yukberbagi!


Tulisan pertama di Rahma.id

https://instagram.com/stories/ivy_sudjana/2501571209291780187?utm_source=ig_story_item_share&igshid=17rsfyq1w2o52



Fun Flash Fiction 2020 – Nulis Aja Dulu

NAD_FFF20_Lanjutan

Hari_11

Tema_BunuhSajaAku!

Judul : ‘Membunuh’ Ibu
Jumlah kata : jelas lebih dari 100

[Apa….Negatif lagi…kurang apa coba treatment yang kau jalani??]
Suara Ibu yang pertama terdengar saat speaker handphone kunyalakan.
Aku terdiam.
Kebiasaan Ibu, hanya memahami hasil bukan proses. Tak tahu ia..betapa lelahnya aku menjalani segala terapi, demi mendapatkan buah hati.
[Nanti kau bisa diceraikan, Tya. Keluarga Hasto itu berharap keturunan untuk putra sulung mereka. Malu Ibu, punya anak kok mandul!!!]
Hasto menggelengkan kepala sambil berucap, tanpa suara. “Tidak akan!” Lalu ia memelukku yang sudah banjir air mata, penuh kasih sayang.
Speaker itu lalu menyuarakan Ibu, tanpa ada yang mendengarkan.

Itu setahun lalu. Setiap bulan setelahnya, ceramah Ibu tentang urgensi memiliki buah hati terus membombardir hari-hariku. Menyilet, menusuk, menohok semua kewarasanku sebagai anaknya.
Hasto paham betul kondisiku dan mengajukan sebuah rencana ‘gila’ yang melebihi keinginanku menghilangkan nyawa Ibu.
Katanya meyakinkan, “Ibumu memang toxic person, Tya. Tapi membunuh orang tua membuatmu berdosa berkali-kali lipat.”

Sampai akhirnya hari ini. Koper kami telah siap, untuk migrasi ke luar negeri. Bila tak mungkin Ibu yang kami buat pergi, aku dan Hasto yang memilih pergi.

======
Di pintu keberangkatan bandara, usai berpamitan.
Sepucuk surat bertuliskan tes DNA kuacungkan di hadapannya. Di sampingku, Hasto memeluk bahuku…erat.
“Ini buktinya Pak. Bukan hasil Hasto, anakmu; yang azoospermia kronis! Tapi kami akan merawatnya, sebagai anak kami sendiri. Baik-baik di Indonesia ya, Pak.”
Beliau melirik bayi di gendonganku, dengan mata berkaca-kaca.

Aku dan Hasto yakin, bila Ibu tahu hal ini;
Beliau akan teramat menyesal. Dulu tidak berhasil mengakhiri hidupku, dengan jamu penggugur kandungan; jauh sebelum lahir di dunia.

NAD_FFF20_H10

Tema_PenggerakKebaikan

Judul : Kemeja hitam putih
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Sejak pagi, aku dan Vivi bersemangat menyortir tumpukan baju para donatur.
Bangga kami, sebagai remaja bisa ikut berbuat kebaikan kayak gini.
“Itu ada dariku juga!” Aku menunjuk dus bekas air mineral. Vivi melirik sekilas.

Waktu berlalu.
Tibalah acara penyerahan bantuan untuk korban banjir bandang yang digalang sekolah kami.
Bu Wardah sebagai pembina OSIS telah mengingatkan dress code hitam putih untuk panitia.

Jelang acara berlangsung, Vivi belum muncul juga. Padahal ia pemegang kunci gudang.
Bu Wardah gelisah, menatapku bergantian dengan pintu masuk.

Menit-menit sebelum penyerahan simbolis, tampak Vivi membawa satu dus berpita.
Kemejanya hitam putih, yang sebelumnya ada dalam kardus donasiku.

NAD_FFF20_H9

Tema_CantikmuSiapHadapiDunia

Judul : Kecantikan Juliet
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Sejak kenal dulu, Juliet cantik dan pintar merawat tubuh.
Ia selalu fresh, glowing; dengan pakaian chic dan smart di tiap acara.

Bagaimana ia menata isi koper untuk bepergian ya?
“Eh..kok kepalamu pake kresek kayak mau ke pasar. Tunggu ada payung dong!”
“Cuma bawa jaket satu? Kayak aku nih.. tiap foto beda.”
“Ya ampun kulit dan bibirmu kelupasan‚ĶSini pake skincareku!”
Aku membisu. Aku tahu, sebenarnya ia perhatian.

