yukberbagi!


Nilai Plus Plus Jika Orang Tua dan Anak Bergerak Bersama Menjawab Kebermanfaatan Internet

 

Ini Indonesia di tahun 2022!

Gulirkan tanganmu di layar ponsel sesuai kebutuhanmu saat ini … mau melihat orang-orang paruh baya sedang bicara apa, lihatlah di timeline Facebook.

Mau melihat citra visual yang memberi kenikmatan, tengok dan jelajahilah Instagram. Tak penting apakah hal tersebut settingan atau tidak.

Namun, bila dirimu hendak update hal-hal yang trending atau viral, apalagi dunia anak muda, eksplorasilah Twitter di mana cuitan akan terbarukan setiap detiknya.

Demikian catatan yang dihadapkan kepada saya sebagai orang tua, ketika memperbaru pengetahuan dan pemahaman tentang manfaat Internet terkait dengan media sosial baru-baru ini, ketika teknologi dan digitalisasi terus bergerak dan terbarukan.

Saya pribadi pernah berasumsi, TikTok yang lalu diikuti IG reels bakal melampaui popularitas Twitter. Ternyata kedua aplikasi tersebut tak serta-merta mengalihkan keseruan anak muda di aplikasi burung biru ‘berisi’ ini, apalagi ketika di rumah, di tempat publik, di kafe, IndiHome menjadi jawaban untuk mereka terus terhubung dan saling cuit.

Sumber : Pixabay

Hasil kajian Hootsuite, yang diulas Nata Connexindo,

https://www.nataconnexindo.com/blog/kenali-segmentasi-pengguna-media-sosial-agar-tidak-salah-pilih-target-pemasaran

mengungkapkan bahwa, pengguna Twitter di Indonesia mencapai jumlah hingga 10,65 juta orang yang membuat Indonesia menjadi negara ke 5 dengan pengguna Twitter terbesar di dunia dengan rentang umur 16-24 tahun merupakan yang mayoritas menggunakan platformnya. Fase usia yang sebagian terbilang generasi Z dengan karakteristik kuat digital native di mana aspek pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, bahkan hingga karakternya terbentuk dari hasil interaksi di ruang siber.

Tak heran, meski fitur yang disajikan Twitter terbatas 280 karakter , maksimum durasi video hanya 2 menitan, tampilan foto tanpa filter kecantikan visual Instagram, tetapi Twitter punya keunggulan menyajikan utas (thread) yang sering dinikmati sebagai bahan bacaan anak muda yang ditenggarai makin pendek rentang konsentrasi membacanya.

Beraneka utas yang bisa dipilih tak sekadar algoritma saja seperti aplikasi media sosial lain, tetapi tanpa disadari lama-lama punya kekuatan menyuarakan ‘sesuatu’.

Cuitan yang diawali “Twitter, please do your magic …. dstnya” kemudian bagaikan corong dengan kecepatan lebih, menggalang massa untuk bertindak. Bukankah hal itu saja segera mendeskripsikan sebuah gerakan, yang viral, yang menyatukan tujuan, walau dengan catatan tidak selalu benar. Bisa saja hal yang kemudian viral itu menjadi bahan untuk merundung seseorang secara beramai-ramai.

sumber : Pixabay

Sulutan emosi entah berdasar SARA, strata sosial maupun keberpihakan akan misi visi tertentu, termasuk politik; mempermudah membesarnya isu tersebut tanpa mampu dicegah lagi. Semudah administrator Twitter memenuhi permintaan pihak untuk nge-banned akun tertentu, semudah itu pula akun alter baru dibuat lagi.

Gerakan yang terjadi, baik maupun buruk dalam aplikasi Twitter ini bagai gerakan akar rumput, yang menyatukan aksi dari berbagai lokasi. Tak hanya di Twitter, media sosial lain pun punya efek negatifnya.

Namun, dibanding melencengnya gerakan tersebut menjadi negatif, manfaat Internet dalam menggerakkan hal lain yang lebih besar tak kalah implikasinya.

Pada koridor yang lebih formal, gerakan anak muda terealisasi dalam Youth 20 (Y20) yang menghubungkan antar negara dan lintas benua. Y20 merupakan wadah konsultasi resmi bagi para pemuda dari seluruh negara anggota G20 untuk dapat saling berdialog dan mendorong para pemuda sebagai pemimpin masa depan untuk meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan global, untuk bertukar ide, berargumen, bernegosiasi, hingga mencapai konsensus.

https://sherpag20indonesia.ekon.go.id/y20

Ketika Twitter meramu segala isu acak baik buruk, menjadi gerakan anak muda, Youth 20 ini lebih terpusat. Misalkan saja isu “Planet yang Berkelanjutan dan Layak Huni”, satu dari empat area prioritas Y20 Indonesia 2022, bersama tiga prioritas lainnya, yaitu Ketenagakerjaan Pemuda, Transformasi Digital, serta Keberagaman dan Inklusi.

