yukberbagi!


(Saya/Arsa) ‘Menantang’ (Arsa/saya)
15/10/2017, 4:12 pm10
Filed under: Uncategorized

Saya baru saja naik panggung (lagi). Emak2 beranak dua dengan seonggok lemak di perut. Usai lihat fotonya baru malu dan termotivasi diet lagi. Waktu menari, tak terasa. Pokoknya bergerak. Mengapresiasi dan memaknai musik.

Dalam rangka apa? Tanya seorang teman. Ceritanya (tak) panjang. Ada bukaan workshop tari gratis dari sebuah komunitas. Namanya Nalitari, prinsipnya dance ability. Semua orang bisa menari, tak terbatas kecacatan apapun.

Pertama saya yang tertantang. Tapi sewaktu isi formulir, saya langsung teringat Arsa. Putra sulung saya dengan spektrum autistik. Sepertinya asik untuk memberi pengalaman baru untuknya. Waktu itu saya memang sedikit otoriter, mendaftarkannya tanpa ijin, tanpa paham Arsa minat atau tidak. Saya cuma bilang, ayo kita menari. Dan akhirnya kami berdua diterima.

Karenanya..bila sewaktu workshop, ia agak ngambek bahkan sampai marah; semua salah saya. Kurang memberi prolog yang panjang.

Tantangannya yang paling besar waktu itu kalau waktu latihan jatuh di akhir pekan. Bagi Arsa, akhir pekan = jalan-jalan. Tak perlu ke taman hiburan atau makan di restoran..keliling naik mobil sudah membuat ia bahagia.

Namun Arsa banyak belajar di komunitas Nalitari ini. Satu di antaranya tentang memupuk percaya diri. Sebagai individu autistik, perfeksionis dan zero fault itu utama. Hampir setiap usai latihan, saya perlu minta maaf di grup whats app untuk gangguan suara latar Arsa yang memanggil2 saya, mengoceh tentang sabar, tunggu, menari, tidak marah, pergi, tunggu mobil dan lain-lain.

Mungkin ketidaknyaman Arsa ikut serta sama tidak nyamannya dengan telinga orang lain mendengar suara latar. Tapi salah satu PR saya sebagai orang tua individu autistik adalah menariknya dari zona nyaman. Tak bisa melulu kita hidupnya merasa nyaman terus. Karena hidup itu bergerak, berubah, menuju lebih baik.

Dan memberikan pemahaman pada Arsa tentang ini bukan perkara mudah. Karena begitu abstrak. Bagi Arsa dengan rutinitas dan alur waktu sehari-hari yang rigid, perubahan bukan sesuatu yang menyenangkan.

Hal itulah yang membuat saya makin tertantang ‘menjebloskan’ Arsa dalam komunitas dan pertunjukan ini. Apalagi sepengamatan saya, Arsa sejatinya menikmati alunan musik dan senang hati menari di beberapa sesi latihan.

Berbagai siasat pun dilakukan. Bepergian dulu sebelum latihan di akhir pekan, ternyata tak terlalu berefek. Mengiming-imingi untuk bepergian setelah latihan, hanya membuatnya echolalia mengulang ucap kata-kata pergi.. toko merah..tunggu.. sabar. Atau..pergi..mau makan..tunggu..sabar…Itu kalau akhir pekan.

Di hari biasa, tantangannya adalah apakah Arsa menjahit dulu (rutinitas) sebelum latihan, atau membawanya ke tempat latihan. Pernah menjahitnya kelamaan, hingga kami datang terlambat. Pernah membawa jahitan dan menjahit sambil menunggu, cukup merilekskannya; namun saat giliran berlatih Arsa tengah asyik menjahit dan tak mau berhenti yang artinya tidak ikut berlatih.

Setengah optimis saya mulai mendoakan agar Arsa nyaman saat menuju pentas hari H. Berulang kali saya bilang, kalau ia marah-marah atau ribut semasa latihan, nanti teman-teman jadi takut. Tak ada yang mau menari bersamanya lagi (padahal ini tak mungkin terjadi di Nalitari) Terapi homeopathy untuk meredam kecemasannya pun sudah saya siapkan.

