yukberbagi!


Sekilas tentang Hypersensitive dan hyposensitive auditory disorder
14/07/2016, 4:12 pm07
Filed under: catatan saya, ngalamin sendiri | Tags: , , , , ,

Pernah dengar istilah ini?
Ga ada hubungannya sama tulisan saya beberapa waktu lalu sih. Mungkin benang merahnya cuma di definisi sensitif…he2

Sejujurnya nulis ini karena lagi geregetan sama abegeh autistikku.
Tutup telinga trusss..terutama di tpt umum atau dgn suara tertentu.
Jadi ga heran banyak tampang curious ato penasaran waktu liat si Arsa jalan sambil tutup telinga.
Mungkin..pikir mereka, ganteng2 K-Pop gitu kok aneh prilakunya!!..

Konsumsi suplemen Magnesium ato sayur buah yg mengandung si Mg (brokoli..waluh) yg katanya perlu untuk yang sensitif pada suara ato bunyi2an udah dilakukan. (Ato jangan2 suplemen itu menjadikan asupan Mg berkecukupan hingga buat Arsa terlalu sensitif)… Truly i don’t know.

Tapi…emaknya jadi rajin googling nih untuk lebih paham..apa sih istilah2 di judul itu.

Berikut yang bisa emaknya rangkum yak..

Apa sih istilah auditori itu?
Simpelnya ya…
Waktu kita mendengar suara atau bunyi..sensor dengar kita menghantar suara tersebut untuk dianalisa di otak, untuk kemudian otak memerintahkan bagaimana kita merespon terhadapnya. Senang…sedih..ngeri..waspada..cemas..menenangkan…menghibur..dsbnya.

Telinga kita memang luar biasa fungsinya. Bukan cuma sbg indra pendengaran..tapi juga berperan dalam keseimbangan dan olah anggota gerak tubuh kita.

Seorang anak dengan sistem pendengaran yang sehat mampu merespon pada suara dan bunyi2an secara alami, menoleh saat namanya dipanggil atau refleks mencari ke arah sumber bunyi. Mereka juga mampu mengikuti petunjuk verbal dari org tua dan guru. Anak juga mampu menyaring suara atau bunyi latar dari sebuah situasi. Seperti saat mendengar penjelasan guru di sekolah..ia juga mampu mendengar bunyi ketukan pensil yang dilakukan teman di meja yang lain.

Kebanyakan anak2 mampu mendengar walau dalam situasi yang bising. Tanpa bereaksi berlebihan..tanpa terganggu kebisingan..sensor pada sistem pendengaran mereka bisa memilah dan otomatis mengenali suara familiar seperti dering telpon, bunyi alarm, bel sekolah atau suara ibu yang memanggil.
Karenanya kebanyakan anak2 senang mainan atau bermain yang berhubungan dengan bunyi2an..termasuk senang menirukan suara atau bernyanyi mengikuti irama musik.

Anak2 dengan sistem pendengaran yang sehat memiliki kepekaan sekitar yang juga sehat, mengembangkan berbagai kemampuan merespon dan bereaksi terhadap berbagai suara dan bunyi .
Pada akhirnya sistem pendengaran yang sehat ini akan terintegrasi dengan perkembangan kemampuan menyimak (listening) , berkomunikasi timbal balik dan kemampuan bersosialisasi anak2

Nah trus yang problem gimana?
Biasanya sih hal ini ditemukan pada anak2 dengan spektrum autistik.

Anak2 yang bermasalah dengan sistem pendengarannya…adalah saat otak tidak akurat menginterpretasikan dan berespon pada suara atau bunyi2an. Beberapa anak salah menalar apa yang mereka dengar atau tak lengkapnya informasi verbal yang diperoleh. Seperti contoh : “berbarislah saat mau ke ruang olahraga” berbeda dengan “berbarislah dulu saat mulai olahraga”. Jika anak kehilangan satu frasa saja seperti mau ke ruang itu tentu akan menghasilkan respon yang jauh berbeda.

