncak berkabut. Siang hari kurang lebih jam 3an seperti saat itu, yang ada adalah terik matahari yang menyilaukan, angin kencang dan debu beterbangan. 

Sepertinya pihak pengelola sedang berbenah, karena walaupun sudah ada spot untuk foto-foto, area lain masih dalam pembenahan. Tampak dari beberapa spot bahan bangunan yang berserakan. 

Untunglah toilet cukup tersedia, warung makan cukup banyak, pengaturan parkir dan informasi arah ke luar menuju kota Jogjakarta cukup membantu.  

Jadi mungkin nanti tunggu momen yang lebih baik untuk kembali ke sana dan mendapat spot catik kebun buah ini. 
Bagaimana ulasan saya? Mudah-mudahan cukup informatif ya… 

Sila saran dan masukannya untuk perjalanan lain kali.

Yang mau share silakan..demi kemajuan pariwisata Jogjakarta dan tentu saja Indonesia ya. 

Atau mau ikut wartakan..yuk…ga hanya foto-foto cantik tapi juga info-info serta tips asik tentang tempat wisata tersebut. 

 



‘Harga’ sebuah karya 
31/12/2016, 4:12 am12
Filed under: Uncategorized

Semenjak Arsa, putra saya yg autistik memulai wirausaha dengan memproduksi karya jahit sulam untuk dimiliki para kolektor, saya semakin respek pada para pengrajin. 

Karena untuk sebuah karya yang dihasilkan, apalagi karya buatan tangan kerja keras dan proses berlangsung tak selalu mulus. Tergantung mood, kondisi fisik, bahkan cuaca. Cuaca? Apa hubungannya? Nanti ya..terus baca deh..

Bukan berarti yang made in pabrik ga ada kerja kerasnya ya..nanti ada yang pentung saya lagi. Hi..hi..

Ya..balik lagi ah. Karya tangan atau handmade memang menjadi langka sekaligus kembali populer akhir-akhir ini. 

Langka karena waktu produksi kalah bersaing efektif dengan karya mesin, yang bisa memproduksi masal. Populer karena karya tangan biasanya limited. Hanya satu atau dua saja. 

Seiring dengan wirausaha Arsa, saya pun berwirausaha. Tak jauh-jauh sih masih seputaran kain. Mulai dari lurik..lurik batik..batik grosiran..sampe batik yang kemudian ingin saya populerkan. Batik pewarna alam. 

Nah…yang terakhir saya sebut ini, memang perlu proses dan kerja keras. Saat saya keliling-keliling Jogja..kisah ttg proses dan kerja keras pengrajin sungguh menarik dicermati. 

Pewarnaan batik secara alami dengan daun..kulit pohon..buah..batang tanaman memang tak mudah, namun sehat dan ramah lingkungan. 

Beda takaran..warna berbeda. Beda jumlah celupan..beda kualitas warnanya. Apalagi saat penjemuran..beda intensitas cahaya matahari..warna batik bisa berbeda walau dengan takaran dan jenis pewarna yang sama. Cuaca mendung apalagi hujan terus menerus bisa menghambat proses. Walau saat ini..pengrajin batik tulis tak harus berpuasa sampai karyanya benar-benar selesai..tapi untuk menghasilkan karya yang indah..komitmen sungguh-sungguh berperan. 


Ada sih yang sudah menemukan solusi untuk pewarna alam yang tak mempermasalahkan cuaca, yaitu dengan membuat bahan-bahan alam itu jadi formula bubuk yang cepat kering . Tapi tetap saja tak bisa menghindar dari prosesnya yang kompleks, sehingga banyak pengrajin batik menyerah dan kembali ke pewarna sintetis yang paparannya malah bersifat karsinogenik

Apresiasi untuk kompleksitas proses karya-karya buatan tangan ini memang masih minim. Pertanyaan, ” kenapa mahal?” sungguh mematikan tanpa diikuti hal yang melatarbelakanginya..apalagi bila sudah dibandingkan dengan karya massal yang murah.