Saat gladi kotor, Arsa masih bersuara latar terutama memanggil saya, walau ia mulai menyadari ada sorot lampu, ada panggung dll. Saat gladi bersih saya inisiatif sembunyi. Saat itu setting lampu seperti saat pertunjukkan. Surprise suara latar Arsa berangsur berkurang.

Hingga saat mulai berkostum dan dirias, Arsa mungkin menyadari ia akan tampil. Yang membuat Arsa tak nyaman mungkin face painting bak orang Indian. Berkali-kali ia hendak menghapus polesan cat di muka. Namun teman-teman satu repertoarnya terus memberinya semangat.

Saat Arsa masuk ke panggung..saya malah sempat ke toilet. Sengaja saya menghindar. Sambil terus berdoa dalam hati dengan mantra “Arsa baik-baik saja… Arsa bisa…Arsa nyaman…Arsa mau menari bersama teman-teman”

Tak satupun kecemasan saya terjadi. Arsa naik panggung, menari dengan suara latar cuma satu dua kali..yang kata ayahnya dari area penonton tersamar oleh hingar bingar suara musik repertoarnya.

Pelupuk mata saya nyaris basah, kalau tak ingat saya masih harus menari di repertoar ke empat dengan make up rapi. Perasaan saat itu campur aduk antara bangga dan bahagia. Karenanya begitu Arsa mulai menghapus riasan dan sedikit menggerutu, saya hanya beri sedikit chamomile untuk membuatnya tenang.

Hingga ketika giliran saya tampil, saya tak berpikir harus tampil cantik atau bagaimana. Saya mau tampil ekspresif dan lebih baik; karena saya mengapresiasi Arsa. Mengapresiasi teman-teman di Nalitari dengan cinta dan kasih sayang mereka. Tak hanya buat Arsa tapi juga untuk teman- teman Arsa yang lain.

Dan ketika semua repertoar usai dan menyimak respon penonton; perasaan saya hanya satu. Berterima kasih sungguh-sungguh karena saya bisa memiliki kesempatan menantang diri saya untuk tak lelah membuat Arsa terus ‘hidup’ . Walau saya ‘terkapar’ sampai dua hari setelahnya , namun kesabaran, lelah hati dan kerja keras kami berdua terbayar dengan kesan teman-teman usai menonton.

Kata mbak Fani, “kami harus lebih bisa bersyukur dan belajar mengasihi tanpa batas”.

Wow…Terima kasih atas keberuntungan memiliki kesempatan untuk ‘menari’ dengan hati. Bersama Arsa apalagi.

Advertisements


Bukan cuma “tinggal Lep”
15/10/2017, 4:12 am10
Filed under: Uncategorized

Waktu ide acara di salah satu gerai makanan kekinian pizza muncul di antara ibu-ibu Kelompok Bermain, sempat muncul keraguan, mosok Salam yang mengusung pangan lokal dan sehat ikut acara yang ditawarkan mereka. Membuat pizza lho? Bukan meracik gudeg atau mengolah jenang gempol.

Namun, yang jadi pertimbangan kemudian adalah bagaimana anak-anak KB (kelompok bermain) Salam yang sedang asik melontarkan mau jadi apa mereka nanti, untuk belajar proses dan pengalaman baru.

Ya, tanggal 22 September kemarin teman-teman kecil tidak hanya melihat dapur. Dalam kelompok berisi lima siswa, bersama-sama memakai celemek, bertudung kepala dan mengenakan sarung tangan kebesaran. Semua bersemangat mengantri giliran masuk dapur.

Tentang pemakaian tudung kepala (shower cap) , sempat beberapa anak terutama laki-laki tidak mau. Bungsu saya Adyatma salah satunya. Dalam pikiran sederhananya tudung kepala digunakan saat membungkus rambut di kamar mandi atau perawatan di salon. Namun ketika dijelaskan hal tersebut untuk mencegah masuknya helaian rambut yang terjatuh ke makanan, ia dan teman kecil yang semula enggan mau memakainya.

