yukberbagi!


Si Toksik yang Nggak Asyik, Sebuah Relationshit yang Tak Berharga – Neswa.id

https://neswa.id/artikel/si-toksik-yang-nggak-asyik-sebuah-relationshit-yang-tak-berharga/



#NAD_Battle 2021 – History fiction
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021

#PASUKAN_ASTERIX

#CHALLENGE_1

Jumlah kata: 1299

Musim Gugur di Warsawa

(Dia yang Memilih Mati Sebelum Perang Dimulai)

Dini hari yang dingin. Semalam suhu turun di bawah sepuluh derajat. Joseph merapatkan mantel wol menutupi seragamnya. Di depannya, beberapa baris orang berbaju motif garis-garis berjalan melawan angin yang menderu. Meski tak sekencang biasanya, embusan angin telah membuat gemeretuk gigi silih berganti dengan gesekan langkah kaki dan guguran daun maple di musim gugur tahun itu.

Tentu bukan bunyi-bunyian yang indah di telinga Joseph. Bukan pertama kalinya, ia menggiring remaja-remaja ini masuk ke Sachsenhausen -kamp konsentrasi untuk tahanan politik dan kaum Yahudi- berjarak tigapuluh empat kilometer dari Berlin. Ini bagian tugasnya sebagai Jugend (tentara remaja Jerman) yang direkrut sejak kanak-kanak.

Joseph tak bisa menolak ketika direkrut Jugend di usia sepuluh tahun. Menolak berarti nasibnya seperti Max Ebel, salah seorang temannya yang dilecehkan dan diserang anggota Jugend sampai bersimbah darah. Sempat ia mencari dan bertanya-tanya, mengapa sejak hari itu Ebel tak pernah menampakkan dirinya.

Sebagai Jugend, Joseph dan tentara anak Jerman lain selalu dicekoki bahwa menangkap orang Yahudi adalah tugas mereka. Awalnya, Joseph kecil masih mengikuti kegiatan alam liar yang ditawarkan dengan senang. Seperti yang dilakukannya dulu bersama teman-teman Yahudinya, Schneider dan Ernst. Mereka sering bermain bola bersama karena tinggal bertetangga.
Mereka juga kerap kali berkemah dan membuat api unggun di pinggir sungai saat bulan purnama.

Pernah Joseph terpeleset dan nyaris tenggelam di sungai saat berusaha menangkap ikan. Schneider yang bertubuh gempal ternyata mampu menolongnya. Beberapa saat sebelum Joseph kehabisan napas, tangan Schneider menariknya membawa ke pinggir. Kejadian itu takkan pernah dilupakan Joseph.

Semakin lama Joseph di Jugend -seiring ia bertumbuh menjadi remaja- kegiatan alam liar tak ada lagi. Kini Joseph dan teman remaja lain dilatih menggunakan berbagai senjata serta bagaimana berkelahi dan menyerang orang. Segala aktivitas itu membuat Joseph sering pusing sampai memuntahkan isi perutnya, karena merasa tertekan.

Matahari semakin tinggi saat Joseph dan rombongan besar itu mendekati Sachsenhausen. Sungguh pemandangan yang kontras. Josep dan skuad Jugend terlihat gagah berbaris, namun para remaja calon penghuni kamp sudah terseok-seok menyeret kaki mereka. Beberapa yang lain malah sudah berjalan limbung nyaris jatuh.

Saat tembok putih di tengah lapangan yang sangat luas dan dikelilingi pagar kawat berduri itu terlihat jelas di depan mata, satu persatu dari mereka mulai berjatuhan. Joseph mengusap matanya yang tiba-tiba basah. Merasa sedih karena Schneider, sahabat sekaligus penolongnya dulu, entah masih bertahan atau tidak.

“Seret saja mereka. Kaum lemah, percuma otakmu pintar kalau fisikmu payah. Seret … seret, ayo Rudolf, Hugo, Anton, Joseph seret mereka!” suara Franz pimpinan skuad Jugend mengejutkan Joseph. Meski terpaksa, Joseph menyeret juga salah seorang remaja yang mirip sekali perawakannya dengan Schneider.

Wajah Joseph mulai memerah menahan amarah. Sejak Franz menjemput paksa Schneider, menyeretnya ke luar rumah (ibu Schneider sampai memohon-mohon ampun), menendangnya berkali-kali sebelum dimasukkan dalam truk, rasa marah itu tak bisa Joseph sembunyikan. Bahkan saat ini, ketika tentara SS (pasukan khusus intelijen Jerman) menertawai aksi seret menyeret itu, Joseph sudah ingin melayangkan tinju ke arah mereka.

Joseph sering marah pada dirinya yang tak bisa menolong Schneider dan remaja-remaja Yahudi lainnya yang masuk kamp ini. Sering ia sengaja melukai daging lengannya dengan pisau atau coba-coba menjerat lehernya saat sendiri di barak. Joseph merasa dirinya sudah ‘mati’ seperti mereka yang tak bisa keluar dari Sachsenhausen karena ditembak atau jadi sasaran tembak tentara SS, mati kelaparan atau sakit keras akibat kondisi kamp yang sempit dan buruk.

Ketika semua tawanan sudah masuk bangunan khusus orang Yahudi dan pintu dikunci, Joseph dan teman-teman skuadnya yang berjumlah empat puluh berkumpul di tengah lapangan.

“Die Armee, ini adalah misi terakhir kita mengantar tawanan. Setelah ini kita akan menuju perbatasan untuk latihan intensif taktik Blitzkrieg, persiapan menuju Danzig. Kita akan buktikan pada Jenderal Heinz Guderian, Polandia bisa kita kuasai. Jerman akan menjadi kekuatan yang hebat di dunia. Jerman hari ini, dunia esok hari!” teriak Franz sontak disambut seruan seluruh anggota skuad.

Hanya Joseph yang mengangkat senjatanya saja tanpa ikut berseru. Perasaan benci sekaligus sedih campur aduk menjadi satu. Joseph menengok lagi ke arah pintu bangunan. Terbayang Schneider menoleh dan berkata lewat gerak mulutnya. “Das kannst du besser” -kamu dapat melakukannya lebih baik lagi- sebelum ia didorong Hugo masuk ke balik pintu itu.

Andai Joseph berani berlari ke arah pintu dan menarik Schneider, mereka masih bersama-sama meski mungkin langsung tertembak mati, saat itu juga. Namun ia hanya mampu mengepalkan tangan dan menghentak-hentakkan kaki saja hingga guguran daun berhamburan ke udara.

Saat ransum makan siang dibagikan, Joseph merasa nafsu makannya lenyap. Padahal perjalanan berpuluh kilometer itu sudah merampas tenaganya apalagi dengan rasa amarah yang makin membesar. Joseph berusaha menelan beberapa potong sosis bersaus rempah.

Biasanya beberapa anggota skuad mencoba mengajaknya berbicara saat makan seperti itu. Namun beberapa yang lain seperti Hugo, Rudolf dan Anton selalu mengolok-oloknya, sambil melempari tulang ayam, biji buah hingga kentang rebus yang masih panas.

Si bisu tukang marah menjadi julukan Joseph sejak ia mengunci mulut rapat-rapat usai Schneider diperlakukan semena-mena. Joseph menjawab seperlunya terutama bila ditanya Franz, hanya karena ia pimpinan skuad semata.

Sore berganti malam, malam berganti pagi dan seterusnya. Skuad Joseph sudah bergerak mendekati Danzig. Masih sempat Joseph mendengar Franz berbicara dengan pimpinan skuad lain saat bertemu di jalan.

“Tentara kita nanti muncul dari seluruh penjuru Polandia. Di timur lewat Prusia, di wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Jerman, di selatan lewat Silesia dan dibantu pasukan Slovakia. Pesawat Luftwaffe akan membombardir Wielun, dan kita tentu saja Jugend muda dan berbahaya akan menyerang Danzig, bersamaan dengan kapal Schleswig-Holstein melepaskan tembakan ke posko transit.”

Tampak Franz juga menerima operan sekarung ransum cukup berat dan bersuara dentingan botol yang diserahkan kepada skuad pembawa perbekalan. Joseph segera tahu, akan ada acara minum-minum untuk mengobati kelelahan serta stres akibat perjalanan melintasi perbatasan Jerman dan Polandia, paling tidak tiga atau dua hari sebelum penyerangan.

Semua informasi itu digambar Joseph di buku kecil yang sudah menemaninya selama ini. Dituliskannya tanggal-tanggal menuju Danzig, dan apa saja kira-kira kegiatan mereka tiap hari, termasuk rencana yang telah lama dipikirkannya.

