yukberbagi!


Memilih menyikapi
22/08/2017, 4:12 pm08
Filed under: Uncategorized

Bermula dari sebuah insiden. Sepulang anak-anak sekolah, mobil ‘kerja’ saya disundul motor yang katanya tidak melihat reting sein mobil. (Maksudnya mobil kerja itu mobil yang ga mulus-mulus amat karena banyak gores-gores, baret-baret dan kawan-kawannya)

Lagi-lagi mobil pasti yang bersalah. Tapi karena melibatkan dua mobil, saya spontan ‘menyalahkan’ mobil di samping diagonal yang sudah tertuduh tidak menyalakan reting sein. Enak saja sudah ‘berbuat’ , tak mengalami kerugian apapun (mobilnya mulus lus..masih plat baru) lalu kabur??!!

Singkatnya, si pengemudi yang ‘nyaris’ kabur, akhirnya yang berhasil di’paksa’ membawa mbak pemotor yang robek bibir dan kedua kakinya; setelah saya yakinkan tidak meminta ganti rugi, karena mobil saya bisa klaim asuransi.

Pfiuuh…walau kesal mobil saya ‘luka-luka’ ..di ujung hari saya terus bersyukur saya dan anak-anak tak ada yang terluka.

Persoalan selanjutnya adalah klaim asuransi yang harus 3×24 jam. Berkeliling di ring road utara Jogja karena kantor asuransinya pindah cukup menyita setengah harian saya.

Tapi kami sekeluarga mau pindahan. Mobil ‘luka-luka’ saya masih perlu kesana sini mengangkut barang pindahan rumah kontrakan.

Ternyata…klaim dan perbaikan di bengkel perlu waktu semingguan dan sungguh ‘menganggu’ pekerjaan saya.

Untung kini ada transport online. Beberapa kali pulang pergi sekolah menggunakan ini. Beberapa kali anak-anak tidak masuk karena sulit antar jemput. Entah berapa kali saya perlu mengisi saldo untuk pembayaran yang lebih murah.

Mau merutuk insiden itu lagi sih sebenar-benarnya? Tuh kan apa yang dia perbuat jadi bikin repot saya..keluar uang banyak de el el. Rugi bandar nih. Lain kali saya musti nuntut yang lebih besar. Entah nominal atau maksa untuk diperbaiki.

Tapi lagi-lagi saya disadarkan. Bahwa dengan adanya insiden itu, ternyata Arsa, sulung saya yg autistik menunjukkan semakin lancar komunikasi.

Di atas posting saya di fb ttg itu.

Lain halnya dengan si bungsu Adyatma. Yang tak pernah naik motor jarak jauh..biasa keliling kompleks saja, tiba-tiba jadi punya pengalaman baru. Dari takut, seru sampai bangga cerita ke teman-teman termasuk ibunya mereka tentang pengalaman naik ojek online.

Berkenalan dengan para rider dan driver pun menceritakan pengalaman yang unik dan seru. Mulai dari driver bersuku Batak tapi fasih bicara Jawa dengan logat Batak, driver berusia lanjut yang ternyata menurunkan profesi supir ke puteranya, driver yang insinyur namun lebih diijinkan istrinya jadi driver taxi online daripada me-metakan tanah di Sumatera.

Rider yang rupanya petani tembakau di Temanggung, rider yang sedih karena kompetitor makin banyak sementara ia sudah menetapkan hati full time rider. Lalu driver yang meminta kita melakukan order fiktif agar poin terpenuhi supaya dia bisa clubbing (astagahhhh), atau driver yang dari awal kita naik hanya berkeluh kesah saja sampai buat mood turun.

Obrolan seputar pendapatan driver online yang bisa nominal 7, bahkan sampai situasi terkini persaingan di tranportasi online sungguh memberi warna tersendiri.

Ya.. orang bilang pasti ada hikmah di balik peristiwa. Betul sih, selama kita tidak merutuk atau berkeluh kesah karenanya.

Toh bila saya cuma merutuk insiden waktu itu, menyumpah-nyumpahi yang terlibat, mobil saya yang ‘luka’ bisa kembali mulus.. tapi hati saya…?

Sungguh saya banyak belajar.

Yang penting sekali lagi..saat ini saya dan anak-anak baik-baik saja. Bersyukur banget pada semesta.

Advertisements


Rehat sejenak
02/06/2017, 4:12 am06
Filed under: Uncategorized

Maaf..utk penyuka tumpahan kata2 saya. 

