yukberbagi!


Fun Flash Fiction 2020 – Nulis Aja Dulu

NAD_FFF20_Lanjutan

Hari_11

Tema_BunuhSajaAku!

Judul : ‘Membunuh’ Ibu
Jumlah kata : jelas lebih dari 100

[Apa….Negatif lagi…kurang apa coba treatment yang kau jalani??]
Suara Ibu yang pertama terdengar saat speaker handphone kunyalakan.
Aku terdiam.
Kebiasaan Ibu, hanya memahami hasil bukan proses. Tak tahu ia..betapa lelahnya aku menjalani segala terapi, demi mendapatkan buah hati.
[Nanti kau bisa diceraikan, Tya. Keluarga Hasto itu berharap keturunan untuk putra sulung mereka. Malu Ibu, punya anak kok mandul!!!]
Hasto menggelengkan kepala sambil berucap, tanpa suara. “Tidak akan!” Lalu ia memelukku yang sudah banjir air mata, penuh kasih sayang.
Speaker itu lalu menyuarakan Ibu, tanpa ada yang mendengarkan.

Itu setahun lalu. Setiap bulan setelahnya, ceramah Ibu tentang urgensi memiliki buah hati terus membombardir hari-hariku. Menyilet, menusuk, menohok semua kewarasanku sebagai anaknya.
Hasto paham betul kondisiku dan mengajukan sebuah rencana ‘gila’ yang melebihi keinginanku menghilangkan nyawa Ibu.
Katanya meyakinkan, “Ibumu memang toxic person, Tya. Tapi membunuh orang tua membuatmu berdosa berkali-kali lipat.”

Sampai akhirnya hari ini. Koper kami telah siap, untuk migrasi ke luar negeri. Bila tak mungkin Ibu yang kami buat pergi, aku dan Hasto yang memilih pergi.

======
Di pintu keberangkatan bandara, usai berpamitan.
Sepucuk surat bertuliskan tes DNA kuacungkan di hadapannya. Di sampingku, Hasto memeluk bahuku…erat.
“Ini buktinya Pak. Bukan hasil Hasto, anakmu; yang azoospermia kronis! Tapi kami akan merawatnya, sebagai anak kami sendiri. Baik-baik di Indonesia ya, Pak.”
Beliau melirik bayi di gendonganku, dengan mata berkaca-kaca.

Aku dan Hasto yakin, bila Ibu tahu hal ini;
Beliau akan teramat menyesal. Dulu tidak berhasil mengakhiri hidupku, dengan jamu penggugur kandungan; jauh sebelum lahir di dunia.

NAD_FFF20_H10

Tema_PenggerakKebaikan

Judul : Kemeja hitam putih
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Sejak pagi, aku dan Vivi bersemangat menyortir tumpukan baju para donatur.
Bangga kami, sebagai remaja bisa ikut berbuat kebaikan kayak gini.
“Itu ada dariku juga!” Aku menunjuk dus bekas air mineral. Vivi melirik sekilas.

Waktu berlalu.
Tibalah acara penyerahan bantuan untuk korban banjir bandang yang digalang sekolah kami.
Bu Wardah sebagai pembina OSIS telah mengingatkan dress code hitam putih untuk panitia.

Jelang acara berlangsung, Vivi belum muncul juga. Padahal ia pemegang kunci gudang.
Bu Wardah gelisah, menatapku bergantian dengan pintu masuk.

Menit-menit sebelum penyerahan simbolis, tampak Vivi membawa satu dus berpita.
Kemejanya hitam putih, yang sebelumnya ada dalam kardus donasiku.

NAD_FFF20_H9

Tema_CantikmuSiapHadapiDunia

Judul : Kecantikan Juliet
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Sejak kenal dulu, Juliet cantik dan pintar merawat tubuh.
Ia selalu fresh, glowing; dengan pakaian chic dan smart di tiap acara.

Bagaimana ia menata isi koper untuk bepergian ya?
“Eh..kok kepalamu pake kresek kayak mau ke pasar. Tunggu ada payung dong!”
“Cuma bawa jaket satu? Kayak aku nih.. tiap foto beda.”
“Ya ampun kulit dan bibirmu kelupasan‚ĶSini pake skincareku!”
Aku membisu. Aku tahu, sebenarnya ia perhatian.