Tapi apa aku ingin secantik Juliet?
Kami seusia. Jabatan pun setara di NGO ini.
Cuma aku kalah cantik.
Hanya saja.. aku ditunggu suami dan anak-anak di rumah; sementara ia baru diperkarakan anak suami ketiganya.

NAD_FFF20_H8

Tema_Kebohongan

Judul : Tiga bulan
Jumlah kata : 99 (isi saja)

Wajah Bapak pucat.
Dilihatnya lagi lembaran kartu keluarga di genggaman. Maria Antionette, lahir 28 Mei 2003. Harusnya, aku — Maria lahir 28 Februari. Namun data itu dimanipulasi, demi restu pernikahan Bapak dan Ibu.

Jadi, aku sudah di perut Ibu 3 bulan saat Bapak bilang ke Eyang Tirto mau bertanggung jawab. Makanya, dengan selipan uang di bawah map, tanggal lahirku diubah di kelurahan.

Dan sekarang,
“Hanya yang sudah 17 tahun sebelum HUT perusahaan — 1 Maret, yang dapat tunjangan. Mensyukuri panjang umur perusahaan dan keinginan menunjang pendidikan lanjutan anak pegawai. Lumayan lho‚Ķ 1,7 juta tunjangannya!!”

Bapak menatapku… yang duduk di sebelahnya, penuh penyesalan.

NAD_FFF20_H7 (yeayyy..masuk 10 besar hari ke 7 yg ini)

Tema_Putus

Judul : Kisah putus
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bak selebriti di sekolah, dari aktivis OSIS sampai yang pemalu tahu bila Pak Beno dan Bu Niki sedang bermasalah. Ramah ke siswa berarti baik-baik saja. Tapi kalau ketus, pasti bertengkar di rumah.

Gosipnya, Bu Niki tak tahan kelakuan genit Pak Beno. Berulang kali pergelangan tangannya dibalut, uji coba bunuh diri.
“Kok ga minum obat tidur aja‚Ķlebih ga sakit!!!”
“Ah..gantung diri aja, biar gentayangan!”
“Pssstttt‚Ķ.dosa ah‚Ķngomongin niat mati gitu.”
Kelas menjadi ramai.

Aku…seperti biasa diam saja.
Mereka tak tahu, mobil kedua orang yang mereka bicarakan itu kuputus tali remnya tadi pagi.
Muak aku!!! Keduanya sukses memaksaku aborsi, bayiku dengan Pak Beno.

NAD_FFF20_H6

Tema_Mentok

Judul : Video terakhir
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Suara Pak Bardi menggelegar.
“Ayo jawab!!!! Apa lagi yang kau share, selain video perundungan itu?”
“Udah ga ada, Pak! Suwerrrr‚Ķ”
“Bohong kamu! Kalau ga ada, kenapa semua heboh?”

Aku terus menggeleng.
Gigi Pak Bardi bergemeretuk, menahan marah untuk tidak memukul; yang beresiko dilaporkan ke KPAI.

Pak Bardi membujukku. “Coba cek lagi, Loka. Kalau jujur, diskors 3 hari. Kalau ga, kamu dirumahkan 1 semester.”

Aku jengkel. Toh anak lain berlaku sama, tapi mereka tidak diproses.
Sambil klak klik, kutoleh Pak Bardi.
“Itu yang terakhir, Pak.”
Dia segera melihat gawainya. Mukanya pucat pasi melihat rekaman dirinya bernafsu memeluk cium Dyah, ketua kelasku.

NAD_FFF20_H5

Tema_Mancakrida

Judul : Ada yang ngikut
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bapak dan Ibu tak pernah membolehkan kami anak-anaknya mancakrida. Alasannya bukan soal kesehatan, keamanan atau apa.
Sebagai kesayangan Bapak, aku merayunya.
“Pak, nanti dendanya bersih-bersih sekolah selama seminggu nih.”
Bapak tersenyum sinis, “Oh..itu lebih berguna!”
“Tapi kan awal masuk sudah bayar. Sayang uangnya!”
“Bapak ga peduli. Uang segitu ga masalah!”
Aku makin kesal.
“Emang mancakrida seburuk apa?”
Bapak menghela nafas, suara Ibu tiba-tiba menyeruak.
“Itu karena Bapak takut. Dulu‚Ķtiap kali mancakrida sama kantor, selalu ada yang ‘ngikut’ pulang lalu Bapak sakit.”
“Eh..siapa? Selingkuhan Bapak?”
“Pssst‚Ķini tak kasat mata! Katanya‚Ķkeluarga kita disukai ‘mereka’ di hutan dan gunung sana!!”
Aku bergidik. Ngeri.

