yukberbagi!


Nilai Plus Plus Jika Orang Tua dan Anak Bergerak Bersama Menjawab Kebermanfaatan Internet

 

Ini Indonesia di tahun 2022!

Gulirkan tanganmu di layar ponsel sesuai kebutuhanmu saat ini … mau melihat orang-orang paruh baya sedang bicara apa, lihatlah di timeline Facebook.

Mau melihat citra visual yang memberi kenikmatan, tengok dan jelajahilah Instagram. Tak penting apakah hal tersebut settingan atau tidak.

Namun, bila dirimu hendak update hal-hal yang trending atau viral, apalagi dunia anak muda, eksplorasilah Twitter di mana cuitan akan terbarukan setiap detiknya.

Demikian catatan yang dihadapkan kepada saya sebagai orang tua, ketika memperbaru pengetahuan dan pemahaman tentang manfaat Internet terkait dengan media sosial baru-baru ini, ketika teknologi dan digitalisasi terus bergerak dan terbarukan.

Saya pribadi pernah berasumsi, TikTok yang lalu diikuti IG reels bakal melampaui popularitas Twitter. Ternyata kedua aplikasi tersebut tak serta-merta mengalihkan keseruan anak muda di aplikasi burung biru ‘berisi’ ini, apalagi ketika di rumah, di tempat publik, di kafe, IndiHome menjadi jawaban untuk mereka terus terhubung dan saling cuit.

Sumber : Pixabay

Hasil kajian Hootsuite, yang diulas Nata Connexindo,

https://www.nataconnexindo.com/blog/kenali-segmentasi-pengguna-media-sosial-agar-tidak-salah-pilih-target-pemasaran

mengungkapkan bahwa, pengguna Twitter di Indonesia mencapai jumlah hingga 10,65 juta orang yang membuat Indonesia menjadi negara ke 5 dengan pengguna Twitter terbesar di dunia dengan rentang umur 16-24 tahun merupakan yang mayoritas menggunakan platformnya. Fase usia yang sebagian terbilang generasi Z dengan karakteristik kuat digital native di mana aspek pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, bahkan hingga karakternya terbentuk dari hasil interaksi di ruang siber.

Tak heran, meski fitur yang disajikan Twitter terbatas 280 karakter , maksimum durasi video hanya 2 menitan, tampilan foto tanpa filter kecantikan visual Instagram, tetapi Twitter punya keunggulan menyajikan utas (thread) yang sering dinikmati sebagai bahan bacaan anak muda yang ditenggarai makin pendek rentang konsentrasi membacanya.

Beraneka utas yang bisa dipilih tak sekadar algoritma saja seperti aplikasi media sosial lain, tetapi tanpa disadari lama-lama punya kekuatan menyuarakan ‘sesuatu’.

Cuitan yang diawali “Twitter, please do your magic …. dstnya” kemudian bagaikan corong dengan kecepatan lebih, menggalang massa untuk bertindak. Bukankah hal itu saja segera mendeskripsikan sebuah gerakan, yang viral, yang menyatukan tujuan, walau dengan catatan tidak selalu benar. Bisa saja hal yang kemudian viral itu menjadi bahan untuk merundung seseorang secara beramai-ramai.

sumber : Pixabay

Sulutan emosi entah berdasar SARA, strata sosial maupun keberpihakan akan misi visi tertentu, termasuk politik; mempermudah membesarnya isu tersebut tanpa mampu dicegah lagi. Semudah administrator Twitter memenuhi permintaan pihak untuk nge-banned akun tertentu, semudah itu pula akun alter baru dibuat lagi.

Gerakan yang terjadi, baik maupun buruk dalam aplikasi Twitter ini bagai gerakan akar rumput, yang menyatukan aksi dari berbagai lokasi. Tak hanya di Twitter, media sosial lain pun punya efek negatifnya.

Namun, dibanding melencengnya gerakan tersebut menjadi negatif, manfaat Internet dalam menggerakkan hal lain yang lebih besar tak kalah implikasinya.

Pada koridor yang lebih formal, gerakan anak muda terealisasi dalam Youth 20 (Y20) yang menghubungkan antar negara dan lintas benua. Y20 merupakan wadah konsultasi resmi bagi para pemuda dari seluruh negara anggota G20 untuk dapat saling berdialog dan mendorong para pemuda sebagai pemimpin masa depan untuk meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan global, untuk bertukar ide, berargumen, bernegosiasi, hingga mencapai konsensus.

https://sherpag20indonesia.ekon.go.id/y20

Ketika Twitter meramu segala isu acak baik buruk, menjadi gerakan anak muda, Youth 20 ini lebih terpusat. Misalkan saja isu “Planet yang Berkelanjutan dan Layak Huni”, satu dari empat area prioritas Y20 Indonesia 2022, bersama tiga prioritas lainnya, yaitu Ketenagakerjaan Pemuda, Transformasi Digital, serta Keberagaman dan Inklusi.

