yukberbagi!


‘Berhitung’ demi mandiri

Saya sudah mulai ajarkan anak sulung saya Arsa untuk berwirausaha. Dia autistik tapi mengapa tidak? Justru karena dia autistik…saya perlu ajarkan bagaimana ia kelak bisa menghidupi dirinya sendiri.

Awal-awal saya yang keluar modal untuk beli bahan, beli alat. Kain, benang, jarum, pemidangan dan pernak pernik lainnya.

Nah setelah terkumpul sejumlah uang, mulailah ia membiayai proses produksi. Lengkapi warna benang, beli pernak pernik jahit, beli bahan kain, biaya ngeframe atau ongkos jahit, dan tentu membayari duli ongkos kirim ke customer.
Semua saya catat..karena ia belum paham pencatatan keuangan.

Sejatinya sih… anak saya tak peduli berapa banyak uang yang ia peroleh. Ia cuma senang dan senang menjahit. Menghitung berapa biaya produksi atau untung yang didapat, juga belum bisa.
Namun saya berusaha untuk ‘hitung2an’ untuknya.

Saya sering berpikir, apakah saya keterlaluan memberi harga untuk karyanya Arsa. Jangan-jangan ada yang menganggap saya mulai komersil. Namun saya berpikir lagi. Ini handmade…ini adalah proses pembelajaran bagi Arsa.
Harga ke konsumen yang saya berikan adalah standar harga sebuah sulaman + (biaya bahan+ongkos jahit) kalau tas.
Kalau yang di frame : standar harga sebuah sulaman + biaya framing.
Dan kalau di luar kota berarti masing2 ditambah ongkos kirim lagi.

Yang terakhir karya Arsa Jahitan Arsa merantau ke Buitenzorg itu..Arsa yang biayai sendiri ongkos produksi dan ongkos kirimnya.

Nah… hitung-hitungannya; bila ada yang membeli produk Arsa…uang yang murni Arsa dapatkan nantinya, hanya seharga standar harga sebuah sulaman (range 180ribu – 300 ribu) yang kemudian saya tabung.

Tabung buat apa sih? Buat beli bahan lagi. Buat kursus jahit. Beli mesin jahit….sehingga nantinya Arsa bisa menjahit atau bahkan membordir dengan mesin. Sungguh senang membayangkannya.

Jalan Arsa memang masih panjang. Tapi mulainya Arsa berwirausaha ini..mudah-mudahan bisa membekalinya untuk jadi mandiri. Saya selalu mendoakannya.

image

Arsa ‘berhitung’ untuk kemandiriannya nanti.



Untuk Takita , Bunda dan Arsa pasti bisa seperti kamu
04/10/2012, 4:12 am10
Filed under: catatan saya, ngalamin sendiri | Tags: , ,

Dear Takita,

Saat bunda membaca surat dari Takita , bunda terus terang ingin agar suatu saat bisa bercerita pada Arsa, seseru suasana bercerita kepada Takita dan anak-anak lainnya

Bukan karena bunda tak memiliki waktu untuk bercerita, namun ada tantangan sendiri bagi bunda untuk bercerita pada Arsa, putra bunda tercinta. Karena walau Arsa sudah berusia 9 tahun, Arsa terlahir dengan spektrum autism yang memiliki keterbatasan komunikasi. Sehingga cerita untuk Arsa perlu disertai gambar untuk menjelaskan subyek dan obyek dalam cerita.

Belum lagi bila Arsa merasa tidak suka, ia akan marah dan rewel, sehingga sesi bercerita akan terhenti dengan sendirinya, dan perlu dilanjutkan di lain waktu.

Sebenarnya Arsa suka bila diceritakan dengan banyak gambar, karena ia anak yang visual. Maksudnya lebih mudah paham dengan bantuan visual, seperti gambar, foto, dll. Bagaimana dengan Takita ? Apakah Takita suka diceritakan dengan buku-buku yang banyak gambarnya?

Dengan bercerita, sebenarnya Arsa terbantu dengan banyaknya kata yang baru dikenalnya dari cerita bunda. Apakah Takita juga demikian? Pasti kamu akan semakin banyak mengenal kata-kata dan kalimat yang baru dari cerita-cerita orang tuamu…Dan lain kali saatnya kamu bercerita, pasti ayah bunda akan tercengang dengan banyaknya kata-kata yang sudah kamu kenal.

Hmmm…sebenarnya…seharusnya semua ayah bunda perlu yah bercerita pada putra-putrinya. Seperti yang dimimpikan Takita . Karena ternyata banyak sekali manfaatnya.

Teruslah mencereweti kami ya…teruslah mengingatkan
untuk bercerita…dan akhirnya membuatmu bercerita.

Teruslah semangat hingga mimpimu menjadi kenyataan.

Sekian dulu yah…

Bunda mau cari buku bergambar untuk diceritakan pada Arsa nanti.

 

Salam sayang,

Ivy – bunda Arsa

 

 

 



you don’t really belong there, but there you are..in this universe ~”ADAM”, a lonely man with Asperger’s Syndrome – the movie
16/12/2010, 4:12 am12
Filed under: catatan saya | Tags: , , , ,

Seorang teman pecinta film meminjamkanku sebuah film

ADAM judulnya, seorang dengan sindrom Asperger yang kesepian.

aku tak melewatkan tiap detik dan tiap momen film ini

karena apa yang dialami dan dirasakan Adam, aku tahu sekali

seorang mantan murid menyerupai dengan Adam

dan aku tahu tak mudah baginya melalui masa sekolah, apalagi beranjak dewasa

kini aku kembali pada hidupku

anakku memang bukan asperger, dan dia bukan Adam

walau mungkin mereka memiliki bias-bias spektrum yang ada di Autism Spectrum Disorder

memandanginya dan becermin pada apa yang dialami Adam, Continue reading



autis, asd dan putera saya
02/02/2010, 4:12 am02
Filed under: ngalamin sendiri | Tags: , ,

(sudah diedit dari catatan di FB ku)

“tanpa bermaksud apa-apa……atau menyinggung siapa-siapa”

Autis…kata dengan banyak persepsi….
‘eh autis lo…BB-an aja…FB kan aja… —- utk org yg sibuk BB dan FB
‘dia aneh ya…ga mau bergaul….ga mau kontak mata…autis kali…!!!!—-utk org yg tampak beda
dan kesulitan sosialisasi
‘wah kalo autis udah berat…sekolah kami nggak bisa terima…. —- utk anak yang belum bisa
ngomong, tampak aneh dan
dalam dunianya sendiri
‘kamu kok jadi autis —- julukan untuk org yg tiba-tiba
menyendiri dan ga peduli sama
yang lain

Autis adalah momok bagi orang tua…label menakutkan bagi sebagian orang karena merasa…
autis adalah akhir dari segalanya, masalah dari segala masalah. baca selengkapnya