Isu yang diolah dari pemahaman bahwa kesadaran anak muda sebagai generasi pewaris planet Bumi di tahun-tahun mendatang, penting memperjuangkan agar tetap menjadi tempat yang layak huni dan berkelanjutan termasuk masih memberi peluang pekerjaan, karir dan hidup mereka di masa datang.

sumber : Pexels

Masa yang kian rumit karena tak terbatas hanya kondisi bumi yang makin ringkih, tetapi juga dengan kebutuhan tenaga kerja yang menciut dan tergantikan oleh digitalisasi, serta ‘menghilangnya’ profesi yang dulu mungkin masih menjadi impian generasi Y maupun milenial, seperti akunting, auditor, data entry, operational manager maupun executive secretary, seperti diulas Bisnis Indonesia pada Edisi Weekly terbitan Minggu, 18 Juli 2021.

Lalu, bagaimana menyiasatinya? Di satu sisi kesigapan generasi Z bergegas dengan kemajuan teknologi internetnya Indonesia, perlu diimbangi dengan bagaimana agar kepekaan sosial dalam hal berkomunikasi, bersikap empati dan berkarakter tangguh , atau istilah anak sekarang, ‘tak kena mental’. Tentunya agar tak menjadi generasi rigid tanpa hal-hal manusiawi.

Hal manusiawi ini kemudian banyak dikenal sebagai soft skill yang menjadi cakupan literasi manusia, dan mampu mengedepankan generasi mendatang menjadi cultural agility global citizenship, yang di-Indonesia-kan menjadi warganegara dunia yang memiliki kelincahan dan kematangan kebudayaan.

Pertanyaan selanjutnya, siapa pihak yang paling berkepentingan dalam membentuk soft skill tersebut, terutama dalam mempersiapkannya menjadi agent perubahan?

Banyak pihak sontak sepakat menjawab orang tua. Namun, percepatan teknologi yang tak serta-merta mampu dikejar orang tua generasi ini, menjadikan mereka sedikit gagap dan tak mampu menjawab pertanyaan dan keingintahuan anak-anaknya, sehingga gap di antara keduanya menjadi kian besar saja.

Berkaca pada pengalaman pribadi penulis, yang baru mengikuti pelatihan bagaimana membuat kampanye sosial yang diselenggarakan campaign.com, tantangan terbesar tentu ketika diperkenalkan teknologi macam aplikasi slack, thinkific maupun padlet dimana saya perlu waktu lebih lama untuk memproses dan mengaplikasikan, dibanding peserta lain dengan usia yang lebih muda. Kadangkala saya juga berupaya mengelak dari share screen ketika sesi break out room webinar, lebih karena belum paham betul bagaimana caranya.

Kesimpulannya, kecepatan teknologi dan digitalisasi dari waktu ke waktu ini, memang perlu dikejar dan dipelajari bersama-sama antara orang tua dan anak. Dengan harapan, terbukanya ruang komunikasi yang timbal balik karena saling paham dan ada keinginan mau belajar, akan mampu memuluskan jalan generasi Z ini siap lahir batin menghadapi masa depan, yang tak selalu mampu diprediksi.

Tentu dengan catatan penting kepada orang tua, untuk tak gengsi belajar kepada yang lebih muda, tak sungkan bertanya bila ada yang tak dimengerti, dan tentu saja mau berusaha mengejar ketertinggalan agar tak makin lebar jurang perbedaannya. Karakter pembelajar yang sangat baik ini saja mampu menjadi role bagi anaknya sendiri, generasi di bawahnya, maupun dengan sesama orang tua.

sumber : Pexels

Pada akhirnya, keberadaan IndiHome produk Telkom Indonesia, telah menunjang digitalisasi dan teknologi sekian jauh untuk memenuhi kebutuhan dan bagian krusial dari kehidupan manusia Indonesia, tanpa bisa dielakkan.

Kita semua, ayah, ibu, anak, tanpa batasan usia, tak pelak lagi dituntut untuk menyesuaikan diri dan bisa mengikutinya dengan lebih bijak dan cerdas. Harapan yang semua orang kehendaki, bukan?



Tulisan ini 40 besar di lomba Opini Bisnis Indonesia 2022

Ketika saya menulis pemberdayaan perempuan dalam ekonomi global, terus terpilih sebagai 40 besar opini dari 300-400 peserta lomba yang diselenggarakan Bisnis Indonesia, jujur saya sangat bersyukur dan banyak-banyak berterima kasih.

Apalagi ketika teman-teman merespons positif tulisannya.

Siapa juga yang mimpi bisa nulis tentang ekonomi di media bisnis, secara saya enggak berlatar bidang itu. Sementara peserta lain berlatar dosen, peneliti, mahasiswa dan jurnalis.

Untuk teman-teman yang belum sempat baca, ini saya repost. Dengan link asli juga.

=====

WOMEN IN THEIR 20S DAN G20, KAUM PENIKMAT JADI PENYEDIA

Ketika MotoGP di Mandalika mencuatkan pawang hujan yang notabene perempuan, ada beberapa postingan baik artikel maupun TikTok yang membahas kemunculannya lebih bernilai marketing secara global, dibandingkan dukun lelaki. Bahasa awamnya, perempuan memiliki nilai jual tersendiri sebagai agen pemasaran.

