yukberbagi!


Bukan tentang foto2 instagramik, tapi……
01/01/2017, 4:12 am01
Filed under: Uncategorized

Waktu sahabat dan keluarganya hendak berlibur akhir tahun di Jogja, kami sempat melirik-lirik akun di media sosial tentang tujuan wisata baru di Jogjakarta. Foto-fotonya cukup bikin baper buat ke sana. Entah memang beneran indah atau mainan sotosop..he2

Tapi… rombongan kami nanti random secara usia. Ada ibunda usia 75 tahun, ada balita 3 tahun setengah plus ada si kakak abg autistik. Sisanya ya ada abg lain yang lagi pengen belajar dan emak bapak reguler kayak saya. 

Jadi… inilah akhirnya liburan kami. Disini sekalian tips dan info-info nya untuk ke sana. 

1. Borobudur

Tips rute : hindari jalan Magelang. Kami start lewat Godean dari perempatan Demak Ijo dstnya (pakai google map ya)

Ternyata lebih cepat. Keluar dari jalan shortcut itu sudah area Borobudur. Tengah hari saja..parkiran sudah nyaris penuh. Plus dikerubungi pedagang acung yang menawarkan topi..kaus..minuman dan payung sewa. Ga bakal maksa kok kalau kita ga tunjukkin keinginan belanja.

Tips yang wajib dipakai/dibawa : pakaian yang sejuk nyaman, walking shoes atau sepatu gunung, ada topi atau selendang pakailah. Tapi payung lipat ternyata paling efektif untuk panas menyengat di sana. Ga punya..sewa aja . Harga mulai 5-10rb sekali perjalanan. Topi bertuliskan borobudur juga ada dan dihargai 20rb. Kamera..phone camera..tongsis..kacamata hitam silakan dipilih untuk dibawa berdasar kesukaan.

Ada sih yang berpakaian cantik  dengan kaftan satin berbordir..rambut sasakan..sepatu pantovel kayak mau kondangan,atau mini dress buat casual party. Busettt……katanya sih untuk selfie atau wefie cantik. Tapi..saya ga tau segitu niatnya selfie apa dia ga ‘meleleh’ di jalan atau roknya sobek saat naik turun tangga borobudur yang setengah dipanjat.  

Walau tidak diperbolehkan bawa makanan..(terutama tidak boleh makan di pelataran candi), tumbler wajib bawa deh. Panasnya..bisa buat kita mau minum terus dan terus. 

Toilet berbayar terpusat di beberapa lokasi. Biayanya 2rb rupiah saja. 

TIKET MASUK : dewasa dan remaja 30rb, anak-anak 15rb, balita free. 

Ibu saya yang sepuh menunggu di area pusat audio visual di dekat pintu masuk, sehingga tak terlalu jauh saat dijemput menuju pintu keluar.

Yang perlu menjadi catatan : sebaiknya mematuhi peraturan yang ada dengan tidak memanjat candi dan stupa-stupa demi kelestarian bangunan bersejarah ini. Karena kenyataannya, walau sudah dijaga banyak security di area puncak, ada saja wisatawan yang nakal memanjat..sehingga sempritan atau suara security lewat megaphone untuk menegur dan mengingatkan terus terdengar. 

Perjalanan dari pintu masuk lalu memanjat dan menuruni candi sampai pintu keluar cukup menguras keringat di siang yang terik.


*kami tidak makan di area wisata, jadi tidak bisa merekomendasikan kios makanan yang oke* 

Oh iya..jalan keluar dipenuhi sentra pedagang kerajinan dan makanan, termasuk robot dan tokoh dongeng untuk kita berpose dengan biaya sukarela. 

2. Ullen Sentalu

Tips rute : hindari jalan Kaliurang terutama dari kota. Kami mengambil jalan Palagan (juga pakai goggle map) sehingga keluar langsung di daerah Pakem – Kaliurang km 14.

 Tips yang perlu dibawa/dipakai : bekal makanan. Resto di Ullen Sentalu yg bernuansa Belanda sebenarnya oke banget jenis makanan dan minumannya. Tapi siap-siap waiting list di saat kita udah kelaparan. Ada sih penjual bakso tusuk, buah salak maupun jadah tempe di area parkir museum. 

Jadah tempe ini sejenis uli (dari ketan) yang gurih dan dimakan dengan tempe bacem. Rasanya enak sih..tapi kalo kita punya gangguan lambung dan kelaparan.. hati2 dengan rasa tak nyaman setelahnya. 

Oh iya ada catatan ttg kunjungan ke museum secara berkelompok yang sudah ada SOP nya ini. Sepertinya pihak museum perlu menyiapkan toilet dekat loket pendaftaran. Karena jarak tempuh dari kota Jogja ke Ullen Sentalu cukup jauh (untuk mau buang air kecil)

Waktu rombongan kami kemarin yang di mix dengan orang lain..ada seorang ibu yang akhirnya mengacaukan sedikit jadwal sesuai SOP. Karena ia nyelonong menuju toilet tanpa bisa dicegah..lalu diikuti orang-orang lain juga. Sehingga sang edukator (guide museum) sempat dimarahi supervisor karena membiarkan rombongan terpecah2. 

Penjelasan tentang museum sangat menarik karena membahas hal-hal keperempuanan di kraton Jogja dan Solo yang tidak terlalu diungkap bila kita berkunjung ke kraton.

Ada juga kisah Gusti Nurul yang sangat menarik plus kanjeng Ratu Mas yang bahkan minuman racikannya disajikan untuk para pengunjung. Campuran 7 rempah-rempah yang menyegarkan dan membuat panjang umur. 🙂

NOTE : kita tidak diperkenankan untuk selfie/wefie atau berfoto selain di area yang ditentukan atau di luar museum. 

