yukberbagi!


#NAD_Battle 2021 – History fiction
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021

#PASUKAN_ASTERIX

#CHALLENGE_1

Jumlah kata: 1299

Musim Gugur di Warsawa

(Dia yang Memilih Mati Sebelum Perang Dimulai)

Dini hari yang dingin. Semalam suhu turun di bawah sepuluh derajat. Joseph merapatkan mantel wol menutupi seragamnya. Di depannya, beberapa baris orang berbaju motif garis-garis berjalan melawan angin yang menderu. Meski tak sekencang biasanya, embusan angin telah membuat gemeretuk gigi silih berganti dengan gesekan langkah kaki dan guguran daun maple di musim gugur tahun itu.

Tentu bukan bunyi-bunyian yang indah di telinga Joseph. Bukan pertama kalinya, ia menggiring remaja-remaja ini masuk ke Sachsenhausen -kamp konsentrasi untuk tahanan politik dan kaum Yahudi- berjarak tigapuluh empat kilometer dari Berlin. Ini bagian tugasnya sebagai Jugend (tentara remaja Jerman) yang direkrut sejak kanak-kanak.

Joseph tak bisa menolak ketika direkrut Jugend di usia sepuluh tahun. Menolak berarti nasibnya seperti Max Ebel, salah seorang temannya yang dilecehkan dan diserang anggota Jugend sampai bersimbah darah. Sempat ia mencari dan bertanya-tanya, mengapa sejak hari itu Ebel tak pernah menampakkan dirinya.

Sebagai Jugend, Joseph dan tentara anak Jerman lain selalu dicekoki bahwa menangkap orang Yahudi adalah tugas mereka. Awalnya, Joseph kecil masih mengikuti kegiatan alam liar yang ditawarkan dengan senang. Seperti yang dilakukannya dulu bersama teman-teman Yahudinya, Schneider dan Ernst. Mereka sering bermain bola bersama karena tinggal bertetangga.
Mereka juga kerap kali berkemah dan membuat api unggun di pinggir sungai saat bulan purnama.

Pernah Joseph terpeleset dan nyaris tenggelam di sungai saat berusaha menangkap ikan. Schneider yang bertubuh gempal ternyata mampu menolongnya. Beberapa saat sebelum Joseph kehabisan napas, tangan Schneider menariknya membawa ke pinggir. Kejadian itu takkan pernah dilupakan Joseph.

Semakin lama Joseph di Jugend -seiring ia bertumbuh menjadi remaja- kegiatan alam liar tak ada lagi. Kini Joseph dan teman remaja lain dilatih menggunakan berbagai senjata serta bagaimana berkelahi dan menyerang orang. Segala aktivitas itu membuat Joseph sering pusing sampai memuntahkan isi perutnya, karena merasa tertekan.

Matahari semakin tinggi saat Joseph dan rombongan besar itu mendekati Sachsenhausen. Sungguh pemandangan yang kontras. Josep dan skuad Jugend terlihat gagah berbaris, namun para remaja calon penghuni kamp sudah terseok-seok menyeret kaki mereka. Beberapa yang lain malah sudah berjalan limbung nyaris jatuh.

Saat tembok putih di tengah lapangan yang sangat luas dan dikelilingi pagar kawat berduri itu terlihat jelas di depan mata, satu persatu dari mereka mulai berjatuhan. Joseph mengusap matanya yang tiba-tiba basah. Merasa sedih karena Schneider, sahabat sekaligus penolongnya dulu, entah masih bertahan atau tidak.

“Seret saja mereka. Kaum lemah, percuma otakmu pintar kalau fisikmu payah. Seret … seret, ayo Rudolf, Hugo, Anton, Joseph seret mereka!” suara Franz pimpinan skuad Jugend mengejutkan Joseph. Meski terpaksa, Joseph menyeret juga salah seorang remaja yang mirip sekali perawakannya dengan Schneider.

Wajah Joseph mulai memerah menahan amarah. Sejak Franz menjemput paksa Schneider, menyeretnya ke luar rumah (ibu Schneider sampai memohon-mohon ampun), menendangnya berkali-kali sebelum dimasukkan dalam truk, rasa marah itu tak bisa Joseph sembunyikan. Bahkan saat ini, ketika tentara SS (pasukan khusus intelijen Jerman) menertawai aksi seret menyeret itu, Joseph sudah ingin melayangkan tinju ke arah mereka.

Joseph sering marah pada dirinya yang tak bisa menolong Schneider dan remaja-remaja Yahudi lainnya yang masuk kamp ini. Sering ia sengaja melukai daging lengannya dengan pisau atau coba-coba menjerat lehernya saat sendiri di barak. Joseph merasa dirinya sudah ‘mati’ seperti mereka yang tak bisa keluar dari Sachsenhausen karena ditembak atau jadi sasaran tembak tentara SS, mati kelaparan atau sakit keras akibat kondisi kamp yang sempit dan buruk.

Ketika semua tawanan sudah masuk bangunan khusus orang Yahudi dan pintu dikunci, Joseph dan teman-teman skuadnya yang berjumlah empat puluh berkumpul di tengah lapangan.

“Die Armee, ini adalah misi terakhir kita mengantar tawanan. Setelah ini kita akan menuju perbatasan untuk latihan intensif taktik Blitzkrieg, persiapan menuju Danzig. Kita akan buktikan pada Jenderal Heinz Guderian, Polandia bisa kita kuasai. Jerman akan menjadi kekuatan yang hebat di dunia. Jerman hari ini, dunia esok hari!” teriak Franz sontak disambut seruan seluruh anggota skuad.

Hanya Joseph yang mengangkat senjatanya saja tanpa ikut berseru. Perasaan benci sekaligus sedih campur aduk menjadi satu. Joseph menengok lagi ke arah pintu bangunan. Terbayang Schneider menoleh dan berkata lewat gerak mulutnya. “Das kannst du besser” -kamu dapat melakukannya lebih baik lagi- sebelum ia didorong Hugo masuk ke balik pintu itu.

Andai Joseph berani berlari ke arah pintu dan menarik Schneider, mereka masih bersama-sama meski mungkin langsung tertembak mati, saat itu juga. Namun ia hanya mampu mengepalkan tangan dan menghentak-hentakkan kaki saja hingga guguran daun berhamburan ke udara.

Saat ransum makan siang dibagikan, Joseph merasa nafsu makannya lenyap. Padahal perjalanan berpuluh kilometer itu sudah merampas tenaganya apalagi dengan rasa amarah yang makin membesar. Joseph berusaha menelan beberapa potong sosis bersaus rempah.

Biasanya beberapa anggota skuad mencoba mengajaknya berbicara saat makan seperti itu. Namun beberapa yang lain seperti Hugo, Rudolf dan Anton selalu mengolok-oloknya, sambil melempari tulang ayam, biji buah hingga kentang rebus yang masih panas.

Si bisu tukang marah menjadi julukan Joseph sejak ia mengunci mulut rapat-rapat usai Schneider diperlakukan semena-mena. Joseph menjawab seperlunya terutama bila ditanya Franz, hanya karena ia pimpinan skuad semata.

Sore berganti malam, malam berganti pagi dan seterusnya. Skuad Joseph sudah bergerak mendekati Danzig. Masih sempat Joseph mendengar Franz berbicara dengan pimpinan skuad lain saat bertemu di jalan.

“Tentara kita nanti muncul dari seluruh penjuru Polandia. Di timur lewat Prusia, di wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Jerman, di selatan lewat Silesia dan dibantu pasukan Slovakia. Pesawat Luftwaffe akan membombardir Wielun, dan kita tentu saja Jugend muda dan berbahaya akan menyerang Danzig, bersamaan dengan kapal Schleswig-Holstein melepaskan tembakan ke posko transit.”

Tampak Franz juga menerima operan sekarung ransum cukup berat dan bersuara dentingan botol yang diserahkan kepada skuad pembawa perbekalan. Joseph segera tahu, akan ada acara minum-minum untuk mengobati kelelahan serta stres akibat perjalanan melintasi perbatasan Jerman dan Polandia, paling tidak tiga atau dua hari sebelum penyerangan.

Semua informasi itu digambar Joseph di buku kecil yang sudah menemaninya selama ini. Dituliskannya tanggal-tanggal menuju Danzig, dan apa saja kira-kira kegiatan mereka tiap hari, termasuk rencana yang telah lama dipikirkannya.

Tiga malam sebelum penyerangan, makan malam berlangsung biasa. Joseph pun tidak bertindak apa-apa.

30 Agustus 1939, dua malam sebelum penyerangan ke Danzig.

Latihan penyerangan terakhir ternyata begitu melelahkan seluruh anggota skuad, termasuk Joseph. Seluruh badannya terasa sakit dan nyeri.
Sebelum waktu makan, Joseph menyempatkan diri membuka lagi catatannya dan menulis nama Schneider. Pisau Jugend miliknya sudah diselipkan di celah antara bot dan celana panjangnya.

Ketika makan malam berakhir, Joseph melihat Franz mulai membuka beberapa botol Moët & Chandon lalu menawarkan minuman memabukkan itu kepada seluruh anggota skuad. Semua bersorak kesenangan, kecuali Joseph.

“Ah, dia … si bisu tak akan mau. Nanti mabuk, dia marah-marah kepada kita!” seru Hugo yang disambut tawa anggota skuad yang lain.

Joseph hanya mendengkus dan sengaja keluar tenda karena tak mau berlama-lama di antara mereka yang mabuk. Menit demi menit berlalu, Joseph masih menunggu untuk beraksi. Pisau bertuliskan “Blut und Ehre!” sudah di tangannya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Peluh juga mulai bercucuran meski yang disasar hanya Franz seorang saja.