Tiga malam sebelum penyerangan, makan malam berlangsung biasa. Joseph pun tidak bertindak apa-apa.

30 Agustus 1939, dua malam sebelum penyerangan ke Danzig.

Latihan penyerangan terakhir ternyata begitu melelahkan seluruh anggota skuad, termasuk Joseph. Seluruh badannya terasa sakit dan nyeri.
Sebelum waktu makan, Joseph menyempatkan diri membuka lagi catatannya dan menulis nama Schneider. Pisau Jugend miliknya sudah diselipkan di celah antara bot dan celana panjangnya.

Ketika makan malam berakhir, Joseph melihat Franz mulai membuka beberapa botol Moët & Chandon lalu menawarkan minuman memabukkan itu kepada seluruh anggota skuad. Semua bersorak kesenangan, kecuali Joseph.

“Ah, dia … si bisu tak akan mau. Nanti mabuk, dia marah-marah kepada kita!” seru Hugo yang disambut tawa anggota skuad yang lain.

Joseph hanya mendengkus dan sengaja keluar tenda karena tak mau berlama-lama di antara mereka yang mabuk. Menit demi menit berlalu, Joseph masih menunggu untuk beraksi. Pisau bertuliskan “Blut und Ehre!” sudah di tangannya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Peluh juga mulai bercucuran meski yang disasar hanya Franz seorang saja.

Setelah menggoroknya nanti, Joseph berniat merampas pistol Luger P08 milik Franz untuk menghabisi nyawanya sendiri.

Tak perlu menunggu lama aroma minuman keras mulai menguar sampai ke luar tenda. Satu persatu anggota skuad mulai melorot rebah ke lantai. Suara tubuh berjatuhan terdengar silih berganti. Sementara Franz, Hugo, Rudolf dan Anton tertawa-tawa dengan badan yang mulai limbung.

Joseph merasa sudah saatnya. Setengah berteriak ia memanggil Franz ke luar tenda. Sambil tertawa-tawa Franz menghampiri Joseph.

“Ada apa? Was ist passiert? Kenapa tidak ikut minum. A-a-ay-yo mi-mi ….”
Suaranya terhenti bersamaan dengan ambruk tubuhnya lewat gorokan Joseph.

Kepiawaian Joseph menggunakan pisau yang dipuji-puji Franz saat latihan dulu, malah kini menghilangkan nyawanya.

Tak satu pun anggota skuad yang menyadari. Semua sudah benar-benar mabuk saat itu. Ketika pelatuk Luger P08 di tangan Joseph menerjang pelipisnya sendiri, terlihat cahaya putih dengan bayangan Schneider dan bola di tangannya.

“Das kannst du besser”
Kini Joseph dan Schneider sudah bersama-sama lagi.

——
1. Das kannst du besser : kamu dapat melakukannya lebih baik lagi
2. Die Armee : tentaraku
3. Blut und Ehre! : darah dan kehormatan
4. Was ist passiert : apa yang terjadi?

Yogyakarta, 6 Februari 2021



#NAD_Battle 2021 – Cerita Silat
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , , ,

Disclaimer : Tidak disarankan untuk pembaca yang belum dewasa.

#NAD_BATTLE_2021
#PASUKAN_ASTERIX
#CHALLENGE_2
#BABADTANAHPUDYA

INTAN RAKAMALA

Judul : Lika Liku Luka Laksmi
Tokoh : Laksmi
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2096

18+

Rinai gerimis malam itu, mengawal pertemuan kesekian antara Laksmi dan Lohat. Di belakang rumah batu penyimpanan besi-besi sisa membuat senjata, tempat terbaik yang tak akan diketahui oleh siapa pun.

Laksmi melihat Lohat tengah membelakangi pintu. Perlahan ia mendekati lelaki gagah itu, memeluk tubuhnya dari belakang. Aroma cendana dan kayu manis dari tubuh Laksmi menguar memenuhi ruangan seketika.

Laksmi mengecup berulang kali tengkuk Lohat, menyebabkan napas lelaki itu mulai memburu. Jari jemari Laksmi langsung menyusup ke dalam pakaian Lohat dan bergerak menelusuri perut dan pinggangnya. Dengan sekali hentak Laksmi menarik ujung pakaian Lohat dan melepaskannya.

Tampak tubuh Lohat bergetar. Dengan cepat ia memutar tubuhnya yang sudah setengah telanjang untuk merangkul Laksmi.

Laksmi mendesah. Tangan kanan Lohat mengangkat dagu Laksmi dengan lembut. Seraut wajah menawan Laksmi yang membuatnya tergila-gila kini tepat di hadapannya begitu dekat. Mata cokelat keemasan, hidung bangir dan bibir ranumnya sangat membangkitkan gairah Lohat untuk menaklukkannya.

Jari jemari Lohat membelai rambut Laksmi yang harum.
Laksmi melirikkan mata dan menarik sudut bibirnya membentuk lesung pipi yang kian menggugah birahi Lohat.

Lohat terpukau menatapnya. Dengan ibu jari, diusapnya bibir ranum itu sebelum kemudian mencecapnya. Sekali, dua kali, disambung saling melumat antara keduanya. Lidah-lidah mereka bertaut bertukar ludah. Gelinjang tubuh Laksmi, desah napas Lohat bagaikan pertarungan birahi dan rindu yang tertuntaskan.

Tiba-tiba Laksmi menarik bibirnya. Lohat terkejut dan menatapnya.
Sambil mengatur napas yang tersengal,
“Ka-kan-da, ka-kanda … tolong berhenti dulu. Bukankah malam ini kita hendak berbincang-bincang?”

Lohat hanya tertawa menggelengkan kepalanya. Lelaki itu lalu menyurukkan kepalanya antara leher dan dada Laksmi.
Ia mendesis. “Pssttttt … Dinda terlalu menawan hanya untuk berbincang.”

Napas Lohat makin memburu. Laksmi sangat tahu, perbincangan ini lagi-lagi akan tertunda. Desakan birahi Lohat sudah tak tertahan lagi.

Jari jemari lentik Laksmi mulai mengusap janggut kasar lelaki itu, menelusuri rahang lalu membelai bahunya yang bidang. Lohat mendesah.

Bibir Lohat mulai menjelajahi dan menelusuri kulit cokelat kemerahan Laksmi yang terlihat berkilau dalam cahaya lentera. Laksmi sendiri terseret dalam pusaran birahi.

Suara gerimis berubah semakin deras. Waktu seakan terhenti saat keduanya saling bergumul untuk meraih puncak kenikmatan duniawi bersama-sama.

Fajar pun datang. Secercah sinar menelusup melalui sela-sela atap di ruangan itu.
Laksmi bergegas memunguti pakaian, yang terlempar berserakan di lantai.

Baru saja Laksmi hendak beranjak, dehaman Lohat mengejutkannya.
“Tak mau mengucapkan selamat tinggal, Laksmi? Mengapa Dinda begitu terburu-buru? Bukankah semalam Dinda mengatakan hendak berbincang?”

Laksmi hanya tersenyum dan menatapnya lekat.
“Kanda, Dinda hanya ingin menagih janji untuk selalu menjaga Dinda dan adik Lekha. Kanda juga berjanji untuk menolak perintah Raja Ranajaya dan Aji Wura. Dinda tak mau kaum Pandya berperang. Dinda tak mau Kanda sampai terluka.”

Lohat tak menjawab, melainkan merengkuh tubuh Laksmi kembali ke pangkuannya. Mereka larut dalam peluk cium penuh gairah.

Namun, Laksmi tak mau terlarut, meski Lohat menciumi tanpa henti. Ia melepaskan diri dan merapikan pakaiannya. “Ka-kanda, ini sudah pagi. Sebentar lagi para pandai besi akan ke sini. Dinda juga sudah ditunggu Lekha di rumah. Dinda pulang dulu. Tolong janji Kanda ditepati.”

Begitu terlepas, tangan kanan Laksmi melambai pamit, tangan kirinya sudah disusupi sekantong kain berisi puluhan keping lukaya, mata uang Kota Yamun. Laksmi tersenyum lagi.

Senyuman itu kembali mengguncang hati Lohat. Ingin ia mengejar, merengkuh, melumat habis tubuh molek perempuan yang sepantar Linakandi, putrinya.

Akan tetapi, kakinya segera terpaku, ketika suara-suara beberapa orang pandai besi mulai ramai terdengar.