TIKET MASUK : 30rb dewasa dan balita free 
 

3. Taman Wisata Gunung Merapi – Kaliurang — Goa Jepang

Hanya beberapa menit dari Ullen Sentalu…kita sudah sampai di area Taman Wisata Gunung Merapi. Koreksi ya kalau saya keliru..sepertinya ini tempat paling puncak di area Kaliurang. 

Area parkir cukup luas dengan biaya 5rb saja plus tiket naik ke area goa Jepang masing-masing orang 3rb saja. 

Petugasnya ramah-ramah, bahkan bisa menyarankan untuk singgah di warung terdekat di pintu masuk, untuk makan siang dulu. Menu cukup variatif mulai dari nasi pecel, tongseng, mi goreng, soto sampai sate kelinci. Rasa lumayan dan pelayanan cepat dan harganya murah. 

Di area parkir ini ternyata banyak monyet berkeliaran. Cukup jinak sih. Mendekat saat kita menyodorkan makanan tapi menjauh saat kita dekati.

Sarana toilet pun cukup banyak dengan biaya 2rb rupiah. 

Jalan menuju Goa Jepang cenderung sempit dengan pinggiran langsung jurang..dan jarak tempuh yang jauh. (Itu kata teman saya sekeluarga plus Arsa yang excited) . Mereka pun menyerah sebelum sampai tujuan. Trekking ini sungguh tidak direkomendasikan untuk membawa anak balita maupun lanjut usia. 

4. Gardu Pandang Kaliurang – Festival of light. 8 Desember – 29 Januari 2017

Namanya festival lampion ya harusnya datang ke sana saat senja menggelap menuju malam. Tapi karena ini masih satu area dengan dua wisata barusan, ya sekalian saja. 

Begitu masuk parkiran, petugas langsung menghitung untuk 5 dewasa, 2 remaja dan 1 balita biayanya 20.000 rp. Si bapak juga bilang datang malam lebih bagus lagi..tapi dengan resiko area foto yang menyempit. 

Mulailah anak-anak excited melihat bentuk lampion yang bagus di waktu siamg dan cantik di waktu malam. Ada berbagai bentuk hewan nyata jaman sekarang..jaman purba maupun hewan mitos seperti naga maupun simbol 12 zodiak China. Tokoh dongeng..superhero..istana..candi borobudur ada juga di sana.

Penasaran dengan gardu pandang.saya pun naik sama anak-anak. Wah indah banget pemandangan Kaliurang saat mendung menggelayut. 

Yah..harusnya kalau malam hari bakal lebih keren lagi nih. Apalagi sepanjang jalan menuju sana spoiler lampion bentuk berbagai hewan sungguh mempercantik Kaliurang. 

Cuma..jangan lupa berjaket ya kalau di malam hari, sore itu saja sudah cukup sejuk dan semriwing. Tapi kata bapak petugas, datanglah lebih sore biar dapat tempat parkir. 

5. Hutan Pinus Mangunan, Bantul

Berbekal google maps lagi, kali ini kita eksplor yang dibilang orang kekinian. Lewat jalan Imogiri..ya karena masih dekat dengan area makam raja-raja di Imogiri, Bantul. 

Perjalanan yang tadinya rata, mulai berkelok dan menanjak. Lama kelamaan tanjakan makin curam dan mobil harus bergantian dari dua arah. 

Entah karena kekinian atau memang hari Minggu, tempat ini sungguh ramai. Ada dua spot di hutan pinus ini. Karena tak dapat tempat di spot pertama yang sungguh ramai, kami menuju spot kedua yang malahan jauh lebih sepi, nyaman dan indah. 

Tempatnya terorganisir rapi, oleh karang taruna setempat yang berseragam batik, rapi, ramah terkoordinasi pakai ht dan sangat informatif. Saat memarkirkan mobil, kami hanya membayar 10ribu rupiah saja.

Tempat makan pun terorganisir, kata bapak pemilik warung, hanya boleh untuk warga setempat yang mendaftar.Menu makanan cukup variatif, murah dan lumayan untuk ukuran warung di area hutan seperti itu. 

Katanya sih area camping ground juga sedang dipersiapkan, mengingat minat dan permintaan untuk berkemah di area tersebut makin meningkat. Namun sekarang kalau ada yang mau berkemah, diperbolehkan di area hutan namun waktu pasang tenda harus malam hari dan waktu lepas tenda harus jam 5 pagi keesokan harinya. 

Toilet yang tersedia memang belum banyak. Tapi koordinasi mereka untuk menyediakan air bersih di hutan seperti itu pantas untuk mematok harga 2rb rupiah/orang. 

Masuk ke hutan pinus, banyak spot foto yang sungguh menarik. 

Di perjalanan…di spot-spot foto yang disediakan plus di gardu pandang berjarak 100m dari pintu masuk. Untuk ke gardu pandang..jalan cukup terjal dan turun naik. Karenanya pakai sepatu olahraga atau sepatu gunung, wajib hukumnya. Di kanan kiri banyak pohon nanas hutan dengan buahnya yang masih muda. Waspada ya kalau-kalau ada 🐍 ular yang melintas jalur trekking kita.

Harusnya sih kalau mau dapat spot foto yang lebih bagus lagi..harus subuh-subuh sehingga ada efek sunrise dan kabut di sekitar. 

*saran : jangan merokok dan buang sampah sembarangan ya.  Rawan kebakaran nihhhh* 😣

Yang jelas hutan ini sungguh selfie-able.

