yukberbagi!


#NAD_Battle 2021 – Song fiction
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021
#PASUKAN_ASTERIX
#Challenge_3
#KoreaLoveStory

18+
Twice Love Story
Judul : Deserved
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1485 kata

🎶Oh girls, do what you want
You’re going the right way🎶

Suara Twice -girlband Korea- membangunkan Ailee. Itu bunyi nada dering ponselnya.

Bau cairan disinfektan yang seketika menusuk hidung, memaksanya membuka mata. Sesosok lelaki berjas putih berdiri membelakanginya sedang menjawab telepon. Ailee kenal ponsel dalam genggaman si lelaki. Ponsel itu miliknya.

Suaranya berat meski samar-samar. Hanya kalimat ‘nanti akan saya infokan’ yang terdengar oleh Ailee.

Lelaki itu berbalik dan menatap Ailee. Ah, bukan nama-nama yang ia sebutkan tadi. Siapa lelaki ini? Mengapa aku di sini? Siapa dia? Pikiran Ailee dipenuhi tanya.

“Arjuna? Arka?” Suara Ailee memanggil.

***
Sehari sebelumnya di The Jaguar Cafe ….

Usai menutup payung dan cepat- cepat mematikan rokok di tempat sampah depan kafe, Ailee melangkah masuk dan langsung menuju meja bar.

Baru saja Ailee mendaratkan bokongnya di kursi, dilihatnya seorang perempuan yang dikenalnya sebagai dokter NAD General Hospital yang pernah merawat Arjuna saat kebakaran kafe, tiba-tiba beranjak pergi dengan terburu-buru.
Ailee sempat menyapa berbasa basi lalu tersenyum melihat Arjuna yang cengengesan salah tingkah.

Arjuna mendekati Ailee. Hidungnya mengendus pakaian Ailee seperti biasa. Sesaat kemudian embusan napasnya terasa di belakang telinga Ailee. Aroma mint menguar menyentuh indra penciuman Ailee.

“Ngerokok lagi? Kenapa?” tanya Arjuna. Binar di mata Arjuna kini berubah menjadi tatapan menyelidik.

“Akhirnya aku putus sama Arka,” gumam Ailee dengan suara tak begitu jelas. Arjuna spontan membalikkan badan, memegang kedua bahu Ailee.

“Ai … serius? Are you sure? Yeaay! Akhirnya….”

Arjuna melompat kesenangan, tubuh Ailee ikut terguncang.

Ailee segera melepaskan tangan Arjuna dari bahunya. Selain timbul rasa nyeri bekas cengkraman tangan Arka saat marah kemarin, juga agar tidak menarik perhatian pengunjung lain.

“Yaaa …, itu keinginanmu dari dulu ‘kan?” ujar Ailee menghela napas panjang.

“Yesss! Keputusanmu berpacaran dengan Arka memang tak pernah kurestui. Kau cantik, pintar, pekerja keras. Ngapain sama Arka? Mending sama a….”

“Sama kamu maksudnya? Toh waktu itu kamu nggak ada. Kamu pergi dari kota ini saat aku memerlukan seseorang!” Tanpa sadar nada suara Ailee meninggi.
Arjuna langsung menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.

“Psst … Nggak usah ngegas kayak gitu. Aku tahu, aku punya salah hingga kamu jadian sama Arka. Aku seharusnya menjagamu, setelah mendiang kakakmu tiada dan papamu meninggalkan rumah. But anyway, sekarang kamu udah putus, kamu udah bebas dari dia. That’s more important.”

Sambil melepaskan tangan Arjuna, Ailee beringsut pindah ke tempat duduk yang menghadap ke sungai dengan raut wajah sedikit berubah. Arjuna mengikutinya.

Ya, Ailee sudah putus. Ia bebas dari segala kerumitan hubungannya dengan Arka. Ia tidak lagi menjadi samsak hidup. Bilur, lebam serta cakaran di tubuhnya tak akan bertambah lagi. Begitupun dengan tabungannya, tak akan berkurang terus karena diambil oleh Arka untuk gonta ganti gadget maupun hang out di klub bersama teman-temannya.

Ailee juga tak perlu takut lagi akan terkena penyakit seksual yang mungkin saja diidap Arka akibat petualangannya bersama wanita lain di luar sana.

Bahkan ancaman mengekspos foto-foto pose sensual Ailee serta bunuh diri Arka jika Ailee minta putus, kini tak akan mencemaskan hari-harinya lagi.

Arjuna menyadari kalau raut wajah Ailee berubah setelah ucapannya barusan. Ia juga paham, betapa hancurnya Ailee diperlakukan semena-mena oleh Arka selama ini.
Diraihnya tangan Ailee. Kehangatan segera menjalar dari genggaman Arjuna dan tatapan matanya.

“Sori Ailee. Just forget it. Tunggu di sini. Aku cek dapur dulu, ok. After that aku akan temani kamu. Kalau perlu sampe pagi.”

Ailee mengangguk, air mata yang sempat menggenang di matanya dihapusnya cepat-cepat. Ia memasang earphone mendengarkan lagu kesukaannya Girls like us – Twice sambil menunggu Arjuna kembali duduk bersamanya.

🎶 You are not alone, everyone has been on this path before
The happiness you’ll one day find on this road
As expected we’re headed for a distant place too, fly with us 🎶

*
Kafe makin malam makin ramai. Danny sudah menyelesaikan permainan pianonya. Ailee dan Arjuna masih asyik berbincang tentang banyak hal.

Ya begitulah persahabatan Arjuna dan Ailee hampir dua dekade ini. Sejak kecil, Ailee sangat dekat dengan Bree kakak lelaki satu-satunya. Semenjak Bree meninggal, Ailee menjadi sangat pemalu dan tertutup sampai bertemu Arjuna saat SMA. Sejak itu mereka berdua menjadi dekat dan membuat banyak orang cemburu. Bahkan kedua orang tua mereka beranggapan Arjuna dan Ailee akan menikah kelak. Namun, ketika ayahnya memilih meninggalkan rumah dengan kekasih barunya, dan saat yang bersamaan Arjuna berangkat keliling Indonesia untuk belajar tentang kopi dari tempat asalnya, Ailee merasa sendiri dan kesepian.

Kehadiran Arka seakan menjadi penawar gundah hati Ailee. Ketika Arka menyatakan cinta, Ailee menerimanya. Meski lewat telpon Arjuna tak merestui dan berpesan untuk menunggunya.

*
Malam makin larut. Denting lonceng pintu yang keras mengejutkan Ailee dan Arjuna. Sesosok lelaki menghampiri meja mereka dengan sedikit terhuyung, Arka. Mulutnya berbau alkohol dan ia sedikit meracau.

“Ailee … My Honey Bunny … Please, jangan putusin aku ….”

Ia menuju sofa Ailee lalu menubruknya hingga setengah telentang di sofa. Belum sempat Ailee bereaksi, badan Arka tertarik ke belakang.

“Arka. Stop! Buat apa elo cari Ailee? Kalian udah selesai.” Ternyata Arjuna yang menarik kerah baju Arka.

Arka berontak melepaskan tarikan tersebut. Sebelah tangannya masih mencengkeram bahu Ailee. Tangan yang lain menuding Arjuna.

“Elo yang bikin gue sama Ailee putus, Arjuna. Anj*ng lo! Ailee tuh milik gue! Terserah gue mau cari dia, mau apain dia. Gue ga mau putus. Gue mau jemput dia pulang, sebelum nanti ditidurin sama elo!” teriak Arka.

Badan Ailee tertarik bersama Arka, sebelum terhempas lagi saat kepalan tangan Arjuna mengenai dagu Arka.

“Bangs*t. Tutup mulut elu, basta*d!”

Mereka saling meninju, mendorong, memaki, mencengkeram bahu, menendang satu sama lain, memiting lengan.