Laksmi berjalan cepat ke arah berlawanan dari pandai besi yang mulai berdatangan. Sambil menyelubungi kepalanya dengan selendang, Laksmi bergegas-gegas. Ia harus segera pulang. Ia mempercepat langkahnya. Ia berlari, berlari, dan terus berlari ….

=====

Laksmi bangun dan terkejut. Bulir-bulir peluh menetes dari pelipisnya. Kenangan bersama Lohat beberapa waktu lalu selalu muncul dan muncul lagi. Sudah beberapa lama, mimpinya selalu sama. Asyik masyuk mereka yang pada kenyataannya hanya diketahui Lekha selalu saja nyaris dipergoki para pandai besi, dalam mimpi itu.

Secercah cahaya menyelinap melalui tirai jendela kamar Laksmi. Senja telah datang, tanda ia harus bersiap. Malam ini ada seorang tua yang ingin menemuinya. Pesan itu disampaikan lewat Lekha, yang ditemui sepulang dari rumah Nyai Lodya, tabib kaum Pandya yang tersohor. Katanya orang itu adalah Langkerta salah satu tetua kaum Pandya.

Ah, mengapa orang itu hendak menemuinya, apakah hubungannya dengan Lohat sudah mulai terendus. Sial, Lohat lagi Lohat lagi. Mengapa sosok lelaki itu begitu menghantuinya.

Laksmi mendesah dan mulai menyisir rambutnya lalu memercikkan beberapa tetes minyak cendana dan kayu manis. Ia juga menepukkan serbuk Angglang Amaranggana beberapa kali, rahasia kehalusan wajahnya campuran butiran emas dan air mantra.

Ia memandang wajahnya pada cermin oval warisan mendiang ibunya dulu. Tampak seraut wajah yang pernah Laksmi kutuki sendiri.

Tak heran, setiap ia berangkat menuju area tambang batu mulia dulu; meski pakaiannya tertutup dari leher hingga kaki, rambut diselubungi selendang panjang yang juga menutupi sebagian wajahnya, setiap lelaki yang bertemu akan segera mengulurkan tangan mereka untuk menjamah Laksmi. Aura kecantikan Laksmi selalu terpancar, meski tertutup pakaian apapun.

Laksmi ingin meludahi, menampar dan memukul saat mereka menjamahnya. Namun, ia terpaksa mengurungkan niat untuk melakukannya agar bisa tetap mengais serpihan batu mulia di antara mereka.

Ayah Laksmi dan Lekha telah meninggal bertahun-tahun silam, saat kerja paksa membuat saluran air dari Danau Soga ke kota Yamun di masa pemerintahan Raja Narwastu —ayahanda raja yang memerintah sekarang.

Sejak saat itu, Laksmi dan Lekha jatuh miskin. Ia harus meminta bantuan sana sini, termasuk kepada Nyimas Lindu. Perempuan terkaya Kota Yamun, pemilik Sanggraloka Sedelinggam.

Meski mereka berdua telah menghaturkan sembah, menangis, dan mencium kaki untuk mengerjakan apa saja di Sanggraloka Sedelinggam, Nyimas Lindu bergeming. Wanita culas itu hanya menatap Laksmi dan Lekha, tanpa bicara apa-apa.

Ia hanya melemparkan beberapa keping lukaya tanpa menghiraukan air mata kedua gadis tersebut

Mengingat kenangan itu, menimbulkan rasa perih di dada Laksmi.
Ia lalu bertahan hidup dengan menjadi pengais di sekitar area tambang. Serpihan demi serpihan intan, emas dan batu mulia dikumpulkannya lalu dijual untuk menyambung hidupnya dan adiknya.

Sampai suatu saat, seorang lelaki datang menghampiri. Ia menyodorkan sekantong kain yang tampak berat dan berbunyi gemerincing.

“Apa benar namamu, Laksmi? Aku Lohat! Mungkin Adinda pernah mendengar namaku. Ayah dan Ibumu adalah tetanggaku dulu. Laksmi, sayang sekali perempuan rupawan sepertimu harus mengais serpihan logam mulia untuk menyambung hidup. Bagaimana jika Adinda menemani malam-malam Kakanda saja? Datanglah ke belakang rumah batu penyimpanan besi-besi sisa pembuatan senjata, milikku. Letaknya di ujung bukit sana. Berhiaslah yang cantik, Kakanda akan menunggumu.” Lohat tak menunggu Laksmi menjawab. Ia berbalik badan, meninggalkannya.

Laksmi terlalu terkejut untuk berkata-kata. Ia bukan perempuan bodoh yang tidak mengetahui maksud Lohat, pemimpin kaum Pandya. Ditimbang-timbangnya kantong koin lukaya itu lalu membuka pengikatnya. Laksmi terbelalak melihat ratusan keping lukaya, yang berarti ia dan Lekha bisa menyambung hidup selama berbulan-bulan.

Sesampainya di rumah, Laksmi berpikir langkah apa yang akan dipilihnya. Tetap mengais serpihan sisa batu mulia, dengan ingatan mengerikan jamahan lelaki yang tergoda melihat paras wajahnya, atau memilih menjual diri pada Lohat yang sepantar mendiang ayahnya. Keduanya tak sama bagusnya.

Keduanya sama-sama meruntuhkan harga dirinya sebagai perempuan. Terbayang apa kata-kata rakyat kaum Pandya jika mengetahui hal itu: ‘Sudah miskin, melacur pula. Dasar perempuan sundal. Terkutuklah segala kecantikanmu.’

Akhirnya Laksmi memilih menjadi kekasih gelap Lohat. Kantong keping-keping lukaya dari lelaki itu menjamin kelangsungan hidupnya dan Lekha.

Namun, makin Laksmi larut dalam percintaan terlarang itu, makin khawatir pula jika suatu saat Lohat akan meninggalkannya karena ia tak lagi cantik dan menarik seperti gadis remaja.

Laksmi tak pernah lagi ke area tambang untuk mengais serpihan. Kalau dulu ia menjual serpihan batu mulia demi menyambung hidup, kini ia membeli segenggam emas untuk diberikan kepada Nyai Lodya, tabib tersohor Kota Yamun.

Melalui Lekha adiknya, Laksmi memohon Nyai Lodya membuatkan bedak Angglang Amaranggana yang membuat kecantikan Laksmi awet sepanjang hidupnya. Laksmi juga meminta Nyai Lodya membuatkan jamu Rameteng Jo Mlendung untuk mencegah Laksmi hamil.

Bagaimanapun Laksmi tak mau terbebani akan kehadiran anak antara dirinya dengan Lohat. Lelaki itu hanya sumber pundi kekayaan baginya untuk bisa terus bertahan hidup.

“Kak Laksmi, mengapa engkau belum bersiap?” Suara Lekha mengejutkan lamunan panjang Laksmi.

“Sudah, aku hanya tinggal berganti pakaian saja. Kau tak usah khawatir, Lekha,” jawab Laksmi.

“Ya, Kak. Ingatlah kau harus menemui Langkerta di rumahnya. Ia mengatakan akan membicarakan hal yang sangat penting, terutama untuk hidup kita. Tapi, mengapa aku punya firasat buruk?”

Mendengar hal itu, Laksmi makin khawatir. “Lekha, jika hingga larut nanti, aku belum kembali, susullah aku ke Pedepokan Wesi.”

Mencoba menepis kecemasannya, Laksmi segera berangkat setelah berpamitan pada Lekha.

Sang surya telah turun dari peraduan. Laksmi berjalan ke arah Barat menuju rumah Langkerta. Suasana begitu sepi seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia pun bergidik merasa ada yang tak beres.

Laksmi berdiri dengan gelisah, berjalan bolak balik di dekat pintu.
Terlihatlah sesosok lelaki berjalan pelan ke arahnya. Rambutnya panjang dengan warna keperakan. Tak salah lagi ia pasti Langkerta, sesepuh Widura.

Begitu keduanya saling berhadapan, Laksmi melihat seorang tua dengan kerutan-kerutan di wajahnya.

Segera Laksmi menghaturkan sembah dengan berlutut dihadapan Langkerta, tanda hormat kepada sesepuh kaum Pandya itu.

“Anakku Laksmi, kukira kau tak akan datang. Aku hendak membicarakan sesuatu yang penting. Bangunlah, Nak, tak baik kau berlutut terus di hadapanku.”

Laksmi pun bangkit

“Anakku, aku hendak bertanya kepadamu. Apakah benar kau menjalin hubungan dengan Lohat, pimpinan kaum Pandya?”

