yukberbagi!


Meminta maaf dan memaafkan
14/06/2018, 4:12 pm06
Filed under: Uncategorized

Mistakes are always forgivable, if one has the courage to admit them. Bruce Lee
Read more at: https://www.brainyquote.com/quotes/bruce_lee_383809?img=4

Di antara gelegar petasan dan kemeriahan takbiran.. saya jadi tertarik untuk menulis tentang memaafkan.

Saya pemaaf? Hehe..coba tanya suami deh biar tahu lebih jauh.

Saya malah dibilang suka mengumbar permintaan maaf sama orang lain. Kerjaan ada yang keliru..dengan ekspres saya bilang maaf. Tak sengaja mencubit si kecil karena tak sanggup menahan emosi..kata sorry segera meluncur. Tiba-tiba orderan orang agak melenceng dikit.. dengan spontan kata maaf dengan emoticon tangan terkatup segera menghiasi dinding chat saya.

Ya dengan mudahnya saya mengatakan MAAF. Tapi apa begitu juga mudahnya saya belajar untuk memperbaiki segala tindakan saya yang dimintakan maaf itu.

Hmmm.. sedikit..kadang-kadang mungkin.

Buktinya saya tau taunya melakukan kesalahan lagi dan minta maaf lagi.

Kata-kata Bruce Lee di atas memang sudah saya bisa lakukan. Saya berani dan mau minta maaf atas kekeliruan saya.

Sebuah langkah awal dari proses pembelajaran diri untuk menjadi lebih baik. *netizen tepuk tangan

Sebenar perkataan, apapun kesalahan selalu bisa dimaafkan.

Selalu…? Hmm..tiba-tiba terbayang..bermacam kejadian. Saya dibully saat remaja.., Arsa sulung saya yang autistik diperlakukan semena mena, klien yang tahu-tahunya PHP – pura-pura ga pernah memesan, sikap saya yang kurang dihargai…, orang yang memperlakukan saya diskriminatif.

Eitts.. ini bayangan saya atau ego saya yang bicara. Baru bicara soal memaafkan saja..tak terlintas apa yang terjadi di sekitar atau yang orang lain alami.

Lihat deh semua kalimat itu pasif adanya. Di mana saya yang jadi objek…dan orang lain jadi pelakunya. Saya merasa jadi korban. Korban ketidakadilan..korban diskriminasi..Saya merasa patut dikasihani.

Padahal saya sendiri yang suatu waktu, dengan percaya diri pernah berujar. Semesta itu tak pernah salah mendengar, melihat dan membaca kita.

Menempatkan diri menjadi korban.. ya.. mungkin karena saya tak bersikap lebih baik..tak berusaha mengubah diri..sehingga memang pantas di’korban’kan.

Saya memang berani minta maaf tapi tak berlanjut dengan perubahan sikap yang signifikan.

Lihat si kecil saya. Bila suatu saat bertengkar dengan teman..terus baikan..minta maaf…, terus suatu saat bertengkar lagi untuk urusan yang sama ; pasti lama-lama temannya tersebut akan kapok dan menghindar.

Nah anak-anak saja sudah belajar proses maaf memaafkan ini. Bagaimana dengan kita?

MEMINTA MAAF ~ REFLEKSI DAN BERUBAH ~ MEMAAFKAN = PROSES MENJADI DIRI LEBIH BAIK.

Ini sih #selftalk saya.

