yukberbagi!


Tulisan ini 40 besar di lomba Opini Bisnis Indonesia 2022

Ketika saya menulis pemberdayaan perempuan dalam ekonomi global, terus terpilih sebagai 40 besar opini dari 300-400 peserta lomba yang diselenggarakan Bisnis Indonesia, jujur saya sangat bersyukur dan banyak-banyak berterima kasih.

Apalagi ketika teman-teman merespons positif tulisannya.

Siapa juga yang mimpi bisa nulis tentang ekonomi di media bisnis, secara saya enggak berlatar bidang itu. Sementara peserta lain berlatar dosen, peneliti, mahasiswa dan jurnalis.

Untuk teman-teman yang belum sempat baca, ini saya repost. Dengan link asli juga.

=====

WOMEN IN THEIR 20S DAN G20, KAUM PENIKMAT JADI PENYEDIA

Ketika MotoGP di Mandalika mencuatkan pawang hujan yang notabene perempuan, ada beberapa postingan baik artikel maupun TikTok yang membahas kemunculannya lebih bernilai marketing secara global, dibandingkan dukun lelaki. Bahasa awamnya, perempuan memiliki nilai jual tersendiri sebagai agen pemasaran.

Terlepas dari bias gender, kaum misoginis dan budaya patriarki, kaum perempuan memang terbukti menjadi unsur penting dalam industri periklanan atau dengan kata lain memberi peran ekonomi dalam bidang pemasaran di seluruh belahan dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menjadi pembicara utama pada sebuah seminar tahun 2021 lalu pernah mengungkapkan, di Indonesia, peranan perempuan dalam perekonomian menunjukkan peningkatan signifikan. Pada sektor UMKM, 53,76%-nya dimiliki oleh perempuan, dengan 97% karyawannya adalah perempuan, dan kontribusi dalam perekonomian 61%. Di bidang investasi, kontribusi perempuan mencapai 60%.

Sejalan dengan yang dikemukakan Menkeu, ada contoh nyata yang muncul baru-baru ini. Annisa Inawati Siswanto, yang masih taraf mengerjakan skripsi pendidikan S1-nya telah merintis bisnis thrift yang dinamai skirtizen, berawal dari kesenangannya menggunakan rok untuk keseharian.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret Surakarta tersebut sukses meraup keuntungan hingga jutaan rupiah dalam sebulan.

Padahal berlatar alasan sederhana kesenangan menggunakan rok yang dipasarkan sendiri, di mana produk thrifting ini lagi-lagi banyak yang berasal dari China dan Korea.

Annisa memang belum menjadi produsen dan mengalami jatuh bangun seperti Nurhayati Subakat, pendiri utama merek kosmetik Wardah yang juga mengelola Make Over, Emina, dan perawatan rambut Putri.

Keberhasilan Nurhayati yang dimulai dengan menawarkan produk Putri sejak tahun 1985 dari rumah ke rumah, membuatnya diperhitungkan sebagai salah satu dari 25 perempuan dunia yang berpengaruh di bidang bisnis, oleh majalah Forbes tahun 2018.

Anissa dan Nurhayati menjadi contoh bahwa perempuan pada dasarnya mampu berperan lebih sebagai produsen dalam perputaran ekonomi. Tak selalu hanya berada di posisi model produk, tim pemasaran, baik agen, reseller maupun dropshipper, apalagi berhenti hanya di posisi konsumen.

Tak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan rumah kita masih banyak untuk mengubah kedudukan perempuan, yang dari sekedar konsumen menjadi produsen, dalam perekonomian Indonesia yang tahun ini dipercaya untuk menjadi tuan rumah G20.

Kata Data pernah melakukan survey, bagaimana perempuan melakukan transaksi e-commerce (sebanyak kurang lebih) 26 kali dalam setahun dibandingkan pria yang hanya 14 kali, meski nilai transaksinya tak berbanding sama. Apalagi semasa pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia.

Populix juga pernah melakukan survei pada akhir 2020 tentang rentang usia pembelanja e-commerce.

Sebanyak 6.285 responden di seluruh Indonesia, usia 18-21 tahun dan 22-28 tahun memiliki angka tertinggi dalam aktivitas belanja online, yang lagi-lagi didominasi oleh kaum perempuan sebagai konsumen.

