yukberbagi!


Si Toksik yang Nggak Asyik, Sebuah Relationshit yang Tak Berharga – Neswa.id

https://neswa.id/artikel/si-toksik-yang-nggak-asyik-sebuah-relationshit-yang-tak-berharga/



#NAD_Battle 2021 – Hidup yang Puitis
13/05/2021, 4:12 am05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021
#Pasukan_Asterix
#Challenge_5
#HidupYangPuitis

Santorini, The Journey
Postcard from Heaven
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2822 kata

Gelap mulai menyelimuti hari ketika Adya berdiri di pintu pemeriksaan imigrasi Bandara Soekarno Hatta. Sebelum menyerahkan passport dan menunjukkan e-ticket lewat layar ponselnya, ia masih terus berpikir apakah perlu menunggu sebentar lagi.

Waktu di ponsel sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Masih banyak waktu sebenarnya. Adya gamang. Seraut wajah muncul dalam ingatannya. Lelaki dengan mata yang seolah punya daya magis saat bertatapan dengannya. Seorang sahabat dari masa kecil yang telah bersedia menjadi tempat sandaran baginya saat ia terpukul atas kecelakaan yang membuat orang tuanya pergi untuk selamanya.

Sepanjang hari itu, Adya mengalami kesialan yang tak kunjung berakhir. Mulai dari bangun kesiangan yang berarti akan ada tanda terlambat di daftar absennya. Roti panggang yang terjatuh karena bertabrakan dengan orang saat menuju kantor hingga laptopnya yang mendadak hang dan perlu tenaga IT untuk menanganinya, dan terakhir ponselnya habis baterai saat tengah menerima panggilan dari kantor KBRI Yunani tentang kematian orang tuanya.

Hati Adya terasa hancur berkeping-keping seperti kaca yang tak bisa lagi direkatkan. Dua orang yang ia sayang pergi pada waktu yang bersamaan. Bapak yang menghargai perempuan dan belum pernah Adya temukan di sosok lelaki mana pun serta ibu yang sangat ekspresif dan berpandangan modern. Bagi Adya, mereka adalah pasangan yang sempurna dan saling melengkapi.

Kedua orang tuanya tak pernah menyuruh atau memaksa Adya untuk menikah, akan tetapi kini ia merasa menyesal. Belum sempat Adya memberikan kebahagiaan paripurna kepada mereka sebagai kakek nenek untuk menimang cucu-cucu. Air mata Adya mulai merebak mengenang hal itu.

***
“Adya … sori aku terjebak macet! Ada kecelakaan tadi. Are you alright?” Suara Ken mengejutkan lamunannya.

Tangan Ken yang langsung mengusap air mata di pipi Adya mengalirkan kehangatan.

“It’s ok. Thanks for coming. Masih banyak waktu, kok!” Adya mencoba tersenyum semanis mungkin meskipun sulit.

Ken merengkuh Adya dan mengajaknya mencari tempat duduk. Mereka menikmati detik demi detik tanpa bicara. Adya membiarkan dirinya dalam pelukan Ken. Entah mengapa ia merasa nyaman seperti itu. Padahal sebelumnya Adya sering merasa jengah saat lelaki itu tiba-tiba memeluk untuk memberi selamat, misalnya.

“Enggak ada yang ketinggalan, are you sure? Postcard Ibu?”

Adya mengangguk tanpa kata. Tak mungkin ia lupa membawa postcard-satu-satunya benda yang tiba lima belas hari lalu-yang bisa meyakinkan Adya untuk berangkat ke Santorini. Pesan terakhir dari orang tuanya agar ia menemui seseorang di sana untuk masa depannya.

Panggilan dari pihak bandara terdengar. Adya beranjak seusai dahinya dikecup Ken.

“Kamu baik-baik di sana ya. Semoga perjalanan ini mampu menuntaskan rindumu kepada mendiang orang tuamu. Don’t forget to contact me, if you need. Take care and safe flight, Dear.”

***
Adya menyeberangi jalan setapak di Perivolas, pinggiran Desa Oia. Ia menghidu aroma laut. Area itu begitu tenang dan bebas kendaraan, mengingatkan pada rumahnya di pinggiran Jakarta. Sejenak dada Adya terasa nyeri mengingat kini tak ada lagi yang menunggunya di rumah dengan sepiring jajanan pasar dan sepoci teh pahit yang selalu menyambutnya sekembali bertualang.

Sambil mengusap air matanya yang menganak sungai, tangan Adya membalik kartu pos untuk mencocokkan lukisan di sana dengan bangunan bertingkat di hadapannya. Rivida Villas. Ibunya pernah bercerita bahwa bangunan hotel ini sudah berusia 150 tahun, bermula dari rumah kediaman kakek pengelolanya, lalu turun temurun dikembangkan dan dialihfungsikan menjadi penginapan. Ketika ia menoleh ke belakang, pemandangan kaldera dan laut lepas pantai sungguh menyejukkan matanya yang mulai terasa berat karena kelelahan menempuh perjalanan lintas benua. Badannya penat, meski pikirannya tak henti mengembara.

“Kalispera! Hello!” Seorang lelaki paruh baya keluar dari balik pintu kaca. “Miss Adya Kallisti?” sapanya lagi sambil tersenyum ramah.

Adya mengangguk dan sedikit terkejut akan respon lelaki itu.

“Yassas, Hello! ”

“Saya Gerome, host dari Rivida Villas. Selamat datang di Oia. Wah! Wajahmu benar-benar perpaduan kedua orang tuamu.” Sambil berkata demikian, ia mengangsurkan kunci kamar yang akan ditempati Adya.

“Efcharistó, Thank you.”

Ketika Adya membuka pintu kamar yang biasa ditempati orang tuanya, ia seperti menemukan sekeping puzzle kenangan tentang mereka. Kamar yang didominasi warna putih, krem, cokelat dan abu-abu dengan balkon menghadap laut, yang selalu dikunjungi setiap lima tahun sekali saat keduanya merayakan ulang tahun pernikahan. Bapak dan ibunya selalu romantis dan itu sungguh membuat Adya merasa iri.

Ia mulai memindai sekeliling kamar. Pandangannya dipenuhi memori seperti memutar ulang rekaman video yang pernah ditunjukkan Bapak. Saat itu, Ibu khusus memasangkan kamera pada tripod di sudut ruangan untuk mengabadikan Bapak yang duduk menghadap jendela, menyesap segelas wine dingin sambil membaca novel-novel JK Rowling kesukaannya. Ibu sendiri membuka koper, menata makanan kecil di mini pantry lalu menggantungkan beberapa kemeja putih Bapak dan gaun musim panas Ibu, yang juga memiliki warna dasar broken white atau krem di mini hanger yang disiapkan di kamar itu.

Pertanyaan Adya sedikit demi sedikit terjawab tentang kesukaan Bapak dan Ibu akan Santorini. Bahkan warna kamar hotel ini pun selaras dengan warna-warna kesukaan mereka berdua. Air mata Adya mulai merebak lagi. Ia jatuh bersimpuh di lantai sambil terisak.

***
“Adya, kamu beneran enggak mau ikut kita ke Santorini?” Bapak langsung menodong Adya ketika ia baru saja pulang dari kantor.

“Ahhh, Bapak. Aku nanti cemburu lihat Bapak Ibu bermesraan di sana, sementara aku nggak punya siapa-siapa.”

“Ajak aja Ken, Dya. Lumayan buat nambah portofolio dia sebagai travel photographer kan. Ibu yang traktir deh.” Ibu segera menangkap peluang untuk membujuknya.

“Eh, Ibu. Memang Ken siapanya Adya? Kok bawa-bawa dia sih?” Adya membelalakkan matanya menanggapi ibunya.

“Aih, kau kira Ibu enggak bisa baca sorot matanya setiap memandangimu? Ken memang sahabat kecilmu, tapi dia sangat kentara menyukaimu. Feeling Ibu 99% selalu tepat, kok. Bener ‘kan, Mas?”

Bapak mendeham sambil mengacungkan jempolnya.

Adya merengut dan menghela napas. “Kalian ajalah yang nikmatin anniversary. Enjoy yourselves. Mumpung Bapak baru bisa menikmati liburan lama, setelah diperbolehkan resign sebagai orang kepercayaannya grup Padma, kan? Adya juga lagi banyak deadline proyek ini. “

Acara bujuk-membujuk itu terus berlangsung berhari-hari. Meski merasa sedikit aneh mengapa keduanya sangat antusias mengajak Adya ikut ke Santorini kali itu, ia tak mau berprasangka apa-apa. Adya hanya menunda kepulangannya dari kantor, agar tak diajak mendiskusikan hal itu melulu.