Saya sedang off sejenak dari blog mengingat saya sedang diminta menuliskan sebuah buku. 

Maaf dan mohon maklum. 

Terima kasih supportnya selama ini 



Menuliskan ibu
14/05/2017, 4:12 am05
Filed under: Uncategorized

Disclaimer :
Hubungan ibu dan saya sungguh personal dan it’s not your business. Saya banyak belajar. Kalau dulu saya sering berdebat karena ya pengen aja berdebat. Kalau sekarang..saya sering prihatin atas apa yang beliau rasakan.

Dan tulisan ini saya buat untuk berbagi…agar perempuan-perempuan di luar sana tak berhenti mengejar mimpi, bila mau (lebih) bahagia dan ‘lepas’ perasaannya di hari tua nanti.

Ini ibu saya..sebentar lagi 76 tahun. Ibu terbiasa lone fighter. Karenanya keras, punya area teritorial plus OCD dan hanya percaya pada pikirannya sendiri. Anak sulung dari 5 bersaudara. Tidak dididik kaya perempuan jaman dulu yang bisa masak dan beres2 rumah. Sekolah… belajar… menjahit. Seperti itulah. Tapi ga pernah sampe ‘mentas’. Sekolah hanya D1. Menjahit pernah punya belasan siswa, tapi kemudian berhenti dengan alasan.. menikah. 

Menikah bukan dengan pacarnya. Menikah dengan bapak saya karena dijodohkan. Dulu saat sd saya yang dekat bapak dan benci pada ibu. Tapi usai saya paham betapa cinta penting bagi sebuah pernikahan…saya tak bisa membayangkan bagaimana bisa tidur tiap malam untuk kemudian diajak hubungan suami istri dengan laki-laki yang tak kita cintai. Sungguh2 sebuah penderitaan.

Karenanya ketika bapak saya sakit sakitan lalu meninggal, yang ada padanya adalah beban. Beban yang harus ditanggung karena mau tak mau menjadi bapak. Tak berpendidikan tinggi..apapun dilakoni. Pernah ada kesempatan ‘hebat’ memasarkan produk2 A*way dan sejenis saat belum ada distributor resmi Indonesia..tapi tak membuatnya sukses karena dijalani penuh beban. 

Bertahun-tahun saya memahami bahwa apa yang dilakukannya penuh penyesalan. Mengapa berhenti ngajar menjahit? Mengapa tak serius menjadi distributor? Mengapa mau dulu saat dijodohkan? Mengapa tak kawin lari dengan pacarnya? Mengapa ini..mengapa itu?

Penyesalan itu ternyata berbuah ketidakmampuan memiliki standar bahagia. Seringkali saya berusaha mem’bahagia’kan nya dengan mengajak, memberi atau membelikan ini dan itu, tapi senang dan merasa dihargai sesaat ujung-ujungnya kritik. Jarang sekali yang disyukuri sepenuh hati. 

Sedih sebenarnya melihat orang terdekat yang melahirkan saya, tak bisa lepas bahagia. Padahal ada yang bilang..menjadi ibu dari anak2 yang tidak memiliki persoalan rumah tangga serius, itu seharusnya membahagiakan. Namun..sekian lama menjadi tulang punggung keluarga, bukan tulang rusuk laki2 ya ;  ukuran kebahagiaannya lebih pada punya uang dan tak habis-habis, a k a kaya selamanya. 

Wah..berat itu. Jadi uangnya harus tetap ada tapi semua kebutuhannya terpenuhi. Saya bilang..mama salah kawin. Mustinya kawin dengan konglomerat yang hartanya 7 turunan ga habis-habis. Jadi mama bisa jadi nyonya. Dia bilang..ya sebelum wafat..mau kaya sekali lagi..(tapi halal ya) buat punya rumah besar..buat pilgrimage bersama..buat ini..buat itu. Saya ketawa dan bilang, bisa kayak gitu kalau kita mati2an usaha. Uang ga jatuh dari langit begitu saja.

Dan sekali lagi, seorang diri ibu tak pernah berani punya usaha. Tak berani investasi. Pengalaman dan luka batin puluhan tahun, membuatnya takut akan hal-hal beresiko. Lucunya.. sejak 14 tahun yang lalu, ibu malah memilih tinggal bersama keluarga saya yang lebih adventerous dan beresiko. Suka merantau, ga takut perubahan, dll. Tahu kan…keluarga kayak gini bisa bikin deg2an. Dan.. kalau perhitungan nominal simpanan, ibu jelas lebih mampu dari saya dari hasil kumpul ini itu bertahun-tahun. Berapa banyak sudah ibu membantu. Mulai yang besar2 sampai yang remeh temeh. Terbayang bagaimana perasaannya akan hal-hal yang tidak pasti dalam keluarga saya. Setiap saat cemas. 