NAD_FFF20_H4

Tema_Sosis

Judul : Sosis bakar
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Pasar malam dibuka lagi, setelah insiden kebakaran tahun lalu.
Seperti pengunjung lain, euforia menikmati keseruan bercampur cemas kalau-kalau bertemu sosok gentayangan korban insiden.

Hari makin larut, kakiku dan Anto teramat penat. Tapi rasa lapar tak tertahan.
“Na, nyari jajanan yuk? Laper nih!” Aku mengiyakan.
Segera kami ke area makanan.
“Bu, sosis bakarnya dua.” Ucapanku terhenti dengan colekan Anto dan arah kepalanya ke pengemis anak, entah dari mana. Baju lengan panjang dan rambutnya abu gelam kehitaman.
“Oh‚Ķjadi tiga, Bu.”
Si anak kini mencolekku. Dia menggeleng dan menggulung lengan panjangnya. Tampak luka bakar merah dan meleleh; seperti sosis yang dibakar si ibu.

NAD_FFF20_H3

Tema_Serdawa

Judul : Bapak pulang
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bapak positif. Berkali-kali mengirim pesan, ingin pulang dan dirawat di rumah. Sampai di gawaiku pesan berlipat ganda. Tentu dari Ibu.
[Pulang dik, Bapak ingin kamu di rumah saat Beliau pulang]

Sayang, pesawatku baru ada kemarin.
Bersamaan selesainya pemakaman Bapak.

Kini rumah kosong. Seluruh keluarga sibuk mengurus ini itu. Aku dibiarkan beristirahat. Hatiku kacau, mataku sembab, tapi kantuk efek jetlag tak tertahan lagi.

Kursi makan berderit, keran wastafel mengalir. Aku seperti daydreaming. Siapa yang pulang?
Lalu, ada denting sendok piring di meja makan. Apa ini? Aku terlalu cemas membuka mata.
Tiba-tiba, eeegghhh…enaknya!
Tuhan…itu serdawa Bapak!
Ia memberitahu, sudah pulang ke rumah.

NAD_FFF20_H2

Tema_Botol

Judul : Tujuh botol
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Dretttt…
Telepon genggamku berbunyi lagi.
[Ya..baru landing. Udah di Uber]
Setengah jam kemudian, gedung bertuliskan Rumah Duka Cahya Abadi di hadapan.

Hawa panas menyambut, bersama Mela dengan mata sembabnya.
“Ayo Koh, tinggal kamu. Semua menunggu.”

Langkahku terhenti depan peti. Mama menatapku dengan ekspresi tak terbaca.
Mela menyodorkan botol 4711 untuk dipercikkan dalam peti. Aku menggelengkan kepala dan mengangkat sekresek plastik.
Kupercikkan satu persatu 4711 yang kubawa.

“Gou le..gou le. Bu yung zai dao le*‚Ķhik..hik.”
Suara mama menghentikanku.
Tepat di botol ketujuh; sama seperti jumlah botol arak yang dihantamkan almarhum Papa ke kepala dan badanku, saat kutampar usai memaki Mama ‘Lonte’.

=====
terjemahan dari ibu saya.
*Cukup…cukup. Tak perlu dituang lagi

NAD_FFF20_H1

Tema_Pantai

Judul : Bapak, kondom dan aku
Jumlah kata : 98 (hanya isi)

“Anak-anak, coba jelaskan apa saja yang kita bisa temukan di pantai?”
“Pasir, Bu.”
“Ombak.”
“Air laut.”
“Kerang.”
“Renang, Bu.”
“Bikini.”
Semua anak tergelak.
Kelas menjadi riuh. Bu Guru mengetuk penggaris untuk mendiamkan.
Hanya aku yang belum memberi jawaban.
“Tita, kok diam saja?” tanya Bu Guru.
Semua anak menatapku.

“Bapak dan kondom, Bu.”
Beberapa anak spontan tergelak lalu senyap.
“Maksudmu apa?” Bu Guru berusaha biasa saja.

