yukberbagi!


1001 Alasan Markonah bersiar kabar

WhatsApp grup kampung kami tiba-tiba riuh tak henti-henti. Sejak Markonah, yang dikenal terdepan mengunggah berita; mengeposkan tadi pagi.

[Berita duka cita : Innalillahi wainna ilaihi rajiun..Bapak Mrono meninggal semalam. Ga boleh dibawa pulang, langsung dikubur. Katanya covid.]

Beberapa ibu menanggapi dengan sedih dan menyatakan simpati. Beberapa ibu lain mempertanyakan kebenaran covid atau tidak? Beberapa lagi mengekspresikan ketakutan. Takut kalau sebelumnya Pak Mrono sudah menularkan ke orang lain.
Lalu mereka berdebat, ada yang menyarankan untuk menunggu visum rumah sakit tapi ada yang mendesak Markonah untuk membuktikan postingannya. Markonah tak bergeming.

Keesokan paginya, WhatsApp grup riuh lagi. Karena Markonah mengeposkan seperti ini.

[Saya, Markonah mohon maaf sebesar-besarnya pada keluarga dan kerabat alm Pak Mrono. Menurut rumah sakit, Pak Mrono meninggal karena serangan jantung akibat kelelahan kurang tidur bermalam-malam menunggui istrinya yang sakit. Alm langsung dimakamkan mengingat istrinya sedang sakit dan anak-anaknya tak bisa pulang karena lokdon di mana-mana. Abaikan postingan saya kemarin tentang pak Mrono positif covid]

Dan, semua anggota WhatsApp grup menjadi marah kepada Markonah. Berbagai umpatan dari halus sampai kasar tumpah semua. Mereka terlupa. Yang sepatutnya marah adalah Sepia, istri Pak Mrono bila satu hari nanti membaca percakapan tentang penyebab meninggalnya almarhum.

Sensasional atau mengejutkan sepertinya kunci agar pesan kita menarik lalu dibaca.
Dalam konferensi ‘Fakta Global 7’ edisi tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Jaringan Pemeriksa Fakta Internasional, Edwin Tallam, kandidat PhD, Universitas Moi menyebutkan bahwa “hubungan yang erat” menjadi penentu dipercayanya sebuah postingan di WhatsApp; meski postingan itu belum tentu benar. Setiap kali pesan datang dan penerima pesan mempercayai pengirimnya, pesan akan dianggap lebih dapat dipercaya.

Mengomentari studi Edwin tersebut Dimitra Dimitrakopoulou, asisten profesor tamu, Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengatakan bahwa cepatnya penyebaran berita pada postingan WhatsApp menunjukkan bahwa orang lebih percaya satu sama lain daripada mereka mempercayai media dan institusi sosial lainnya.

Lalu bagaimana dengan fenomena hoaks pada WhatsApp grup keluarga?
Sejak fitur WhatsApp grup diluncurkan oleh aplikasi tersebut tahun 2011, lalu mulai banyak digunakan di Indonesia pada tahun-tahun berikutnya, pilihan mengobrol beramai-ramai ini menjadi platform yang cukup diminati. Termasuk untuk menjalin komunikasi bila anggota keluarga banyak yang merantau dan berjauhan tempat tinggal.

Dari sekian banyak grup, mungkin WhatsApp Grup keluarga yang menjadi tricky dan menantang untuk anak-anak muda millenial. Terutama saat orang-orang yang lebih tua di grup menyampaikan pendapat atau membagikan berita yang provokatif. Sebut saja saat pilpres atau pilkada yang baru saja berlalu. Ketika para calon malah berkompetisi dalam diam karena tak boleh ada kampanye terbuka; perseteruan malah terjadi di WhatsApp grup keluarga meski para pendukung tak langsung saling mengenal calon yang maju.