Saya pernah bilang sama ibu. Mama lebih beruntung dari ibunya si anu..mertua si ini karena mama sehat. Tak pernah ada keluhan berarti karena ibu sangat menjaga tubuhnya dengan konsumsi berbagai suplemen kesehatan. Walau terindikasi diabet, hipertensi juga..kondisi ibu lumayan fit di usia 3/4 abad. Ya..sayangnya itu hanya menghibur sesaat untuk kemudian dilupakannya. 

Ibu juga orang yang terakhir denial tentang Arsa, cucu pertamanya yang autistik. Kebanggaan sebagai nenek yang lebih dahulu punya cucu di antara saudara yg lain, laki-laki pula, tapi kemudian autis itu benar-benar mengoyak perasaannya. Bila tak ada insiden Arsa menghilang saat bepergian berdua ibu..tentu ia akan terus ‘menolak’ Arsa yang autistik. 

Saya yakin..beberapa hal setelah punya cucu yang autis membuatnya banyak belajar. Kadang-kadang dia bilang.. aku sepertinya tak sanggup kalau berada di posisimu. Sering saya melihat air mata di pelupuknya saat Arsa berlaku begini dan begitu. Hei..jujur, kalau dibalik..saya juga tak bisa di posisi ibu. 

Akhir2 ini saya paling merasa sedih melihat ibu tak punya sahabat dekat. Saya tak tahu harus menelusuri dari mana penyebabnya. Sepertinya ketika dulu getol-getolnya cari uang untuk keluarga, dia ‘melupakan’ cara utk berteman. Dia tidak merasakan pentingnya untuk punya sahabat tempat cerita, curhat dan lain-lain. Kehadiran orang di sekitarnya adalah in purpose..berdasar kepentingan. 

Padahal di saat2 menua seperti sekarang, ada sahabat tempat cerita sungguh baik adanya. Sampai suatu ketika saya terhenyak. Saat diceritakan seorang teman, yang anaknya sekelas dengan anak saya di kelompok bermain. Entah bagaimana awal cerita nya. Ibu saya berujar, “Biarin sekarang cape kau gendong anak perempuanmu ke sana ke mari. Kayak saya nih. Dulu si Ivy udah mau saya ‘buang’ . Saya malu kakaknya baru 6 bulan, masa hamil lagi. Tapi liat sekarang saat tua gini..malah dia jadi sahabat saya. Suka berantem sih.. tapi ya itu yang sama saya di hari tua ya..si Ivy anak yang dulu saya mau buang” 

Ternyata perkataan ibu itu tanpa sadar mengubah pandangan teman saya yang lagi kritis postpartum sindrom. She turned back to love her younger kid. Wah…saya ikut mbrebes mili mendengarnya. Jadi..walo kita berdua sering ketus-ketusan..debat tak henti-henti, itung2an .. diem2an atau apalah sejatinya konflik; yang jelas ibu saya tetap menganggap saya sebagai teman. 

Ya..saya dan ibu memang punya cara berpikir dan cara hidup yang beda. Tapi entahlah..mungkin perbedaan ini membuat kami kuat dengan cara kami masing-masing. Mungkin dia jadi kuat menghadapi hidup dengan berandai2 seperti kejadian di serial Asoka, Anandi atau Himalaya, kesukaannya. Mungkin saya bisa melepas ketegangan dengan larut dalam gamelan Jawa saat saya menari klasik. 

Mungkin dia jadi sehat dengan pola makan yang ia buat dan yakini sendiri. Sementara saya sehat dengan diet dari karbo yang berlebihan, serta banyak makan masakan rumah. 

But anyway…saya juga tak pernah tahu ‘pertemanan’ kami sampai berapa lama lagi. Siapa yang bisa tahu kapan cerita hidup kita masing-masing akan berakhir kan? Yang jelas ‘pertemanan’ kami bagai ladang belajar. Saya belajar banyak dari impian-impian ibu yang belum tercapai..kerja keras..bahkan luka hatinya. Entahlah apa beliau juga belajar. Saya tak perlu mencek juga. Biarlah waktu yang akan menguji bagaimana belajar kami masing-masing. 

