yukberbagi!


Banyak Yang Meninggal Di Masa Pandemi; Bagaimana Menerima Kondisi Ini? – Konde.co
29/06/2021, 4:12 pm06
Filed under: catatan saya | Tags: , , , , , ,

https://www.konde.co/2021/06/banyak-yang-meninggal-di-masa-pandemi-bagaimana-menerima-kondisi-ini.html/



Si Toksik yang Nggak Asyik, Sebuah Relationshit yang Tak Berharga – Neswa.id

https://neswa.id/artikel/si-toksik-yang-nggak-asyik-sebuah-relationshit-yang-tak-berharga/



#NAD_Battle 2021 – artikel

#NAD_BATTLE_CHALLENGE_6
#Pasukan_Asterix
#NADFamilyMagazine

– ARTIKEL OPINI –

Ketika keluarga berhadapan dengan konflik

Judul : Daily Life with Arsa,
Si Autistik yang Rawan Konflik
Penulis : Ivy Sudjana
Jumlah kata : 1748 kata

*****
Arsa jelang 18 tahun.

Suatu siang.
“Mami, kok enggak ada ayam goreng?” Dydy, anak bungsu saya mengomentari makan siangnya.
“Karena kakak hari ini jadwal makan tahu dan tempe. Kakak nggak boleh ayam goreng terus, empat hari lagi baru boleh. Nanti kandungan zat-zat makanan yang tidak bisa diserap tubuh kakak terus menumpuk, akan menjadikan dia sakit,” ujar saya menjelaskan tentang rotasi makanan (1) yang perlu dilakukan Arsa sebagai individu autistik.
Dydy merengut. Saya kasihan kepadanya yang tak selalu bisa makan makanan kesukaannya, tetapi ini yang mau tidak mau kami jalani.

Malamnya.
Setelah saya menyodorkan pasta gigi, Arsa ngambek. Ia menggerutu, mengomel dengan gumaman hampir setengah jam lamanya. Pada kasus anak autistik, hal seperti ini disebut Meltdown. Dia kesal tapi tak bisa mengungkapkan.

‘Meltdown merupakan dorongan emosi ketika anak sudah mulai kewalahan akan perasaannya sendiri’ (2)

Kali ini dia kesal karena sesi menggunting plastik kemasan untuk jadi eco brick terganggu, oleh saya yang menyodorkan pasta gigi itu. Kami sekeluarga mendiamkan saja. Cukup duduk di sampingnya sambil memperhatikan.

Ketika emosi meltdown ini selesai dan Arsa sudah tenang, ia bisa diajak berbicara lagi. Akan tetapi, jangan coba-coba untuk mengusik lagi, kekesalan Arsa seketika bisa menjadi kemarahan dan agresivitas.
Di usia ini, ia akan serta merta menyerang adiknya.

***

Ilustrasi kejadian yang saya ceritakan bagai makanan sehari-hari bagi kami. Salah bersikap, keliru berbicara, memungkinkan terjadi konflik dengan Arsa. Ditegur saat mengambil lauk di piring adiknya saja, bisa membuat Arsa ngambek dalam waktu yang tak sebentar.

Lucu bila dipikirkan, ketika orang tua lain sibuk mengurusi anak remajanya yang sudah mulai jatuh cinta, mulai pergi berkencan setiap akhir pekan, atau sibuk main game online daripada sungguh-sungguh belajar saat school from home, saya dan suami malah sibuk dengan keruwetan yang ditunjukkan Arsa, remaja jelang dewasa dengan spektrum autistik.

Dahulu di banyak tulisan tentang Arsa, saya bisa dengan pongah menyatakan, memiliki anak berkebutuhan khusus adalah anugerah dalam hidup dan membuat saya belajar prinsip bahwa tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Akan tetapi, pada akhirnya itu hanya sebagai tameng untuk melindungi diri saya yang tetap manusia biasa. Punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati. Hehe, kok jadi menyanyikan lagu “Rocker Juga Manusia”.

Saya dan suami menyadari bahwa mengasuh didik Arsa masih perlu proses yang panjang dan menjadi lebih terasa di masa pandemi ini.