Isu yang diolah dari pemahaman bahwa kesadaran anak muda sebagai generasi pewaris planet Bumi di tahun-tahun mendatang, penting memperjuangkan agar tetap menjadi tempat yang layak huni dan berkelanjutan termasuk masih memberi peluang pekerjaan, karir dan hidup mereka di masa datang.

sumber : Pexels

Masa yang kian rumit karena tak terbatas hanya kondisi bumi yang makin ringkih, tetapi juga dengan kebutuhan tenaga kerja yang menciut dan tergantikan oleh digitalisasi, serta ‘menghilangnya’ profesi yang dulu mungkin masih menjadi impian generasi Y maupun milenial, seperti akunting, auditor, data entry, operational manager maupun executive secretary, seperti diulas Bisnis Indonesia pada Edisi Weekly terbitan Minggu, 18 Juli 2021.

Lalu, bagaimana menyiasatinya? Di satu sisi kesigapan generasi Z bergegas dengan kemajuan teknologi internetnya Indonesia, perlu diimbangi dengan bagaimana agar kepekaan sosial dalam hal berkomunikasi, bersikap empati dan berkarakter tangguh , atau istilah anak sekarang, ‘tak kena mental’. Tentunya agar tak menjadi generasi rigid tanpa hal-hal manusiawi.

Hal manusiawi ini kemudian banyak dikenal sebagai soft skill yang menjadi cakupan literasi manusia, dan mampu mengedepankan generasi mendatang menjadi cultural agility global citizenship, yang di-Indonesia-kan menjadi warganegara dunia yang memiliki kelincahan dan kematangan kebudayaan.

Pertanyaan selanjutnya, siapa pihak yang paling berkepentingan dalam membentuk soft skill tersebut, terutama dalam mempersiapkannya menjadi agent perubahan?

Banyak pihak sontak sepakat menjawab orang tua. Namun, percepatan teknologi yang tak serta-merta mampu dikejar orang tua generasi ini, menjadikan mereka sedikit gagap dan tak mampu menjawab pertanyaan dan keingintahuan anak-anaknya, sehingga gap di antara keduanya menjadi kian besar saja.

Berkaca pada pengalaman pribadi penulis, yang baru mengikuti pelatihan bagaimana membuat kampanye sosial yang diselenggarakan campaign.com, tantangan terbesar tentu ketika diperkenalkan teknologi macam aplikasi slack, thinkific maupun padlet dimana saya perlu waktu lebih lama untuk memproses dan mengaplikasikan, dibanding peserta lain dengan usia yang lebih muda. Kadangkala saya juga berupaya mengelak dari share screen ketika sesi break out room webinar, lebih karena belum paham betul bagaimana caranya.

Kesimpulannya, kecepatan teknologi dan digitalisasi dari waktu ke waktu ini, memang perlu dikejar dan dipelajari bersama-sama antara orang tua dan anak. Dengan harapan, terbukanya ruang komunikasi yang timbal balik karena saling paham dan ada keinginan mau belajar, akan mampu memuluskan jalan generasi Z ini siap lahir batin menghadapi masa depan, yang tak selalu mampu diprediksi.

Tentu dengan catatan penting kepada orang tua, untuk tak gengsi belajar kepada yang lebih muda, tak sungkan bertanya bila ada yang tak dimengerti, dan tentu saja mau berusaha mengejar ketertinggalan agar tak makin lebar jurang perbedaannya. Karakter pembelajar yang sangat baik ini saja mampu menjadi role bagi anaknya sendiri, generasi di bawahnya, maupun dengan sesama orang tua.

sumber : Pexels

Pada akhirnya, keberadaan IndiHome produk Telkom Indonesia, telah menunjang digitalisasi dan teknologi sekian jauh untuk memenuhi kebutuhan dan bagian krusial dari kehidupan manusia Indonesia, tanpa bisa dielakkan.

Kita semua, ayah, ibu, anak, tanpa batasan usia, tak pelak lagi dituntut untuk menyesuaikan diri dan bisa mengikutinya dengan lebih bijak dan cerdas. Harapan yang semua orang kehendaki, bukan?



