yukberbagi!


Terlanjur atau malas?
12/11/2015, 4:12 pm11
Filed under: Uncategorized

Tadi pagi dapat curhat dari seorang teman guru anak2 berkebutuhan khusus. 
Tentang tantangan dua orang anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah umum.
Berikut ilustrasi ceritanya…
Yang seorang…orang tuanya sedang kaget dengan hasil uts nya. Nilainya di bawah standar kelas. Padahal saat belajar dengan guru privat..anak tersebut bisa menjawab soal dengan baik. Tapi di saat terakhir sesi privat anak tersebut mengeluh kelelahan belajar dan mau buat bentuk2 dengan clay saja. Sempat diantar ke tempat kursus kue dan anaknya senang plus minat bertanya ini itu. Stress karena kelelahan drill belajar memicu semakin sering ia tertawa cekikikan tanpa sebab dan suka lempar-lempar barang di sekolah.

Anak yang satu nya lagi jelas menunjukkan gaya belajarnya tidak cocok dengan metode pbm klasikal di kelas. Karena faktanya ia tak pernah mengisi lembar jawaban apapun di sekolah kecuali saat bersama guru pendamping atau guru privat dan semua jawaban selaku benar. Dibilang bodoh..ia mampu menggambar peta dunia lengkap dengan detil kota-kotanya.
Sayang kecerdasannya tak ditunjang dengan kemandiriannya menjelang usia remaja ini. Masih sangat tergantung dengan orang tua.

Duhhhhhh…..
Ketika saya berpendapat bahwa mereka tidak menemukan sekolah maupun guru yang tepat sehingga potensinya tidak berkembang…sang guru yg curhat ini hanya menjawab…orang tua merasa sudah terlanjur menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah umum (yang belum siap menerima siswa berkebutuhan khusus)

Terlanjur?
Seriusss?
Hmmmm…. saya pernah terlanjur menyekolahkan Arsa ke 3 sekolah umum yang membuat kemampuan calistungnya mengalami kemunduran..karena ia stress.
Saat itu…melihat Arsa terpuruk… membuat saya ingin memutar waktu ke sebelum saya terlanjur nekat plus sok pede Arsa mampu di sekolah umum.
Saya merasa kesombongan dan ego diri saya lah yang membuat Arsa seperti itu.

Seperti tulisan saya seblm ini Hidup adalah pilihan saya berusaha tidak mau menuduh…orang tua2 kedua anak tersebut sombong atau ego.
Namun kata terlanjur yang meluncur untuk melegitimasi tidak apa-apa anak2 mereka di sekolah umum (padahal jelas ada hal2 yang perlu dibenahi sebelumnya) menurut saya pribadi sungguh tidak pas.

Memang…memindahkan ke sekolah lain atau memilih kursus tertentu, memerlukan kerja ekstra. Tambahan biaya…Penyesuaian diri dengan siswa maupun guru…plus (ini yang paling tidak menyenangkan) tentu sibuk menjawab pertanyaan orang-orang alasan pindah.

Bagi saya…saya sih memilih demikian. Lebih baik saya keluarkan uang lebih banyak..keluarkan ekstra energi..luangkan waktu… untuk memfasilitasi dan mengembangkan kemampuan Arsa. Lelah memang… ME time saya pun banyak terpotong… aktualisasi diri pun berubah dari wanita karir menjadi stay at home mom…
Namun melihat kemajuan Arsa selangkah demi selangkah dari hari ke hari..sungguh menyejukkan  hati. Dan itu benar-benar priceless.
Jadi… terlanjur?  (Mungkin) yang pas..kita musti lebih kerja keras.
Tak ada yang pernah salah untuk kerja keras bagi anak….apalagi dengan memposisikannya sebagai individu yang bisa difasilitasi dan dikembangkan.

Ah..jadi self reminder lagi..
Jangan pernah ada kata ‘terlanjur’ untuk kebahagiaan anak.

Advertisements


Hidup adalah pilihan
11/11/2015, 4:12 am11
Filed under: Uncategorized

Tiba2 ingin nulis ini buat mengingatkan bahwa setiap orang telah memilih apa yang menjadi jalan hidupnya.

Jujur…Akhir-akhir ini sering banget lihat situasi yang tunjukkin bahwa dalam hidup kita akan terus menerus memilih.

Memilih long distance relationship dengan konsekuensi tak bisa selalu bersama..terbatasnya waktu untuk komunikasi..plus banyak “ujian” sosok yang menarik di sekitar.
Namun short distance juga tak menjamin hubungan awet dan berlanjut. Seringnya bersama kalau tak disiasati bisa memicu konflik atau kebosanan. Apalagi bila visi berdua tak selalu seiring sejalan.

Memilih menikah muda karena kehamilan tak diinginkan..tentu dengan resiko belum tentu 100% klik dengan pasangan…ada hal-hal yang harus ditunda untuk dipenuhi plus belum siap dengan pola asuh dan didik anak. Walau banyak yang kemudian berbangga hati…belum usia paruh baya anak sudah mau lulus sarjana.

Memilih menikah dengan pasangan yang sudah terlalu lama bersama sehingga tak enak dengan omongan orang atau terlalu malas memulai hubungan baru…pun punya konsekuensi. Di kemudian hari merasa tak ada lagi chemistry..lalu menjalani kehidupan berkeluarga dengan datar-datar saja.

Memilih menyusui..tentu dengan konsekuensi…tak bisa keluyuran sendiri tanpa tinggalkan ASI perah atau ya ke mana-mana bawa anak…tak bisa berpakaian semaunya tanpa kesulitan saat menyusui..plus resiko fisik kayak lecet tergigit..bengkak karena lambat diperah. Tapi yang jelas bayi lebih sehat…antibodi lebih kuat plus tentu hemat biaya pengeluaran untuk susu formula.

Memilih melanjutkan pendidikan tinggi saat sudah berkeluarga…tentu dengan konsekuensi berkurangnya family time…ketinggalan momen-momen penting tumbuh kembang anak…plus pengetatan budget keluarga. Walau nanti berimbas pada meningkatnya pendapatan karena kenaikan jabatan.

Memilih jadi wanita karir atau ibu rumah tangga pun punya konsekuensi yang tak bisa dibanding-bandingkan satu sama lain. Wanita karir dengan konsekuensi saat lelah pun masih diganggu oleh anak-anak dan suami tapi saat lunch time bisa hang out bareng teman-teman.
Jadi ibu rumah tangga dengan konsekuensi lebih banyak waktu tersita dengan pekerjaan rumah tangga yang tak berakhir hanya katena deadline. Tapi setiap saat tahu apa yang terjadi pada anak-anak dan sekitar rumah.

Pfiuhhh…ternyata banyak sekali pilihan dalam hidup. Itu baru sebagian saja di antaranya.
Namun…kita sering (berusaha) melupakan atau tutup mata dengan konsekuensi pilihan kita. Tahu tapi tidak mau tahu, akhirnya menyesal belakangan.

Sejatinya..tak pernah percuma..apa yang telah kita jalani. Asal mau jadikan itu pelajaran terbaik dalam hidup. Hingga saat memilih di kesempatan berikutnya… kita memang memilih karena kita sudah siap dengan segala konsekuensinya.

Your life is your choice.
Be aware…