yukberbagi!


#NAD_Battle 2021 – History fiction
13/05/2021, 4:12 pm05
Filed under: fiksi | Tags: , , , , , , ,

#NAD_BATTLE_2021

#PASUKAN_ASTERIX

#CHALLENGE_1

Jumlah kata: 1299

Musim Gugur di Warsawa

(Dia yang Memilih Mati Sebelum Perang Dimulai)

Dini hari yang dingin. Semalam suhu turun di bawah sepuluh derajat. Joseph merapatkan mantel wol menutupi seragamnya. Di depannya, beberapa baris orang berbaju motif garis-garis berjalan melawan angin yang menderu. Meski tak sekencang biasanya, embusan angin telah membuat gemeretuk gigi silih berganti dengan gesekan langkah kaki dan guguran daun maple di musim gugur tahun itu.

Tentu bukan bunyi-bunyian yang indah di telinga Joseph. Bukan pertama kalinya, ia menggiring remaja-remaja ini masuk ke Sachsenhausen -kamp konsentrasi untuk tahanan politik dan kaum Yahudi- berjarak tigapuluh empat kilometer dari Berlin. Ini bagian tugasnya sebagai Jugend (tentara remaja Jerman) yang direkrut sejak kanak-kanak.

Joseph tak bisa menolak ketika direkrut Jugend di usia sepuluh tahun. Menolak berarti nasibnya seperti Max Ebel, salah seorang temannya yang dilecehkan dan diserang anggota Jugend sampai bersimbah darah. Sempat ia mencari dan bertanya-tanya, mengapa sejak hari itu Ebel tak pernah menampakkan dirinya.

Sebagai Jugend, Joseph dan tentara anak Jerman lain selalu dicekoki bahwa menangkap orang Yahudi adalah tugas mereka. Awalnya, Joseph kecil masih mengikuti kegiatan alam liar yang ditawarkan dengan senang. Seperti yang dilakukannya dulu bersama teman-teman Yahudinya, Schneider dan Ernst. Mereka sering bermain bola bersama karena tinggal bertetangga.
Mereka juga kerap kali berkemah dan membuat api unggun di pinggir sungai saat bulan purnama.

Pernah Joseph terpeleset dan nyaris tenggelam di sungai saat berusaha menangkap ikan. Schneider yang bertubuh gempal ternyata mampu menolongnya. Beberapa saat sebelum Joseph kehabisan napas, tangan Schneider menariknya membawa ke pinggir. Kejadian itu takkan pernah dilupakan Joseph.

Semakin lama Joseph di Jugend -seiring ia bertumbuh menjadi remaja- kegiatan alam liar tak ada lagi. Kini Joseph dan teman remaja lain dilatih menggunakan berbagai senjata serta bagaimana berkelahi dan menyerang orang. Segala aktivitas itu membuat Joseph sering pusing sampai memuntahkan isi perutnya, karena merasa tertekan.

Matahari semakin tinggi saat Joseph dan rombongan besar itu mendekati Sachsenhausen. Sungguh pemandangan yang kontras. Josep dan skuad Jugend terlihat gagah berbaris, namun para remaja calon penghuni kamp sudah terseok-seok menyeret kaki mereka. Beberapa yang lain malah sudah berjalan limbung nyaris jatuh.

Saat tembok putih di tengah lapangan yang sangat luas dan dikelilingi pagar kawat berduri itu terlihat jelas di depan mata, satu persatu dari mereka mulai berjatuhan. Joseph mengusap matanya yang tiba-tiba basah. Merasa sedih karena Schneider, sahabat sekaligus penolongnya dulu, entah masih bertahan atau tidak.

“Seret saja mereka. Kaum lemah, percuma otakmu pintar kalau fisikmu payah. Seret … seret, ayo Rudolf, Hugo, Anton, Joseph seret mereka!” suara Franz pimpinan skuad Jugend mengejutkan Joseph. Meski terpaksa, Joseph menyeret juga salah seorang remaja yang mirip sekali perawakannya dengan Schneider.

