yukberbagi!


#NAD_Battle 2021 – Narasi

Tulisan ini terinspirasi dari perilaku Arsa-sulungku yang autistik-semasa kecil.
Luv u kid, always!

#NAD_BATTLE_CHALLENGE7
#Pasukan_Asterix
#Narasi
#Bantargebang

Kisah-kisah Kaum Terpinggirkan
Judul : Padam
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 2485 kata

Anak perempuan bertubuh kecil dengan potongan rambut tak beraturan itu sedang asyik melihat-lihat kertas koran di hadapannya. Kertas itu bagaikan pemuas rasa ingin tahu dan sangat berharga baginya. Berjarak semeter darinya anak lelaki kecil dengan kepala plontos sedang membungkuk dan asyik menatap kertas-kertas juga. Yang berbeda, kertas yang dilihatnya tampak lebih mengilap.

Di dekat mereka seorang perempuan berdaster panjang dengan tambalan di sana sini tampak asyik memerhatikan. Perempuan bernama Rodiah, yang juga Ibu mereka, mengamati sekaligus berjaga-jaga agar mereka tidak saling menganggu. Tanpa terasa air mata telah menganak sungai di pipi Rodiah. Ia dan suaminya belum mampu membelikan mainan untuk kedua anaknya. Jadi dibiarkannya mereka bermain-main dengan benda seadanya.

Sang anak perempuan, yang diberi nama Kokom menghampiri Rodiah dan mengusap air matanya. Tak lama kemudian, sang bocah lelaki ikut juga menghampiri sambil menggenggam kertas-kertas mengilap-yang kemudian diketahui bernama brosur-di tangannya. Kokom menadahkan tangan ke bocah yang dipanggilnya Ucup itu. Namun, permintaannya dibalas dengan gigitan Ucup di dekat siku. Kokom langsung menjerit kesakitan lalu tersedu sedan di pojokan.

Bukan sekali ini saja ia digigit Ucup. Setiap kali Kokom bermaksud melihat brosur, Ucup langsung menyerang dan menggigitnya. Biasanya suasana baru tenang ketika Pak Rojali-bapak mereka-datang menyodorkan kertas koran dan brosur ‘baru’ dari tumpukan barang yang dipulungnya.

Dulu, sebelum Ucup tergila-gila dengan brosur, ia selalu mengganggu Kokom dengan merebut koran kesayangannya. Walau pertengkaran mereka akan berakhir dengan Kokom yang dipaksa Pak Rojali dan Bu Rodiah untuk bersikap mengalah hanya karena lebih tua, tetapi sampai kapanpun Kokom tak akan begitu saja melepaskan tumpukan koran miliknya. Seperti juga Ucup yang begitu sayang dengan kertas brosur sehingga bisa menyerang setiap orang yang akan mengambilnya.

***

Kesukaan Kokom akan koran bermula sejak Ucup belum ada di tengah-tengah mereka. Suatu hari, Kokom yang belum genap enam tahun diajak beberapa perempuan lain sepantar ibunya. Ia ditanya apakah mau bersekolah. Kokom tak tahu benda apa atau tempat apa yang disebut sekolah.

Ketika akhirnya ia datang ke sebuah rumah bagus-berdinding tembok berwarna hijau- yang kemudian diketahui rumah orang yang dipanggil Pak RT, ia menebak itulah yang dinamakan sekolah. Kokom melihat hamparan tikar di lantai bersama benda-benda yang kata ibu-ibu itu disebut buku.

Kokom terpesona, matanya berbinar-binar seperti kemarin saat Bapak pulang membawa sebungkus Ch*ki yang baunya sudah apek begitu dibuka. Bapak bercerita, ada beberapa orang yang datang dengan mobil barang lalu membuang sekarung besar dengan ratusan bungkus Chiki di dalamnya ke salah satu pojok Bantargebang. Kebetulan Bapak sedang berada di dekat situ, memilah plastik kemasan minyak goreng-yang katanya paling laku di pengepul-untuk disusun dan dijahit menjadi tas belanja transparan oleh pengrajin.