Para ahli menggolongkan gangguan sistem pendengaran ini dalam dua bagian.
Yang hipersensitive dan yg hiposensitive.
Anak yg hipersensitive kyk Arsa bisa bereaksi berlebihan terhadap suara atau bunyi yg mungkin biasa bagi kebanyakan orang. Mereka bisa tutup telinga untuk volume, pitch dan suara keseharian yg secara personal ‘menyakitkan’ telinganya. Umumnya mereka lebih suka tempat2 yang lebih tenang daripada pusat keramaian..seperti taman..perpustakaan atau toko buku…pantai.
Biasa mereka sangat mudah menjadi impulsif..emosional…merasa terganggu dan hanya fokus pada ‘kebisingan’ personalnya saja.
Tanda fisik yg tunjukkan ia terganggu adalah tutup telinga atau menundukkan kepala dalam2.

Kebalikannya…untuk yg hiposensitive. Anak2 ini bukan tuli secara fisik. Namun mereka tidak ‘nalar’ dengan suara yang dihasilkan sekitar. Mereka ada atau hadir secara fisik namun seolah2 tidak mendengar apa2 dan tentu tidak reaktif dalam merespon instruksi, panggilan, bunyi2 yang menarik perhatian org pada umumnya.

Biasanya anak yg hiposensitive ini justru anak2 yang berisik (lah kok Arsa sy yg hipersensitive malah berisik bersuara2 aneh kalo di rumah – caper kah???) , selalu bicara, menyanyi, bergumam atau membuat bunyi2an sendiri untuk menambah input pendengaran mereka. Mereka bicara keras2 untuk memberi petunjuk apa yg harus mereka lakukan saat mengerjakan sesuatu. Mereka tidak merespon saat berkomunikasi dengan kita karena mereka tidak tahu bahwa kita sedang bicara dengannya. Anak2 ini juga mudah sekali untuk lupa pada apa yang dikatakan org lain.

Nah.. mendengar lalu merespon sebenarnya baru satu aspek saja dari sistem pendengaran kita. Proses keseluruhan dari sistem pendengaran sebenarnya lebih kompleks lagi…karena sampai tahap mampu membedakan dari suara2 yg mirip…, merespon hanya pada sebuah hal yg telah dipilah sebelumnya untuk kemudian memberi tanggapan terfokus, menyimak penjelasan untuk kemudian menyampaikan kembali.

Pfiuhhh…jadi bisa dibayangkan ya…kalo proses mendengar dan merespon yang tampak sederhana pada diri seorang anak sudah terganggu….masih jauh perjalanan ia mampu melalui dan mencapai tahap selanjutnya.

Bukan pesimis sih..karena saya juga masih ada PR. Arsa yang sampai saat ini masih tutup telinga di tempat umum bahkan tutup telinga mendengar suara rating mobil…suka emosional kalo ada denting piring keramik dgn alat makan lainnya.. jadi impulsif dengan suara benda yg diletakkan.
Tapi Arsa juga berisik bersuara2 kalau di rumah..

Nah dari yg saya baca2 hsl googling itu…katanya ada aktivitas2 yg bisa kita lakukan untuk memberikan stimulus untuk pendengaran anak2. Ga salah buat dicoba sih..biar Arsa hipersensitive gitu juga.
Siapa tahu nanti kita akan temukan yg mana yang disukai dan cocok dengan kondisi Arsa.

-bermain alat musik atau apapun yg menghslkan bunyi2an

-menggunakan mikrophone utk pengeras suara (sering2 diajak ke karaoke keluarga nih)

-games2 yg berkaitan dgn pendengaran (blm yakin Arsa bisa main pesan berantai sih)

-dengerin suara2 saat hujan (ide yg menarik)

-bernyanyi sambil menari (kebtln Arsa udh punya beberapa lagu favorit- patut dicoba)

-mengajarkan bersiul..bertepuk berirama, dll (sekalian bareng adiknya nih..pasti seru)

Mudah2an bermanfaat sekilas info yg saya rangkum dari berbagai sumber ini.

Saya pun masih belajar…
Utk lebih paham dan analisanya mendalam…silakan konsul ke ahlinya ya…
Terus semangatttt!!!