Happy international mother day, mom. 

You are irreplacable. Truly.  

I love you. 

14 Mei 2017



Ini (bukan) kelas parenting
06/04/2017, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Sebagai orang tua dari dua putra yang berbeda kondisi, sulung saya autistik dan bungsu saya bisa dikatakan sinkron sekali dengan tumbuh kembangnya; mau tak mau saya terus belajar. 

Salah satu yang menarik saya cermati adalah perbedaan kemampuan berimajinasi pada mereka. 

Sulung saya Arsa, yang autistik bisa dikatakan memiliki imajinasi yang terbatas. Atau mungkin bila berimajinasi pun, malah membuatnya cemas berlebihan. Yang ia katakan ya demikian adanya. Bila diberitahu adanya acara tertentu atau kedatangan tamu tertentu, kita harus bilang sebelumnya dengan kata-kata sederhana yang membuatnya nyaman dan tak menjadi cemas.  

Apalagi kelebihannya sebagai individu visual adalah memori fotografis. Jadi yang terekam adalah apa yang benar-benar dilihatnya bukan apa yang ada dalam imajinasinya. 

Meski kemudian saya menganalisa lagi, mengapa saat Arsa berproses kreatif, dalam hal ini sedang me’lukis’ gambar sesuatu dengan menjahit sulam, ia kadang tampak seperti berimajinasi. Warna-warna yang nyeleneh dari seharusnya, garis lurus yang kemudian berlekuk. Hmm..saya perlu mengamatinya lebih dalam. 

Berbeda dengan adiknya Adyatma yang sedang masa-masa emas berimajinasi, kalau menurut teori Piaget. Ia suka sekali mendengar cerita, sesuka ia menceritakan kembali apa yang dilihat dan didengarnya sembari bertanya apa, siapa dan kenapa? Spontanitasnya selalu mengajak saya berpikir ketika ditanya sesuatu yang kadang luput saya perhatikan. Apa itu food chain setelah menonton Happy Feet two? Siapa nama kambing di film Robinson Crusoe? Atau apa sih warna nila di pelangi? Apa itu haloween? Atau ucapan spontan sambil buka korden, ini malam, di luar sudah gelap.

Di usia 4 tahun ini, setiap malam ia minta belajar. Dan tak semuanya dari buku cetakan. Malah ia minta dibacakan gambar- gambar..warna..angka dari apa yang sudah digambar dan diwarnainya, dan itu dalam dua bahasa. Bila ia belum paham, teruslah ia bertanya. Tak berhenti. Kadang-kadang saya sampai harus me’motong’ keasyikannya ini karena melihat ucapannya sudah ngawur dan hampir jatuh tertidur. 

Arsa di usia Dy saat ini, bukan tidak mendengarkan saat saya bercerita. Namun ia hanya mendengarkan untuk kemudian menelannya setepat mungkin tanpa bumbu imajinasi. Dulu, saya menggunakan ini sebagai sugesti kepadanya untuk membangun pemahamannya akan sesuatu. Saya akan bicara berulang-ulang agar terekam dan ia paham. 

Arsa kecil bermain dengan caranya sendiri. Memegang mobil-mobilan bukan untuk berandai andai tentang mobil yang berjalan. Tapi semua mobil-mobilan itu dideret bak parkir. Demikian halnya dengan binatang. Semua dibuat baris berderet-deret. Imajinasi Arsa dengan keautistikannya ya seperti demikian. 

Arsa kecil suka mendengar saya menyanyi. Jadi dulu sepanjang ia berangkat sekolah, saya akan bernyanyi sepanjang perjalanan. Semua lagu anak-anak yang ternyata kemudian direkamnya (hafal) untuk kemudian bisa dinyanyikannya sekarang. 

Dy lebih suka saya bercerita.. lebih suka kalau saya membacakan sesuatu karena dengan demikian ia bisa bertanya dan bertanya lagi. Dy tak terlalu suka mendengar saya menyanyi. Karena ia tak bisa bertanya di tengah-tengahnya. Tapi dari cerita, melihat gambar, mendengar saya membaca ; Dy akhirnya mengenal huruf, menulis dan nanti mungkin bisa membaca. 

Arsa belajar membaca juga dengan caranya sendiri. Sebagai visual learner, ia memahami simbol-simbol, gambar-gambar, huruf, kata per kata. Ia lebih suka dibawakan brosur dengan gambar-gambar dibanding dibelikan buku khusus untuk membaca.  