Terlepas dari bias gender, kaum misoginis dan budaya patriarki, kaum perempuan memang terbukti menjadi unsur penting dalam industri periklanan atau dengan kata lain memberi peran ekonomi dalam bidang pemasaran di seluruh belahan dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menjadi pembicara utama pada sebuah seminar tahun 2021 lalu pernah mengungkapkan, di Indonesia, peranan perempuan dalam perekonomian menunjukkan peningkatan signifikan. Pada sektor UMKM, 53,76%-nya dimiliki oleh perempuan, dengan 97% karyawannya adalah perempuan, dan kontribusi dalam perekonomian 61%. Di bidang investasi, kontribusi perempuan mencapai 60%.

Sejalan dengan yang dikemukakan Menkeu, ada contoh nyata yang muncul baru-baru ini. Annisa Inawati Siswanto, yang masih taraf mengerjakan skripsi pendidikan S1-nya telah merintis bisnis thrift yang dinamai skirtizen, berawal dari kesenangannya menggunakan rok untuk keseharian.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret Surakarta tersebut sukses meraup keuntungan hingga jutaan rupiah dalam sebulan.

Padahal berlatar alasan sederhana kesenangan menggunakan rok yang dipasarkan sendiri, di mana produk thrifting ini lagi-lagi banyak yang berasal dari China dan Korea.

Annisa memang belum menjadi produsen dan mengalami jatuh bangun seperti Nurhayati Subakat, pendiri utama merek kosmetik Wardah yang juga mengelola Make Over, Emina, dan perawatan rambut Putri.

Keberhasilan Nurhayati yang dimulai dengan menawarkan produk Putri sejak tahun 1985 dari rumah ke rumah, membuatnya diperhitungkan sebagai salah satu dari 25 perempuan dunia yang berpengaruh di bidang bisnis, oleh majalah Forbes tahun 2018.

Anissa dan Nurhayati menjadi contoh bahwa perempuan pada dasarnya mampu berperan lebih sebagai produsen dalam perputaran ekonomi. Tak selalu hanya berada di posisi model produk, tim pemasaran, baik agen, reseller maupun dropshipper, apalagi berhenti hanya di posisi konsumen.

Tak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan rumah kita masih banyak untuk mengubah kedudukan perempuan, yang dari sekedar konsumen menjadi produsen, dalam perekonomian Indonesia yang tahun ini dipercaya untuk menjadi tuan rumah G20.

Kata Data pernah melakukan survey, bagaimana perempuan melakukan transaksi e-commerce (sebanyak kurang lebih) 26 kali dalam setahun dibandingkan pria yang hanya 14 kali, meski nilai transaksinya tak berbanding sama. Apalagi semasa pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia.

Populix juga pernah melakukan survei pada akhir 2020 tentang rentang usia pembelanja e-commerce.

Sebanyak 6.285 responden di seluruh Indonesia, usia 18-21 tahun dan 22-28 tahun memiliki angka tertinggi dalam aktivitas belanja online, yang lagi-lagi didominasi oleh kaum perempuan sebagai konsumen.

Ditilik dari sisi psikologis, dari kedua temuan survey tersebut dapat disimpulkan bahwa kurang lebih mayoritas perempuan berusia 20-an masih menempati posisi sebagai konsumen. Lalu bagaimana kita mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi situasi ekonomi Global dengan area market yang lebih luas, di mana para konsumen tak dibatasi oleh ruang mapun waktu dan persaingan antar produk makin kompetitif, bila kondisi ini terus berlangsung.

Ada yang meng-klaim bahwa adalah hal yang wajar apabila perempuan seusia ini hanya berperan sebagai konsumen semata, karena mereka sedang berada dalam fase pendewasaan diri dari remaja menjadi wanita dewasa dengan kebebasan mutlak untuk mengatur keuangan mereka sendiri. Meski tidak semuanya sudah mulai mencicipi kebebasan finansial dengan menjadi pekerja penuh waktu, misalnya.

Mungkin Korean Waves yang juga berimbas besar bagi perempuan usia 20-an ini, bisa dijadikan pelajaran yang sangat baik.

Lihatlah fanatisme para penggemar yang rela mengumpulkan uang untuk membeli merchandise bias kesayangan, maupun menonton konser online yang tak terbilang murah.

Pelajarilah bagaimana pengemasan drama Korea yang sekaligus optimal memasarkan produk-produk yang digunakan dalam film tersebut. Tak heran roti lapis ala Drakor seperti ramyeon, tteokbokki, minuman, wardrobe (pakaian, tas, ransel, sepatu), dsbnya menjadi hal yang memiliki daya jual.

Amatilah, bahwa produk yang ‘diiklankan’ tak semata endorse-an saja, tetapi justru sengaja diperkenalkan dalam acara tersebut. Ini belum termasuk penggunaan layanan streaming video on demand (VoD) yang ikut mendongkrak perekonomian Korea Selatan selama pandemi covid-19 berlangsung.

Walau Menkeu Sri Mulyani menegaskan dalam acara G-20 Women’s Empowerment Kick-Off Meeting pada Desember 2021 lalu, bahwa pemberdayaan perempuan dalam ekonomi dan kesetaraan gender adalah hal yang fundamental bagi pemulihan ekonomi global; pemaparan saya tentang mengubah posisi perempuan usia 20-an dari konsumen menjadi produsen adalah awal dari tindakan pemberdayaan itu sendiri.