Aku menatap papan tulis. Suaraku lantang saat berucap, “Ibu ketemu Bapak yang lagi surfing di pantai, tempat jualan lumpia. Lalu mereka peluk cium gitu, tapi kondom yang dipakai Bapak bocor, dan jadilah aku.”



Tentang Arsa, Autistikku Yang ‘Cemerlang’ – neswa.id

https://neswa.id/artikel/tentang-arsa-autistikku-yang-cemerlang/



Anak-anak semesta

#toleransi

Kejadian ini setahun lalu. Sebenarnya saya ragu-ragu untuk menceritakannya. Karena persepsi orang mungkin saja tak sepakat dengan saya dan suami; tentang hubungan manusia dan Tuhannya.
Tapi…bagi saya sendiri, tiap mengingat cerita itu; hati saya menghangat.

Saat itu kelas TK anak saya yang bungsu sedang mengadakan kemping akhir tahun. Salah satu mata acaranya adalah mancakrida. Si bungsu, sebut saja namanya Dyat sudah bersemangat sejak awal.

Sementara anak-anak lain, ada yang menangis atau teriak-teriak, karena takut ketinggian, atau takut karena tidak didampingi orang tua saat bergelayut di tali temali itu. Dyat tidak demikian. Dengan penuh semangat, ia melalui satu persatu rintangan, hingga terakhir di flying fox. Flying fox pertama berjarak dekat, dan ia berani meluncur sendiri, sementara beberapa temannya memilih tandem untuk berbagi kecemasan.

Usai flying fox berjarak dekat itu, Dyat seperti juga beberapa teman yang berani, ditawarkan tantangan meluncur di jarak yang lebih jauh. Awalnya Dyat ragu-ragu, apalagi berat badannya tidak memenuhi persyaratan; kecuali tandem dengan salah satu temannya.

Melihat Dyat ingin sekali mencoba, saya spontan berkeliling mencari temannya; yang mungkin mau tandem dengannya. Akhirnya ada Alva, yang meski usianya lebih muda tapi berbadan lebih besar dari Dyat. Mereka pun sepakat untuk tandem.

Sebelum mendapat giliran, usai dipasang tali melintang di badan tampak mereka berbelok ke arah aula. Oh, mungkin ke toilet dulu, pikir saya. Saya berusaha menjaga jarak, agar Dyat tak terpengaruh kehadiran saya.

Ternyata, mereka tidak ke toilet, melainkan menuju mushola. Dengan rasa ingin tahu, saya mengendap-endap lalu mengintip dari belakang pintu. Rupanya mereka sedang mengobrol.
“Sebelum meluncur, kita doa dulu ya Dyat. Biar ga takut!” Suara Alva yang terdengar pertama kali.
“Ok, mari kita berdoa. Tapi bagaimana?” ujar Dyat pelan.
“Begini, karena kamu lebih tua‚Ķkamu yang mimpin di depan.” Alva mendorong Dyat agar maju ke depan.
“Ya‚Ķtapi aku ga tau caranya. Aku sembahyang ga gini.” Dyat tampak bingung, tapi tetap maju ke bagian depan.
“Nanti kucontohin‚Ķya..ya..” Alva meyakinkan Dyat.
Di balik pintu, saya menahan nafas, agar tak berkomentar dan lalu mengganggu mereka.

Tampak Alva bersimpuh sholat, Dyat menoleh ke belakang lalu menirukannya.
Saat Alva memulai doa, Dyat berusaha mencontoh walau tak sama persis.
Begitu pun saat Alva bangun, berlutut, bersimpuh, maupun menangkupkan tangan ke wajah, Dyat mengikuti dengan badan setengah menoleh ke belakang.
Yang lalu jelas terdengar adalah ketika mereka berseru, “Aminnnnn‚Ķ.”
Alva dan Dyat pun bersalaman dan berpelukan.
Sambil berjalan keluar, keduanya berujar bersama, “Kita ga takut lagi ya‚Ķ” dengan kepala terangguk-angguk, saling setuju.

Saya cepat-cepat sembunyi agar tak ketahuan mengintip sejak tadi. Ada rasa yang tak bisa tergambarkan. Saya hanya bersyukur untuk tidak bereaksi berlebihan melihat kejadian itu; dengan berprasangka Dyat mau diajak pindah agama misalnya. Tentu momen berdoa bersama mereka akan hilang.