Besok udah lebaran aja…

Maaf lahir batin ya… πŸ™πŸ™

Advertisements


Move on…bergerak apa?
03/02/2018, 4:12 am02
Filed under: Uncategorized

Ket foto : ini waktu eksibisi komunitas tari inklusi #nalitari pada hari Disabilitas Internasional.
Saat itu semua penari diminta berpose diam (aturan koreografinya) dan hanya berganti gerak saat tubuh kita tak mampu lagi. Sebagai bentuk meng ‘alami kondisi teman2 yang sehari2nya bergerak terbatas. ==========================
Saya merasakan betul. Saya yang merasa bersalah bila mager dan tidak melakukan atau mengerjakan apa2..saat ikut eksibisi itu perlu banyak kontemplasi diri. Termasuk mengendalikan pikiran agar tak terlampau berkelana. Yup…berarti comfort zone saya selama ini bergerak. Duduk diam saja bukan tipikal saya sesungguhnya. Β°β€’Β° Namun kemudian saya bertemu life partner a k a suami yang menantang saya dengan keluar dari comfort zone yang lebih luas lagi.
Pindah kota.. dari rumah sendiri ke rumah sewa.. dari kemapanan ke kesederhanaan.. dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru.. dari rutinitas yang sudah tertata..ke rutinitas yang lebih baru.
Berkenalan dengan orang2 baru. Menjalin..membangun interaksi baru. Β°β€’Β°
Kata suami..itu perlu jiwa move on.
Dan move on itu bukan cuma perpindahan fisik, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Karena belum tentu apa yang kami lakukan/kerjakan beroleh hal yang sama enak dan nyamannya seperti sebelumnya.
Seorang teman malah bilang itu semacam spiritual journey.
Bagaimana jiwa kamu melakukan perjalanan.. merasa berbagai pengalaman baru. Β°β€’Β°
Kata suami lagi…kalau cuma fisik aja yang pindah..tapi jiwanya tidak.., itu kayak punya pacar baru tapi apapun sikap perilaku bahkan mungkin penampilannya selalu dibandingkan dengan mantan. Ga pernah ketemu apa kelebihan pacar baru; plus (jangan2) dipacari sebagai bukti ke mantan..dirinya masih ‘laku’
Ahaiii… analoginya serem cuyyy… Sapa hayo yg mau dibandingin trus sama mantannya… @30haribercerita
#30haribercerita
#30haribercerita2018
#30hbc1828
#bergerak
#30hbc18bergerak



Lucky me…. πŸ˜‰
03/02/2018, 4:12 am02
Filed under: Uncategorized

Saya bukan perempuan yang good looking. Dari remaja..bukan primadona. Mungkin cowo2 yang dulu pernah naksir itu lebih karena saya misterius dan dikenal pinter. β–ͺ Dikenal ya…pinter ga tau juga.. nyaris ga naek kelas tapi bisa keterima di negeri..hahahehe. Udah ah ini bukan cerita tentang itu. β–ͺ Tapi saya yang ga good looking ini, malah disayang semesta. Kini malah dikelilingi cowo cowo yang berebut cinta dan perhatian saya. Suami dan 2 anak cowo yang gantengnya ngalahin aktor k-pop lah. Anak saya ya…hahaha (Walo saya bukan fans drakor..k-pop dan sejenisnya) β–ͺ Mau tau gimana romantisnya masing2 ke saya… ah.. tapi yang anak2 aja ya. Nti kalo cerita suami.. para jones merana lagi hahaha. β–ͺ Yang besar mau 15 tahun sangat concern sama rambut saya. Ga boleh tuh terurai2..melambai2. Ga boleh tali bra tampak. Trus kalo di depan dia, saya dan suami ga boleh pelukan. Jealous. Padahal dia autistik. β–ͺ Yang kecil (mau 5 tahun) lain lagi. Romantisnya lucu. Ah..happy saya kalo nanti dia jadi cowo yang humoris. Pasti jd org yang menyenangkan. Tadi sore contohnya. Perut saya sedang tidak nyaman karena PMS. Begitu saya bilang…dia lantas meluk saya dan berbisik i love you. Terus diikuti bilang i’m sorry mami.. i’m so sorry mami. Sambil hati saya meleleh leleh.. saya bilang..ini bukan salah kamu. Perut mami memang lagi ga nyaman. Tetap saja ia memeluk saya dari belakang.. Ah.. bakal jadi cowo yang bikin cewe meleleh leleh.. Yuk..mahmud..sapa putrinya mo masuk list? Hahaha.. bercanda ya…masih jauh perjalanan nih. @30haribercerita #30haribercerita #30hbc1822 #30haribercerita2018



(Saya/Arsa) ‘Menantang’ (Arsa/saya)
15/10/2017, 4:12 pm10
Filed under: Uncategorized

Saya baru saja naik panggung (lagi). Emak2 beranak dua dengan seonggok lemak di perut. Usai lihat fotonya baru malu dan termotivasi diet lagi. Waktu menari, tak terasa. Pokoknya bergerak. Mengapresiasi dan memaknai musik.

