yukberbagi!


Aku ini serupa ‘Gado Gado’ – repost dan edit dari fb Imlek taon ini
17/05/2014, 4:12 pm05
Filed under: Uncategorized

Aku ini org apa jadinya? (Telusur jejak asal muasal)

Lahir di Jakarta dengan akte lahir dr perkawinan luar nikah..he2 kalo resmi..tau2 jd WNA n susah sekolah n urus surat2.
Papa jelas WNA msh 3 nama tp nama Teng Hay itu dikasi sama haji di kwitang kenalan kakek. Kakek n nenek dari papa lahir di Cina…kakek bermarga Tjhai/Tjoa tp spy bs msk Indonesia hrs ambil hongjie (surat tanda masuk) bermarga Lo. Akhirnya nama kakek dan keturunannya ada 2 marga. Nenek jg asli Cina msh bercheongsam celana panjang kain dgn kantong rahasia yg suka kuambil uang recehnya buat beli asinan betawi. Tp nenek tdk pelo..sgt fasih berbahasa indonesia logat betawi. Kedekatannya dgn budaya Betawi jadikan papa n adik2nya lebih kayak Chiau Sen ( Cina peranakan) apalagi mrk ngalamin berbg perang dan revolusi di Indonesia. Mulai dari naek getek ke Tanggerang buat ngantri makanan.., tante gendong adik sambil ngantri roti sama master Belanda…ato sampe sembunyi di lubang bawah tanah waktu jaman Jepang.

Mama beruntung sebagai WNI. Beliau guru n pernah ngajar baik di sekolah China n Indonesia saat masa2 pergolakan.
Sampe ke kakek dr mama…leluhur ini sdh 20 generasi tinggal di Indonesia. Kakek dan saudara2 kandungnya dididik utk tdk lupakan China dan susahnya kehidupan. Walo lhr di sini..kecil2 mrk disuruh balik ke China spy lancar berbhs Mandarin n belajar hidup susah. Bhkn cecak pun prnh disuruh jadi lauk makanan mereka. Nenek lain lg…saat keluarganya merantau dari China dengan kapal2 seperti dalam film Mandarin cuma lebih jelek n mendarat di Makasar. .lahirlah beliau. Karenanya nama belakangnya Ilyas. Kemudian sepersaudaraan pindah ke Jember utk kemudian berkeluarga dan wafat di jkrt.

Dengan papa dan mama yg punya sejarah beda… saya dan kakak tumbuh dan besar di lingkungan pecinan Jakarta, belakang jl Gajah Mada…tapi tau ga kalo kami berdua kudu dipukul pake penggaris utk bljr Mandarin saat kecil.
Kami berdua juga yang nyeleneh…lulus sarjana dr universitas negeri yg waktu itu ga sepopuler Universitas Tarumanegara, Trisakti, Atmajaya ato UKI di kalangan Tionghoa.
Kegemaran saya sejak kcl menari tari-tarian daerah Indonesia..Saya bahkan pernah nari Tor Tor di hadapan penonton berbagai marga Batak yang terus bersorak sampai tari berakhir.
Kakak pecinta musik n marching band. Ia bahkan pernah tampil bbrp kali saat 17 Agustus di istana negara dan membawa pulang berbagai bingkisan berlogo Istana.

Dulu saya suka marah kalo dipanggil amoy n ga suka dipanggil cici. Dulu saya benci warna merah krn merasa terlalu China. Saya sering dianggap kaya oleh tmn2 yg malah sebenarnya lebih kaya dari saya. Suka diduga org Manado…Palembang ato begitu di Bali krn bernama belakang Sudjana..sering dianggap bersuamikan org Bali.
Yah termasuk banyak peristiwa2 diskriminatif yg ga usah lah diceritain krn toh udah berlalu.

Saya menikah dengan berkebaya rancangan bersama suami…krn bagi saya..perempuan seperti apapun dia akan cantik saat berkebaya.. n ini jd kritik hebat dari beberapa kerabat yg masih kental budaya Tionghoa. Bahkan semalam sebelum hari pernikahan..ada tante yg usaha pernak pernik pernikahan..hendak meminjamkan gaun..utk menggantikan kebaya saya..yg katanya kurang ‘layak’ itu. Saya dan suami tak bergeming.

Nama anak2 saya sekarang pun mengambil makna dari bhs Sanskrit tapi mudah diucapkan dan dilafalkan siapapun yg tinggal di Indonesia. Saya dan suami berpikir kalau tidak ada unsur bangsa lain..mengapa memakai nama yang bisa salah pengucapan. Kasihan anaknya..he2
Nah…sekarang malah saya..suami dan anak2 lebih dikira turis Korea ato Jepang he..he kalo beredar di sekitar Kuta dan sekitarnya.