Ailee berteriak-teriak, berusaha memisahkan mereka. Badannya tertarik ke kiri ke kanan. Sesekali bahu Ailee ikut terdorong, kulitnya tercakar ketika mencoba melerai Arka dan Arjuna.

Tiba-tiba seseorang menarik Ailee di antara mereka berdua.

“Ailee … Nona Ailee. Stop. Kamu bisa terluka,“ ujar Tommy, baker di kafe ini yang selalu menawarkan kue kreasi baru kepadanya. Namun, perkataan Tommy justru makin menyulut Arka.

“Hei, tukang kue! Ngapain ikut campur? Elo juga mo pake dia, hah? Langkahin mayat gue dulu, brengsek. Dia milik gue … cuma gue yang boleh tidurin dia!” teriak Arka langsung menyerang Tommy.

Arjuna makin marah mendengar kata-kata Arka. Ia menyerang Arka dari belakang. Sementara Tommy menyambut serangan Arka dari depan.

Ailee terdorong hingga jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya sakit semua. Ia terlalu syok untuk bersuara serta bingung harus bagaimana.

Suasana kafe tak terkendali. Meja-meja tergeser ke sana ke mari. Kursi berhamburan. Cangkir, piring kue, sendok berserakan di lantai. Dari sudut matanya, Ailee melihat para pelayan dan kasir meminta pengunjung lain untuk segera meninggalkan tempat.

Arka, Tommy dan Arjuna masih terus saling memukul. Arka menendang Arjuna, tetapi ditangkap Tommy dari belakang. Lalu Arjuna maju meninju bahu Arka hingga tersungkur, tetapi kaki Arka sudah menendang kaki Tommy. Kini Tommy yang tersungkur. Ketiganya saling memiting dan bergulat di lantai.

Napas Ailee makin tak beraturan, air matanya terus membanjir turun. Tenggorokannya kering dan sakit. Badan Ailee perlahan rebah tak bergerak di lantai. Sesaat sebelum matanya tertutup, sesosok lelaki merangkul tubuh Ailee lalu semuanya gelap.

*

“Hai…. Syukurlah kamu sudah sadar. Kenalkan saya Dokter Andaru. Saya bertugas di IGD saat kamu dibawa ke sini tadi malam.” Suara lelaki itu menyadarkan Ailee dari ingatan kejadian semalam di kafe.

Tangan Dokter Andaru mengangsurkan ponsel ke hadapan Ailee. Sekilas Ailee melihat batere ponselnya sudah sekarat.

“Oh iya Ailee, benar begitu namamu? Teman kamu yang tadinya sama-sama kamu di sini, sedang di kantor diwawancarai petugas. Kalau nggak salah, namanya Arjuna?”

Ailee terkesiap. “Diwawancarai petugas, Dok? Mengapa?”

“Saya juga tidak tahu, maaf. Cuma saya diminta menjagamu di sini, mengingat kejadian semalam sudah termasuk pelanggaran hukum.”

Ailee terdiam. Arka, Arjuna?

“Nggak apa-apa, Dok. Terima kasih udah jagain saya. Kapan saya boleh pulang?”

Dokter Andaru hanya mengangguk, ia terus menatap Ailee. Senyuman di bibirnya membuat Ailee merasa tenang.

“Maaf Nona Ailee, boleh saya bertanya?”

Ailee tergagap. “Iya Dok? Ma-mau tanya apa?”

“Mohon tidak tersinggung. Kalau boleh saya tahu, ada lebam-lebam di bahu, tangan dan kaki tapi tak sama dengan luka-luka yang saya obati semalam? Sempat jatuh atau kecelakaan beberapa hari lalu?”

Ailee terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Maaf, Nona Ailee. Saya tidak bermaksud ….”

“Semua dilakukan mantan pacar saya bila ia marah atau cemburu. Orang yang sama yang menyerang saya semalam di kafenya Arjuna.”

Embusan napas Dokter Andaru terdengar keras. Tangannya mengepal. Air mata Ailee makin deras saat Dokter Andaru mengangsurkan saputangan.

Baru saja tangan mereka saling bersentuhan,

“Ailee, dear! Oh my God, aku khawatir banget. Syukurlah kamu sudah sadar. Aku tadi minta tolong Dokter Andaru menjagamu selama aku diwawancara petugas. Banyak sekali pertanyaan yang harus aku jawab dan tanda tangani. Habis ini giliranmu. Tapi, kalau kamu sudah cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kalau tidak, bisa ditunda besok.”

Suara Arjuna yang penuh semangat dan kelegaan terdengar seiring tirai pembatas brankar ruang IGD tersibak membuat Ailee segera menyusut air matanya dan Dokter Andaru mundur satu langkah.

Arjuna merangkul Ailee, memeluknya, “Be strong Ailee. Aku akan mendampingimu. Kita sama-sama menyelesaikan masalah Arka.” Arjuna berkata pelan.

Ailee diam dalam pelukan Arjuna, matanya menatap wajah Dokter Andaru yang juga tengah menatapnya sembari mengangguk dan tersenyum, seolah berkata, “Kau berhak bahagia, Ailee.”


NAD City, suatu pagi di ruang IGD.



#NAD_Battle 2021 – artikel

#NAD_BATTLE_CHALLENGE_6
#Pasukan_Asterix
#NADFamilyMagazine

– ARTIKEL OPINI –

Ketika keluarga berhadapan dengan konflik

Judul : Daily Life with Arsa,
Si Autistik yang Rawan Konflik
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1748 kata

*****
Arsa jelang 18 tahun.

Suatu siang.
“Mami, kok enggak ada ayam goreng?” Dydy, anak bungsu saya mengomentari makan siangnya.
“Karena kakak hari ini jadwal makan tahu dan tempe. Kakak nggak boleh ayam goreng terus, empat hari lagi baru boleh. Nanti kandungan zat-zat makanan yang tidak bisa diserap tubuh kakak terus menumpuk, akan menjadikan dia sakit,” ujar saya menjelaskan tentang rotasi makanan (1) yang perlu dilakukan Arsa sebagai individu autistik.
Dydy merengut. Saya kasihan kepadanya yang tak selalu bisa makan makanan kesukaannya, tetapi ini yang mau tidak mau kami jalani.

Malamnya.
Setelah saya menyodorkan pasta gigi, Arsa ngambek. Ia menggerutu, mengomel dengan gumaman hampir setengah jam lamanya. Pada kasus anak autistik, hal seperti ini disebut Meltdown. Dia kesal tapi tak bisa mengungkapkan.

‘Meltdown merupakan dorongan emosi ketika anak sudah mulai kewalahan akan perasaannya sendiri’ (2)

Kali ini dia kesal karena sesi menggunting plastik kemasan untuk jadi eco brick terganggu, oleh saya yang menyodorkan pasta gigi itu. Kami sekeluarga mendiamkan saja. Cukup duduk di sampingnya sambil memperhatikan.

Ketika emosi meltdown ini selesai dan Arsa sudah tenang, ia bisa diajak berbicara lagi. Akan tetapi, jangan coba-coba untuk mengusik lagi, kekesalan Arsa seketika bisa menjadi kemarahan dan agresivitas.
Di usia ini, ia akan serta merta menyerang adiknya.

***

Ilustrasi kejadian yang saya ceritakan bagai makanan sehari-hari bagi kami. Salah bersikap, keliru berbicara, memungkinkan terjadi konflik dengan Arsa. Ditegur saat mengambil lauk di piring adiknya saja, bisa membuat Arsa ngambek dalam waktu yang tak sebentar.

Lucu bila dipikirkan, ketika orang tua lain sibuk mengurusi anak remajanya yang sudah mulai jatuh cinta, mulai pergi berkencan setiap akhir pekan, atau sibuk main game online daripada sungguh-sungguh belajar saat school from home, saya dan suami malah sibuk dengan keruwetan yang ditunjukkan Arsa, remaja jelang dewasa dengan spektrum autistik.