Mengubah pandangan dunia yang cenderung bias gender, misoginis dan patriarki untuk mengakui bahwa perempuan memiliki kesempatan dan pengakuan kompetensi sebagai pelaku ekonomi yang setara, tidaklah semudah menarik minat masyarakat untuk beralih berbelanja melalui e-commerce misalnya.

Mungkin yang disampaikan Sri Mulyani tentang pembangunan satelit, fiber optic, agar setiap pelosok Indonesia bisa terkoneksi internet untuk mendukung promosi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), di mana banyak perempuan yang bekerja maupun berwirausaha di sektor ini; bisa menjadi langkah awal yang efektif.

Dengan jaringan internet yang semakin baik, teman-teman perempuan muda di berbagai pelosok diharapkan juga makin teredukasi, berdaya dan mengoptimalisasi kekuatan naturalnya sebagai perempuan.

Kemampuan otak manusia yang menurut para ahli neuroscience mampu membaca dan peduli terhadap situasi, diasumsikan dapat memudahkan kaum perempuan untuk mengenali trend, di mana kemampuan berkomunikasi yang lebih lancar tentu akan mendorong kemunculan berbagai bentuk kreatifitas dalam memasarkan produk.

Apalagi kemampuan multitasking yang dimiliki oleh hampir semua kaum perempuan yang pada akhirnya memampukan ia untuk tidak hanya memproduksi sendiri, tetapi juga menilai kualitas sekaligus memasarkannya.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip pernyataan Ndidi Nwuneli, peraih penghargaan Global Fund For Women; Memberdayakan perempuan untuk memulai dan membangun usahanya sudah selayaknya dilakukan, tetapi mengedukasi mereka adalah hal yang paling tepat sebagai langkah awal. Ya, mengedukasi lebih banyak lagi perempuan usia 20-an untuk mengubah pemikirannya sebagai penikmat untuk mulai beralih menjadi penyedia, seperti Anissa.

=====

Tulisan asli dimuat di Bisnis Indonesia



Saat Konten Jadi Candu, Empati pun Luruh Satu-Satu

2002, saat itu saya hamil muda anak pertama. Saluran tv belum sebanyak sekarang, tapi semua serentak menayangkan musibah Bom Bali. Tiga kali ledakan di tempat berbeda dan menewaskan ratusan orang, terbanyak warganegara Australia.

Alih-alih berkabung, hampir tiap saat gelimpangan mayat yang dijejerkan di ruang mayat RS Sanglah terekspos hampir setiap menyalakan tv. Maksud hati hendak mengetahui perkembangan terkini, malah saya terus bersedih dan tentu saja muntah tak henti-henti. Bercampur aduk rasa mual karena hamil muda dan gundah melihat tayangan jenazah.

Itu hampir sembilanbelas tahun lalu. Saat belum ada Facebook yang baru muncul tahun 2004 atau Twitter di tahun 2006 dan Instagram di tahun 2010. Apalagi aplikasi chat semacam WhatsApp dan teman-temannya. Hanya SMS dan telepon yang menghubungkan satu sama lain.

Dunia jurnalisme pun masih belum jelas kode etiknya dalam memburamkan kondisi korban di media. Empat tahun kemudian, tahun 2016 barulah disahkan Kode Etik Jurnalistik yang pada pasal 2 dikatakan, Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Di mana cara-cara yang profesional salah satunya di poin f adalah menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara.

Bayangkanlah sendiri bagaimana rasanya sebagai keluarga korban saat menyalakan tv, di saat masa berkabung atau harap-harap cemas. Saat itu saya sempat mengunjungi teman sekantor di rumah sakit. Dia selamat namun dengan luka bakar yang levelnya perlu penanganan lebih lanjut sampai ke Australia. Mendengar bagaimana kisahnya terinjak injak, panik di antara luka-luka dan benda terbakar sampai lolos dari maut, mendengar rintih kesakitannya karena rasa panas pada luka bakar di sebagian tubuh membuat saya merasa begitu sedih dan tak tahu harus berkata apa.

Karenanya, saya sungguh takjub dan geram dengan postingan yang sedang hits beberapa hari ini terkait musibah Sriwijaya Air. Meski saya menelusuri satu platform media sosial saja yaitu instagram, namun konten yang beredar sudah di luar akal sehat dan tentu empati sebagai manusia.

Caption [pesawat blabla hilang kontak, pasti pilotnya kang ghosting nih…] atau [bayangin aja tadi mereka teriak-teriak di pesawat dan kita lagi scrol di tiktok] direspon dengan berbagi cara. Direpost berkali-kali bak info berharga.

Belum lagi berbagai konten cocoklogi (istilah untuk mencocok-cocokan berbagai hal) mulai dari nomor kode penerbangan dengan tanggal kejadian, lalu jitunya ramalan seorang seleb peramal, serta adanya tulisan nama yang menyerupai lafal Allah di goresan moncong pesawat. Bertambah lagi banyaknya postingan jualan yang mencomot tagar nomor kode penerbangan sebagai aji mumpung, agar orang yang mencari tagar bersangkutan siapa tahu ada yang akhirnya ‘nyangkut’ menjadi konsumen.

Meski teman saya bilang, itu bot atau sudah biasa untuk membeli like atau tagar, saya jadi prihatin. Produk jualan ini mulai dari t-shirt, kue, online store, injeksi vitamin kecantikan, properti sampai bantal couple kekinian.