Semua pemulung segera memperebutkan isi karung itu, termasuk Bapak yang mendadak meninggalkan tumpukan plastik kemasan yang sudah ia kumpulkan. Ketika berhasil merebut satu bungkus Ch*ki untuk Kokom, Bapak nyaris kehabisan napas. Untung saja kemasannya tidak sobek sehingga isi Ch*ki itu tidak berhamburan.

Kokom kaget, ketika seorang ibu menggamit tangannya. Ingatan tentang cerita Bapak dan Ch*ki buyar sudah. Ibu itu menuntunnya untuk duduk di atas tikar dan mulai menyodorkan salah satu buku. Ia membukakan lembar demi lembar buku untuk dilihat Kokom. Namun gerakan tangan ibu itu terlalu cepat, melebihi kecepatan mata Kokom memindai gambar di dalam buku. Baru saja Kokom melihat gambar ayam, lembar buku sudah berpindah ke gambar sapi. Baru Kokom melihat bahwa sapinya sapi betina, Ibu itu sudah membalik lembar buku dan kini menunjukkan gambar manusia.

Kokom menarik-narik ujung kerudung Ibu yang terasa lembut di tangan dan warna birunya mengingatkan Kokom pada langit Bantargebang saat hari cerah. Ibu itu segera menoleh ke arahnya dan tersenyum. Jari telunjuk Kokom menunjuk ke sampul buku dan menekan bagian huruf-huruf. Ibu itu menatap Kokom dengan cermat lalu mulai tertawa. Ia merangkul bahu Kokom dan memulai lagi menunjukkan buku dari awal. Bibirnya menyuarakan kalimat, pertemanan antara ayam dan sapi. Kokom mengangguk-angguk, antara mendengarkan suara Ibu dan melihat bentuk huruf yang sejak saat itu mulai ia patri dalam ingatannya.

Kata ayam memiliki empat huruf, tetapi sapi juga. Oh, ternyata pada kata ayam ada dua huruf a, tetapi kata sapi hanya satu huruf a. Bahwa kata manusia itu lebih banyak hurufnya. Demikianlah awal Kokom belajar mengenal huruf, sekaligus mengenali kata dan bunyinya.

Sejak saat itu Kokom tertarik mengenali huruf, merangkai dan membacanya menjadi kata. Setiap kertas yang dibawa Bapak pulang memulung selalu menjadi incarannya. Dipandanginya huruf-huruf baru, dibacanya kata-kata baru. Dengan bangganya Kokom menunjukkan bisa mengenali, membaca huruf dan kata itu kepada Bu Guru di ‘sekolah’-yang lalu diketahuinya-bernama Bu Layla.

Bu Layla sering mengatakan kepadanya bahwa ia anak yang cerdas dan rajin belajar. Kokom dipuji bisa cepat membaca hanya dari robekan koran bekas dan mengetahui banyak kata-kata baru meski tak memahami artinya.

Kokom pernah meminta kepada Bapak untuk membelikan satu saja buku, tetapi Bapak hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak memiliki cukup uang untuk membelikan Kokom buku, apalagi istrinya sedang hamil calon adik Kokom. Akan banyak uang untuk rutin memeriksakan Bu Rodiah ke Bidan. Akhirnya Pak Rojali mulai mengikhlaskan tindakan Kokom mengambil sebagian korannya setiap pulang dari memulung tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari robekan koran bekas itu, Kokom menemukan kesenangan baru. Ia melihat gambar-gambar dengan tulisan-tulisan. Timbul rasa senang membayangkan nikmatnya makanan pada foto di sana, meski ia sedang makan nasi yang diaduk dengan garam buatan Ibu. Dari koran pula, ia tahu ada begitu banyak jenis makanan, seperti yang dibawa Bapak pulang memulung saat bulan puasa waktu itu.