Sejak awal pandemi covid-19, banyak perubahan dalam keseharian keluarga kami. Waktu tidur dan waktu bangun yang bergeser. Tidur makin malam dan bangun makin siang. Tidak bersekolah, yang berarti banyak sekali waktu untuk aktivitas Arsa di rumah dibandingkan saat masih bersekolah.

Seharusnya ia sedang menjadi siswa magang pada rumah produksi seminar kit dan handicraft, berkaitan dengan minatnya pada ketrampilan jahit menjahit. Karena terimbas pandemi, rumah produksi itu mengurangi karyawan maupun jumlah produksinya. Bagaimana mungkin lagi menerima siswa magang.

Meski banyak yang mengatakan jahit menjahit bisa dilakukan di rumah bersama orang tua, akan tetapi kenyataannya Arsa hanya mau menjahit menggunakan mesin bersama ayahnya. Ia tak mau lagi menyulam bersama saya, yang memiliki lebih banyak waktu di rumah. Bila Arsa menunggu ayahnya agak sulit, mengingat pekerjaan di beberapa tempat kadang memiliki jadwal waktu yang tidak jelas. Begitu sedikit luang, ayahnya sudah kelelahan.

Sejujurnya saya pun mengeluh, tidak sekali saja tetapi berkali-kali tentang pandemi ini, yang belum juga berakhir. Sekolah belum dimulai juga, dan itu berpengaruh besar bagi Arsa yang sangat senang pergi ke sekolah.

Sempat di satu masa, saya membenci orang-orang yang abai terhadap protapkes, sehingga masa pandemi ini menjadi lebih panjang. Sampai saya mendoakan, biarin kalian tertular semua. Duh, jahat sekali saya ya.

Kenyataannya yang saya, suami dan keluarga hadapi, tak sekadar berkeluh kesah karena penghasilan tiba-tiba menukik drastis.

Keluarga kami mendapat bonus tantangan, ada tenaga produktif di rumah, akan tetapi tak mau melakukan apa-apa. Awal-awal pandemi, ia masih mau menjahit berbagai produk olahan patchwork bahkan sampai bisa membawanya ke ajang pameran karya difabel dan menghasilkan uang pula. Pendapatan Arsa saat itu bahkan bisa membantu melunasi salah satu utang keluarga kami ke sekolahnya.

Kini, melirik jahitan pun tidak. Semenjak dipasangkan WIFI di rumah karena tuntutan beberapa kesibukan pekerjaan saya dan suami, aktivitas Arsa pun menjadi bergeser.

Ia lebih sibuk membuka Google menelusuri laman-laman sesuai dengan keyword pencarian kata-kata atau sebaris kalimat yang ingin diketahuinya. Kata-kata atau kalimat itu biasa muncul sebagai reading text di televisi, dibacanya, disalin ulang di belakang buku apapun yang ia temui, lalu dicari gambar atau jawabannya.

Arsa bukan penggemar games online atau penyuka youtube ulasan game seperti adiknya. Ia senang membuka-buka youtube, tetapi lebih untuk mendengar dan melihat jingle tayangan iklan produk tertentu, melihat bagaimana sebuah game seperti zuma, candy crush, dll berlangsung. Sepertinya menonton itu membuat Arsa merasa terhibur dan membuatnya lupa mencabuti rambut atau mengelupas bekas luka di kulitnya. Asal jangan wifinya mati, entah karena pemadaman listrik atau sinyal yang lemot, paniklah ia!

Bagi Arsa, seharusnya ia menjadi anak Raffi dan Nagita atau Nia Ramadhani, yang tajir melintir. Rumah mungkin harus memiliki genset, sehingga tak ada acara pemadaman listrik, tak ada acara pompa mati, gas habis maupun kuota tinggal sedikit. Sayangnya, ia terlahir di keluarga kami dengan penghasilan yang terbilang standar pekerja freelance.

Bagaimanapun perubahan bagi individu autistik seperti Arsa memang masih menjadi tantangan bagi dia untuk menerimanya. Ia rigid, kaku!