Wajah Joseph mulai memerah menahan amarah. Sejak Franz menjemput paksa Schneider, menyeretnya ke luar rumah (ibu Schneider sampai memohon-mohon ampun), menendangnya berkali-kali sebelum dimasukkan dalam truk, rasa marah itu tak bisa Joseph sembunyikan. Bahkan saat ini, ketika tentara SS (pasukan khusus intelijen Jerman) menertawai aksi seret menyeret itu, Joseph sudah ingin melayangkan tinju ke arah mereka.

Joseph sering marah pada dirinya yang tak bisa menolong Schneider dan remaja-remaja Yahudi lainnya yang masuk kamp ini. Sering ia sengaja melukai daging lengannya dengan pisau atau coba-coba menjerat lehernya saat sendiri di barak. Joseph merasa dirinya sudah ‘mati’ seperti mereka yang tak bisa keluar dari Sachsenhausen karena ditembak atau jadi sasaran tembak tentara SS, mati kelaparan atau sakit keras akibat kondisi kamp yang sempit dan buruk.

Ketika semua tawanan sudah masuk bangunan khusus orang Yahudi dan pintu dikunci, Joseph dan teman-teman skuadnya yang berjumlah empat puluh berkumpul di tengah lapangan.

“Die Armee, ini adalah misi terakhir kita mengantar tawanan. Setelah ini kita akan menuju perbatasan untuk latihan intensif taktik Blitzkrieg, persiapan menuju Danzig. Kita akan buktikan pada Jenderal Heinz Guderian, Polandia bisa kita kuasai. Jerman akan menjadi kekuatan yang hebat di dunia. Jerman hari ini, dunia esok hari!” teriak Franz sontak disambut seruan seluruh anggota skuad.

Hanya Joseph yang mengangkat senjatanya saja tanpa ikut berseru. Perasaan benci sekaligus sedih campur aduk menjadi satu. Joseph menengok lagi ke arah pintu bangunan. Terbayang Schneider menoleh dan berkata lewat gerak mulutnya. “Das kannst du besser” -kamu dapat melakukannya lebih baik lagi- sebelum ia didorong Hugo masuk ke balik pintu itu.

Andai Joseph berani berlari ke arah pintu dan menarik Schneider, mereka masih bersama-sama meski mungkin langsung tertembak mati, saat itu juga. Namun ia hanya mampu mengepalkan tangan dan menghentak-hentakkan kaki saja hingga guguran daun berhamburan ke udara.

Saat ransum makan siang dibagikan, Joseph merasa nafsu makannya lenyap. Padahal perjalanan berpuluh kilometer itu sudah merampas tenaganya apalagi dengan rasa amarah yang makin membesar. Joseph berusaha menelan beberapa potong sosis bersaus rempah.

Biasanya beberapa anggota skuad mencoba mengajaknya berbicara saat makan seperti itu. Namun beberapa yang lain seperti Hugo, Rudolf dan Anton selalu mengolok-oloknya, sambil melempari tulang ayam, biji buah hingga kentang rebus yang masih panas.

Si bisu tukang marah menjadi julukan Joseph sejak ia mengunci mulut rapat-rapat usai Schneider diperlakukan semena-mena. Joseph menjawab seperlunya terutama bila ditanya Franz, hanya karena ia pimpinan skuad semata.

Sore berganti malam, malam berganti pagi dan seterusnya. Skuad Joseph sudah bergerak mendekati Danzig. Masih sempat Joseph mendengar Franz berbicara dengan pimpinan skuad lain saat bertemu di jalan.

“Tentara kita nanti muncul dari seluruh penjuru Polandia. Di timur lewat Prusia, di wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Jerman, di selatan lewat Silesia dan dibantu pasukan Slovakia. Pesawat Luftwaffe akan membombardir Wielun, dan kita tentu saja Jugend muda dan berbahaya akan menyerang Danzig, bersamaan dengan kapal Schleswig-Holstein melepaskan tembakan ke posko transit.”