Setelah menggoroknya nanti, Joseph berniat merampas pistol Luger P08 milik Franz untuk menghabisi nyawanya sendiri.

Tak perlu menunggu lama aroma minuman keras mulai menguar sampai ke luar tenda. Satu persatu anggota skuad mulai melorot rebah ke lantai. Suara tubuh berjatuhan terdengar silih berganti. Sementara Franz, Hugo, Rudolf dan Anton tertawa-tawa dengan badan yang mulai limbung.

Joseph merasa sudah saatnya. Setengah berteriak ia memanggil Franz ke luar tenda. Sambil tertawa-tawa Franz menghampiri Joseph.

“Ada apa? Was ist passiert? Kenapa tidak ikut minum. A-a-ay-yo mi-mi ….”
Suaranya terhenti bersamaan dengan ambruk tubuhnya lewat gorokan Joseph.

Kepiawaian Joseph menggunakan pisau yang dipuji-puji Franz saat latihan dulu, malah kini menghilangkan nyawanya.

Tak satu pun anggota skuad yang menyadari. Semua sudah benar-benar mabuk saat itu. Ketika pelatuk Luger P08 di tangan Joseph menerjang pelipisnya sendiri, terlihat cahaya putih dengan bayangan Schneider dan bola di tangannya.

“Das kannst du besser”
Kini Joseph dan Schneider sudah bersama-sama lagi.

——
1. Das kannst du besser : kamu dapat melakukannya lebih baik lagi
2. Die Armee : tentaraku
3. Blut und Ehre! : darah dan kehormatan
4. Was ist passiert : apa yang terjadi?

Yogyakarta, 6 Februari 2021



#NAD_Battle 2021 – Cerita Silat
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , , ,

Disclaimer : Tidak disarankan untuk pembaca yang belum dewasa.

#NAD_BATTLE_2021
#PASUKAN_ASTERIX
#CHALLENGE_2
#BABADTANAHPUDYA

INTAN RAKAMALA

Judul : Lika Liku Luka Laksmi
Tokoh : Laksmi
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2096

18+

Rinai gerimis malam itu, mengawal pertemuan kesekian antara Laksmi dan Lohat. Di belakang rumah batu penyimpanan besi-besi sisa membuat senjata, tempat terbaik yang tak akan diketahui oleh siapa pun.

Laksmi melihat Lohat tengah membelakangi pintu. Perlahan ia mendekati lelaki gagah itu, memeluk tubuhnya dari belakang. Aroma cendana dan kayu manis dari tubuh Laksmi menguar memenuhi ruangan seketika.

Laksmi mengecup berulang kali tengkuk Lohat, menyebabkan napas lelaki itu mulai memburu. Jari jemari Laksmi langsung menyusup ke dalam pakaian Lohat dan bergerak menelusuri perut dan pinggangnya. Dengan sekali hentak Laksmi menarik ujung pakaian Lohat dan melepaskannya.

Tampak tubuh Lohat bergetar. Dengan cepat ia memutar tubuhnya yang sudah setengah telanjang untuk merangkul Laksmi.

Laksmi mendesah. Tangan kanan Lohat mengangkat dagu Laksmi dengan lembut. Seraut wajah menawan Laksmi yang membuatnya tergila-gila kini tepat di hadapannya begitu dekat. Mata cokelat keemasan, hidung bangir dan bibir ranumnya sangat membangkitkan gairah Lohat untuk menaklukkannya.

Jari jemari Lohat membelai rambut Laksmi yang harum.
Laksmi melirikkan mata dan menarik sudut bibirnya membentuk lesung pipi yang kian menggugah birahi Lohat.

Lohat terpukau menatapnya. Dengan ibu jari, diusapnya bibir ranum itu sebelum kemudian mencecapnya. Sekali, dua kali, disambung saling melumat antara keduanya. Lidah-lidah mereka bertaut bertukar ludah. Gelinjang tubuh Laksmi, desah napas Lohat bagaikan pertarungan birahi dan rindu yang tertuntaskan.

Tiba-tiba Laksmi menarik bibirnya. Lohat terkejut dan menatapnya.
Sambil mengatur napas yang tersengal,
“Ka-kan-da, ka-kanda … tolong berhenti dulu. Bukankah malam ini kita hendak berbincang-bincang?”

Lohat hanya tertawa menggelengkan kepalanya. Lelaki itu lalu menyurukkan kepalanya antara leher dan dada Laksmi.
Ia mendesis. “Pssttttt … Dinda terlalu menawan hanya untuk berbincang.”

Napas Lohat makin memburu. Laksmi sangat tahu, perbincangan ini lagi-lagi akan tertunda. Desakan birahi Lohat sudah tak tertahan lagi.

Jari jemari lentik Laksmi mulai mengusap janggut kasar lelaki itu, menelusuri rahang lalu membelai bahunya yang bidang. Lohat mendesah.

Bibir Lohat mulai menjelajahi dan menelusuri kulit cokelat kemerahan Laksmi yang terlihat berkilau dalam cahaya lentera. Laksmi sendiri terseret dalam pusaran birahi.

Suara gerimis berubah semakin deras. Waktu seakan terhenti saat keduanya saling bergumul untuk meraih puncak kenikmatan duniawi bersama-sama.

Fajar pun datang. Secercah sinar menelusup melalui sela-sela atap di ruangan itu.
Laksmi bergegas memunguti pakaian, yang terlempar berserakan di lantai.

Baru saja Laksmi hendak beranjak, dehaman Lohat mengejutkannya.
“Tak mau mengucapkan selamat tinggal, Laksmi? Mengapa Dinda begitu terburu-buru? Bukankah semalam Dinda mengatakan hendak berbincang?”

Laksmi hanya tersenyum dan menatapnya lekat.
“Kanda, Dinda hanya ingin menagih janji untuk selalu menjaga Dinda dan adik Lekha. Kanda juga berjanji untuk menolak perintah Raja Ranajaya dan Aji Wura. Dinda tak mau kaum Pandya berperang. Dinda tak mau Kanda sampai terluka.”

Lohat tak menjawab, melainkan merengkuh tubuh Laksmi kembali ke pangkuannya. Mereka larut dalam peluk cium penuh gairah.

Namun, Laksmi tak mau terlarut, meski Lohat menciumi tanpa henti. Ia melepaskan diri dan merapikan pakaiannya. “Ka-kanda, ini sudah pagi. Sebentar lagi para pandai besi akan ke sini. Dinda juga sudah ditunggu Lekha di rumah. Dinda pulang dulu. Tolong janji Kanda ditepati.”

Begitu terlepas, tangan kanan Laksmi melambai pamit, tangan kirinya sudah disusupi sekantong kain berisi puluhan keping lukaya, mata uang Kota Yamun. Laksmi tersenyum lagi.

Senyuman itu kembali mengguncang hati Lohat. Ingin ia mengejar, merengkuh, melumat habis tubuh molek perempuan yang sepantar Linakandi, putrinya.

Akan tetapi, kakinya segera terpaku, ketika suara-suara beberapa orang pandai besi mulai ramai terdengar.

Laksmi berjalan cepat ke arah berlawanan dari pandai besi yang mulai berdatangan. Sambil menyelubungi kepalanya dengan selendang, Laksmi bergegas-gegas. Ia harus segera pulang. Ia mempercepat langkahnya. Ia berlari, berlari, dan terus berlari ….

=====

Laksmi bangun dan terkejut. Bulir-bulir peluh menetes dari pelipisnya. Kenangan bersama Lohat beberapa waktu lalu selalu muncul dan muncul lagi. Sudah beberapa lama, mimpinya selalu sama. Asyik masyuk mereka yang pada kenyataannya hanya diketahui Lekha selalu saja nyaris dipergoki para pandai besi, dalam mimpi itu.

Secercah cahaya menyelinap melalui tirai jendela kamar Laksmi. Senja telah datang, tanda ia harus bersiap. Malam ini ada seorang tua yang ingin menemuinya. Pesan itu disampaikan lewat Lekha, yang ditemui sepulang dari rumah Nyai Lodya, tabib kaum Pandya yang tersohor. Katanya orang itu adalah Langkerta salah satu tetua kaum Pandya.

Ah, mengapa orang itu hendak menemuinya, apakah hubungannya dengan Lohat sudah mulai terendus. Sial, Lohat lagi Lohat lagi. Mengapa sosok lelaki itu begitu menghantuinya.

Laksmi mendesah dan mulai menyisir rambutnya lalu memercikkan beberapa tetes minyak cendana dan kayu manis. Ia juga menepukkan serbuk Angglang Amaranggana beberapa kali, rahasia kehalusan wajahnya campuran butiran emas dan air mantra.

Ia memandang wajahnya pada cermin oval warisan mendiang ibunya dulu. Tampak seraut wajah yang pernah Laksmi kutuki sendiri.

Tak heran, setiap ia berangkat menuju area tambang batu mulia dulu; meski pakaiannya tertutup dari leher hingga kaki, rambut diselubungi selendang panjang yang juga menutupi sebagian wajahnya, setiap lelaki yang bertemu akan segera mengulurkan tangan mereka untuk menjamah Laksmi. Aura kecantikan Laksmi selalu terpancar, meski tertutup pakaian apapun.

Laksmi ingin meludahi, menampar dan memukul saat mereka menjamahnya. Namun, ia terpaksa mengurungkan niat untuk melakukannya agar bisa tetap mengais serpihan batu mulia di antara mereka.