Cognitive rigidity is the inability to mentally adapt to new demands or information, and is contradicted with the cognitive flexibility to consider different perspectives and opinions, and are able to adapt with more ease to changes. (3)

Kekakuan kognitif adalah ketidakmampuan untuk secara mental beradaptasi dengan tuntutan atau informasi baru, dan bertentangan dengan fleksibilitas kognitif untuk mempertimbangkan perspektif dan pendapat yang berbeda, dan mampu beradaptasi dengan lebih mudah terhadap perubahan. (terjemahan bebas saya)

Mau tahu rigid-nya Arsa seperti apa?

Ia harus duduk di tempat yang ditentukannya sejak awal. Arsa punya kursi sendiri dengan posisi yang sudah ia tetapkan di area meja makan. Tak ada yang boleh menempati kecuali ia yang mengizinkan.

Demikian juga bila naik mobil saat bepergian. Ia memilih duduk di sisi sebelah kanan, persis di belakang supir. Tak ada yang boleh menduduki tempat tersebut, meski kamu masuk mobil dari pintu sebelah kanan.

Poni rambut saya tak boleh tergerai turun ke bawah, harus diikat atau dijepit. Bila tidak melakukannya, ia akan berisik dan terus merengek-rengek kepada saya untuk merapikan rambut tersebut.

Pemadaman listrik oleh PLN, mau sudah dijadwalkan atau tidak, tidak bisa diterima olehnya. Apalagi sekarang, pemadaman listrik akan menyebabkan WIFI mati dan ia tak bisa asik mainan ponsel lagi.

Pemahaman pemadaman lampu hanya berlaku bagi Arsa ketika kami melalui hari Nyepi di Bali. Herannya Arsa bisa luwes menerima tentang aturan tersebut pada hari itu saja.

Beberapa hal kaku lainnya terkait dengan kesukaan individu autistik dengan routine atau aturan.

Nah, istilah apalagi ini.

Life is very confusing for most autistic children, a constant change of people, environments, noises etc. can be very overwhelming. Routines and rituals help to provide order in a constantly changing environment. A routine needs to be something done regularly in the same order so it provides repetition and predictability. (4)

Bagi anak-anak autistik, melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sungguh membingungkan mereka. Mereka sulit memahami perubahan pada diri orang-orang, baik perubahan sikap, perilaku, mengapa mereka sakit, mengapa mereka pergi, mengapa mereka meninggal.

Mengapa perlu pindah rumah, mengapa suasananya berisik, mengapa sekolah libur, mengapa ada tanggal merah, dan lain sebagainya.

Rutinitas dan ritual membantu mereka menghadapi perubahan yang terjadi di sekitarnya seperti contoh di atas.

Rutinitas dan ritual akan membantu mereka menduga-duga apa yang akan terjadi.

Ketika pandemi mulai merebak, berbulan-bulan Arsa akan mengajukan pertanyaan yang sama setiap pagi.

Mengapa tidak sekolah? Bila dijawab tutup, ia akan bertanya lagi, mengapa tutup? Meski tidak dengan kalimat panjang yang lancar, Arsa mengajukan pertanyaan itu berulang kali. Terutama bila ia mendengar ada salah satu dari kita yang berkata Corona, ia akan langsung menyambung dengan perkataan, “Corona tutup, kita di rumah.” Demikian berulang kali.

Pada anak lain, Dydy adiknya Arsa misalnya, pemahaman akan respons kita menjelaskan tentang berbahayanya penyebaran virus ini membuat mereka mudah menerima bahwa sebaiknya di rumah dulu sebelum tertular.

Apakah rutinitas bisa berubah atau selalu rigid? Selama benda pendukungnya ada atau tersedia, ia akan tetap melakukan rutinitas tersebut. Namun, bila ingin ia mengubah rutinitas itu tanpa menambah konflik baru dengan kita, alternatif solusinya perlu dipikirkan betul.

Berikut beberapa contoh yang pernah kami terapkan kepada Arsa, tentang mengubah rutin tanpa menambah konflik baru.

Situasi pandemi dan durasi yang lama berdiam di rumah, menyebabkan Arsa membuat banyak rutinitas baru. Saat kami belum membeli filter air minum, rutinitas Arsa adalah minum banyak-banyak agar bisa memasak air. Tentu hal itu menyebabkan konsumsi gas menjadi berlebihan.