Ditilik dari sisi psikologis, dari kedua temuan survey tersebut dapat disimpulkan bahwa kurang lebih mayoritas perempuan berusia 20-an masih menempati posisi sebagai konsumen. Lalu bagaimana kita mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi situasi ekonomi Global dengan area market yang lebih luas, di mana para konsumen tak dibatasi oleh ruang mapun waktu dan persaingan antar produk makin kompetitif, bila kondisi ini terus berlangsung.

Ada yang meng-klaim bahwa adalah hal yang wajar apabila perempuan seusia ini hanya berperan sebagai konsumen semata, karena mereka sedang berada dalam fase pendewasaan diri dari remaja menjadi wanita dewasa dengan kebebasan mutlak untuk mengatur keuangan mereka sendiri. Meski tidak semuanya sudah mulai mencicipi kebebasan finansial dengan menjadi pekerja penuh waktu, misalnya.

Mungkin Korean Waves yang juga berimbas besar bagi perempuan usia 20-an ini, bisa dijadikan pelajaran yang sangat baik.

Lihatlah fanatisme para penggemar yang rela mengumpulkan uang untuk membeli merchandise bias kesayangan, maupun menonton konser online yang tak terbilang murah.

Pelajarilah bagaimana pengemasan drama Korea yang sekaligus optimal memasarkan produk-produk yang digunakan dalam film tersebut. Tak heran roti lapis ala Drakor seperti ramyeon, tteokbokki, minuman, wardrobe (pakaian, tas, ransel, sepatu), dsbnya menjadi hal yang memiliki daya jual.

Amatilah, bahwa produk yang ‘diiklankan’ tak semata endorse-an saja, tetapi justru sengaja diperkenalkan dalam acara tersebut. Ini belum termasuk penggunaan layanan streaming video on demand (VoD) yang ikut mendongkrak perekonomian Korea Selatan selama pandemi covid-19 berlangsung.

Walau Menkeu Sri Mulyani menegaskan dalam acara G-20 Women’s Empowerment Kick-Off Meeting pada Desember 2021 lalu, bahwa pemberdayaan perempuan dalam ekonomi dan kesetaraan gender adalah hal yang fundamental bagi pemulihan ekonomi global; pemaparan saya tentang mengubah posisi perempuan usia 20-an dari konsumen menjadi produsen adalah awal dari tindakan pemberdayaan itu sendiri.

Mengubah pandangan dunia yang cenderung bias gender, misoginis dan patriarki untuk mengakui bahwa perempuan memiliki kesempatan dan pengakuan kompetensi sebagai pelaku ekonomi yang setara, tidaklah semudah menarik minat masyarakat untuk beralih berbelanja melalui e-commerce misalnya.

Mungkin yang disampaikan Sri Mulyani tentang pembangunan satelit, fiber optic, agar setiap pelosok Indonesia bisa terkoneksi internet untuk mendukung promosi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), di mana banyak perempuan yang bekerja maupun berwirausaha di sektor ini; bisa menjadi langkah awal yang efektif.

Dengan jaringan internet yang semakin baik, teman-teman perempuan muda di berbagai pelosok diharapkan juga makin teredukasi, berdaya dan mengoptimalisasi kekuatan naturalnya sebagai perempuan.

Kemampuan otak manusia yang menurut para ahli neuroscience mampu membaca dan peduli terhadap situasi, diasumsikan dapat memudahkan kaum perempuan untuk mengenali trend, di mana kemampuan berkomunikasi yang lebih lancar tentu akan mendorong kemunculan berbagai bentuk kreatifitas dalam memasarkan produk.

Apalagi kemampuan multitasking yang dimiliki oleh hampir semua kaum perempuan yang pada akhirnya memampukan ia untuk tidak hanya memproduksi sendiri, tetapi juga menilai kualitas sekaligus memasarkannya.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip pernyataan Ndidi Nwuneli, peraih penghargaan Global Fund For Women; Memberdayakan perempuan untuk memulai dan membangun usahanya sudah selayaknya dilakukan, tetapi mengedukasi mereka adalah hal yang paling tepat sebagai langkah awal. Ya, mengedukasi lebih banyak lagi perempuan usia 20-an untuk mengubah pemikirannya sebagai penikmat untuk mulai beralih menjadi penyedia, seperti Anissa.