Tak hanya isu politik. Isu kesehatan pun banyak dijadikan bahan hoaks yang menarik. Seperti ilustrasi di awal tulisan, covid-19 menjadi topik hits selama tahun 2020. Sampai Agustus saja, Kemkominfo menyatakan melalui laman resminya telah menjaring ratusan hoaks maupun disinformasi terkait covid-19 melalui AIS yang merupakan sensor pengais konten negatif di media sosial dan situs. Disinformasi yang dimaksud adalah sejak awal informasi tersebut sudah direkayasa sedemikian rupa dan tak mengandung kebenaran sama sekali.

Hoaks yang terjaring mesin AIS terkait informasi Covid-19 di era pandemik ini memunculkan istilah baru yang menurut Kemkominfo disebut sebagai disinfodemic. Diartikan sebagai kondisi di mana terjadi disinformasi tentang pandemik ini namun terus disebarluaskan; dimana WhatsApp grup keluarga sebagai penyumbang terbesar tersebarnya hal tersebut.

Tantangan yang lalu muncul menjadi dilematis. Orang-orang dalam WhatsApp grup keluarga biasanya adalah Ayah, Ibu, Om, Tante, Kakek, Nenek, Sepupu, Ipar, Keponakan di mana kita menjadi gamang dan segan bagaimana menegur mereka-mereka yang lebih tua; yang secara kodrat patut dihormati.

Tapi… tentu saya tidak akan memberi tips untuk menyerang balik para kerabat yang mungkin kerap dan tanpa sadar senang menyebar hoaks tersebut. Saya malah akan mengulas alasan mengapa seseorang seperti Markonah mengunggah sebuah disinformasi atau misinformasi.

Josh Stearns, pernah menulis sebuah artikel menarik di situs First Draft tahun 2016 tentang alasan-alasan di baliknya.