Tentang Konsensual

https://www.ghibahin.id/esai/mengapa-mengajarkan-konsensual-kepada-anak-anak/?amp=1



Parenting selama 2021 di seide.id

https://seide.id/efek-lain-pandemi-adiksi/

https://seide.id/komik-asterix-humor-stereotip-tanpa-sensitif/

https://seide.id/parenting-101-sekadar-bisa-membaca-atau-membaca-untuk-bisa/

https://seide.id/parenting-101-orangatua/

https://seide.id/selebrasi-ibu-setiap-hari/



Si Toksik yang Nggak Asyik, Sebuah Relationshit yang Tak Berharga – Neswa.id

https://neswa.id/artikel/si-toksik-yang-nggak-asyik-sebuah-relationshit-yang-tak-berharga/



Saat Konten Jadi Candu, Empati pun Luruh Satu-Satu

2002, saat itu saya hamil muda anak pertama. Saluran tv belum sebanyak sekarang, tapi semua serentak menayangkan musibah Bom Bali. Tiga kali ledakan di tempat berbeda dan menewaskan ratusan orang, terbanyak warganegara Australia.

Alih-alih berkabung, hampir tiap saat gelimpangan mayat yang dijejerkan di ruang mayat RS Sanglah terekspos hampir setiap menyalakan tv. Maksud hati hendak mengetahui perkembangan terkini, malah saya terus bersedih dan tentu saja muntah tak henti-henti. Bercampur aduk rasa mual karena hamil muda dan gundah melihat tayangan jenazah.

Itu hampir sembilanbelas tahun lalu. Saat belum ada Facebook yang baru muncul tahun 2004 atau Twitter di tahun 2006 dan Instagram di tahun 2010. Apalagi aplikasi chat semacam WhatsApp dan teman-temannya. Hanya SMS dan telepon yang menghubungkan satu sama lain.

Dunia jurnalisme pun masih belum jelas kode etiknya dalam memburamkan kondisi korban di media. Empat tahun kemudian, tahun 2016 barulah disahkan Kode Etik Jurnalistik yang pada pasal 2 dikatakan, Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Di mana cara-cara yang profesional salah satunya di poin f adalah menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara.

Bayangkanlah sendiri bagaimana rasanya sebagai keluarga korban saat menyalakan tv, di saat masa berkabung atau harap-harap cemas. Saat itu saya sempat mengunjungi teman sekantor di rumah sakit. Dia selamat namun dengan luka bakar yang levelnya perlu penanganan lebih lanjut sampai ke Australia. Mendengar bagaimana kisahnya terinjak injak, panik di antara luka-luka dan benda terbakar sampai lolos dari maut, mendengar rintih kesakitannya karena rasa panas pada luka bakar di sebagian tubuh membuat saya merasa begitu sedih dan tak tahu harus berkata apa.

Karenanya, saya sungguh takjub dan geram dengan postingan yang sedang hits beberapa hari ini terkait musibah Sriwijaya Air. Meski saya menelusuri satu platform media sosial saja yaitu instagram, namun konten yang beredar sudah di luar akal sehat dan tentu empati sebagai manusia.

Caption [pesawat blabla hilang kontak, pasti pilotnya kang ghosting nih…] atau [bayangin aja tadi mereka teriak-teriak di pesawat dan kita lagi scrol di tiktok] direspon dengan berbagi cara. Direpost berkali-kali bak info berharga.

Belum lagi berbagai konten cocoklogi (istilah untuk mencocok-cocokan berbagai hal) mulai dari nomor kode penerbangan dengan tanggal kejadian, lalu jitunya ramalan seorang seleb peramal, serta adanya tulisan nama yang menyerupai lafal Allah di goresan moncong pesawat. Bertambah lagi banyaknya postingan jualan yang mencomot tagar nomor kode penerbangan sebagai aji mumpung, agar orang yang mencari tagar bersangkutan siapa tahu ada yang akhirnya ‘nyangkut’ menjadi konsumen.

Meski teman saya bilang, itu bot atau sudah biasa untuk membeli like atau tagar, saya jadi prihatin. Produk jualan ini mulai dari t-shirt, kue, online store, injeksi vitamin kecantikan, properti sampai bantal couple kekinian.

Hoaks jangan ditanya lagi. Tentang rekaman video pesawat sebelum jatuh yang kemudian dilansir kenyataannya sebagai rekaman salah satu film komersil produksi China. Lalu hoaks tentang rekaman dari black box sebelum terjadi crash yang kemudian diklaim hal tersebut sebenarnya dari insiden kecelakaan pesawat Adam Air. Bahkan ada akun hoaks yang mengatasnamakan salah satu penumpang, yang herannya langsung melejitkan follower puluhan ribu.