Dalam rangka apa? Tanya seorang teman. Ceritanya (tak) panjang. Ada bukaan workshop tari gratis dari sebuah komunitas. Namanya Nalitari, prinsipnya dance ability. Semua orang bisa menari, tak terbatas kecacatan apapun.

Pertama saya yang tertantang. Tapi sewaktu isi formulir, saya langsung teringat Arsa. Putra sulung saya dengan spektrum autistik. Sepertinya asik untuk memberi pengalaman baru untuknya. Waktu itu saya memang sedikit otoriter, mendaftarkannya tanpa ijin, tanpa paham Arsa minat atau tidak. Saya cuma bilang, ayo kita menari. Dan akhirnya kami berdua diterima.

Karenanya..bila sewaktu workshop, ia agak ngambek bahkan sampai marah; semua salah saya. Kurang memberi prolog yang panjang.

Tantangannya yang paling besar waktu itu kalau waktu latihan jatuh di akhir pekan. Bagi Arsa, akhir pekan = jalan-jalan. Tak perlu ke taman hiburan atau makan di restoran..keliling naik mobil sudah membuat ia bahagia.

Namun Arsa banyak belajar di komunitas Nalitari ini. Satu di antaranya tentang memupuk percaya diri. Sebagai individu autistik, perfeksionis dan zero fault itu utama. Hampir setiap usai latihan, saya perlu minta maaf di grup whats app untuk gangguan suara latar Arsa yang memanggil2 saya, mengoceh tentang sabar, tunggu, menari, tidak marah, pergi, tunggu mobil dan lain-lain.

Mungkin ketidaknyaman Arsa ikut serta sama tidak nyamannya dengan telinga orang lain mendengar suara latar. Tapi salah satu PR saya sebagai orang tua individu autistik adalah menariknya dari zona nyaman. Tak bisa melulu kita hidupnya merasa nyaman terus. Karena hidup itu bergerak, berubah, menuju lebih baik.

Dan memberikan pemahaman pada Arsa tentang ini bukan perkara mudah. Karena begitu abstrak. Bagi Arsa dengan rutinitas dan alur waktu sehari-hari yang rigid, perubahan bukan sesuatu yang menyenangkan.

Hal itulah yang membuat saya makin tertantang ‘menjebloskan’ Arsa dalam komunitas dan pertunjukan ini. Apalagi sepengamatan saya, Arsa sejatinya menikmati alunan musik dan senang hati menari di beberapa sesi latihan.

Berbagai siasat pun dilakukan. Bepergian dulu sebelum latihan di akhir pekan, ternyata tak terlalu berefek. Mengiming-imingi untuk bepergian setelah latihan, hanya membuatnya echolalia mengulang ucap kata-kata pergi.. toko merah..tunggu.. sabar. Atau..pergi..mau makan..tunggu..sabar…Itu kalau akhir pekan.

Di hari biasa, tantangannya adalah apakah Arsa menjahit dulu (rutinitas) sebelum latihan, atau membawanya ke tempat latihan. Pernah menjahitnya kelamaan, hingga kami datang terlambat. Pernah membawa jahitan dan menjahit sambil menunggu, cukup merilekskannya; namun saat giliran berlatih Arsa tengah asyik menjahit dan tak mau berhenti yang artinya tidak ikut berlatih.

Setengah optimis saya mulai mendoakan agar Arsa nyaman saat menuju pentas hari H. Berulang kali saya bilang, kalau ia marah-marah atau ribut semasa latihan, nanti teman-teman jadi takut. Tak ada yang mau menari bersamanya lagi (padahal ini tak mungkin terjadi di Nalitari) Terapi homeopathy untuk meredam kecemasannya pun sudah saya siapkan.