Dahulu di banyak tulisan tentang Arsa, saya bisa dengan pongah menyatakan, memiliki anak berkebutuhan khusus adalah anugerah dalam hidup dan membuat saya belajar prinsip bahwa tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Akan tetapi, pada akhirnya itu hanya sebagai tameng untuk melindungi diri saya yang tetap manusia biasa. Punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati. Hehe, kok jadi menyanyikan lagu “Rocker Juga Manusia”.

Saya dan suami menyadari bahwa mengasuh didik Arsa masih perlu proses yang panjang dan menjadi lebih terasa di masa pandemi ini.

Sejak awal pandemi covid-19, banyak perubahan dalam keseharian keluarga kami. Waktu tidur dan waktu bangun yang bergeser. Tidur makin malam dan bangun makin siang. Tidak bersekolah, yang berarti banyak sekali waktu untuk aktivitas Arsa di rumah dibandingkan saat masih bersekolah.

Seharusnya ia sedang menjadi siswa magang pada rumah produksi seminar kit dan handicraft, berkaitan dengan minatnya pada ketrampilan jahit menjahit. Karena terimbas pandemi, rumah produksi itu mengurangi karyawan maupun jumlah produksinya. Bagaimana mungkin lagi menerima siswa magang.

Meski banyak yang mengatakan jahit menjahit bisa dilakukan di rumah bersama orang tua, akan tetapi kenyataannya Arsa hanya mau menjahit menggunakan mesin bersama ayahnya. Ia tak mau lagi menyulam bersama saya, yang memiliki lebih banyak waktu di rumah. Bila Arsa menunggu ayahnya agak sulit, mengingat pekerjaan di beberapa tempat kadang memiliki jadwal waktu yang tidak jelas. Begitu sedikit luang, ayahnya sudah kelelahan.

Sejujurnya saya pun mengeluh, tidak sekali saja tetapi berkali-kali tentang pandemi ini, yang belum juga berakhir. Sekolah belum dimulai juga, dan itu berpengaruh besar bagi Arsa yang sangat senang pergi ke sekolah.

Sempat di satu masa, saya membenci orang-orang yang abai terhadap protapkes, sehingga masa pandemi ini menjadi lebih panjang. Sampai saya mendoakan, biarin kalian tertular semua. Duh, jahat sekali saya ya.

Kenyataannya yang saya, suami dan keluarga hadapi, tak sekadar berkeluh kesah karena penghasilan tiba-tiba menukik drastis.

Keluarga kami mendapat bonus tantangan, ada tenaga produktif di rumah, akan tetapi tak mau melakukan apa-apa. Awal-awal pandemi, ia masih mau menjahit berbagai produk olahan patchwork bahkan sampai bisa membawanya ke ajang pameran karya difabel dan menghasilkan uang pula. Pendapatan Arsa saat itu bahkan bisa membantu melunasi salah satu utang keluarga kami ke sekolahnya.

Kini, melirik jahitan pun tidak. Semenjak dipasangkan WIFI di rumah karena tuntutan beberapa kesibukan pekerjaan saya dan suami, aktivitas Arsa pun menjadi bergeser.

Ia lebih sibuk membuka Google menelusuri laman-laman sesuai dengan keyword pencarian kata-kata atau sebaris kalimat yang ingin diketahuinya. Kata-kata atau kalimat itu biasa muncul sebagai reading text di televisi, dibacanya, disalin ulang di belakang buku apapun yang ia temui, lalu dicari gambar atau jawabannya.

Arsa bukan penggemar games online atau penyuka youtube ulasan game seperti adiknya. Ia senang membuka-buka youtube, tetapi lebih untuk mendengar dan melihat jingle tayangan iklan produk tertentu, melihat bagaimana sebuah game seperti zuma, candy crush, dll berlangsung. Sepertinya menonton itu membuat Arsa merasa terhibur dan membuatnya lupa mencabuti rambut atau mengelupas bekas luka di kulitnya. Asal jangan wifinya mati, entah karena pemadaman listrik atau sinyal yang lemot, paniklah ia!

Bagi Arsa, seharusnya ia menjadi anak Raffi dan Nagita atau Nia Ramadhani, yang tajir melintir. Rumah mungkin harus memiliki genset, sehingga tak ada acara pemadaman listrik, tak ada acara pompa mati, gas habis maupun kuota tinggal sedikit. Sayangnya, ia terlahir di keluarga kami dengan penghasilan yang terbilang standar pekerja freelance.

Bagaimanapun perubahan bagi individu autistik seperti Arsa memang masih menjadi tantangan bagi dia untuk menerimanya. Ia rigid, kaku!

Cognitive rigidity is the inability to mentally adapt to new demands or information, and is contradicted with the cognitive flexibility to consider different perspectives and opinions, and are able to adapt with more ease to changes. (3)

Kekakuan kognitif adalah ketidakmampuan untuk secara mental beradaptasi dengan tuntutan atau informasi baru, dan bertentangan dengan fleksibilitas kognitif untuk mempertimbangkan perspektif dan pendapat yang berbeda, dan mampu beradaptasi dengan lebih mudah terhadap perubahan. (terjemahan bebas saya)

Mau tahu rigid-nya Arsa seperti apa?

Ia harus duduk di tempat yang ditentukannya sejak awal. Arsa punya kursi sendiri dengan posisi yang sudah ia tetapkan di area meja makan. Tak ada yang boleh menempati kecuali ia yang mengizinkan.

Demikian juga bila naik mobil saat bepergian. Ia memilih duduk di sisi sebelah kanan, persis di belakang supir. Tak ada yang boleh menduduki tempat tersebut, meski kamu masuk mobil dari pintu sebelah kanan.

Poni rambut saya tak boleh tergerai turun ke bawah, harus diikat atau dijepit. Bila tidak melakukannya, ia akan berisik dan terus merengek-rengek kepada saya untuk merapikan rambut tersebut.

Pemadaman listrik oleh PLN, mau sudah dijadwalkan atau tidak, tidak bisa diterima olehnya. Apalagi sekarang, pemadaman listrik akan menyebabkan WIFI mati dan ia tak bisa asik mainan ponsel lagi.

Pemahaman pemadaman lampu hanya berlaku bagi Arsa ketika kami melalui hari Nyepi di Bali. Herannya Arsa bisa luwes menerima tentang aturan tersebut pada hari itu saja.

Beberapa hal kaku lainnya terkait dengan kesukaan individu autistik dengan routine atau aturan.

Nah, istilah apalagi ini.

Life is very confusing for most autistic children, a constant change of people, environments, noises etc. can be very overwhelming. Routines and rituals help to provide order in a constantly changing environment. A routine needs to be something done regularly in the same order so it provides repetition and predictability. (4)

Bagi anak-anak autistik, melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sungguh membingungkan mereka. Mereka sulit memahami perubahan pada diri orang-orang, baik perubahan sikap, perilaku, mengapa mereka sakit, mengapa mereka pergi, mengapa mereka meninggal.

Mengapa perlu pindah rumah, mengapa suasananya berisik, mengapa sekolah libur, mengapa ada tanggal merah, dan lain sebagainya.

Rutinitas dan ritual membantu mereka menghadapi perubahan yang terjadi di sekitarnya seperti contoh di atas.

Rutinitas dan ritual akan membantu mereka menduga-duga apa yang akan terjadi.

Ketika pandemi mulai merebak, berbulan-bulan Arsa akan mengajukan pertanyaan yang sama setiap pagi.

Mengapa tidak sekolah? Bila dijawab tutup, ia akan bertanya lagi, mengapa tutup? Meski tidak dengan kalimat panjang yang lancar, Arsa mengajukan pertanyaan itu berulang kali. Terutama bila ia mendengar ada salah satu dari kita yang berkata Corona, ia akan langsung menyambung dengan perkataan, “Corona tutup, kita di rumah.” Demikian berulang kali.