Sampai akhirnya tiba hari keberangkatan.

“Adya, hati-hati ya, Sayang. Kita jumpa lagi akhir bulan. If you need help, call Ken. No worries, Ibu sudah pesan kepadanya untuk menjagamu, selama kami mengelilingi Yunani.”

Bapak tak banyak bicara hanya berkata, “We love you Adya. Take care of yourself. Adya Kallisti, puteri kecilnya Bapak.” Terlihat mata Bapak berkaca-kaca, sebelum memeluknya erat.

Suara ketukan di pintu kamar yang tak kunjung henti, mengejutkan Adya yang jatuh tertidur usai menangis tadi. Bagaikan film yang diputar berulang-ulang, kejadian sebelum Bapak dan Ibunya berangkat, senantiasa muncul setiap ia memejamkan mata.

Suara ketukan terdengar lagi.

“Me synchoreis, excuse me, Miss Adya.” Suara Gerome langsung menyambutnya ketika Adya membuka pintu.

Gerome menyodorkan sebuah notes kecil yang Adya kenali sebagai milik ibunya. Ia terkesiap, tak sanggup berkata-kata.

“Sebelum saya lupa, ini bucket list yang diminta Mrs. Kalyana dan Mr. Pradipta untuk Miss Adya lakukan. Ada lebih dari lima hal yang keduanya minta untuk dijadikan pengalamanmu di Santorini. Berhari-hari mereka berdiskusi setiap makan pagi, memintakan pendapat dari saya sebagai orang lokal. Semuanya saya rasa menarik. Cobalah dibaca pelan-pelan.”

Adya menggenggam buku saku warna marun itu erat-erat, bak diserahterimakan warisan yang sangat berharga. Baru saja ia hendak mengucapkan terima kasih, …

“Oya, bila Miss Adya lapar, ada Portokalopita, kue dengan rasa jeruk yang sangat disukai Bapak Ibu untuk kudapan sore. Ada juga Elliniko Kafe, kopi khas Yunani tersehat di dunia yang harus Miss coba. Mau ala sketos, metrios, glikos atau variglikos (1).”

Adya tersenyum kecil melihat keramahan Gerome seperti yang biasa dilihatnya pada sikap para pengusaha wisata, tetapi sosok ini jauh lebih tulus dan hangat, tanpa kesan artifisial.

“Terima kasih, Gerome. Saya menyegarkan diri dulu sebentar.”

Tangan Adya yang menggenggam notes bergetar tak terkendali. Apakah ia sanggup menguasai perasaannya membaca permintaan orang tuanya itu.

***
Malam pertama Adya di Santorini dilewatkannya berdiam di kamar dengan membaca berulang kali apa yang ditulis ibunya, lalu menimbang-nimbang mana yang akan dilakukannya terlebih dahulu.

Antusiasme Adya untuk melakukan semua permintaan mendiang orang tuanya berbaur dengan kesedihan yang tiada tara. Sebelum tidur, Adya membuka jendela kamar dan berucap pada bintang-bintang di langit Santorini. “Pak, Bu, temani aku tidur malam ini, ya. Aku sungguh merindukan kalian.”

Alarm di ponselnya membangunkan Adya tepat pada pukul delapan waktu Indonesia. Rupanya ia belum mengatur waktu di ponsel menjadi waktu Yunani yang berbeda lima jam lebih lambat. Tak heran di luar masih gelap. Meski merasa istirahatnya belum cukup, Adya memaksakan diri bangun untuk kemudian berkeliling area penginapan.

Suasana masih sepi. Tampaknya tamu kamar yang lain masih terlelap dalam tidur mereka. Adya melihat-lihat foto-foto dalam pigura yang terpasang di dinding ruang tengah. Ia terperangah di depan salah satu foto yang bertuliskan In Memoriam. Ada wajah orang tuanya bersanding dengan kliping koran yang menyatakan peristiwa kecelakaan naas itu.

Kapal pesiar Blue Crystal yang mengangkut 280 wisatawan asing sebagian besar orang AS, Rusia dan Asia itu menyenggol dinding karang di daerah sebelah utara pulau Teluk Saronic Poros sekitar 50 km sebelah selatan Athena. Orang tua Adya adalah dua orang korban yang dinyatakan meninggal oleh pihak kepolisian setempat, setelah jenazahnya gagal diketemukan.

“Kami selalu mengapresiasi kehadiran orang tua Miss Adya di vila ini. Mereka sangat rendah hati dan tak segan berbaur dengan tamu-tamu yang lain. Setiap datang dari Indonesia, ada saja cenderamata yang selalu dibawa untuk kakek, nenek, ayah ibu kami. We’re truly missed them, tous chasame pragmatika.” Kehadiran Gerome secara tiba-tiba di dekatnya menjawab pertanyaan besar Adya tentang foto itu.

Adya hanya terdiam, duduk merenung sendiri di depan foto sampai semburat matahari mulai masuk lewat kaca jendela. Ia juga menikmati sarapan dalam diam, sambil membuka lembar demi lembar notes Ibu.

Hari itu ia merencanakan memenuhi permintaan pertama tentang keledai. Aneh. Akan tetapi, begitulah permintaan Ibu.
Di situ dituliskan sebaiknya Adya tidak menunggangi keledai di Santorini, karena terkadang mereka tidak diperlakukan selayaknya. Adya juga diminta memberi minum pada setiap keledai kehausan yang ia temui.

Kepingan kenangan bersama menjadi terkuak kembali. Sejak kecil, Adya selalu tidak tega dengan hewan terlantar. Kucing, anjing, burung bahkan tupai yang ditemukan di jalan, selalu dibawanya pulang. Ibu tahu, hati Adya akan tergugah bila melihat nasib-nasib keledai di Santorini.

Benar saja, sepanjang hari itu Adya terlarut dalam kehebohan menghampiri setiap keledai yang dijumpainya sepanjang jalan di Oia. Ia mengusap-usap kepala mereka, mengangsurkan sebotol air putih kepada keledai yang tampak kehausan, sekaligus berbincang-bincang dengan pemilik keledai agar mereka memperlakukan keledai-keledai itu dengan baik.

Keasyikan Adya membuatnya lupa akan kesedihannya. Baru ketika tercium aroma Moussaka (2) dari salah satu restoran, ia pun memberi tanda di notes ibunya. Mission Accomplished.

Permintaan kedua ibunya adalah mencari Atlantis Books. Toko buku di Santorini yang katanya didirikan dengan semangat yang mirip dengan Shakespeare & Co. Toko buku itu terselip di antara jajaran toko dan kafe cantik di Oia. Adya perlu menuruni banyak undakan tangga semen sampai akhirnya bertemu dengan pintu depan.

Saat membuka pintu toko buku ini, Adya seperti déjà vu. Bak memasuki ruang kerja dan perpustakaan Bapak dan Ibu. Meski dengan dinding yang berbeda dan buku-buku di Jakarta tak disusun menjulang langit-langit. Adya seolah melihat dirinya yang masih balita dipangku Bapak dekat jendela, untuk dibacakan fabel karya Aesop.

Sementara ibunya di samping mereka sibuk membuka-buka buku resep masakan yang akan diujicobakan untuk makan malam.

Saat mengusap air matanya yang mulai mengalir, sekelebatan memori lain ikut menggedor-gedor benaknya juga.

Ketika Adya remaja mulai ingin tahu dan bertanya, mengapa orang tuanya selalu ke Santorini setiap lima tahun sekali untuk merayakan ulang tahun pernikahan. Ibu dengan mata berbinar mulai bercerita sambil membuka buku Treasury of Greek Mythology keluaran National Geographic.

“Cinta Bapak kepada Ibu itu luar biasa, Nak. Seperti kisah Euphemus, putra Poseidon yang melemparkan segumpal tanah dari Anaphe ke laut, untuk melindungi buah cintanya dengan sang bidadari dalam mimpi, putri Triton. Muncullah Kallisti, pulau yang sangat cantik, tempat di mana Thera, buah hati mereka dilahirkan.”

Saat itu Adya baru 12 tahun dan belum banyak mencerna tentang cinta, meski ia sering dijodoh-jodohkan dengan Ken yang saat itu dua tingkat di atasnya.

“Bapak tak datang dari keluarga kaya raya, tetapi ia pekerja keras. Bapak tak banyak bicara, tetapi benar-benar fokus dan tekun memperjuangkan impiannya. Ketika Bapak memberanikan diri melamar Ibu, Eyang Atma sudah memberi ultimatum bila Ibu, anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara, dibuat kesusahan sepanjang pernikahan, Eyang akan segera memaksa Ibu untuk menceraikan Bapak. Membuat perempuan yang dinikahi tak berbahagia, tak ada dalam kamus keluarga Eyang. Jadi, kamu sudah tahu ya mengapa namamu ada Kallisti dan mengapa kami berdua begitu menyukai Santorini?”