Ayah Laksmi dan Lekha telah meninggal bertahun-tahun silam, saat kerja paksa membuat saluran air dari Danau Soga ke kota Yamun di masa pemerintahan Raja Narwastu —ayahanda raja yang memerintah sekarang.

Sejak saat itu, Laksmi dan Lekha jatuh miskin. Ia harus meminta bantuan sana sini, termasuk kepada Nyimas Lindu. Perempuan terkaya Kota Yamun, pemilik Sanggraloka Sedelinggam.

Meski mereka berdua telah menghaturkan sembah, menangis, dan mencium kaki untuk mengerjakan apa saja di Sanggraloka Sedelinggam, Nyimas Lindu bergeming. Wanita culas itu hanya menatap Laksmi dan Lekha, tanpa bicara apa-apa.

Ia hanya melemparkan beberapa keping lukaya tanpa menghiraukan air mata kedua gadis tersebut

Mengingat kenangan itu, menimbulkan rasa perih di dada Laksmi.
Ia lalu bertahan hidup dengan menjadi pengais di sekitar area tambang. Serpihan demi serpihan intan, emas dan batu mulia dikumpulkannya lalu dijual untuk menyambung hidupnya dan adiknya.

Sampai suatu saat, seorang lelaki datang menghampiri. Ia menyodorkan sekantong kain yang tampak berat dan berbunyi gemerincing.

“Apa benar namamu, Laksmi? Aku Lohat! Mungkin Adinda pernah mendengar namaku. Ayah dan Ibumu adalah tetanggaku dulu. Laksmi, sayang sekali perempuan rupawan sepertimu harus mengais serpihan logam mulia untuk menyambung hidup. Bagaimana jika Adinda menemani malam-malam Kakanda saja? Datanglah ke belakang rumah batu penyimpanan besi-besi sisa pembuatan senjata, milikku. Letaknya di ujung bukit sana. Berhiaslah yang cantik, Kakanda akan menunggumu.” Lohat tak menunggu Laksmi menjawab. Ia berbalik badan, meninggalkannya.

Laksmi terlalu terkejut untuk berkata-kata. Ia bukan perempuan bodoh yang tidak mengetahui maksud Lohat, pemimpin kaum Pandya. Ditimbang-timbangnya kantong koin lukaya itu lalu membuka pengikatnya. Laksmi terbelalak melihat ratusan keping lukaya, yang berarti ia dan Lekha bisa menyambung hidup selama berbulan-bulan.

Sesampainya di rumah, Laksmi berpikir langkah apa yang akan dipilihnya. Tetap mengais serpihan sisa batu mulia, dengan ingatan mengerikan jamahan lelaki yang tergoda melihat paras wajahnya, atau memilih menjual diri pada Lohat yang sepantar mendiang ayahnya. Keduanya tak sama bagusnya.

Keduanya sama-sama meruntuhkan harga dirinya sebagai perempuan. Terbayang apa kata-kata rakyat kaum Pandya jika mengetahui hal itu: ‘Sudah miskin, melacur pula. Dasar perempuan sundal. Terkutuklah segala kecantikanmu.’

Akhirnya Laksmi memilih menjadi kekasih gelap Lohat. Kantong keping-keping lukaya dari lelaki itu menjamin kelangsungan hidupnya dan Lekha.

Namun, makin Laksmi larut dalam percintaan terlarang itu, makin khawatir pula jika suatu saat Lohat akan meninggalkannya karena ia tak lagi cantik dan menarik seperti gadis remaja.

Laksmi tak pernah lagi ke area tambang untuk mengais serpihan. Kalau dulu ia menjual serpihan batu mulia demi menyambung hidup, kini ia membeli segenggam emas untuk diberikan kepada Nyai Lodya, tabib tersohor Kota Yamun.

Melalui Lekha adiknya, Laksmi memohon Nyai Lodya membuatkan bedak Angglang Amaranggana yang membuat kecantikan Laksmi awet sepanjang hidupnya. Laksmi juga meminta Nyai Lodya membuatkan jamu Rameteng Jo Mlendung untuk mencegah Laksmi hamil.

Bagaimanapun Laksmi tak mau terbebani akan kehadiran anak antara dirinya dengan Lohat. Lelaki itu hanya sumber pundi kekayaan baginya untuk bisa terus bertahan hidup.

“Kak Laksmi, mengapa engkau belum bersiap?” Suara Lekha mengejutkan lamunan panjang Laksmi.

“Sudah, aku hanya tinggal berganti pakaian saja. Kau tak usah khawatir, Lekha,” jawab Laksmi.

“Ya, Kak. Ingatlah kau harus menemui Langkerta di rumahnya. Ia mengatakan akan membicarakan hal yang sangat penting, terutama untuk hidup kita. Tapi, mengapa aku punya firasat buruk?”

Mendengar hal itu, Laksmi makin khawatir. “Lekha, jika hingga larut nanti, aku belum kembali, susullah aku ke Pedepokan Wesi.”

Mencoba menepis kecemasannya, Laksmi segera berangkat setelah berpamitan pada Lekha.

Sang surya telah turun dari peraduan. Laksmi berjalan ke arah Barat menuju rumah Langkerta. Suasana begitu sepi seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia pun bergidik merasa ada yang tak beres.

Laksmi berdiri dengan gelisah, berjalan bolak balik di dekat pintu.
Terlihatlah sesosok lelaki berjalan pelan ke arahnya. Rambutnya panjang dengan warna keperakan. Tak salah lagi ia pasti Langkerta, sesepuh Widura.

Begitu keduanya saling berhadapan, Laksmi melihat seorang tua dengan kerutan-kerutan di wajahnya.

Segera Laksmi menghaturkan sembah dengan berlutut dihadapan Langkerta, tanda hormat kepada sesepuh kaum Pandya itu.

“Anakku Laksmi, kukira kau tak akan datang. Aku hendak membicarakan sesuatu yang penting. Bangunlah, Nak, tak baik kau berlutut terus di hadapanku.”

Laksmi pun bangkit

“Anakku, aku hendak bertanya kepadamu. Apakah benar kau menjalin hubungan dengan Lohat, pimpinan kaum Pandya?”

Disergap pertanyaan itu, Lasmi tergagap. “Ehm … ehm … Be-benar, Guru!”

“Kau tahu apa akibatnya bila hal ini diketahui rakyat kaum Pandya apalagi sampai ke telinga raja. Kau telah memberi aib, kutukan bagi kaum kita.”

Mendengar perkataan itu, Laksmi menatap Langkerta tanpa berkedip.
Rasa hormat tadi kini berangsur menjadi benci.

Air mata Laksmi mulai mengalir. Tak disangkanya, mimpi buruknya menjadi kenyataan.

“Simpan air matamu, Laksmi. Perempuan sepertimu tak pantas menangisi perbuatan zinahmu dengan Lohat. Kau tak lebih dari pendosa yang seharusnya pergi dari Yamun. Hubungan gelapmu dengan lelaki yang lebih pantas menjadi ayahmu memberi aib bagi kaum Pandya.”

Laksmi tak menjawab, ia terduduk bersimpuh di tanah dengan air mata yang terus keluar tanpa bisa ditahan.

“Kau tak ada bedanya dengan Lohat, perempuan bodoh. Sama-sama pengkhianat, sama-sama penista kaum Pandya!”

Laksmi terperangah. Lohat berkhianat? Kepada siapa? Ia pemimpin yang baik, yang Laksmi kenal.

“Kau tak percaya bahwa Lohat juga berkhianat? Sini … ikut denganku ke Pedepokan Wesi. Lihatlah apa yang Lohat lakukan.” Suara Langkerta meninggi, bersamaan dengan tangannya menarik Laksmi bangkit.

Suara hujan yang mulai turun bersamaan dengan jantung Laksmi yang mulai berdegup kencang melihat banyak prajurit kerajaan Widura berkeliaran.

Dengan tak sabar Langkerta makin kuat menyeret tangan Laksmi menuju Pedepokan Wesi. Laksmi merasa sakit di pergelangan tangan dan kedua kakinya. Ia tak tahu, cairan apa yang mulai mengalir di sepanjang kakinya. Apakah ia berdarah? Ataukah itu air dari hujan yang begitu deras?

“Perempuan bodoh, dengar baik-baik. Saat bertemu Lohat nanti, kau harus tersenyum dan menahan air matamu. Kalau tidak, kau sudah tahu akibatnya.”

Laksmi semakin ketakutan. Apalagi makin mereka mendekati Pedepokan Wesi, terdengar keributan, dentingan senjata, teriakan teriakan yang makin menjadi-jadi dari dalam.

‘Lekha, Lekha tolonggg datanglah! Selamatkan aku’. Laksmi memanggil adiknya dalam hatinya.

Laksmi nyaris terjerembab ke depan didorong keras oleh Langkerta. “Ayo berdiri! Tunjukkan bahwa kau datang dan menemui Lohat.”

Baru saja ia menegakkan tubuhnya yang limbung, dilihatnya sosok Lohat tengah diseret prajurit kerajaan. Laksmi terkesiap, ingin sekali menghampiri kekasihnya itu. Namun ancaman Langkerta tadi mengurungkan niatnya.

Ia pun menyembunyikan perasaannya dengan mencoba berdiri seperti menunggu. Senyuman manis yang digilai Lohat pun disunggingkannya.

Mata mereka bersirobok. Ada rasa yang ingin diungkapkan keduanya.

Akan tetapi, prajurit-prajurit Widura kembali menyeret Lohat, menerobos hujan yang semakin deras.