Tapi apa aku ingin secantik Juliet?
Kami seusia. Jabatan pun setara di NGO ini.
Cuma aku kalah cantik.
Hanya saja.. aku ditunggu suami dan anak-anak di rumah; sementara ia baru diperkarakan anak suami ketiganya.

NAD_FFF20_H8

Tema_Kebohongan

Judul : Tiga bulan
Jumlah kata : 99 (isi saja)

Wajah Bapak pucat.
Dilihatnya lagi lembaran kartu keluarga di genggaman. Maria Antionette, lahir 28 Mei 2003. Harusnya, aku — Maria lahir 28 Februari. Namun data itu dimanipulasi, demi restu pernikahan Bapak dan Ibu.

Jadi, aku sudah di perut Ibu 3 bulan saat Bapak bilang ke Eyang Tirto mau bertanggung jawab. Makanya, dengan selipan uang di bawah map, tanggal lahirku diubah di kelurahan.

Dan sekarang,
“Hanya yang sudah 17 tahun sebelum HUT perusahaan — 1 Maret, yang dapat tunjangan. Mensyukuri panjang umur perusahaan dan keinginan menunjang pendidikan lanjutan anak pegawai. Lumayan lho‚Ķ 1,7 juta tunjangannya!!”

Bapak menatapku… yang duduk di sebelahnya, penuh penyesalan.

NAD_FFF20_H7 (yeayyy..masuk 10 besar hari ke 7 yg ini)

Tema_Putus

Judul : Kisah putus
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bak selebriti di sekolah, dari aktivis OSIS sampai yang pemalu tahu bila Pak Beno dan Bu Niki sedang bermasalah. Ramah ke siswa berarti baik-baik saja. Tapi kalau ketus, pasti bertengkar di rumah.

Gosipnya, Bu Niki tak tahan kelakuan genit Pak Beno. Berulang kali pergelangan tangannya dibalut, uji coba bunuh diri.
“Kok ga minum obat tidur aja‚Ķlebih ga sakit!!!”
“Ah..gantung diri aja, biar gentayangan!”
“Pssstttt‚Ķ.dosa ah‚Ķngomongin niat mati gitu.”
Kelas menjadi ramai.

Aku…seperti biasa diam saja.
Mereka tak tahu, mobil kedua orang yang mereka bicarakan itu kuputus tali remnya tadi pagi.
Muak aku!!! Keduanya sukses memaksaku aborsi, bayiku dengan Pak Beno.

NAD_FFF20_H6

Tema_Mentok

Judul : Video terakhir
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Suara Pak Bardi menggelegar.
“Ayo jawab!!!! Apa lagi yang kau share, selain video perundungan itu?”
“Udah ga ada, Pak! Suwerrrr‚Ķ”
“Bohong kamu! Kalau ga ada, kenapa semua heboh?”

Aku terus menggeleng.
Gigi Pak Bardi bergemeretuk, menahan marah untuk tidak memukul; yang beresiko dilaporkan ke KPAI.

Pak Bardi membujukku. “Coba cek lagi, Loka. Kalau jujur, diskors 3 hari. Kalau ga, kamu dirumahkan 1 semester.”

Aku jengkel. Toh anak lain berlaku sama, tapi mereka tidak diproses.
Sambil klak klik, kutoleh Pak Bardi.
“Itu yang terakhir, Pak.”
Dia segera melihat gawainya. Mukanya pucat pasi melihat rekaman dirinya bernafsu memeluk cium Dyah, ketua kelasku.

NAD_FFF20_H5

Tema_Mancakrida

Judul : Ada yang ngikut
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bapak dan Ibu tak pernah membolehkan kami anak-anaknya mancakrida. Alasannya bukan soal kesehatan, keamanan atau apa.
Sebagai kesayangan Bapak, aku merayunya.
“Pak, nanti dendanya bersih-bersih sekolah selama seminggu nih.”
Bapak tersenyum sinis, “Oh..itu lebih berguna!”
“Tapi kan awal masuk sudah bayar. Sayang uangnya!”
“Bapak ga peduli. Uang segitu ga masalah!”
Aku makin kesal.
“Emang mancakrida seburuk apa?”
Bapak menghela nafas, suara Ibu tiba-tiba menyeruak.
“Itu karena Bapak takut. Dulu‚Ķtiap kali mancakrida sama kantor, selalu ada yang ‘ngikut’ pulang lalu Bapak sakit.”
“Eh..siapa? Selingkuhan Bapak?”
“Pssst‚Ķini tak kasat mata! Katanya‚Ķkeluarga kita disukai ‘mereka’ di hutan dan gunung sana!!”
Aku bergidik. Ngeri.