Tampak Franz juga menerima operan sekarung ransum cukup berat dan bersuara dentingan botol yang diserahkan kepada skuad pembawa perbekalan. Joseph segera tahu, akan ada acara minum-minum untuk mengobati kelelahan serta stres akibat perjalanan melintasi perbatasan Jerman dan Polandia, paling tidak tiga atau dua hari sebelum penyerangan.

Semua informasi itu digambar Joseph di buku kecil yang sudah menemaninya selama ini. Dituliskannya tanggal-tanggal menuju Danzig, dan apa saja kira-kira kegiatan mereka tiap hari, termasuk rencana yang telah lama dipikirkannya.

Tiga malam sebelum penyerangan, makan malam berlangsung biasa. Joseph pun tidak bertindak apa-apa.

30 Agustus 1939, dua malam sebelum penyerangan ke Danzig.

Latihan penyerangan terakhir ternyata begitu melelahkan seluruh anggota skuad, termasuk Joseph. Seluruh badannya terasa sakit dan nyeri.
Sebelum waktu makan, Joseph menyempatkan diri membuka lagi catatannya dan menulis nama Schneider. Pisau Jugend miliknya sudah diselipkan di celah antara bot dan celana panjangnya.

Ketika makan malam berakhir, Joseph melihat Franz mulai membuka beberapa botol Moët & Chandon lalu menawarkan minuman memabukkan itu kepada seluruh anggota skuad. Semua bersorak kesenangan, kecuali Joseph.

“Ah, dia … si bisu tak akan mau. Nanti mabuk, dia marah-marah kepada kita!” seru Hugo yang disambut tawa anggota skuad yang lain.

Joseph hanya mendengkus dan sengaja keluar tenda karena tak mau berlama-lama di antara mereka yang mabuk. Menit demi menit berlalu, Joseph masih menunggu untuk beraksi. Pisau bertuliskan “Blut und Ehre!” sudah di tangannya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Peluh juga mulai bercucuran meski yang disasar hanya Franz seorang saja.

Setelah menggoroknya nanti, Joseph berniat merampas pistol Luger P08 milik Franz untuk menghabisi nyawanya sendiri.

Tak perlu menunggu lama aroma minuman keras mulai menguar sampai ke luar tenda. Satu persatu anggota skuad mulai melorot rebah ke lantai. Suara tubuh berjatuhan terdengar silih berganti. Sementara Franz, Hugo, Rudolf dan Anton tertawa-tawa dengan badan yang mulai limbung.

Joseph merasa sudah saatnya. Setengah berteriak ia memanggil Franz ke luar tenda. Sambil tertawa-tawa Franz menghampiri Joseph.

“Ada apa? Was ist passiert? Kenapa tidak ikut minum. A-a-ay-yo mi-mi ….”
Suaranya terhenti bersamaan dengan ambruk tubuhnya lewat gorokan Joseph.

Kepiawaian Joseph menggunakan pisau yang dipuji-puji Franz saat latihan dulu, malah kini menghilangkan nyawanya.

Tak satu pun anggota skuad yang menyadari. Semua sudah benar-benar mabuk saat itu. Ketika pelatuk Luger P08 di tangan Joseph menerjang pelipisnya sendiri, terlihat cahaya putih dengan bayangan Schneider dan bola di tangannya.

“Das kannst du besser”
Kini Joseph dan Schneider sudah bersama-sama lagi.

——
1. Das kannst du besser : kamu dapat melakukannya lebih baik lagi
2. Die Armee : tentaraku
3. Blut und Ehre! : darah dan kehormatan
4. Was ist passiert : apa yang terjadi?