Video-video wawancara keluarga korban, bahkan ada yang saat pengambilan sampai mengganggu privasi dan kenyamanan narasumber. Akun blogger @iniami memuat kutipan sbb, “Udah, udah ya Pak. Mata saya aduuh..,” kata Pak Yaman Zai merasa tidak nyaman dengan flash dari kamera yang disorot ke wajahnya, saat Beliau tengah sibuk menelpon dan sedang menangis karena kehilangan istri serta tiga anaknya dalam kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182. Kata Fahmi Aviani pemilik akun, bahkan tak ada yang menepuk-nepuk bahu, menenangkan atau memberi minum, malah sibuk berkerumun bertanya-tanya demi update.

Ternyata bukan hanya saya saja atau Fahmi Aviani yang geram. Akun @mwv.mystic malah membuat postingan yang menyesalkan ketololan mengekspos kesedihan termasuk liputan wawancara terhadap keluarga korban tentang adakah firasat, atau pesan terakhir, termasuk status terakhir Instagram, WhatsApp, atau bahkan apa yang ingin dikatakan bila ternyata almarhum/ah masih hidup.

Salah satu sahabat saya, seorang diver yang tak mau dipublikasikan namanya menuturkan pengalaman saat diajak menjadi relawan rescuer, menyelam di laut dalam saat musibah kapal tenggelam.
Dia menjawab pertanyaan saya, apakah dirinya dan tim terlarut kesedihan ketika melakukan tindakan SAR tersebut.

“Saat rescue semua pembicaraan bersifat teknis, setelahnya baru muncul perasaan-perasaan. Waktu itu kami melihat jenasah ibu dan anak, pikiran yang muncul sangat teknis; bagaimana mengangkat dengan minim kerusakan baik di area ditemukan maupun pada korban.” Katanya lagi, tentu sampai sebuah prosedur SAR dilakukan, koordinasi dan kerjasama termasuk peran pengemudi kapal karet pun menjadi penting; sebagai pengantar ke lokasi titik pencarian.

Kenyataannya, yang hendak diketahui publik saat ada musibah sejatinya adalah bagaimana progress proses pencarian, bagaimana support system yang perlu untuk mendukung proses evakuasi termasuk dukungan psikologis untuk keluarga korban.

“Bila lalu ada foto atau rekaman video tersebar saat liputan bencana, yang sering kali menyebarkan justru warga atau relawan atau tim terkait di lokasi; meski kadang ada juga oknum jurnalis yg nyebarin. Kalau jurnalis, jelas akan kena kode etik, diberi sanksi bahkan mungkin dicopot keanggotaan jurnalistiknya.” ungkap Nur Hidayah, salah seorang jurnalis di tirto.id kepada saya.

Belajar dari Jepang, koresponden senior NHK Kenji Sugai pada pre summit workshop, Pertemuan Media Untuk Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana yang diadakan di Jakarta tahun 2014; pada saat bencana yang terjadi adalah liputan yang bertujuan mendukung operasi penyelamatan dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi berdasarkan kerusakan.

Dia mencontohkan, seperti saat gempa bumi 11 Maret 2011 yang disusul tsunami, saat terjadi getaran gempa semua saluran akan berubah pada penyiaran darurat dan menginformasikan langsung ke masyarakat. Tidak ada saluran yang lalu mengekspos kesedihan atau drama di antaranya. Sehingga semua pihak fokus untuk informasi akurat dan bagaimana penanganan setelahnya.

Saya jadi merenung. Berpikir keras mengapa akun-akun yang seenaknya mencari konten demi menaikkan follower ini sudah mati akal sehat dan empatinya? Lalu bagaimana dengan netizen yang lalu merepost, like dan membagikan ulang di platform media sosial lain?

Bisakah kita katakan, akan lebih menantang lagi untuk bicara toleransi dengan orang-orang ini? Karena di salah satu postingan, malah ada netizen mencuatkan komen, [semoga penumpang **********(beragama tertentu) diampuni dan mendapatkan pahala mati ******** (istilah meninggal dalam keadaan suci) ].
Komentar itu seolah membenarkan korban beragama lain tak perlulah dihargai sebagai sesama manusia.

Begitu juga dengan judul-judul yang menunjukkan unsur kedaerahan crew pesawat dan penumpang, sangat tak bisa dipahami apa maksud dan tujuannya. Bagi saya, siapapun dia, dari mana asalnya, apapun agamanya, adalah korban yang sudah berpulang lebih dulu karena musibah kecelakaan dan kita selayaknya berbelasungkawa sebagai sesama.

Jujur saja, dari sebuah insiden di awal tahun ini; kita jadi semakin sadar bahwa toleransi masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang belum kunjung selesai.

Definisi empati menurut kbbi : em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;

Referensi :
“KODE ETIK JURNALISTIK”, https://tirto.id/8Nb.

https://aji.or.id/read/kode-etik.html
https://m.antaranews.com/berita/437977/belajar-peliputan-bencana-dari-media-jepang