Bapak tiba-tiba membawa pulang sekantung kerang hijau, yang katanya dibagi-bagi seorang pengusaha untuk penghuni Bantargebang berbuka puasa. Kata Bapak, yang disedekahkan namanya sea food yang berarti makanan dari hewan laut. Setiap orang boleh memilih seekor ikan atau dua potong cumi-cumi ukuran sedang, atau sekeranjang kerang. Pada akhirnya, Bapak memilih sekeranjang kerang hijau, yang diyakini akan memuaskan perut mereka bertiga.

Cahaya di mata Kokom begitu berkilauan melihat tumpukan kerang hijau yang tadinya hanya ia lihat di koran saja. Sebenarnya ia berharap bisa melihat juga sea food lain yang disedekahkan, tetapi ia terlalu takut menyampaikan permintaan itu kepada Bapak.

Sesudah kerang hijau itu dibersihkan air seadanya dan direbus, mereka bertiga makan dengan lahap. Ibu yang perutnya makin besar dengan selera makan yang juga ikut membesar, sampai menghabiskan dua piring. Kokom beberapa kali tampak tersedak karena ada butiran halus pasir yang mungkin terikut saat dimasak.

Bapak menuduh Kokom makan terlalu cepat sementara Ibu tidak peduli karena asyik memuaskan rasa laparnya. Sekilo kerang hijau rebus hasil sedekah itu, bahkan masih bisa disimpan untuk bekal sahur mereka.

Walau Kokom merasa senang akhirnya bisa juga mencicipi yang namanya sea food, ia menjadi bingung kemudian saat mendengar kata-kata Mak Ijah-tetangga mereka sekaligus bidan kampung-yang membantu kelahiran Ucup. Mak Ijah spontan memarahi Ibu, ketika mengetahui Ibu pernah berbuka puasa dengan kerang hijau saat sedang hamil. Kerang hijau paling beracun, katanya menakut-nakuti. Jadi kalau nantinya Ucup menjadi bayi yang aneh, itu murni kesalahan Bapak dan Ibu.

Kokom kaget, berusaha mengerti kata-kata itu. Makan kerang hijau akan menjadikan Ucup, adiknya aneh? Mengapa? Pertanyaaan Kokom tak pernah terjawab, dan tak pernah juga ia temukan jawabannya di robekan koran bekas miliknya.

Lama kelamaan rasa ingin tahu Kokom tentang hubungan kerang hijau dan keanehan Ucup terkikis. Berganti dengan kekesalannya akan kerewelan Ucup. Bukan karena adiknya dibilang aneh sama Mak Ijah. Bukan juga karena orang tuanya jadi tak sayang kepadanya, melainkan Ucup bayi yang cengeng. Kokom sampai sering menyumbat telinganya dengan kain gombal saat tidur, karena Ucup menangis terus hampir setiap malam.

Ketika Ucup kian bertambah besar, keanehannya bertambah. Kalau sedang kesal, Ucup bisa mendatangi Kokom lalu menggigit tangan atau kakinya. Kini giliran Kokom yang menangis. Namun, bukannya dibela malah ia yang dimarahi Bapak dan Ibu. Ia dibilang kakak yang jahat dan dianggap tak menyayangi adiknya. Kokom kesal bukan kepalang.

Kokom berusaha mengerti tingkah laku Ucup. Ia mengira-ngira karena adiknya belum bisa bicara. Ia hanya bersuara ga-ga untuk menyatakan tidak, atau uh-uh untuk menunjuk barang yang diinginkannya saat meminta sesuatu.

Saat bersama Kokom, Ucup lebih memilih berkomunikasi dengan menarik rambutnya, menggigit tangan atau kakinya untuk kemudian merebut satu-satunya ‘harta’ Kokom yang berharga. Koran!

Kokom merasa kesal, dan berkali-kali hendak bermain di luar rumah saja. Ibu tidak suka dengan keinginannya itu. Bapak pun setuju dengan Ibu dan berkata kepada Kokom bahwa ia harus membantu Ibu di rumah. Ia hanya boleh keluar untuk ke ‘sekolah’, bukan bermain-main saja. Agar aman dari gangguan Ucup, Kokom akhirnya memilih bersembunyi di sebelah lemari untuk membaca koran-koran miliknya.