Yogyakarta, 6 Februari 2021



#NAD_Battle 2021 – artikel

#NAD_BATTLE_CHALLENGE_6
#Pasukan_Asterix
#NADFamilyMagazine

– ARTIKEL OPINI –

Ketika keluarga berhadapan dengan konflik

Judul : Daily Life with Arsa,
Si Autistik yang Rawan Konflik
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1748 kata

*****
Arsa jelang 18 tahun.

Suatu siang.
“Mami, kok enggak ada ayam goreng?” Dydy, anak bungsu saya mengomentari makan siangnya.
“Karena kakak hari ini jadwal makan tahu dan tempe. Kakak nggak boleh ayam goreng terus, empat hari lagi baru boleh. Nanti kandungan zat-zat makanan yang tidak bisa diserap tubuh kakak terus menumpuk, akan menjadikan dia sakit,” ujar saya menjelaskan tentang rotasi makanan (1) yang perlu dilakukan Arsa sebagai individu autistik.
Dydy merengut. Saya kasihan kepadanya yang tak selalu bisa makan makanan kesukaannya, tetapi ini yang mau tidak mau kami jalani.

Malamnya.
Setelah saya menyodorkan pasta gigi, Arsa ngambek. Ia menggerutu, mengomel dengan gumaman hampir setengah jam lamanya. Pada kasus anak autistik, hal seperti ini disebut Meltdown. Dia kesal tapi tak bisa mengungkapkan.

‘Meltdown merupakan dorongan emosi ketika anak sudah mulai kewalahan akan perasaannya sendiri’ (2)

Kali ini dia kesal karena sesi menggunting plastik kemasan untuk jadi eco brick terganggu, oleh saya yang menyodorkan pasta gigi itu. Kami sekeluarga mendiamkan saja. Cukup duduk di sampingnya sambil memperhatikan.

Ketika emosi meltdown ini selesai dan Arsa sudah tenang, ia bisa diajak berbicara lagi. Akan tetapi, jangan coba-coba untuk mengusik lagi, kekesalan Arsa seketika bisa menjadi kemarahan dan agresivitas.
Di usia ini, ia akan serta merta menyerang adiknya.

***

Ilustrasi kejadian yang saya ceritakan bagai makanan sehari-hari bagi kami. Salah bersikap, keliru berbicara, memungkinkan terjadi konflik dengan Arsa. Ditegur saat mengambil lauk di piring adiknya saja, bisa membuat Arsa ngambek dalam waktu yang tak sebentar.

Lucu bila dipikirkan, ketika orang tua lain sibuk mengurusi anak remajanya yang sudah mulai jatuh cinta, mulai pergi berkencan setiap akhir pekan, atau sibuk main game online daripada sungguh-sungguh belajar saat school from home, saya dan suami malah sibuk dengan keruwetan yang ditunjukkan Arsa, remaja jelang dewasa dengan spektrum autistik.

Dahulu di banyak tulisan tentang Arsa, saya bisa dengan pongah menyatakan, memiliki anak berkebutuhan khusus adalah anugerah dalam hidup dan membuat saya belajar prinsip bahwa tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Akan tetapi, pada akhirnya itu hanya sebagai tameng untuk melindungi diri saya yang tetap manusia biasa. Punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati. Hehe, kok jadi menyanyikan lagu “Rocker Juga Manusia”.

Saya dan suami menyadari bahwa mengasuh didik Arsa masih perlu proses yang panjang dan menjadi lebih terasa di masa pandemi ini.

Sejak awal pandemi covid-19, banyak perubahan dalam keseharian keluarga kami. Waktu tidur dan waktu bangun yang bergeser. Tidur makin malam dan bangun makin siang. Tidak bersekolah, yang berarti banyak sekali waktu untuk aktivitas Arsa di rumah dibandingkan saat masih bersekolah.

Seharusnya ia sedang menjadi siswa magang pada rumah produksi seminar kit dan handicraft, berkaitan dengan minatnya pada ketrampilan jahit menjahit. Karena terimbas pandemi, rumah produksi itu mengurangi karyawan maupun jumlah produksinya. Bagaimana mungkin lagi menerima siswa magang.

