yukberbagi!


Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”
Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”
Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.
Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi.

Seringkah kita menemui obrolan anak-anak dengan muatan semacam itu sehari-hari? Mengandung stereotip dalam memandang orang lain. Bila menjawab sering, lalu apakah stereotip itu?

Menurut kbbi, ste·re·o·tip /stéréotip/ 2 n merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Jadi secara sederhana, stereotip lebih mengarah pada prasangka dan patut diragukan kebenarannya.

Lalu apakah kasus di bawah ini termasuk di antaranya? Seorang ibu bercerita, sebuah insiden di sebuah tempat ibadah. Ada beberapa anak yang berteriak mengejek saat melihat anak dari salah satu pulau di timur Indonesia. “ih ireng banget koyo tai… njijiki… hih tai kok neng grejo.”
(ih hitam banget kayak kotoran/tai, menjijikkan, hih tai kok ada di gereja)
Ibu ini begitu geramnya, namun tak berkuasa apa.

Berprasangka kepada yang berbeda dengan kita, biasa diawali dengan melakukan body shaming, seperti, ujaran “Moko kulitnya item banget, kalo mati lampu ga bakal kelihatan.” Atau “Sucen matanya sipit, kalo ketawa cuma satu garis aja.”; mungkin biasa terjadi sehari-hari. Pertama mungkin dari ciri fisik seseorang, lama kelamaan berkembang menjadi prasangka subjektif tentang karakter khas sebuah suku, ras atau bangsa tertentu.

Awalnya hanya bercanda, selanjutnya sengaja menyindir, dan kalau dilakukan berkali-kali, sama saja dengan mengolok-olok yang cenderung menghina. Contoh ucapan yang ditujukan pada seorang yang sejak kecil pintar berwirausaha. “Ahhh, pasti dia Cina atau Padang. Apa-apa dijadiin duit. Apa-apa didagangin.” Atau ucapan. “Males deh temenan sama dia. Lambat banget ngapa-apainnya. Psst… orang Jawa sih.” Atau, “Jangan temenan ah sama dia. Kan orang Timor, bawaannya marah mulu.”

Hal apa yang sebenarnya mendorong seorang anak melakukan tindakan stereotip? Dan apakah benar sikap orang tua atau bahkan pola orang tua asuh ternyata menyuburkan tindakan tersebut?

Asmiati Malik dari Universitas Bakrie dan Andi Muthia Sari Handayani dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu mengungkapkan stereotip terbentuk dalam proses pembentukan karakter dari individu sejak kecil dan kemudian melekat secara alamiah di bawah otak tidak sadarnya.

Pendapat yang lebih detail diungkapkan Erin N. Winkler, professor dan Kepala Departemen Afrology di Universitas of Wisconsin-Milwaukee. Beliau mempelajari bagaimana anak-anak membentuk gagasan mereka tentang ras selama tahap awal perkembangan.

Ketika anak-anak mulai mencari tahu dan belajar membedakan bentuk dan warna, mereka juga mulai mengamati perbedaan yang terlihat di antara orang-orang dan membedakan identitas mereka sendiri, termasuk konsep rasial.

Winkler juga mengulas bagaimana bayi berusia 3 sampai 6 bulan dapat secara non-verbal mengkategorikan orang menurut karakteristik ras, lalu anak-anak berusia 2 tahun dan seterusnya dapat menggunakan kategori ini untuk “bernalar” tentang perilaku orang.

Secara perkembangan, normal bagi anak prasekolah untuk memperhatikan dan bertanya tentang perbedaan warna kulit dan ciri-ciri lainnya, terutama karena anak usia 3 sampai 5 tahun sering belajar mengkategorikan segala macam hal. Besar kecil, tinggi pendek, hitam putih, cantik jelek, dan seterusnya.

Anak-anak bahkan dihadapkan pada stereotip rasial secara terbuka, melalui buku, majalah, televisi dan pengalaman mereka di lingkungan. Bagi anak-anak di usia ini, apa yang terjadi dan ada di sekitarnya mengundang rasa ingin tahu.

Jadi ketika mereka memperhatikan sebuah sikap atau perilaku sebagai pola, lalu mereka tidak mendapatkan penjelasan mengapa pola-pola ini ada, mereka menyimpulkan bahwa memang begitulah seharusnya bersikap.

Inilah sebabnya sikap orang dewasa yang tak mau terbuka mendiskusikan tentang ras bisa dianggap mendorong anak untuk memiliki prasangka kepada temannya atau orang lain.