Jangan2 kita (ternyata) ‘menjadikan’nya pelaku
02/06/2016, 4:12 pm06
Filed under: catatan saya | Tags: , , , , , ,

Beberapa waktu ini.. beberapa orang ibu curhat di media sosial. Tentang tindakan bullying (perundungan) yang dialami anaknya. Komentar yang muncul beragam. Mulai dari yang simpati…menunjukkan empati bahkan yang menyakitkan hati.

Dari dua kasus saja..reaksi bisa berbeda. Ketika yang menyandang status pelaku bullying dari penyedia jasa publik..semua berpihak pada korban dan keluarganya lalu betamai-ramai mengecam keras. Menganggap ketidakadilan masih terjadi di mana-mana. Terutama kepada anak/individu dengan kebutuhan khusus.

Namun..ketika yang menyandang status pelaku bullying dari kalangan guru pada suatu kejadian di kelas…tak semua berpihak pada korban dan keluarganya. Ada yang menganggap itu bagian dari pendidikan? (Oh ya???)
Ada yang menganggap si korban terlalu lemah hatinya…hingga jadi baper. Padahal banyak juga yang mengalami semasa kecil dan menjadikan itu motivasi untuk maju dan survive. (Wohooo…alasannya…)
Tapi ada juga yang sepaham untuk  tidak membenarkan tindakan bullying dalam proses belajar mengajar..apalagi antara guru dan siswa.

Setiap kejadian bullying memiliki berbagai penyebab. Waktu saya browsing beberapa sumber termasuk hasil penelitian..saya temukan ada benang merah dari pendapat-pendapat tersebut.
Saya coba tulis ulang beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab.

* pelaku pernah menjadi korban bullying / tindak kekerasan juga (nah jadi tahu kan begitu hebatnya efek bullying yang akan berimbas ‘menjadikan’ pelaku-pelaku bullying lain)

*  pelaku adalah orang yang kesepian dan atau punya masalah dalam keluarga (bullying dalam keluarga pun akan ‘menghasilkan’ produk pelaku bullying juga)

Dua sebab di atas mungkin..karena secara alamiah, saat seseorang ditekan pihak lain, akan serta merta mencari orang lain untuk pelampiasan. Bisa dengan tindakan yang sama atau berbeda.

* pelaku punya masalah kepribadian. Entah harga diri yang rendah, ego yang besar, ingin menarik perhatian atau sekadar sirik.

Coba lihat deh..semua masalah tersebut berasal dari harga diri yang rendah. Besar kemungkinan pelaku bullying tersebut tak pernah dihargai..sekecil apapun usahanya. Padahal ia ingin juga mendapatkannya. Atau ia terus menerus dibandingan dengan orang lain..entah dari sisi fisik, kemampuan, status dsbnya.

Saat ia berlaku baik tak dihargai..ia pun mencoba berlaku jahat. Kalau dengan itu ia menarik perhatian plus menjadi percaya diri, ia belajar..dengan cara demikian ia akan diperhatikan plus diperhitungkan. Jadi ia pun memilih untuk melakukan tindakan tersebut.

* pelaku adalah bagian dari golongan mayoritas atau grup yang populer.
Biasanya hal ini terjadi saat pelaku sudah aware terhadap kelompok sosial yang berpengaruh. Hal ini bisa dimulai saat mereka remaja. Saat perasan belum stabil, masuk dalam kelompok yang populer di lingkungan pergaulan menjadi sebuah kebanggaan. Dan karenanya perilaku-perilaku ‘show off’ sebagai bagian dari kelompok tersebut menjadi penting.

Tak hanya populer…hal ini juga bisa berkembang saat kelompok tersebut punya unsur mayoritas. Beragama tertentu, dari status sosial tertentu, dari kesukuan/kebangsaan tertentu, punya kemungkinan menjadi pendorong perilaku bullying kepada pihak yang dianggap minoritas.