NAD_FFF20_H4

Tema_Sosis

Judul : Sosis bakar
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Pasar malam dibuka lagi, setelah insiden kebakaran tahun lalu.
Seperti pengunjung lain, euforia menikmati keseruan bercampur cemas kalau-kalau bertemu sosok gentayangan korban insiden.

Hari makin larut, kakiku dan Anto teramat penat. Tapi rasa lapar tak tertahan.
“Na, nyari jajanan yuk? Laper nih!” Aku mengiyakan.
Segera kami ke area makanan.
“Bu, sosis bakarnya dua.” Ucapanku terhenti dengan colekan Anto dan arah kepalanya ke pengemis anak, entah dari mana. Baju lengan panjang dan rambutnya abu gelam kehitaman.
“Oh‚Ķjadi tiga, Bu.”
Si anak kini mencolekku. Dia menggeleng dan menggulung lengan panjangnya. Tampak luka bakar merah dan meleleh; seperti sosis yang dibakar si ibu.

NAD_FFF20_H3

Tema_Serdawa

Judul : Bapak pulang
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bapak positif. Berkali-kali mengirim pesan, ingin pulang dan dirawat di rumah. Sampai di gawaiku pesan berlipat ganda. Tentu dari Ibu.
[Pulang dik, Bapak ingin kamu di rumah saat Beliau pulang]

Sayang, pesawatku baru ada kemarin.
Bersamaan selesainya pemakaman Bapak.

Kini rumah kosong. Seluruh keluarga sibuk mengurus ini itu. Aku dibiarkan beristirahat. Hatiku kacau, mataku sembab, tapi kantuk efek jetlag tak tertahan lagi.

Kursi makan berderit, keran wastafel mengalir. Aku seperti daydreaming. Siapa yang pulang?
Lalu, ada denting sendok piring di meja makan. Apa ini? Aku terlalu cemas membuka mata.
Tiba-tiba, eeegghhh…enaknya!
Tuhan…itu serdawa Bapak!
Ia memberitahu, sudah pulang ke rumah.

NAD_FFF20_H2

Tema_Botol

Judul : Tujuh botol
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Dretttt…
Telepon genggamku berbunyi lagi.
[Ya..baru landing. Udah di Uber]
Setengah jam kemudian, gedung bertuliskan Rumah Duka Cahya Abadi di hadapan.

Hawa panas menyambut, bersama Mela dengan mata sembabnya.
“Ayo Koh, tinggal kamu. Semua menunggu.”

Langkahku terhenti depan peti. Mama menatapku dengan ekspresi tak terbaca.
Mela menyodorkan botol 4711 untuk dipercikkan dalam peti. Aku menggelengkan kepala dan mengangkat sekresek plastik.
Kupercikkan satu persatu 4711 yang kubawa.

“Gou le..gou le. Bu yung zai dao le*‚Ķhik..hik.”
Suara mama menghentikanku.
Tepat di botol ketujuh; sama seperti jumlah botol arak yang dihantamkan almarhum Papa ke kepala dan badanku, saat kutampar usai memaki Mama ‘Lonte’.

=====
terjemahan dari ibu saya.
*Cukup…cukup. Tak perlu dituang lagi

NAD_FFF20_H1

Tema_Pantai

Judul : Bapak, kondom dan aku
Jumlah kata : 98 (hanya isi)

“Anak-anak, coba jelaskan apa saja yang kita bisa temukan di pantai?”
“Pasir, Bu.”
“Ombak.”
“Air laut.”
“Kerang.”
“Renang, Bu.”
“Bikini.”
Semua anak tergelak.
Kelas menjadi riuh. Bu Guru mengetuk penggaris untuk mendiamkan.
Hanya aku yang belum memberi jawaban.
“Tita, kok diam saja?” tanya Bu Guru.
Semua anak menatapku.

“Bapak dan kondom, Bu.”
Beberapa anak spontan tergelak lalu senyap.
“Maksudmu apa?” Bu Guru berusaha biasa saja.

Aku menatap papan tulis. Suaraku lantang saat berucap, “Ibu ketemu Bapak yang lagi surfing di pantai, tempat jualan lumpia. Lalu mereka peluk cium gitu, tapi kondom yang dipakai Bapak bocor, dan jadilah aku.”