Disergap pertanyaan itu, Lasmi tergagap. “Ehm … ehm … Be-benar, Guru!”

“Kau tahu apa akibatnya bila hal ini diketahui rakyat kaum Pandya apalagi sampai ke telinga raja. Kau telah memberi aib, kutukan bagi kaum kita.”

Mendengar perkataan itu, Laksmi menatap Langkerta tanpa berkedip.
Rasa hormat tadi kini berangsur menjadi benci.

Air mata Laksmi mulai mengalir. Tak disangkanya, mimpi buruknya menjadi kenyataan.

“Simpan air matamu, Laksmi. Perempuan sepertimu tak pantas menangisi perbuatan zinahmu dengan Lohat. Kau tak lebih dari pendosa yang seharusnya pergi dari Yamun. Hubungan gelapmu dengan lelaki yang lebih pantas menjadi ayahmu memberi aib bagi kaum Pandya.”

Laksmi tak menjawab, ia terduduk bersimpuh di tanah dengan air mata yang terus keluar tanpa bisa ditahan.

“Kau tak ada bedanya dengan Lohat, perempuan bodoh. Sama-sama pengkhianat, sama-sama penista kaum Pandya!”

Laksmi terperangah. Lohat berkhianat? Kepada siapa? Ia pemimpin yang baik, yang Laksmi kenal.

“Kau tak percaya bahwa Lohat juga berkhianat? Sini … ikut denganku ke Pedepokan Wesi. Lihatlah apa yang Lohat lakukan.” Suara Langkerta meninggi, bersamaan dengan tangannya menarik Laksmi bangkit.

Suara hujan yang mulai turun bersamaan dengan jantung Laksmi yang mulai berdegup kencang melihat banyak prajurit kerajaan Widura berkeliaran.

Dengan tak sabar Langkerta makin kuat menyeret tangan Laksmi menuju Pedepokan Wesi. Laksmi merasa sakit di pergelangan tangan dan kedua kakinya. Ia tak tahu, cairan apa yang mulai mengalir di sepanjang kakinya. Apakah ia berdarah? Ataukah itu air dari hujan yang begitu deras?

“Perempuan bodoh, dengar baik-baik. Saat bertemu Lohat nanti, kau harus tersenyum dan menahan air matamu. Kalau tidak, kau sudah tahu akibatnya.”

Laksmi semakin ketakutan. Apalagi makin mereka mendekati Pedepokan Wesi, terdengar keributan, dentingan senjata, teriakan teriakan yang makin menjadi-jadi dari dalam.

‘Lekha, Lekha tolonggg datanglah! Selamatkan aku’. Laksmi memanggil adiknya dalam hatinya.

Laksmi nyaris terjerembab ke depan didorong keras oleh Langkerta. “Ayo berdiri! Tunjukkan bahwa kau datang dan menemui Lohat.”

Baru saja ia menegakkan tubuhnya yang limbung, dilihatnya sosok Lohat tengah diseret prajurit kerajaan. Laksmi terkesiap, ingin sekali menghampiri kekasihnya itu. Namun ancaman Langkerta tadi mengurungkan niatnya.

Ia pun menyembunyikan perasaannya dengan mencoba berdiri seperti menunggu. Senyuman manis yang digilai Lohat pun disunggingkannya.

Mata mereka bersirobok. Ada rasa yang ingin diungkapkan keduanya.

Akan tetapi, prajurit-prajurit Widura kembali menyeret Lohat, menerobos hujan yang semakin deras.

Laksmi beringsut, berniat mengejarnya. Ia belum mengerti apa yang terjadi. Mengapa Lohat dibawa tentara, mengapa ia terluka?

Melihat Laksmi berniat mengejar Lohat, Langkerta menarik tubuh Laksmi lalu mendorongnya lebih keras dari tadi hingga ia tersungkur, jatuh ke tanah.

“Kau bodoh, Laksmi. Lohat tak akan bisa melawan perintah Raja. Ia telah berkhianat pada Widura. Ia tak pantas memimpin kaum Pandya. Apalagi ia berbuat nista dengan perempuan kotor sepertimu.” Suara Langkerta tiba-tiba lantang terdengar di antara gemuruh hujan.

“Kau menipu aku. Apa salah Lohat? Apa salahku, hingga kau begitu membenciku?” teriak Laksmi di antara tangisnya.

Langkerta mulai tertawa keras, badannya sampai terguncang saking kerasnya. Suara tawa itu menusuk-nusuk gendang telinga Laksmi.

“Apa salahku kepadamu? Aku perempuan miskin yang kalian tinggalkan saat ayahku mati waktu membangun saluran air kota ini. Kemana kaum Pandya saat aku dan adikku mencari sesuap makan? Kalian para pandai besi malah menikmati menjamah tubuhku saat mengais rejeki di tambang. Lalu, apa salahku menghidupi diri? Aku tak minta uang kalian, tak mengganggu keluarga kalian.”

Langkerta menjadi marah mendengar perkataan Laksmi. “Tak tahu malu kau Laksmi! Perempuan sepertimu, yang mencari uang dengan menjual tubuh, tak pantas hidup di sini, di antara kaum Pandya. Jangan banyak bicara kamu pendosa!”

Tiba-tiba Laksmi merasa sebilah benda tajam menusuk lehernya. Darah Laksmi menyembur deras diiringi suara petir yang menggelegar.

Sesaat sebelum Laksmi jatuh terkulai dan menutup matanya, di antara derai hujan ia melihat sosok Lekha yang berlari tergesa menghampirinya.

Lekha datang terlambat tanpa sempat menolongnya.

Yamun, malam terakhir



#NAD_Battle 2021 – Song fiction
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021
#PASUKAN_ASTERIX
#Challenge_3
#KoreaLoveStory

18+
Twice Love Story
Judul : Deserved
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1485 kata

🎶Oh girls, do what you want
You’re going the right way🎶

Suara Twice -girlband Korea- membangunkan Ailee. Itu bunyi nada dering ponselnya.

Bau cairan disinfektan yang seketika menusuk hidung, memaksanya membuka mata. Sesosok lelaki berjas putih berdiri membelakanginya sedang menjawab telepon. Ailee kenal ponsel dalam genggaman si lelaki. Ponsel itu miliknya.

Suaranya berat meski samar-samar. Hanya kalimat ‘nanti akan saya infokan’ yang terdengar oleh Ailee.

Lelaki itu berbalik dan menatap Ailee. Ah, bukan nama-nama yang ia sebutkan tadi. Siapa lelaki ini? Mengapa aku di sini? Siapa dia? Pikiran Ailee dipenuhi tanya.

“Arjuna? Arka?” Suara Ailee memanggil.

***
Sehari sebelumnya di The Jaguar Cafe ….

Usai menutup payung dan cepat- cepat mematikan rokok di tempat sampah depan kafe, Ailee melangkah masuk dan langsung menuju meja bar.

Baru saja Ailee mendaratkan bokongnya di kursi, dilihatnya seorang perempuan yang dikenalnya sebagai dokter NAD General Hospital yang pernah merawat Arjuna saat kebakaran kafe, tiba-tiba beranjak pergi dengan terburu-buru.
Ailee sempat menyapa berbasa basi lalu tersenyum melihat Arjuna yang cengengesan salah tingkah.

Arjuna mendekati Ailee. Hidungnya mengendus pakaian Ailee seperti biasa. Sesaat kemudian embusan napasnya terasa di belakang telinga Ailee. Aroma mint menguar menyentuh indra penciuman Ailee.

“Ngerokok lagi? Kenapa?” tanya Arjuna. Binar di mata Arjuna kini berubah menjadi tatapan menyelidik.

“Akhirnya aku putus sama Arka,” gumam Ailee dengan suara tak begitu jelas. Arjuna spontan membalikkan badan, memegang kedua bahu Ailee.

“Ai … serius? Are you sure? Yeaay! Akhirnya….”

Arjuna melompat kesenangan, tubuh Ailee ikut terguncang.

Ailee segera melepaskan tangan Arjuna dari bahunya. Selain timbul rasa nyeri bekas cengkraman tangan Arka saat marah kemarin, juga agar tidak menarik perhatian pengunjung lain.

“Yaaa …, itu keinginanmu dari dulu ‘kan?” ujar Ailee menghela napas panjang.

“Yesss! Keputusanmu berpacaran dengan Arka memang tak pernah kurestui. Kau cantik, pintar, pekerja keras. Ngapain sama Arka? Mending sama a….”