Hmmm…
Membaca ulasan saya sendiri di atas…saya jadi khawatir..jangan-jangan apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita..sikap perilaku sehari-hari yang kita tunjukkan pada orang di sekitar kita, telah menanam benih-benih pada diri seseorang untuk menjadi pelaku bullying?

Dan itu tak kita sadari sampai kemudian muncul tindakan bullying.

Sementara itu..bagi yang pernah jadi korban bullying; hal ini perlu diingat. Sebaik apapun sikap dan perilaku kita, yang benci kepada kita tetap saja ada. Terus menerus berurusan sama yang benci-benci aja…sungguh buang waktu dan energi yang tak berguna.

Kalau saya sih…lebih baik..teruslah melakukan hal yang positif
Bisa menjauh dari pelaku bullying..lakukan. Bisa asertif kepada pelaku..lebih baik lagi. Apalagi bisa menyadarkan pelaku bullying untuk tidak melanjutkan perbuatannya kepada orang lain..itu lebih mulia lagi.

Eh..masih ada lagi. Bisa mengendalikan diri untuk tak jadi pelaku bullying selanjutnya.  (Walau berat..mudah-mudahan yang terakhir ini bisa dilakukan)

***
Catatan bagi saya sendiri…..
setiap perilaku baik yang kita lakukan akan mengundang ‘jodoh’ yang baik dari semesta.
Walau kita kadang tak tahu kapan ‘jodoh’ baik itu datang…minimal kita terus dan tetap berusaha.

Tak diminta pun..semesta tak pernah lalai mencatat segala kebaikanmu.
Percaya deh…

image

Beberapa sumber yg saya ambil.



Merasa ‘lebih’

Jujur… ini perasaan yg sangat alami, saat kita puas karena bisa merasa ‘lebih’ dari apa yang dilakukan oleh orang lain.
Entah dalam keseharian..entah dalam pekerjaan. Apalagi apa yang kita lakukan itu membuat kita dipuja puji sana sini.

Tanpa disadari hal tersebut berawal dari konsep pengasuhan yang ‘salah’ . Berikut salah satu ulasannya

“Berdasarkan hasil studi terbaru, anak yang tumbuh dengan sifat narsis memiliki orangtua yang memuji anak secara berlebihan. Nantinya, sifat narsis pada anak akan membuat mereka menjadi pribadi yang dominan, superior, dan selalu merasa berhak terhadap penghargaan meskipun kontribusi mereka terbilang minim. Parahnya, kebiasaan sering dipuji dari kecil ini bisa membentuk ketakutan akan kegagalan.” (Dampak Negatif Terlalu Sering Memuji Anak – Tabloid Nakita https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://www.tabloid-nakita.com/mobile/read/4950/dampak-negatif-terlalu-sering-memuji-anak&ved=0ahUKEwiIkYiJweLMAhWBLI8KHW7UAn8QFggYMAA&usg=AFQjCNHxpWSUTCljHh2doUdEKIM_j571zQ )

Bukan nyalahin para orang tua kita sebelumnya sih. Yang kalau dari ulasan itu telah membentuk konsep  narsis sehingga menjadi dominan dan superior.

Tapi saya sungguh prihatin kalau memang benar pribadi tersebut yang kemudian menjadi pihak yang akhir-akhir ini sering memperdebatkan hal yang tak perlu karenanya.

Sungguh ramai perdebatan di media sosial soal merasa ‘lebih’ ini.
Karena saya ibu-ibu..jadi saya bahas tentang ibu-ibu ya.

Banyak yang senang membanding-banding kan; ibu bekerja dan tidak bekerja, ibu menyusui dan tidak menyusui.
Ibu yang memberi kebebasan gadget pada anaknya dan yang tidak. Ibu beranak banyak dan ibu tanpa anak. Ibu melahirkan sesar dan ibu melahirkan normal. Ibu berpakaian terbuka dan ibu berpakaian tertutup.

Bukan hanya merasa lebih atau merasa hebat saja..setelah itu tiba-tiba merasa berhak dan wajar menyerang pihak lain yang menjadi versusnya.
Sungguh aneh sikap menghakimi semacam itu. Karena kita tak pernah tahu apa yang melatarbelakangi seseorang menjalani sebuah pilihan atau mengambil suatu keputusan.