Tentang Arsa, Autistikku Yang ‘Cemerlang’ – neswa.id

https://neswa.id/artikel/tentang-arsa-autistikku-yang-cemerlang/



Determined ato kepala batu kah saya? 
26/08/2016, 4:12 pm08
Filed under: catatan saya, ngalamin sendiri | Tags: , , ,

Saya suka dibilang orang yang keras kepala. Suka susah patuh atau mengiyakan sebelum berargumentasi dulu. Tapi saya pikir..mungkin itu modal saya berani merantau ke mana-mana. Dan juga modal saya untuk tough hadapi keseharian bersama Arsa..putra sulung saya yang autistik, yang juga keras kepala..ga kalah sama saya. ūüėČ

Tapi… sikap saya itu keras kepala apa teguh hati ya. Penasaran saya browsing. Dapetnya sih pertama gambar ini. 

Uhuk..langsung tertohok sih. Seberapa sering saya teguh pada pilihan saya tanpa ‘ngeyel’ dan bisa terbuka pada pendapat orang lain yang berbeda. 

Kalo lihat dari bahasannya Kris Smyth ttg berteguh hati atau determination.

Your path to success is always based on the determination that you have engrained within yourself. 

Determination aligns your energy and attention towards your focus.

Determination is not whether you‚Äôre a good or bad person, it‚Äôs about what you‚Äôre willing to do to achieve your end goal. 

Nah…sebenarnya bagus toh berteguh hati. Tapi terlalu berkhayal ahh.. kalau sikap saya sudah sepenuhnya mencerminkan sikap itu. 

Saya browsing lebih lanjut. 

Dan ternyata bahasan berikut dari Srinivasan Pillay CEO of NeuroBusiness Group dan award-winning author, bagus banget. 

Jadi beliau mengelompokkan determination ini dalam beberapa kelompok. 

  1. Uphill determination digambarinnya kayak seorg single mom yg mau tidak mau membagi dirinya utk karir dan pekerjaan rumah tangga. Atau seseorang yg udah cape banget tapi mau tidak mau harus menyelesaikan pekerjaan sehari2nya. Jadi keinginannya n niatnya sangat terfokus padahal hambatannya banyak banget. Keteguhan hati model gini bagus kalo lagi kehilangan inspirasi ato lagi perlu mengatasi hambatan yg tahu2nya muncul. Tapi…kata si penulis, jadikan sebagai generator saja..saat semangat kita mulai padam.
  2. Downhill determination digambarkan seperti orang yang baru mulai bisnis tapi mengambil peluang-peluang dengan resiko yang paling kecil atau jalan yang paling mudah. Akhirnya apapun yang dicapai tak pernah sesuai dengan apa yang menjadi targetnya. Ini orang yang berteguh hati untuk menghindari hal-hal beresiko…he2
  3. Coasting determination digambarkan seperti org yg menunda kesuksesan2 kecil..untuk mendapatkan prestasi yang lebih besar. Atau orang yang melakukan disiplin diri..lebih untuk menginspirasi org banyak daripada cuma dibilang pekerja keras. Jadi berteguh hati tercermin dalam sikap perilaku keseharian orang tersebut.

Katanya sih… setiap diri kita pasti akan ‘bermain2’ dengan ketiga keteguhan hati yang disebutkan itu meski poin yang ketiga yang terbaik jadi dasar sikap perilaku kita.

Nah..itu kan teorinya. Kalo saya sih kebanyakan yang pertama. Tiap hari sok tough aja…sambil merapal mantra “semua bisa beres…semua bisa dikerjakan”. Tapi kenyataannya, ga sesuai rencana..ngomel. Ada yang ganggu..bertengkar. 

Jadi..boro2 menginspirasi orang lain… (atau jangan2 ada yang sudah terinspirasi sama saya? )  ..inget omongan seorang kawan..”wuih..semuanya ibu kerjakan sendiri. Dampingin Arsa yg autistik..ada Dy yg masih balita..jadi istri dengan kerjaan domestik yg ga kelar2..masih nyuri2 waktu berbisnis online lagi… ibu tuh beneran super mom” 

Saat saya tersanjung..sebenarnya saya lagi draining..kyk uphill determination itu. Saat cuping hidung mengembang..sebenarnya mulut mau muntahin kata2 dan bilang…sebenarnya saya cape tauk. Mau Me time bisa feel guilty mulu… akhirnya ujung2nya kekeraskepalaan saya yang muncul. 