6.Kebun Buah Mangunan

Areanya tidak jauh dari hutan pinus. Tiket masuk tidak dipatok mahal, hanya untuk biaya parkir saja.Ada dua area di kebun ini. Satu tempat kebun buahnya. Sayang..begitu ramainya wisatawan, sampai kami tidak tertarik untuk mengeskplor lebih jauh. Yang sempat terlihat area orang berdagang juice buah-buahan. 

Menuju puncak kebun buah..jalur jalan harus dipandu petugas karena hanya muat satu kendaraan, sangat curam dan hanya untuk kendaraan berkondisi baik. 

Setelah tiba di puncak, kami baru tahu ternyata momen yang paling baik adalah saat subuh atau saat senja waktu puncak berkabut. Siang hari kurang lebih jam 3an seperti saat itu, yang ada adalah terik matahari yang menyilaukan, angin kencang dan debu beterbangan. 

Sepertinya pihak pengelola sedang berbenah, karena walaupun sudah ada spot untuk foto-foto, area lain masih dalam pembenahan. Tampak dari beberapa spot bahan bangunan yang berserakan. 

Untunglah toilet cukup tersedia, warung makan cukup banyak, pengaturan parkir dan informasi arah ke luar menuju kota Jogjakarta cukup membantu.  

Jadi mungkin nanti tunggu momen yang lebih baik untuk kembali ke sana dan mendapat spot catik kebun buah ini. 
Bagaimana ulasan saya? Mudah-mudahan cukup informatif ya… 

Sila saran dan masukannya untuk perjalanan lain kali.

Yang mau share silakan..demi kemajuan pariwisata Jogjakarta dan tentu saja Indonesia ya. 

Atau mau ikut wartakan..yuk…ga hanya foto-foto cantik tapi juga info-info serta tips asik tentang tempat wisata tersebut. 

 

Advertisements


‘Harga’ sebuah karya 
31/12/2016, 4:12 am12
Filed under: Uncategorized

Semenjak Arsa, putra saya yg autistik memulai wirausaha dengan memproduksi karya jahit sulam untuk dimiliki para kolektor, saya semakin respek pada para pengrajin. 

Karena untuk sebuah karya yang dihasilkan, apalagi karya buatan tangan kerja keras dan proses berlangsung tak selalu mulus. Tergantung mood, kondisi fisik, bahkan cuaca. Cuaca? Apa hubungannya? Nanti ya..terus baca deh..

Bukan berarti yang made in pabrik ga ada kerja kerasnya ya..nanti ada yang pentung saya lagi. Hi..hi..

Ya..balik lagi ah. Karya tangan atau handmade memang menjadi langka sekaligus kembali populer akhir-akhir ini. 

Langka karena waktu produksi kalah bersaing efektif dengan karya mesin, yang bisa memproduksi masal. Populer karena karya tangan biasanya limited. Hanya satu atau dua saja. 

Seiring dengan wirausaha Arsa, saya pun berwirausaha. Tak jauh-jauh sih masih seputaran kain. Mulai dari lurik..lurik batik..batik grosiran..sampe batik yang kemudian ingin saya populerkan. Batik pewarna alam. 

Nah…yang terakhir saya sebut ini, memang perlu proses dan kerja keras. Saat saya keliling-keliling Jogja..kisah ttg proses dan kerja keras pengrajin sungguh menarik dicermati. 

Pewarnaan batik secara alami dengan daun..kulit pohon..buah..batang tanaman memang tak mudah, namun sehat dan ramah lingkungan. 

Beda takaran..warna berbeda. Beda jumlah celupan..beda kualitas warnanya. Apalagi saat penjemuran..beda intensitas cahaya matahari..warna batik bisa berbeda walau dengan takaran dan jenis pewarna yang sama. Cuaca mendung apalagi hujan terus menerus bisa menghambat proses. Walau saat ini..pengrajin batik tulis tak harus berpuasa sampai karyanya benar-benar selesai..tapi untuk menghasilkan karya yang indah..komitmen sungguh-sungguh berperan. 


Ada sih yang sudah menemukan solusi untuk pewarna alam yang tak mempermasalahkan cuaca, yaitu dengan membuat bahan-bahan alam itu jadi formula bubuk yang cepat kering . Tapi tetap saja tak bisa menghindar dari prosesnya yang kompleks, sehingga banyak pengrajin batik menyerah dan kembali ke pewarna sintetis yang paparannya malah bersifat karsinogenik

Apresiasi untuk kompleksitas proses karya-karya buatan tangan ini memang masih minim. Pertanyaan, ” kenapa mahal?” sungguh mematikan tanpa diikuti hal yang melatarbelakanginya..apalagi bila sudah dibandingkan dengan karya massal yang murah.

Karya-karya jahit sulam Arsa lebih rumit lagi. Ya..tentu karena Arsa autistik. Walau bagi individu autis mengerjakan sesuatu yang rutin justru menyenangkan baginya, mood tak bisa dipastikan selalu stabil. Kalau sedang tidak mood…mustahil memintanya melanjutkan karya tersebut. Spidol untuk menggambar di kain saja hilang, dia sudah kesal. Belum lagi kalau pemidangan rusak..benang habis saat belum selesai atau benang kusut…warna benang yang diinginkan tak ada…ibunya cerewet komen jahitannya.


Jadi…paham kan kenapa produk-produk handmade menjadi istimewa?Karena ia sungguh terlalu berharga untuk di’instan’ kan. 