“Sama kamu maksudnya? Toh waktu itu kamu nggak ada. Kamu pergi dari kota ini saat aku memerlukan seseorang!” Tanpa sadar nada suara Ailee meninggi.
Arjuna langsung menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.

“Psst … Nggak usah ngegas kayak gitu. Aku tahu, aku punya salah hingga kamu jadian sama Arka. Aku seharusnya menjagamu, setelah mendiang kakakmu tiada dan papamu meninggalkan rumah. But anyway, sekarang kamu udah putus, kamu udah bebas dari dia. That’s more important.”

Sambil melepaskan tangan Arjuna, Ailee beringsut pindah ke tempat duduk yang menghadap ke sungai dengan raut wajah sedikit berubah. Arjuna mengikutinya.

Ya, Ailee sudah putus. Ia bebas dari segala kerumitan hubungannya dengan Arka. Ia tidak lagi menjadi samsak hidup. Bilur, lebam serta cakaran di tubuhnya tak akan bertambah lagi. Begitupun dengan tabungannya, tak akan berkurang terus karena diambil oleh Arka untuk gonta ganti gadget maupun hang out di klub bersama teman-temannya.

Ailee juga tak perlu takut lagi akan terkena penyakit seksual yang mungkin saja diidap Arka akibat petualangannya bersama wanita lain di luar sana.

Bahkan ancaman mengekspos foto-foto pose sensual Ailee serta bunuh diri Arka jika Ailee minta putus, kini tak akan mencemaskan hari-harinya lagi.

Arjuna menyadari kalau raut wajah Ailee berubah setelah ucapannya barusan. Ia juga paham, betapa hancurnya Ailee diperlakukan semena-mena oleh Arka selama ini.
Diraihnya tangan Ailee. Kehangatan segera menjalar dari genggaman Arjuna dan tatapan matanya.

“Sori Ailee. Just forget it. Tunggu di sini. Aku cek dapur dulu, ok. After that aku akan temani kamu. Kalau perlu sampe pagi.”

Ailee mengangguk, air mata yang sempat menggenang di matanya dihapusnya cepat-cepat. Ia memasang earphone mendengarkan lagu kesukaannya Girls like us – Twice sambil menunggu Arjuna kembali duduk bersamanya.

🎶 You are not alone, everyone has been on this path before
The happiness you’ll one day find on this road
As expected we’re headed for a distant place too, fly with us 🎶

*
Kafe makin malam makin ramai. Danny sudah menyelesaikan permainan pianonya. Ailee dan Arjuna masih asyik berbincang tentang banyak hal.

Ya begitulah persahabatan Arjuna dan Ailee hampir dua dekade ini. Sejak kecil, Ailee sangat dekat dengan Bree kakak lelaki satu-satunya. Semenjak Bree meninggal, Ailee menjadi sangat pemalu dan tertutup sampai bertemu Arjuna saat SMA. Sejak itu mereka berdua menjadi dekat dan membuat banyak orang cemburu. Bahkan kedua orang tua mereka beranggapan Arjuna dan Ailee akan menikah kelak. Namun, ketika ayahnya memilih meninggalkan rumah dengan kekasih barunya, dan saat yang bersamaan Arjuna berangkat keliling Indonesia untuk belajar tentang kopi dari tempat asalnya, Ailee merasa sendiri dan kesepian.

Kehadiran Arka seakan menjadi penawar gundah hati Ailee. Ketika Arka menyatakan cinta, Ailee menerimanya. Meski lewat telpon Arjuna tak merestui dan berpesan untuk menunggunya.

*
Malam makin larut. Denting lonceng pintu yang keras mengejutkan Ailee dan Arjuna. Sesosok lelaki menghampiri meja mereka dengan sedikit terhuyung, Arka. Mulutnya berbau alkohol dan ia sedikit meracau.

“Ailee … My Honey Bunny … Please, jangan putusin aku ….”

Ia menuju sofa Ailee lalu menubruknya hingga setengah telentang di sofa. Belum sempat Ailee bereaksi, badan Arka tertarik ke belakang.

“Arka. Stop! Buat apa elo cari Ailee? Kalian udah selesai.” Ternyata Arjuna yang menarik kerah baju Arka.

Arka berontak melepaskan tarikan tersebut. Sebelah tangannya masih mencengkeram bahu Ailee. Tangan yang lain menuding Arjuna.

“Elo yang bikin gue sama Ailee putus, Arjuna. Anj*ng lo! Ailee tuh milik gue! Terserah gue mau cari dia, mau apain dia. Gue ga mau putus. Gue mau jemput dia pulang, sebelum nanti ditidurin sama elo!” teriak Arka.

Badan Ailee tertarik bersama Arka, sebelum terhempas lagi saat kepalan tangan Arjuna mengenai dagu Arka.

“Bangs*t. Tutup mulut elu, basta*d!”

Mereka saling meninju, mendorong, memaki, mencengkeram bahu, menendang satu sama lain, memiting lengan.

Ailee berteriak-teriak, berusaha memisahkan mereka. Badannya tertarik ke kiri ke kanan. Sesekali bahu Ailee ikut terdorong, kulitnya tercakar ketika mencoba melerai Arka dan Arjuna.

Tiba-tiba seseorang menarik Ailee di antara mereka berdua.

“Ailee … Nona Ailee. Stop. Kamu bisa terluka,“ ujar Tommy, baker di kafe ini yang selalu menawarkan kue kreasi baru kepadanya. Namun, perkataan Tommy justru makin menyulut Arka.

“Hei, tukang kue! Ngapain ikut campur? Elo juga mo pake dia, hah? Langkahin mayat gue dulu, brengsek. Dia milik gue … cuma gue yang boleh tidurin dia!” teriak Arka langsung menyerang Tommy.

Arjuna makin marah mendengar kata-kata Arka. Ia menyerang Arka dari belakang. Sementara Tommy menyambut serangan Arka dari depan.

Ailee terdorong hingga jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya sakit semua. Ia terlalu syok untuk bersuara serta bingung harus bagaimana.

Suasana kafe tak terkendali. Meja-meja tergeser ke sana ke mari. Kursi berhamburan. Cangkir, piring kue, sendok berserakan di lantai. Dari sudut matanya, Ailee melihat para pelayan dan kasir meminta pengunjung lain untuk segera meninggalkan tempat.

Arka, Tommy dan Arjuna masih terus saling memukul. Arka menendang Arjuna, tetapi ditangkap Tommy dari belakang. Lalu Arjuna maju meninju bahu Arka hingga tersungkur, tetapi kaki Arka sudah menendang kaki Tommy. Kini Tommy yang tersungkur. Ketiganya saling memiting dan bergulat di lantai.

Napas Ailee makin tak beraturan, air matanya terus membanjir turun. Tenggorokannya kering dan sakit. Badan Ailee perlahan rebah tak bergerak di lantai. Sesaat sebelum matanya tertutup, sesosok lelaki merangkul tubuh Ailee lalu semuanya gelap.

*

“Hai…. Syukurlah kamu sudah sadar. Kenalkan saya Dokter Andaru. Saya bertugas di IGD saat kamu dibawa ke sini tadi malam.” Suara lelaki itu menyadarkan Ailee dari ingatan kejadian semalam di kafe.

Tangan Dokter Andaru mengangsurkan ponsel ke hadapan Ailee. Sekilas Ailee melihat batere ponselnya sudah sekarat.

“Oh iya Ailee, benar begitu namamu? Teman kamu yang tadinya sama-sama kamu di sini, sedang di kantor diwawancarai petugas. Kalau nggak salah, namanya Arjuna?”

Ailee terkesiap. “Diwawancarai petugas, Dok? Mengapa?”

“Saya juga tidak tahu, maaf. Cuma saya diminta menjagamu di sini, mengingat kejadian semalam sudah termasuk pelanggaran hukum.”

Ailee terdiam. Arka, Arjuna?

“Nggak apa-apa, Dok. Terima kasih udah jagain saya. Kapan saya boleh pulang?”

Dokter Andaru hanya mengangguk, ia terus menatap Ailee. Senyuman di bibirnya membuat Ailee merasa tenang.

“Maaf Nona Ailee, boleh saya bertanya?”

Ailee tergagap. “Iya Dok? Ma-mau tanya apa?”

“Mohon tidak tersinggung. Kalau boleh saya tahu, ada lebam-lebam di bahu, tangan dan kaki tapi tak sama dengan luka-luka yang saya obati semalam? Sempat jatuh atau kecelakaan beberapa hari lalu?”