Teman-teman kecil inilah yang akan ‘memasak’ pizza mereka sendiri. Walau hanya memoles ‘dough’ pizza yang telah disiapkan dengan saus tomat, menaburkan keju plus daging atau sosis atau jamur sebagai topping sesuai keinginan mereka. Mereka juga yang akan menyaksikan sendiri bagaimana pizza-pizza hasil kreasi mereka itu keluar dari oven untuk siap disantap. Wah… seru yaaa. Sampai Terang minta digendong ibunya untuk melihat pizza buatannya keluar dari oven

Teman-teman kecil belajar jadi koki atau chef. Yang biasanya dikenal lebih kepada pekerjaan ibu atau perempuan. Tapi hari itu, anak laki-laki maupun perempuan sama antusiasnya untuk bercelemek dan ‘mengacak-acak’ dapur gerai pizza, yang dipandu bapak-bapak. Lho kok bapak bukan ibu-ibu?

Kompor yang besar, kulkas yang besar, oven yang besar memang lebih sesuai untuk dipergunakan bapak-bapak. Karenanya pesan yang disampaikan sebelum masuk dapur adalah untuk berhati-hati dan tidak saling mendorong. Jaga diri, jaga teman selalu diingatkan para fasilitator.

Pekerjaan memasak memang bukan hal baru bagi teman-teman Salam. Anak-anak kelompok bermain bahkan sudah terbiasa membersihkan, memotong sayur untuk dimasak ibu-ibu mereka pada Jumat tertentu. Herannya, biasanya saat itu mereka lahap menikmati makanan yang (ikut) mereka siapkan. Ada kebanggaan melihat wortel, sayur yang tadi dipotong kemudian dinikmati.

Anak-anak pun belajar bahwa ada cara, ada alat yang digunakan untuk mengolah makanan. Dan yang terpenting, belajar proses bagaimana sampai sebuah makanan tersaji di hadapan mereka dan melakukannya membuat teman-teman kecil ini lebih paham. Bukan cuma tinggal hap atau tinggal glek, seperti iklan lauk cepat saji. Teman-teman kecil juga belajar untuk menghargai, tidak hanya menghargai makanan yang disajikan namun juga menghargai orang yang membantu menyiapkannya.

Selain belajar tentang proses memasak, kunjungan ke gerai pizza ini sekaligus menjadi sarana anak-anak mengenal profesi yang mungkin nantinya menjadi pilihan cita-cita mereka. Bahwa tak selalu cita-cita itu melulu dokter, pilot, tentara, arsitek, guru atau bahkan ultraman, boboiboy, princess Anna…ehh..(ini benar diucapkan teman-teman kecil) tapi juga menjadi koki.

Belum ada sih teman kecil yang mengutarakan hendak jadi koki, tapi dari cerita ibu-ibu mereka ada beberapa yang selalu bersemangat membantu saat memasak di dapur. Vadin dan Dunia salah dua di antaranya.

Sebagai penutup, saya mau menggarisbawahi. Bahwa mengenal, mempelajari dan mencoba memasak adalah salah satu ketrampilan hidup yang wajib dipelajari setiap anak, apapun jenis kelamin mereka. Karena saat seseorang hendak makan, alangkah elok adalah saat ia mampu mencari, mempersiapkan dan mengolah sendiri bahan-bahan yang akan jadi makanannya. Bukan melulu tergantung atau disediakan orang lain.

Mudah-mudahan ide gerai pizza ini juga diikuti gerai makanan tradisional lain. Sehingga teman-teman kecil bisa belajar dan bereksplorasi ke sana suatu hari nanti.



Memilih menyikapi
22/08/2017, 4:12 pm08
Filed under: Uncategorized

Bermula dari sebuah insiden. Sepulang anak-anak sekolah, mobil ‘kerja’ saya disundul motor yang katanya tidak melihat reting sein mobil. (Maksudnya mobil kerja itu mobil yang ga mulus-mulus amat karena banyak gores-gores, baret-baret dan kawan-kawannya)

Lagi-lagi mobil pasti yang bersalah. Tapi karena melibatkan dua mobil, saya spontan ‘menyalahkan’ mobil di samping diagonal yang sudah tertuduh tidak menyalakan reting sein. Enak saja sudah ‘berbuat’ , tak mengalami kerugian apapun (mobilnya mulus lus..masih plat baru) lalu kabur??!!