​Dua perempuan 
16/12/2016, 4:12 pm12
Filed under: Uncategorized

Perempuan pertama. Cantik..imut..muda, berbekal notes kecil dan kamera mampir ke sekolah anak saya tadi. Dia bukan sarjana apa-apa, karena ayahanda memintanya untuk ‘kuliah’ pada bacaan-bacaan dan perjalanan. Sejak lulus SMA, ia mulai travelling ke berbagai pelosok negeri. Dituliskan dan didokumentasikan pengalaman berkenalan dan ‘berguru’ dengan banyak orang. Ayahanda memberi masukan sana sini. Sambil bersama-sama mempersiapkan kebun organik, area peternakan untuk bekal putri tercinta.
Pengalaman perjalanan ternyata membuatnya menjadi penulis yang cukup ‘menghasilkan’ bahkan cukup sering dikontrak untuk melakukan perjalanan. Kini saat ayahanda telah tiada, ia pun masih terus berjalan. Saat kembali ke rumahnya di pelosok Jawa Barat sana, ia membuat perpustakaan kecil dan kelas kerajinan (hsl yg ia pelajari) untuk anak-anak warga setempat. Impiannya satu..di areal rumahnya kini, akan ada jungle school tempat anak-anak belajar dari alam; seperti yg ia pelajari sepanjang perjalanan. 
Perempuan kedua. Ibu usia pensiun pengelola warung sederhana di dekat kota Jogja. Makanan yang dijual enak, bersih dan bergizi karena ia mantan staf gizi sebuah rumah sakit. Kakinya tampak mulai berat dibawa berjalan, tapi ia ramah kepada setiap pengunjung. 

Tadi saat kami membayar, ibu bertanya pada Arsa dan tak dijawab. Saya memberitahu bahwa Arsa autistik dan tak selalu menjawab saat ditanya. Tiba-tiba ia menepuk bahu saya dan bilang, “Sabar ya nduk..kuncinya ibu itu cuma sabar” Lalu mengalirlah cerita putri pertamanya. Saya sempat berasumsi  wah jangan-jangan autistik juga atau berkebutuhan khusus lain. Tebakan saya meleset. Sambil bergetar, ibu bertutur, “Anak saya itu dari kecil selalu yang terbaik, di sekolah..di mana-mana. Ga pernah buat susah..ga pernah buat repot. Bahkan pernah jadi paskibraka sampai ke Jakarta. Sampai dia kuliah. Suatu hari ia pergi kuliah dan tak pernah kembali. Sempat dirawat di Panti Rapih 5 hari tapi Tuhan lebih sayang padanya.” 

Saya diam dan tercekat. Sekali lagi ia menepuk bahu saya, “kuncinya sabar, nduk. Sabar!”
Terima kasih semesta. Saya bisa bertemu dua perempuan yang mengajarkan saya tentang impian dan kesabaran. 

Saya sungguh masih harus belajar! 

Good night universe.



Bu..jgn bilang mama saya ya…
01/12/2016, 4:12 pm12
Filed under: Uncategorized

Hari ini 1 Desember, dunia memperingati World Aids Day. Orang-orang mengkampanyekan untuk lebih peduli, lebih waspada dan berperan serta menekan penyebaran virus HIV yang belum ada obatnya itu. 

Reaksi dan respon masyarakat bisa bermacam-macam. Mulai dari melabel bahwa yang mudah tertular hanya para pelaku seks komersial atau para junkies (padahal ibu rumah tangga dan anak-anak juga banyak). Ada yang merasa perlu buat status awareness di sosial media.  Ada juga yang cuma merasa ini yah hari biasa saja. Atau malah termakan hoax tentang jarum suntik di bioskop sampai pisang disuntik darah bervirus HIV.

Soal hoax plus labeling tentang pelaku-pelaku yang  mudah tertular virus ini, sudah sejak dulu. Saat saya aktif mengajar dan menjadi fasilitator pendidikan kesehatan reproduksi untuk siswa SMA. 

Karenanya tiap tanggal hari ini, ada momen awareness di sekolah saya. Entah mengundang narasumber dokter atau aktivis peduli HIV/AIDS , bahkan mendengarkan testimoni ODHA (orang dengan HIV/AIDS). 

Apakah pengetahuan siswa dan guru bertambah terutama terhadap hoax ttg hal tersebut? Iya.

Apakah kesadaran untuk waspada penularan HIV/AIDS meningkat? Tentu. 

Apakah dengan demikian, perilaku seksual siswa atau coba-coba narkoba bisa dikendalikan? Bisa dalam arti mereka paham resiko penyakit menular seksual dan resiko penularan pemakaian jarum suntik bersama. Namun memastikan apakah siswa menjadi takut dan tidak aktif secara seksual lagi…saya tidak bisa menjamin.  

Lalu… orang-orang mulai bertanya untuk apa acara-acara kesehatan reproduksi atau peduli HIV/AIDS tanggal 1 Desember ini? Kalo ternyata tidak bisa menekan perilaku beresiko, terutama pada remaja.
Baiklah..saya cuma mau cerita apa yang terjadi di kelas saya dulu. 

Ketika kita bicara tentang penyakit menular seksual..tentang kehamilan..tentang alat kontrasepsi, saya biasa mengajak mereka studi kasus atau memperdebatkan sebuah opini. Seru?? Tentu saja. 

Ada siswa yang menanyakan apa boleh menyimpan kondom di dompetnya..sambil menunjukkan dompetnya ke saya. 

Ada siswa yang mengaku sudah intercourse tapi hanya dengan pacarnya saja. Waktu saya tanya sudah berapa kali pacaran, dan dia memberi tanda lewat jarinya, seluruh kelas tertawa. 