Justru saya merasa hati saya menghangat.
Dyat dan keluarga kami adalah umat Buddha. Alva berasal dari keluarga dengan bapak Muslim dan ibu Kristiani. Melihat Alva mengajak Dyat berdoa, dengan cara agamanya; menunjukkan kepolosan anak-anak tentang bagaimana mengatasi rasa takut dengan berdoa. Tentu tidak ada niat apapun yang mungkin hanya terpikir oleh orang dewasa.

Saya sungguh belajar hari itu.
Belajar kepada anak-anak, bahwa kemurnian hati mereka sejatinya sungguh indah seperti semesta. Berteman, bergaul, berdoa, sejatinya tanpa berpikir kamu berbeda denganku, aku lebih tinggi kamu lebih rendah.
Hanya kita orang dewasa, yang kerap disadari maupun tidak ‘mengotori’ kemurnian itu.



Di’Uber’ sama Arsa yang autistik

Sudah seminggu ini..aplikasi Uber di android saya yang entah kapan diinstall, berubah aktif.
Tentu karena mobil kami sudah duluan di ‘lodging’ berkenaan dengan kepindahan keluarga kami ke kota lain.

Bila yang lain bercerita tentang pengalaman mengesankan baik maupun buruk tentang drivernya..saya berbeda. Bersyukur sih tak pernah dapat driver yang error atau berperilaku tak sesuai juga.

Saya mau berkisah tentang bagaimana berkendara Uber bisa menaklukkan salah satu karakter spektrum autistik Arsa, putra sulung kami. Maksudnya?

Ya..karena Arsa punya karakter Obsessive Compulsive Dissorder (OCD) terutama tentang rute jalan. Memori fotografis tentang rute jalan yang harus dilalui dari suatu tempat menuju rumah..itu luar biasa rigidnya. Ada jalan yang harus bahkan wajib dilalui..ada jalan yang pantang dilewati (sebelum dia ngambek atau menggerutu sepanjang jalan)

Kalau yang jadi sopirnya saya atau papinya..tentu kami paham dan kadang terlalu menuruti kemauan OCD nya itu. Sebenarnya sebagai cara paling malas karena tak mau menghadapi gerutuan Arsa. Tapi kalau orang lain? Dan..tentu suatu saat ia harus hadapi realita bahwa tak selamanya sopirnya itu saya atau papinya yang senantiasa bisa menuruti keinginannya untuk melalui rute tertentu. (Masalahnya kadang rute yang dimintanya itu tak selalu rute tersingkat menuju rumah)

Malam ini buktinya. Kami menggunakan Uber lagi untuk pulang dari daerah Sanur.
Rute yang diinginkan Arsa adalah lewat Renon…area Denpasar Kota baru menuju rumah kami di Denpasar Utara. Namun driver Uber dan tentu saja kami (sudah agak malam) memilih lewat sepanjang Gatsu Timur..Gatsu Tengah baru masuk wilayah Denpasar Utara.

Begitu di perempatan Hang Tuah, Arsa sudah mengatur untuk berbelok ke Renon. Namun driver jalan terus. Mulailah Arsa menggerutu. Saya berusaha menenangkan dengan mengatakan jalanan area Renon ditutup. Maaf deh saya harus berbohong sama Arsa. Dia berusaha mencerna tapi terus menggerutu.

Akhirnya saya memberi alasan lain, bahwa dua anak yang ikut di mobil bersama kami akan dijemput pulang oleh tante mereka. Sedikit berhasil tapi tetap saja menggerutu sampai setibanya kami di rumah.

Yang kami takutkan soal tantrum ternyata tak terjadi. Di rumah pun tak menggerutu lagi.
Jadi….sebenarnya ke’rigid’an Arsa sudah mulai bisa dinegosiasi.
Tanpa harus emosi baik di pihak Arsa maupun kami.

Wah berkendara dengan Uber sungguh memberi kontribusi positif  bagi Arsa yang autistik. Mulai dari bersabar menunggu kedatangan mobil dan tentu (mudah2an) akan mengurangi ke’rigid’an Arsa dalam mengikuti rute tersingkat yang dipilih gps Uber.

Terima kasih ya…
Siap2 naik Uber lagi nih untuk menguji rigid nya Arsa. ;))