Solusi kami saat itu membeli filter air minum, agar rutinitas itu bisa berhenti secara bertahap. Bila kami seketika melarangnya untuk tidak minum banyak-banyak agar tidak memasak air, akan bisa memicu pertengkaran dengan Arsa.

Saat pindah rumah ke rumah yang sekarang, setiap jam lima ia rutin menyalakan lampu. Ini sih tak menjadi masalah bahkan membantu kami.

Salah satu yang menjadi masalah, Arsa mengharuskan saya menyapu sesudah ia makan malam, karena ia ingin membantu menggeser-geser kursi meja dan beberapa loker. Masalahnya waktu Arsa makan lama sekali, sehingga saya seringkali lambat untuk menyapu dan membereskan rumah padahal sudah sangat kelelahan.

Solusi saya akhirnya mengatakan padanya, ingin ‘sapu cepat’. Kata-kata sapu cepat bisa ia pahami sebagai tindakan menyapu tanpa perlu bantuannya menggeser posisi benda-benda. Belakangan, agar lantai lebih bersih saya menyiasati dengan menunggunya saat mandi sore, barulah saya menyapu. Cara terakhir ini lebih berhasil karena lantai bersih tanpa perlu Arsa berteriak-teriak sambil menggeser posisi benda-benda.

Rutinitas yang baru sekarang dan sungguh mengganggu adalah saat Arsa menemukan keasyikan menggunting plastik bekas kemasan makanan untuk dikumpulkan menjadi ecobrick.

Mungkin ia menemukan keasikan setelah lama meninggalkan dunia jahit menjahit, menggantinya dengan gunting menggunting kemasan plastik tersebut.

Durasi ia mengerjakan aktivitas ini cukup lama, guntingannya halus sekali sehingga membuat waktu tidurnya menjadi molor, bahkan pernah sampai pukul 1.30 dinihari.

Solusi awal saya dan suami adalah dengan tidak mengumpulkan plastik bekas kemasan lagi, tapi malah ia memaksa dan bila disembunyikan akan mencarinya dengan membongkar-bongkar tempat sampah. Jujur sampai saat ini saya berdua suami belum bisa menemukan solusinya.

Ya, sebagai keluarga dengan individu autistik, meski kami mensyukuri Arsa mampu berdaya, akan tetapi pekerjaan rumah untuk mencari solusi dari permasalahan-permasalahan sebagai individu autistik masih memerlukan kesabaran dan waktu.

Karena jalan keluar terbaik bukanlah menaruh harapan besar bahwa dia bisa sembuh lalu seketika menjadi normal dan cemerlang seperti individu reguler lain, akan tetapi menyiasati karakter-karakter yang menjadi spektrum autistik seperti beberapa hal yang saya bahas di atas, agar tidak menimbulkan konflik yang menghambatnya menjadi pribadi yang mandiri dan berdaya.

Saya hanya ingin Arsa bahagia.

Ivy Sudjana
Ibu dari Arsa, individu autistik dan Adyatma
Tinggal di Yogyakarta

**********
Temukan tulisan tentang Arsa sebelumnya di ivyberbagi.wordpress.com

(1) Diet pada anak penyandang autisme menggunakan teknik rotasi dan eliminasi, yaitu memberikan makanan yang tepat untuk anak. Rotasi dilakukan setiap 4-7 hari di mana makanan yang diberikan hari ini khusus hari itu saja, tidak diberikan pada hari lain, dan tidak lebih dari satu jenis per hari. (https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/o5aozd328)

(2) https://www.google.com/amp/s/www.popmama.com/amp/kid/1-3-years-old/jemima/kenali-emosi-anak-apa-perbedaan-tantrum-dan-meltdown

(3) https://www.nurturepods.com/cognitive-rigidity-in-autism

(4) https://www.psychologytoday.com/us/blog/making-sense-autistic-spectrum-disorders/201608/cognitive-rigidity-the-8-ball-hell

(5) https://www.theautismpage.com/routines/



Tulisan pertama di Rahma.id

https://instagram.com/stories/ivy_sudjana/2501571209291780187?utm_source=ig_story_item_share&igshid=17rsfyq1w2o52



Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”
Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”
Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.
Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi.