Meski banyak yang mengatakan jahit menjahit bisa dilakukan di rumah bersama orang tua, akan tetapi kenyataannya Arsa hanya mau menjahit menggunakan mesin bersama ayahnya. Ia tak mau lagi menyulam bersama saya, yang memiliki lebih banyak waktu di rumah. Bila Arsa menunggu ayahnya agak sulit, mengingat pekerjaan di beberapa tempat kadang memiliki jadwal waktu yang tidak jelas. Begitu sedikit luang, ayahnya sudah kelelahan.

Sejujurnya saya pun mengeluh, tidak sekali saja tetapi berkali-kali tentang pandemi ini, yang belum juga berakhir. Sekolah belum dimulai juga, dan itu berpengaruh besar bagi Arsa yang sangat senang pergi ke sekolah.

Sempat di satu masa, saya membenci orang-orang yang abai terhadap protapkes, sehingga masa pandemi ini menjadi lebih panjang. Sampai saya mendoakan, biarin kalian tertular semua. Duh, jahat sekali saya ya.

Kenyataannya yang saya, suami dan keluarga hadapi, tak sekadar berkeluh kesah karena penghasilan tiba-tiba menukik drastis.

Keluarga kami mendapat bonus tantangan, ada tenaga produktif di rumah, akan tetapi tak mau melakukan apa-apa. Awal-awal pandemi, ia masih mau menjahit berbagai produk olahan patchwork bahkan sampai bisa membawanya ke ajang pameran karya difabel dan menghasilkan uang pula. Pendapatan Arsa saat itu bahkan bisa membantu melunasi salah satu utang keluarga kami ke sekolahnya.

Kini, melirik jahitan pun tidak. Semenjak dipasangkan WIFI di rumah karena tuntutan beberapa kesibukan pekerjaan saya dan suami, aktivitas Arsa pun menjadi bergeser.

Ia lebih sibuk membuka Google menelusuri laman-laman sesuai dengan keyword pencarian kata-kata atau sebaris kalimat yang ingin diketahuinya. Kata-kata atau kalimat itu biasa muncul sebagai reading text di televisi, dibacanya, disalin ulang di belakang buku apapun yang ia temui, lalu dicari gambar atau jawabannya.

Arsa bukan penggemar games online atau penyuka youtube ulasan game seperti adiknya. Ia senang membuka-buka youtube, tetapi lebih untuk mendengar dan melihat jingle tayangan iklan produk tertentu, melihat bagaimana sebuah game seperti zuma, candy crush, dll berlangsung. Sepertinya menonton itu membuat Arsa merasa terhibur dan membuatnya lupa mencabuti rambut atau mengelupas bekas luka di kulitnya. Asal jangan wifinya mati, entah karena pemadaman listrik atau sinyal yang lemot, paniklah ia!

Bagi Arsa, seharusnya ia menjadi anak Raffi dan Nagita atau Nia Ramadhani, yang tajir melintir. Rumah mungkin harus memiliki genset, sehingga tak ada acara pemadaman listrik, tak ada acara pompa mati, gas habis maupun kuota tinggal sedikit. Sayangnya, ia terlahir di keluarga kami dengan penghasilan yang terbilang standar pekerja freelance.

Bagaimanapun perubahan bagi individu autistik seperti Arsa memang masih menjadi tantangan bagi dia untuk menerimanya. Ia rigid, kaku!

Cognitive rigidity is the inability to mentally adapt to new demands or information, and is contradicted with the cognitive flexibility to consider different perspectives and opinions, and are able to adapt with more ease to changes. (3)

Kekakuan kognitif adalah ketidakmampuan untuk secara mental beradaptasi dengan tuntutan atau informasi baru, dan bertentangan dengan fleksibilitas kognitif untuk mempertimbangkan perspektif dan pendapat yang berbeda, dan mampu beradaptasi dengan lebih mudah terhadap perubahan. (terjemahan bebas saya)

Mau tahu rigid-nya Arsa seperti apa?