Mendengar kisah tersebut membuat hatinya tenteram melihat orang tuanya begitu harmonis, sementara di sekitarnya pasangan seusia orang tuanya banyak yang berselingkuh dan bercerai.

Di sisi lain Adya menjadi sulit sekali mengiakan bila ada yang menyatakan cinta padanya. Bahkan ketika syukuran usai wisuda, Ken dengan setengah bercanda menyatakan akan melamarnya suatu hari nanti, Adya hanya tertawa dan mengganggap itu sebagai prank terhebat yang pernah dilakukan Ken kepadanya.

Keasyikan Adya memilih buku-buku di Atlantis Books membuatnya lupa waktu. Begitu terkejutnya ia melihat pengunjung mulai beranjak pergi untuk menikmati keindahan matahari terbenam. Adya sendiri tak tertarik keriuhan itu. Meski dalam list-nya ada permintaan Bapak yang mengatakan suatu saat Adya akan menikmati suasana romantis saat senja di Santorini, ia tak yakin mampu mewujudkannya dalam kunjungan kali ini.

Adya memilih membeli sebuket bunga popi berwarna oranye kemerahan, untuk dibawanya ke tujuan terakhir petualangannya hari ini. Berjalan di antara pasangan-pasangan yang sedang berpelukan mengingatkan Adya pada Ken. Tiba-tiba ia merindukan berada dalam dekapan hangat sahabatnya itu. Astaga, ia lupa melakukan video call semalam untuk memberitahukan Ken bahwa ia baik-baik saja!

Kegundahan hatinya kian menjadi kala menyusuri sepanjang jalan menuju pantai Kamari. Tak ada yang indah senja itu, mengingat pandangan Adya setengah kabur dengan genangan air mata. Usai meletakkan buket bunga di permukaan air pantai, Adya cepat-cepat berlalu, bahkan tanpa berlama-lama mengucapkan kerinduan pada mendiang orang tuanya.

Saat kembali ke vila, tubuhnya sudah terlalu penat untuk mengingat keinginan melakukan video call dengan Ken. Seusai mandi, Adya pun cepat terlelap tanpa suara.

***
Alarm di ponsel Adya kini membangunkannya sesuai waktu di Yunani. Pegal-pegal di kakinya sepanjang Adya berjalan kemarin kini baru terasa.

Suara ketukan di pintu dengan tambahan suara Gerome terdengar lamat-lamat. “Me synchoreis, excuse me Miss Adya.”

“Wait a minute, Gerome!” Dengan menyeret kakinya, Adya membuka pintu dan seketika terbelalak. Ia sampai mengucek-ucek mata dan mencubit pipinya.

“Ken? Kamuuu?” Tanpa malu-malu Adya menghambur ke pelukan Ken yang tersenyum lebar dan menyambutnya dengan hangat.

Gerome yang berada di belakang Ken tertawa melihat mereka. “Sungguh pintar Mrs. Kalyana memohon saya mengirimkan kartu pos-kartu pos itu kepada kalian. Ia ingin sekali kalian berdua datang ke sini, namun tak kunjung berhasil. But, finally …. “

Adya sontak menoleh dan bertanya, “Apa maksudnya Gerome?” Tanpa sadar tangannya yang melingkari pinggang Ken makin mengencang. Ken mengecup ujung dahi Adya untuk menenangkannya. “Pssst, dengerin dulu …. ”

Gerome menghela napas dan mulai berkisah. “Kedua orang tuamu seperti memiliki firasat saat kedatangan terakhir itu. Mereka menuliskan bucket list di buku catatan yang minta diserahkan kepadamu, seandainya suatu hari nanti Miss Adya datang kemari. Ibumu malah membeli dua kartu pos, satu untuk Miss Adya, satu untuk Mister Ken yang minta dikirimkan enam bulan kemudian, bila terjadi apa-apa dengan mereka. Sejujurnya saya tidak mau, karena tidak mau membenarkan firasat itu. Namun, pagi sebelum kecelakaan, keduanya memastikan betul agar pesan mereka itu tersampaikan.”

Perkataan Gerome meruntuhkan pertahanan Adya. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini menganak sungai bahkan membasahi kemeja yang dipakai Ken. Gerome yang menyaksikannya tampak kikuk dan akhirnya melambaikan tangan tanda permisi.

Ken mencoba mengalihkan perhatian Adya dengan menyodorkan kartu pos dengan tulisan tangan ibunya Adya.

Bila pada kartu posnya hanya tertulis, ‘Pergilah ke Santorini. Kami ingin kebahagiaan dan cinta ini juga dirasakan olehmu’.
Akan tetapi, tulisan Ibu pada kartu pos Ken lebih panjang.

‘Ken, anakku. Bila suatu saat kamu menerima kartu pos ini, itu tandanya Adya tidak baik-baik saja. Adya perlu bantuanmu. Adya perlu perhatian, cinta dan kasih sayangmu. Bersiaplah bila ia mau ke Santorini dan susullah segera, saat ia terlupa sekali saja untuk tidak menghubungimu.
Tolong jagain Adya, ya, Ken. Cintai dan hormati dia seumur hidupmu, seperti Bapak mencintai Ibu.’

Adya membaca kartu pos itu berulang-ulang kali. Awalnya sambil tersedu sedan lalu diam. Sebelah tangannya diusap-usap dan digenggam Ken sedemikian erat.

Sesaat Adya menoleh ke arah Ken, ingin menatap ke dalam matanya. Apakah perasaan yang mulai tumbuh dan selama ini mengganggunya, juga dimiliki Ken, bukan sekadar merasa diberikan tanggung jawab memenuhi permohonan mendiang Ibu dan Bapak Adya.

Ken balas menatap. Tiba-tiba waktu serasa terhenti saat bibir Ken mulai berkata-kata.

“Tanpa hadirmu, aku tak bernyawa. Izinkan aku mencintaimu, menjagamu sepanjang masa.
Bukan sebagai sahabat, apalagi kawan dekat.
Aku ingin tertidur dan terbangun, dalam pelukanmu yang hangat.”

Di dalam jernihnya pantulan bola mata Ken, tampak sosok Bapak dan Ibu tersenyum lebar melihat ke arahnya.

* S e l e s a i *


(1) Sketos = kopi kental tanpa gula
Metros = kopi dengan gula
Glikos = kopi dengan extra gula
Variglikos = kopi yang sangat manis

(2) Moussaka = pasta berisi daging sapi cincang, terong dan potongan kentang di bagian bawah. Ada saus tomat dan taburan keju panggang di atasnya.
Biasa dimakan dengan Tzaziki = salad dengan saus yoghurt Yunani yang dicampur dengan bawang bombay, oregano, timun dan minyak zaitun.



#NAD_Battle 2021 – artikel

#NAD_BATTLE_CHALLENGE_6
#Pasukan_Asterix
#NADFamilyMagazine

– ARTIKEL OPINI –

Ketika keluarga berhadapan dengan konflik

Judul : Daily Life with Arsa,
Si Autistik yang Rawan Konflik
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1748 kata

*****
Arsa jelang 18 tahun.

Suatu siang.
“Mami, kok enggak ada ayam goreng?” Dydy, anak bungsu saya mengomentari makan siangnya.
“Karena kakak hari ini jadwal makan tahu dan tempe. Kakak nggak boleh ayam goreng terus, empat hari lagi baru boleh. Nanti kandungan zat-zat makanan yang tidak bisa diserap tubuh kakak terus menumpuk, akan menjadikan dia sakit,” ujar saya menjelaskan tentang rotasi makanan (1) yang perlu dilakukan Arsa sebagai individu autistik.
Dydy merengut. Saya kasihan kepadanya yang tak selalu bisa makan makanan kesukaannya, tetapi ini yang mau tidak mau kami jalani.

Malamnya.
Setelah saya menyodorkan pasta gigi, Arsa ngambek. Ia menggerutu, mengomel dengan gumaman hampir setengah jam lamanya. Pada kasus anak autistik, hal seperti ini disebut Meltdown. Dia kesal tapi tak bisa mengungkapkan.

‘Meltdown merupakan dorongan emosi ketika anak sudah mulai kewalahan akan perasaannya sendiri’ (2)

Kali ini dia kesal karena sesi menggunting plastik kemasan untuk jadi eco brick terganggu, oleh saya yang menyodorkan pasta gigi itu. Kami sekeluarga mendiamkan saja. Cukup duduk di sampingnya sambil memperhatikan.