=====

Tulisan asli dimuat di Bisnis Indonesia



Tentang Konsensual

https://www.ghibahin.id/esai/mengapa-mengajarkan-konsensual-kepada-anak-anak/?amp=1



Parenting selama 2021 di seide.id

https://seide.id/efek-lain-pandemi-adiksi/

https://seide.id/komik-asterix-humor-stereotip-tanpa-sensitif/

https://seide.id/parenting-101-sekadar-bisa-membaca-atau-membaca-untuk-bisa/

https://seide.id/parenting-101-orangatua/

https://seide.id/selebrasi-ibu-setiap-hari/



Si Toksik yang Nggak Asyik, Sebuah Relationshit yang Tak Berharga – Neswa.id

https://neswa.id/artikel/si-toksik-yang-nggak-asyik-sebuah-relationshit-yang-tak-berharga/



#NAD_Battle 2021 – artikel

#NAD_BATTLE_CHALLENGE_6
#Pasukan_Asterix
#NADFamilyMagazine

– ARTIKEL OPINI –

Ketika keluarga berhadapan dengan konflik

Judul : Daily Life with Arsa,
Si Autistik yang Rawan Konflik
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1748 kata

*****
Arsa jelang 18 tahun.

Suatu siang.
“Mami, kok enggak ada ayam goreng?” Dydy, anak bungsu saya mengomentari makan siangnya.
“Karena kakak hari ini jadwal makan tahu dan tempe. Kakak nggak boleh ayam goreng terus, empat hari lagi baru boleh. Nanti kandungan zat-zat makanan yang tidak bisa diserap tubuh kakak terus menumpuk, akan menjadikan dia sakit,” ujar saya menjelaskan tentang rotasi makanan (1) yang perlu dilakukan Arsa sebagai individu autistik.
Dydy merengut. Saya kasihan kepadanya yang tak selalu bisa makan makanan kesukaannya, tetapi ini yang mau tidak mau kami jalani.

Malamnya.
Setelah saya menyodorkan pasta gigi, Arsa ngambek. Ia menggerutu, mengomel dengan gumaman hampir setengah jam lamanya. Pada kasus anak autistik, hal seperti ini disebut Meltdown. Dia kesal tapi tak bisa mengungkapkan.

‘Meltdown merupakan dorongan emosi ketika anak sudah mulai kewalahan akan perasaannya sendiri’ (2)

Kali ini dia kesal karena sesi menggunting plastik kemasan untuk jadi eco brick terganggu, oleh saya yang menyodorkan pasta gigi itu. Kami sekeluarga mendiamkan saja. Cukup duduk di sampingnya sambil memperhatikan.

Ketika emosi meltdown ini selesai dan Arsa sudah tenang, ia bisa diajak berbicara lagi. Akan tetapi, jangan coba-coba untuk mengusik lagi, kekesalan Arsa seketika bisa menjadi kemarahan dan agresivitas.
Di usia ini, ia akan serta merta menyerang adiknya.

***

Ilustrasi kejadian yang saya ceritakan bagai makanan sehari-hari bagi kami. Salah bersikap, keliru berbicara, memungkinkan terjadi konflik dengan Arsa. Ditegur saat mengambil lauk di piring adiknya saja, bisa membuat Arsa ngambek dalam waktu yang tak sebentar.

Lucu bila dipikirkan, ketika orang tua lain sibuk mengurusi anak remajanya yang sudah mulai jatuh cinta, mulai pergi berkencan setiap akhir pekan, atau sibuk main game online daripada sungguh-sungguh belajar saat school from home, saya dan suami malah sibuk dengan keruwetan yang ditunjukkan Arsa, remaja jelang dewasa dengan spektrum autistik.

Dahulu di banyak tulisan tentang Arsa, saya bisa dengan pongah menyatakan, memiliki anak berkebutuhan khusus adalah anugerah dalam hidup dan membuat saya belajar prinsip bahwa tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Akan tetapi, pada akhirnya itu hanya sebagai tameng untuk melindungi diri saya yang tetap manusia biasa. Punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati. Hehe, kok jadi menyanyikan lagu “Rocker Juga Manusia”.