Pada anak lain, Dydy adiknya Arsa misalnya, pemahaman akan respons kita menjelaskan tentang berbahayanya penyebaran virus ini membuat mereka mudah menerima bahwa sebaiknya di rumah dulu sebelum tertular.

Apakah rutinitas bisa berubah atau selalu rigid? Selama benda pendukungnya ada atau tersedia, ia akan tetap melakukan rutinitas tersebut. Namun, bila ingin ia mengubah rutinitas itu tanpa menambah konflik baru dengan kita, alternatif solusinya perlu dipikirkan betul.

Berikut beberapa contoh yang pernah kami terapkan kepada Arsa, tentang mengubah rutin tanpa menambah konflik baru.

Situasi pandemi dan durasi yang lama berdiam di rumah, menyebabkan Arsa membuat banyak rutinitas baru. Saat kami belum membeli filter air minum, rutinitas Arsa adalah minum banyak-banyak agar bisa memasak air. Tentu hal itu menyebabkan konsumsi gas menjadi berlebihan.

Solusi kami saat itu membeli filter air minum, agar rutinitas itu bisa berhenti secara bertahap. Bila kami seketika melarangnya untuk tidak minum banyak-banyak agar tidak memasak air, akan bisa memicu pertengkaran dengan Arsa.

Saat pindah rumah ke rumah yang sekarang, setiap jam lima ia rutin menyalakan lampu. Ini sih tak menjadi masalah bahkan membantu kami.

Salah satu yang menjadi masalah, Arsa mengharuskan saya menyapu sesudah ia makan malam, karena ia ingin membantu menggeser-geser kursi meja dan beberapa loker. Masalahnya waktu Arsa makan lama sekali, sehingga saya seringkali lambat untuk menyapu dan membereskan rumah padahal sudah sangat kelelahan.

Solusi saya akhirnya mengatakan padanya, ingin ‘sapu cepat’. Kata-kata sapu cepat bisa ia pahami sebagai tindakan menyapu tanpa perlu bantuannya menggeser posisi benda-benda. Belakangan, agar lantai lebih bersih saya menyiasati dengan menunggunya saat mandi sore, barulah saya menyapu. Cara terakhir ini lebih berhasil karena lantai bersih tanpa perlu Arsa berteriak-teriak sambil menggeser posisi benda-benda.

Rutinitas yang baru sekarang dan sungguh mengganggu adalah saat Arsa menemukan keasyikan menggunting plastik bekas kemasan makanan untuk dikumpulkan menjadi ecobrick.

Mungkin ia menemukan keasikan setelah lama meninggalkan dunia jahit menjahit, menggantinya dengan gunting menggunting kemasan plastik tersebut.

Durasi ia mengerjakan aktivitas ini cukup lama, guntingannya halus sekali sehingga membuat waktu tidurnya menjadi molor, bahkan pernah sampai pukul 1.30 dinihari.

Solusi awal saya dan suami adalah dengan tidak mengumpulkan plastik bekas kemasan lagi, tapi malah ia memaksa dan bila disembunyikan akan mencarinya dengan membongkar-bongkar tempat sampah. Jujur sampai saat ini saya berdua suami belum bisa menemukan solusinya.

Ya, sebagai keluarga dengan individu autistik, meski kami mensyukuri Arsa mampu berdaya, akan tetapi pekerjaan rumah untuk mencari solusi dari permasalahan-permasalahan sebagai individu autistik masih memerlukan kesabaran dan waktu.

Karena jalan keluar terbaik bukanlah menaruh harapan besar bahwa dia bisa sembuh lalu seketika menjadi normal dan cemerlang seperti individu reguler lain, akan tetapi menyiasati karakter-karakter yang menjadi spektrum autistik seperti beberapa hal yang saya bahas di atas, agar tidak menimbulkan konflik yang menghambatnya menjadi pribadi yang mandiri dan berdaya.

Saya hanya ingin Arsa bahagia.

Ivy Sudjana
Ibu dari Arsa, individu autistik dan Adyatma
Tinggal di Yogyakarta

**********
Temukan tulisan tentang Arsa sebelumnya di ivyberbagi.wordpress.com

(1) Diet pada anak penyandang autisme menggunakan teknik rotasi dan eliminasi, yaitu memberikan makanan yang tepat untuk anak. Rotasi dilakukan setiap 4-7 hari di mana makanan yang diberikan hari ini khusus hari itu saja, tidak diberikan pada hari lain, dan tidak lebih dari satu jenis per hari. (https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/o5aozd328)

(2) https://www.google.com/amp/s/www.popmama.com/amp/kid/1-3-years-old/jemima/kenali-emosi-anak-apa-perbedaan-tantrum-dan-meltdown

(3) https://www.nurturepods.com/cognitive-rigidity-in-autism

(4) https://www.psychologytoday.com/us/blog/making-sense-autistic-spectrum-disorders/201608/cognitive-rigidity-the-8-ball-hell

(5) https://www.theautismpage.com/routines/



#NAD_Battle 2021 – Narasi

Tulisan ini terinspirasi dari perilaku Arsa-sulungku yang autistik-semasa kecil.
Luv u kid, always!

#NAD_BATTLE_CHALLENGE7
#Pasukan_Asterix
#Narasi
#Bantargebang

Kisah-kisah Kaum Terpinggirkan
Judul : Padam
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2485 kata

Anak perempuan bertubuh kecil dengan potongan rambut tak beraturan itu sedang asyik melihat-lihat kertas koran di hadapannya. Kertas itu bagaikan pemuas rasa ingin tahu dan sangat berharga baginya. Berjarak semeter darinya anak lelaki kecil dengan kepala plontos sedang membungkuk dan asyik menatap kertas-kertas juga. Yang berbeda, kertas yang dilihatnya tampak lebih mengilap.

Di dekat mereka seorang perempuan berdaster panjang dengan tambalan di sana sini tampak asyik memerhatikan. Perempuan bernama Rodiah, yang juga Ibu mereka, mengamati sekaligus berjaga-jaga agar mereka tidak saling menganggu. Tanpa terasa air mata telah menganak sungai di pipi Rodiah. Ia dan suaminya belum mampu membelikan mainan untuk kedua anaknya. Jadi dibiarkannya mereka bermain-main dengan benda seadanya.

Sang anak perempuan, yang diberi nama Kokom menghampiri Rodiah dan mengusap air matanya. Tak lama kemudian, sang bocah lelaki ikut juga menghampiri sambil menggenggam kertas-kertas mengilap-yang kemudian diketahui bernama brosur-di tangannya. Kokom menadahkan tangan ke bocah yang dipanggilnya Ucup itu. Namun, permintaannya dibalas dengan gigitan Ucup di dekat siku. Kokom langsung menjerit kesakitan lalu tersedu sedan di pojokan.

Bukan sekali ini saja ia digigit Ucup. Setiap kali Kokom bermaksud melihat brosur, Ucup langsung menyerang dan menggigitnya. Biasanya suasana baru tenang ketika Pak Rojali-bapak mereka-datang menyodorkan kertas koran dan brosur ‘baru’ dari tumpukan barang yang dipulungnya.

Dulu, sebelum Ucup tergila-gila dengan brosur, ia selalu mengganggu Kokom dengan merebut koran kesayangannya. Walau pertengkaran mereka akan berakhir dengan Kokom yang dipaksa Pak Rojali dan Bu Rodiah untuk bersikap mengalah hanya karena lebih tua, tetapi sampai kapanpun Kokom tak akan begitu saja melepaskan tumpukan koran miliknya. Seperti juga Ucup yang begitu sayang dengan kertas brosur sehingga bisa menyerang setiap orang yang akan mengambilnya.

***

Kesukaan Kokom akan koran bermula sejak Ucup belum ada di tengah-tengah mereka. Suatu hari, Kokom yang belum genap enam tahun diajak beberapa perempuan lain sepantar ibunya. Ia ditanya apakah mau bersekolah. Kokom tak tahu benda apa atau tempat apa yang disebut sekolah.