Singkatnya, si pengemudi yang ‘nyaris’ kabur, akhirnya yang berhasil di’paksa’ membawa mbak pemotor yang robek bibir dan kedua kakinya; setelah saya yakinkan tidak meminta ganti rugi, karena mobil saya bisa klaim asuransi.

Pfiuuh…walau kesal mobil saya ‘luka-luka’ ..di ujung hari saya terus bersyukur saya dan anak-anak tak ada yang terluka.

Persoalan selanjutnya adalah klaim asuransi yang harus 3×24 jam. Berkeliling di ring road utara Jogja karena kantor asuransinya pindah cukup menyita setengah harian saya.

Tapi kami sekeluarga mau pindahan. Mobil ‘luka-luka’ saya masih perlu kesana sini mengangkut barang pindahan rumah kontrakan.

Ternyata…klaim dan perbaikan di bengkel perlu waktu semingguan dan sungguh ‘menganggu’ pekerjaan saya.

Untung kini ada transport online. Beberapa kali pulang pergi sekolah menggunakan ini. Beberapa kali anak-anak tidak masuk karena sulit antar jemput. Entah berapa kali saya perlu mengisi saldo untuk pembayaran yang lebih murah.

Mau merutuk insiden itu lagi sih sebenar-benarnya? Tuh kan apa yang dia perbuat jadi bikin repot saya..keluar uang banyak de el el. Rugi bandar nih. Lain kali saya musti nuntut yang lebih besar. Entah nominal atau maksa untuk diperbaiki.

Tapi lagi-lagi saya disadarkan. Bahwa dengan adanya insiden itu, ternyata Arsa, sulung saya yg autistik menunjukkan semakin lancar komunikasi.

Di atas posting saya di fb ttg itu.

Lain halnya dengan si bungsu Adyatma. Yang tak pernah naik motor jarak jauh..biasa keliling kompleks saja, tiba-tiba jadi punya pengalaman baru. Dari takut, seru sampai bangga cerita ke teman-teman termasuk ibunya mereka tentang pengalaman naik ojek online.

Berkenalan dengan para rider dan driver pun menceritakan pengalaman yang unik dan seru. Mulai dari driver bersuku Batak tapi fasih bicara Jawa dengan logat Batak, driver berusia lanjut yang ternyata menurunkan profesi supir ke puteranya, driver yang insinyur namun lebih diijinkan istrinya jadi driver taxi online daripada me-metakan tanah di Sumatera.

Rider yang rupanya petani tembakau di Temanggung, rider yang sedih karena kompetitor makin banyak sementara ia sudah menetapkan hati full time rider. Lalu driver yang meminta kita melakukan order fiktif agar poin terpenuhi supaya dia bisa clubbing (astagahhhh), atau driver yang dari awal kita naik hanya berkeluh kesah saja sampai buat mood turun.

Obrolan seputar pendapatan driver online yang bisa nominal 7, bahkan sampai situasi terkini persaingan di tranportasi online sungguh memberi warna tersendiri.

Ya.. orang bilang pasti ada hikmah di balik peristiwa. Betul sih, selama kita tidak merutuk atau berkeluh kesah karenanya.

Toh bila saya cuma merutuk insiden waktu itu, menyumpah-nyumpahi yang terlibat, mobil saya yang ‘luka’ bisa kembali mulus.. tapi hati saya…?

Sungguh saya banyak belajar.

Yang penting sekali lagi..saat ini saya dan anak-anak baik-baik saja. Bersyukur banget pada semesta.



Rehat sejenak
02/06/2017, 4:12 am06
Filed under: Uncategorized

Maaf..utk penyuka tumpahan kata2 saya. 

Saya sedang off sejenak dari blog mengingat saya sedang diminta menuliskan sebuah buku. 

Maaf dan mohon maklum. 

Terima kasih supportnya selama ini 



Menuliskan ibu
14/05/2017, 4:12 am05
Filed under: Uncategorized

Disclaimer :
Hubungan ibu dan saya sungguh personal dan it’s not your business. Saya banyak belajar. Kalau dulu saya sering berdebat karena ya pengen aja berdebat. Kalau sekarang..saya sering prihatin atas apa yang beliau rasakan.