Saya dan suami menyadari bahwa mengasuh didik Arsa masih perlu proses yang panjang dan menjadi lebih terasa di masa pandemi ini.

Sejak awal pandemi covid-19, banyak perubahan dalam keseharian keluarga kami. Waktu tidur dan waktu bangun yang bergeser. Tidur makin malam dan bangun makin siang. Tidak bersekolah, yang berarti banyak sekali waktu untuk aktivitas Arsa di rumah dibandingkan saat masih bersekolah.

Seharusnya ia sedang menjadi siswa magang pada rumah produksi seminar kit dan handicraft, berkaitan dengan minatnya pada ketrampilan jahit menjahit. Karena terimbas pandemi, rumah produksi itu mengurangi karyawan maupun jumlah produksinya. Bagaimana mungkin lagi menerima siswa magang.

Meski banyak yang mengatakan jahit menjahit bisa dilakukan di rumah bersama orang tua, akan tetapi kenyataannya Arsa hanya mau menjahit menggunakan mesin bersama ayahnya. Ia tak mau lagi menyulam bersama saya, yang memiliki lebih banyak waktu di rumah. Bila Arsa menunggu ayahnya agak sulit, mengingat pekerjaan di beberapa tempat kadang memiliki jadwal waktu yang tidak jelas. Begitu sedikit luang, ayahnya sudah kelelahan.

Sejujurnya saya pun mengeluh, tidak sekali saja tetapi berkali-kali tentang pandemi ini, yang belum juga berakhir. Sekolah belum dimulai juga, dan itu berpengaruh besar bagi Arsa yang sangat senang pergi ke sekolah.

Sempat di satu masa, saya membenci orang-orang yang abai terhadap protapkes, sehingga masa pandemi ini menjadi lebih panjang. Sampai saya mendoakan, biarin kalian tertular semua. Duh, jahat sekali saya ya.

Kenyataannya yang saya, suami dan keluarga hadapi, tak sekadar berkeluh kesah karena penghasilan tiba-tiba menukik drastis.

Keluarga kami mendapat bonus tantangan, ada tenaga produktif di rumah, akan tetapi tak mau melakukan apa-apa. Awal-awal pandemi, ia masih mau menjahit berbagai produk olahan patchwork bahkan sampai bisa membawanya ke ajang pameran karya difabel dan menghasilkan uang pula. Pendapatan Arsa saat itu bahkan bisa membantu melunasi salah satu utang keluarga kami ke sekolahnya.

Kini, melirik jahitan pun tidak. Semenjak dipasangkan WIFI di rumah karena tuntutan beberapa kesibukan pekerjaan saya dan suami, aktivitas Arsa pun menjadi bergeser.

Ia lebih sibuk membuka Google menelusuri laman-laman sesuai dengan keyword pencarian kata-kata atau sebaris kalimat yang ingin diketahuinya. Kata-kata atau kalimat itu biasa muncul sebagai reading text di televisi, dibacanya, disalin ulang di belakang buku apapun yang ia temui, lalu dicari gambar atau jawabannya.

Arsa bukan penggemar games online atau penyuka youtube ulasan game seperti adiknya. Ia senang membuka-buka youtube, tetapi lebih untuk mendengar dan melihat jingle tayangan iklan produk tertentu, melihat bagaimana sebuah game seperti zuma, candy crush, dll berlangsung. Sepertinya menonton itu membuat Arsa merasa terhibur dan membuatnya lupa mencabuti rambut atau mengelupas bekas luka di kulitnya. Asal jangan wifinya mati, entah karena pemadaman listrik atau sinyal yang lemot, paniklah ia!

Bagi Arsa, seharusnya ia menjadi anak Raffi dan Nagita atau Nia Ramadhani, yang tajir melintir. Rumah mungkin harus memiliki genset, sehingga tak ada acara pemadaman listrik, tak ada acara pompa mati, gas habis maupun kuota tinggal sedikit. Sayangnya, ia terlahir di keluarga kami dengan penghasilan yang terbilang standar pekerja freelance.

