yukberbagi!


Tentang Arsa, Autistikku Yang ‘Cemerlang’ – neswa.id

https://neswa.id/artikel/tentang-arsa-autistikku-yang-cemerlang/



Miss Klakson dan Santun Berkendara
18/03/2010, 4:12 pm03
Filed under: ngalamin sendiri | Tags: , , , , , ,

Saya kapok belajar motor. Bekas luka bakar didekat mata kaki telah mengurangi keseksian kaki saya. Namun, tinggal di Bali di mana angkot hanya beroperasi di area terbatas, ketidakmampuan berkendara Honda (sebutan untuk motor di Bali) kemudian menjadi hambatan terbesar untuk beraktivitas.

Tumbuh dan besar di Jakarta dengan segala jenis dan bentuk kendaraan umum, menjadikan saya gagap mengemudikan motor. (mungkin juga berlaku untuk semua perempuan yang tumbuh di kota besar). Lebih PD naik bajaj atau berdesakan di metromini atau bis daripada menyalip semua itu dengan motor. Nah begitu pindah ke Bali…nggak bisa naik motor sama dengan nggak bisa ke mana-mana.

Untung saya bisa menyetir. Biar musti belajar lancar (istilah untuk kursus dan tambahan latihan sendiri)…toh akhirnya kemana-mana saya ditemani si Hitam aka mobil saya. Biar belum semahir sopir angkot atau bis malam, yah minimal si kecil dan omanya merasa aman kalo disupirin saya…..:-)

Tapi….jalanan Bali sudah kayak rimba. Tempat belantara anak ingusan belajar Honda, sampai ibu-ibu yang akrobatik bawa dagangan sekalian anak-anaknya. Pfuhhhh…kalau nggak lihai menyalip, pintar nge-rem dan yang paling utama…pintar menahan emosi, UGD sudah menanti. Makanya…klakson tiba-tiba jadi jimat segala bencana….

Ada ibu menganan-nganan (maksudnya naik motor senengnya di posisi sebelah kanan)…klakson
Ada cewek sibuk handphonan sambil naik motor….klakson
Ada anak-anak naik sepeda ke kiri dan ke kanan asik lenggang lenggok….klakson
Ada ibu keluar gang, nyelonong saja….klakson baca selanjutnya



Sosialisasi tanpa mispersepsi
02/02/2010, 4:12 pm02
Filed under: catatan saya | Tags: , , , ,

Ketika kembali dari sebuah penyuluhan Kesehatan Reproduksi dan Seksual di desa Sidatapa, sebuah desa di pelosok gunung daerah Singaraja, Bali; saya membawa serta sebuah bulletin terbitan lembaga penanggulangan AIDS yang memuat data statistik ODHA (orang dengan HIV/AIDS) sampai periode akhir 2008 di Bali. Saya terhenyak mendapati bahwa daerah yang baru saya kunjungi beserta teman-teman LSM ini ternyata menduduki peringkat kedua teratas dari seluruh ODHA yang terdeteksi di propinsi ini.

Keterhenyakan itu menjadi tanda tanya besar, ketika melihat begitu besar antusiasme peserta yang hadir dan didominasi kaum perempuan ini. Terbersit pikiran, ‘kalau antusiasme dan keingintahuan orang mengenai kesehatan reproduksi dan seksual ini begitu besar, mengapa tidak sering saja diadakan penyuluhan ke desa-desa di daerah ini?’ Dan tentu yang menjadi pemikiran selanjutnya adalah dengan banyaknya informasi, mudah-mudahan kesadaran sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS di daerah ini makin meningkat.

Namun harapan ini sedikit pupus ketika mendengar upaya teman-teman LSM untuk masuk ke pelosok-pelosok desa terkendala banyak hal. Mulai dari masalah birokrasi sampai dengan hal yang menurut saya sungguh tidak masuk akal, yaitu ketika ada tokoh setempat yang begitu pongahnya mengklaim bahwa tidak mungkin ada penduduk di desanya yang terinfeksi atau malah mengidap penyakit menular seksual tertentu. baca selengkapnya