  1. Keinginan untuk membantu
    Saat tahu-tahunya menyaksikan atau mendengar insiden atau tragedi, banyak orang tergerak ingin membantu. Mereka ingin memberi tahu apa yang sedang terjadi, menyampaikan informasi penting terkait, serta berbagi foto dramatis. Tidak salah dan sebenarnya sungguh bermaksud baik. Sayangnya, bila yang tersebar adalah disinformasi maupun misinformasi, yang mungkin terjadi adalah menambah kekacauan informasi sebenarnya. Karena tergesa-gesa berbagi tanpa melakukan verifikasi keabsahan informasi bisa sangat merugikan daripada membantu. Di beberapa kasus, perilaku ini malah mendorong orang yang berkarakter buruk untuk mengeruk uang dengan melakukan penggalangan dana dari menjual rasa kasihan dan simpati.
  2. Keinginan memahami dunia
    Saya terkejut membaca alasan kedua ini. Sepertinya keren sekali keinginannya. Namun mulai sedikit paham ketika membaca penjelasan Craig Silverman dalam penelitian tentang penyebaran informasi yang salah, bahwa rumor, gosip, isu atau hoaks hanyalah cerita, dan cerita adalah mesin, seperti media atau alat; yang melaluinya kita jadi seolah memahami dunia.
    Kata Craig lagi, seringkali orang-orang dengan cepat berbagi rumor selama berita terbaru karena rumor tersebut memberi mereka sesuatu untuk dijadikan pegangan, mengkonfirmasi beberapa cerita dalam pikiran mereka, atau beresonansi dengan pandangan mereka tentang dunia.
    Mengapa berita terbaru asik untuk dijadikan rumor, isu atau hoaks? Karena dalam berita terbaru lebih banyak hal-hal yang menjadi misteri, banyak hal tidak diketahui daripada diketahui.
  3. Keinginan untuk merasa menjadi bagian dari pengalaman bersama.
    Mungkin ini yang terjadi pada kasus Markonah. Craig mengungkapkan, dalam menghadapi ketidakpastian, kesedihan, dan ketakutan saat adanya insiden, krisis dan bencana, tidak mengherankan jika orang mencari koneksi. Mencari keterkaitan satu hal dengan yang lain.
    Kini yang tercepat adalah secara online. Diilustrasikan Craig; orang-orang pun tak sadar berkumpul dalam kerumunan digital di sekitar tagar dan streaming langsung sebuah kejadian.
    Mereka seperti tertarik untuk menjadi bagian dari momen bersama ini, untuk melihat rasa sakit mereka sebagai efek insiden, krisis atau bencana tersebut. Dan kemudian merefleksikan kembali dengan mereka menyebarkan berita tersebut.
    Pada saat-saat seperti itu, berbagi berita bisa terasa seperti tindakan empati. Walau berita, foto, videonya sudah disinformasi. Pada kasus Markonah, memang bukan disinformasi. Karena info tentang pak Mrono meninggal benar adanya, namun penyebabnya yang keliru. Hal ini lebih dikenal sebagai misinformasi. Berita memiliki unsur kebenarannya tapi lalu dirombak. Nah ketika misinformasi menyebar, informasi itu dibagikan Markonah lebih untuk menguatkan seberapa urgen pesan yang dikirim dan bagaimana hubungan baik yang (seolah) dibangun Markonah dengan keluarga alm pak Mrono yang telah dibuatnya. Dalam hal ini, bagi Markonah sebagai orang yang berbagi berita, berita itu tidak perlu benar, tapi hanya perlu merasa “benar”. Kasus Markonah ini akan lebih jelas saat kita melihat alasan selanjutnya.
  4. Emotional network versus Information network
    Dalam penelitiannya, Craig mewawancarai Kenyatta Cheese terkait cuitannya di twitter usai serangan Paris November 2015. Cheese menuturkan mengapa banyak sekali kekeliruan informasi saat itu. “Mungkin yang ingin dibagikan orang bukanlah informasi tetapi pemicu emosionalnya. Dalam konteks sosial ini yang terjadi bukan lagi jaringan informasi tetapi jaringan emosional.”
    Seperti pada kasus Markonah.
    Ketika berita duka yang dibuat Markonah beredar di WhatsApp grup, jaringan yang menghubungkan seluruh anggota grup menjadi percampuran antara informasi dan juga emosi.
    Dan emosi itu justru malah mendorong berbagi dengan cara yang makin mempersulit pencarian kebenaran, di saat adanya insiden, tragedi, krisis atau bencana; karena akal sehat seolah terlupakan.
    Craig mengungkapkan Cheese menulis lebih lanjut di blognya, “Ketika orang membagikan informasi yang salah, mereka lebih tertarik pada emosi yang akan ditimbulkan oleh informasi tersebut.”
    Menjadi tantangan kemudian, ketika orang-orang hanya benar-benar tergantung pada berita di media sosial mengingat dalam situasi krisis, kedukaan atau bencana di mana kecepatan penyampaian informasi akurat diperlukan segera; apa yang dibagi (melibatkan emosi) dan apa fakta yang ingin diketahui menjadi bisa berlawanan dan malah menjadi sangat berbahaya.
    Bayangkanlah kasus Markonah. Bila ibu-ibu segrup sebenarnya ingin tahu fakta penyebab meninggalnya pak Mrono, namun sudah ketakutan terlebih dulu bahwa salah satu dari mereka mungkin tertular; atau lebih ekstrem lagi malah menjauhi bu Sepia yang diasumsikan juga sudah tertular; tapi misinformasi tersebut terus tersebar luas, tentu akan terjadi kekacauan dan syak wasangka satu sama lain.Dan semua kekacauan itu bermula dari satu postingan saja.

Apakah kita akan menggunakan 1001 alasan Markonah untuk terdepan bersiar kabar? Atau kita tipe saring sebelum sharing? Atau kita malah penikmat kekacauan atau oportunis pengeruk duit akibat disinformasi atau misinformasi?
Yuk gunakan jari dengan bijak.