Bagaimanapun perubahan bagi individu autistik seperti Arsa memang masih menjadi tantangan bagi dia untuk menerimanya. Ia rigid, kaku!

Cognitive rigidity is the inability to mentally adapt to new demands or information, and is contradicted with the cognitive flexibility to consider different perspectives and opinions, and are able to adapt with more ease to changes. (3)

Kekakuan kognitif adalah ketidakmampuan untuk secara mental beradaptasi dengan tuntutan atau informasi baru, dan bertentangan dengan fleksibilitas kognitif untuk mempertimbangkan perspektif dan pendapat yang berbeda, dan mampu beradaptasi dengan lebih mudah terhadap perubahan. (terjemahan bebas saya)

Mau tahu rigid-nya Arsa seperti apa?

Ia harus duduk di tempat yang ditentukannya sejak awal. Arsa punya kursi sendiri dengan posisi yang sudah ia tetapkan di area meja makan. Tak ada yang boleh menempati kecuali ia yang mengizinkan.

Demikian juga bila naik mobil saat bepergian. Ia memilih duduk di sisi sebelah kanan, persis di belakang supir. Tak ada yang boleh menduduki tempat tersebut, meski kamu masuk mobil dari pintu sebelah kanan.

Poni rambut saya tak boleh tergerai turun ke bawah, harus diikat atau dijepit. Bila tidak melakukannya, ia akan berisik dan terus merengek-rengek kepada saya untuk merapikan rambut tersebut.

Pemadaman listrik oleh PLN, mau sudah dijadwalkan atau tidak, tidak bisa diterima olehnya. Apalagi sekarang, pemadaman listrik akan menyebabkan WIFI mati dan ia tak bisa asik mainan ponsel lagi.

Pemahaman pemadaman lampu hanya berlaku bagi Arsa ketika kami melalui hari Nyepi di Bali. Herannya Arsa bisa luwes menerima tentang aturan tersebut pada hari itu saja.

Beberapa hal kaku lainnya terkait dengan kesukaan individu autistik dengan routine atau aturan.

Nah, istilah apalagi ini.

Life is very confusing for most autistic children, a constant change of people, environments, noises etc. can be very overwhelming. Routines and rituals help to provide order in a constantly changing environment. A routine needs to be something done regularly in the same order so it provides repetition and predictability. (4)

Bagi anak-anak autistik, melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sungguh membingungkan mereka. Mereka sulit memahami perubahan pada diri orang-orang, baik perubahan sikap, perilaku, mengapa mereka sakit, mengapa mereka pergi, mengapa mereka meninggal.

Mengapa perlu pindah rumah, mengapa suasananya berisik, mengapa sekolah libur, mengapa ada tanggal merah, dan lain sebagainya.

Rutinitas dan ritual membantu mereka menghadapi perubahan yang terjadi di sekitarnya seperti contoh di atas.

Rutinitas dan ritual akan membantu mereka menduga-duga apa yang akan terjadi.

Ketika pandemi mulai merebak, berbulan-bulan Arsa akan mengajukan pertanyaan yang sama setiap pagi.

Mengapa tidak sekolah? Bila dijawab tutup, ia akan bertanya lagi, mengapa tutup? Meski tidak dengan kalimat panjang yang lancar, Arsa mengajukan pertanyaan itu berulang kali. Terutama bila ia mendengar ada salah satu dari kita yang berkata Corona, ia akan langsung menyambung dengan perkataan, “Corona tutup, kita di rumah.” Demikian berulang kali.

Pada anak lain, Dydy adiknya Arsa misalnya, pemahaman akan respons kita menjelaskan tentang berbahayanya penyebaran virus ini membuat mereka mudah menerima bahwa sebaiknya di rumah dulu sebelum tertular.

Apakah rutinitas bisa berubah atau selalu rigid? Selama benda pendukungnya ada atau tersedia, ia akan tetap melakukan rutinitas tersebut. Namun, bila ingin ia mengubah rutinitas itu tanpa menambah konflik baru dengan kita, alternatif solusinya perlu dipikirkan betul.

Berikut beberapa contoh yang pernah kami terapkan kepada Arsa, tentang mengubah rutin tanpa menambah konflik baru.