Seringkah kita menemui obrolan anak-anak dengan muatan semacam itu sehari-hari? Mengandung stereotip dalam memandang orang lain. Bila menjawab sering, lalu apakah stereotip itu?

Menurut kbbi, ste·re·o·tip /stéréotip/ 2 n merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Jadi secara sederhana, stereotip lebih mengarah pada prasangka dan patut diragukan kebenarannya.

Lalu apakah kasus di bawah ini termasuk di antaranya? Seorang ibu bercerita, sebuah insiden di sebuah tempat ibadah. Ada beberapa anak yang berteriak mengejek saat melihat anak dari salah satu pulau di timur Indonesia. “ih ireng banget koyo tai… njijiki… hih tai kok neng grejo.”
(ih hitam banget kayak kotoran/tai, menjijikkan, hih tai kok ada di gereja)
Ibu ini begitu geramnya, namun tak berkuasa apa.

Berprasangka kepada yang berbeda dengan kita, biasa diawali dengan melakukan body shaming, seperti, ujaran “Moko kulitnya item banget, kalo mati lampu ga bakal kelihatan.” Atau “Sucen matanya sipit, kalo ketawa cuma satu garis aja.”; mungkin biasa terjadi sehari-hari. Pertama mungkin dari ciri fisik seseorang, lama kelamaan berkembang menjadi prasangka subjektif tentang karakter khas sebuah suku, ras atau bangsa tertentu.

Awalnya hanya bercanda, selanjutnya sengaja menyindir, dan kalau dilakukan berkali-kali, sama saja dengan mengolok-olok yang cenderung menghina. Contoh ucapan yang ditujukan pada seorang yang sejak kecil pintar berwirausaha. “Ahhh, pasti dia Cina atau Padang. Apa-apa dijadiin duit. Apa-apa didagangin.” Atau ucapan. “Males deh temenan sama dia. Lambat banget ngapa-apainnya. Psst… orang Jawa sih.” Atau, “Jangan temenan ah sama dia. Kan orang Timor, bawaannya marah mulu.”

Hal apa yang sebenarnya mendorong seorang anak melakukan tindakan stereotip? Dan apakah benar sikap orang tua atau bahkan pola orang tua asuh ternyata menyuburkan tindakan tersebut?

Asmiati Malik dari Universitas Bakrie dan Andi Muthia Sari Handayani dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu mengungkapkan stereotip terbentuk dalam proses pembentukan karakter dari individu sejak kecil dan kemudian melekat secara alamiah di bawah otak tidak sadarnya.

Pendapat yang lebih detail diungkapkan Erin N. Winkler, professor dan Kepala Departemen Afrology di Universitas of Wisconsin-Milwaukee. Beliau mempelajari bagaimana anak-anak membentuk gagasan mereka tentang ras selama tahap awal perkembangan.

Ketika anak-anak mulai mencari tahu dan belajar membedakan bentuk dan warna, mereka juga mulai mengamati perbedaan yang terlihat di antara orang-orang dan membedakan identitas mereka sendiri, termasuk konsep rasial.

Winkler juga mengulas bagaimana bayi berusia 3 sampai 6 bulan dapat secara non-verbal mengkategorikan orang menurut karakteristik ras, lalu anak-anak berusia 2 tahun dan seterusnya dapat menggunakan kategori ini untuk “bernalar” tentang perilaku orang.

Secara perkembangan, normal bagi anak prasekolah untuk memperhatikan dan bertanya tentang perbedaan warna kulit dan ciri-ciri lainnya, terutama karena anak usia 3 sampai 5 tahun sering belajar mengkategorikan segala macam hal. Besar kecil, tinggi pendek, hitam putih, cantik jelek, dan seterusnya.

Anak-anak bahkan dihadapkan pada stereotip rasial secara terbuka, melalui buku, majalah, televisi dan pengalaman mereka di lingkungan. Bagi anak-anak di usia ini, apa yang terjadi dan ada di sekitarnya mengundang rasa ingin tahu.

