yukberbagi!


Di’Uber’ sama Arsa yang autistik

Sudah seminggu ini..aplikasi Uber di android saya yang entah kapan diinstall, berubah aktif.
Tentu karena mobil kami sudah duluan di ‘lodging’ berkenaan dengan kepindahan keluarga kami ke kota lain.

Bila yang lain bercerita tentang pengalaman mengesankan baik maupun buruk tentang drivernya..saya berbeda. Bersyukur sih tak pernah dapat driver yang error atau berperilaku tak sesuai juga.

Saya mau berkisah tentang bagaimana berkendara Uber bisa menaklukkan salah satu karakter spektrum autistik Arsa, putra sulung kami. Maksudnya?

Ya..karena Arsa punya karakter Obsessive Compulsive Dissorder (OCD) terutama tentang rute jalan. Memori fotografis tentang rute jalan yang harus dilalui dari suatu tempat menuju rumah..itu luar biasa rigidnya. Ada jalan yang harus bahkan wajib dilalui..ada jalan yang pantang dilewati (sebelum dia ngambek atau menggerutu sepanjang jalan)

Kalau yang jadi sopirnya saya atau papinya..tentu kami paham dan kadang terlalu menuruti kemauan OCD nya itu. Sebenarnya sebagai cara paling malas karena tak mau menghadapi gerutuan Arsa. Tapi kalau orang lain? Dan..tentu suatu saat ia harus hadapi realita bahwa tak selamanya sopirnya itu saya atau papinya yang senantiasa bisa menuruti keinginannya untuk melalui rute tertentu. (Masalahnya kadang rute yang dimintanya itu tak selalu rute tersingkat menuju rumah)

Malam ini buktinya. Kami menggunakan Uber lagi untuk pulang dari daerah Sanur.
Rute yang diinginkan Arsa adalah lewat Renon…area Denpasar Kota baru menuju rumah kami di Denpasar Utara. Namun driver Uber dan tentu saja kami (sudah agak malam) memilih lewat sepanjang Gatsu Timur..Gatsu Tengah baru masuk wilayah Denpasar Utara.

Begitu di perempatan Hang Tuah, Arsa sudah mengatur untuk berbelok ke Renon. Namun driver jalan terus. Mulailah Arsa menggerutu. Saya berusaha menenangkan dengan mengatakan jalanan area Renon ditutup. Maaf deh saya harus berbohong sama Arsa. Dia berusaha mencerna tapi terus menggerutu.

Akhirnya saya memberi alasan lain, bahwa dua anak yang ikut di mobil bersama kami akan dijemput pulang oleh tante mereka. Sedikit berhasil tapi tetap saja menggerutu sampai setibanya kami di rumah.

Yang kami takutkan soal tantrum ternyata tak terjadi. Di rumah pun tak menggerutu lagi.
Jadi….sebenarnya ke’rigid’an Arsa sudah mulai bisa dinegosiasi.
Tanpa harus emosi baik di pihak Arsa maupun kami.

Wah berkendara dengan Uber sungguh memberi kontribusi positif  bagi Arsa yang autistik. Mulai dari bersabar menunggu kedatangan mobil dan tentu (mudah2an) akan mengurangi ke’rigid’an Arsa dalam mengikuti rute tersingkat yang dipilih gps Uber.

Terima kasih ya…
Siap2 naik Uber lagi nih untuk menguji rigid nya Arsa. ;))