Hoaks jangan ditanya lagi. Tentang rekaman video pesawat sebelum jatuh yang kemudian dilansir kenyataannya sebagai rekaman salah satu film komersil produksi China. Lalu hoaks tentang rekaman dari black box sebelum terjadi crash yang kemudian diklaim hal tersebut sebenarnya dari insiden kecelakaan pesawat Adam Air. Bahkan ada akun hoaks yang mengatasnamakan salah satu penumpang, yang herannya langsung melejitkan follower puluhan ribu.

Video-video wawancara keluarga korban, bahkan ada yang saat pengambilan sampai mengganggu privasi dan kenyamanan narasumber. Akun blogger @iniami memuat kutipan sbb, “Udah, udah ya Pak. Mata saya aduuh..,” kata Pak Yaman Zai merasa tidak nyaman dengan flash dari kamera yang disorot ke wajahnya, saat Beliau tengah sibuk menelpon dan sedang menangis karena kehilangan istri serta tiga anaknya dalam kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182. Kata Fahmi Aviani pemilik akun, bahkan tak ada yang menepuk-nepuk bahu, menenangkan atau memberi minum, malah sibuk berkerumun bertanya-tanya demi update.

Ternyata bukan hanya saya saja atau Fahmi Aviani yang geram. Akun @mwv.mystic malah membuat postingan yang menyesalkan ketololan mengekspos kesedihan termasuk liputan wawancara terhadap keluarga korban tentang adakah firasat, atau pesan terakhir, termasuk status terakhir Instagram, WhatsApp, atau bahkan apa yang ingin dikatakan bila ternyata almarhum/ah masih hidup.

Salah satu sahabat saya, seorang diver yang tak mau dipublikasikan namanya menuturkan pengalaman saat diajak menjadi relawan rescuer, menyelam di laut dalam saat musibah kapal tenggelam.
Dia menjawab pertanyaan saya, apakah dirinya dan tim terlarut kesedihan ketika melakukan tindakan SAR tersebut.

“Saat rescue semua pembicaraan bersifat teknis, setelahnya baru muncul perasaan-perasaan. Waktu itu kami melihat jenasah ibu dan anak, pikiran yang muncul sangat teknis; bagaimana mengangkat dengan minim kerusakan baik di area ditemukan maupun pada korban.” Katanya lagi, tentu sampai sebuah prosedur SAR dilakukan, koordinasi dan kerjasama termasuk peran pengemudi kapal karet pun menjadi penting; sebagai pengantar ke lokasi titik pencarian.

Kenyataannya, yang hendak diketahui publik saat ada musibah sejatinya adalah bagaimana progress proses pencarian, bagaimana support system yang perlu untuk mendukung proses evakuasi termasuk dukungan psikologis untuk keluarga korban.

“Bila lalu ada foto atau rekaman video tersebar saat liputan bencana, yang sering kali menyebarkan justru warga atau relawan atau tim terkait di lokasi; meski kadang ada juga oknum jurnalis yg nyebarin. Kalau jurnalis, jelas akan kena kode etik, diberi sanksi bahkan mungkin dicopot keanggotaan jurnalistiknya.” ungkap Nur Hidayah, salah seorang jurnalis di tirto.id kepada saya.

Belajar dari Jepang, koresponden senior NHK Kenji Sugai pada pre summit workshop, Pertemuan Media Untuk Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana yang diadakan di Jakarta tahun 2014; pada saat bencana yang terjadi adalah liputan yang bertujuan mendukung operasi penyelamatan dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi berdasarkan kerusakan.

Dia mencontohkan, seperti saat gempa bumi 11 Maret 2011 yang disusul tsunami, saat terjadi getaran gempa semua saluran akan berubah pada penyiaran darurat dan menginformasikan langsung ke masyarakat. Tidak ada saluran yang lalu mengekspos kesedihan atau drama di antaranya. Sehingga semua pihak fokus untuk informasi akurat dan bagaimana penanganan setelahnya.

Saya jadi merenung. Berpikir keras mengapa akun-akun yang seenaknya mencari konten demi menaikkan follower ini sudah mati akal sehat dan empatinya? Lalu bagaimana dengan netizen yang lalu merepost, like dan membagikan ulang di platform media sosial lain?

Bisakah kita katakan, akan lebih menantang lagi untuk bicara toleransi dengan orang-orang ini? Karena di salah satu postingan, malah ada netizen mencuatkan komen, [semoga penumpang **********(beragama tertentu) diampuni dan mendapatkan pahala mati ******** (istilah meninggal dalam keadaan suci) ].
Komentar itu seolah membenarkan korban beragama lain tak perlulah dihargai sebagai sesama manusia.

Begitu juga dengan judul-judul yang menunjukkan unsur kedaerahan crew pesawat dan penumpang, sangat tak bisa dipahami apa maksud dan tujuannya. Bagi saya, siapapun dia, dari mana asalnya, apapun agamanya, adalah korban yang sudah berpulang lebih dulu karena musibah kecelakaan dan kita selayaknya berbelasungkawa sebagai sesama.

Jujur saja, dari sebuah insiden di awal tahun ini; kita jadi semakin sadar bahwa toleransi masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang belum kunjung selesai.