Ada debat-debat yang tak pernah selesai tentang aborsi, tentang siswa hamil melanjutkan sekolah, tentang pernikahan dini, tentang praktik prostitusi. 

Semua seru, semua mau cerita. Saya pun heran, kelas saya begitu menakjubkan sampai ditunggu-tunggu jadwalnya. Bahkan kalau ada guru mereka yang absen, saya diminta mengcover dengan pendidikan kespro ini. 

Saya ditanya kolega, kok bisa kelasnya seru dan terbuka. Saya jawab, mungkin..mungkin ya karena saya mau membuka diri untuk mereka. Saya jujur cerita proses persalinan saya dengan bahasa ilmiah. Saya cerita kasus-kasus kehamilan yang mungkin hanya mereka dapatkan dengan googling saja. 

Membuka diri bukan hanya bercerita apa saja. Tapi juga membuka diri untuk ditanya, “kalau ibu bagaimana?” Awal-awal sih..memerah muka saya. Tapi lama kelamaan saya bisa menanggapi dengan lebih santai. 

Saya hanya berpikir, kalau kita yang lebih dewasa tidak mau terbuka tentang kesehatan reproduksi yang sejatinya nanti menjadi pengalaman paling personal siswa, bagaimana mungkin mereka juga akan terbuka dan bebas berpendapat. 

Prinsip saya waktu itu..saya mau beritahu informasi yang mereka inginkan, asal mereka juga terbuka menceritakan permasalahan dan kegalauan mereka di masa remaja. Karena posisi saya dan siswa sama, diskusi menjadi enak. 

Seenak seorang remaja yang tahu-tahunya datang konseling untuk curhat kegalauan apa dia mungkin bisa tertular penyakit seksual karena ‘dijebak teman’ intercourse dengan psk di suatu tempat di luar pulau. Berkali-kali dia wanti-wanti,”Bu..jangan bilang-bilang mama saya ya..”

Atau anak perempuan yang tiba-tiba begitu polos bercerita dengan santai tentang bagaimana mereka ‘berpesta’ cumbu rayu, yang jujur buat saya cukup terkejut. 

Atau remaja laki-laki  yang lebih tua bertutur pengalaman bertualang di dunia hitam kelas bawah sambil takut terkena virus HIV. 

Kalau saya menjaga jarak, mana mungkin mereka mau datang sendiri lalu konseling untuk cerita kegalauannya. Akhirnya kalau ada yang tertular atau bagaimana, bukankah saya jadi ikut merasa bersalah. 

Keterbukaan informasi tentang resiko, tentang segala hal dalam kesehatan reproduksi menjadi penting. Plus harus sejalan dengan keterbukaan diri sebagai fasilitator atau sebagai orang dewasa, saat ingin menjadi tempat mereka bertanya dibanding internet atau pihak-pihak yang tidak jelas pertanggungjawabannya. 

Nah jadi paham maksud tulisan ini kan. 1 Desember – AIDS awareness day cuma momen. 

Yang lebih penting adalah..sudahkah kita jadi teman bagi para remaja yang sedang ingin tahu dan tahap coba-coba? 

Kalau belum…yuk mulai. Bekali diri dengan informasi kespro yang akurat, membuka diri, dan jadilah teman serta tempat bertanya bagi anak-anak kita. 

Selesai masalah remajanya..belum juga sih. Ya..minimal kita telah mulai berupaya. 



Saya (lebih) takut ‘manusia’
31/10/2016, 4:12 pm10
Filed under: Uncategorized

Di sini saya ga mo ulas soal agama. Pertanyaan saya juga kenapa ada acara Haloween? Apalagi sewaktu jadi koordinator OSIS, mau ga mau saya ikut dari bagian perayaan ini. 

Yang benci Amerika jelas ga bakal mau ikut. Tapi..tahu ga bahwa asal mula sejarah dirayakannya Haloween itu adalah tradisi bangsa Celtic 2000 tahun lalu (googling ya posisinya di mana). 

Bagi mereka 1 November merupakan tahun baru..usainya masa panen dan musim panas serta awal musim dingin. Nah bangsa Celtic percaya tgl 31 Oktober atau semalam sebelumnya batas antara dunia makhluk hidup dan mati menjadi tidak jelas termasuk di antaranya bangkitnya arwah-arwah orang yang sudah meninggal. Mereka merayakan dengan berkostum kepala hewan, duduk mengelilingi api unggun dan membakar jagung lalu orang yang dituakan akan membaca peruntungan masa depan. 

Nah sekilas info tadi menjelaskan asal muasal Halloween yang ternyata bukan Made in America. 

Halloween kemudian menjadi perayaan kekinian anak-anak muda di bernagai belahan dunia. Tak terkecuali di tempat saya mengajar dulu. Sebagai koordinator OSIS saya diminta untuk menscreening film dengan kriteria ketat..tidak ada penyiksaan atau berdarah-darah hebat. Jadi film besutan Quentin Tarantino dan sejenis takkan lolos sensor ini. 

Memang usulan dari siswa untuk beberapa judul film. Lalu mulailah proses screening itu. Dari takut, lalu tangan sibuk untuk skip adegan-adegan, lalu terkaget-kaget, lalu berakhir dengan ya kok akhirnya gini atau malah merasa tertohok waktu adegan ending Silent Hill yang sungguh tak terduga. 

Waktu itu sengaja siswa tak menscreening film horor Asia apalagi Indonesia (bukan jenis Nyi Blorong atau Ratu Pantai Selatan) , karena rata-rata merasa khawatir nanti makhluk-makhluk tak nyata di sekitar sekolah merasa ikut terpanggil…hiiiiii….asumsi apaan juga ya soal setan sekitar ikut nonton.