Karya-karya jahit sulam Arsa lebih rumit lagi. Ya..tentu karena Arsa autistik. Walau bagi individu autis mengerjakan sesuatu yang rutin justru menyenangkan baginya, mood tak bisa dipastikan selalu stabil. Kalau sedang tidak mood…mustahil memintanya melanjutkan karya tersebut. Spidol untuk menggambar di kain saja hilang, dia sudah kesal. Belum lagi kalau pemidangan rusak..benang habis saat belum selesai atau benang kusut…warna benang yang diinginkan tak ada…ibunya cerewet komen jahitannya.


Jadi…paham kan kenapa produk-produk handmade menjadi istimewa?Karena ia sungguh terlalu berharga untuk di’instan’ kan. 



​Dua perempuan 
16/12/2016, 4:12 pm12
Filed under: Uncategorized

Perempuan pertama. Cantik..imut..muda, berbekal notes kecil dan kamera mampir ke sekolah anak saya tadi. Dia bukan sarjana apa-apa, karena ayahanda memintanya untuk ‘kuliah’ pada bacaan-bacaan dan perjalanan. Sejak lulus SMA, ia mulai travelling ke berbagai pelosok negeri. Dituliskan dan didokumentasikan pengalaman berkenalan dan ‘berguru’ dengan banyak orang. Ayahanda memberi masukan sana sini. Sambil bersama-sama mempersiapkan kebun organik, area peternakan untuk bekal putri tercinta.
Pengalaman perjalanan ternyata membuatnya menjadi penulis yang cukup ‘menghasilkan’ bahkan cukup sering dikontrak untuk melakukan perjalanan. Kini saat ayahanda telah tiada, ia pun masih terus berjalan. Saat kembali ke rumahnya di pelosok Jawa Barat sana, ia membuat perpustakaan kecil dan kelas kerajinan (hsl yg ia pelajari) untuk anak-anak warga setempat. Impiannya satu..di areal rumahnya kini, akan ada jungle school tempat anak-anak belajar dari alam; seperti yg ia pelajari sepanjang perjalanan. 
Perempuan kedua. Ibu usia pensiun pengelola warung sederhana di dekat kota Jogja. Makanan yang dijual enak, bersih dan bergizi karena ia mantan staf gizi sebuah rumah sakit. Kakinya tampak mulai berat dibawa berjalan, tapi ia ramah kepada setiap pengunjung. 

Tadi saat kami membayar, ibu bertanya pada Arsa dan tak dijawab. Saya memberitahu bahwa Arsa autistik dan tak selalu menjawab saat ditanya. Tiba-tiba ia menepuk bahu saya dan bilang, “Sabar ya nduk..kuncinya ibu itu cuma sabar” Lalu mengalirlah cerita putri pertamanya. Saya sempat berasumsi  wah jangan-jangan autistik juga atau berkebutuhan khusus lain. Tebakan saya meleset. Sambil bergetar, ibu bertutur, “Anak saya itu dari kecil selalu yang terbaik, di sekolah..di mana-mana. Ga pernah buat susah..ga pernah buat repot. Bahkan pernah jadi paskibraka sampai ke Jakarta. Sampai dia kuliah. Suatu hari ia pergi kuliah dan tak pernah kembali. Sempat dirawat di Panti Rapih 5 hari tapi Tuhan lebih sayang padanya.” 

Saya diam dan tercekat. Sekali lagi ia menepuk bahu saya, “kuncinya sabar, nduk. Sabar!”
Terima kasih semesta. Saya bisa bertemu dua perempuan yang mengajarkan saya tentang impian dan kesabaran. 

Saya sungguh masih harus belajar! 

Good night universe.



Bu..jgn bilang mama saya ya…
01/12/2016, 4:12 pm12
Filed under: Uncategorized

Hari ini 1 Desember, dunia memperingati World Aids Day. Orang-orang mengkampanyekan untuk lebih peduli, lebih waspada dan berperan serta menekan penyebaran virus HIV yang belum ada obatnya itu. 

Reaksi dan respon masyarakat bisa bermacam-macam. Mulai dari melabel bahwa yang mudah tertular hanya para pelaku seks komersial atau para junkies (padahal ibu rumah tangga dan anak-anak juga banyak). Ada yang merasa perlu buat status awareness di sosial media.  Ada juga yang cuma merasa ini yah hari biasa saja. Atau malah termakan hoax tentang jarum suntik di bioskop sampai pisang disuntik darah bervirus HIV.