Ailee terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Maaf, Nona Ailee. Saya tidak bermaksud ….”

“Semua dilakukan mantan pacar saya bila ia marah atau cemburu. Orang yang sama yang menyerang saya semalam di kafenya Arjuna.”

Embusan napas Dokter Andaru terdengar keras. Tangannya mengepal. Air mata Ailee makin deras saat Dokter Andaru mengangsurkan saputangan.

Baru saja tangan mereka saling bersentuhan,

“Ailee, dear! Oh my God, aku khawatir banget. Syukurlah kamu sudah sadar. Aku tadi minta tolong Dokter Andaru menjagamu selama aku diwawancara petugas. Banyak sekali pertanyaan yang harus aku jawab dan tanda tangani. Habis ini giliranmu. Tapi, kalau kamu sudah cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kalau tidak, bisa ditunda besok.”

Suara Arjuna yang penuh semangat dan kelegaan terdengar seiring tirai pembatas brankar ruang IGD tersibak membuat Ailee segera menyusut air matanya dan Dokter Andaru mundur satu langkah.

Arjuna merangkul Ailee, memeluknya, “Be strong Ailee. Aku akan mendampingimu. Kita sama-sama menyelesaikan masalah Arka.” Arjuna berkata pelan.

Ailee diam dalam pelukan Arjuna, matanya menatap wajah Dokter Andaru yang juga tengah menatapnya sembari mengangguk dan tersenyum, seolah berkata, “Kau berhak bahagia, Ailee.”


NAD City, suatu pagi di ruang IGD.



#NAD_Battle 2021 – Hidup yang Puitis
13/05/2021, 4:12 am05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021
#Pasukan_Asterix
#Challenge_5
#HidupYangPuitis

Santorini, The Journey
Postcard from Heaven
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2822 kata

Gelap mulai menyelimuti hari ketika Adya berdiri di pintu pemeriksaan imigrasi Bandara Soekarno Hatta. Sebelum menyerahkan passport dan menunjukkan e-ticket lewat layar ponselnya, ia masih terus berpikir apakah perlu menunggu sebentar lagi.

Waktu di ponsel sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Masih banyak waktu sebenarnya. Adya gamang. Seraut wajah muncul dalam ingatannya. Lelaki dengan mata yang seolah punya daya magis saat bertatapan dengannya. Seorang sahabat dari masa kecil yang telah bersedia menjadi tempat sandaran baginya saat ia terpukul atas kecelakaan yang membuat orang tuanya pergi untuk selamanya.

Sepanjang hari itu, Adya mengalami kesialan yang tak kunjung berakhir. Mulai dari bangun kesiangan yang berarti akan ada tanda terlambat di daftar absennya. Roti panggang yang terjatuh karena bertabrakan dengan orang saat menuju kantor hingga laptopnya yang mendadak hang dan perlu tenaga IT untuk menanganinya, dan terakhir ponselnya habis baterai saat tengah menerima panggilan dari kantor KBRI Yunani tentang kematian orang tuanya.

Hati Adya terasa hancur berkeping-keping seperti kaca yang tak bisa lagi direkatkan. Dua orang yang ia sayang pergi pada waktu yang bersamaan. Bapak yang menghargai perempuan dan belum pernah Adya temukan di sosok lelaki mana pun serta ibu yang sangat ekspresif dan berpandangan modern. Bagi Adya, mereka adalah pasangan yang sempurna dan saling melengkapi.

Kedua orang tuanya tak pernah menyuruh atau memaksa Adya untuk menikah, akan tetapi kini ia merasa menyesal. Belum sempat Adya memberikan kebahagiaan paripurna kepada mereka sebagai kakek nenek untuk menimang cucu-cucu. Air mata Adya mulai merebak mengenang hal itu.

***
“Adya … sori aku terjebak macet! Ada kecelakaan tadi. Are you alright?” Suara Ken mengejutkan lamunannya.

Tangan Ken yang langsung mengusap air mata di pipi Adya mengalirkan kehangatan.

“It’s ok. Thanks for coming. Masih banyak waktu, kok!” Adya mencoba tersenyum semanis mungkin meskipun sulit.

Ken merengkuh Adya dan mengajaknya mencari tempat duduk. Mereka menikmati detik demi detik tanpa bicara. Adya membiarkan dirinya dalam pelukan Ken. Entah mengapa ia merasa nyaman seperti itu. Padahal sebelumnya Adya sering merasa jengah saat lelaki itu tiba-tiba memeluk untuk memberi selamat, misalnya.

“Enggak ada yang ketinggalan, are you sure? Postcard Ibu?”

Adya mengangguk tanpa kata. Tak mungkin ia lupa membawa postcard-satu-satunya benda yang tiba lima belas hari lalu-yang bisa meyakinkan Adya untuk berangkat ke Santorini. Pesan terakhir dari orang tuanya agar ia menemui seseorang di sana untuk masa depannya.

Panggilan dari pihak bandara terdengar. Adya beranjak seusai dahinya dikecup Ken.

“Kamu baik-baik di sana ya. Semoga perjalanan ini mampu menuntaskan rindumu kepada mendiang orang tuamu. Don’t forget to contact me, if you need. Take care and safe flight, Dear.”

***
Adya menyeberangi jalan setapak di Perivolas, pinggiran Desa Oia. Ia menghidu aroma laut. Area itu begitu tenang dan bebas kendaraan, mengingatkan pada rumahnya di pinggiran Jakarta. Sejenak dada Adya terasa nyeri mengingat kini tak ada lagi yang menunggunya di rumah dengan sepiring jajanan pasar dan sepoci teh pahit yang selalu menyambutnya sekembali bertualang.

Sambil mengusap air matanya yang menganak sungai, tangan Adya membalik kartu pos untuk mencocokkan lukisan di sana dengan bangunan bertingkat di hadapannya. Rivida Villas. Ibunya pernah bercerita bahwa bangunan hotel ini sudah berusia 150 tahun, bermula dari rumah kediaman kakek pengelolanya, lalu turun temurun dikembangkan dan dialihfungsikan menjadi penginapan. Ketika ia menoleh ke belakang, pemandangan kaldera dan laut lepas pantai sungguh menyejukkan matanya yang mulai terasa berat karena kelelahan menempuh perjalanan lintas benua. Badannya penat, meski pikirannya tak henti mengembara.

“Kalispera! Hello!” Seorang lelaki paruh baya keluar dari balik pintu kaca. “Miss Adya Kallisti?” sapanya lagi sambil tersenyum ramah.

Adya mengangguk dan sedikit terkejut akan respon lelaki itu.

“Yassas, Hello! ”

“Saya Gerome, host dari Rivida Villas. Selamat datang di Oia. Wah! Wajahmu benar-benar perpaduan kedua orang tuamu.” Sambil berkata demikian, ia mengangsurkan kunci kamar yang akan ditempati Adya.

“Efcharistó, Thank you.”

Ketika Adya membuka pintu kamar yang biasa ditempati orang tuanya, ia seperti menemukan sekeping puzzle kenangan tentang mereka. Kamar yang didominasi warna putih, krem, cokelat dan abu-abu dengan balkon menghadap laut, yang selalu dikunjungi setiap lima tahun sekali saat keduanya merayakan ulang tahun pernikahan. Bapak dan ibunya selalu romantis dan itu sungguh membuat Adya merasa iri.

Ia mulai memindai sekeliling kamar. Pandangannya dipenuhi memori seperti memutar ulang rekaman video yang pernah ditunjukkan Bapak. Saat itu, Ibu khusus memasangkan kamera pada tripod di sudut ruangan untuk mengabadikan Bapak yang duduk menghadap jendela, menyesap segelas wine dingin sambil membaca novel-novel JK Rowling kesukaannya. Ibu sendiri membuka koper, menata makanan kecil di mini pantry lalu menggantungkan beberapa kemeja putih Bapak dan gaun musim panas Ibu, yang juga memiliki warna dasar broken white atau krem di mini hanger yang disiapkan di kamar itu.

Pertanyaan Adya sedikit demi sedikit terjawab tentang kesukaan Bapak dan Ibu akan Santorini. Bahkan warna kamar hotel ini pun selaras dengan warna-warna kesukaan mereka berdua. Air mata Adya mulai merebak lagi. Ia jatuh bersimpuh di lantai sambil terisak.

***
“Adya, kamu beneran enggak mau ikut kita ke Santorini?” Bapak langsung menodong Adya ketika ia baru saja pulang dari kantor.