Saat gladi kotor, Arsa masih bersuara latar terutama memanggil saya, walau ia mulai menyadari ada sorot lampu, ada panggung dll. Saat gladi bersih saya inisiatif sembunyi. Saat itu setting lampu seperti saat pertunjukkan. Surprise suara latar Arsa berangsur berkurang.

Hingga saat mulai berkostum dan dirias, Arsa mungkin menyadari ia akan tampil. Yang membuat Arsa tak nyaman mungkin face painting bak orang Indian. Berkali-kali ia hendak menghapus polesan cat di muka. Namun teman-teman satu repertoarnya terus memberinya semangat.

Saat Arsa masuk ke panggung..saya malah sempat ke toilet. Sengaja saya menghindar. Sambil terus berdoa dalam hati dengan mantra “Arsa baik-baik saja… Arsa bisa…Arsa nyaman…Arsa mau menari bersama teman-teman”

Tak satupun kecemasan saya terjadi. Arsa naik panggung, menari dengan suara latar cuma satu dua kali..yang kata ayahnya dari area penonton tersamar oleh hingar bingar suara musik repertoarnya.

Pelupuk mata saya nyaris basah, kalau tak ingat saya masih harus menari di repertoar ke empat dengan make up rapi. Perasaan saat itu campur aduk antara bangga dan bahagia. Karenanya begitu Arsa mulai menghapus riasan dan sedikit menggerutu, saya hanya beri sedikit chamomile untuk membuatnya tenang.

Hingga ketika giliran saya tampil, saya tak berpikir harus tampil cantik atau bagaimana. Saya mau tampil ekspresif dan lebih baik; karena saya mengapresiasi Arsa. Mengapresiasi teman-teman di Nalitari dengan cinta dan kasih sayang mereka. Tak hanya buat Arsa tapi juga untuk teman- teman Arsa yang lain.

Dan ketika semua repertoar usai dan menyimak respon penonton; perasaan saya hanya satu. Berterima kasih sungguh-sungguh karena saya bisa memiliki kesempatan menantang diri saya untuk tak lelah membuat Arsa terus ‘hidup’ . Walau saya ‘terkapar’ sampai dua hari setelahnya , namun kesabaran, lelah hati dan kerja keras kami berdua terbayar dengan kesan teman-teman usai menonton.

Kata mbak Fani, “kami harus lebih bisa bersyukur dan belajar mengasihi tanpa batas”.

Wow…Terima kasih atas keberuntungan memiliki kesempatan untuk ‘menari’ dengan hati. Bersama Arsa apalagi.



Bukan cuma “tinggal Lep”
15/10/2017, 4:12 am10
Filed under: Uncategorized

Waktu ide acara di salah satu gerai makanan kekinian pizza muncul di antara ibu-ibu Kelompok Bermain, sempat muncul keraguan, mosok Salam yang mengusung pangan lokal dan sehat ikut acara yang ditawarkan mereka. Membuat pizza lho? Bukan meracik gudeg atau mengolah jenang gempol.

Namun, yang jadi pertimbangan kemudian adalah bagaimana anak-anak KB (kelompok bermain) Salam yang sedang asik melontarkan mau jadi apa mereka nanti, untuk belajar proses dan pengalaman baru.

Ya, tanggal 22 September kemarin teman-teman kecil tidak hanya melihat dapur. Dalam kelompok berisi lima siswa, bersama-sama memakai celemek, bertudung kepala dan mengenakan sarung tangan kebesaran. Semua bersemangat mengantri giliran masuk dapur.

Tentang pemakaian tudung kepala (shower cap) , sempat beberapa anak terutama laki-laki tidak mau. Bungsu saya Adyatma salah satunya. Dalam pikiran sederhananya tudung kepala digunakan saat membungkus rambut di kamar mandi atau perawatan di salon. Namun ketika dijelaskan hal tersebut untuk mencegah masuknya helaian rambut yang terjatuh ke makanan, ia dan teman kecil yang semula enggan mau memakainya.