Soal hoax plus labeling tentang pelaku-pelaku yang  mudah tertular virus ini, sudah sejak dulu. Saat saya aktif mengajar dan menjadi fasilitator pendidikan kesehatan reproduksi untuk siswa SMA. 

Karenanya tiap tanggal hari ini, ada momen awareness di sekolah saya. Entah mengundang narasumber dokter atau aktivis peduli HIV/AIDS , bahkan mendengarkan testimoni ODHA (orang dengan HIV/AIDS). 

Apakah pengetahuan siswa dan guru bertambah terutama terhadap hoax ttg hal tersebut? Iya.

Apakah kesadaran untuk waspada penularan HIV/AIDS meningkat? Tentu. 

Apakah dengan demikian, perilaku seksual siswa atau coba-coba narkoba bisa dikendalikan? Bisa dalam arti mereka paham resiko penyakit menular seksual dan resiko penularan pemakaian jarum suntik bersama. Namun memastikan apakah siswa menjadi takut dan tidak aktif secara seksual lagi…saya tidak bisa menjamin.  

Lalu… orang-orang mulai bertanya untuk apa acara-acara kesehatan reproduksi atau peduli HIV/AIDS tanggal 1 Desember ini? Kalo ternyata tidak bisa menekan perilaku beresiko, terutama pada remaja.
Baiklah..saya cuma mau cerita apa yang terjadi di kelas saya dulu. 

Ketika kita bicara tentang penyakit menular seksual..tentang kehamilan..tentang alat kontrasepsi, saya biasa mengajak mereka studi kasus atau memperdebatkan sebuah opini. Seru?? Tentu saja. 

Ada siswa yang menanyakan apa boleh menyimpan kondom di dompetnya..sambil menunjukkan dompetnya ke saya. 

Ada siswa yang mengaku sudah intercourse tapi hanya dengan pacarnya saja. Waktu saya tanya sudah berapa kali pacaran, dan dia memberi tanda lewat jarinya, seluruh kelas tertawa. 

Ada debat-debat yang tak pernah selesai tentang aborsi, tentang siswa hamil melanjutkan sekolah, tentang pernikahan dini, tentang praktik prostitusi. 

Semua seru, semua mau cerita. Saya pun heran, kelas saya begitu menakjubkan sampai ditunggu-tunggu jadwalnya. Bahkan kalau ada guru mereka yang absen, saya diminta mengcover dengan pendidikan kespro ini. 

Saya ditanya kolega, kok bisa kelasnya seru dan terbuka. Saya jawab, mungkin..mungkin ya karena saya mau membuka diri untuk mereka. Saya jujur cerita proses persalinan saya dengan bahasa ilmiah. Saya cerita kasus-kasus kehamilan yang mungkin hanya mereka dapatkan dengan googling saja. 

Membuka diri bukan hanya bercerita apa saja. Tapi juga membuka diri untuk ditanya, “kalau ibu bagaimana?” Awal-awal sih..memerah muka saya. Tapi lama kelamaan saya bisa menanggapi dengan lebih santai. 

Saya hanya berpikir, kalau kita yang lebih dewasa tidak mau terbuka tentang kesehatan reproduksi yang sejatinya nanti menjadi pengalaman paling personal siswa, bagaimana mungkin mereka juga akan terbuka dan bebas berpendapat. 

Prinsip saya waktu itu..saya mau beritahu informasi yang mereka inginkan, asal mereka juga terbuka menceritakan permasalahan dan kegalauan mereka di masa remaja. Karena posisi saya dan siswa sama, diskusi menjadi enak. 

Seenak seorang remaja yang tahu-tahunya datang konseling untuk curhat kegalauan apa dia mungkin bisa tertular penyakit seksual karena ‘dijebak teman’ intercourse dengan psk di suatu tempat di luar pulau. Berkali-kali dia wanti-wanti,”Bu..jangan bilang-bilang mama saya ya..”