Lalu, apakah mudah mendiskusikan hal ini dengan anak-anak dan sebaiknya di usia berapa kita membicarakan hal ini. Beberapa orang tua khawatir tentang mengenalkan masalah seperti diskriminasi pada usia dini. Yang lain enggan membicarakan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya mereka pahami atau tidak nyaman untuk dibahas. Namun bagi mereka di keluarga yang pernah mengalami perlakuan pembedaan berdasarkan stereotip, tentu tidak memiliki pilihan seperti itu.

Pembicaraan tentang stereotip, rasisme dan diskriminasi mungkin terlihat berbeda untuk setiap keluarga. Meskipun tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua, panduannya sebenarnya sama. Semakin dini orang tua memulai percakapan dengan anak-anak mereka, semakin baik.

Menurut Unicef, usia anak yang cukup baik untuk diajak berdiskusi tentang hal ini, ternyata usia balita. Pada usia ini, anak-anak mungkin mulai memperhatikan dan menunjukkan perbedaan pada orang yang mereka lihat di sekitar mereka. Seperti pada contoh yang dialami Dydy saat TK di awal cerita.

Lalu apa saja langkah-langkah kita sebagai orang tua mengajarkan hal ini? Apalagi sudah dipastikan bahwa orang tua lah yang meletakkan dasar dari bagaimana anak-anak bersikap kepada orang yang ‘berbeda’.

Unicef sempat menyusun panduan seperti selalu mengajak anak mengenali dan mensyukuri perbedaan dengan sering mengajak anak play date dengan teman dari berbagai keluarga, selalu terbuka terhadap pertanyaan dan keraguan anak-anak saat menghadapi orang yang berbeda, selalu berusaha memfasilitasi dengan bersama-sama membaca buku anak-anak maupun menonton bersama serial Upin Ipin atau sejumlah film Disney seperti Mulan, Brave, Frozen, Wreck it Ralph, Monster’s Inc., dan Shrek yang banyak memberi contoh tentang stereotip dan keberagaman.

Dan termasuk mengajak anak ke pekan budaya atau festival seni untuk mengenalkan betapa berwarnanya lingkungan sekitar kita.

Namun, kuncinya kembali lagi ke orang tua, yang sejatinya adalah ‘pintu’ anak mengenal apa-apa di dunia. Ingatlah untuk mempraktikkan selalu apa yang kita katakan.
Kita mungkin mengajari anak-anak tentang tak boleh membeda-bedakan teman termasuk bersikap toleran. Namun jika mereka mendengar kita berbicara negatif tentang orang yang berbeda, jangan kaget jika mereka akan meniru kita.

Anak-anak akan sering mempraktikkan apa yang mereka lihat dan dengar sebagai kebalikan dari apa yang diajarkan. Inilah sebabnya mengapa anak-anak lebih cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat ketika mereka melihat kita mempraktikkan toleransi dan menerima orang lain apa adanya.

Ini PR besar saya juga untuk Dydy untuk tidak bersikap stereotip dan diskriminatif, termasuk mulai mengajarkannya untuk bersikap asertif saat ada teman yang membeda-bedakan dirinya.

Tak mudah, perlu proses, perlu keteladanan dari kami orang tuanya; tapi bukan berarti tak bisa kan?


Referensi : https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/explainer-ilmu-psikologi-menjelaskan-bagaimana-rasisme-terbentuk-dan-bertahan-di-masyarakat-140071
https://www.wiscontext.org/how-kids-learn-about-race-stereotypes-and-prejudice
https://www.unicef.org/parenting/talking-to-your-kids-about-racism
http://www.aldenhabacon.com/13-tips-how-to-talk-to-children-about-diversity



Di’Uber’ sama Arsa yang autistik

Sudah seminggu ini..aplikasi Uber di android saya yang entah kapan diinstall, berubah aktif.
Tentu karena mobil kami sudah duluan di ‘lodging’ berkenaan dengan kepindahan keluarga kami ke kota lain.

Bila yang lain bercerita tentang pengalaman mengesankan baik maupun buruk tentang drivernya..saya berbeda. Bersyukur sih tak pernah dapat driver yang error atau berperilaku tak sesuai juga.

Saya mau berkisah tentang bagaimana berkendara Uber bisa menaklukkan salah satu karakter spektrum autistik Arsa, putra sulung kami. Maksudnya?