Teman-teman kecil inilah yang akan ‘memasak’ pizza mereka sendiri. Walau hanya memoles ‘dough’ pizza yang telah disiapkan dengan saus tomat, menaburkan keju plus daging atau sosis atau jamur sebagai topping sesuai keinginan mereka. Mereka juga yang akan menyaksikan sendiri bagaimana pizza-pizza hasil kreasi mereka itu keluar dari oven untuk siap disantap. Wah… seru yaaa. Sampai Terang minta digendong ibunya untuk melihat pizza buatannya keluar dari oven

Teman-teman kecil belajar jadi koki atau chef. Yang biasanya dikenal lebih kepada pekerjaan ibu atau perempuan. Tapi hari itu, anak laki-laki maupun perempuan sama antusiasnya untuk bercelemek dan ‘mengacak-acak’ dapur gerai pizza, yang dipandu bapak-bapak. Lho kok bapak bukan ibu-ibu?

Kompor yang besar, kulkas yang besar, oven yang besar memang lebih sesuai untuk dipergunakan bapak-bapak. Karenanya pesan yang disampaikan sebelum masuk dapur adalah untuk berhati-hati dan tidak saling mendorong. Jaga diri, jaga teman selalu diingatkan para fasilitator.

Pekerjaan memasak memang bukan hal baru bagi teman-teman Salam. Anak-anak kelompok bermain bahkan sudah terbiasa membersihkan, memotong sayur untuk dimasak ibu-ibu mereka pada Jumat tertentu. Herannya, biasanya saat itu mereka lahap menikmati makanan yang (ikut) mereka siapkan. Ada kebanggaan melihat wortel, sayur yang tadi dipotong kemudian dinikmati.

Anak-anak pun belajar bahwa ada cara, ada alat yang digunakan untuk mengolah makanan. Dan yang terpenting, belajar proses bagaimana sampai sebuah makanan tersaji di hadapan mereka dan melakukannya membuat teman-teman kecil ini lebih paham. Bukan cuma tinggal hap atau tinggal glek, seperti iklan lauk cepat saji. Teman-teman kecil juga belajar untuk menghargai, tidak hanya menghargai makanan yang disajikan namun juga menghargai orang yang membantu menyiapkannya.

Selain belajar tentang proses memasak, kunjungan ke gerai pizza ini sekaligus menjadi sarana anak-anak mengenal profesi yang mungkin nantinya menjadi pilihan cita-cita mereka. Bahwa tak selalu cita-cita itu melulu dokter, pilot, tentara, arsitek, guru atau bahkan ultraman, boboiboy, princess Anna…ehh..(ini benar diucapkan teman-teman kecil) tapi juga menjadi koki.

Belum ada sih teman kecil yang mengutarakan hendak jadi koki, tapi dari cerita ibu-ibu mereka ada beberapa yang selalu bersemangat membantu saat memasak di dapur. Vadin dan Dunia salah dua di antaranya.

Sebagai penutup, saya mau menggarisbawahi. Bahwa mengenal, mempelajari dan mencoba memasak adalah salah satu ketrampilan hidup yang wajib dipelajari setiap anak, apapun jenis kelamin mereka. Karena saat seseorang hendak makan, alangkah elok adalah saat ia mampu mencari, mempersiapkan dan mengolah sendiri bahan-bahan yang akan jadi makanannya. Bukan melulu tergantung atau disediakan orang lain.

Mudah-mudahan ide gerai pizza ini juga diikuti gerai makanan tradisional lain. Sehingga teman-teman kecil bisa belajar dan bereksplorasi ke sana suatu hari nanti.



Memilih menyikapi
22/08/2017, 4:12 pm08
Filed under: Uncategorized

Bermula dari sebuah insiden. Sepulang anak-anak sekolah, mobil ‘kerja’ saya disundul motor yang katanya tidak melihat reting sein mobil. (Maksudnya mobil kerja itu mobil yang ga mulus-mulus amat karena banyak gores-gores, baret-baret dan kawan-kawannya)

Lagi-lagi mobil pasti yang bersalah. Tapi karena melibatkan dua mobil, saya spontan ‘menyalahkan’ mobil di samping diagonal yang sudah tertuduh tidak menyalakan reting sein. Enak saja sudah ‘berbuat’ , tak mengalami kerugian apapun (mobilnya mulus lus..masih plat baru) lalu kabur??!!