Laksmi beringsut, berniat mengejarnya. Ia belum mengerti apa yang terjadi. Mengapa Lohat dibawa tentara, mengapa ia terluka?

Melihat Laksmi berniat mengejar Lohat, Langkerta menarik tubuh Laksmi lalu mendorongnya lebih keras dari tadi hingga ia tersungkur, jatuh ke tanah.

“Kau bodoh, Laksmi. Lohat tak akan bisa melawan perintah Raja. Ia telah berkhianat pada Widura. Ia tak pantas memimpin kaum Pandya. Apalagi ia berbuat nista dengan perempuan kotor sepertimu.” Suara Langkerta tiba-tiba lantang terdengar di antara gemuruh hujan.

“Kau menipu aku. Apa salah Lohat? Apa salahku, hingga kau begitu membenciku?” teriak Laksmi di antara tangisnya.

Langkerta mulai tertawa keras, badannya sampai terguncang saking kerasnya. Suara tawa itu menusuk-nusuk gendang telinga Laksmi.

“Apa salahku kepadamu? Aku perempuan miskin yang kalian tinggalkan saat ayahku mati waktu membangun saluran air kota ini. Kemana kaum Pandya saat aku dan adikku mencari sesuap makan? Kalian para pandai besi malah menikmati menjamah tubuhku saat mengais rejeki di tambang. Lalu, apa salahku menghidupi diri? Aku tak minta uang kalian, tak mengganggu keluarga kalian.”

Langkerta menjadi marah mendengar perkataan Laksmi. “Tak tahu malu kau Laksmi! Perempuan sepertimu, yang mencari uang dengan menjual tubuh, tak pantas hidup di sini, di antara kaum Pandya. Jangan banyak bicara kamu pendosa!”

Tiba-tiba Laksmi merasa sebilah benda tajam menusuk lehernya. Darah Laksmi menyembur deras diiringi suara petir yang menggelegar.

Sesaat sebelum Laksmi jatuh terkulai dan menutup matanya, di antara derai hujan ia melihat sosok Lekha yang berlari tergesa menghampirinya.

Lekha datang terlambat tanpa sempat menolongnya.

Yamun, malam terakhir



#NAD_Battle 2021 – horror
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , ,

#NAD_BATTLE_2021
#Pasukan_Asterix
#Challenge_4
#Shaken

18+

Disclaimer : Nama dan peristiwa semua fiktif. Lokasi dan benda-benda hanya pendukung cerita, penulis tak bermaksud menyinggung pihak tertentu.
Cerita ini mengandung kekerasan, tidak disarankan untuk pembaca di bawah usia 18 tahun.

Night at the Fort Rotterdam
Judul : The Last ‘Live’
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1641

Ruri menghela napas. Untuk kesekian kalinya gadis mungil berambut sebahu itu mendapatkan tantangan semacam ini.

“Kalo berani gue tunggu di Rotterdam pas acara komunitas vlogger, iya … kalo nyali elo gede,” komen Bram pada konten baru IGtv-nya.

Di satu sisi, ia merasa tak ingin menanggapi apalagi tahu Bram hanya iseng menulis komen itu. Bram, sahabat sejak SMA yang jarang bersikap serius tetapi juga partner asyik berbagi pengalaman seru setiap mereka pergi bersama.

Akan tetapi, Bram sudah menyatakan tantangan terbuka di komen, yang berarti telah dibaca dan mendapat dukungan banyak followernya. Bagi Ruri, berhasil melalui tantangan yang diberikan memberi kepuasan tersendiri.

Berapa banyak perjalanan dan pengalaman seru yang justru ia dapatkan karena menerima tantangan dari followersnya. Semua tanpa mengeluarkan uang sedikit pun. Tak hanya itu Ruri sering mendapatkan uang saku serta di-endorse produk online store untuk dipakainya setiap kali melakukan live.

Meski merasa deg-degan dengan apa tantangan yang nanti menunggunya di Rotterdam, Ruri mencoba menelusuri laman-laman yang menjelaskan tentang benteng tersebut.

——————-
Fort Rotterdam, pukul 18.45

Sialan, pikir Ruri sambil melihat sekeliling area depan benteng dan sesekali mengecek jam tangannya. Betisnya sudah pegal usai berkeliling mencari spot terbaik dan merekam keindahan sunset tadi tetapi Bram belum muncul juga.

“Kebiasaan!” Ruri merutuk dan menendang kerikil kecil dekatnya.

“ Eitsss. What’s wrong, Ruri? Are you angry with me?” Bram muncul dengan hoodie cokelat dan celana denim hitam mendekati dan langsung menghentakkan kaki di hadapannya. Rupanya kerikil yang ditendang Ruri mengenai lelaki itu.

“Nggak, sebel aja kelamaan gue nunggu.”

Bram menyeringai dan menjawil dagunya. “Marah aja cakep gini ….”
Ruri mendengkus sebelum ditarik Bram masuk melalui pintu kecil dari gerbang besi Fort Rotterdam, “Yuk ah, kita mulai keseruan di dalam.”

Kerasnya cengkraman tangan Bram menyadarkan Ruri. Rupanya mereka sudah tiba di tiga perempat selasar. Suasana hening dan gelap langsung menyambut keduanya. Ruri merasakan bulu kuduknya berdiri karena merasa seolah ada yang memperhatikan.

“Serius nih Bram, ini kita akan aman-aman aja nge-vlog? Nggak bakal celaka ‘kan?” Ruri menatap Bram lekat-lekat.

“Elo nggak percaya sama gue? Emang pernah gue bikin elo celaka?” Perkataan Bram yang sedikit keras terdengar seperti teriakan bergema di selasar itu.

Ruri berjinjit, menutup mulut Bram. “Pssst. Nggak usah ngegas kayak gitu! Tapi kok vlogger lain nggak keliatan. Mereka kumpul di mana?”

“Ya mereka tersebar di beberapa tempat. Ini luas banget tau, belum tentu juga kita bakal papasan dengan ….”

“Sh*t!” Tiba-tiba Ruri memaki, suaranya bergema di kesunyian selasar benteng. Ternyata lampu padam mendadak dan Ruri merasa Bram tak berada di dekatnya lagi.

“Bram … ini apa-apaan. Elo mau ngeprank gue, Bram?“ Ruri panik, mencoba melangkah ke arah yang diyakininya.

Mula-mula pelan, makin cepat lalu ia mulai berlari tetapi bingung mesti ke arah mana. Dari belakangnya Ruri mendengar suara bergemuruh orang-orang yang sedang berlarian dan suara ringkikan kuda yang sedang berpacu. Hal itu begitu menakutkan karena mereka seolah mengejarnya.

Ruri berpikir, aku harus mencari Bram untuk menyelamatkan diri. Ruri mulai berlari kencang mencari pintu keluar benteng.

Suasana yang gelap membuat Ruri berlari menabrak tembok yang keras. Sontak terasa sakit pada tubuhnya, kepalanya juga terasa berputar. Saat ia mengusap-usap bekas benturan, tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang menariknya dari belakang.

“E-eh, siapa elo?” Terasa embusan napas di belakang lehernya. Ruri yakin ini bukan makhluk tak kasat mata karena tercium aroma tembakau, mint dan kayu manis yang menguar dari napas maupun tubuh yang memeluknya.

Sosok itu hanya diam memeluk Ruri. Detik-detik berlalu. Napas keduanya lama-lama menjadi seirama. Ruri mulai bimbang ada rasa nyaman sekaligus cemas. Siapa yang sedang memeluknya?

Tiba-tiba tempat itu terang seperti semula. Ruri sontak membalikkan badan bersamaan lepasnya dekapan pada tubuhnya.

“Sialan lo Bram! Udah mo copot jantung gue nih! Mau ngerjain kira-kira juga dong.” Ruri tertawa kecil sambil memukul dada Bram yang terkekeh-kekeh.

Suara tawa keduanya terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara benda seperti logam atau besi beradu dengan lantai. Benda itu seakan diseret dari ujung selasar makin lama makin keras dan mendekat ke arah mereka.

“Lari, Ruri!” Bram menarik tangan Ruri untuk segera menjauh tetapi suara itu seolah mengikuti keduanya. Degup jantung mereka kini terdengar berpacu dengan kerasnya.

Keduanya berhenti di depan sebuah pintu. Ruri melemparkan pandangan ke arah Bram. Tanpa kata Bram mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.

“Permisi …. ” Belum selesai memberi salam, tubuh mereka seperti ditarik masuk dan pintu dengan cepat menutup sendiri meninggalkan suara keras.

Hawa dingin dan udara yang lembap menyergap keduanya yang melompat kaget. Dalam keremangan cahaya lampu luar ruangan dari sela jendela kayu yang tampak sudah longgar, Ruri memindai ruangan yang tak terlalu besar. Serpihan debu yang beterbangan sempat membuat keduanya terbatuk-batuk.

Tak ada benda apa pun di ruangan itu. Cat temboknya telah mengelupas di beberapa bagian dengan sudut yang kini menjadi sarang laba-laba. Ruri menduga-duga ruangan ini sudah lama tak terpakai.

Colekan tangan Bram di lengan Ruri mengakhiri pemindaiannya.
“Eh, sial! Kaget aku! Ini gimana? Kenapa jadi begini, Bram?” Air mata Ruri mulai mengalir, menganak sungai di wajahnya.

“Pssst, udah ah, jangan nangis. Kita aman di sini. Sekarang yuk, kita mulai bikin konten.“ Tangan Bram menepuk-nepuk bahu Ruri, berusaha menenangkan.