Sampai suatu hari jalan keluar pertengkaran Kokom dan Ucup seperti menemui titik terang. Di antara tumpukan koran bekas hasil Bapak memulung, terselip kertas-kertas licin mengilap yang tertera gambar barang-barang maupun makanan yang seketika menarik perhatian Ucup. Dengan berjalan tertatih-tatih, Ucup mengambil kertas-kertas itu lalu disusun berbaris-baris di lantai.

Sejak saat itu Ucup seperti menemukan mainan baru. Ia selalu menggenggam dan membawanya ke mana-mana. Bahkan Kokom pun tidak boleh melihat apalagi meminjamnya. Beberapa luka bekas gigitan di tangan Kokom menjadi pengingat untuk tak sembarangan lagi melihat brosur milik Ucup.

Kokom merasa lega karena bebas dari gangguan Ucup. Ia makin sibuk belajar membaca. Bukan supaya pintar, karena ia tahu tidak bisa sepintar anak-anak berkalungkan medali di dalam foto yang memiliki tulisan ‘Juara’ di salah satu robekan koran miliknya. Ibu pernah menjelaskan, juara itu sebutan untuk anak yang pintar karena rajin belajar. Oleh karena itu, anak itu dikalungkan medali.

Kokom mulai berpikir, apa mungkin ia bisa sepintar anak di dalam foto? Tubuh anak itu gemuk, pipinya tembam, rambutnya berkilauan, berkebalikan dengan dirinya. Tubuhnya kurus, pipi tirus dan rambutnya kering bagaikan sapu ijuk.

Kokom yakin makanan anak itu dan dirinya berbeda. Sedari kecil ia hanya menyantap nasi keras yang diaduk dengan terasi bakar atau garam saja, saat tak ada sampah yang bisa ditukar Bapak ke pengepul. Atau saat tak ada dermawan membingkiskan sedekah makanan seperti Ch*ki yang sudah apek, sekilo kerang hijau saat bulan puasa sebelum Ucup lahir, maupun nasi berkat setiap Jumat akhir bulan.

Memikirkan hal itu seringkali membuat Kokom merasa sedih. Namun makin ia sedih, makin kuat keinginannya untuk menjadi pintar dari kesukaannya membaca. Sampai suatu sore, Kokom merasa bingung apakah ia terus membaca atau tidak.

Bapak pulang sambil marah-marah. Katanya, sampah plastik bekas kemasan makin sedikit. Kebanyakan yang ditemukan Bapak hanyalah popok sekali pakai atau pembalut dengan bau tak sedap dari darah menstruasi yang sudah mengering. Bapak jadi kesal bukan kepalang. Apalagi koran yang dipulungnya makin sering diambil Kokom untuk latihan membaca.

Mendengar Bapak berkeluh kesah tentang sampah plastik yang jumlahnya semakin berkurang, Kokom teringat selembar koran yang baru dibacanya kemarin. Ia mencari-cari dari tumpukannya lalu menyodorkan koran dengan tulisan Zero Waste.

Bapak merengut, bibirnya mencebik dengan kesal. Ia mengambil koran itu, membacanya sekilas dan merobeknya sampai kecil-kecil. Kokom tersedu. Padahal ia senang sekali tulisan dan gambar di robekan koran itu.

Ia tak paham mengapa koran bertuliskan Zero Waste tak disukai Bapak. Ia baru saja membaca tentang orang yang tidak lagi memakai pembungkus plastik dan menggantinya dengan kain. Ia juga baru tahu mengapa memakai tas plastik kini mulai dilarang pemerintah. Apakah hal itu ada hubungannya dengan Bapak marah-marah kepadanya?

Sambil mengumpulkan serpihan kertas koran yang disobek Bapak, Kokom teringat Ucup juga punya kertas brosur bertuliskan Zero Waste itu. Kokom mengendap-endap untuk mengambilnya ketika Ucup lengah, lalu menyodorkan kertas itu ke Bapak.