Definisi empati menurut kbbi : em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;

Referensi :
“KODE ETIK JURNALISTIK”, https://tirto.id/8Nb.

https://aji.or.id/read/kode-etik.html
https://m.antaranews.com/berita/437977/belajar-peliputan-bencana-dari-media-jepang



1001 Alasan Markonah bersiar kabar

WhatsApp grup kampung kami tiba-tiba riuh tak henti-henti. Sejak Markonah, yang dikenal terdepan mengunggah berita; mengeposkan tadi pagi.

[Berita duka cita : Innalillahi wainna ilaihi rajiun..Bapak Mrono meninggal semalam. Ga boleh dibawa pulang, langsung dikubur. Katanya covid.]

Beberapa ibu menanggapi dengan sedih dan menyatakan simpati. Beberapa ibu lain mempertanyakan kebenaran covid atau tidak? Beberapa lagi mengekspresikan ketakutan. Takut kalau sebelumnya Pak Mrono sudah menularkan ke orang lain.
Lalu mereka berdebat, ada yang menyarankan untuk menunggu visum rumah sakit tapi ada yang mendesak Markonah untuk membuktikan postingannya. Markonah tak bergeming.

Keesokan paginya, WhatsApp grup riuh lagi. Karena Markonah mengeposkan seperti ini.

[Saya, Markonah mohon maaf sebesar-besarnya pada keluarga dan kerabat alm Pak Mrono. Menurut rumah sakit, Pak Mrono meninggal karena serangan jantung akibat kelelahan kurang tidur bermalam-malam menunggui istrinya yang sakit. Alm langsung dimakamkan mengingat istrinya sedang sakit dan anak-anaknya tak bisa pulang karena lokdon di mana-mana. Abaikan postingan saya kemarin tentang pak Mrono positif covid]

Dan, semua anggota WhatsApp grup menjadi marah kepada Markonah. Berbagai umpatan dari halus sampai kasar tumpah semua. Mereka terlupa. Yang sepatutnya marah adalah Sepia, istri Pak Mrono bila satu hari nanti membaca percakapan tentang penyebab meninggalnya almarhum.

Sensasional atau mengejutkan sepertinya kunci agar pesan kita menarik lalu dibaca.
Dalam konferensi ‘Fakta Global 7’ edisi tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Jaringan Pemeriksa Fakta Internasional, Edwin Tallam, kandidat PhD, Universitas Moi menyebutkan bahwa “hubungan yang erat” menjadi penentu dipercayanya sebuah postingan di WhatsApp; meski postingan itu belum tentu benar. Setiap kali pesan datang dan penerima pesan mempercayai pengirimnya, pesan akan dianggap lebih dapat dipercaya.

Mengomentari studi Edwin tersebut Dimitra Dimitrakopoulou, asisten profesor tamu, Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengatakan bahwa cepatnya penyebaran berita pada postingan WhatsApp menunjukkan bahwa orang lebih percaya satu sama lain daripada mereka mempercayai media dan institusi sosial lainnya.

Lalu bagaimana dengan fenomena hoaks pada WhatsApp grup keluarga?
Sejak fitur WhatsApp grup diluncurkan oleh aplikasi tersebut tahun 2011, lalu mulai banyak digunakan di Indonesia pada tahun-tahun berikutnya, pilihan mengobrol beramai-ramai ini menjadi platform yang cukup diminati. Termasuk untuk menjalin komunikasi bila anggota keluarga banyak yang merantau dan berjauhan tempat tinggal.

Dari sekian banyak grup, mungkin WhatsApp Grup keluarga yang menjadi tricky dan menantang untuk anak-anak muda millenial. Terutama saat orang-orang yang lebih tua di grup menyampaikan pendapat atau membagikan berita yang provokatif. Sebut saja saat pilpres atau pilkada yang baru saja berlalu. Ketika para calon malah berkompetisi dalam diam karena tak boleh ada kampanye terbuka; perseteruan malah terjadi di WhatsApp grup keluarga meski para pendukung tak langsung saling mengenal calon yang maju.

Tak hanya isu politik. Isu kesehatan pun banyak dijadikan bahan hoaks yang menarik. Seperti ilustrasi di awal tulisan, covid-19 menjadi topik hits selama tahun 2020. Sampai Agustus saja, Kemkominfo menyatakan melalui laman resminya telah menjaring ratusan hoaks maupun disinformasi terkait covid-19 melalui AIS yang merupakan sensor pengais konten negatif di media sosial dan situs. Disinformasi yang dimaksud adalah sejak awal informasi tersebut sudah direkayasa sedemikian rupa dan tak mengandung kebenaran sama sekali.

Hoaks yang terjaring mesin AIS terkait informasi Covid-19 di era pandemik ini memunculkan istilah baru yang menurut Kemkominfo disebut sebagai disinfodemic. Diartikan sebagai kondisi di mana terjadi disinformasi tentang pandemik ini namun terus disebarluaskan; dimana WhatsApp grup keluarga sebagai penyumbang terbesar tersebarnya hal tersebut.

Tantangan yang lalu muncul menjadi dilematis. Orang-orang dalam WhatsApp grup keluarga biasanya adalah Ayah, Ibu, Om, Tante, Kakek, Nenek, Sepupu, Ipar, Keponakan di mana kita menjadi gamang dan segan bagaimana menegur mereka-mereka yang lebih tua; yang secara kodrat patut dihormati.