Sambil tersedu, Ruri mulai menyiapkan peralatan nge-vlog mereka berdua di salah satu sudut.
“Kayak biasa ya, Ri. Kita pakai dua GoPro. Satu nyorot ke elo, satunya lagi merekam sekitar ruangan ini sambil elo ngomong nanti. Gue nyalain bluetooth dulu, tapi beresin iketan rambut elo gih, rambut elo berantakan.”

Ruri melepas ikatan rambutnya, tetapi karet rambutnya terjatuh. Ia berjongkok meraba-raba sekitarnya tetapi tak kunjung menemukan dalam pencahayaan minim ruangan itu. Sambil terbatuk-batuk lagi karena debu yang beterbangan, ia mencoba menggeser kakinya lebih jauh. Teraba oleh tangannya sebuah kain seperti saputangan besar.

“Ini aja ya, gue pake buat ikat rambut. Ada pengunjung yang ketinggalan kali,” ujar Ruri sambil menatap kamera yang menyorotnya.

“Sh*t! Siapa itu?” Ruri memekik ketika melihat ada bayangan lain di belakangnya, yang terpantul di lensa kamera. Ia sontak menengok tetapi tak ada siapapun di belakangnya kecuali tembok.

“Mana? Ada siapa?” Bram yang sedang menekan tombol on untuk GoPro kedua bergegas menghampiri.

“Look! Beberapa detik yang lalu ada orang di belakang gue. Ikat kepalanya sama dengan yang gue pake.” Ruri menunjuk kepalanya sambil gemetar.

Baru Bram mau mengecek, “Duh kepala gue sakit. Sakit banget, kayak ada yang jambak. Tolongin gue, Bram! Duhhh!”

Ruri mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya yang tertarik ke belakang. Ikatan kain di rambutnya terasa seperti jambakan yang sangat kuat.

“Oh God! Lepasin Ruri, ayo lepasin! Itu passapu, ikat kepala pria Makassar lambang kejantanan. Ayo, lepasin! Elo nggak boleh pake itu buat ikat rambut!” Bram berusaha melepaskan passapu dari kepala Ruri dengan sedikit memaksa.

Begitu eratnya ikatan passapu di kepala Ruri, sampai Bram merasa berhadapan dengan sesuatu yang memiliki tenaga yang luar biasa kuat.

Beberapa helai rambut Ruri tertarik karenanya. Ketika Bram berhasil melepaskan passapu dari kepala Ruri, ada cairan menetes jatuh ke pakaiannya.

“E-el-elo berdarah, Ruri.” Bram terperenyak kaget. Ruri menangis sejadi-jadinya sambil memegang kepalanya. Mereka berdua tak sadar, live streaming mereka terus berjalan dengan bunyi notifikasi komen yang masuk.

Bram memeluk Ruri beberapa saat untuk menenangkannya.

“Kita pulang yuk, Bram. Gue takuttt.”

Tiba-tiba, salah satu GoPro di tripod berputar dan menyorot ke salah satu bagian tembok. Bram dan Ruri terkesiap, terlalu ngeri untuk berkata-kata. Terlihat sebentuk telapak tangan dengan lengan terpotong merayap naik.

Kuku-kuku yang panjang dan runcing mencakar tembok seperti membuat gambar-gambar. Bunyi serpihan bagian tembok yang terkelupas, bersamaan dengan bunyi cakaran yang seperti pisau sedang mengiris-iris di atas lempengan kaca. Telinga keduanya merasa sakit tak terkira.

Ternyata cakaran-cakaran itu membentuk simbol garis dan lancip seperti aksara kuno Lontara, yang pernah dilihat Ruri ketika mencari informasi tentang Museum La Galigo sebelum berangkat.

Bram mencoba menguatkan hati untuk bersuara, meski ia tak tahu ditujukan kepada siapa. “A-ap-apa mak-maksudnya Daeng?”

Suara cakaran itu terdengar lagi. Sambil meringkuk berpelukan, Bram dan Ruri langsung menutup telinganya rapat-rapat. Terbentuk goresan-goresan, “Perhatikan di depanmu perkirakan di belakangmu. Pikirlah baik-baik sebelum bertindak.”

GoPro yang tadinya menyorot, mendadak berputar kembali ke posisi semula. Helaan napas keduanya keras bergema ke seluruh ruangan.

Ruri segera berdiri, hendak membereskan peralatan vlogging, tetapi Bram menahan tangannya. “Stop, Ruri! Tunggu! Baca komen-komen ini! Mereka ingin kita melanjutkan. Sudah terlanjur toh.”

Ruri marah karenanya. “Gila lo, Bram. Elo nggak takut apa yang akan muncul lagi kalau kita melanjutkan ini! Gue mau pulang!”

Ruri melesat menuju pintu, namun Bram berhasil menangkapnya.

Tiba-tiba pintu terbentang lebar. Di hadapan keduanya sesosok lelaki berpakaian prajurit kerajaan zaman dulu menghunus badik ke arah mereka

Lelaki itu memakai ikat kepala passapu dan bersarung kotak-kotak. Ia bertelanjang dada dengan beberapa luka menganga. Bibirnya menyeringai, wajahnya dipenuhi parut dan koreng, dengan tatapan mata kosong.

“Stop! Awas Ruri!” Bram menyembunyikan Ruri di belakang tubuhnya. Badik di tangan lelaki itu terayun-ayun seolah mendorong keduanya untuk tetap berada di dalam ruangan. Suara yang keluar dari mulutnya seperti geraman hewan hutan saat menakuti mangsa.

Mereka berdua melangkah mundur sampai di hadapan GoPro yang masih menyala.

Kini lelaki itu menyerang maju sambil mengayunkan badik ke tubuh keduanya.

Jeritan berbaur dengan suara badik yang mulai mengoyak baju dan menyobek celana keduanya. Lalu mulai menyabet lengan Ruri dan paha Bram. Darah mulai memercik ke mana-mana.

Keduanya terjatuh dan mulai membungkukkan badan sambil berteriak, “Ampun, ampun. Ampuni kami!”

Seakan tak mendengar, lelaki itu kembali menyerang hingga tubuh Bram dan Ruri penuh luka tanpa mampu melawan atau menghindar.
Serangan itu akhirnya berhenti saat keduanya makin melemah tergeletak di lantai. Lelaki itu berbalik membelakangi keduanya lalu meraung panjang seolah menyatakan kepuasan.

Napas Ruri tersengal-sengal. Tangannya melingkar di leher Bram yang sudah tak berdaya di sampingnya. Tiba-tiba lelaki itu kembali menghadap ke arah mereka dan melemparkan badiknya tepat mengenai perut Bram. Ruri menjerit histeris. Pelukan di leher Bram terlepas. Darah menyembur dari perut Bram menggenangi lantai.

Ruri beringsut. Tubuhnya bergetar sedemikian hebat karena rasa takut yang teramat besar. Nyalinya tak lagi kuat untuk diuji.

Riuh bunyi notifikasi masuk atas reaksi followers yang masih terus mengikuti live streaming di room IG keduanya menjadi suara latar, ketika lelaki itu mendekati Ruri.

“Tidak … Ja-jangan bunuh sa-sa ….” Lelaki itu mencekik Ruri sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya.



#NAD_Battle 2021 – Narasi

Tulisan ini terinspirasi dari perilaku Arsa-sulungku yang autistik-semasa kecil.
Luv u kid, always!

#NAD_BATTLE_CHALLENGE7
#Pasukan_Asterix
#Narasi
#Bantargebang

Kisah-kisah Kaum Terpinggirkan
Judul : Padam
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2485 kata

Anak perempuan bertubuh kecil dengan potongan rambut tak beraturan itu sedang asyik melihat-lihat kertas koran di hadapannya. Kertas itu bagaikan pemuas rasa ingin tahu dan sangat berharga baginya. Berjarak semeter darinya anak lelaki kecil dengan kepala plontos sedang membungkuk dan asyik menatap kertas-kertas juga. Yang berbeda, kertas yang dilihatnya tampak lebih mengilap.

Di dekat mereka seorang perempuan berdaster panjang dengan tambalan di sana sini tampak asyik memerhatikan. Perempuan bernama Rodiah, yang juga Ibu mereka, mengamati sekaligus berjaga-jaga agar mereka tidak saling menganggu. Tanpa terasa air mata telah menganak sungai di pipi Rodiah. Ia dan suaminya belum mampu membelikan mainan untuk kedua anaknya. Jadi dibiarkannya mereka bermain-main dengan benda seadanya.

Sang anak perempuan, yang diberi nama Kokom menghampiri Rodiah dan mengusap air matanya. Tak lama kemudian, sang bocah lelaki ikut juga menghampiri sambil menggenggam kertas-kertas mengilap-yang kemudian diketahui bernama brosur-di tangannya. Kokom menadahkan tangan ke bocah yang dipanggilnya Ucup itu. Namun, permintaannya dibalas dengan gigitan Ucup di dekat siku. Kokom langsung menjerit kesakitan lalu tersedu sedan di pojokan.

Bukan sekali ini saja ia digigit Ucup. Setiap kali Kokom bermaksud melihat brosur, Ucup langsung menyerang dan menggigitnya. Biasanya suasana baru tenang ketika Pak Rojali-bapak mereka-datang menyodorkan kertas koran dan brosur ‘baru’ dari tumpukan barang yang dipulungnya.