Jadi ketika mereka memperhatikan sebuah sikap atau perilaku sebagai pola, lalu mereka tidak mendapatkan penjelasan mengapa pola-pola ini ada, mereka menyimpulkan bahwa memang begitulah seharusnya bersikap.

Inilah sebabnya sikap orang dewasa yang tak mau terbuka mendiskusikan tentang ras bisa dianggap mendorong anak untuk memiliki prasangka kepada temannya atau orang lain.

Lalu, apakah mudah mendiskusikan hal ini dengan anak-anak dan sebaiknya di usia berapa kita membicarakan hal ini. Beberapa orang tua khawatir tentang mengenalkan masalah seperti diskriminasi pada usia dini. Yang lain enggan membicarakan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya mereka pahami atau tidak nyaman untuk dibahas. Namun bagi mereka di keluarga yang pernah mengalami perlakuan pembedaan berdasarkan stereotip, tentu tidak memiliki pilihan seperti itu.

Pembicaraan tentang stereotip, rasisme dan diskriminasi mungkin terlihat berbeda untuk setiap keluarga. Meskipun tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua, panduannya sebenarnya sama. Semakin dini orang tua memulai percakapan dengan anak-anak mereka, semakin baik.

Menurut Unicef, usia anak yang cukup baik untuk diajak berdiskusi tentang hal ini, ternyata usia balita. Pada usia ini, anak-anak mungkin mulai memperhatikan dan menunjukkan perbedaan pada orang yang mereka lihat di sekitar mereka. Seperti pada contoh yang dialami Dydy saat TK di awal cerita.

Lalu apa saja langkah-langkah kita sebagai orang tua mengajarkan hal ini? Apalagi sudah dipastikan bahwa orang tua lah yang meletakkan dasar dari bagaimana anak-anak bersikap kepada orang yang ‘berbeda’.

Unicef sempat menyusun panduan seperti selalu mengajak anak mengenali dan mensyukuri perbedaan dengan sering mengajak anak play date dengan teman dari berbagai keluarga, selalu terbuka terhadap pertanyaan dan keraguan anak-anak saat menghadapi orang yang berbeda, selalu berusaha memfasilitasi dengan bersama-sama membaca buku anak-anak maupun menonton bersama serial Upin Ipin atau sejumlah film Disney seperti Mulan, Brave, Frozen, Wreck it Ralph, Monster’s Inc., dan Shrek yang banyak memberi contoh tentang stereotip dan keberagaman.

Dan termasuk mengajak anak ke pekan budaya atau festival seni untuk mengenalkan betapa berwarnanya lingkungan sekitar kita.

Namun, kuncinya kembali lagi ke orang tua, yang sejatinya adalah ‘pintu’ anak mengenal apa-apa di dunia. Ingatlah untuk mempraktikkan selalu apa yang kita katakan.
Kita mungkin mengajari anak-anak tentang tak boleh membeda-bedakan teman termasuk bersikap toleran. Namun jika mereka mendengar kita berbicara negatif tentang orang yang berbeda, jangan kaget jika mereka akan meniru kita.

Anak-anak akan sering mempraktikkan apa yang mereka lihat dan dengar sebagai kebalikan dari apa yang diajarkan. Inilah sebabnya mengapa anak-anak lebih cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat ketika mereka melihat kita mempraktikkan toleransi dan menerima orang lain apa adanya.

Ini PR besar saya juga untuk Dydy untuk tidak bersikap stereotip dan diskriminatif, termasuk mulai mengajarkannya untuk bersikap asertif saat ada teman yang membeda-bedakan dirinya.

Tak mudah, perlu proses, perlu keteladanan dari kami orang tuanya; tapi bukan berarti tak bisa kan?


Referensi : https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/explainer-ilmu-psikologi-menjelaskan-bagaimana-rasisme-terbentuk-dan-bertahan-di-masyarakat-140071
https://www.wiscontext.org/how-kids-learn-about-race-stereotypes-and-prejudice
https://www.unicef.org/parenting/talking-to-your-kids-about-racism
http://www.aldenhabacon.com/13-tips-how-to-talk-to-children-about-diversity