Situasi pandemi dan durasi yang lama berdiam di rumah, menyebabkan Arsa membuat banyak rutinitas baru. Saat kami belum membeli filter air minum, rutinitas Arsa adalah minum banyak-banyak agar bisa memasak air. Tentu hal itu menyebabkan konsumsi gas menjadi berlebihan.

Solusi kami saat itu membeli filter air minum, agar rutinitas itu bisa berhenti secara bertahap. Bila kami seketika melarangnya untuk tidak minum banyak-banyak agar tidak memasak air, akan bisa memicu pertengkaran dengan Arsa.

Saat pindah rumah ke rumah yang sekarang, setiap jam lima ia rutin menyalakan lampu. Ini sih tak menjadi masalah bahkan membantu kami.

Salah satu yang menjadi masalah, Arsa mengharuskan saya menyapu sesudah ia makan malam, karena ia ingin membantu menggeser-geser kursi meja dan beberapa loker. Masalahnya waktu Arsa makan lama sekali, sehingga saya seringkali lambat untuk menyapu dan membereskan rumah padahal sudah sangat kelelahan.

Solusi saya akhirnya mengatakan padanya, ingin ‘sapu cepat’. Kata-kata sapu cepat bisa ia pahami sebagai tindakan menyapu tanpa perlu bantuannya menggeser posisi benda-benda. Belakangan, agar lantai lebih bersih saya menyiasati dengan menunggunya saat mandi sore, barulah saya menyapu. Cara terakhir ini lebih berhasil karena lantai bersih tanpa perlu Arsa berteriak-teriak sambil menggeser posisi benda-benda.

Rutinitas yang baru sekarang dan sungguh mengganggu adalah saat Arsa menemukan keasyikan menggunting plastik bekas kemasan makanan untuk dikumpulkan menjadi ecobrick.

Mungkin ia menemukan keasikan setelah lama meninggalkan dunia jahit menjahit, menggantinya dengan gunting menggunting kemasan plastik tersebut.

Durasi ia mengerjakan aktivitas ini cukup lama, guntingannya halus sekali sehingga membuat waktu tidurnya menjadi molor, bahkan pernah sampai pukul 1.30 dinihari.

Solusi awal saya dan suami adalah dengan tidak mengumpulkan plastik bekas kemasan lagi, tapi malah ia memaksa dan bila disembunyikan akan mencarinya dengan membongkar-bongkar tempat sampah. Jujur sampai saat ini saya berdua suami belum bisa menemukan solusinya.

Ya, sebagai keluarga dengan individu autistik, meski kami mensyukuri Arsa mampu berdaya, akan tetapi pekerjaan rumah untuk mencari solusi dari permasalahan-permasalahan sebagai individu autistik masih memerlukan kesabaran dan waktu.

Karena jalan keluar terbaik bukanlah menaruh harapan besar bahwa dia bisa sembuh lalu seketika menjadi normal dan cemerlang seperti individu reguler lain, akan tetapi menyiasati karakter-karakter yang menjadi spektrum autistik seperti beberapa hal yang saya bahas di atas, agar tidak menimbulkan konflik yang menghambatnya menjadi pribadi yang mandiri dan berdaya.

Saya hanya ingin Arsa bahagia.

Ivy Sudjana
Ibu dari Arsa, individu autistik dan Adyatma
Tinggal di Yogyakarta

**********
Temukan tulisan tentang Arsa sebelumnya di ivyberbagi.wordpress.com

(1) Diet pada anak penyandang autisme menggunakan teknik rotasi dan eliminasi, yaitu memberikan makanan yang tepat untuk anak. Rotasi dilakukan setiap 4-7 hari di mana makanan yang diberikan hari ini khusus hari itu saja, tidak diberikan pada hari lain, dan tidak lebih dari satu jenis per hari. (https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/o5aozd328)

(2) https://www.google.com/amp/s/www.popmama.com/amp/kid/1-3-years-old/jemima/kenali-emosi-anak-apa-perbedaan-tantrum-dan-meltdown

(3) https://www.nurturepods.com/cognitive-rigidity-in-autism

(4) https://www.psychologytoday.com/us/blog/making-sense-autistic-spectrum-disorders/201608/cognitive-rigidity-the-8-ball-hell

(5) https://www.theautismpage.com/routines/