Ia harus duduk di tempat yang ditentukannya sejak awal. Arsa punya kursi sendiri dengan posisi yang sudah ia tetapkan di area meja makan. Tak ada yang boleh menempati kecuali ia yang mengizinkan.

Demikian juga bila naik mobil saat bepergian. Ia memilih duduk di sisi sebelah kanan, persis di belakang supir. Tak ada yang boleh menduduki tempat tersebut, meski kamu masuk mobil dari pintu sebelah kanan.

Poni rambut saya tak boleh tergerai turun ke bawah, harus diikat atau dijepit. Bila tidak melakukannya, ia akan berisik dan terus merengek-rengek kepada saya untuk merapikan rambut tersebut.

Pemadaman listrik oleh PLN, mau sudah dijadwalkan atau tidak, tidak bisa diterima olehnya. Apalagi sekarang, pemadaman listrik akan menyebabkan WIFI mati dan ia tak bisa asik mainan ponsel lagi.

Pemahaman pemadaman lampu hanya berlaku bagi Arsa ketika kami melalui hari Nyepi di Bali. Herannya Arsa bisa luwes menerima tentang aturan tersebut pada hari itu saja.

Beberapa hal kaku lainnya terkait dengan kesukaan individu autistik dengan routine atau aturan.

Nah, istilah apalagi ini.

Life is very confusing for most autistic children, a constant change of people, environments, noises etc. can be very overwhelming. Routines and rituals help to provide order in a constantly changing environment. A routine needs to be something done regularly in the same order so it provides repetition and predictability. (4)

Bagi anak-anak autistik, melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sungguh membingungkan mereka. Mereka sulit memahami perubahan pada diri orang-orang, baik perubahan sikap, perilaku, mengapa mereka sakit, mengapa mereka pergi, mengapa mereka meninggal.

Mengapa perlu pindah rumah, mengapa suasananya berisik, mengapa sekolah libur, mengapa ada tanggal merah, dan lain sebagainya.

Rutinitas dan ritual membantu mereka menghadapi perubahan yang terjadi di sekitarnya seperti contoh di atas.

Rutinitas dan ritual akan membantu mereka menduga-duga apa yang akan terjadi.

Ketika pandemi mulai merebak, berbulan-bulan Arsa akan mengajukan pertanyaan yang sama setiap pagi.

Mengapa tidak sekolah? Bila dijawab tutup, ia akan bertanya lagi, mengapa tutup? Meski tidak dengan kalimat panjang yang lancar, Arsa mengajukan pertanyaan itu berulang kali. Terutama bila ia mendengar ada salah satu dari kita yang berkata Corona, ia akan langsung menyambung dengan perkataan, “Corona tutup, kita di rumah.” Demikian berulang kali.

Pada anak lain, Dydy adiknya Arsa misalnya, pemahaman akan respons kita menjelaskan tentang berbahayanya penyebaran virus ini membuat mereka mudah menerima bahwa sebaiknya di rumah dulu sebelum tertular.

Apakah rutinitas bisa berubah atau selalu rigid? Selama benda pendukungnya ada atau tersedia, ia akan tetap melakukan rutinitas tersebut. Namun, bila ingin ia mengubah rutinitas itu tanpa menambah konflik baru dengan kita, alternatif solusinya perlu dipikirkan betul.

Berikut beberapa contoh yang pernah kami terapkan kepada Arsa, tentang mengubah rutin tanpa menambah konflik baru.

Situasi pandemi dan durasi yang lama berdiam di rumah, menyebabkan Arsa membuat banyak rutinitas baru. Saat kami belum membeli filter air minum, rutinitas Arsa adalah minum banyak-banyak agar bisa memasak air. Tentu hal itu menyebabkan konsumsi gas menjadi berlebihan.

Solusi kami saat itu membeli filter air minum, agar rutinitas itu bisa berhenti secara bertahap. Bila kami seketika melarangnya untuk tidak minum banyak-banyak agar tidak memasak air, akan bisa memicu pertengkaran dengan Arsa.