Saya ibu 2 anak dengan cara sectio atau operasi caesar. Saya tak punya pilihan. Secara anatomi jalan lahir anak-anak sungguh jauh dari area vaginal. Walau dibilang posisi bayi saya sudah ‘turun’ tetap saja tenaga medis tak bisa menjangkaunya, dengan tangan saat periksa dalam. Memaksa saya melahirkan normal akan membuat anak saya kehilangan saya… ibunya.

Saya dulu bekerja penuh waktu…pernah paruh waktu dan sekarang jadi ibu rumah tangga. Tentu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karenanya saya jadi mengerti bagaimana berada di posisi masing-masing tersebut. Yang jelas, perasaan diapresiasi atasan saat bekerja dengan baik atau programnya sukses..beda betul dengan perasaan bahagia melihat anak kita telah melalui milestones tertentu dalam tumbuh kembangnya.

Saya pernah harus program kehamilan untuk mendapatkan Arsa, putra sulung saya. Saya tahu rasanya kecewa dan sedih melihat tes pack tak kunjung berstrip dua. Namun saya juga pernah merasa terkejut saat sekian lama tak berKB maipun program apapun..tahu-tahunya dikaruniai putra kedua. Jadi saya paham betul rasanya belum hamil dan hamil tanpa direncanakan. Termasuk pernah merasa kecewa tak bisa menyusui hingga dua tahun buat Arsa dan merasa luar biasa bahagia melampaui masa menyusui dua tahun untuk Adyatma.

Belum lagi soal siapa yang lebih ‘hebat’ dalam mengasuh didik anak autistik/abk lainnya. Saya suka merasa sedih. Bahkan ahli-ahli atau orang-orang yang berjuang dalam dunia yang sama sekalipun suka saling menyerang tentang teori/paham/konsep masing-masing terutama bila berkaitan dengan keberhasilan menangani anak autistik. Ingat lho autistik itu spektrum. Berhasil di anak A belum tentu untuk anak B.

Saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa saya belum ada apa-apa nya dengan asuh didik Arsa. Masih banyak ibunda2 di luar sana yang perjuangannya luar biasa dibanding saya. Saya sih cuma ibu yang keras kepala untuk terus berproses…terus eksplor supaya Arsa mandiri.

Karenanya…tulisan ini sungguh untuk self reminder diri. Buat apa sih merasa ‘lebih’ . Toh tiap orang punya perjuangan hidup dan tujuan hidup yang beda.

Yang jelas saya akan ajarkan terus pada anak-anak. Dimulai dengan memuji mereka sewajarnya. Salah yah ditegur, dimarahi dan diberi tahu kesalahannya. Bersikap  perilaku positif tentu akan saya puji..beri reward atau reinforcement untuk konsisten dengan sikapnya.

Semuanya tentu tak semudah ditulis di sini. Tapi dengan mengingat ketidaksukaan pada sikap membanding-bandingkan plus arogansi merasa paling benar…tentu memicu saya untuk tidak melakukannya, plus menjadi reminder yang baik saat mengasuh didik anak-anak.

Kalau kesal sering dibanding-bandingin… yuk mulai dari diri sendiri..untuk tak mudah merasa ‘lebih’ .

Tak bisa rubah orang…minimal diri sendiri tidak melakukan hal yang sama.



‘Berhitung’ demi mandiri

Saya sudah mulai ajarkan anak sulung saya Arsa untuk berwirausaha. Dia autistik tapi mengapa tidak? Justru karena dia autistik…saya perlu ajarkan bagaimana ia kelak bisa menghidupi dirinya sendiri.

Awal-awal saya yang keluar modal untuk beli bahan, beli alat. Kain, benang, jarum, pemidangan dan pernak pernik lainnya.

Nah setelah terkumpul sejumlah uang, mulailah ia membiayai proses produksi. Lengkapi warna benang, beli pernak pernik jahit, beli bahan kain, biaya ngeframe atau ongkos jahit, dan tentu membayari duli ongkos kirim ke customer.
Semua saya catat..karena ia belum paham pencatatan keuangan.