Ketika emosi meltdown ini selesai dan Arsa sudah tenang, ia bisa diajak berbicara lagi. Akan tetapi, jangan coba-coba untuk mengusik lagi, kekesalan Arsa seketika bisa menjadi kemarahan dan agresivitas.
Di usia ini, ia akan serta merta menyerang adiknya.

***

Ilustrasi kejadian yang saya ceritakan bagai makanan sehari-hari bagi kami. Salah bersikap, keliru berbicara, memungkinkan terjadi konflik dengan Arsa. Ditegur saat mengambil lauk di piring adiknya saja, bisa membuat Arsa ngambek dalam waktu yang tak sebentar.

Lucu bila dipikirkan, ketika orang tua lain sibuk mengurusi anak remajanya yang sudah mulai jatuh cinta, mulai pergi berkencan setiap akhir pekan, atau sibuk main game online daripada sungguh-sungguh belajar saat school from home, saya dan suami malah sibuk dengan keruwetan yang ditunjukkan Arsa, remaja jelang dewasa dengan spektrum autistik.

Dahulu di banyak tulisan tentang Arsa, saya bisa dengan pongah menyatakan, memiliki anak berkebutuhan khusus adalah anugerah dalam hidup dan membuat saya belajar prinsip bahwa tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Akan tetapi, pada akhirnya itu hanya sebagai tameng untuk melindungi diri saya yang tetap manusia biasa. Punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati. Hehe, kok jadi menyanyikan lagu “Rocker Juga Manusia”.

Saya dan suami menyadari bahwa mengasuh didik Arsa masih perlu proses yang panjang dan menjadi lebih terasa di masa pandemi ini.

Sejak awal pandemi covid-19, banyak perubahan dalam keseharian keluarga kami. Waktu tidur dan waktu bangun yang bergeser. Tidur makin malam dan bangun makin siang. Tidak bersekolah, yang berarti banyak sekali waktu untuk aktivitas Arsa di rumah dibandingkan saat masih bersekolah.

Seharusnya ia sedang menjadi siswa magang pada rumah produksi seminar kit dan handicraft, berkaitan dengan minatnya pada ketrampilan jahit menjahit. Karena terimbas pandemi, rumah produksi itu mengurangi karyawan maupun jumlah produksinya. Bagaimana mungkin lagi menerima siswa magang.

Meski banyak yang mengatakan jahit menjahit bisa dilakukan di rumah bersama orang tua, akan tetapi kenyataannya Arsa hanya mau menjahit menggunakan mesin bersama ayahnya. Ia tak mau lagi menyulam bersama saya, yang memiliki lebih banyak waktu di rumah. Bila Arsa menunggu ayahnya agak sulit, mengingat pekerjaan di beberapa tempat kadang memiliki jadwal waktu yang tidak jelas. Begitu sedikit luang, ayahnya sudah kelelahan.

Sejujurnya saya pun mengeluh, tidak sekali saja tetapi berkali-kali tentang pandemi ini, yang belum juga berakhir. Sekolah belum dimulai juga, dan itu berpengaruh besar bagi Arsa yang sangat senang pergi ke sekolah.

Sempat di satu masa, saya membenci orang-orang yang abai terhadap protapkes, sehingga masa pandemi ini menjadi lebih panjang. Sampai saya mendoakan, biarin kalian tertular semua. Duh, jahat sekali saya ya.

Kenyataannya yang saya, suami dan keluarga hadapi, tak sekadar berkeluh kesah karena penghasilan tiba-tiba menukik drastis.

Keluarga kami mendapat bonus tantangan, ada tenaga produktif di rumah, akan tetapi tak mau melakukan apa-apa. Awal-awal pandemi, ia masih mau menjahit berbagai produk olahan patchwork bahkan sampai bisa membawanya ke ajang pameran karya difabel dan menghasilkan uang pula. Pendapatan Arsa saat itu bahkan bisa membantu melunasi salah satu utang keluarga kami ke sekolahnya.

Kini, melirik jahitan pun tidak. Semenjak dipasangkan WIFI di rumah karena tuntutan beberapa kesibukan pekerjaan saya dan suami, aktivitas Arsa pun menjadi bergeser.

Ia lebih sibuk membuka Google menelusuri laman-laman sesuai dengan keyword pencarian kata-kata atau sebaris kalimat yang ingin diketahuinya. Kata-kata atau kalimat itu biasa muncul sebagai reading text di televisi, dibacanya, disalin ulang di belakang buku apapun yang ia temui, lalu dicari gambar atau jawabannya.

Arsa bukan penggemar games online atau penyuka youtube ulasan game seperti adiknya. Ia senang membuka-buka youtube, tetapi lebih untuk mendengar dan melihat jingle tayangan iklan produk tertentu, melihat bagaimana sebuah game seperti zuma, candy crush, dll berlangsung. Sepertinya menonton itu membuat Arsa merasa terhibur dan membuatnya lupa mencabuti rambut atau mengelupas bekas luka di kulitnya. Asal jangan wifinya mati, entah karena pemadaman listrik atau sinyal yang lemot, paniklah ia!

Bagi Arsa, seharusnya ia menjadi anak Raffi dan Nagita atau Nia Ramadhani, yang tajir melintir. Rumah mungkin harus memiliki genset, sehingga tak ada acara pemadaman listrik, tak ada acara pompa mati, gas habis maupun kuota tinggal sedikit. Sayangnya, ia terlahir di keluarga kami dengan penghasilan yang terbilang standar pekerja freelance.

Bagaimanapun perubahan bagi individu autistik seperti Arsa memang masih menjadi tantangan bagi dia untuk menerimanya. Ia rigid, kaku!

Cognitive rigidity is the inability to mentally adapt to new demands or information, and is contradicted with the cognitive flexibility to consider different perspectives and opinions, and are able to adapt with more ease to changes. (3)

Kekakuan kognitif adalah ketidakmampuan untuk secara mental beradaptasi dengan tuntutan atau informasi baru, dan bertentangan dengan fleksibilitas kognitif untuk mempertimbangkan perspektif dan pendapat yang berbeda, dan mampu beradaptasi dengan lebih mudah terhadap perubahan. (terjemahan bebas saya)

Mau tahu rigid-nya Arsa seperti apa?

Ia harus duduk di tempat yang ditentukannya sejak awal. Arsa punya kursi sendiri dengan posisi yang sudah ia tetapkan di area meja makan. Tak ada yang boleh menempati kecuali ia yang mengizinkan.

Demikian juga bila naik mobil saat bepergian. Ia memilih duduk di sisi sebelah kanan, persis di belakang supir. Tak ada yang boleh menduduki tempat tersebut, meski kamu masuk mobil dari pintu sebelah kanan.

Poni rambut saya tak boleh tergerai turun ke bawah, harus diikat atau dijepit. Bila tidak melakukannya, ia akan berisik dan terus merengek-rengek kepada saya untuk merapikan rambut tersebut.

Pemadaman listrik oleh PLN, mau sudah dijadwalkan atau tidak, tidak bisa diterima olehnya. Apalagi sekarang, pemadaman listrik akan menyebabkan WIFI mati dan ia tak bisa asik mainan ponsel lagi.

Pemahaman pemadaman lampu hanya berlaku bagi Arsa ketika kami melalui hari Nyepi di Bali. Herannya Arsa bisa luwes menerima tentang aturan tersebut pada hari itu saja.

Beberapa hal kaku lainnya terkait dengan kesukaan individu autistik dengan routine atau aturan.

Nah, istilah apalagi ini.

Life is very confusing for most autistic children, a constant change of people, environments, noises etc. can be very overwhelming. Routines and rituals help to provide order in a constantly changing environment. A routine needs to be something done regularly in the same order so it provides repetition and predictability. (4)

Bagi anak-anak autistik, melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sungguh membingungkan mereka. Mereka sulit memahami perubahan pada diri orang-orang, baik perubahan sikap, perilaku, mengapa mereka sakit, mengapa mereka pergi, mengapa mereka meninggal.

Mengapa perlu pindah rumah, mengapa suasananya berisik, mengapa sekolah libur, mengapa ada tanggal merah, dan lain sebagainya.

Rutinitas dan ritual membantu mereka menghadapi perubahan yang terjadi di sekitarnya seperti contoh di atas.

Rutinitas dan ritual akan membantu mereka menduga-duga apa yang akan terjadi.

Ketika pandemi mulai merebak, berbulan-bulan Arsa akan mengajukan pertanyaan yang sama setiap pagi.