Bapak makin murka, ia marah kepada Kokom yang terus mengganggunya. Baru saja ia hendak menyobek kertas brosur itu, Ucup menjerit dan menyerang Bapak. Ibu menangis dan berusaha memisahkan, sementara Kokom berdiri gemetar ketakutan. Tak lama pipi Kokom memerah, bercetak bekas tamparan telapak tangan Bapak.


Malam itu Kokom bertanya pada diri sendiri. Apakah ia terus belajar membaca, meski tak segera menjadi pintar. Ia hanya mau tahu semakin banyak arti tulisan-tulisan di koran itu, sehingga kalau sewaktu-waktu Bapak marah atau menamparnya ia akan menjadi tahu alasannya.

***

Sejak kejadian itu, Kokom semakin sering berada di ‘sekolah’ tempatnya belajar sejak dulu. Walaupun Bapak berulang kali bilang kepadanya, sudah saatnya Kokom mulai membantu memulung, agar uang yang didapat mereka semakin banyak.

Kokom menolak. Setiap pagi ia cepat-cepat kabur dari rumah dan pulang menjelang petang. Tak apa ia kelaparan, asal bisa berada di ‘sekolah’. Kadang Bu Layla yang merasa kasihan, membagi kue yang dibawanya untuk mengganjal perut Kokom yang lapar.

Hal yang dicemaskan Kokom, bila sewaktu-waktu Bapak datang mencari untuk memaksanya ikut memulung. Ada dua kali kejadian seperti itu. Sekali Bapak berhasil menyeretnya untuk ikut memulung. Kali yang lain, Kokom berhasil sembunyi di belakang rumah Pak RT.

Kokom berteguh hati, tak mau menghilangkan kesukaannya untuk membaca. Walau ia tahu, sesampainya di rumah akan menjadi sasaran kemarahan Bapak. Setiap tamparan atau pukulan Bapak di bokongnya tak pernah membuatnya jera. Esok paginya ia segera menyelinap berangkat ke ‘sekolah’ lagi.

Sampai suatu hari Jumat pertengahan musim kemarau. Hari yang sampai saat ini masih lekat di ingatannya.

Kokom sedang berjalan kaki sepulang dari ‘sekolah’. Tiba-tiba semua orang berlarian sambil berteriak kebakaran. Dari tempatnya berdiri Kokom melihat kepulan asap dari arah rumahnya. Kokom sudah hendak berlari, saat ada tangan yang merengkuh bahunya cepat dan menariknya ke pinggir jalan, beberapa saat sebelum terjadi ledakan besar.

Dari tumpukan gunung sampah itu Kokom masih sempat melihat banyak benda-benda terlempar ke langit dan terpental ke segala arah. Kayu, plastik, botol, kain, semuanya mencelat ke mana-mana, sebelum kemudian pandangan Kokom mengabur.

Kokom terbangun saat didengarnya bunyi sirine dari truk pemadam kebakaran yang sudah berjejer di dekatnya. Orang-orang, lelaki maupun perempuan berlalu lalang, tetapi tak dilihatnya ada sosok Bapak, Ibu maupun Ucup.

Kokom memberanikan diri mendekat ke salah seorang petugas pemadam. Ia mengucapkan kata Bapak, Ibu dan Ucup. Petugas itu menggeleng tanda tidak tahu. Kokom menghampiri petugas lain, tetapi juga mendapatkan jawaban yang sama. Begitu seterusnya. Kokom mulai menangis dan merasa ketakutan. Badannya bergetar teramat keras dan akhirnya jatuh rebah ke lantai.

Saat terbangun untuk kedua kalinya, Kokom berada di ruangan berbau cairan pembersih, seperti bau kamar mandi di ‘sekolah’. Ia terbaring di atas dipan dengan jarum berisi cairan yang ditusukkan ke bagian atas telapak tangannya. Di sampingnya ada Bu Layla yang menatapnya dengan mata sembap, seperti habis menangis.