Tapi… tentu saya tidak akan memberi tips untuk menyerang balik para kerabat yang mungkin kerap dan tanpa sadar senang menyebar hoaks tersebut. Saya malah akan mengulas alasan mengapa seseorang seperti Markonah mengunggah sebuah disinformasi atau misinformasi.

Josh Stearns, pernah menulis sebuah artikel menarik di situs First Draft tahun 2016 tentang alasan-alasan di baliknya.

  1. Keinginan untuk membantu
    Saat tahu-tahunya menyaksikan atau mendengar insiden atau tragedi, banyak orang tergerak ingin membantu. Mereka ingin memberi tahu apa yang sedang terjadi, menyampaikan informasi penting terkait, serta berbagi foto dramatis. Tidak salah dan sebenarnya sungguh bermaksud baik. Sayangnya, bila yang tersebar adalah disinformasi maupun misinformasi, yang mungkin terjadi adalah menambah kekacauan informasi sebenarnya. Karena tergesa-gesa berbagi tanpa melakukan verifikasi keabsahan informasi bisa sangat merugikan daripada membantu. Di beberapa kasus, perilaku ini malah mendorong orang yang berkarakter buruk untuk mengeruk uang dengan melakukan penggalangan dana dari menjual rasa kasihan dan simpati.
  2. Keinginan memahami dunia
    Saya terkejut membaca alasan kedua ini. Sepertinya keren sekali keinginannya. Namun mulai sedikit paham ketika membaca penjelasan Craig Silverman dalam penelitian tentang penyebaran informasi yang salah, bahwa rumor, gosip, isu atau hoaks hanyalah cerita, dan cerita adalah mesin, seperti media atau alat; yang melaluinya kita jadi seolah memahami dunia.
    Kata Craig lagi, seringkali orang-orang dengan cepat berbagi rumor selama berita terbaru karena rumor tersebut memberi mereka sesuatu untuk dijadikan pegangan, mengkonfirmasi beberapa cerita dalam pikiran mereka, atau beresonansi dengan pandangan mereka tentang dunia.
    Mengapa berita terbaru asik untuk dijadikan rumor, isu atau hoaks? Karena dalam berita terbaru lebih banyak hal-hal yang menjadi misteri, banyak hal tidak diketahui daripada diketahui.
  3. Keinginan untuk merasa menjadi bagian dari pengalaman bersama.
    Mungkin ini yang terjadi pada kasus Markonah. Craig mengungkapkan, dalam menghadapi ketidakpastian, kesedihan, dan ketakutan saat adanya insiden, krisis dan bencana, tidak mengherankan jika orang mencari koneksi. Mencari keterkaitan satu hal dengan yang lain.
    Kini yang tercepat adalah secara online. Diilustrasikan Craig; orang-orang pun tak sadar berkumpul dalam kerumunan digital di sekitar tagar dan streaming langsung sebuah kejadian.
    Mereka seperti tertarik untuk menjadi bagian dari momen bersama ini, untuk melihat rasa sakit mereka sebagai efek insiden, krisis atau bencana tersebut. Dan kemudian merefleksikan kembali dengan mereka menyebarkan berita tersebut.
    Pada saat-saat seperti itu, berbagi berita bisa terasa seperti tindakan empati. Walau berita, foto, videonya sudah disinformasi. Pada kasus Markonah, memang bukan disinformasi. Karena info tentang pak Mrono meninggal benar adanya, namun penyebabnya yang keliru. Hal ini lebih dikenal sebagai misinformasi. Berita memiliki unsur kebenarannya tapi lalu dirombak. Nah ketika misinformasi menyebar, informasi itu dibagikan Markonah lebih untuk menguatkan seberapa urgen pesan yang dikirim dan bagaimana hubungan baik yang (seolah) dibangun Markonah dengan keluarga alm pak Mrono yang telah dibuatnya. Dalam hal ini, bagi Markonah sebagai orang yang berbagi berita, berita itu tidak perlu benar, tapi hanya perlu merasa “benar”. Kasus Markonah ini akan lebih jelas saat kita melihat alasan selanjutnya.
  4. Emotional network versus Information network
    Dalam penelitiannya, Craig mewawancarai Kenyatta Cheese terkait cuitannya di twitter usai serangan Paris November 2015. Cheese menuturkan mengapa banyak sekali kekeliruan informasi saat itu. “Mungkin yang ingin dibagikan orang bukanlah informasi tetapi pemicu emosionalnya. Dalam konteks sosial ini yang terjadi bukan lagi jaringan informasi tetapi jaringan emosional.”
    Seperti pada kasus Markonah.
    Ketika berita duka yang dibuat Markonah beredar di WhatsApp grup, jaringan yang menghubungkan seluruh anggota grup menjadi percampuran antara informasi dan juga emosi.
    Dan emosi itu justru malah mendorong berbagi dengan cara yang makin mempersulit pencarian kebenaran, di saat adanya insiden, tragedi, krisis atau bencana; karena akal sehat seolah terlupakan.
    Craig mengungkapkan Cheese menulis lebih lanjut di blognya, “Ketika orang membagikan informasi yang salah, mereka lebih tertarik pada emosi yang akan ditimbulkan oleh informasi tersebut.”
    Menjadi tantangan kemudian, ketika orang-orang hanya benar-benar tergantung pada berita di media sosial mengingat dalam situasi krisis, kedukaan atau bencana di mana kecepatan penyampaian informasi akurat diperlukan segera; apa yang dibagi (melibatkan emosi) dan apa fakta yang ingin diketahui menjadi bisa berlawanan dan malah menjadi sangat berbahaya.
    Bayangkanlah kasus Markonah. Bila ibu-ibu segrup sebenarnya ingin tahu fakta penyebab meninggalnya pak Mrono, namun sudah ketakutan terlebih dulu bahwa salah satu dari mereka mungkin tertular; atau lebih ekstrem lagi malah menjauhi bu Sepia yang diasumsikan juga sudah tertular; tapi misinformasi tersebut terus tersebar luas, tentu akan terjadi kekacauan dan syak wasangka satu sama lain.Dan semua kekacauan itu bermula dari satu postingan saja.