Mengapa tidak sekolah? Bila dijawab tutup, ia akan bertanya lagi, mengapa tutup? Meski tidak dengan kalimat panjang yang lancar, Arsa mengajukan pertanyaan itu berulang kali. Terutama bila ia mendengar ada salah satu dari kita yang berkata Corona, ia akan langsung menyambung dengan perkataan, “Corona tutup, kita di rumah.” Demikian berulang kali.

Pada anak lain, Dydy adiknya Arsa misalnya, pemahaman akan respons kita menjelaskan tentang berbahayanya penyebaran virus ini membuat mereka mudah menerima bahwa sebaiknya di rumah dulu sebelum tertular.

Apakah rutinitas bisa berubah atau selalu rigid? Selama benda pendukungnya ada atau tersedia, ia akan tetap melakukan rutinitas tersebut. Namun, bila ingin ia mengubah rutinitas itu tanpa menambah konflik baru dengan kita, alternatif solusinya perlu dipikirkan betul.

Berikut beberapa contoh yang pernah kami terapkan kepada Arsa, tentang mengubah rutin tanpa menambah konflik baru.

Situasi pandemi dan durasi yang lama berdiam di rumah, menyebabkan Arsa membuat banyak rutinitas baru. Saat kami belum membeli filter air minum, rutinitas Arsa adalah minum banyak-banyak agar bisa memasak air. Tentu hal itu menyebabkan konsumsi gas menjadi berlebihan.

Solusi kami saat itu membeli filter air minum, agar rutinitas itu bisa berhenti secara bertahap. Bila kami seketika melarangnya untuk tidak minum banyak-banyak agar tidak memasak air, akan bisa memicu pertengkaran dengan Arsa.

Saat pindah rumah ke rumah yang sekarang, setiap jam lima ia rutin menyalakan lampu. Ini sih tak menjadi masalah bahkan membantu kami.

Salah satu yang menjadi masalah, Arsa mengharuskan saya menyapu sesudah ia makan malam, karena ia ingin membantu menggeser-geser kursi meja dan beberapa loker. Masalahnya waktu Arsa makan lama sekali, sehingga saya seringkali lambat untuk menyapu dan membereskan rumah padahal sudah sangat kelelahan.

Solusi saya akhirnya mengatakan padanya, ingin ‘sapu cepat’. Kata-kata sapu cepat bisa ia pahami sebagai tindakan menyapu tanpa perlu bantuannya menggeser posisi benda-benda. Belakangan, agar lantai lebih bersih saya menyiasati dengan menunggunya saat mandi sore, barulah saya menyapu. Cara terakhir ini lebih berhasil karena lantai bersih tanpa perlu Arsa berteriak-teriak sambil menggeser posisi benda-benda.

Rutinitas yang baru sekarang dan sungguh mengganggu adalah saat Arsa menemukan keasyikan menggunting plastik bekas kemasan makanan untuk dikumpulkan menjadi ecobrick.

Mungkin ia menemukan keasikan setelah lama meninggalkan dunia jahit menjahit, menggantinya dengan gunting menggunting kemasan plastik tersebut.

Durasi ia mengerjakan aktivitas ini cukup lama, guntingannya halus sekali sehingga membuat waktu tidurnya menjadi molor, bahkan pernah sampai pukul 1.30 dinihari.

Solusi awal saya dan suami adalah dengan tidak mengumpulkan plastik bekas kemasan lagi, tapi malah ia memaksa dan bila disembunyikan akan mencarinya dengan membongkar-bongkar tempat sampah. Jujur sampai saat ini saya berdua suami belum bisa menemukan solusinya.

Ya, sebagai keluarga dengan individu autistik, meski kami mensyukuri Arsa mampu berdaya, akan tetapi pekerjaan rumah untuk mencari solusi dari permasalahan-permasalahan sebagai individu autistik masih memerlukan kesabaran dan waktu.

Karena jalan keluar terbaik bukanlah menaruh harapan besar bahwa dia bisa sembuh lalu seketika menjadi normal dan cemerlang seperti individu reguler lain, akan tetapi menyiasati karakter-karakter yang menjadi spektrum autistik seperti beberapa hal yang saya bahas di atas, agar tidak menimbulkan konflik yang menghambatnya menjadi pribadi yang mandiri dan berdaya.

Saya hanya ingin Arsa bahagia.

Ivy Sudjana
Ibu dari Arsa, individu autistik dan Adyatma
Tinggal di Yogyakarta

**********
Temukan tulisan tentang Arsa sebelumnya di ivyberbagi.wordpress.com

(1) Diet pada anak penyandang autisme menggunakan teknik rotasi dan eliminasi, yaitu memberikan makanan yang tepat untuk anak. Rotasi dilakukan setiap 4-7 hari di mana makanan yang diberikan hari ini khusus hari itu saja, tidak diberikan pada hari lain, dan tidak lebih dari satu jenis per hari. (https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/o5aozd328)

(2) https://www.google.com/amp/s/www.popmama.com/amp/kid/1-3-years-old/jemima/kenali-emosi-anak-apa-perbedaan-tantrum-dan-meltdown

(3) https://www.nurturepods.com/cognitive-rigidity-in-autism

(4) https://www.psychologytoday.com/us/blog/making-sense-autistic-spectrum-disorders/201608/cognitive-rigidity-the-8-ball-hell

(5) https://www.theautismpage.com/routines/



#NAD_Battle 2021 – Narasi

Tulisan ini terinspirasi dari perilaku Arsa-sulungku yang autistik-semasa kecil.
Luv u kid, always!

#NAD_BATTLE_CHALLENGE7
#Pasukan_Asterix
#Narasi
#Bantargebang

Kisah-kisah Kaum Terpinggirkan
Judul : Padam
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2485 kata

Anak perempuan bertubuh kecil dengan potongan rambut tak beraturan itu sedang asyik melihat-lihat kertas koran di hadapannya. Kertas itu bagaikan pemuas rasa ingin tahu dan sangat berharga baginya. Berjarak semeter darinya anak lelaki kecil dengan kepala plontos sedang membungkuk dan asyik menatap kertas-kertas juga. Yang berbeda, kertas yang dilihatnya tampak lebih mengilap.

Di dekat mereka seorang perempuan berdaster panjang dengan tambalan di sana sini tampak asyik memerhatikan. Perempuan bernama Rodiah, yang juga Ibu mereka, mengamati sekaligus berjaga-jaga agar mereka tidak saling menganggu. Tanpa terasa air mata telah menganak sungai di pipi Rodiah. Ia dan suaminya belum mampu membelikan mainan untuk kedua anaknya. Jadi dibiarkannya mereka bermain-main dengan benda seadanya.

Sang anak perempuan, yang diberi nama Kokom menghampiri Rodiah dan mengusap air matanya. Tak lama kemudian, sang bocah lelaki ikut juga menghampiri sambil menggenggam kertas-kertas mengilap-yang kemudian diketahui bernama brosur-di tangannya. Kokom menadahkan tangan ke bocah yang dipanggilnya Ucup itu. Namun, permintaannya dibalas dengan gigitan Ucup di dekat siku. Kokom langsung menjerit kesakitan lalu tersedu sedan di pojokan.

Bukan sekali ini saja ia digigit Ucup. Setiap kali Kokom bermaksud melihat brosur, Ucup langsung menyerang dan menggigitnya. Biasanya suasana baru tenang ketika Pak Rojali-bapak mereka-datang menyodorkan kertas koran dan brosur ‘baru’ dari tumpukan barang yang dipulungnya.

Dulu, sebelum Ucup tergila-gila dengan brosur, ia selalu mengganggu Kokom dengan merebut koran kesayangannya. Walau pertengkaran mereka akan berakhir dengan Kokom yang dipaksa Pak Rojali dan Bu Rodiah untuk bersikap mengalah hanya karena lebih tua, tetapi sampai kapanpun Kokom tak akan begitu saja melepaskan tumpukan koran miliknya. Seperti juga Ucup yang begitu sayang dengan kertas brosur sehingga bisa menyerang setiap orang yang akan mengambilnya.

***

Kesukaan Kokom akan koran bermula sejak Ucup belum ada di tengah-tengah mereka. Suatu hari, Kokom yang belum genap enam tahun diajak beberapa perempuan lain sepantar ibunya. Ia ditanya apakah mau bersekolah. Kokom tak tahu benda apa atau tempat apa yang disebut sekolah.

Ketika akhirnya ia datang ke sebuah rumah bagus-berdinding tembok berwarna hijau- yang kemudian diketahui rumah orang yang dipanggil Pak RT, ia menebak itulah yang dinamakan sekolah. Kokom melihat hamparan tikar di lantai bersama benda-benda yang kata ibu-ibu itu disebut buku.