“Ahhh, Bapak. Aku nanti cemburu lihat Bapak Ibu bermesraan di sana, sementara aku nggak punya siapa-siapa.”

“Ajak aja Ken, Dya. Lumayan buat nambah portofolio dia sebagai travel photographer kan. Ibu yang traktir deh.” Ibu segera menangkap peluang untuk membujuknya.

“Eh, Ibu. Memang Ken siapanya Adya? Kok bawa-bawa dia sih?” Adya membelalakkan matanya menanggapi ibunya.

“Aih, kau kira Ibu enggak bisa baca sorot matanya setiap memandangimu? Ken memang sahabat kecilmu, tapi dia sangat kentara menyukaimu. Feeling Ibu 99% selalu tepat, kok. Bener ‘kan, Mas?”

Bapak mendeham sambil mengacungkan jempolnya.

Adya merengut dan menghela napas. “Kalian ajalah yang nikmatin anniversary. Enjoy yourselves. Mumpung Bapak baru bisa menikmati liburan lama, setelah diperbolehkan resign sebagai orang kepercayaannya grup Padma, kan? Adya juga lagi banyak deadline proyek ini. “

Acara bujuk-membujuk itu terus berlangsung berhari-hari. Meski merasa sedikit aneh mengapa keduanya sangat antusias mengajak Adya ikut ke Santorini kali itu, ia tak mau berprasangka apa-apa. Adya hanya menunda kepulangannya dari kantor, agar tak diajak mendiskusikan hal itu melulu.

Sampai akhirnya tiba hari keberangkatan.

“Adya, hati-hati ya, Sayang. Kita jumpa lagi akhir bulan. If you need help, call Ken. No worries, Ibu sudah pesan kepadanya untuk menjagamu, selama kami mengelilingi Yunani.”

Bapak tak banyak bicara hanya berkata, “We love you Adya. Take care of yourself. Adya Kallisti, puteri kecilnya Bapak.” Terlihat mata Bapak berkaca-kaca, sebelum memeluknya erat.

Suara ketukan di pintu kamar yang tak kunjung henti, mengejutkan Adya yang jatuh tertidur usai menangis tadi. Bagaikan film yang diputar berulang-ulang, kejadian sebelum Bapak dan Ibunya berangkat, senantiasa muncul setiap ia memejamkan mata.

Suara ketukan terdengar lagi.

“Me synchoreis, excuse me, Miss Adya.” Suara Gerome langsung menyambutnya ketika Adya membuka pintu.

Gerome menyodorkan sebuah notes kecil yang Adya kenali sebagai milik ibunya. Ia terkesiap, tak sanggup berkata-kata.

“Sebelum saya lupa, ini bucket list yang diminta Mrs. Kalyana dan Mr. Pradipta untuk Miss Adya lakukan. Ada lebih dari lima hal yang keduanya minta untuk dijadikan pengalamanmu di Santorini. Berhari-hari mereka berdiskusi setiap makan pagi, memintakan pendapat dari saya sebagai orang lokal. Semuanya saya rasa menarik. Cobalah dibaca pelan-pelan.”

Adya menggenggam buku saku warna marun itu erat-erat, bak diserahterimakan warisan yang sangat berharga. Baru saja ia hendak mengucapkan terima kasih, …

“Oya, bila Miss Adya lapar, ada Portokalopita, kue dengan rasa jeruk yang sangat disukai Bapak Ibu untuk kudapan sore. Ada juga Elliniko Kafe, kopi khas Yunani tersehat di dunia yang harus Miss coba. Mau ala sketos, metrios, glikos atau variglikos (1).”

Adya tersenyum kecil melihat keramahan Gerome seperti yang biasa dilihatnya pada sikap para pengusaha wisata, tetapi sosok ini jauh lebih tulus dan hangat, tanpa kesan artifisial.

“Terima kasih, Gerome. Saya menyegarkan diri dulu sebentar.”

Tangan Adya yang menggenggam notes bergetar tak terkendali. Apakah ia sanggup menguasai perasaannya membaca permintaan orang tuanya itu.

***
Malam pertama Adya di Santorini dilewatkannya berdiam di kamar dengan membaca berulang kali apa yang ditulis ibunya, lalu menimbang-nimbang mana yang akan dilakukannya terlebih dahulu.

Antusiasme Adya untuk melakukan semua permintaan mendiang orang tuanya berbaur dengan kesedihan yang tiada tara. Sebelum tidur, Adya membuka jendela kamar dan berucap pada bintang-bintang di langit Santorini. “Pak, Bu, temani aku tidur malam ini, ya. Aku sungguh merindukan kalian.”

Alarm di ponselnya membangunkan Adya tepat pada pukul delapan waktu Indonesia. Rupanya ia belum mengatur waktu di ponsel menjadi waktu Yunani yang berbeda lima jam lebih lambat. Tak heran di luar masih gelap. Meski merasa istirahatnya belum cukup, Adya memaksakan diri bangun untuk kemudian berkeliling area penginapan.

Suasana masih sepi. Tampaknya tamu kamar yang lain masih terlelap dalam tidur mereka. Adya melihat-lihat foto-foto dalam pigura yang terpasang di dinding ruang tengah. Ia terperangah di depan salah satu foto yang bertuliskan In Memoriam. Ada wajah orang tuanya bersanding dengan kliping koran yang menyatakan peristiwa kecelakaan naas itu.

Kapal pesiar Blue Crystal yang mengangkut 280 wisatawan asing sebagian besar orang AS, Rusia dan Asia itu menyenggol dinding karang di daerah sebelah utara pulau Teluk Saronic Poros sekitar 50 km sebelah selatan Athena. Orang tua Adya adalah dua orang korban yang dinyatakan meninggal oleh pihak kepolisian setempat, setelah jenazahnya gagal diketemukan.

“Kami selalu mengapresiasi kehadiran orang tua Miss Adya di vila ini. Mereka sangat rendah hati dan tak segan berbaur dengan tamu-tamu yang lain. Setiap datang dari Indonesia, ada saja cenderamata yang selalu dibawa untuk kakek, nenek, ayah ibu kami. We’re truly missed them, tous chasame pragmatika.” Kehadiran Gerome secara tiba-tiba di dekatnya menjawab pertanyaan besar Adya tentang foto itu.

Adya hanya terdiam, duduk merenung sendiri di depan foto sampai semburat matahari mulai masuk lewat kaca jendela. Ia juga menikmati sarapan dalam diam, sambil membuka lembar demi lembar notes Ibu.

Hari itu ia merencanakan memenuhi permintaan pertama tentang keledai. Aneh. Akan tetapi, begitulah permintaan Ibu.
Di situ dituliskan sebaiknya Adya tidak menunggangi keledai di Santorini, karena terkadang mereka tidak diperlakukan selayaknya. Adya juga diminta memberi minum pada setiap keledai kehausan yang ia temui.

Kepingan kenangan bersama menjadi terkuak kembali. Sejak kecil, Adya selalu tidak tega dengan hewan terlantar. Kucing, anjing, burung bahkan tupai yang ditemukan di jalan, selalu dibawanya pulang. Ibu tahu, hati Adya akan tergugah bila melihat nasib-nasib keledai di Santorini.

Benar saja, sepanjang hari itu Adya terlarut dalam kehebohan menghampiri setiap keledai yang dijumpainya sepanjang jalan di Oia. Ia mengusap-usap kepala mereka, mengangsurkan sebotol air putih kepada keledai yang tampak kehausan, sekaligus berbincang-bincang dengan pemilik keledai agar mereka memperlakukan keledai-keledai itu dengan baik.

Keasyikan Adya membuatnya lupa akan kesedihannya. Baru ketika tercium aroma Moussaka (2) dari salah satu restoran, ia pun memberi tanda di notes ibunya. Mission Accomplished.

Permintaan kedua ibunya adalah mencari Atlantis Books. Toko buku di Santorini yang katanya didirikan dengan semangat yang mirip dengan Shakespeare & Co. Toko buku itu terselip di antara jajaran toko dan kafe cantik di Oia. Adya perlu menuruni banyak undakan tangga semen sampai akhirnya bertemu dengan pintu depan.

Saat membuka pintu toko buku ini, Adya seperti déjà vu. Bak memasuki ruang kerja dan perpustakaan Bapak dan Ibu. Meski dengan dinding yang berbeda dan buku-buku di Jakarta tak disusun menjulang langit-langit. Adya seolah melihat dirinya yang masih balita dipangku Bapak dekat jendela, untuk dibacakan fabel karya Aesop.