Dan tulisan ini saya buat untuk berbagi…agar perempuan-perempuan di luar sana tak berhenti mengejar mimpi, bila mau (lebih) bahagia dan ‘lepas’ perasaannya di hari tua nanti.

Ini ibu saya..sebentar lagi 76 tahun. Ibu terbiasa lone fighter. Karenanya keras, punya area teritorial plus OCD dan hanya percaya pada pikirannya sendiri. Anak sulung dari 5 bersaudara. Tidak dididik kaya perempuan jaman dulu yang bisa masak dan beres2 rumah. Sekolah… belajar… menjahit. Seperti itulah. Tapi ga pernah sampe ‘mentas’. Sekolah hanya D1. Menjahit pernah punya belasan siswa, tapi kemudian berhenti dengan alasan.. menikah.

Menikah bukan dengan pacarnya. Menikah dengan bapak saya karena dijodohkan. Dulu saat sd saya yang dekat bapak dan benci pada ibu. Tapi usai saya paham betapa cinta penting bagi sebuah pernikahan…saya tak bisa membayangkan bagaimana bisa tidur tiap malam untuk kemudian diajak hubungan suami istri dengan laki-laki yang tak kita cintai. Sungguh2 sebuah penderitaan.

Karenanya ketika bapak saya sakit sakitan lalu meninggal, yang ada padanya adalah beban. Beban yang harus ditanggung karena mau tak mau menjadi bapak. Tak berpendidikan tinggi..apapun dilakoni. Pernah ada kesempatan ‘hebat’ memasarkan produk2 A*way dan sejenis saat belum ada distributor resmi Indonesia..tapi tak membuatnya sukses karena dijalani penuh beban.

Bertahun-tahun saya memahami bahwa apa yang dilakukannya penuh penyesalan. Mengapa berhenti ngajar menjahit? Mengapa tak serius menjadi distributor? Mengapa mau dulu saat dijodohkan? Mengapa tak kawin lari dengan pacarnya? Mengapa ini..mengapa itu?

Penyesalan itu ternyata berbuah ketidakmampuan memiliki standar bahagia. Seringkali saya berusaha mem’bahagia’kan nya dengan mengajak, memberi atau membelikan ini dan itu, tapi senang dan merasa dihargai sesaat ujung-ujungnya kritik. Jarang sekali yang disyukuri sepenuh hati.

Sedih sebenarnya melihat orang terdekat yang melahirkan saya, tak bisa lepas bahagia. Padahal ada yang bilang..menjadi ibu dari anak2 yang tidak memiliki persoalan rumah tangga serius, itu seharusnya membahagiakan. Namun..sekian lama menjadi tulang punggung keluarga, bukan tulang rusuk laki2 ya ; ukuran kebahagiaannya lebih pada punya uang dan tak habis-habis, a k a kaya selamanya.

Wah..berat itu. Jadi uangnya harus tetap ada tapi semua kebutuhannya terpenuhi. Saya bilang..mama salah kawin. Mustinya kawin dengan konglomerat yang hartanya 7 turunan ga habis-habis. Jadi mama bisa jadi nyonya. Dia bilang..ya sebelum wafat..mau kaya sekali lagi..(tapi halal ya) buat punya rumah besar..buat pilgrimage bersama..buat ini..buat itu. Saya ketawa dan bilang, bisa kayak gitu kalau kita mati2an usaha. Uang ga jatuh dari langit begitu saja.

Dan sekali lagi, seorang diri ibu tak pernah berani punya usaha. Tak berani investasi. Pengalaman dan luka batin puluhan tahun, membuatnya takut akan hal-hal beresiko. Lucunya.. sejak 14 tahun yang lalu, ibu malah memilih tinggal bersama keluarga saya yang lebih adventerous dan beresiko. Suka merantau, ga takut perubahan, dll. Tahu kan…keluarga kayak gini bisa bikin deg2an. Dan.. kalau perhitungan nominal simpanan, ibu jelas lebih mampu dari saya dari hasil kumpul ini itu bertahun-tahun. Berapa banyak sudah ibu membantu. Mulai yang besar2 sampai yang remeh temeh. Terbayang bagaimana perasaannya akan hal-hal yang tidak pasti dalam keluarga saya. Setiap saat cemas.