Sejatinya sih… anak saya tak peduli berapa banyak uang yang ia peroleh. Ia cuma senang dan senang menjahit. Menghitung berapa biaya produksi atau untung yang didapat, juga belum bisa.
Namun saya berusaha untuk ‘hitung2an’ untuknya.

Saya sering berpikir, apakah saya keterlaluan memberi harga untuk karyanya Arsa. Jangan-jangan ada yang menganggap saya mulai komersil. Namun saya berpikir lagi. Ini handmade…ini adalah proses pembelajaran bagi Arsa.
Harga ke konsumen yang saya berikan adalah standar harga sebuah sulaman + (biaya bahan+ongkos jahit) kalau tas.
Kalau yang di frame : standar harga sebuah sulaman + biaya framing.
Dan kalau di luar kota berarti masing2 ditambah ongkos kirim lagi.

Yang terakhir karya Arsa Jahitan Arsa merantau ke Buitenzorg itu..Arsa yang biayai sendiri ongkos produksi dan ongkos kirimnya.

Nah… hitung-hitungannya; bila ada yang membeli produk Arsa…uang yang murni Arsa dapatkan nantinya, hanya seharga standar harga sebuah sulaman (range 180ribu – 300 ribu) yang kemudian saya tabung.

Tabung buat apa sih? Buat beli bahan lagi. Buat kursus jahit. Beli mesin jahit….sehingga nantinya Arsa bisa menjahit atau bahkan membordir dengan mesin. Sungguh senang membayangkannya.

Jalan Arsa memang masih panjang. Tapi mulainya Arsa berwirausaha ini..mudah-mudahan bisa membekalinya untuk jadi mandiri. Saya selalu mendoakannya.

image

Arsa ‘berhitung’ untuk kemandiriannya nanti.



you don’t really belong there, but there you are..in this universe ~”ADAM”, a lonely man with Asperger’s Syndrome – the movie
16/12/2010, 4:12 am12
Filed under: catatan saya | Tags: , , , ,

Seorang teman pecinta film meminjamkanku sebuah film

ADAM judulnya, seorang dengan sindrom Asperger yang kesepian.

aku tak melewatkan tiap detik dan tiap momen film ini

karena apa yang dialami dan dirasakan Adam, aku tahu sekali

seorang mantan murid menyerupai dengan Adam

dan aku tahu tak mudah baginya melalui masa sekolah, apalagi beranjak dewasa

kini aku kembali pada hidupku

anakku memang bukan asperger, dan dia bukan Adam

walau mungkin mereka memiliki bias-bias spektrum yang ada di Autism Spectrum Disorder

memandanginya dan becermin pada apa yang dialami Adam, Continue reading



Dua huruf ~HU
11/02/2010, 4:12 am02
Filed under: catatan saya | Tags: , , , ,

Suatu pagi, di kelas 1 sebuah sekolah.

“Aku…aku mau, bu!”suara Paijo, anak laki-laki yang duduk paling depan keras terdengar ketika ditanya gurunya, siapa yang bisa mengerjakan soal di papan tulis. Tapi…lebih keras lagi suara-suara lain menyambut, “sok..emang kamu bisa…” yang lain meningkahi,”aku saja…aku saja!” dan seperti koor, tiba-tiba semua berteriak ”Huuuuuuu.!!!!!!!!!” saat Paijo maju ke depan, mencoba mengerjakan soal.

Sang guru berusaha menenangkan,”Kalian nggak boleh seperti itu!” yang ternyata tak mampu menenangkan.

Tetap saja suara “Huuuuuuuuuu!!!!!!” terus membahana sampai Paijo kembali duduk di tempatnya.

Siangnya, di kelas 1 sebuah sekolah.

Terdengar bisik-bisik saling mengejek di salah satu pojokan kelas. Yang kemudian diakhiri dengan isak tangis salah seorang pelakunya. Kembali suara kelas seperti koor, “Huuuuuuuuu!!!! Cengeng!!!” baca selengkapnya