Apakah kita akan menggunakan 1001 alasan Markonah untuk terdepan bersiar kabar? Atau kita tipe saring sebelum sharing? Atau kita malah penikmat kekacauan atau oportunis pengeruk duit akibat disinformasi atau misinformasi?
Yuk gunakan jari dengan bijak.

Jadilah orang yang asik tanpa asal nge-klik.

Referensi :
https://www.google.com/amp/s/www.thequint.com/amp/story/news/webqoof/why-do-people-believe-in-fake-news-even-after-reading-fact-checks

https://www.google.com/amp/s/beritadiy.pikiran-rakyat.com/nasional/amp/pr-70649408/hoax-menyebar-di-grup-wa-keluarga-kenali-disinfodemic-dan-cara-penanganannya

Why do people share rumours and misinformation in breaking news?



Di’Uber’ sama Arsa yang autistik

Sudah seminggu ini..aplikasi Uber di android saya yang entah kapan diinstall, berubah aktif.
Tentu karena mobil kami sudah duluan di ‘lodging’ berkenaan dengan kepindahan keluarga kami ke kota lain.

Bila yang lain bercerita tentang pengalaman mengesankan baik maupun buruk tentang drivernya..saya berbeda. Bersyukur sih tak pernah dapat driver yang error atau berperilaku tak sesuai juga.

Saya mau berkisah tentang bagaimana berkendara Uber bisa menaklukkan salah satu karakter spektrum autistik Arsa, putra sulung kami. Maksudnya?

Ya..karena Arsa punya karakter Obsessive Compulsive Dissorder (OCD) terutama tentang rute jalan. Memori fotografis tentang rute jalan yang harus dilalui dari suatu tempat menuju rumah..itu luar biasa rigidnya. Ada jalan yang harus bahkan wajib dilalui..ada jalan yang pantang dilewati (sebelum dia ngambek atau menggerutu sepanjang jalan)

Kalau yang jadi sopirnya saya atau papinya..tentu kami paham dan kadang terlalu menuruti kemauan OCD nya itu. Sebenarnya sebagai cara paling malas karena tak mau menghadapi gerutuan Arsa. Tapi kalau orang lain? Dan..tentu suatu saat ia harus hadapi realita bahwa tak selamanya sopirnya itu saya atau papinya yang senantiasa bisa menuruti keinginannya untuk melalui rute tertentu. (Masalahnya kadang rute yang dimintanya itu tak selalu rute tersingkat menuju rumah)

Malam ini buktinya. Kami menggunakan Uber lagi untuk pulang dari daerah Sanur.
Rute yang diinginkan Arsa adalah lewat Renon…area Denpasar Kota baru menuju rumah kami di Denpasar Utara. Namun driver Uber dan tentu saja kami (sudah agak malam) memilih lewat sepanjang Gatsu Timur..Gatsu Tengah baru masuk wilayah Denpasar Utara.

Begitu di perempatan Hang Tuah, Arsa sudah mengatur untuk berbelok ke Renon. Namun driver jalan terus. Mulailah Arsa menggerutu. Saya berusaha menenangkan dengan mengatakan jalanan area Renon ditutup. Maaf deh saya harus berbohong sama Arsa. Dia berusaha mencerna tapi terus menggerutu.

Akhirnya saya memberi alasan lain, bahwa dua anak yang ikut di mobil bersama kami akan dijemput pulang oleh tante mereka. Sedikit berhasil tapi tetap saja menggerutu sampai setibanya kami di rumah.

Yang kami takutkan soal tantrum ternyata tak terjadi. Di rumah pun tak menggerutu lagi.
Jadi….sebenarnya ke’rigid’an Arsa sudah mulai bisa dinegosiasi.
Tanpa harus emosi baik di pihak Arsa maupun kami.

Wah berkendara dengan Uber sungguh memberi kontribusi positif  bagi Arsa yang autistik. Mulai dari bersabar menunggu kedatangan mobil dan tentu (mudah2an) akan mengurangi ke’rigid’an Arsa dalam mengikuti rute tersingkat yang dipilih gps Uber.

Terima kasih ya…
Siap2 naik Uber lagi nih untuk menguji rigid nya Arsa. ;))