Mengamati dan melalui perkembangan keduanya setiap hari membuat saya sungguh belajar sebagai orang tua. Bahwa teori pengasuhan di kelas parenting manapun perlu sangat lentur. Setiap anak adalah individu yang unik, dengan kondisi, kebutuhan dan yang pasti keinginan mereka berbeda-beda. Berharap output dari asuh didik kita akan murni 100% seperti apa yang kita inginkan apalagi cuma berdasar teori ; sungguh sebuah tindakan yang tak elok. 

Hanya diri kita yang sungguh-sungguh tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan anak-anak. Ya..betul..selama kita, mau terus belajar sebagai orang tua; seumur hidup.  



Selasar
10/03/2017, 4:12 am03
Filed under: Uncategorized

Sengaja nulis ini sebagai self healing. Bahwa (mudah-mudahan) trauma saya berjalan di selasar rumah sakit…akan kian memudar. 

Ketemu hantu? Tidak. Mudah-mudahan tak pernah dipertemukan. 

Tapi ini tentang pengalaman sangat personal. Merasa deja vu; berjalan di samping jenasah papa saat masih smp kelas 2. Waktu itu hampir tengah malam. Selasar rumah sakit gelap dan kosong, rimbunan pepohonan gelap, langit kemerahan. Hanya ada kucing dan tikus yang melintas serta denging nyamuk di telinga. 

Hati saya juga kosong. Air mata saya pelan-pelan mengering sepanjang jalan. Papa yang begitu dekat tiba-tiba kini tak bisa saya ajak bicara, makan mi dan es krim bareng plus jalan-jalan naik bajaj. Rasa kehilangan saya mixed up dengan derit roda brankar rumah sakit..yang pelan-pelan memasuki kamar jenasah. 

Temaram lampu.. beberapa jenasah yang tampak setelahnya, sungguh merobek-robek hati saya saat itu. Melebihi rasa takut anak belasan tahun saat melihat mayat. 

Rasa aneh itu ternyata terus muncul saat melintasi selasar rumah sakit dengan setting yang sama. Melihat brankar berisi pasien sama mengejutkannya dengan melihat perawat mendorong brankar kosong dengan bantal habis ditiduri.  

Walau (untung) tak ada saat saya hendak melahirkan. Karena rs ybs tak memiliki selasar yang bisa membuat saya deja vu…seperti layaknya selasar rumah sakit besar atau rumah sakit pemerintah. 

Kali terakhir adalah ketika mama saya mau tak mau diopname minggu lalu. Mengikuti brankar mama sejak di ugd lalu melewati selasar yang panjang, lebih merobek-robek hati saya dibanding melihatnya meringkuk dalam ruang ugd yang full house atau harus melewati malam itu tanpa ada satupun yang mendampingi. 

Saya mulai merenungkan…maybe i’m afraid of being death or feel loss. Mestinya saya makin menyadari bahwa kematian bukan akhir, walau tentu secara fisik menjadi tiada. Mungkin saya mesti terus belajar bahwa siklus lahir, tua, sakit dan mati adalah kewajaran dalam hidup  

Memiliki perasaan berlebihan tak membuat hal2 tersebut menjadi lebih bermakna juga buat hidup saya. Bahwa nantinya selasar rumah sakit tak lagi memberi efek traumatis bagi saya, kini berbuah kesadaran baru. 

Bahwa semua fana. Yang abadi adalah kenangan yang kita buat bersama siapapun yang melintas dalam hidup. Sudahkah ia cukup indah atau cukup berharga untuk dikenang? 

I wish. 

Photo credit : Netterku.com 



‘Menaklukkan’ diri dengan menari
11/02/2017, 4:12 pm02
Filed under: Uncategorized

Saya tipe orang yang ga sabaran menunggu. He2..tapi herannya banyak yang bilang saya penyabar (sama Arsa abegeh autistik saya sih mau ga mau deh sering nyetok kesabaran).

Jangankan dikejar deadline kerjaan..orang serumah belum siap saat mau berangkat sekolah/kerja..saya bisa senewen dan panik.

Maunya cepat..maunya bergegas. Maunya sih untuk selalu on time. Tapi pikir-pikir..sikap itu lebih karena saya malu. Malu untuk diliatin sebagai orang yang ga tepat waktu. Bukan karena karakter saya yang sungguh2 disiplin. 

Lhadalah.. anugerah hidup saya ya si autistik Arsa. Yang punya jam dan ritme sendiri. Yang ga bisa diburu-buru. Yang sangat prepare cuma kalau mau jalan-jalan/bepergian naik pesawat atau kereta api. 