Nah…karena seringnya screening menscreening itu, saya sampai pada kesimpulan. Seremmm sih..saya pun pernah mengalami kejadian bulu kuduk berdiri. Tapi pengalaman-pengalaman yang saya tuturkan berikut jujur lebih menakutkan daripada film-film tersebut. 

  • Kelas 5 SD bersama ayah berlari-lari mencari tempat persembunyian saat tembakan sana sini yang bertujuan membubarkan konflik saat kampanye partai. Jujur saat itu pikiran anak-anak adalah kalau tahu-tahunya kita tertembak gimana? Such an unforgetable moment with my dad. 
  • Masa kuliah, saya sering bepergian naik bis umum. Tiba-tiba suatu sore saya dihampiri seorang pria 40an di halte untuk diajak dengan sinyal seksual (diculik menurut saya) pergi naik mobil..entah untuk diapakan. Berhasil menyelinap ke salah satu bis yang penuh sesak dengan jantung saya yang hampir copot..shock..gemeteran…apalagi melihat pria itu mengacungkan lengan tanda mengancam dari bawah bis
  • Pengalaman naik bis lainnya, saya duduk seorang diri senja hari bersama dua orang kriminal dalam bis (mereka baru naik di pintu tol usai menodong beberapa penumpang di bis dan terminal lain — kesimpulan dari percakapan mereka) . Perasaan saya..apapun bisa mereka lakukan kepada saya. Berharap cepat keluar dari jalan tol dan saya segera turun. Semesta masih melindungi saya.
  • Belum lagi.. suatu malam saya dan teman-teman diserang preman mabuk saat menunggu bis. Di mana teman pria sudah mulai diserang untuk dipukul, sebelum akhirnya diselamatkan penjual nasi goreng. 
  • Saat praktek kerja menjadi guru dan tawuran pelajar kerap terjadi. Beberapa kali berlarian di antara siswa yang membawa senjata yang sedang dikejar musuhnya. Pfiuhhhh. Atau malah berada di bis saat diserang sekelompok siswa yang lalu menghancurkan seluruh kaca bis. Saya dan teman2 hanya bisa tiarap sambil melindungi kepala. 
  • Atau hanya bisa duduk lalu menunduk terus di bis selama pelaku tawuran berpisau berlarian di bis mencari musuhnya. Rasanya..setiap saat saya bisa jadi sasaran salah tusukan. 
  • Saat Mei 1998, suasana layaknya perang. Melihat lewat kaca jendela asrama…kejar-kejaran aparat dengan masyarakat. Bunyi tembakan dan letusan sana sini, pemadaman listrik, menampung air, tidur dalam keadaan siaga…jadi rutinitas sehari-hari saat itu. 
  • Nah ini sudah jadi ibu. Suatu malam saya sendirian di rumah. Tiba-tiba ada pencuri hendak masuk lewat plafon. Ia sudah berupaya melubangi sedikit plafon untuk mengintip. Senjata saya hanya baygon untuk disemprotkan ke lubang dan gagang sapu untuk dipukulkan. Pokoknya nekad aja walau takut sekali. Akhirnya berhasil ‘mengusir’ pergi dengan semprotan-semprotan itu dan kepulangan suami. Begitu dicek bersama tetangga sebelah, ternyata di belakang rumah sudah ada tangga dan beberapa genteng yang dibuka. Astaga..nyaris rumah saya kecurian.

Nah..jujur saya bersyukur masih bisa bernafas dan menuliskan cerita ini setelah mengalami banyak kejadian. Perilaku manusia-manusia tersebut dalam cerita saya sungguh menakutkan  Entah dari merusak, memperdaya, melukai atau menghilangkan nyawa. Bahkan menurut saya bukan cuma menakut-nakuti seperti beberapa makhluk dalam film horor. Dan manusia-manusia ini bisa ada di sekitarmu, tampak olehmu, kadang bersikap baik kepadamu, atau malah berteman atau berinteraksi denganmu.

Jadi.. boleh dong kalau saya bilang..sebenarnya saya (lebih) takut dengan manusia. Isu-isu rusuh..ada orang rame-rame plus berita psikopat sungguh membuat saya tak nyaman. 

Saya sih percaya hukum karma. Kalau kita berbuat hal positif akan mengundang jodoh yang positif juga. Dan kalau karmanya memang belum waktunya untuk celaka/musibah..walau di tempat kejadian pun kita tidak apa-apa. Mudah2an semesta selalu melindungi saya. (Dan keluarga) 

*berdoa selalu untuk kedamaian di muka bumi ini* 



Wisata asik dan edukatif seputaran Jogja (latepost)

Bawa anak2 ga bisa wisata cuma buat bikin foto instagramik doang. Bisa bisa isi fotonya manyun semua karena ga ada yang dimainin…ga ada yang menarik minat mereka…ga ada yang bisa dikerjakan.

Saat sempat rehat dari aktivitas..keluarga kami survey buat pindahan sekaligus liburan di Jogja akhir bulan Juni 2016 kemarin. Maunya sih ikutan wisata ala ala AADC ituh. Tapi anak-anak bisa tantrum karena wisata itu lebih cocok untuk gaya-gayaan sama follower di instagram.

Akhirnya kami pilih-pilih tempat wisata. Yang pertama-tama Taman Pintar. Letaknya di tengah kota di jl Sultan Agung. (Pssttt..sayangnya bayar parkirnya dikenakan 10rb dan bukan di area wahana tersebut) 

Ini bukan pertama kali sih buat kami. Tapi karena baru berkunjung usai makan siang..waktu untuk eksplorasi terutama bagi si bungsu (dulu pertama kunjungan masih bayi) agak kurang.