Kokom terpesona, matanya berbinar-binar seperti kemarin saat Bapak pulang membawa sebungkus Ch*ki yang baunya sudah apek begitu dibuka. Bapak bercerita, ada beberapa orang yang datang dengan mobil barang lalu membuang sekarung besar dengan ratusan bungkus Chiki di dalamnya ke salah satu pojok Bantargebang. Kebetulan Bapak sedang berada di dekat situ, memilah plastik kemasan minyak goreng-yang katanya paling laku di pengepul-untuk disusun dan dijahit menjadi tas belanja transparan oleh pengrajin.

Semua pemulung segera memperebutkan isi karung itu, termasuk Bapak yang mendadak meninggalkan tumpukan plastik kemasan yang sudah ia kumpulkan. Ketika berhasil merebut satu bungkus Ch*ki untuk Kokom, Bapak nyaris kehabisan napas. Untung saja kemasannya tidak sobek sehingga isi Ch*ki itu tidak berhamburan.

Kokom kaget, ketika seorang ibu menggamit tangannya. Ingatan tentang cerita Bapak dan Ch*ki buyar sudah. Ibu itu menuntunnya untuk duduk di atas tikar dan mulai menyodorkan salah satu buku. Ia membukakan lembar demi lembar buku untuk dilihat Kokom. Namun gerakan tangan ibu itu terlalu cepat, melebihi kecepatan mata Kokom memindai gambar di dalam buku. Baru saja Kokom melihat gambar ayam, lembar buku sudah berpindah ke gambar sapi. Baru Kokom melihat bahwa sapinya sapi betina, Ibu itu sudah membalik lembar buku dan kini menunjukkan gambar manusia.

Kokom menarik-narik ujung kerudung Ibu yang terasa lembut di tangan dan warna birunya mengingatkan Kokom pada langit Bantargebang saat hari cerah. Ibu itu segera menoleh ke arahnya dan tersenyum. Jari telunjuk Kokom menunjuk ke sampul buku dan menekan bagian huruf-huruf. Ibu itu menatap Kokom dengan cermat lalu mulai tertawa. Ia merangkul bahu Kokom dan memulai lagi menunjukkan buku dari awal. Bibirnya menyuarakan kalimat, pertemanan antara ayam dan sapi. Kokom mengangguk-angguk, antara mendengarkan suara Ibu dan melihat bentuk huruf yang sejak saat itu mulai ia patri dalam ingatannya.

Kata ayam memiliki empat huruf, tetapi sapi juga. Oh, ternyata pada kata ayam ada dua huruf a, tetapi kata sapi hanya satu huruf a. Bahwa kata manusia itu lebih banyak hurufnya. Demikianlah awal Kokom belajar mengenal huruf, sekaligus mengenali kata dan bunyinya.

Sejak saat itu Kokom tertarik mengenali huruf, merangkai dan membacanya menjadi kata. Setiap kertas yang dibawa Bapak pulang memulung selalu menjadi incarannya. Dipandanginya huruf-huruf baru, dibacanya kata-kata baru. Dengan bangganya Kokom menunjukkan bisa mengenali, membaca huruf dan kata itu kepada Bu Guru di ‘sekolah’-yang lalu diketahuinya-bernama Bu Layla.

Bu Layla sering mengatakan kepadanya bahwa ia anak yang cerdas dan rajin belajar. Kokom dipuji bisa cepat membaca hanya dari robekan koran bekas dan mengetahui banyak kata-kata baru meski tak memahami artinya.

Kokom pernah meminta kepada Bapak untuk membelikan satu saja buku, tetapi Bapak hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak memiliki cukup uang untuk membelikan Kokom buku, apalagi istrinya sedang hamil calon adik Kokom. Akan banyak uang untuk rutin memeriksakan Bu Rodiah ke Bidan. Akhirnya Pak Rojali mulai mengikhlaskan tindakan Kokom mengambil sebagian korannya setiap pulang dari memulung tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari robekan koran bekas itu, Kokom menemukan kesenangan baru. Ia melihat gambar-gambar dengan tulisan-tulisan. Timbul rasa senang membayangkan nikmatnya makanan pada foto di sana, meski ia sedang makan nasi yang diaduk dengan garam buatan Ibu. Dari koran pula, ia tahu ada begitu banyak jenis makanan, seperti yang dibawa Bapak pulang memulung saat bulan puasa waktu itu.

Bapak tiba-tiba membawa pulang sekantung kerang hijau, yang katanya dibagi-bagi seorang pengusaha untuk penghuni Bantargebang berbuka puasa. Kata Bapak, yang disedekahkan namanya sea food yang berarti makanan dari hewan laut. Setiap orang boleh memilih seekor ikan atau dua potong cumi-cumi ukuran sedang, atau sekeranjang kerang. Pada akhirnya, Bapak memilih sekeranjang kerang hijau, yang diyakini akan memuaskan perut mereka bertiga.

Cahaya di mata Kokom begitu berkilauan melihat tumpukan kerang hijau yang tadinya hanya ia lihat di koran saja. Sebenarnya ia berharap bisa melihat juga sea food lain yang disedekahkan, tetapi ia terlalu takut menyampaikan permintaan itu kepada Bapak.

Sesudah kerang hijau itu dibersihkan air seadanya dan direbus, mereka bertiga makan dengan lahap. Ibu yang perutnya makin besar dengan selera makan yang juga ikut membesar, sampai menghabiskan dua piring. Kokom beberapa kali tampak tersedak karena ada butiran halus pasir yang mungkin terikut saat dimasak.

Bapak menuduh Kokom makan terlalu cepat sementara Ibu tidak peduli karena asyik memuaskan rasa laparnya. Sekilo kerang hijau rebus hasil sedekah itu, bahkan masih bisa disimpan untuk bekal sahur mereka.

Walau Kokom merasa senang akhirnya bisa juga mencicipi yang namanya sea food, ia menjadi bingung kemudian saat mendengar kata-kata Mak Ijah-tetangga mereka sekaligus bidan kampung-yang membantu kelahiran Ucup. Mak Ijah spontan memarahi Ibu, ketika mengetahui Ibu pernah berbuka puasa dengan kerang hijau saat sedang hamil. Kerang hijau paling beracun, katanya menakut-nakuti. Jadi kalau nantinya Ucup menjadi bayi yang aneh, itu murni kesalahan Bapak dan Ibu.

Kokom kaget, berusaha mengerti kata-kata itu. Makan kerang hijau akan menjadikan Ucup, adiknya aneh? Mengapa? Pertanyaaan Kokom tak pernah terjawab, dan tak pernah juga ia temukan jawabannya di robekan koran bekas miliknya.

Lama kelamaan rasa ingin tahu Kokom tentang hubungan kerang hijau dan keanehan Ucup terkikis. Berganti dengan kekesalannya akan kerewelan Ucup. Bukan karena adiknya dibilang aneh sama Mak Ijah. Bukan juga karena orang tuanya jadi tak sayang kepadanya, melainkan Ucup bayi yang cengeng. Kokom sampai sering menyumbat telinganya dengan kain gombal saat tidur, karena Ucup menangis terus hampir setiap malam.

Ketika Ucup kian bertambah besar, keanehannya bertambah. Kalau sedang kesal, Ucup bisa mendatangi Kokom lalu menggigit tangan atau kakinya. Kini giliran Kokom yang menangis. Namun, bukannya dibela malah ia yang dimarahi Bapak dan Ibu. Ia dibilang kakak yang jahat dan dianggap tak menyayangi adiknya. Kokom kesal bukan kepalang.

Kokom berusaha mengerti tingkah laku Ucup. Ia mengira-ngira karena adiknya belum bisa bicara. Ia hanya bersuara ga-ga untuk menyatakan tidak, atau uh-uh untuk menunjuk barang yang diinginkannya saat meminta sesuatu.

Saat bersama Kokom, Ucup lebih memilih berkomunikasi dengan menarik rambutnya, menggigit tangan atau kakinya untuk kemudian merebut satu-satunya ‘harta’ Kokom yang berharga. Koran!

Kokom merasa kesal, dan berkali-kali hendak bermain di luar rumah saja. Ibu tidak suka dengan keinginannya itu. Bapak pun setuju dengan Ibu dan berkata kepada Kokom bahwa ia harus membantu Ibu di rumah. Ia hanya boleh keluar untuk ke ‘sekolah’, bukan bermain-main saja. Agar aman dari gangguan Ucup, Kokom akhirnya memilih bersembunyi di sebelah lemari untuk membaca koran-koran miliknya.