Ketika akhirnya ia datang ke sebuah rumah bagus-berdinding tembok berwarna hijau- yang kemudian diketahui rumah orang yang dipanggil Pak RT, ia menebak itulah yang dinamakan sekolah. Kokom melihat hamparan tikar di lantai bersama benda-benda yang kata ibu-ibu itu disebut buku.

Kokom terpesona, matanya berbinar-binar seperti kemarin saat Bapak pulang membawa sebungkus Ch*ki yang baunya sudah apek begitu dibuka. Bapak bercerita, ada beberapa orang yang datang dengan mobil barang lalu membuang sekarung besar dengan ratusan bungkus Chiki di dalamnya ke salah satu pojok Bantargebang. Kebetulan Bapak sedang berada di dekat situ, memilah plastik kemasan minyak goreng-yang katanya paling laku di pengepul-untuk disusun dan dijahit menjadi tas belanja transparan oleh pengrajin.

Semua pemulung segera memperebutkan isi karung itu, termasuk Bapak yang mendadak meninggalkan tumpukan plastik kemasan yang sudah ia kumpulkan. Ketika berhasil merebut satu bungkus Ch*ki untuk Kokom, Bapak nyaris kehabisan napas. Untung saja kemasannya tidak sobek sehingga isi Ch*ki itu tidak berhamburan.

Kokom kaget, ketika seorang ibu menggamit tangannya. Ingatan tentang cerita Bapak dan Ch*ki buyar sudah. Ibu itu menuntunnya untuk duduk di atas tikar dan mulai menyodorkan salah satu buku. Ia membukakan lembar demi lembar buku untuk dilihat Kokom. Namun gerakan tangan ibu itu terlalu cepat, melebihi kecepatan mata Kokom memindai gambar di dalam buku. Baru saja Kokom melihat gambar ayam, lembar buku sudah berpindah ke gambar sapi. Baru Kokom melihat bahwa sapinya sapi betina, Ibu itu sudah membalik lembar buku dan kini menunjukkan gambar manusia.

Kokom menarik-narik ujung kerudung Ibu yang terasa lembut di tangan dan warna birunya mengingatkan Kokom pada langit Bantargebang saat hari cerah. Ibu itu segera menoleh ke arahnya dan tersenyum. Jari telunjuk Kokom menunjuk ke sampul buku dan menekan bagian huruf-huruf. Ibu itu menatap Kokom dengan cermat lalu mulai tertawa. Ia merangkul bahu Kokom dan memulai lagi menunjukkan buku dari awal. Bibirnya menyuarakan kalimat, pertemanan antara ayam dan sapi. Kokom mengangguk-angguk, antara mendengarkan suara Ibu dan melihat bentuk huruf yang sejak saat itu mulai ia patri dalam ingatannya.

Kata ayam memiliki empat huruf, tetapi sapi juga. Oh, ternyata pada kata ayam ada dua huruf a, tetapi kata sapi hanya satu huruf a. Bahwa kata manusia itu lebih banyak hurufnya. Demikianlah awal Kokom belajar mengenal huruf, sekaligus mengenali kata dan bunyinya.

Sejak saat itu Kokom tertarik mengenali huruf, merangkai dan membacanya menjadi kata. Setiap kertas yang dibawa Bapak pulang memulung selalu menjadi incarannya. Dipandanginya huruf-huruf baru, dibacanya kata-kata baru. Dengan bangganya Kokom menunjukkan bisa mengenali, membaca huruf dan kata itu kepada Bu Guru di ‘sekolah’-yang lalu diketahuinya-bernama Bu Layla.

Bu Layla sering mengatakan kepadanya bahwa ia anak yang cerdas dan rajin belajar. Kokom dipuji bisa cepat membaca hanya dari robekan koran bekas dan mengetahui banyak kata-kata baru meski tak memahami artinya.

Kokom pernah meminta kepada Bapak untuk membelikan satu saja buku, tetapi Bapak hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak memiliki cukup uang untuk membelikan Kokom buku, apalagi istrinya sedang hamil calon adik Kokom. Akan banyak uang untuk rutin memeriksakan Bu Rodiah ke Bidan. Akhirnya Pak Rojali mulai mengikhlaskan tindakan Kokom mengambil sebagian korannya setiap pulang dari memulung tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari robekan koran bekas itu, Kokom menemukan kesenangan baru. Ia melihat gambar-gambar dengan tulisan-tulisan. Timbul rasa senang membayangkan nikmatnya makanan pada foto di sana, meski ia sedang makan nasi yang diaduk dengan garam buatan Ibu. Dari koran pula, ia tahu ada begitu banyak jenis makanan, seperti yang dibawa Bapak pulang memulung saat bulan puasa waktu itu.

Bapak tiba-tiba membawa pulang sekantung kerang hijau, yang katanya dibagi-bagi seorang pengusaha untuk penghuni Bantargebang berbuka puasa. Kata Bapak, yang disedekahkan namanya sea food yang berarti makanan dari hewan laut. Setiap orang boleh memilih seekor ikan atau dua potong cumi-cumi ukuran sedang, atau sekeranjang kerang. Pada akhirnya, Bapak memilih sekeranjang kerang hijau, yang diyakini akan memuaskan perut mereka bertiga.

Cahaya di mata Kokom begitu berkilauan melihat tumpukan kerang hijau yang tadinya hanya ia lihat di koran saja. Sebenarnya ia berharap bisa melihat juga sea food lain yang disedekahkan, tetapi ia terlalu takut menyampaikan permintaan itu kepada Bapak.

Sesudah kerang hijau itu dibersihkan air seadanya dan direbus, mereka bertiga makan dengan lahap. Ibu yang perutnya makin besar dengan selera makan yang juga ikut membesar, sampai menghabiskan dua piring. Kokom beberapa kali tampak tersedak karena ada butiran halus pasir yang mungkin terikut saat dimasak.

Bapak menuduh Kokom makan terlalu cepat sementara Ibu tidak peduli karena asyik memuaskan rasa laparnya. Sekilo kerang hijau rebus hasil sedekah itu, bahkan masih bisa disimpan untuk bekal sahur mereka.

Walau Kokom merasa senang akhirnya bisa juga mencicipi yang namanya sea food, ia menjadi bingung kemudian saat mendengar kata-kata Mak Ijah-tetangga mereka sekaligus bidan kampung-yang membantu kelahiran Ucup. Mak Ijah spontan memarahi Ibu, ketika mengetahui Ibu pernah berbuka puasa dengan kerang hijau saat sedang hamil. Kerang hijau paling beracun, katanya menakut-nakuti. Jadi kalau nantinya Ucup menjadi bayi yang aneh, itu murni kesalahan Bapak dan Ibu.

Kokom kaget, berusaha mengerti kata-kata itu. Makan kerang hijau akan menjadikan Ucup, adiknya aneh? Mengapa? Pertanyaaan Kokom tak pernah terjawab, dan tak pernah juga ia temukan jawabannya di robekan koran bekas miliknya.

Lama kelamaan rasa ingin tahu Kokom tentang hubungan kerang hijau dan keanehan Ucup terkikis. Berganti dengan kekesalannya akan kerewelan Ucup. Bukan karena adiknya dibilang aneh sama Mak Ijah. Bukan juga karena orang tuanya jadi tak sayang kepadanya, melainkan Ucup bayi yang cengeng. Kokom sampai sering menyumbat telinganya dengan kain gombal saat tidur, karena Ucup menangis terus hampir setiap malam.

Ketika Ucup kian bertambah besar, keanehannya bertambah. Kalau sedang kesal, Ucup bisa mendatangi Kokom lalu menggigit tangan atau kakinya. Kini giliran Kokom yang menangis. Namun, bukannya dibela malah ia yang dimarahi Bapak dan Ibu. Ia dibilang kakak yang jahat dan dianggap tak menyayangi adiknya. Kokom kesal bukan kepalang.