Kokom berusaha bangun, namun dicegah Bu Layla. Ketika mulut Kokom mengeluarkan kata-kata, Bapak, Ibu dan Ucup, Bu Layla menggeleng-geleng dan mulai menangis lagi.

Sambil terbata-bata Bu Layla bercerita, ia mendengar Mak Ijah masih menyaksikan Bapak berlari ke dalam rumah mereka untuk membantu Ibu yang bersusah payah menggendong Ucup yang tak mau keluar rumah. Namun, ketiganya tak pernah keluar saat ledakan demi ledakan itu terjadi. Mereka bertiga tewas terbakar, tanpa ada petugas pemadam yang bisa menyelamatkan.

Kokom hanya menatap Bu Layla tanpa bisa menangis. Ia terus duduk mematung, bahkan sampai Bu Layla pamit pulang.

***
Beberapa tahun kemudian.

Di panti sosial itu, Kokom masih suka membaca. Namun kini ia seperti mendiang Ucup, tak bisa berbicara. Ia hanya menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang, sambil sesekali tertawa atau menangis. Bu Layla sering datang berkunjung, untuk duduk di sampingnya. Sambil mengelus-elus rambut Kokom, Bu Layla akan menyodorkan koran-koran dan majalah yang bisa dibawanya.

Hari itu, di tangan Kokom tergenggam selembar kertas koran yang sudah menguning. Koran yang hampir robek karena sudah basah oleh tetesan air matanya. Bagian koran yang basah bertuliskan, kebakaran 12 hari di Bantargebang akhirnya padam.

Ya, seperti juga keinginan Kokom untuk berbicara.



Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”
Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”
Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.
Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi.

Seringkah kita menemui obrolan anak-anak dengan muatan semacam itu sehari-hari? Mengandung stereotip dalam memandang orang lain. Bila menjawab sering, lalu apakah stereotip itu?

Menurut kbbi, ste·re·o·tip /stéréotip/ 2 n merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Jadi secara sederhana, stereotip lebih mengarah pada prasangka dan patut diragukan kebenarannya.

Lalu apakah kasus di bawah ini termasuk di antaranya? Seorang ibu bercerita, sebuah insiden di sebuah tempat ibadah. Ada beberapa anak yang berteriak mengejek saat melihat anak dari salah satu pulau di timur Indonesia. “ih ireng banget koyo tai… njijiki… hih tai kok neng grejo.”
(ih hitam banget kayak kotoran/tai, menjijikkan, hih tai kok ada di gereja)
Ibu ini begitu geramnya, namun tak berkuasa apa.

Berprasangka kepada yang berbeda dengan kita, biasa diawali dengan melakukan body shaming, seperti, ujaran “Moko kulitnya item banget, kalo mati lampu ga bakal kelihatan.” Atau “Sucen matanya sipit, kalo ketawa cuma satu garis aja.”; mungkin biasa terjadi sehari-hari. Pertama mungkin dari ciri fisik seseorang, lama kelamaan berkembang menjadi prasangka subjektif tentang karakter khas sebuah suku, ras atau bangsa tertentu.

Awalnya hanya bercanda, selanjutnya sengaja menyindir, dan kalau dilakukan berkali-kali, sama saja dengan mengolok-olok yang cenderung menghina. Contoh ucapan yang ditujukan pada seorang yang sejak kecil pintar berwirausaha. “Ahhh, pasti dia Cina atau Padang. Apa-apa dijadiin duit. Apa-apa didagangin.” Atau ucapan. “Males deh temenan sama dia. Lambat banget ngapa-apainnya. Psst… orang Jawa sih.” Atau, “Jangan temenan ah sama dia. Kan orang Timor, bawaannya marah mulu.”

Hal apa yang sebenarnya mendorong seorang anak melakukan tindakan stereotip? Dan apakah benar sikap orang tua atau bahkan pola orang tua asuh ternyata menyuburkan tindakan tersebut?