Mo komenin gw..siap2 senggol bacok. Ibarat kata tuh kayak gitu…kata org Betawi. 

Bener..ya kagak. 

Ga bener..ya itu pilihan saya saat itu. Walo saya ga pernah mo milih dilabelin super mom. 

Finally..kuncinya cuma satu. Saya ngejalaninnya gimana. Terlepas dari segala teori berteguh hati tadi ya. Saya pernah berkata dalam hati. Saya ga perlu jadi orang terkenal..tapi saya ingin apa yang saya lakukan..menginspirasi..mendorong..memberi semangat orang lain..untuk melakukan hal yang sama atau lebih dari saya malah. 

Tapi kira2 kalo saya cuma berkutat di keras kepala.. kira2 cita2 saya itu bisa kesampaian ga ya? 

*ngomong sama cermin* 

Sumber tulisan : 

How to Be Determined in 10 Ways

 http://m.huffpost.com/us/entry/552632



Miss Klakson dan Santun Berkendara
18/03/2010, 4:12 pm03
Filed under: ngalamin sendiri | Tags: , , , , , ,

Saya kapok belajar motor. Bekas luka bakar didekat mata kaki telah mengurangi keseksian kaki saya. Namun, tinggal di Bali di mana angkot hanya beroperasi di area terbatas, ketidakmampuan berkendara Honda (sebutan untuk motor di Bali) kemudian menjadi hambatan terbesar untuk beraktivitas.

Tumbuh dan besar di Jakarta dengan segala jenis dan bentuk kendaraan umum, menjadikan saya gagap mengemudikan motor. (mungkin juga berlaku untuk semua perempuan yang tumbuh di kota besar). Lebih PD naik bajaj atau berdesakan di metromini atau bis daripada menyalip semua itu dengan motor. Nah begitu pindah ke Bali…nggak bisa naik motor sama dengan nggak bisa ke mana-mana.

Untung saya bisa menyetir. Biar musti belajar lancar (istilah untuk kursus dan tambahan latihan sendiri)…toh akhirnya kemana-mana saya ditemani si Hitam aka mobil saya. Biar belum semahir sopir angkot atau bis malam, yah minimal si kecil dan omanya merasa aman kalo disupirin saya…..:-)

Tapi….jalanan Bali sudah kayak rimba. Tempat belantara anak ingusan belajar Honda, sampai ibu-ibu yang akrobatik bawa dagangan sekalian anak-anaknya. Pfuhhhh…kalau nggak lihai menyalip, pintar nge-rem dan yang paling utama…pintar menahan emosi, UGD sudah menanti. Makanya…klakson tiba-tiba jadi jimat segala bencana….

Ada ibu menganan-nganan (maksudnya naik motor senengnya di posisi sebelah kanan)…klakson
Ada cewek sibuk handphonan sambil naik motor….klakson
Ada anak-anak naik sepeda ke kiri dan ke kanan asik lenggang lenggok….klakson
Ada ibu keluar gang, nyelonong saja….klakson baca selanjutnya



Oase di tengah pasar
30/01/2010, 4:12 am01
Filed under: turun langsung | Tags: , , , ,

Terselip di antara kios dan lapak pasar, keberadaan klinik di Pasar Badung bukan tanpa makna.

Pasar Badung, 14.30 WITA

Parkir tak terlalu penuh. Beberapa tukang suun tampak beristirahat hingga sumringah berharap saya belanja. Pedagang bunga, canang, sayur dan daging saling mencari posisi yang pas. Mungkin Feng Shui berlaku di sini.

Saat melangkah menaiki tangga, tampak sign board yang disponsori salah satu bank menunjukkan apa yang saya cari. KLINIK. Lantai 4.

Klinik

Wajah saya baru muncul di pintu waktu disambut beberapa wajah berbinar. ‚ÄúMau berobat?‚ÄĚtanya salah satunya. Saya menggeleng sambil menjelaskan maksud kedatangan. Bertemu Dr Upadisari, yang mengorganisir klinik ini. Tanpa menunggu lama, seraut wajah keibuan yang tak asing muncul. Rasa senang yang tak bisa disembunyikan menyeruak di antara kami. Ya‚Ķbagaimana tidak, hampir 2 tahun tak bertemu. baca selengkapnya