Pfiuhhh.. pasrah deh setiap pagi ‘memburu’ semuanya terutama Arsa biar cepat. Belum kalau adiknya yang masih usia balita tiba2 drama. Yah..makin lama aja kitah. 

Lah..kok saya jadi curcol tentang anak-anak. Ini tentang saya. Si overactive mind (yang bikin saya suka susah tidur karena pikiran masih berkelana ke mana-mana) dan si supermultitasking person. Sekali ngapain..nyambinya banyak. Suka merasa bersalah kalau sehari aja ga ngapa2in. Kecuali saya lagi beneran terkapar. 

Dulu saya pikir karena saya tumbuh dan besar di Jakarta. Semua harus serba cepat. Tapi saat saya pindah ke yang kata orang lebih slow seperti Denpasar…sikap itu terus kebawa. Begitupun saat ini di Jogja yang kata orang lebih slow lagi..saya tetap aja ga sabaran. (Untung suami saya sabar hadapin saya..eeaaaa)

Finally saya berpikir. Kok gini caranya saya menghargai hidup? Akhirnya saya memberanikan diri berlatih tarian klasik Jogjakarta di sebuah sanggar. Selain ingin menantang diri..anggap aja ini me time dan waktunya berolahraga. 

Ternyata..walau saya sudah berlenggak lenggok dari kelas 2 SD.. tak semudah itu saya menguasai gerak gerik tari Jogja klasik. Postur tubuh masih terbawa agem tarian sebelumnya…sampe sering ditegur. Pinggulnya jgn ndoyok kayak tari Bali..mbak. Hal yang lucu sebenarnya..karena sepanjang sejarah saya di tari..saya tak pernah benar2 mendalami tari Bali. Betawi iya. Hampir 8 tahun kurang lebih mendalaminya plus jam terbang manggung yang lumayan banyak.

Mungkin kalau tari Betawi..lebih pengaruhi  wirasa saya yang akhirnya cenderung berlenggak lenggok centil daripada mengalir kaya air. Karena joget bagi saya mengasyikkan. 

Itu baru postur badan dan bagaimana saya bergerak. Belum lagi, memposisikan gemulai tangan ..kadang terlalu lebar..terlalu tinggi..terlalu patah-patah. 

Jujur…kali ini menari, saya benar-benar menantang diri untuk lebih tahu aturan. Tahu untuk membatasi gerak tubuh..disiplin dalam mengayunkan lengan..tangan..plus kudu lentur menggerakkan leher saya yg semakin kaku. Sehingga tidak seenak atau seheboh saya bergoyang  tanpa ada lemah lembutnya.

Dan itu sungguh tidak mudah. Apalagi teman sesanggar lebih cocok jadi adik saya atau anak sulung saya bila menikah muda. Sementara… Saya si emak2 beranak dua yang sekian taun membentengi diri untuk kuat hadapi segala masalah..untuk keras pada diri saya biar ga gampang menyerah pada kondisi Arsa yang autistik..untuk ga mudah mellow sama situasi…

Sungguh menari kali ini bak meditasi bagi saya. Menghafal gerak satu tarian memang sudah biasa. Mudah-mudah saja karena saya jarang absen. Namun tetiba saatnya gamelan mengalun…saya bak melangkah masuk dalam lorong waktu. Menuju asal jenis kelamin saya. Menjadi benar-benar perempuan. 

Awal-awal latihan, jujur saya pernah diingatkan untuk memperhalus gerak.. karena saya melangkah dan bergerak seperti penari pria. Oooopppsss. *tutup muka*

Jadilah menari kali ini..saya belajar untuk ‘lemah lembut itu tidak apa-apa’ Sungguh..me time kali ini benar-benar pelajaran. Untuk menantang diri …belajar mengalir seperti air..tak melulu membara seperti api atau keras bagaikan baja. 



Me, my newborn n you..yes youuu ♡
06/01/2017, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

Seorang teman memposting di fb baru-baru ini, yang intinya do’s and don’s saat menjenguk ibu melahirkan. Jadinya..saya pengen cerita juga. Iya saya kan emak-emak juga. N saya udah 2 kali melahirkan. 

Mungkin habis ini saya dibilang ga tau berterima kasih sama perhatian teman, kerabat ato saudara saya atau dibilang mau ‘matiin’ ladang nafkah pemilik baby shop. Ya terserah aja sih. Yang jelas ini blak-blakan saya tentang saat-saat hidup dan mati itu. Lebay..he2..lanjutin dulu baca ya baru komen. 