Asmiati Malik dari Universitas Bakrie dan Andi Muthia Sari Handayani dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu mengungkapkan stereotip terbentuk dalam proses pembentukan karakter dari individu sejak kecil dan kemudian melekat secara alamiah di bawah otak tidak sadarnya.

Pendapat yang lebih detail diungkapkan Erin N. Winkler, professor dan Kepala Departemen Afrology di Universitas of Wisconsin-Milwaukee. Beliau mempelajari bagaimana anak-anak membentuk gagasan mereka tentang ras selama tahap awal perkembangan.

Ketika anak-anak mulai mencari tahu dan belajar membedakan bentuk dan warna, mereka juga mulai mengamati perbedaan yang terlihat di antara orang-orang dan membedakan identitas mereka sendiri, termasuk konsep rasial.

Winkler juga mengulas bagaimana bayi berusia 3 sampai 6 bulan dapat secara non-verbal mengkategorikan orang menurut karakteristik ras, lalu anak-anak berusia 2 tahun dan seterusnya dapat menggunakan kategori ini untuk “bernalar” tentang perilaku orang.

Secara perkembangan, normal bagi anak prasekolah untuk memperhatikan dan bertanya tentang perbedaan warna kulit dan ciri-ciri lainnya, terutama karena anak usia 3 sampai 5 tahun sering belajar mengkategorikan segala macam hal. Besar kecil, tinggi pendek, hitam putih, cantik jelek, dan seterusnya.

Anak-anak bahkan dihadapkan pada stereotip rasial secara terbuka, melalui buku, majalah, televisi dan pengalaman mereka di lingkungan. Bagi anak-anak di usia ini, apa yang terjadi dan ada di sekitarnya mengundang rasa ingin tahu.

Jadi ketika mereka memperhatikan sebuah sikap atau perilaku sebagai pola, lalu mereka tidak mendapatkan penjelasan mengapa pola-pola ini ada, mereka menyimpulkan bahwa memang begitulah seharusnya bersikap.

Inilah sebabnya sikap orang dewasa yang tak mau terbuka mendiskusikan tentang ras bisa dianggap mendorong anak untuk memiliki prasangka kepada temannya atau orang lain.

Lalu, apakah mudah mendiskusikan hal ini dengan anak-anak dan sebaiknya di usia berapa kita membicarakan hal ini. Beberapa orang tua khawatir tentang mengenalkan masalah seperti diskriminasi pada usia dini. Yang lain enggan membicarakan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya mereka pahami atau tidak nyaman untuk dibahas. Namun bagi mereka di keluarga yang pernah mengalami perlakuan pembedaan berdasarkan stereotip, tentu tidak memiliki pilihan seperti itu.

Pembicaraan tentang stereotip, rasisme dan diskriminasi mungkin terlihat berbeda untuk setiap keluarga. Meskipun tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua, panduannya sebenarnya sama. Semakin dini orang tua memulai percakapan dengan anak-anak mereka, semakin baik.

Menurut Unicef, usia anak yang cukup baik untuk diajak berdiskusi tentang hal ini, ternyata usia balita. Pada usia ini, anak-anak mungkin mulai memperhatikan dan menunjukkan perbedaan pada orang yang mereka lihat di sekitar mereka. Seperti pada contoh yang dialami Dydy saat TK di awal cerita.

Lalu apa saja langkah-langkah kita sebagai orang tua mengajarkan hal ini? Apalagi sudah dipastikan bahwa orang tua lah yang meletakkan dasar dari bagaimana anak-anak bersikap kepada orang yang ‘berbeda’.

Unicef sempat menyusun panduan seperti selalu mengajak anak mengenali dan mensyukuri perbedaan dengan sering mengajak anak play date dengan teman dari berbagai keluarga, selalu terbuka terhadap pertanyaan dan keraguan anak-anak saat menghadapi orang yang berbeda, selalu berusaha memfasilitasi dengan bersama-sama membaca buku anak-anak maupun menonton bersama serial Upin Ipin atau sejumlah film Disney seperti Mulan, Brave, Frozen, Wreck it Ralph, Monster’s Inc., dan Shrek yang banyak memberi contoh tentang stereotip dan keberagaman.