Atau anak perempuan yang tiba-tiba begitu polos bercerita dengan santai tentang bagaimana mereka ‘berpesta’ cumbu rayu, yang jujur buat saya cukup terkejut. 

Atau remaja laki-laki  yang lebih tua bertutur pengalaman bertualang di dunia hitam kelas bawah sambil takut terkena virus HIV. 

Kalau saya menjaga jarak, mana mungkin mereka mau datang sendiri lalu konseling untuk cerita kegalauannya. Akhirnya kalau ada yang tertular atau bagaimana, bukankah saya jadi ikut merasa bersalah. 

Keterbukaan informasi tentang resiko, tentang segala hal dalam kesehatan reproduksi menjadi penting. Plus harus sejalan dengan keterbukaan diri sebagai fasilitator atau sebagai orang dewasa, saat ingin menjadi tempat mereka bertanya dibanding internet atau pihak-pihak yang tidak jelas pertanggungjawabannya. 

Nah jadi paham maksud tulisan ini kan. 1 Desember – AIDS awareness day cuma momen. 

Yang lebih penting adalah..sudahkah kita jadi teman bagi para remaja yang sedang ingin tahu dan tahap coba-coba? 

Kalau belum…yuk mulai. Bekali diri dengan informasi kespro yang akurat, membuka diri, dan jadilah teman serta tempat bertanya bagi anak-anak kita. 

Selesai masalah remajanya..belum juga sih. Ya..minimal kita telah mulai berupaya. 



Saya (lebih) takut ‘manusia’
31/10/2016, 4:12 pm10
Filed under: Uncategorized

Di sini saya ga mo ulas soal agama. Pertanyaan saya juga kenapa ada acara Haloween? Apalagi sewaktu jadi koordinator OSIS, mau ga mau saya ikut dari bagian perayaan ini. 

Yang benci Amerika jelas ga bakal mau ikut. Tapi..tahu ga bahwa asal mula sejarah dirayakannya Haloween itu adalah tradisi bangsa Celtic 2000 tahun lalu (googling ya posisinya di mana). 

Bagi mereka 1 November merupakan tahun baru..usainya masa panen dan musim panas serta awal musim dingin. Nah bangsa Celtic percaya tgl 31 Oktober atau semalam sebelumnya batas antara dunia makhluk hidup dan mati menjadi tidak jelas termasuk di antaranya bangkitnya arwah-arwah orang yang sudah meninggal. Mereka merayakan dengan berkostum kepala hewan, duduk mengelilingi api unggun dan membakar jagung lalu orang yang dituakan akan membaca peruntungan masa depan. 

Nah sekilas info tadi menjelaskan asal muasal Halloween yang ternyata bukan Made in America. 

Halloween kemudian menjadi perayaan kekinian anak-anak muda di bernagai belahan dunia. Tak terkecuali di tempat saya mengajar dulu. Sebagai koordinator OSIS saya diminta untuk menscreening film dengan kriteria ketat..tidak ada penyiksaan atau berdarah-darah hebat. Jadi film besutan Quentin Tarantino dan sejenis takkan lolos sensor ini. 

Memang usulan dari siswa untuk beberapa judul film. Lalu mulailah proses screening itu. Dari takut, lalu tangan sibuk untuk skip adegan-adegan, lalu terkaget-kaget, lalu berakhir dengan ya kok akhirnya gini atau malah merasa tertohok waktu adegan ending Silent Hill yang sungguh tak terduga. 

Waktu itu sengaja siswa tak menscreening film horor Asia apalagi Indonesia (bukan jenis Nyi Blorong atau Ratu Pantai Selatan) , karena rata-rata merasa khawatir nanti makhluk-makhluk tak nyata di sekitar sekolah merasa ikut terpanggil…hiiiiii….asumsi apaan juga ya soal setan sekitar ikut nonton.

Nah…karena seringnya screening menscreening itu, saya sampai pada kesimpulan. Seremmm sih..saya pun pernah mengalami kejadian bulu kuduk berdiri. Tapi pengalaman-pengalaman yang saya tuturkan berikut jujur lebih menakutkan daripada film-film tersebut. 