Jadilah orang yang asik tanpa asal nge-klik.

Referensi :
https://www.google.com/amp/s/www.thequint.com/amp/story/news/webqoof/why-do-people-believe-in-fake-news-even-after-reading-fact-checks

https://www.google.com/amp/s/beritadiy.pikiran-rakyat.com/nasional/amp/pr-70649408/hoax-menyebar-di-grup-wa-keluarga-kenali-disinfodemic-dan-cara-penanganannya

Why do people share rumours and misinformation in breaking news?



Di’Uber’ sama Arsa yang autistik

Sudah seminggu ini..aplikasi Uber di android saya yang entah kapan diinstall, berubah aktif.
Tentu karena mobil kami sudah duluan di ‘lodging’ berkenaan dengan kepindahan keluarga kami ke kota lain.

Bila yang lain bercerita tentang pengalaman mengesankan baik maupun buruk tentang drivernya..saya berbeda. Bersyukur sih tak pernah dapat driver yang error atau berperilaku tak sesuai juga.

Saya mau berkisah tentang bagaimana berkendara Uber bisa menaklukkan salah satu karakter spektrum autistik Arsa, putra sulung kami. Maksudnya?

Ya..karena Arsa punya karakter Obsessive Compulsive Dissorder (OCD) terutama tentang rute jalan. Memori fotografis tentang rute jalan yang harus dilalui dari suatu tempat menuju rumah..itu luar biasa rigidnya. Ada jalan yang harus bahkan wajib dilalui..ada jalan yang pantang dilewati (sebelum dia ngambek atau menggerutu sepanjang jalan)

Kalau yang jadi sopirnya saya atau papinya..tentu kami paham dan kadang terlalu menuruti kemauan OCD nya itu. Sebenarnya sebagai cara paling malas karena tak mau menghadapi gerutuan Arsa. Tapi kalau orang lain? Dan..tentu suatu saat ia harus hadapi realita bahwa tak selamanya sopirnya itu saya atau papinya yang senantiasa bisa menuruti keinginannya untuk melalui rute tertentu. (Masalahnya kadang rute yang dimintanya itu tak selalu rute tersingkat menuju rumah)

Malam ini buktinya. Kami menggunakan Uber lagi untuk pulang dari daerah Sanur.
Rute yang diinginkan Arsa adalah lewat Renon…area Denpasar Kota baru menuju rumah kami di Denpasar Utara. Namun driver Uber dan tentu saja kami (sudah agak malam) memilih lewat sepanjang Gatsu Timur..Gatsu Tengah baru masuk wilayah Denpasar Utara.

Begitu di perempatan Hang Tuah, Arsa sudah mengatur untuk berbelok ke Renon. Namun driver jalan terus. Mulailah Arsa menggerutu. Saya berusaha menenangkan dengan mengatakan jalanan area Renon ditutup. Maaf deh saya harus berbohong sama Arsa. Dia berusaha mencerna tapi terus menggerutu.

Akhirnya saya memberi alasan lain, bahwa dua anak yang ikut di mobil bersama kami akan dijemput pulang oleh tante mereka. Sedikit berhasil tapi tetap saja menggerutu sampai setibanya kami di rumah.

Yang kami takutkan soal tantrum ternyata tak terjadi. Di rumah pun tak menggerutu lagi.
Jadi….sebenarnya ke’rigid’an Arsa sudah mulai bisa dinegosiasi.
Tanpa harus emosi baik di pihak Arsa maupun kami.

Wah berkendara dengan Uber sungguh memberi kontribusi positif  bagi Arsa yang autistik. Mulai dari bersabar menunggu kedatangan mobil dan tentu (mudah2an) akan mengurangi ke’rigid’an Arsa dalam mengikuti rute tersingkat yang dipilih gps Uber.

Terima kasih ya…
Siap2 naik Uber lagi nih untuk menguji rigid nya Arsa. ;))