yukberbagi!


Keep flying….
29/01/2019, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

View this post on Instagram

@30haribercerita Tinggal hitungan jam lagi..karya sulung saya #Arsa yg #autistik akan ikut serta dalam pameran yang diadakan salah satu sekolah di Jakarta. Yang mengajak serta adalah sang psikolog yang tahu bagaimana Arsa dari usia balita. Perasaan saya jujur antara degdegan sekaligus bangga. Ya..bagaimana tidak, remaja yang nyaris 16 tahun ini dulunya nyaris membuat kami putus asa. Terlambat bicara, sering tantrum, dan keluar masuk PAUD dan SD beberapa kali; tanpa tahu apa kelebihannya. Lalu…ini yang sering ditanyakan kepada saya; bagaimana menelusuri minat dan kelebihannya. Trial and error. Olahraga : kursus renang sampai hydrotherapy Hasil : Arsa bisa renang dan free diving tapi tak berbakat jadi atlit. Musik : kursus keyboard privat di rumah. Hasil : tak berlangsung lama. Arsa marah-marah sambil latihan. Bukan tak suka musik, tapi akhirnya jadi penikmat saja. Gambar : berlatih gambar tiap hari karena ditolak di kursus. Hasil : senang meniru jiplak gambar di ensiklopedi Matematika : sempat ikut Kumon sampai level basic. Hasil : mampu tambah kurang bagi kali, kursus tak berlanjut karena gurunya berhenti dan Arsa merasa kehilangan. Masak : dilatih memasak dan membuat kue, sampai banyak perlengkapannya. Hasil : Arsa bisa memasak dan buat kue sederhana, trampil di dapur tapi tak berkreasi. °°°°°°°°°° Akhirnya di usia 8 tahun, saya coba memberi kertas bergambar untuk belajar menjelujur. Ternyata Arsa suka, berlanjut ke gambar lebih rumit, pindah ke kain, dan terus berlanjut sampai sekarang. Hmm.. perjalanan untuk sampai ke pameran besok, cukup panjang dan berliku. Jadi, dengan segala rendah hati saya dan Arsa mengundang teman-teman di Jakarta dan sekitarnya untuk hadir dan menikmati (kalau boleh..meminang) karya Arsa. Besok..27 Januari, hanya 1 hari di gedung area Pacuan Kuda Pulomas. Mulai jam 9 pagi sampai sore. Free dan terbuka untuk semua. #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1926 #Arsa #autistik #empowerment

A post shared by Ivy Sudjana (@ivy_sudjana) on



NANI yang mengabdi
21/01/2019, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

Keberanian memilih mempertahankan tradisi yang diwarisinya, daripada keluarga yang beralih ke aliran kepercayaan baru yang menentang apa kecintaannya selama ini.

Mungkin yang membuatnya tegar (di sela derai air matanya) adalah rangkaian ritual belasan puasa yang telah dimulai sejak usia 8 tahun.

Tak pernah memilih panggung, tapi takkan bisa dipaksa berdangdut erotis demi menambal genteng sanggarnya yang bocor.

Selalu menawarkan diri untuk bisa tampil menari di setiap acara, karena baginya…

Menari adalah nyawa. Tak menari adalah tiada.

View this post on Instagram

@30haribercerita 3-4 jam ME time saya hari ini sungguh bermakna. Bertemu, belajar beberapa gerakan tari dan mendengar sejarah, kisah manis pahit bagaimana @nani_topenglosari , turunan ke 7 trah langsung penari Topeng Losari -Cirebon melestarikan warisan itu. Hentakan tangan, gerak kaki dengan energi besar tapi indah maupun tolehan kepala yang sungguh memukau mata. °°°° "Menari itu berdoa" Untuk Tuhan, tubuh dan bumi. Karenanya saat menari, penari topeng Losari tidak merias diri. (Bukan sengaja seperti tren no make up make up style kekinian yaa) °°°° "Menarilah dengan hati" Karenanya saat menari, penari topeng Losari biasa menutup matanya. Seperti topeng usia 400an tahun yang ditunjukkannya, tanpa lubang mata. Kini, bertopeng atau tidak, penari topeng Losari biasa menutup mata atau tidak menatap ke arah penonton. (Tak masalah gebetan, calon mertua atau debt collector kartu kredit duduk di baris terdepan) □□□ Menarilah terus mbak Nani. Menyesap energi dan semangatmu; sungguh menghangatkan hati.. Meski untuk melestarikan sebuah kekayaan budaya Nusantara, banyak hal yang telah kau korbankan. Semesta tak pernah tidur dan lepas memperhatikan usahamu. #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1916

A post shared by Ivy Sudjana (@ivy_sudjana) on



Menerima dan toleransi
13/01/2019, 4:12 pm01
Filed under: Uncategorized

View this post on Instagram

Regram dari @ivy_sudjana – @30haribercerita Sejak sulung saya terlahir dengan spektrum autistik, tiba-tiba saya diam-diam diasah indra yang lain. Namanya acceptance. °° Bagaimana kemudian saya belajar tentang indra ini, sungguh memperkaya hati saya. Karena indra saya ternyata tak semua orang memiliki. Tak semua orang tua bisa menerima bagaimana keadaan anaknya saat lahir. Kecewa, sedih melihat kecacatan atau ke'taknormalan' anak wajar saat awal. Namun bila terus berlanjut, kamu harus minta sama Tuhanmu indra penerimaan. °° Bagaimana ketika si sulung bertumbuh dalam lingkungan yang berbeda, tak semua memperlakukannya baik-baik saja. Tak semua orang memandang anak autis dengan tatapan wajar dan empati, tak bisa dan tak kuasa juga menutup mulut orang untuk tak mengolok-olok. Marah dan emosi melihat sikap diskriminatif tak akan serta merta membuat anak berubah. Menuntut orang lain untuk menghargai, bagai pisau bermata dua. °° Apakah saya, kamu dan kita juga dianugerahi semesta indra toleransi? Bisa memahami bahwa tak semua bisa sempurna seperti yang diinginkan. Bisa melihat bahwa tak selalu segala sesuatu berjalan dengan baik. Bisa tak menuntut bahwa kondisi, status, pilihan hidup orang lain; tak selalu sama dengan diri sendiri. Tak mudah memang. Saya pun masih berupaya mengasah. Yang menjadi pengingat selalu, bila saya tak menerima dan bertoleransi; bagaimana mungkin saya menuntut orang lain mau berlaku sama kepada sulung saya. Yang autistik dan jelas berbeda. #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1913 Pic credit : www.healthyplace.com

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on