So liat cerita saya..jadi saya beneran gado-gado yah..kayak makanan kesukaan saya. 
Saya org apa jadinya?
*merenung n senyum2 sendiri*

Advertisements


Menolak lupa karena memang tak bisa lupa
10/05/2014, 4:12 pm05
Filed under: catatan saya, ngalamin sendiri | Tags:

Mei 2014
Anak pertama udh 11 thn yg kedua 13 bln
Ga kebayang ternyata akhirnya bisa jadi ibu dua anak lucu2..terutama kalo balik ke 16thn yg lalu dan peristiwa kelas 5 SD

Mei 1998
Jadi staf di sebuah boarding dance company di bilangan Pasaraya Manggarai..justru memberi pengalaman berbeda saat itu.
Cemas..pasti! Aku mencemaskan ibu yg sendiri di rumah dan kakak yg masih pergi bekerja di bilangan Hayam Wuruk.
Aku mencemaskan teman baikku Poen yang masih di kampus Rawamangun dan ibunya yang sendirian di rumahnya di Glodok..saat kerusuhan itu pecah…
Dan..aku sungguh mencemaskan yang kini jadi bapaknya anak2ku karena dia baru dalam perjalanan kereta Bandung-Jakarta.

Aku malah tidak mencemaskan diriku sendiri. Berada satu asrama dengan teman berbagai suku dan dibilangan yang ‘aman’ secara dekat dengan markas polisi militer.

Tapi sungguh aku nggak bisa lupa. Suasana kayak perang dengan bunyi tembakan sana sini..derap langkah kejar-kejaran..teriakan orang..penghentian air…persediaan makanan yang terbatas karena pedagang pasar takut dengan penjarah..

Bahkan karena kaca ruang tidur kami yang dari sisi dalam bisa melihat bebas ke jalan yang hanya dibatasi halaman belakang dan pagar 1.5 m an..suasana jalan raya mirip dengan adegan film. Kejar-kejaran orang bersenjata dan masyarakat umum… tampak jelas seperti layaknya menonton film perang.

Tapi ini nyata…di depan mata kami. Dengan bahan makanan terbatas… (lupa hari keberapa..sampai harus tiga orang laki-laki yang pergi berbelanja di pasar)…kami selalu berkoordinasi dan berkumpul.

Pimpinan asrama kami hanya berpesan.. “bila sampai terjadi apapun…yang laki-laki cepat selamatkan perempuan dan anak-anak. Tidak usah ingat bawa barang apa”
Degdegan beberapa hari itu…mungkin tidak sebanding dengan Poen temanku yang ‘disembunyikan’ di antara teman-teman hijabers dengan bermalam di kampus.
Mungkin tidak sebanding dengan ibunya yang mengasah golok dan pisau untuk siap-siap bila ada penjarah masuk rumah mereka di Pecinan..
Mungkin tidak sebanding dengan temanku dan suaminya yang mobilnya diguncang2 orang di jalan karena dipaksa turun sampai ia stress dan kandungannya tak bisa diselamatkan. Belum lagi ia terguncang karena toko ayahnya di pecinan dijarah habis-habisan…hingga ayahnya langsung stroke (so sorry for that..:'((  I truly understand why you leave Indonesia then)
Mungkin tidak sebanding perasaan kakakku yang harus lari2an bersama teman-temannya di kantor..menyeberang jalan Hayam Wuruk ke Gajah Mada untuk kemudian ‘dilarikan’ oleh para tukang ojek baik hati..beberapa saat sebelum bakar-bakar ban sepanjang jalan, sementara ibuku tak kurang cemas menunggu di rumah.

Pfiuhhh…suasana saat itu memang tak bisa terbayangkan .
Tapi sebenarnya aku seperti deja vu..ke masa kelas 5 SD.
Saat itu aku ‘ditugaskan’ ibu untuk selalu mendampingi ayah yang mulai stroke.
Suatu hari..saat kami pergi ke rumah sahabat ayah untuk mengambil barang…tak disangka kami ‘terperangkap’ suasana panas kampanye salah satu partai.
Tembak-tembakan…orang dipukuli sampai berdarah-darah..sampai kami pun harus ‘disembunyikan’ di salah satu kios di Krekot, Pasar Baru sampai situasi reda.
Begitu reda…tak ada kendaraan untuk pulang. Aku berdua ayah..berjalan kaki berpelukan..melewati toko-toko yang pecah..aparat keamanan yang berjaga..jalanan yang biasa hiruk pikuk..seperti kota mati dan ketakutan yang teramat sangat akan kena peluru nyasar.
Tak terbayang apa perasaanku yang masih kelas 5 SD melihat itu semua

Dua peristiwa itu..tak pernah bisa membuat aku lupa…
Aku memang tak terlahir saat jaman perang dulu. Tapi peristiwa kelas 5 SD itu dan terutama Mei 1998 sudah seperti perang rasanya.
Walau aku hanya menjadi saksi..bukan korban; tapi takut..cemas..saat itu masih bisa terasa sampai sekarang. Mengingatnya sungguh bisa membuatku bergidik.

Namun anehnya tak pernah terpikirkan bagi aku..Poen..dan keluarga kami untuk tinggalkan Indonesia. 
Kami tetap cinta dengan cara kami sendiri..cinta tempat kami lahir..makan hasil buminya…hirup udaranya…melahirkan generasi selanjutnya.
Mungkin saat kami alami semua dahulu… Indonesia sedang berproses. Dan bukan kebetulan kami saksi sejarahnya.

Selalu berdoa…kalo kini dan nanti anak2ku tak akan mengalami hal serupa. Selalu berdoa mereka mengalami hari2 yang lebih baik..pengalaman lebih menyenangkan dariku tinggal di Indonesia.

*juga berdoa untuk mereka yang ‘pergi’ dan mereka yang ‘ditinggalkan’ saat aku kelas 5 SD dan Mei 1998*

image