Sementara ibunya di samping mereka sibuk membuka-buka buku resep masakan yang akan diujicobakan untuk makan malam.

Saat mengusap air matanya yang mulai mengalir, sekelebatan memori lain ikut menggedor-gedor benaknya juga.

Ketika Adya remaja mulai ingin tahu dan bertanya, mengapa orang tuanya selalu ke Santorini setiap lima tahun sekali untuk merayakan ulang tahun pernikahan. Ibu dengan mata berbinar mulai bercerita sambil membuka buku Treasury of Greek Mythology keluaran National Geographic.

“Cinta Bapak kepada Ibu itu luar biasa, Nak. Seperti kisah Euphemus, putra Poseidon yang melemparkan segumpal tanah dari Anaphe ke laut, untuk melindungi buah cintanya dengan sang bidadari dalam mimpi, putri Triton. Muncullah Kallisti, pulau yang sangat cantik, tempat di mana Thera, buah hati mereka dilahirkan.”

Saat itu Adya baru 12 tahun dan belum banyak mencerna tentang cinta, meski ia sering dijodoh-jodohkan dengan Ken yang saat itu dua tingkat di atasnya.

“Bapak tak datang dari keluarga kaya raya, tetapi ia pekerja keras. Bapak tak banyak bicara, tetapi benar-benar fokus dan tekun memperjuangkan impiannya. Ketika Bapak memberanikan diri melamar Ibu, Eyang Atma sudah memberi ultimatum bila Ibu, anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara, dibuat kesusahan sepanjang pernikahan, Eyang akan segera memaksa Ibu untuk menceraikan Bapak. Membuat perempuan yang dinikahi tak berbahagia, tak ada dalam kamus keluarga Eyang. Jadi, kamu sudah tahu ya mengapa namamu ada Kallisti dan mengapa kami berdua begitu menyukai Santorini?”

Mendengar kisah tersebut membuat hatinya tenteram melihat orang tuanya begitu harmonis, sementara di sekitarnya pasangan seusia orang tuanya banyak yang berselingkuh dan bercerai.

Di sisi lain Adya menjadi sulit sekali mengiakan bila ada yang menyatakan cinta padanya. Bahkan ketika syukuran usai wisuda, Ken dengan setengah bercanda menyatakan akan melamarnya suatu hari nanti, Adya hanya tertawa dan mengganggap itu sebagai prank terhebat yang pernah dilakukan Ken kepadanya.

Keasyikan Adya memilih buku-buku di Atlantis Books membuatnya lupa waktu. Begitu terkejutnya ia melihat pengunjung mulai beranjak pergi untuk menikmati keindahan matahari terbenam. Adya sendiri tak tertarik keriuhan itu. Meski dalam list-nya ada permintaan Bapak yang mengatakan suatu saat Adya akan menikmati suasana romantis saat senja di Santorini, ia tak yakin mampu mewujudkannya dalam kunjungan kali ini.

Adya memilih membeli sebuket bunga popi berwarna oranye kemerahan, untuk dibawanya ke tujuan terakhir petualangannya hari ini. Berjalan di antara pasangan-pasangan yang sedang berpelukan mengingatkan Adya pada Ken. Tiba-tiba ia merindukan berada dalam dekapan hangat sahabatnya itu. Astaga, ia lupa melakukan video call semalam untuk memberitahukan Ken bahwa ia baik-baik saja!

Kegundahan hatinya kian menjadi kala menyusuri sepanjang jalan menuju pantai Kamari. Tak ada yang indah senja itu, mengingat pandangan Adya setengah kabur dengan genangan air mata. Usai meletakkan buket bunga di permukaan air pantai, Adya cepat-cepat berlalu, bahkan tanpa berlama-lama mengucapkan kerinduan pada mendiang orang tuanya.

Saat kembali ke vila, tubuhnya sudah terlalu penat untuk mengingat keinginan melakukan video call dengan Ken. Seusai mandi, Adya pun cepat terlelap tanpa suara.

***
Alarm di ponsel Adya kini membangunkannya sesuai waktu di Yunani. Pegal-pegal di kakinya sepanjang Adya berjalan kemarin kini baru terasa.

Suara ketukan di pintu dengan tambahan suara Gerome terdengar lamat-lamat. “Me synchoreis, excuse me Miss Adya.”

“Wait a minute, Gerome!” Dengan menyeret kakinya, Adya membuka pintu dan seketika terbelalak. Ia sampai mengucek-ucek mata dan mencubit pipinya.

“Ken? Kamuuu?” Tanpa malu-malu Adya menghambur ke pelukan Ken yang tersenyum lebar dan menyambutnya dengan hangat.

Gerome yang berada di belakang Ken tertawa melihat mereka. “Sungguh pintar Mrs. Kalyana memohon saya mengirimkan kartu pos-kartu pos itu kepada kalian. Ia ingin sekali kalian berdua datang ke sini, namun tak kunjung berhasil. But, finally …. “

Adya sontak menoleh dan bertanya, “Apa maksudnya Gerome?” Tanpa sadar tangannya yang melingkari pinggang Ken makin mengencang. Ken mengecup ujung dahi Adya untuk menenangkannya. “Pssst, dengerin dulu …. ”

Gerome menghela napas dan mulai berkisah. “Kedua orang tuamu seperti memiliki firasat saat kedatangan terakhir itu. Mereka menuliskan bucket list di buku catatan yang minta diserahkan kepadamu, seandainya suatu hari nanti Miss Adya datang kemari. Ibumu malah membeli dua kartu pos, satu untuk Miss Adya, satu untuk Mister Ken yang minta dikirimkan enam bulan kemudian, bila terjadi apa-apa dengan mereka. Sejujurnya saya tidak mau, karena tidak mau membenarkan firasat itu. Namun, pagi sebelum kecelakaan, keduanya memastikan betul agar pesan mereka itu tersampaikan.”

Perkataan Gerome meruntuhkan pertahanan Adya. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini menganak sungai bahkan membasahi kemeja yang dipakai Ken. Gerome yang menyaksikannya tampak kikuk dan akhirnya melambaikan tangan tanda permisi.

Ken mencoba mengalihkan perhatian Adya dengan menyodorkan kartu pos dengan tulisan tangan ibunya Adya.

Bila pada kartu posnya hanya tertulis, ‘Pergilah ke Santorini. Kami ingin kebahagiaan dan cinta ini juga dirasakan olehmu’.
Akan tetapi, tulisan Ibu pada kartu pos Ken lebih panjang.

‘Ken, anakku. Bila suatu saat kamu menerima kartu pos ini, itu tandanya Adya tidak baik-baik saja. Adya perlu bantuanmu. Adya perlu perhatian, cinta dan kasih sayangmu. Bersiaplah bila ia mau ke Santorini dan susullah segera, saat ia terlupa sekali saja untuk tidak menghubungimu.
Tolong jagain Adya, ya, Ken. Cintai dan hormati dia seumur hidupmu, seperti Bapak mencintai Ibu.’

Adya membaca kartu pos itu berulang-ulang kali. Awalnya sambil tersedu sedan lalu diam. Sebelah tangannya diusap-usap dan digenggam Ken sedemikian erat.

Sesaat Adya menoleh ke arah Ken, ingin menatap ke dalam matanya. Apakah perasaan yang mulai tumbuh dan selama ini mengganggunya, juga dimiliki Ken, bukan sekadar merasa diberikan tanggung jawab memenuhi permohonan mendiang Ibu dan Bapak Adya.

Ken balas menatap. Tiba-tiba waktu serasa terhenti saat bibir Ken mulai berkata-kata.

“Tanpa hadirmu, aku tak bernyawa. Izinkan aku mencintaimu, menjagamu sepanjang masa.
Bukan sebagai sahabat, apalagi kawan dekat.
Aku ingin tertidur dan terbangun, dalam pelukanmu yang hangat.”

Di dalam jernihnya pantulan bola mata Ken, tampak sosok Bapak dan Ibu tersenyum lebar melihat ke arahnya.

* S e l e s a i *


(1) Sketos = kopi kental tanpa gula
Metros = kopi dengan gula
Glikos = kopi dengan extra gula
Variglikos = kopi yang sangat manis

(2) Moussaka = pasta berisi daging sapi cincang, terong dan potongan kentang di bagian bawah. Ada saus tomat dan taburan keju panggang di atasnya.
Biasa dimakan dengan Tzaziki = salad dengan saus yoghurt Yunani yang dicampur dengan bawang bombay, oregano, timun dan minyak zaitun.