Dulu, sebelum Ucup tergila-gila dengan brosur, ia selalu mengganggu Kokom dengan merebut koran kesayangannya. Walau pertengkaran mereka akan berakhir dengan Kokom yang dipaksa Pak Rojali dan Bu Rodiah untuk bersikap mengalah hanya karena lebih tua, tetapi sampai kapanpun Kokom tak akan begitu saja melepaskan tumpukan koran miliknya. Seperti juga Ucup yang begitu sayang dengan kertas brosur sehingga bisa menyerang setiap orang yang akan mengambilnya.

***

Kesukaan Kokom akan koran bermula sejak Ucup belum ada di tengah-tengah mereka. Suatu hari, Kokom yang belum genap enam tahun diajak beberapa perempuan lain sepantar ibunya. Ia ditanya apakah mau bersekolah. Kokom tak tahu benda apa atau tempat apa yang disebut sekolah.

Ketika akhirnya ia datang ke sebuah rumah bagus-berdinding tembok berwarna hijau- yang kemudian diketahui rumah orang yang dipanggil Pak RT, ia menebak itulah yang dinamakan sekolah. Kokom melihat hamparan tikar di lantai bersama benda-benda yang kata ibu-ibu itu disebut buku.

Kokom terpesona, matanya berbinar-binar seperti kemarin saat Bapak pulang membawa sebungkus Ch*ki yang baunya sudah apek begitu dibuka. Bapak bercerita, ada beberapa orang yang datang dengan mobil barang lalu membuang sekarung besar dengan ratusan bungkus Chiki di dalamnya ke salah satu pojok Bantargebang. Kebetulan Bapak sedang berada di dekat situ, memilah plastik kemasan minyak goreng-yang katanya paling laku di pengepul-untuk disusun dan dijahit menjadi tas belanja transparan oleh pengrajin.

Semua pemulung segera memperebutkan isi karung itu, termasuk Bapak yang mendadak meninggalkan tumpukan plastik kemasan yang sudah ia kumpulkan. Ketika berhasil merebut satu bungkus Ch*ki untuk Kokom, Bapak nyaris kehabisan napas. Untung saja kemasannya tidak sobek sehingga isi Ch*ki itu tidak berhamburan.

Kokom kaget, ketika seorang ibu menggamit tangannya. Ingatan tentang cerita Bapak dan Ch*ki buyar sudah. Ibu itu menuntunnya untuk duduk di atas tikar dan mulai menyodorkan salah satu buku. Ia membukakan lembar demi lembar buku untuk dilihat Kokom. Namun gerakan tangan ibu itu terlalu cepat, melebihi kecepatan mata Kokom memindai gambar di dalam buku. Baru saja Kokom melihat gambar ayam, lembar buku sudah berpindah ke gambar sapi. Baru Kokom melihat bahwa sapinya sapi betina, Ibu itu sudah membalik lembar buku dan kini menunjukkan gambar manusia.

Kokom menarik-narik ujung kerudung Ibu yang terasa lembut di tangan dan warna birunya mengingatkan Kokom pada langit Bantargebang saat hari cerah. Ibu itu segera menoleh ke arahnya dan tersenyum. Jari telunjuk Kokom menunjuk ke sampul buku dan menekan bagian huruf-huruf. Ibu itu menatap Kokom dengan cermat lalu mulai tertawa. Ia merangkul bahu Kokom dan memulai lagi menunjukkan buku dari awal. Bibirnya menyuarakan kalimat, pertemanan antara ayam dan sapi. Kokom mengangguk-angguk, antara mendengarkan suara Ibu dan melihat bentuk huruf yang sejak saat itu mulai ia patri dalam ingatannya.

Kata ayam memiliki empat huruf, tetapi sapi juga. Oh, ternyata pada kata ayam ada dua huruf a, tetapi kata sapi hanya satu huruf a. Bahwa kata manusia itu lebih banyak hurufnya. Demikianlah awal Kokom belajar mengenal huruf, sekaligus mengenali kata dan bunyinya.

Sejak saat itu Kokom tertarik mengenali huruf, merangkai dan membacanya menjadi kata. Setiap kertas yang dibawa Bapak pulang memulung selalu menjadi incarannya. Dipandanginya huruf-huruf baru, dibacanya kata-kata baru. Dengan bangganya Kokom menunjukkan bisa mengenali, membaca huruf dan kata itu kepada Bu Guru di ‘sekolah’-yang lalu diketahuinya-bernama Bu Layla.

Bu Layla sering mengatakan kepadanya bahwa ia anak yang cerdas dan rajin belajar. Kokom dipuji bisa cepat membaca hanya dari robekan koran bekas dan mengetahui banyak kata-kata baru meski tak memahami artinya.

Kokom pernah meminta kepada Bapak untuk membelikan satu saja buku, tetapi Bapak hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak memiliki cukup uang untuk membelikan Kokom buku, apalagi istrinya sedang hamil calon adik Kokom. Akan banyak uang untuk rutin memeriksakan Bu Rodiah ke Bidan. Akhirnya Pak Rojali mulai mengikhlaskan tindakan Kokom mengambil sebagian korannya setiap pulang dari memulung tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari robekan koran bekas itu, Kokom menemukan kesenangan baru. Ia melihat gambar-gambar dengan tulisan-tulisan. Timbul rasa senang membayangkan nikmatnya makanan pada foto di sana, meski ia sedang makan nasi yang diaduk dengan garam buatan Ibu. Dari koran pula, ia tahu ada begitu banyak jenis makanan, seperti yang dibawa Bapak pulang memulung saat bulan puasa waktu itu.

Bapak tiba-tiba membawa pulang sekantung kerang hijau, yang katanya dibagi-bagi seorang pengusaha untuk penghuni Bantargebang berbuka puasa. Kata Bapak, yang disedekahkan namanya sea food yang berarti makanan dari hewan laut. Setiap orang boleh memilih seekor ikan atau dua potong cumi-cumi ukuran sedang, atau sekeranjang kerang. Pada akhirnya, Bapak memilih sekeranjang kerang hijau, yang diyakini akan memuaskan perut mereka bertiga.

Cahaya di mata Kokom begitu berkilauan melihat tumpukan kerang hijau yang tadinya hanya ia lihat di koran saja. Sebenarnya ia berharap bisa melihat juga sea food lain yang disedekahkan, tetapi ia terlalu takut menyampaikan permintaan itu kepada Bapak.

Sesudah kerang hijau itu dibersihkan air seadanya dan direbus, mereka bertiga makan dengan lahap. Ibu yang perutnya makin besar dengan selera makan yang juga ikut membesar, sampai menghabiskan dua piring. Kokom beberapa kali tampak tersedak karena ada butiran halus pasir yang mungkin terikut saat dimasak.

Bapak menuduh Kokom makan terlalu cepat sementara Ibu tidak peduli karena asyik memuaskan rasa laparnya. Sekilo kerang hijau rebus hasil sedekah itu, bahkan masih bisa disimpan untuk bekal sahur mereka.

Walau Kokom merasa senang akhirnya bisa juga mencicipi yang namanya sea food, ia menjadi bingung kemudian saat mendengar kata-kata Mak Ijah-tetangga mereka sekaligus bidan kampung-yang membantu kelahiran Ucup. Mak Ijah spontan memarahi Ibu, ketika mengetahui Ibu pernah berbuka puasa dengan kerang hijau saat sedang hamil. Kerang hijau paling beracun, katanya menakut-nakuti. Jadi kalau nantinya Ucup menjadi bayi yang aneh, itu murni kesalahan Bapak dan Ibu.

Kokom kaget, berusaha mengerti kata-kata itu. Makan kerang hijau akan menjadikan Ucup, adiknya aneh? Mengapa? Pertanyaaan Kokom tak pernah terjawab, dan tak pernah juga ia temukan jawabannya di robekan koran bekas miliknya.

Lama kelamaan rasa ingin tahu Kokom tentang hubungan kerang hijau dan keanehan Ucup terkikis. Berganti dengan kekesalannya akan kerewelan Ucup. Bukan karena adiknya dibilang aneh sama Mak Ijah. Bukan juga karena orang tuanya jadi tak sayang kepadanya, melainkan Ucup bayi yang cengeng. Kokom sampai sering menyumbat telinganya dengan kain gombal saat tidur, karena Ucup menangis terus hampir setiap malam.

Ketika Ucup kian bertambah besar, keanehannya bertambah. Kalau sedang kesal, Ucup bisa mendatangi Kokom lalu menggigit tangan atau kakinya. Kini giliran Kokom yang menangis. Namun, bukannya dibela malah ia yang dimarahi Bapak dan Ibu. Ia dibilang kakak yang jahat dan dianggap tak menyayangi adiknya. Kokom kesal bukan kepalang.

Kokom berusaha mengerti tingkah laku Ucup. Ia mengira-ngira karena adiknya belum bisa bicara. Ia hanya bersuara ga-ga untuk menyatakan tidak, atau uh-uh untuk menunjuk barang yang diinginkannya saat meminta sesuatu.

Saat bersama Kokom, Ucup lebih memilih berkomunikasi dengan menarik rambutnya, menggigit tangan atau kakinya untuk kemudian merebut satu-satunya ‘harta’ Kokom yang berharga. Koran!

Kokom merasa kesal, dan berkali-kali hendak bermain di luar rumah saja. Ibu tidak suka dengan keinginannya itu. Bapak pun setuju dengan Ibu dan berkata kepada Kokom bahwa ia harus membantu Ibu di rumah. Ia hanya boleh keluar untuk ke ‘sekolah’, bukan bermain-main saja. Agar aman dari gangguan Ucup, Kokom akhirnya memilih bersembunyi di sebelah lemari untuk membaca koran-koran miliknya.