Sampai suatu hari jalan keluar pertengkaran Kokom dan Ucup seperti menemui titik terang. Di antara tumpukan koran bekas hasil Bapak memulung, terselip kertas-kertas licin mengilap yang tertera gambar barang-barang maupun makanan yang seketika menarik perhatian Ucup. Dengan berjalan tertatih-tatih, Ucup mengambil kertas-kertas itu lalu disusun berbaris-baris di lantai.

Sejak saat itu Ucup seperti menemukan mainan baru. Ia selalu menggenggam dan membawanya ke mana-mana. Bahkan Kokom pun tidak boleh melihat apalagi meminjamnya. Beberapa luka bekas gigitan di tangan Kokom menjadi pengingat untuk tak sembarangan lagi melihat brosur milik Ucup.

Kokom merasa lega karena bebas dari gangguan Ucup. Ia makin sibuk belajar membaca. Bukan supaya pintar, karena ia tahu tidak bisa sepintar anak-anak berkalungkan medali di dalam foto yang memiliki tulisan ‘Juara’ di salah satu robekan koran miliknya. Ibu pernah menjelaskan, juara itu sebutan untuk anak yang pintar karena rajin belajar. Oleh karena itu, anak itu dikalungkan medali.

Kokom mulai berpikir, apa mungkin ia bisa sepintar anak di dalam foto? Tubuh anak itu gemuk, pipinya tembam, rambutnya berkilauan, berkebalikan dengan dirinya. Tubuhnya kurus, pipi tirus dan rambutnya kering bagaikan sapu ijuk.

Kokom yakin makanan anak itu dan dirinya berbeda. Sedari kecil ia hanya menyantap nasi keras yang diaduk dengan terasi bakar atau garam saja, saat tak ada sampah yang bisa ditukar Bapak ke pengepul. Atau saat tak ada dermawan membingkiskan sedekah makanan seperti Ch*ki yang sudah apek, sekilo kerang hijau saat bulan puasa sebelum Ucup lahir, maupun nasi berkat setiap Jumat akhir bulan.

Memikirkan hal itu seringkali membuat Kokom merasa sedih. Namun makin ia sedih, makin kuat keinginannya untuk menjadi pintar dari kesukaannya membaca. Sampai suatu sore, Kokom merasa bingung apakah ia terus membaca atau tidak.

Bapak pulang sambil marah-marah. Katanya, sampah plastik bekas kemasan makin sedikit. Kebanyakan yang ditemukan Bapak hanyalah popok sekali pakai atau pembalut dengan bau tak sedap dari darah menstruasi yang sudah mengering. Bapak jadi kesal bukan kepalang. Apalagi koran yang dipulungnya makin sering diambil Kokom untuk latihan membaca.

Mendengar Bapak berkeluh kesah tentang sampah plastik yang jumlahnya semakin berkurang, Kokom teringat selembar koran yang baru dibacanya kemarin. Ia mencari-cari dari tumpukannya lalu menyodorkan koran dengan tulisan Zero Waste.

Bapak merengut, bibirnya mencebik dengan kesal. Ia mengambil koran itu, membacanya sekilas dan merobeknya sampai kecil-kecil. Kokom tersedu. Padahal ia senang sekali tulisan dan gambar di robekan koran itu.

Ia tak paham mengapa koran bertuliskan Zero Waste tak disukai Bapak. Ia baru saja membaca tentang orang yang tidak lagi memakai pembungkus plastik dan menggantinya dengan kain. Ia juga baru tahu mengapa memakai tas plastik kini mulai dilarang pemerintah. Apakah hal itu ada hubungannya dengan Bapak marah-marah kepadanya?

Sambil mengumpulkan serpihan kertas koran yang disobek Bapak, Kokom teringat Ucup juga punya kertas brosur bertuliskan Zero Waste itu. Kokom mengendap-endap untuk mengambilnya ketika Ucup lengah, lalu menyodorkan kertas itu ke Bapak.

Bapak makin murka, ia marah kepada Kokom yang terus mengganggunya. Baru saja ia hendak menyobek kertas brosur itu, Ucup menjerit dan menyerang Bapak. Ibu menangis dan berusaha memisahkan, sementara Kokom berdiri gemetar ketakutan. Tak lama pipi Kokom memerah, bercetak bekas tamparan telapak tangan Bapak.


Malam itu Kokom bertanya pada diri sendiri. Apakah ia terus belajar membaca, meski tak segera menjadi pintar. Ia hanya mau tahu semakin banyak arti tulisan-tulisan di koran itu, sehingga kalau sewaktu-waktu Bapak marah atau menamparnya ia akan menjadi tahu alasannya.

***

Sejak kejadian itu, Kokom semakin sering berada di ‘sekolah’ tempatnya belajar sejak dulu. Walaupun Bapak berulang kali bilang kepadanya, sudah saatnya Kokom mulai membantu memulung, agar uang yang didapat mereka semakin banyak.

Kokom menolak. Setiap pagi ia cepat-cepat kabur dari rumah dan pulang menjelang petang. Tak apa ia kelaparan, asal bisa berada di ‘sekolah’. Kadang Bu Layla yang merasa kasihan, membagi kue yang dibawanya untuk mengganjal perut Kokom yang lapar.

Hal yang dicemaskan Kokom, bila sewaktu-waktu Bapak datang mencari untuk memaksanya ikut memulung. Ada dua kali kejadian seperti itu. Sekali Bapak berhasil menyeretnya untuk ikut memulung. Kali yang lain, Kokom berhasil sembunyi di belakang rumah Pak RT.

Kokom berteguh hati, tak mau menghilangkan kesukaannya untuk membaca. Walau ia tahu, sesampainya di rumah akan menjadi sasaran kemarahan Bapak. Setiap tamparan atau pukulan Bapak di bokongnya tak pernah membuatnya jera. Esok paginya ia segera menyelinap berangkat ke ‘sekolah’ lagi.

Sampai suatu hari Jumat pertengahan musim kemarau. Hari yang sampai saat ini masih lekat di ingatannya.

Kokom sedang berjalan kaki sepulang dari ‘sekolah’. Tiba-tiba semua orang berlarian sambil berteriak kebakaran. Dari tempatnya berdiri Kokom melihat kepulan asap dari arah rumahnya. Kokom sudah hendak berlari, saat ada tangan yang merengkuh bahunya cepat dan menariknya ke pinggir jalan, beberapa saat sebelum terjadi ledakan besar.

Dari tumpukan gunung sampah itu Kokom masih sempat melihat banyak benda-benda terlempar ke langit dan terpental ke segala arah. Kayu, plastik, botol, kain, semuanya mencelat ke mana-mana, sebelum kemudian pandangan Kokom mengabur.

Kokom terbangun saat didengarnya bunyi sirine dari truk pemadam kebakaran yang sudah berjejer di dekatnya. Orang-orang, lelaki maupun perempuan berlalu lalang, tetapi tak dilihatnya ada sosok Bapak, Ibu maupun Ucup.

Kokom memberanikan diri mendekat ke salah seorang petugas pemadam. Ia mengucapkan kata Bapak, Ibu dan Ucup. Petugas itu menggeleng tanda tidak tahu. Kokom menghampiri petugas lain, tetapi juga mendapatkan jawaban yang sama. Begitu seterusnya. Kokom mulai menangis dan merasa ketakutan. Badannya bergetar teramat keras dan akhirnya jatuh rebah ke lantai.

Saat terbangun untuk kedua kalinya, Kokom berada di ruangan berbau cairan pembersih, seperti bau kamar mandi di ‘sekolah’. Ia terbaring di atas dipan dengan jarum berisi cairan yang ditusukkan ke bagian atas telapak tangannya. Di sampingnya ada Bu Layla yang menatapnya dengan mata sembap, seperti habis menangis.

Kokom berusaha bangun, namun dicegah Bu Layla. Ketika mulut Kokom mengeluarkan kata-kata, Bapak, Ibu dan Ucup, Bu Layla menggeleng-geleng dan mulai menangis lagi.

Sambil terbata-bata Bu Layla bercerita, ia mendengar Mak Ijah masih menyaksikan Bapak berlari ke dalam rumah mereka untuk membantu Ibu yang bersusah payah menggendong Ucup yang tak mau keluar rumah. Namun, ketiganya tak pernah keluar saat ledakan demi ledakan itu terjadi. Mereka bertiga tewas terbakar, tanpa ada petugas pemadam yang bisa menyelamatkan.

Kokom hanya menatap Bu Layla tanpa bisa menangis. Ia terus duduk mematung, bahkan sampai Bu Layla pamit pulang.