Saya pernah bilang sama ibu. Mama lebih beruntung dari ibunya si anu..mertua si ini karena mama sehat. Tak pernah ada keluhan berarti karena ibu sangat menjaga tubuhnya dengan konsumsi berbagai suplemen kesehatan. Walau terindikasi diabet, hipertensi juga..kondisi ibu lumayan fit di usia 3/4 abad. Ya..sayangnya itu hanya menghibur sesaat untuk kemudian dilupakannya.

Ibu juga orang yang terakhir denial tentang Arsa, cucu pertamanya yang autistik. Kebanggaan sebagai nenek yang lebih dahulu punya cucu di antara saudara yg lain, laki-laki pula, tapi kemudian autis itu benar-benar mengoyak perasaannya. Bila tak ada insiden Arsa menghilang saat bepergian berdua ibu..tentu ia akan terus ‘menolak’ Arsa yang autistik.

Saya yakin..beberapa hal setelah punya cucu yang autis membuatnya banyak belajar. Kadang-kadang dia bilang.. aku sepertinya tak sanggup kalau berada di posisimu. Sering saya melihat air mata di pelupuknya saat Arsa berlaku begini dan begitu. Hei..jujur, kalau dibalik..saya juga tak bisa di posisi ibu.

Akhir2 ini saya paling merasa sedih melihat ibu tak punya sahabat dekat. Saya tak tahu harus menelusuri dari mana penyebabnya. Sepertinya ketika dulu getol-getolnya cari uang untuk keluarga, dia ‘melupakan’ cara utk berteman. Dia tidak merasakan pentingnya untuk punya sahabat tempat cerita, curhat dan lain-lain. Kehadiran orang di sekitarnya adalah in purpose..berdasar kepentingan.

Padahal di saat2 menua seperti sekarang, ada sahabat tempat cerita sungguh baik adanya. Sampai suatu ketika saya terhenyak. Saat diceritakan seorang teman, yang anaknya sekelas dengan anak saya di kelompok bermain. Entah bagaimana awal cerita nya. Ibu saya berujar, “Biarin sekarang cape kau gendong anak perempuanmu ke sana ke mari. Kayak saya nih. Dulu si Ivy udah mau saya ‘buang’ . Saya malu kakaknya baru 6 bulan, masa hamil lagi. Tapi liat sekarang saat tua gini..malah dia jadi sahabat saya. Suka berantem sih.. tapi ya itu yang sama saya di hari tua ya..si Ivy anak yang dulu saya mau buang”

Ternyata perkataan ibu itu tanpa sadar mengubah pandangan teman saya yang lagi kritis postpartum sindrom. She turned back to love her younger kid. Wah…saya ikut mbrebes mili mendengarnya. Jadi..walo kita berdua sering ketus-ketusan..debat tak henti-henti, itung2an .. diem2an atau apalah sejatinya konflik; yang jelas ibu saya tetap menganggap saya sebagai teman.

Ya..saya dan ibu memang punya cara berpikir dan cara hidup yang beda. Tapi entahlah..mungkin perbedaan ini membuat kami kuat dengan cara kami masing-masing. Mungkin dia jadi kuat menghadapi hidup dengan berandai2 seperti kejadian di serial Asoka, Anandi atau Himalaya, kesukaannya. Mungkin saya bisa melepas ketegangan dengan larut dalam gamelan Jawa saat saya menari klasik.

Mungkin dia jadi sehat dengan pola makan yang ia buat dan yakini sendiri. Sementara saya sehat dengan diet dari karbo yang berlebihan, serta banyak makan masakan rumah.

But anyway…saya juga tak pernah tahu ‘pertemanan’ kami sampai berapa lama lagi. Siapa yang bisa tahu kapan cerita hidup kita masing-masing akan berakhir kan? Yang jelas ‘pertemanan’ kami bagai ladang belajar. Saya belajar banyak dari impian-impian ibu yang belum tercapai..kerja keras..bahkan luka hatinya. Entahlah apa beliau juga belajar. Saya tak perlu mencek juga. Biarlah waktu yang akan menguji bagaimana belajar kami masing-masing.