  • Kelas 5 SD bersama ayah berlari-lari mencari tempat persembunyian saat tembakan sana sini yang bertujuan membubarkan konflik saat kampanye partai. Jujur saat itu pikiran anak-anak adalah kalau tahu-tahunya kita tertembak gimana? Such an unforgetable moment with my dad. 
  • Masa kuliah, saya sering bepergian naik bis umum. Tiba-tiba suatu sore saya dihampiri seorang pria 40an di halte untuk diajak dengan sinyal seksual (diculik menurut saya) pergi naik mobil..entah untuk diapakan. Berhasil menyelinap ke salah satu bis yang penuh sesak dengan jantung saya yang hampir copot..shock..gemeteran…apalagi melihat pria itu mengacungkan lengan tanda mengancam dari bawah bis
  • Pengalaman naik bis lainnya, saya duduk seorang diri senja hari bersama dua orang kriminal dalam bis (mereka baru naik di pintu tol usai menodong beberapa penumpang di bis dan terminal lain — kesimpulan dari percakapan mereka) . Perasaan saya..apapun bisa mereka lakukan kepada saya. Berharap cepat keluar dari jalan tol dan saya segera turun. Semesta masih melindungi saya.
  • Belum lagi.. suatu malam saya dan teman-teman diserang preman mabuk saat menunggu bis. Di mana teman pria sudah mulai diserang untuk dipukul, sebelum akhirnya diselamatkan penjual nasi goreng. 
  • Saat praktek kerja menjadi guru dan tawuran pelajar kerap terjadi. Beberapa kali berlarian di antara siswa yang membawa senjata yang sedang dikejar musuhnya. Pfiuhhhh. Atau malah berada di bis saat diserang sekelompok siswa yang lalu menghancurkan seluruh kaca bis. Saya dan teman2 hanya bisa tiarap sambil melindungi kepala. 
  • Atau hanya bisa duduk lalu menunduk terus di bis selama pelaku tawuran berpisau berlarian di bis mencari musuhnya. Rasanya..setiap saat saya bisa jadi sasaran salah tusukan. 
  • Saat Mei 1998, suasana layaknya perang. Melihat lewat kaca jendela asrama…kejar-kejaran aparat dengan masyarakat. Bunyi tembakan dan letusan sana sini, pemadaman listrik, menampung air, tidur dalam keadaan siaga…jadi rutinitas sehari-hari saat itu. 
  • Nah ini sudah jadi ibu. Suatu malam saya sendirian di rumah. Tiba-tiba ada pencuri hendak masuk lewat plafon. Ia sudah berupaya melubangi sedikit plafon untuk mengintip. Senjata saya hanya baygon untuk disemprotkan ke lubang dan gagang sapu untuk dipukulkan. Pokoknya nekad aja walau takut sekali. Akhirnya berhasil ‘mengusir’ pergi dengan semprotan-semprotan itu dan kepulangan suami. Begitu dicek bersama tetangga sebelah, ternyata di belakang rumah sudah ada tangga dan beberapa genteng yang dibuka. Astaga..nyaris rumah saya kecurian.

Nah..jujur saya bersyukur masih bisa bernafas dan menuliskan cerita ini setelah mengalami banyak kejadian. Perilaku manusia-manusia tersebut dalam cerita saya sungguh menakutkan  Entah dari merusak, memperdaya, melukai atau menghilangkan nyawa. Bahkan menurut saya bukan cuma menakut-nakuti seperti beberapa makhluk dalam film horor. Dan manusia-manusia ini bisa ada di sekitarmu, tampak olehmu, kadang bersikap baik kepadamu, atau malah berteman atau berinteraksi denganmu.

Jadi.. boleh dong kalau saya bilang..sebenarnya saya (lebih) takut dengan manusia. Isu-isu rusuh..ada orang rame-rame plus berita psikopat sungguh membuat saya tak nyaman. 

Saya sih percaya hukum karma. Kalau kita berbuat hal positif akan mengundang jodoh yang positif juga. Dan kalau karmanya memang belum waktunya untuk celaka/musibah..walau di tempat kejadian pun kita tidak apa-apa. Mudah2an semesta selalu melindungi saya. (Dan keluarga) 

*berdoa selalu untuk kedamaian di muka bumi ini*