Sampai suatu hari jalan keluar pertengkaran Kokom dan Ucup seperti menemui titik terang. Di antara tumpukan koran bekas hasil Bapak memulung, terselip kertas-kertas licin mengilap yang tertera gambar barang-barang maupun makanan yang seketika menarik perhatian Ucup. Dengan berjalan tertatih-tatih, Ucup mengambil kertas-kertas itu lalu disusun berbaris-baris di lantai.

Sejak saat itu Ucup seperti menemukan mainan baru. Ia selalu menggenggam dan membawanya ke mana-mana. Bahkan Kokom pun tidak boleh melihat apalagi meminjamnya. Beberapa luka bekas gigitan di tangan Kokom menjadi pengingat untuk tak sembarangan lagi melihat brosur milik Ucup.

Kokom merasa lega karena bebas dari gangguan Ucup. Ia makin sibuk belajar membaca. Bukan supaya pintar, karena ia tahu tidak bisa sepintar anak-anak berkalungkan medali di dalam foto yang memiliki tulisan ‘Juara’ di salah satu robekan koran miliknya. Ibu pernah menjelaskan, juara itu sebutan untuk anak yang pintar karena rajin belajar. Oleh karena itu, anak itu dikalungkan medali.

Kokom mulai berpikir, apa mungkin ia bisa sepintar anak di dalam foto? Tubuh anak itu gemuk, pipinya tembam, rambutnya berkilauan, berkebalikan dengan dirinya. Tubuhnya kurus, pipi tirus dan rambutnya kering bagaikan sapu ijuk.

Kokom yakin makanan anak itu dan dirinya berbeda. Sedari kecil ia hanya menyantap nasi keras yang diaduk dengan terasi bakar atau garam saja, saat tak ada sampah yang bisa ditukar Bapak ke pengepul. Atau saat tak ada dermawan membingkiskan sedekah makanan seperti Ch*ki yang sudah apek, sekilo kerang hijau saat bulan puasa sebelum Ucup lahir, maupun nasi berkat setiap Jumat akhir bulan.

Memikirkan hal itu seringkali membuat Kokom merasa sedih. Namun makin ia sedih, makin kuat keinginannya untuk menjadi pintar dari kesukaannya membaca. Sampai suatu sore, Kokom merasa bingung apakah ia terus membaca atau tidak.

Bapak pulang sambil marah-marah. Katanya, sampah plastik bekas kemasan makin sedikit. Kebanyakan yang ditemukan Bapak hanyalah popok sekali pakai atau pembalut dengan bau tak sedap dari darah menstruasi yang sudah mengering. Bapak jadi kesal bukan kepalang. Apalagi koran yang dipulungnya makin sering diambil Kokom untuk latihan membaca.

Mendengar Bapak berkeluh kesah tentang sampah plastik yang jumlahnya semakin berkurang, Kokom teringat selembar koran yang baru dibacanya kemarin. Ia mencari-cari dari tumpukannya lalu menyodorkan koran dengan tulisan Zero Waste.

Bapak merengut, bibirnya mencebik dengan kesal. Ia mengambil koran itu, membacanya sekilas dan merobeknya sampai kecil-kecil. Kokom tersedu. Padahal ia senang sekali tulisan dan gambar di robekan koran itu.

Ia tak paham mengapa koran bertuliskan Zero Waste tak disukai Bapak. Ia baru saja membaca tentang orang yang tidak lagi memakai pembungkus plastik dan menggantinya dengan kain. Ia juga baru tahu mengapa memakai tas plastik kini mulai dilarang pemerintah. Apakah hal itu ada hubungannya dengan Bapak marah-marah kepadanya?

Sambil mengumpulkan serpihan kertas koran yang disobek Bapak, Kokom teringat Ucup juga punya kertas brosur bertuliskan Zero Waste itu. Kokom mengendap-endap untuk mengambilnya ketika Ucup lengah, lalu menyodorkan kertas itu ke Bapak.

Bapak makin murka, ia marah kepada Kokom yang terus mengganggunya. Baru saja ia hendak menyobek kertas brosur itu, Ucup menjerit dan menyerang Bapak. Ibu menangis dan berusaha memisahkan, sementara Kokom berdiri gemetar ketakutan. Tak lama pipi Kokom memerah, bercetak bekas tamparan telapak tangan Bapak.


Malam itu Kokom bertanya pada diri sendiri. Apakah ia terus belajar membaca, meski tak segera menjadi pintar. Ia hanya mau tahu semakin banyak arti tulisan-tulisan di koran itu, sehingga kalau sewaktu-waktu Bapak marah atau menamparnya ia akan menjadi tahu alasannya.

***

Sejak kejadian itu, Kokom semakin sering berada di ‘sekolah’ tempatnya belajar sejak dulu. Walaupun Bapak berulang kali bilang kepadanya, sudah saatnya Kokom mulai membantu memulung, agar uang yang didapat mereka semakin banyak.

Kokom menolak. Setiap pagi ia cepat-cepat kabur dari rumah dan pulang menjelang petang. Tak apa ia kelaparan, asal bisa berada di ‘sekolah’. Kadang Bu Layla yang merasa kasihan, membagi kue yang dibawanya untuk mengganjal perut Kokom yang lapar.

Hal yang dicemaskan Kokom, bila sewaktu-waktu Bapak datang mencari untuk memaksanya ikut memulung. Ada dua kali kejadian seperti itu. Sekali Bapak berhasil menyeretnya untuk ikut memulung. Kali yang lain, Kokom berhasil sembunyi di belakang rumah Pak RT.

Kokom berteguh hati, tak mau menghilangkan kesukaannya untuk membaca. Walau ia tahu, sesampainya di rumah akan menjadi sasaran kemarahan Bapak. Setiap tamparan atau pukulan Bapak di bokongnya tak pernah membuatnya jera. Esok paginya ia segera menyelinap berangkat ke ‘sekolah’ lagi.

Sampai suatu hari Jumat pertengahan musim kemarau. Hari yang sampai saat ini masih lekat di ingatannya.

Kokom sedang berjalan kaki sepulang dari ‘sekolah’. Tiba-tiba semua orang berlarian sambil berteriak kebakaran. Dari tempatnya berdiri Kokom melihat kepulan asap dari arah rumahnya. Kokom sudah hendak berlari, saat ada tangan yang merengkuh bahunya cepat dan menariknya ke pinggir jalan, beberapa saat sebelum terjadi ledakan besar.

Dari tumpukan gunung sampah itu Kokom masih sempat melihat banyak benda-benda terlempar ke langit dan terpental ke segala arah. Kayu, plastik, botol, kain, semuanya mencelat ke mana-mana, sebelum kemudian pandangan Kokom mengabur.

Kokom terbangun saat didengarnya bunyi sirine dari truk pemadam kebakaran yang sudah berjejer di dekatnya. Orang-orang, lelaki maupun perempuan berlalu lalang, tetapi tak dilihatnya ada sosok Bapak, Ibu maupun Ucup.

Kokom memberanikan diri mendekat ke salah seorang petugas pemadam. Ia mengucapkan kata Bapak, Ibu dan Ucup. Petugas itu menggeleng tanda tidak tahu. Kokom menghampiri petugas lain, tetapi juga mendapatkan jawaban yang sama. Begitu seterusnya. Kokom mulai menangis dan merasa ketakutan. Badannya bergetar teramat keras dan akhirnya jatuh rebah ke lantai.

Saat terbangun untuk kedua kalinya, Kokom berada di ruangan berbau cairan pembersih, seperti bau kamar mandi di ‘sekolah’. Ia terbaring di atas dipan dengan jarum berisi cairan yang ditusukkan ke bagian atas telapak tangannya. Di sampingnya ada Bu Layla yang menatapnya dengan mata sembap, seperti habis menangis.

Kokom berusaha bangun, namun dicegah Bu Layla. Ketika mulut Kokom mengeluarkan kata-kata, Bapak, Ibu dan Ucup, Bu Layla menggeleng-geleng dan mulai menangis lagi.

Sambil terbata-bata Bu Layla bercerita, ia mendengar Mak Ijah masih menyaksikan Bapak berlari ke dalam rumah mereka untuk membantu Ibu yang bersusah payah menggendong Ucup yang tak mau keluar rumah. Namun, ketiganya tak pernah keluar saat ledakan demi ledakan itu terjadi. Mereka bertiga tewas terbakar, tanpa ada petugas pemadam yang bisa menyelamatkan.

Kokom hanya menatap Bu Layla tanpa bisa menangis. Ia terus duduk mematung, bahkan sampai Bu Layla pamit pulang.

***
Beberapa tahun kemudian.

Di panti sosial itu, Kokom masih suka membaca. Namun kini ia seperti mendiang Ucup, tak bisa berbicara. Ia hanya menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang, sambil sesekali tertawa atau menangis. Bu Layla sering datang berkunjung, untuk duduk di sampingnya. Sambil mengelus-elus rambut Kokom, Bu Layla akan menyodorkan koran-koran dan majalah yang bisa dibawanya.

Hari itu, di tangan Kokom tergenggam selembar kertas koran yang sudah menguning. Koran yang hampir robek karena sudah basah oleh tetesan air matanya. Bagian koran yang basah bertuliskan, kebakaran 12 hari di Bantargebang akhirnya padam.

Ya, seperti juga keinginan Kokom untuk berbicara.