Ya..karena Arsa punya karakter Obsessive Compulsive Dissorder (OCD) terutama tentang rute jalan. Memori fotografis tentang rute jalan yang harus dilalui dari suatu tempat menuju rumah..itu luar biasa rigidnya. Ada jalan yang harus bahkan wajib dilalui..ada jalan yang pantang dilewati (sebelum dia ngambek atau menggerutu sepanjang jalan)

Kalau yang jadi sopirnya saya atau papinya..tentu kami paham dan kadang terlalu menuruti kemauan OCD nya itu. Sebenarnya sebagai cara paling malas karena tak mau menghadapi gerutuan Arsa. Tapi kalau orang lain? Dan..tentu suatu saat ia harus hadapi realita bahwa tak selamanya sopirnya itu saya atau papinya yang senantiasa bisa menuruti keinginannya untuk melalui rute tertentu. (Masalahnya kadang rute yang dimintanya itu tak selalu rute tersingkat menuju rumah)

Malam ini buktinya. Kami menggunakan Uber lagi untuk pulang dari daerah Sanur.
Rute yang diinginkan Arsa adalah lewat Renon…area Denpasar Kota baru menuju rumah kami di Denpasar Utara. Namun driver Uber dan tentu saja kami (sudah agak malam) memilih lewat sepanjang Gatsu Timur..Gatsu Tengah baru masuk wilayah Denpasar Utara.

Begitu di perempatan Hang Tuah, Arsa sudah mengatur untuk berbelok ke Renon. Namun driver jalan terus. Mulailah Arsa menggerutu. Saya berusaha menenangkan dengan mengatakan jalanan area Renon ditutup. Maaf deh saya harus berbohong sama Arsa. Dia berusaha mencerna tapi terus menggerutu.

Akhirnya saya memberi alasan lain, bahwa dua anak yang ikut di mobil bersama kami akan dijemput pulang oleh tante mereka. Sedikit berhasil tapi tetap saja menggerutu sampai setibanya kami di rumah.

Yang kami takutkan soal tantrum ternyata tak terjadi. Di rumah pun tak menggerutu lagi.
Jadi….sebenarnya ke’rigid’an Arsa sudah mulai bisa dinegosiasi.
Tanpa harus emosi baik di pihak Arsa maupun kami.

Wah berkendara dengan Uber sungguh memberi kontribusi positif  bagi Arsa yang autistik. Mulai dari bersabar menunggu kedatangan mobil dan tentu (mudah2an) akan mengurangi ke’rigid’an Arsa dalam mengikuti rute tersingkat yang dipilih gps Uber.

Terima kasih ya…
Siap2 naik Uber lagi nih untuk menguji rigid nya Arsa. ;))



Miss Klakson dan Santun Berkendara
18/03/2010, 4:12 pm03
Filed under: ngalamin sendiri | Tags: , , , , , ,

Saya kapok belajar motor. Bekas luka bakar didekat mata kaki telah mengurangi keseksian kaki saya. Namun, tinggal di Bali di mana angkot hanya beroperasi di area terbatas, ketidakmampuan berkendara Honda (sebutan untuk motor di Bali) kemudian menjadi hambatan terbesar untuk beraktivitas.

Tumbuh dan besar di Jakarta dengan segala jenis dan bentuk kendaraan umum, menjadikan saya gagap mengemudikan motor. (mungkin juga berlaku untuk semua perempuan yang tumbuh di kota besar). Lebih PD naik bajaj atau berdesakan di metromini atau bis daripada menyalip semua itu dengan motor. Nah begitu pindah ke Bali…nggak bisa naik motor sama dengan nggak bisa ke mana-mana.

Untung saya bisa menyetir. Biar musti belajar lancar (istilah untuk kursus dan tambahan latihan sendiri)…toh akhirnya kemana-mana saya ditemani si Hitam aka mobil saya. Biar belum semahir sopir angkot atau bis malam, yah minimal si kecil dan omanya merasa aman kalo disupirin saya…..:-)

Tapi….jalanan Bali sudah kayak rimba. Tempat belantara anak ingusan belajar Honda, sampai ibu-ibu yang akrobatik bawa dagangan sekalian anak-anaknya. Pfuhhhh…kalau nggak lihai menyalip, pintar nge-rem dan yang paling utama…pintar menahan emosi, UGD sudah menanti. Makanya…klakson tiba-tiba jadi jimat segala bencana….

Ada ibu menganan-nganan (maksudnya naik motor senengnya di posisi sebelah kanan)…klakson
Ada cewek sibuk handphonan sambil naik motor….klakson
Ada anak-anak naik sepeda ke kiri dan ke kanan asik lenggang lenggok….klakson
Ada ibu keluar gang, nyelonong saja….klakson baca selanjutnya