Saat pindah rumah ke rumah yang sekarang, setiap jam lima ia rutin menyalakan lampu. Ini sih tak menjadi masalah bahkan membantu kami.

Salah satu yang menjadi masalah, Arsa mengharuskan saya menyapu sesudah ia makan malam, karena ia ingin membantu menggeser-geser kursi meja dan beberapa loker. Masalahnya waktu Arsa makan lama sekali, sehingga saya seringkali lambat untuk menyapu dan membereskan rumah padahal sudah sangat kelelahan.

Solusi saya akhirnya mengatakan padanya, ingin ‘sapu cepat’. Kata-kata sapu cepat bisa ia pahami sebagai tindakan menyapu tanpa perlu bantuannya menggeser posisi benda-benda. Belakangan, agar lantai lebih bersih saya menyiasati dengan menunggunya saat mandi sore, barulah saya menyapu. Cara terakhir ini lebih berhasil karena lantai bersih tanpa perlu Arsa berteriak-teriak sambil menggeser posisi benda-benda.

Rutinitas yang baru sekarang dan sungguh mengganggu adalah saat Arsa menemukan keasyikan menggunting plastik bekas kemasan makanan untuk dikumpulkan menjadi ecobrick.

Mungkin ia menemukan keasikan setelah lama meninggalkan dunia jahit menjahit, menggantinya dengan gunting menggunting kemasan plastik tersebut.

Durasi ia mengerjakan aktivitas ini cukup lama, guntingannya halus sekali sehingga membuat waktu tidurnya menjadi molor, bahkan pernah sampai pukul 1.30 dinihari.

Solusi awal saya dan suami adalah dengan tidak mengumpulkan plastik bekas kemasan lagi, tapi malah ia memaksa dan bila disembunyikan akan mencarinya dengan membongkar-bongkar tempat sampah. Jujur sampai saat ini saya berdua suami belum bisa menemukan solusinya.

Ya, sebagai keluarga dengan individu autistik, meski kami mensyukuri Arsa mampu berdaya, akan tetapi pekerjaan rumah untuk mencari solusi dari permasalahan-permasalahan sebagai individu autistik masih memerlukan kesabaran dan waktu.

Karena jalan keluar terbaik bukanlah menaruh harapan besar bahwa dia bisa sembuh lalu seketika menjadi normal dan cemerlang seperti individu reguler lain, akan tetapi menyiasati karakter-karakter yang menjadi spektrum autistik seperti beberapa hal yang saya bahas di atas, agar tidak menimbulkan konflik yang menghambatnya menjadi pribadi yang mandiri dan berdaya.

Saya hanya ingin Arsa bahagia.

Ivy Sudjana
Ibu dari Arsa, individu autistik dan Adyatma
Tinggal di Yogyakarta

**********
Temukan tulisan tentang Arsa sebelumnya di ivyberbagi.wordpress.com

(1) Diet pada anak penyandang autisme menggunakan teknik rotasi dan eliminasi, yaitu memberikan makanan yang tepat untuk anak. Rotasi dilakukan setiap 4-7 hari di mana makanan yang diberikan hari ini khusus hari itu saja, tidak diberikan pada hari lain, dan tidak lebih dari satu jenis per hari. (https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/o5aozd328)

(2) https://www.google.com/amp/s/www.popmama.com/amp/kid/1-3-years-old/jemima/kenali-emosi-anak-apa-perbedaan-tantrum-dan-meltdown

(3) https://www.nurturepods.com/cognitive-rigidity-in-autism

(4) https://www.psychologytoday.com/us/blog/making-sense-autistic-spectrum-disorders/201608/cognitive-rigidity-the-8-ball-hell

(5) https://www.theautismpage.com/routines/



Tentang Arsa, Autistikku Yang ‘Cemerlang’ – neswa.id

https://neswa.id/artikel/tentang-arsa-autistikku-yang-cemerlang/



Miss Klakson dan Santun Berkendara
18/03/2010, 4:12 pm03
Filed under: ngalamin sendiri | Tags: , , , , , ,

Saya kapok belajar motor. Bekas luka bakar didekat mata kaki telah mengurangi keseksian kaki saya. Namun, tinggal di Bali di mana angkot hanya beroperasi di area terbatas, ketidakmampuan berkendara Honda (sebutan untuk motor di Bali) kemudian menjadi hambatan terbesar untuk beraktivitas.