Happy international mother day, mom.

You are irreplacable. Truly.

I love you.

14 Mei 2017



Ini (bukan) kelas parenting
06/04/2017, 4:12 pm04
Filed under: Uncategorized

Sebagai orang tua dari dua putra yang berbeda kondisi, sulung saya autistik dan bungsu saya bisa dikatakan sinkron sekali dengan tumbuh kembangnya; mau tak mau saya terus belajar. 

Salah satu yang menarik saya cermati adalah perbedaan kemampuan berimajinasi pada mereka. 

Sulung saya Arsa, yang autistik bisa dikatakan memiliki imajinasi yang terbatas. Atau mungkin bila berimajinasi pun, malah membuatnya cemas berlebihan. Yang ia katakan ya demikian adanya. Bila diberitahu adanya acara tertentu atau kedatangan tamu tertentu, kita harus bilang sebelumnya dengan kata-kata sederhana yang membuatnya nyaman dan tak menjadi cemas.  

Apalagi kelebihannya sebagai individu visual adalah memori fotografis. Jadi yang terekam adalah apa yang benar-benar dilihatnya bukan apa yang ada dalam imajinasinya. 

Meski kemudian saya menganalisa lagi, mengapa saat Arsa berproses kreatif, dalam hal ini sedang me’lukis’ gambar sesuatu dengan menjahit sulam, ia kadang tampak seperti berimajinasi. Warna-warna yang nyeleneh dari seharusnya, garis lurus yang kemudian berlekuk. Hmm..saya perlu mengamatinya lebih dalam. 

Berbeda dengan adiknya Adyatma yang sedang masa-masa emas berimajinasi, kalau menurut teori Piaget. Ia suka sekali mendengar cerita, sesuka ia menceritakan kembali apa yang dilihat dan didengarnya sembari bertanya apa, siapa dan kenapa? Spontanitasnya selalu mengajak saya berpikir ketika ditanya sesuatu yang kadang luput saya perhatikan. Apa itu food chain setelah menonton Happy Feet two? Siapa nama kambing di film Robinson Crusoe? Atau apa sih warna nila di pelangi? Apa itu haloween? Atau ucapan spontan sambil buka korden, ini malam, di luar sudah gelap.

Di usia 4 tahun ini, setiap malam ia minta belajar. Dan tak semuanya dari buku cetakan. Malah ia minta dibacakan gambar- gambar..warna..angka dari apa yang sudah digambar dan diwarnainya, dan itu dalam dua bahasa. Bila ia belum paham, teruslah ia bertanya. Tak berhenti. Kadang-kadang saya sampai harus me’motong’ keasyikannya ini karena melihat ucapannya sudah ngawur dan hampir jatuh tertidur. 

Arsa di usia Dy saat ini, bukan tidak mendengarkan saat saya bercerita. Namun ia hanya mendengarkan untuk kemudian menelannya setepat mungkin tanpa bumbu imajinasi. Dulu, saya menggunakan ini sebagai sugesti kepadanya untuk membangun pemahamannya akan sesuatu. Saya akan bicara berulang-ulang agar terekam dan ia paham. 

Arsa kecil bermain dengan caranya sendiri. Memegang mobil-mobilan bukan untuk berandai andai tentang mobil yang berjalan. Tapi semua mobil-mobilan itu dideret bak parkir. Demikian halnya dengan binatang. Semua dibuat baris berderet-deret. Imajinasi Arsa dengan keautistikannya ya seperti demikian. 

Arsa kecil suka mendengar saya menyanyi. Jadi dulu sepanjang ia berangkat sekolah, saya akan bernyanyi sepanjang perjalanan. Semua lagu anak-anak yang ternyata kemudian direkamnya (hafal) untuk kemudian bisa dinyanyikannya sekarang. 