Kokom berusaha mengerti tingkah laku Ucup. Ia mengira-ngira karena adiknya belum bisa bicara. Ia hanya bersuara ga-ga untuk menyatakan tidak, atau uh-uh untuk menunjuk barang yang diinginkannya saat meminta sesuatu.

Saat bersama Kokom, Ucup lebih memilih berkomunikasi dengan menarik rambutnya, menggigit tangan atau kakinya untuk kemudian merebut satu-satunya ‘harta’ Kokom yang berharga. Koran!

Kokom merasa kesal, dan berkali-kali hendak bermain di luar rumah saja. Ibu tidak suka dengan keinginannya itu. Bapak pun setuju dengan Ibu dan berkata kepada Kokom bahwa ia harus membantu Ibu di rumah. Ia hanya boleh keluar untuk ke ‘sekolah’, bukan bermain-main saja. Agar aman dari gangguan Ucup, Kokom akhirnya memilih bersembunyi di sebelah lemari untuk membaca koran-koran miliknya.

Sampai suatu hari jalan keluar pertengkaran Kokom dan Ucup seperti menemui titik terang. Di antara tumpukan koran bekas hasil Bapak memulung, terselip kertas-kertas licin mengilap yang tertera gambar barang-barang maupun makanan yang seketika menarik perhatian Ucup. Dengan berjalan tertatih-tatih, Ucup mengambil kertas-kertas itu lalu disusun berbaris-baris di lantai.

Sejak saat itu Ucup seperti menemukan mainan baru. Ia selalu menggenggam dan membawanya ke mana-mana. Bahkan Kokom pun tidak boleh melihat apalagi meminjamnya. Beberapa luka bekas gigitan di tangan Kokom menjadi pengingat untuk tak sembarangan lagi melihat brosur milik Ucup.

Kokom merasa lega karena bebas dari gangguan Ucup. Ia makin sibuk belajar membaca. Bukan supaya pintar, karena ia tahu tidak bisa sepintar anak-anak berkalungkan medali di dalam foto yang memiliki tulisan ‘Juara’ di salah satu robekan koran miliknya. Ibu pernah menjelaskan, juara itu sebutan untuk anak yang pintar karena rajin belajar. Oleh karena itu, anak itu dikalungkan medali.

Kokom mulai berpikir, apa mungkin ia bisa sepintar anak di dalam foto? Tubuh anak itu gemuk, pipinya tembam, rambutnya berkilauan, berkebalikan dengan dirinya. Tubuhnya kurus, pipi tirus dan rambutnya kering bagaikan sapu ijuk.

Kokom yakin makanan anak itu dan dirinya berbeda. Sedari kecil ia hanya menyantap nasi keras yang diaduk dengan terasi bakar atau garam saja, saat tak ada sampah yang bisa ditukar Bapak ke pengepul. Atau saat tak ada dermawan membingkiskan sedekah makanan seperti Ch*ki yang sudah apek, sekilo kerang hijau saat bulan puasa sebelum Ucup lahir, maupun nasi berkat setiap Jumat akhir bulan.

Memikirkan hal itu seringkali membuat Kokom merasa sedih. Namun makin ia sedih, makin kuat keinginannya untuk menjadi pintar dari kesukaannya membaca. Sampai suatu sore, Kokom merasa bingung apakah ia terus membaca atau tidak.

Bapak pulang sambil marah-marah. Katanya, sampah plastik bekas kemasan makin sedikit. Kebanyakan yang ditemukan Bapak hanyalah popok sekali pakai atau pembalut dengan bau tak sedap dari darah menstruasi yang sudah mengering. Bapak jadi kesal bukan kepalang. Apalagi koran yang dipulungnya makin sering diambil Kokom untuk latihan membaca.

Mendengar Bapak berkeluh kesah tentang sampah plastik yang jumlahnya semakin berkurang, Kokom teringat selembar koran yang baru dibacanya kemarin. Ia mencari-cari dari tumpukannya lalu menyodorkan koran dengan tulisan Zero Waste.

Bapak merengut, bibirnya mencebik dengan kesal. Ia mengambil koran itu, membacanya sekilas dan merobeknya sampai kecil-kecil. Kokom tersedu. Padahal ia senang sekali tulisan dan gambar di robekan koran itu.

Ia tak paham mengapa koran bertuliskan Zero Waste tak disukai Bapak. Ia baru saja membaca tentang orang yang tidak lagi memakai pembungkus plastik dan menggantinya dengan kain. Ia juga baru tahu mengapa memakai tas plastik kini mulai dilarang pemerintah. Apakah hal itu ada hubungannya dengan Bapak marah-marah kepadanya?

Sambil mengumpulkan serpihan kertas koran yang disobek Bapak, Kokom teringat Ucup juga punya kertas brosur bertuliskan Zero Waste itu. Kokom mengendap-endap untuk mengambilnya ketika Ucup lengah, lalu menyodorkan kertas itu ke Bapak.

Bapak makin murka, ia marah kepada Kokom yang terus mengganggunya. Baru saja ia hendak menyobek kertas brosur itu, Ucup menjerit dan menyerang Bapak. Ibu menangis dan berusaha memisahkan, sementara Kokom berdiri gemetar ketakutan. Tak lama pipi Kokom memerah, bercetak bekas tamparan telapak tangan Bapak.


Malam itu Kokom bertanya pada diri sendiri. Apakah ia terus belajar membaca, meski tak segera menjadi pintar. Ia hanya mau tahu semakin banyak arti tulisan-tulisan di koran itu, sehingga kalau sewaktu-waktu Bapak marah atau menamparnya ia akan menjadi tahu alasannya.

***

Sejak kejadian itu, Kokom semakin sering berada di ‘sekolah’ tempatnya belajar sejak dulu. Walaupun Bapak berulang kali bilang kepadanya, sudah saatnya Kokom mulai membantu memulung, agar uang yang didapat mereka semakin banyak.

Kokom menolak. Setiap pagi ia cepat-cepat kabur dari rumah dan pulang menjelang petang. Tak apa ia kelaparan, asal bisa berada di ‘sekolah’. Kadang Bu Layla yang merasa kasihan, membagi kue yang dibawanya untuk mengganjal perut Kokom yang lapar.

Hal yang dicemaskan Kokom, bila sewaktu-waktu Bapak datang mencari untuk memaksanya ikut memulung. Ada dua kali kejadian seperti itu. Sekali Bapak berhasil menyeretnya untuk ikut memulung. Kali yang lain, Kokom berhasil sembunyi di belakang rumah Pak RT.

Kokom berteguh hati, tak mau menghilangkan kesukaannya untuk membaca. Walau ia tahu, sesampainya di rumah akan menjadi sasaran kemarahan Bapak. Setiap tamparan atau pukulan Bapak di bokongnya tak pernah membuatnya jera. Esok paginya ia segera menyelinap berangkat ke ‘sekolah’ lagi.

Sampai suatu hari Jumat pertengahan musim kemarau. Hari yang sampai saat ini masih lekat di ingatannya.

Kokom sedang berjalan kaki sepulang dari ‘sekolah’. Tiba-tiba semua orang berlarian sambil berteriak kebakaran. Dari tempatnya berdiri Kokom melihat kepulan asap dari arah rumahnya. Kokom sudah hendak berlari, saat ada tangan yang merengkuh bahunya cepat dan menariknya ke pinggir jalan, beberapa saat sebelum terjadi ledakan besar.

Dari tumpukan gunung sampah itu Kokom masih sempat melihat banyak benda-benda terlempar ke langit dan terpental ke segala arah. Kayu, plastik, botol, kain, semuanya mencelat ke mana-mana, sebelum kemudian pandangan Kokom mengabur.