***
Beberapa tahun kemudian.

Di panti sosial itu, Kokom masih suka membaca. Namun kini ia seperti mendiang Ucup, tak bisa berbicara. Ia hanya menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang, sambil sesekali tertawa atau menangis. Bu Layla sering datang berkunjung, untuk duduk di sampingnya. Sambil mengelus-elus rambut Kokom, Bu Layla akan menyodorkan koran-koran dan majalah yang bisa dibawanya.

Hari itu, di tangan Kokom tergenggam selembar kertas koran yang sudah menguning. Koran yang hampir robek karena sudah basah oleh tetesan air matanya. Bagian koran yang basah bertuliskan, kebakaran 12 hari di Bantargebang akhirnya padam.

Ya, seperti juga keinginan Kokom untuk berbicara.



Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”
Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”
Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.
Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi.

Seringkah kita menemui obrolan anak-anak dengan muatan semacam itu sehari-hari? Mengandung stereotip dalam memandang orang lain. Bila menjawab sering, lalu apakah stereotip itu?

Menurut kbbi, ste·re·o·tip /stéréotip/ 2 n merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Jadi secara sederhana, stereotip lebih mengarah pada prasangka dan patut diragukan kebenarannya.

Lalu apakah kasus di bawah ini termasuk di antaranya? Seorang ibu bercerita, sebuah insiden di sebuah tempat ibadah. Ada beberapa anak yang berteriak mengejek saat melihat anak dari salah satu pulau di timur Indonesia. “ih ireng banget koyo tai… njijiki… hih tai kok neng grejo.”
(ih hitam banget kayak kotoran/tai, menjijikkan, hih tai kok ada di gereja)
Ibu ini begitu geramnya, namun tak berkuasa apa.

Berprasangka kepada yang berbeda dengan kita, biasa diawali dengan melakukan body shaming, seperti, ujaran “Moko kulitnya item banget, kalo mati lampu ga bakal kelihatan.” Atau “Sucen matanya sipit, kalo ketawa cuma satu garis aja.”; mungkin biasa terjadi sehari-hari. Pertama mungkin dari ciri fisik seseorang, lama kelamaan berkembang menjadi prasangka subjektif tentang karakter khas sebuah suku, ras atau bangsa tertentu.

Awalnya hanya bercanda, selanjutnya sengaja menyindir, dan kalau dilakukan berkali-kali, sama saja dengan mengolok-olok yang cenderung menghina. Contoh ucapan yang ditujukan pada seorang yang sejak kecil pintar berwirausaha. “Ahhh, pasti dia Cina atau Padang. Apa-apa dijadiin duit. Apa-apa didagangin.” Atau ucapan. “Males deh temenan sama dia. Lambat banget ngapa-apainnya. Psst… orang Jawa sih.” Atau, “Jangan temenan ah sama dia. Kan orang Timor, bawaannya marah mulu.”

Hal apa yang sebenarnya mendorong seorang anak melakukan tindakan stereotip? Dan apakah benar sikap orang tua atau bahkan pola orang tua asuh ternyata menyuburkan tindakan tersebut?

Asmiati Malik dari Universitas Bakrie dan Andi Muthia Sari Handayani dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu mengungkapkan stereotip terbentuk dalam proses pembentukan karakter dari individu sejak kecil dan kemudian melekat secara alamiah di bawah otak tidak sadarnya.

Pendapat yang lebih detail diungkapkan Erin N. Winkler, professor dan Kepala Departemen Afrology di Universitas of Wisconsin-Milwaukee. Beliau mempelajari bagaimana anak-anak membentuk gagasan mereka tentang ras selama tahap awal perkembangan.

Ketika anak-anak mulai mencari tahu dan belajar membedakan bentuk dan warna, mereka juga mulai mengamati perbedaan yang terlihat di antara orang-orang dan membedakan identitas mereka sendiri, termasuk konsep rasial.

Winkler juga mengulas bagaimana bayi berusia 3 sampai 6 bulan dapat secara non-verbal mengkategorikan orang menurut karakteristik ras, lalu anak-anak berusia 2 tahun dan seterusnya dapat menggunakan kategori ini untuk “bernalar” tentang perilaku orang.

Secara perkembangan, normal bagi anak prasekolah untuk memperhatikan dan bertanya tentang perbedaan warna kulit dan ciri-ciri lainnya, terutama karena anak usia 3 sampai 5 tahun sering belajar mengkategorikan segala macam hal. Besar kecil, tinggi pendek, hitam putih, cantik jelek, dan seterusnya.

Anak-anak bahkan dihadapkan pada stereotip rasial secara terbuka, melalui buku, majalah, televisi dan pengalaman mereka di lingkungan. Bagi anak-anak di usia ini, apa yang terjadi dan ada di sekitarnya mengundang rasa ingin tahu.

Jadi ketika mereka memperhatikan sebuah sikap atau perilaku sebagai pola, lalu mereka tidak mendapatkan penjelasan mengapa pola-pola ini ada, mereka menyimpulkan bahwa memang begitulah seharusnya bersikap.

Inilah sebabnya sikap orang dewasa yang tak mau terbuka mendiskusikan tentang ras bisa dianggap mendorong anak untuk memiliki prasangka kepada temannya atau orang lain.

Lalu, apakah mudah mendiskusikan hal ini dengan anak-anak dan sebaiknya di usia berapa kita membicarakan hal ini. Beberapa orang tua khawatir tentang mengenalkan masalah seperti diskriminasi pada usia dini. Yang lain enggan membicarakan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya mereka pahami atau tidak nyaman untuk dibahas. Namun bagi mereka di keluarga yang pernah mengalami perlakuan pembedaan berdasarkan stereotip, tentu tidak memiliki pilihan seperti itu.

Pembicaraan tentang stereotip, rasisme dan diskriminasi mungkin terlihat berbeda untuk setiap keluarga. Meskipun tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua, panduannya sebenarnya sama. Semakin dini orang tua memulai percakapan dengan anak-anak mereka, semakin baik.

Menurut Unicef, usia anak yang cukup baik untuk diajak berdiskusi tentang hal ini, ternyata usia balita. Pada usia ini, anak-anak mungkin mulai memperhatikan dan menunjukkan perbedaan pada orang yang mereka lihat di sekitar mereka. Seperti pada contoh yang dialami Dydy saat TK di awal cerita.

Lalu apa saja langkah-langkah kita sebagai orang tua mengajarkan hal ini? Apalagi sudah dipastikan bahwa orang tua lah yang meletakkan dasar dari bagaimana anak-anak bersikap kepada orang yang ‘berbeda’.

Unicef sempat menyusun panduan seperti selalu mengajak anak mengenali dan mensyukuri perbedaan dengan sering mengajak anak play date dengan teman dari berbagai keluarga, selalu terbuka terhadap pertanyaan dan keraguan anak-anak saat menghadapi orang yang berbeda, selalu berusaha memfasilitasi dengan bersama-sama membaca buku anak-anak maupun menonton bersama serial Upin Ipin atau sejumlah film Disney seperti Mulan, Brave, Frozen, Wreck it Ralph, Monster’s Inc., dan Shrek yang banyak memberi contoh tentang stereotip dan keberagaman.

Dan termasuk mengajak anak ke pekan budaya atau festival seni untuk mengenalkan betapa berwarnanya lingkungan sekitar kita.

Namun, kuncinya kembali lagi ke orang tua, yang sejatinya adalah ‘pintu’ anak mengenal apa-apa di dunia. Ingatlah untuk mempraktikkan selalu apa yang kita katakan.
Kita mungkin mengajari anak-anak tentang tak boleh membeda-bedakan teman termasuk bersikap toleran. Namun jika mereka mendengar kita berbicara negatif tentang orang yang berbeda, jangan kaget jika mereka akan meniru kita.

Anak-anak akan sering mempraktikkan apa yang mereka lihat dan dengar sebagai kebalikan dari apa yang diajarkan. Inilah sebabnya mengapa anak-anak lebih cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat ketika mereka melihat kita mempraktikkan toleransi dan menerima orang lain apa adanya.

Ini PR besar saya juga untuk Dydy untuk tidak bersikap stereotip dan diskriminatif, termasuk mulai mengajarkannya untuk bersikap asertif saat ada teman yang membeda-bedakan dirinya.

Tak mudah, perlu proses, perlu keteladanan dari kami orang tuanya; tapi bukan berarti tak bisa kan?


Referensi : https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/explainer-ilmu-psikologi-menjelaskan-bagaimana-rasisme-terbentuk-dan-bertahan-di-masyarakat-140071
https://www.wiscontext.org/how-kids-learn-about-race-stereotypes-and-prejudice
https://www.unicef.org/parenting/talking-to-your-kids-about-racism
http://www.aldenhabacon.com/13-tips-how-to-talk-to-children-about-diversity