Dy lebih suka saya bercerita.. lebih suka kalau saya membacakan sesuatu karena dengan demikian ia bisa bertanya dan bertanya lagi. Dy tak terlalu suka mendengar saya menyanyi. Karena ia tak bisa bertanya di tengah-tengahnya. Tapi dari cerita, melihat gambar, mendengar saya membaca ; Dy akhirnya mengenal huruf, menulis dan nanti mungkin bisa membaca. 

Arsa belajar membaca juga dengan caranya sendiri. Sebagai visual learner, ia memahami simbol-simbol, gambar-gambar, huruf, kata per kata. Ia lebih suka dibawakan brosur dengan gambar-gambar dibanding dibelikan buku khusus untuk membaca.  

Mengamati dan melalui perkembangan keduanya setiap hari membuat saya sungguh belajar sebagai orang tua. Bahwa teori pengasuhan di kelas parenting manapun perlu sangat lentur. Setiap anak adalah individu yang unik, dengan kondisi, kebutuhan dan yang pasti keinginan mereka berbeda-beda. Berharap output dari asuh didik kita akan murni 100% seperti apa yang kita inginkan apalagi cuma berdasar teori ; sungguh sebuah tindakan yang tak elok. 

Hanya diri kita yang sungguh-sungguh tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan anak-anak. Ya..betul..selama kita, mau terus belajar sebagai orang tua; seumur hidup.  



Selasar
10/03/2017, 4:12 am03
Filed under: Uncategorized

Sengaja nulis ini sebagai self healing. Bahwa (mudah-mudahan) trauma saya berjalan di selasar rumah sakit…akan kian memudar. 

Ketemu hantu? Tidak. Mudah-mudahan tak pernah dipertemukan. 

Tapi ini tentang pengalaman sangat personal. Merasa deja vu; berjalan di samping jenasah papa saat masih smp kelas 2. Waktu itu hampir tengah malam. Selasar rumah sakit gelap dan kosong, rimbunan pepohonan gelap, langit kemerahan. Hanya ada kucing dan tikus yang melintas serta denging nyamuk di telinga. 

Hati saya juga kosong. Air mata saya pelan-pelan mengering sepanjang jalan. Papa yang begitu dekat tiba-tiba kini tak bisa saya ajak bicara, makan mi dan es krim bareng plus jalan-jalan naik bajaj. Rasa kehilangan saya mixed up dengan derit roda brankar rumah sakit..yang pelan-pelan memasuki kamar jenasah. 

Temaram lampu.. beberapa jenasah yang tampak setelahnya, sungguh merobek-robek hati saya saat itu. Melebihi rasa takut anak belasan tahun saat melihat mayat. 

Rasa aneh itu ternyata terus muncul saat melintasi selasar rumah sakit dengan setting yang sama. Melihat brankar berisi pasien sama mengejutkannya dengan melihat perawat mendorong brankar kosong dengan bantal habis ditiduri.  

Walau (untung) tak ada saat saya hendak melahirkan. Karena rs ybs tak memiliki selasar yang bisa membuat saya deja vu…seperti layaknya selasar rumah sakit besar atau rumah sakit pemerintah. 

Kali terakhir adalah ketika mama saya mau tak mau diopname minggu lalu. Mengikuti brankar mama sejak di ugd lalu melewati selasar yang panjang, lebih merobek-robek hati saya dibanding melihatnya meringkuk dalam ruang ugd yang full house atau harus melewati malam itu tanpa ada satupun yang mendampingi. 

Saya mulai merenungkan…maybe i’m afraid of being death or feel loss. Mestinya saya makin menyadari bahwa kematian bukan akhir, walau tentu secara fisik menjadi tiada. Mungkin saya mesti terus belajar bahwa siklus lahir, tua, sakit dan mati adalah kewajaran dalam hidup  

Memiliki perasaan berlebihan tak membuat hal2 tersebut menjadi lebih bermakna juga buat hidup saya. Bahwa nantinya selasar rumah sakit tak lagi memberi efek traumatis bagi saya, kini berbuah kesadaran baru. 

Bahwa semua fana. Yang abadi adalah kenangan yang kita buat bersama siapapun yang melintas dalam hidup. Sudahkah ia cukup indah atau cukup berharga untuk dikenang? 

I wish. 

Photo credit : Netterku.com