Kokom terbangun saat didengarnya bunyi sirine dari truk pemadam kebakaran yang sudah berjejer di dekatnya. Orang-orang, lelaki maupun perempuan berlalu lalang, tetapi tak dilihatnya ada sosok Bapak, Ibu maupun Ucup.

Kokom memberanikan diri mendekat ke salah seorang petugas pemadam. Ia mengucapkan kata Bapak, Ibu dan Ucup. Petugas itu menggeleng tanda tidak tahu. Kokom menghampiri petugas lain, tetapi juga mendapatkan jawaban yang sama. Begitu seterusnya. Kokom mulai menangis dan merasa ketakutan. Badannya bergetar teramat keras dan akhirnya jatuh rebah ke lantai.

Saat terbangun untuk kedua kalinya, Kokom berada di ruangan berbau cairan pembersih, seperti bau kamar mandi di ‘sekolah’. Ia terbaring di atas dipan dengan jarum berisi cairan yang ditusukkan ke bagian atas telapak tangannya. Di sampingnya ada Bu Layla yang menatapnya dengan mata sembap, seperti habis menangis.

Kokom berusaha bangun, namun dicegah Bu Layla. Ketika mulut Kokom mengeluarkan kata-kata, Bapak, Ibu dan Ucup, Bu Layla menggeleng-geleng dan mulai menangis lagi.

Sambil terbata-bata Bu Layla bercerita, ia mendengar Mak Ijah masih menyaksikan Bapak berlari ke dalam rumah mereka untuk membantu Ibu yang bersusah payah menggendong Ucup yang tak mau keluar rumah. Namun, ketiganya tak pernah keluar saat ledakan demi ledakan itu terjadi. Mereka bertiga tewas terbakar, tanpa ada petugas pemadam yang bisa menyelamatkan.

Kokom hanya menatap Bu Layla tanpa bisa menangis. Ia terus duduk mematung, bahkan sampai Bu Layla pamit pulang.

***
Beberapa tahun kemudian.

Di panti sosial itu, Kokom masih suka membaca. Namun kini ia seperti mendiang Ucup, tak bisa berbicara. Ia hanya menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang, sambil sesekali tertawa atau menangis. Bu Layla sering datang berkunjung, untuk duduk di sampingnya. Sambil mengelus-elus rambut Kokom, Bu Layla akan menyodorkan koran-koran dan majalah yang bisa dibawanya.

Hari itu, di tangan Kokom tergenggam selembar kertas koran yang sudah menguning. Koran yang hampir robek karena sudah basah oleh tetesan air matanya. Bagian koran yang basah bertuliskan, kebakaran 12 hari di Bantargebang akhirnya padam.

Ya, seperti juga keinginan Kokom untuk berbicara.



Tulisan pertama di Rahma.id

https://instagram.com/stories/ivy_sudjana/2501571209291780187?utm_source=ig_story_item_share&igshid=17rsfyq1w2o52



Fun Flash Fiction 2020 – Nulis Aja Dulu

NAD_FFF20_Lanjutan

Hari_11

Tema_BunuhSajaAku!

Judul : ‘Membunuh’ Ibu
Jumlah kata : jelas lebih dari 100

[Apa….Negatif lagi…kurang apa coba treatment yang kau jalani??]
Suara Ibu yang pertama terdengar saat speaker handphone kunyalakan.
Aku terdiam.
Kebiasaan Ibu, hanya memahami hasil bukan proses. Tak tahu ia..betapa lelahnya aku menjalani segala terapi, demi mendapatkan buah hati.
[Nanti kau bisa diceraikan, Tya. Keluarga Hasto itu berharap keturunan untuk putra sulung mereka. Malu Ibu, punya anak kok mandul!!!]
Hasto menggelengkan kepala sambil berucap, tanpa suara. “Tidak akan!” Lalu ia memelukku yang sudah banjir air mata, penuh kasih sayang.
Speaker itu lalu menyuarakan Ibu, tanpa ada yang mendengarkan.

Itu setahun lalu. Setiap bulan setelahnya, ceramah Ibu tentang urgensi memiliki buah hati terus membombardir hari-hariku. Menyilet, menusuk, menohok semua kewarasanku sebagai anaknya.
Hasto paham betul kondisiku dan mengajukan sebuah rencana ‘gila’ yang melebihi keinginanku menghilangkan nyawa Ibu.
Katanya meyakinkan, “Ibumu memang toxic person, Tya. Tapi membunuh orang tua membuatmu berdosa berkali-kali lipat.”

Sampai akhirnya hari ini. Koper kami telah siap, untuk migrasi ke luar negeri. Bila tak mungkin Ibu yang kami buat pergi, aku dan Hasto yang memilih pergi.

======
Di pintu keberangkatan bandara, usai berpamitan.
Sepucuk surat bertuliskan tes DNA kuacungkan di hadapannya. Di sampingku, Hasto memeluk bahuku…erat.
“Ini buktinya Pak. Bukan hasil Hasto, anakmu; yang azoospermia kronis! Tapi kami akan merawatnya, sebagai anak kami sendiri. Baik-baik di Indonesia ya, Pak.”
Beliau melirik bayi di gendonganku, dengan mata berkaca-kaca.

Aku dan Hasto yakin, bila Ibu tahu hal ini;
Beliau akan teramat menyesal. Dulu tidak berhasil mengakhiri hidupku, dengan jamu penggugur kandungan; jauh sebelum lahir di dunia.

NAD_FFF20_H10

Tema_PenggerakKebaikan

Judul : Kemeja hitam putih
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Sejak pagi, aku dan Vivi bersemangat menyortir tumpukan baju para donatur.
Bangga kami, sebagai remaja bisa ikut berbuat kebaikan kayak gini.
“Itu ada dariku juga!” Aku menunjuk dus bekas air mineral. Vivi melirik sekilas.

Waktu berlalu.
Tibalah acara penyerahan bantuan untuk korban banjir bandang yang digalang sekolah kami.
Bu Wardah sebagai pembina OSIS telah mengingatkan dress code hitam putih untuk panitia.

Jelang acara berlangsung, Vivi belum muncul juga. Padahal ia pemegang kunci gudang.
Bu Wardah gelisah, menatapku bergantian dengan pintu masuk.

Menit-menit sebelum penyerahan simbolis, tampak Vivi membawa satu dus berpita.
Kemejanya hitam putih, yang sebelumnya ada dalam kardus donasiku.

NAD_FFF20_H9

Tema_CantikmuSiapHadapiDunia

Judul : Kecantikan Juliet
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Sejak kenal dulu, Juliet cantik dan pintar merawat tubuh.
Ia selalu fresh, glowing; dengan pakaian chic dan smart di tiap acara.

Bagaimana ia menata isi koper untuk bepergian ya?
“Eh..kok kepalamu pake kresek kayak mau ke pasar. Tunggu ada payung dong!”
“Cuma bawa jaket satu? Kayak aku nih.. tiap foto beda.”
“Ya ampun kulit dan bibirmu kelupasan…Sini pake skincareku!”
Aku membisu. Aku tahu, sebenarnya ia perhatian.

Tapi apa aku ingin secantik Juliet?
Kami seusia. Jabatan pun setara di NGO ini.
Cuma aku kalah cantik.
Hanya saja.. aku ditunggu suami dan anak-anak di rumah; sementara ia baru diperkarakan anak suami ketiganya.

NAD_FFF20_H8

Tema_Kebohongan

Judul : Tiga bulan
Jumlah kata : 99 (isi saja)

Wajah Bapak pucat.
Dilihatnya lagi lembaran kartu keluarga di genggaman. Maria Antionette, lahir 28 Mei 2003. Harusnya, aku — Maria lahir 28 Februari. Namun data itu dimanipulasi, demi restu pernikahan Bapak dan Ibu.

Jadi, aku sudah di perut Ibu 3 bulan saat Bapak bilang ke Eyang Tirto mau bertanggung jawab. Makanya, dengan selipan uang di bawah map, tanggal lahirku diubah di kelurahan.