Mei 2003. 

Kandungan saya sudah tua betul. Jumat sore saat cek terakhir ke SpOg, ultimatum dikeluarkan. Sectio besok..tak bisa ditawar, ketuban mengeruh. 

Semalaman puasa persiapan operasi, tak halangi pemeriksaan akhir. Periksa dalam, istilahnya..saat tangan dokter meraih tepatnya masuk lubang vaginamu untuk menentukan posisi bayi. Diminta rileks, tetap aja tegang. Setegang wajah dr yang bilang, jauh sekali kepalanya..ga ada jalan lahir. Wajah saya yang udah pucat karena belum sarapan..makin pucat aja saat menuju ruang bedah. Tawaran induksi sama-sama tak kami sepakati. Iya kalau merangsang konstraksi, kalau nggak..saya pengsan..trus disectio pula. Sakitnya double. 

Sectio dilaksanakan. Masih terdengar dalam kesadaran bius lokal saya..denting gunting dan pisau bedah bergantian dengan bonus tangisan bayi kencang yang disorongkan dekat wajah saya. Tanpa sadar airmata saya mengalir. 

Ruang pemulihan tidaklah nyaman. Otak saya memerintahkan kesadaran saya untuk cepat pulih. Karena disamping saya seorang bapak pasca operasi amandel berekspresi begitu tak enak dipandang. 

Balik ke kamar perawatan. Lelah..belum sadar sepenuhnya..lapar..dan kaku pasca operasi. Nyeri di luka hilang muncul..yang ternyata semakin menjadi karena perawat lupa menyuntikkan saat obat bius benar-benar menghilang. Saya menangis kesakitan. 

Satu persatu ucapan..teman-teman..murid-murid yang datang bergantian tak bisa membuat saya tersenyum. Karena kondisi saya saat itu ingin meringkuk…tidur lelap..ingin makan juga…ingin menimang bayi..ingin menyusuinya (dan belum bisa). Benar-benar galau saat itu. 

Dan itu tidak terbantu dengan kehadiran orang-orang. Saya stress..wajah saya tak menunjukkan ibu baru yang bahagia. Perawat-perawat tak mau memanjakan dan meminta saya belajar berdiri..belajar jalan. Saya di bawah tekanan. 

Sepertinya dalam sebulan pasca sectio…wajah saya baru berangsur-angsur gembira. (Mungkin yang menjenguk saya di rumah waktu itu bisa menceritakannya) 

April 2013

Sepuluh tahun kemudian. Dalam usia yang sudah masuk masa beresiko hamil dan melahirkan, kandungan saya samgat dijaga betul sejak awal. Secara mental saya lebih siap, siap menyusui total malahan. Walau sempat ada masalah anemia dan hipertensi..saya tetap bumil yang sehat sampai akhir kehamilan. Di minggu-minggu terakhir, flek-flek bermunculan. SpOg sudah ultimatum..begitu flek meningkat atau pecah ketuban segeralah ke rs. 

Saat itu Jumat malam kami baru selesai konsul ke dr gizi untuk masa menyusui dan mpasi. Senin pagi saya akan sectio. Masih sempat ngewedang ronde lagi setelah dari dr gizi. Malam jam setgh 12..tiba-tiba saya ngompol… yang tidak tertahan. Ini pecah ketuban. Telp SpOg dan diminta segera ke rs. 

Tengah malam itu..saat esok pagi umat Hindu merayakan Manis Kuningan, saya malah siap sectio. Semua personel bedah dipanggil kembali..padahal baru saja pulang. Akhirnya jam 1.30 saya sectio. Tapi karena ronde yang saya santap, di tengah-tengah sectio bisa mo muntah segala. Saat mual menghilang dan rasa kantuk menyerang..masih kulirik bayi yang menangis kencang yang disorongkan ke wajahku. 

Habis itu ‘penderitaan’ dimulai. Ruang perawatan benar-benar penuh terutama dengan pasien DBD. Jadi saya harus di ruang pemulihan sampai besok pagi ada kamar kosong. Bayangkan..lelah..ngantuk.. plus tensi saya yang tinggi..mau tak mau berbaring dalam keadaan telanjang berbalut baju bedah..di atas spon brankar yang dingin. Lucky my hubby stay beside me. 