Tumbuh dan besar di Jakarta dengan segala jenis dan bentuk kendaraan umum, menjadikan saya gagap mengemudikan motor. (mungkin juga berlaku untuk semua perempuan yang tumbuh di kota besar). Lebih PD naik bajaj atau berdesakan di metromini atau bis daripada menyalip semua itu dengan motor. Nah begitu pindah ke Bali…nggak bisa naik motor sama dengan nggak bisa ke mana-mana.

Untung saya bisa menyetir. Biar musti belajar lancar (istilah untuk kursus dan tambahan latihan sendiri)…toh akhirnya kemana-mana saya ditemani si Hitam aka mobil saya. Biar belum semahir sopir angkot atau bis malam, yah minimal si kecil dan omanya merasa aman kalo disupirin saya…..:-)

Tapi….jalanan Bali sudah kayak rimba. Tempat belantara anak ingusan belajar Honda, sampai ibu-ibu yang akrobatik bawa dagangan sekalian anak-anaknya. Pfuhhhh…kalau nggak lihai menyalip, pintar nge-rem dan yang paling utama…pintar menahan emosi, UGD sudah menanti. Makanya…klakson tiba-tiba jadi jimat segala bencana….

Ada ibu menganan-nganan (maksudnya naik motor senengnya di posisi sebelah kanan)…klakson
Ada cewek sibuk handphonan sambil naik motor….klakson
Ada anak-anak naik sepeda ke kiri dan ke kanan asik lenggang lenggok….klakson
Ada ibu keluar gang, nyelonong saja….klakson baca selanjutnya



Sosialisasi tanpa mispersepsi
02/02/2010, 4:12 pm02
Filed under: catatan saya | Tags: , , , ,

Ketika kembali dari sebuah penyuluhan Kesehatan Reproduksi dan Seksual di desa Sidatapa, sebuah desa di pelosok gunung daerah Singaraja, Bali; saya membawa serta sebuah bulletin terbitan lembaga penanggulangan AIDS yang memuat data statistik ODHA (orang dengan HIV/AIDS) sampai periode akhir 2008 di Bali. Saya terhenyak mendapati bahwa daerah yang baru saya kunjungi beserta teman-teman LSM ini ternyata menduduki peringkat kedua teratas dari seluruh ODHA yang terdeteksi di propinsi ini.

Keterhenyakan itu menjadi tanda tanya besar, ketika melihat begitu besar antusiasme peserta yang hadir dan didominasi kaum perempuan ini. Terbersit pikiran, ‘kalau antusiasme dan keingintahuan orang mengenai kesehatan reproduksi dan seksual ini begitu besar, mengapa tidak sering saja diadakan penyuluhan ke desa-desa di daerah ini?’ Dan tentu yang menjadi pemikiran selanjutnya adalah dengan banyaknya informasi, mudah-mudahan kesadaran sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS di daerah ini makin meningkat.

Namun harapan ini sedikit pupus ketika mendengar upaya teman-teman LSM untuk masuk ke pelosok-pelosok desa terkendala banyak hal. Mulai dari masalah birokrasi sampai dengan hal yang menurut saya sungguh tidak masuk akal, yaitu ketika ada tokoh setempat yang begitu pongahnya mengklaim bahwa tidak mungkin ada penduduk di desanya yang terinfeksi atau malah mengidap penyakit menular seksual tertentu. baca selengkapnya