Dan sekarang,
“Hanya yang sudah 17 tahun sebelum HUT perusahaan — 1 Maret, yang dapat tunjangan. Mensyukuri panjang umur perusahaan dan keinginan menunjang pendidikan lanjutan anak pegawai. Lumayan lho… 1,7 juta tunjangannya!!”

Bapak menatapku… yang duduk di sebelahnya, penuh penyesalan.

NAD_FFF20_H7 (yeayyy..masuk 10 besar hari ke 7 yg ini)

Tema_Putus

Judul : Kisah putus
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bak selebriti di sekolah, dari aktivis OSIS sampai yang pemalu tahu bila Pak Beno dan Bu Niki sedang bermasalah. Ramah ke siswa berarti baik-baik saja. Tapi kalau ketus, pasti bertengkar di rumah.

Gosipnya, Bu Niki tak tahan kelakuan genit Pak Beno. Berulang kali pergelangan tangannya dibalut, uji coba bunuh diri.
“Kok ga minum obat tidur aja…lebih ga sakit!!!”
“Ah..gantung diri aja, biar gentayangan!”
“Pssstttt….dosa ah…ngomongin niat mati gitu.”
Kelas menjadi ramai.

Aku…seperti biasa diam saja.
Mereka tak tahu, mobil kedua orang yang mereka bicarakan itu kuputus tali remnya tadi pagi.
Muak aku!!! Keduanya sukses memaksaku aborsi, bayiku dengan Pak Beno.

NAD_FFF20_H6

Tema_Mentok

Judul : Video terakhir
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Suara Pak Bardi menggelegar.
“Ayo jawab!!!! Apa lagi yang kau share, selain video perundungan itu?”
“Udah ga ada, Pak! Suwerrrr…”
“Bohong kamu! Kalau ga ada, kenapa semua heboh?”

Aku terus menggeleng.
Gigi Pak Bardi bergemeretuk, menahan marah untuk tidak memukul; yang beresiko dilaporkan ke KPAI.

Pak Bardi membujukku. “Coba cek lagi, Loka. Kalau jujur, diskors 3 hari. Kalau ga, kamu dirumahkan 1 semester.”

Aku jengkel. Toh anak lain berlaku sama, tapi mereka tidak diproses.
Sambil klak klik, kutoleh Pak Bardi.
“Itu yang terakhir, Pak.”
Dia segera melihat gawainya. Mukanya pucat pasi melihat rekaman dirinya bernafsu memeluk cium Dyah, ketua kelasku.

NAD_FFF20_H5

Tema_Mancakrida

Judul : Ada yang ngikut
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bapak dan Ibu tak pernah membolehkan kami anak-anaknya mancakrida. Alasannya bukan soal kesehatan, keamanan atau apa.
Sebagai kesayangan Bapak, aku merayunya.
“Pak, nanti dendanya bersih-bersih sekolah selama seminggu nih.”
Bapak tersenyum sinis, “Oh..itu lebih berguna!”
“Tapi kan awal masuk sudah bayar. Sayang uangnya!”
“Bapak ga peduli. Uang segitu ga masalah!”
Aku makin kesal.
“Emang mancakrida seburuk apa?”
Bapak menghela nafas, suara Ibu tiba-tiba menyeruak.
“Itu karena Bapak takut. Dulu…tiap kali mancakrida sama kantor, selalu ada yang ‘ngikut’ pulang lalu Bapak sakit.”
“Eh..siapa? Selingkuhan Bapak?”
“Pssst…ini tak kasat mata! Katanya…keluarga kita disukai ‘mereka’ di hutan dan gunung sana!!”
Aku bergidik. Ngeri.

NAD_FFF20_H4

Tema_Sosis

Judul : Sosis bakar
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Pasar malam dibuka lagi, setelah insiden kebakaran tahun lalu.
Seperti pengunjung lain, euforia menikmati keseruan bercampur cemas kalau-kalau bertemu sosok gentayangan korban insiden.

Hari makin larut, kakiku dan Anto teramat penat. Tapi rasa lapar tak tertahan.
“Na, nyari jajanan yuk? Laper nih!” Aku mengiyakan.
Segera kami ke area makanan.
“Bu, sosis bakarnya dua.” Ucapanku terhenti dengan colekan Anto dan arah kepalanya ke pengemis anak, entah dari mana. Baju lengan panjang dan rambutnya abu gelam kehitaman.
“Oh…jadi tiga, Bu.”
Si anak kini mencolekku. Dia menggeleng dan menggulung lengan panjangnya. Tampak luka bakar merah dan meleleh; seperti sosis yang dibakar si ibu.

NAD_FFF20_H3

Tema_Serdawa

Judul : Bapak pulang
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Bapak positif. Berkali-kali mengirim pesan, ingin pulang dan dirawat di rumah. Sampai di gawaiku pesan berlipat ganda. Tentu dari Ibu.
[Pulang dik, Bapak ingin kamu di rumah saat Beliau pulang]

Sayang, pesawatku baru ada kemarin.
Bersamaan selesainya pemakaman Bapak.

Kini rumah kosong. Seluruh keluarga sibuk mengurus ini itu. Aku dibiarkan beristirahat. Hatiku kacau, mataku sembab, tapi kantuk efek jetlag tak tertahan lagi.

Kursi makan berderit, keran wastafel mengalir. Aku seperti daydreaming. Siapa yang pulang?
Lalu, ada denting sendok piring di meja makan. Apa ini? Aku terlalu cemas membuka mata.
Tiba-tiba, eeegghhh…enaknya!
Tuhan…itu serdawa Bapak!
Ia memberitahu, sudah pulang ke rumah.

NAD_FFF20_H2

Tema_Botol

Judul : Tujuh botol
Jumlah kata : 100 (isi saja)

Dretttt…
Telepon genggamku berbunyi lagi.
[Ya..baru landing. Udah di Uber]
Setengah jam kemudian, gedung bertuliskan Rumah Duka Cahya Abadi di hadapan.

Hawa panas menyambut, bersama Mela dengan mata sembabnya.
“Ayo Koh, tinggal kamu. Semua menunggu.”

Langkahku terhenti depan peti. Mama menatapku dengan ekspresi tak terbaca.
Mela menyodorkan botol 4711 untuk dipercikkan dalam peti. Aku menggelengkan kepala dan mengangkat sekresek plastik.
Kupercikkan satu persatu 4711 yang kubawa.

“Gou le..gou le. Bu yung zai dao le*…hik..hik.”
Suara mama menghentikanku.
Tepat di botol ketujuh; sama seperti jumlah botol arak yang dihantamkan almarhum Papa ke kepala dan badanku, saat kutampar usai memaki Mama ‘Lonte’.

=====
terjemahan dari ibu saya.
*Cukup…cukup. Tak perlu dituang lagi

NAD_FFF20_H1

Tema_Pantai

Judul : Bapak, kondom dan aku
Jumlah kata : 98 (hanya isi)

“Anak-anak, coba jelaskan apa saja yang kita bisa temukan di pantai?”
“Pasir, Bu.”
“Ombak.”
“Air laut.”
“Kerang.”
“Renang, Bu.”
“Bikini.”
Semua anak tergelak.
Kelas menjadi riuh. Bu Guru mengetuk penggaris untuk mendiamkan.
Hanya aku yang belum memberi jawaban.
“Tita, kok diam saja?” tanya Bu Guru.
Semua anak menatapku.

“Bapak dan kondom, Bu.”
Beberapa anak spontan tergelak lalu senyap.
“Maksudmu apa?” Bu Guru berusaha biasa saja.

Aku menatap papan tulis. Suaraku lantang saat berucap, “Ibu ketemu Bapak yang lagi surfing di pantai, tempat jualan lumpia. Lalu mereka peluk cium gitu, tapi kondom yang dipakai Bapak bocor, dan jadilah aku.”