Dan termasuk mengajak anak ke pekan budaya atau festival seni untuk mengenalkan betapa berwarnanya lingkungan sekitar kita.

Namun, kuncinya kembali lagi ke orang tua, yang sejatinya adalah ‘pintu’ anak mengenal apa-apa di dunia. Ingatlah untuk mempraktikkan selalu apa yang kita katakan.
Kita mungkin mengajari anak-anak tentang tak boleh membeda-bedakan teman termasuk bersikap toleran. Namun jika mereka mendengar kita berbicara negatif tentang orang yang berbeda, jangan kaget jika mereka akan meniru kita.

Anak-anak akan sering mempraktikkan apa yang mereka lihat dan dengar sebagai kebalikan dari apa yang diajarkan. Inilah sebabnya mengapa anak-anak lebih cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat ketika mereka melihat kita mempraktikkan toleransi dan menerima orang lain apa adanya.

Ini PR besar saya juga untuk Dydy untuk tidak bersikap stereotip dan diskriminatif, termasuk mulai mengajarkannya untuk bersikap asertif saat ada teman yang membeda-bedakan dirinya.

Tak mudah, perlu proses, perlu keteladanan dari kami orang tuanya; tapi bukan berarti tak bisa kan?


Referensi : https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/explainer-ilmu-psikologi-menjelaskan-bagaimana-rasisme-terbentuk-dan-bertahan-di-masyarakat-140071
https://www.wiscontext.org/how-kids-learn-about-race-stereotypes-and-prejudice
https://www.unicef.org/parenting/talking-to-your-kids-about-racism
http://www.aldenhabacon.com/13-tips-how-to-talk-to-children-about-diversity



Miss Klakson dan Santun Berkendara
18/03/2010, 4:12 pm03
Filed under: ngalamin sendiri | Tags: , , , , , ,

Saya kapok belajar motor. Bekas luka bakar didekat mata kaki telah mengurangi keseksian kaki saya. Namun, tinggal di Bali di mana angkot hanya beroperasi di area terbatas, ketidakmampuan berkendara Honda (sebutan untuk motor di Bali) kemudian menjadi hambatan terbesar untuk beraktivitas.

Tumbuh dan besar di Jakarta dengan segala jenis dan bentuk kendaraan umum, menjadikan saya gagap mengemudikan motor. (mungkin juga berlaku untuk semua perempuan yang tumbuh di kota besar). Lebih PD naik bajaj atau berdesakan di metromini atau bis daripada menyalip semua itu dengan motor. Nah begitu pindah ke Bali…nggak bisa naik motor sama dengan nggak bisa ke mana-mana.

Untung saya bisa menyetir. Biar musti belajar lancar (istilah untuk kursus dan tambahan latihan sendiri)…toh akhirnya kemana-mana saya ditemani si Hitam aka mobil saya. Biar belum semahir sopir angkot atau bis malam, yah minimal si kecil dan omanya merasa aman kalo disupirin saya…..:-)

Tapi….jalanan Bali sudah kayak rimba. Tempat belantara anak ingusan belajar Honda, sampai ibu-ibu yang akrobatik bawa dagangan sekalian anak-anaknya. Pfuhhhh…kalau nggak lihai menyalip, pintar nge-rem dan yang paling utama…pintar menahan emosi, UGD sudah menanti. Makanya…klakson tiba-tiba jadi jimat segala bencana….

Ada ibu menganan-nganan (maksudnya naik motor senengnya di posisi sebelah kanan)…klakson
Ada cewek sibuk handphonan sambil naik motor….klakson
Ada anak-anak naik sepeda ke kiri dan ke kanan asik lenggang lenggok….klakson
Ada ibu keluar gang, nyelonong saja….klakson baca selanjutnya