Singkatnya, si pengemudi yang ‘nyaris’ kabur, akhirnya yang berhasil di’paksa’ membawa mbak pemotor yang robek bibir dan kedua kakinya; setelah saya yakinkan tidak meminta ganti rugi, karena mobil saya bisa klaim asuransi.

Pfiuuh…walau kesal mobil saya ‘luka-luka’ ..di ujung hari saya terus bersyukur saya dan anak-anak tak ada yang terluka.

Persoalan selanjutnya adalah klaim asuransi yang harus 3×24 jam. Berkeliling di ring road utara Jogja karena kantor asuransinya pindah cukup menyita setengah harian saya.

Tapi kami sekeluarga mau pindahan. Mobil ‘luka-luka’ saya masih perlu kesana sini mengangkut barang pindahan rumah kontrakan.

Ternyata…klaim dan perbaikan di bengkel perlu waktu semingguan dan sungguh ‘menganggu’ pekerjaan saya.

Untung kini ada transport online. Beberapa kali pulang pergi sekolah menggunakan ini. Beberapa kali anak-anak tidak masuk karena sulit antar jemput. Entah berapa kali saya perlu mengisi saldo untuk pembayaran yang lebih murah.

Mau merutuk insiden itu lagi sih sebenar-benarnya? Tuh kan apa yang dia perbuat jadi bikin repot saya..keluar uang banyak de el el. Rugi bandar nih. Lain kali saya musti nuntut yang lebih besar. Entah nominal atau maksa untuk diperbaiki.

Tapi lagi-lagi saya disadarkan. Bahwa dengan adanya insiden itu, ternyata Arsa, sulung saya yg autistik menunjukkan semakin lancar komunikasi.

Di atas posting saya di fb ttg itu.

Lain halnya dengan si bungsu Adyatma. Yang tak pernah naik motor jarak jauh..biasa keliling kompleks saja, tiba-tiba jadi punya pengalaman baru. Dari takut, seru sampai bangga cerita ke teman-teman termasuk ibunya mereka tentang pengalaman naik ojek online.

Berkenalan dengan para rider dan driver pun menceritakan pengalaman yang unik dan seru. Mulai dari driver bersuku Batak tapi fasih bicara Jawa dengan logat Batak, driver berusia lanjut yang ternyata menurunkan profesi supir ke puteranya, driver yang insinyur namun lebih diijinkan istrinya jadi driver taxi online daripada me-metakan tanah di Sumatera.

Rider yang rupanya petani tembakau di Temanggung, rider yang sedih karena kompetitor makin banyak sementara ia sudah menetapkan hati full time rider. Lalu driver yang meminta kita melakukan order fiktif agar poin terpenuhi supaya dia bisa clubbing (astagahhhh), atau driver yang dari awal kita naik hanya berkeluh kesah saja sampai buat mood turun.

Obrolan seputar pendapatan driver online yang bisa nominal 7, bahkan sampai situasi terkini persaingan di tranportasi online sungguh memberi warna tersendiri.

Ya.. orang bilang pasti ada hikmah di balik peristiwa. Betul sih, selama kita tidak merutuk atau berkeluh kesah karenanya.

Toh bila saya cuma merutuk insiden waktu itu, menyumpah-nyumpahi yang terlibat, mobil saya yang ‘luka’ bisa kembali mulus.. tapi hati saya…?

Sungguh saya banyak belajar.

Yang penting sekali lagi..saat ini saya dan anak-anak baik-baik saja. Bersyukur banget pada semesta.



Rehat sejenak
02/06/2017, 4:12 am06
Filed under: Uncategorized

Maaf..utk penyuka tumpahan kata2 saya. 

Saya sedang off sejenak dari blog mengingat saya sedang diminta menuliskan sebuah buku. 

Maaf dan mohon maklum. 

Terima kasih supportnya selama ini