Biaya tiket masuk (karena masing2 wahana punya tiket sendiri2) tergolong murah. Kami hanya milih gedung oval dan gedung kotak. Jadi uang yang dikeluarkan ga lebih dari selembar yang merah.

Area2 di dalam gedung oval dan gedung kotak masih seru..walau ada yang pindah lokasi… pindah letaknya dan ada yang baru.

Sayangnya (mungkin karena menjelang sore) banyak staf yang sudah tak siap untuk menjelaskan alat atau benda yang terpasang. Padahal anak2 sangat ingin tahu. Perlu diingat lho belum semua pengunjung anak bisa membaca penjelasan secara tertulis. Bila dinarasikan secata atraktif..tentu lebih menarik lagi.

Taman Pintar memang sungguh ‘pintar’ dalam memberi hak pada orang tua dan anak untuk memutuskan wahana yang dipilih sesuai bujet yang disiapkan dan sesuai kesukaan anak-anak. 

Sedikit catatan..hanya pada wahana dinosaurus dan 4D Cinema yang agak sedikit provokatif untuk menarik konsumen…menjelang keliling kita di gedung kotak berakhir; walau dengan tiket yang tak murah. 

Catatan tambahan dan oke untuk Taman Pintar adalah toilet yang bersih (walau berbayar) dan area makanan minuman cukup variatif dengan harga terjangkau. 
Tempat wisata selanjutnya adalah Kebun Binatang Gembiraloka. Ini dekat daerah Janti. Bayar parkir Rp 5000,- dan area parkir cukup luas dengan pedagang asongan yang sigap menawarkan topi..kacamata maupun cinderamata. Ga maksa kok mereka. 

Sepertinya kebun binatang ini terus berbenah diri, sejak kunjungan saya saat masih jadi anak sekolah dulu. 

Tiket yang cukup terjangkau, dengan catatan beli paket lebih murah. Lingkungan yang lebih hijau dan nyaman. Beberapa photobooth bersama hewan pun gratis..(kecuali naik gajah atau unta-yg kami sekeluarga pribadi tidak setuju dan tidak mau..itu pun elephant riding termurah menurut saya) . 

Bila lelah berjalan..belilah paket kereta kelinci..yang bisa turun naik sesuka kita di beberapa perhentian. Termasuk bersantai naik kapal di danau buatan. Atraksi hewan juga cukup menarik..dengan berbagai burung..linsang dan beruang. 

Kata petugas di sana sih..lebih baik kunjungan jangan di hari libur Nasional atau lebaran. Karena bukan kita yang mengamati hewan..tapi hewan yang mengamati kita saking banyaknya pengunjung yang hadir. 

Catatan kami mungkin untuk beberapa wahana penjelasan ttg hewan perlu diperbanyak, 

plus ketersediaan makanan untuk dibagikan cuma-cuma ke hewan, seperti rusa-rusa perlu disiapkan lebih baik lagi.  

Tapi keramahan petugas-petugasnya yang masih muda-muda dan enerjik patut diacungi jempol. Dan..kita bisa lho bawa bekal makan minum untuk ngemil atau penghilang haus. Asal diingat untuk ikut menjaga kebersihan atau tidak membuang makanan sembarangan ke kandang hewan ya..

Yang terakhir adalah Kids Fun Park di area Wonosari. Kesannya luar kota banget yah. Memang lebih jauh dari kedua tempat lainnya sih. Tapi dari area airport ini tidak terlalu jauh.

Areanya besar…mainan banyak. Tapi nggak boleh bawa makanan ya..diperiksa lho. Karena tersedia counter2 makanan dan harganya ga sampe menguras kantong kok. Kalau untuk makanan minuman bayi atau balita sih masih diperbolehkan ya. 

Area kids park terpilah-pilah dalam kategori usia tertentu. Ada yang untuk balita saja…anak2 serta remaja/dewasa. Tiket terusan tidak mencakup semua wahana permainan. Seperti gokart..atau flying fox. Tidak termasuk juga mainan yang menggunakan koin. 

Jadi kalau kita wisata ke sana dengan berbagai tingkatan usia..pilihlah dengan selektif yang mana yang mau kita nikmati..supaya semuanya senang. Di sini ada beberapa area ketangkasan..area untuk uji keberanian..area mengenal era2 pada kehidupan manusia termasuk budaya Indian..dunia para koboy..dinosaurus..dll..termasuk ada pertunjukan dan workshop2 juga. 

Untuk hal2 informatif sepertinya sih orang tua sendiri yang perlu menjelaskan tentang hal2 tersebut. 

Yang mengherankan..area kids park yang lumayan luas ini..operator permainannya terbatas banget. Padahal itu hari biasa. Sehingga ada beberapa kali operator harus berlarian ke sana ke mari untuk mengoperasikan wahana mainan sesuai keinginan pengunjung. Sayang ya…dan kasihan juga operatornya kewalahan lari sana sini. Tapi hebatnya mereka tetap ramah2 lho..biar lelah seperti itu. 

Dan yang menyenangkan..biar area terbuka… semuanya kids area dan semua non smoking. Para perokok diminta untuk merokok di area khusus saja. Ini patut diacungi jempol.

Setelah puas bermain di area kids park, baru kita bersantai-santai di water park nih.

Water parknya cukup bersih termasuk area shower dan kamar gantinya. 

Di sini ya water park jadi intinya main. Bukan belajar berenang ya. Karena semua kolamnya lebih asik untuk main air daripada berenang serius. 