Sambil bercerita ngalor ngidul, dengan sirik kami memandangi seorang perawat jaga yang tertidur lelap di kasur yang lebih empuk. Tidur2 ayam..nyaris tak bisa terlelap kami berdua.

Esok pagi..saya bersyukur bisa pindah ke kamar perawatan kelas 1. Langsung saja ada yang berkunjung. Malah teman-teman itu langsung mengiringi kepindahan saya ke ruang vip. Setelah itu pengunjung silih berganti. Sampai malam hari. Jadi saya dan suami tak sempat memejamkan mata. Itu hampir 24 jam. Dan tensi saya pun naik. 

Bersyukur kali kedua ini..saya bisa segera menyusui dan lebih pulih pasca sectio. Tapi kelelahan yang amat sangat akibat begadang itu dan tensi saya yang tinggi…belum juga terbayar dengan kedatangan teman-teman..rekan kerja dan kerabat, sampai kami pulang. 

Dan di kelahiran bayi kedua ini..saya masih menerima tamu-tamu silih berganti di rumah sampai si kecil genap 2 bulan. Mulai dari yang personal sampai rombongan. 

Nah… dari dua peristiwa itu saya mau menyimpulkan dan akhirnya saya praktekkan juga kepada ibu2 yang lain: 

*ini di luar kejadian khusus..emergency..ibu/bayi dlm keadaan darurat*

  • Plissss…sebaiknya tidak menjenguk di hari pertama ibu melahirkan. Biarkan ibu istirahat, tidur dan memulihkan diri. Lebih baik saat ibu sudah akan keluar rs hari itu. (Pernah jenguk teman di hr terakhir aja, wajahnya masih belum sepenuhnya ‘present’ waktu diajak bicara, atau seorang teman jahitannya sampai membengkak karena kebanyakan berdiri menyambut tamu)
  • Plissss…datanglah saat jam berkunjung walaupun kamarnya vip. Reschedule lah bila ingin menjenguk malam menjelang tidur. Anda tidak tahu kondisi dan stamina ibu dan ayah si bayi. Plus tak mau menganggu masa-masa belajar ibu menyusui kan.  
  • Plissss…kalau mau mengajak ngobrol..curhat..diskusi, sebaiknya berkunjung saat ibu dan bayi sudah pulang dari rs. Dalam suasana yang lebih akrab dan intim..di rumah. 
  • Plisss…tak usah berdiskusi tentang mana proses melahirkan yang lebih mulia..normal atau sectio. Mana yang lebih mulia menyusui atau memberi sufor. Setiap ibu dan bayi punya perjuangan yang tak bisa dibanding2kan. Don’t make them stress with this topic. 
  • Plissss..bila anda dari luar…cucilah tangan dulu sebelum menggendong bayi baru lahir. Ingat juga memfoto bayi dengan fitur flash/blitz tidak diperkenankan
  • Plissss..ini soal kado. Tak mau kado anda mubazir kan atau diwrap ulang untuk diberikan ke bayi lain. Beri amplop merah untuk penghargaan pada ayah dan ibu atau buku parenting, resep mpasi, dll…daripada (maaf) baby toiletries (bedak..sabun..sampo) alat makan, atau…bila inginnya memberikan kado si bayi berikanlah pakaian untuk bayi saat 9 bln atau 1 tahun nanti. Dan..kalau si bayi punya sibling..boleh juga diberikan hadiah menjadi kakak. Buku misalnya.
  • Plissss…bila mungkin tidak datang dalam rombongan besar. Tak ada tempat duduk…mengurangi oksigen dalam kamar..serta membuat suasana menjadi riuh. Ini bukan arisan lho ya. 

Ya…maaf kalau sepertinya saya tidak mementingkan tali silaturahmi. 

Tapi..jujur..sejatinya menerima ucapan dan doa yang tulus walau by phone..by social media saya sudah sangat bersyukur dan berterima kasih. Apalagi bila sahabat-sahabat kesayangan tersebut bisa hadir dan memberi support…itu akan sungguh membahagiakan. 

Bukan cuma.. ‘saya sempatin lho ya..’ atau karena ada maksud ‘ ini istri atasan/istri kolega/istri partner’ jadi musti dijenguk. Yang akhirnya tanpa sadar ‘mengganggu’ si ibu yang baru dan sedang pemulihan. 

Truly and absolutely…peristiwa melahirkan apapun tekniknya adalah pengalaman personal…antara hidup dan mati…proses inisiasi menjadi seseorang yang baru yang akan dipanggil IBU.