#NAD_ Battle 2021 tentang villains
13/05/2021, 4:12 am05
Filed under: fiksi | Tags: , , ,

#NAD_Battle_Challenge8
#Pasukan_Asterix
#MeetTheVillain

Unexpected
Judul : Encounter
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1076 kata

Sudah lama sekali, aku dan suami tidak mengajak anak-anak bepergian. Sampai tadi pagi, Arsa tahu-tahu menunjukkan selebaran brosur warna-warni keluaran Ac* H*rdw*re. Tahu ‘kan? Salah satu toko retail yang menjual aneka perkakas yang cukup lengkap, mulai dari perkebunan sampai perbengkelan.

Aku dan suami memiliki trauma di tempat ini sewaktu Arsa masih kecil. Pernah di suatu kunjungan ke sana, kami harus membayar sebuah vacuum cleaner yang ditarik dan terjatuh oleh Arsa yang sedang tantrum. Roda vacuum cleaner itu patah akibat perbuatannya. Kami berdua langsung kapok, tidak mau berkunjung ke tempat itu lagi. Apalagi psikolog Arsa ikut menegur, “Ajak anak autis bepergian tuh ke lapangan, bukan ke toko yang banyak barangnya. Rasa ingin tahunya akan sulit kamu kendalikan!”

Bertahun-tahun kemudian, setelah kecemasan kami akan perilaku Arsa semakin berkurang, ‘window shopping’ ke toko perkakas itu kembali menjadi salah satu alternatif jalan-jalan yang mengasyikkan. Selain kami merasa nyaman dalam ruangan yang dilengkapi pendingin udara, juga banyak perlengkapan unik dan lucu yang bisa dilihat.

Begitu masuk area parkir dengan papan reklame bertuliskan nama toko yang cukup besar, Arsa mulai menyunggingkan senyumnya.

“Ke mana kita, kak?” Segera dijawabnya, “Ace … Ace!”

Embusan pendingin udara menyambut kami berempat saat memasuki toko. Seperti kebiasaan kami saat pergi berempat, aku dan suami segera berbagi tugas.

Aku mengajak Arsa ke area perlengkapan mandi. Setengah berlari dia menghampiri deretan keran dan shower yang terpajang. Ia akan menatapnya lekat-lekat dan perlu beberapa waktu untuk mengeksplorasi di sekitar situ. Sementara itu, Dydy dan Papinya menuju area pernak-pernik rumah yang ada di lantai lain.

Siang ini suasana toko tidak terlalu ramai, sehingga Arsa bisa leluasa dan merasa nyaman. Apalagi, semakin bertambah usia Arsa kini paham untuk tak sembarang menyentuh barang di area toko.

Kulihat Arsa sudah asyik dengan penemuannya. Dengan takjub dia memperhatikan satu per satu bentuk keran dan shower. Sesekali dia berjongkok untuk melihat bagian bawah keran, lalu berjinjit untuk melihat bagian atasnya. Kami sekeluarga telah paham, keasyikan mengamat-amati ini perlu diberi kesempatan beberapa saat, agar Arsa tidak merasa dilarang lalu menjadi marah karenanya.

Semakin besar, Arsa memulai fase tak melulu harus ditemani. Aku hanya perlu berbicara dengan jelas kepadanya bahwa aku mau melihat-melihat ke tempat perkakas pertukangan dan Arsa harus menunggu di tempat ia berada sekarang. Ia hanya mengangguk sambil berkata, “Pertukangan … Pertukangan!”

Aku tersenyum, mengacungkan ibu jari lalu beranjak meninggalkannya. Perlahan-lahan aku melangkah sambil ekor mataku terus mengamati Arsa.

Aku mulai melihat-lihat aneka perkakas pertukangan, yang meski tak tahu bagaimana cara menggunakannya, aku mencoba mengira-ngira apa yang bisa dilakukan oleh alat tersebut.

“Selamat siang, Ibu. Saya Abdi dari bagian pertukangan. Ibu mau mencari alat apa?”

Aku seketika menoleh dan hanya tersenyum, “Enggg, belum ada sih, Pak. Baru melihat-lihat saja.”

Karyawan yang bernama Pak Abdi itu tersenyum lalu beranjak pergi.

Aku bergeser ke arah rak yang berisi beberapa gergaji mesin. Tak berminat untuk menebang pohon sih, akan tetapi tiba-tiba bulu kudukku berdiri mengingat sebuah film di mana alat ini pernah ‘epic’ menjadi senjata seorang psikopat menghabisi orang-orang di rumahnya. Hiiih.

“Ehem … Nguik ….” Aku masih terpaku melihat gergaji mesin itu. “Ehemmm … Nguik ….” Dehaman dan suara aneh kedua membuatku tergoda untuk menoleh. Siapa sih yang iseng menyapa seseorang dengan suara tak jelas semacam itu?

Aku terkesiap. Sosok berpakaian jas hitam yang wajahnya ditutupi topeng dari kulit manusia, dengan tambal sulam jahitan di bagian yang robek, serta dilubangi bagian mata, hidung dan bibir ini mengingatkanku kepada … oh, my God, dia Leatherface dari film The Texas Chainsaw Massacre.
Keyakinanku bertambah ketika aku melihat tangan kanannya memegang salah satu gergaji mesin.

Tanpa sadar aku berucap, “Leatherface?” Aku menyesal telah memanggilnya karena ia segera terkekeh-kekeh lalu menyalakan gergaji mesin yang bunyinya memekakkan telinga. Tatapan matanya yang aneh ke arahku membuatku menahan napas sebelum ia melangkah dan merangsek maju.

Aku sontak melompat ke belakang dan berteriak histeris, “Tolong … tolong!” Namun, tak ada yang menggubrisku. Sepertinya semua tak mendengar suaraku yang tertutup bunyi gergaji mesin.

Aku berjalan cepat, setengah berlari menjauhi Leatherface. Melihat adegan kejar-kejaran sosok itu denganku, orang-orang di sekitar baru menunjukkan ekspresi wajah penuh kepanikan. Mereka mulai menjerit histeris dan berlarian tak tentu arah.

Barang-barang berjatuhan, rak-rak yang roboh karena ditabrak, orang-orang yang menyelamatkan diri membuat suasana begitu ‘chaos’.

Aku segera ingat, ada Arsa yang harus kuselamatkan juga. Aku berbelok arah dan segera berlari melewati lorong-lorong perlengkapan menuju tempat Arsa berada.

Bunyi gergaji mesin yang menderu, suara kesakitan orang-orang yang kejatuhan barang maupun yang terluka terkena sabetan gergaji, bercampur baur di telingaku.

Aku terus berlari ke tempat Arsa berdiri tadi. Tinggal beberapa meter lagi, ketika ada suara orang berteriak, “Hati-hati di belakangmu, Bu. Ituuu …. !”
Aku membungkukkan badan, menarik badan Arsa ke bawahku.

Dengan punggungku, aku melindungi Arsa. Biarlah aku yang akan terkena gergaji mesin itu lebih dahulu, jangan anakku. Arsa yang terkejut kududukkan di lantai, memberontak-berontak di bawah rengkuhanku. Kubisikkan di telinganya, “Pssst, ini Mami. Mami akan menjagamu!” Entah tenaga luar biasa dari mana, sehingga aku mampu ‘menaklukkan’ Arsa, yang biasanya bisa mendorongku jatuh terduduk bila kami beradu fisik.

Masih kudengar deru gergaji mesin yang makin mendekat. Lalu kurasakan sakit yang teramat sangat, saat pisau gergaji itu mulai sedikit demi sedikit melukai punggungku. Aku menahan tangis agar tak membuat Arsa makin panik. Namun, perih robekan luka di punggung tak tertahankan lagi sebelum semuanya gelap.

***

“Vy, bangun yuk.” Suara suamiku terdengar samar-samar di telinga.
“Mami … bangun, Mami!” Kini suara Dydy yang lamat-lamat terdengar.

Dengan perlahan-lahan kubuka mataku.
Arsa masih berada di bawah rengkuhanku dan masih menggeliat-geliat memberontak. Namun, kali ini ia berhasil melepaskan rengkuhanku, mendengkus kesal dan melompat berdiri.

“Mamiii, untung Mami dan kakak tidak apa-apa!” teriak Dydy sambil merangkul leherku. Aku berusaha meluruskan badan. Anehnya, mengapa punggungku tak terasa sakit. Hanya rasa pegal di kaki karena berjongkok. Kuraba belakang leherku. Tak ada luka, bahkan pakaianku baik-baik saja tanpa ada robekan sedikit pun.

Aku melihat sekeliling. Benar memang, ada barang-barang berjatuhan, namun tidak ada rak yang roboh maupun orang-orang yang berlumuran darah.

“Tadi itu gempa, Vy. Tak terlalu besar sih, akan tetapi kami harus menunggu dulu di lantai bawah, sebelum mengecek kalian. Kamu sudah sangat cekatan melindungi Arsa sehingga kalian tidak tertimpa shower itu.” Suamiku menunjuk salah satu pipa yang berujung shower besar yang tergeletak di sebelahku. Penjelasan itu membuatku mengembuskan napas lega.

Aku merasa beruntung bahwa insiden tadi adalah gempa, bukan diserang Leatherface. Beruntung juga aku bisa melindungi Arsa dari barang yang berjatuhan.

Sampai detik menuliskan ini, aku tak pernah bercerita kepada siapapun tentang pertemuanku dengan Leatherface suatu siang di toko perkakas.

Meski aku meyakini bahwa waktu kejadian itu, aku tidak sedang bermimpi, akan tetapi aku juga tak berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengannya. Never!

Terinspirasi dari film The Texas Chainsaw Massacre (1974) – Directed by: Tobe Hooper.