Sayang area yang saya foto di atas..(ember besar yang tumpah) tidak dioperasikan sesering mungkin. Sehingga saat kami sudah mandi dan bersiap pulang, baru si ember siap-siap tumpah. 

Demikian sih pengalaman saya di tiga tempat wisata edukatif tadi yang kami nikmati akhir bulan Juni kemarin.  

Mudah-mudahan bermanfaat yaa. 

Buat cari lokasi..silakan google map atau waze nya dipergunakan. 



Determined ato kepala batu kah saya? 
26/08/2016, 4:12 pm08
Filed under: catatan saya, ngalamin sendiri | Tags: , , ,

Saya suka dibilang orang yang keras kepala. Suka susah patuh atau mengiyakan sebelum berargumentasi dulu. Tapi saya pikir..mungkin itu modal saya berani merantau ke mana-mana. Dan juga modal saya untuk tough hadapi keseharian bersama Arsa..putra sulung saya yang autistik, yang juga keras kepala..ga kalah sama saya. 😉

Tapi… sikap saya itu keras kepala apa teguh hati ya. Penasaran saya browsing. Dapetnya sih pertama gambar ini. 

Uhuk..langsung tertohok sih. Seberapa sering saya teguh pada pilihan saya tanpa ‘ngeyel’ dan bisa terbuka pada pendapat orang lain yang berbeda. 

Kalo lihat dari bahasannya Kris Smyth ttg berteguh hati atau determination.

Your path to success is always based on the determination that you have engrained within yourself. 

Determination aligns your energy and attention towards your focus.

Determination is not whether you’re a good or bad person, it’s about what you’re willing to do to achieve your end goal. 

Nah…sebenarnya bagus toh berteguh hati. Tapi terlalu berkhayal ahh.. kalau sikap saya sudah sepenuhnya mencerminkan sikap itu. 

Saya browsing lebih lanjut. 

Dan ternyata bahasan berikut dari Srinivasan Pillay CEO of NeuroBusiness Group dan award-winning author, bagus banget. 

Jadi beliau mengelompokkan determination ini dalam beberapa kelompok. 

  1. Uphill determination digambarinnya kayak seorg single mom yg mau tidak mau membagi dirinya utk karir dan pekerjaan rumah tangga. Atau seseorang yg udah cape banget tapi mau tidak mau harus menyelesaikan pekerjaan sehari2nya. Jadi keinginannya n niatnya sangat terfokus padahal hambatannya banyak banget. Keteguhan hati model gini bagus kalo lagi kehilangan inspirasi ato lagi perlu mengatasi hambatan yg tahu2nya muncul. Tapi…kata si penulis, jadikan sebagai generator saja..saat semangat kita mulai padam.
  2. Downhill determination digambarkan seperti orang yang baru mulai bisnis tapi mengambil peluang-peluang dengan resiko yang paling kecil atau jalan yang paling mudah. Akhirnya apapun yang dicapai tak pernah sesuai dengan apa yang menjadi targetnya. Ini orang yang berteguh hati untuk menghindari hal-hal beresiko…he2
  3. Coasting determination digambarkan seperti org yg menunda kesuksesan2 kecil..untuk mendapatkan prestasi yang lebih besar. Atau orang yang melakukan disiplin diri..lebih untuk menginspirasi org banyak daripada cuma dibilang pekerja keras. Jadi berteguh hati tercermin dalam sikap perilaku keseharian orang tersebut.

Katanya sih… setiap diri kita pasti akan ‘bermain2’ dengan ketiga keteguhan hati yang disebutkan itu meski poin yang ketiga yang terbaik jadi dasar sikap perilaku kita.

Nah..itu kan teorinya. Kalo saya sih kebanyakan yang pertama. Tiap hari sok tough aja…sambil merapal mantra “semua bisa beres…semua bisa dikerjakan”. Tapi kenyataannya, ga sesuai rencana..ngomel. Ada yang ganggu..bertengkar. 

Jadi..boro2 menginspirasi orang lain… (atau jangan2 ada yang sudah terinspirasi sama saya? )  ..inget omongan seorang kawan..”wuih..semuanya ibu kerjakan sendiri. Dampingin Arsa yg autistik..ada Dy yg masih balita..jadi istri dengan kerjaan domestik yg ga kelar2..masih nyuri2 waktu berbisnis online lagi… ibu tuh beneran super mom” 

Saat saya tersanjung..sebenarnya saya lagi draining..kyk uphill determination itu. Saat cuping hidung mengembang..sebenarnya mulut mau muntahin kata2 dan bilang…sebenarnya saya cape tauk. Mau Me time bisa feel guilty mulu… akhirnya ujung2nya kekeraskepalaan saya yang muncul. 

Mo komenin gw..siap2 senggol bacok. Ibarat kata tuh kayak gitu…kata org Betawi. 

Bener..ya kagak. 

Ga bener..ya itu pilihan saya saat itu. Walo saya ga pernah mo milih dilabelin super mom. 

Finally..kuncinya cuma satu. Saya ngejalaninnya gimana. Terlepas dari segala teori berteguh hati tadi ya. Saya pernah berkata dalam hati. Saya ga perlu jadi orang terkenal..tapi saya ingin apa yang saya lakukan..menginspirasi..mendorong..memberi semangat orang lain..untuk melakukan hal yang sama atau lebih dari saya malah. 

Tapi kira2 kalo saya cuma berkutat di keras kepala.. kira2 cita2 saya itu bisa kesampaian ga ya? 

*ngomong sama cermin* 

Sumber tulisan : 

How to Be Determined in 10 Ways

 http://m.huffpost.com/us/entry/552632