yukberbagi!


(Saya/Arsa) ‘Menantang’ (Arsa/saya)
15/10/2017, 4:12 pm10
Filed under: Uncategorized

Saya baru saja naik panggung (lagi). Emak2 beranak dua dengan seonggok lemak di perut. Usai lihat fotonya baru malu dan termotivasi diet lagi. Waktu menari, tak terasa. Pokoknya bergerak. Mengapresiasi dan memaknai musik.

Dalam rangka apa? Tanya seorang teman. Ceritanya (tak) panjang. Ada bukaan workshop tari gratis dari sebuah komunitas. Namanya Nalitari, prinsipnya dance ability. Semua orang bisa menari, tak terbatas kecacatan apapun.

Pertama saya yang tertantang. Tapi sewaktu isi formulir, saya langsung teringat Arsa. Putra sulung saya dengan spektrum autistik. Sepertinya asik untuk memberi pengalaman baru untuknya. Waktu itu saya memang sedikit otoriter, mendaftarkannya tanpa ijin, tanpa paham Arsa minat atau tidak. Saya cuma bilang, ayo kita menari. Dan akhirnya kami berdua diterima.

Karenanya..bila sewaktu workshop, ia agak ngambek bahkan sampai marah; semua salah saya. Kurang memberi prolog yang panjang.

Tantangannya yang paling besar waktu itu kalau waktu latihan jatuh di akhir pekan. Bagi Arsa, akhir pekan = jalan-jalan. Tak perlu ke taman hiburan atau makan di restoran..keliling naik mobil sudah membuat ia bahagia.

Namun Arsa banyak belajar di komunitas Nalitari ini. Satu di antaranya tentang memupuk percaya diri. Sebagai individu autistik, perfeksionis dan zero fault itu utama. Hampir setiap usai latihan, saya perlu minta maaf di grup whats app untuk gangguan suara latar Arsa yang memanggil2 saya, mengoceh tentang sabar, tunggu, menari, tidak marah, pergi, tunggu mobil dan lain-lain.

Mungkin ketidaknyaman Arsa ikut serta sama tidak nyamannya dengan telinga orang lain mendengar suara latar. Tapi salah satu PR saya sebagai orang tua individu autistik adalah menariknya dari zona nyaman. Tak bisa melulu kita hidupnya merasa nyaman terus. Karena hidup itu bergerak, berubah, menuju lebih baik.

Dan memberikan pemahaman pada Arsa tentang ini bukan perkara mudah. Karena begitu abstrak. Bagi Arsa dengan rutinitas dan alur waktu sehari-hari yang rigid, perubahan bukan sesuatu yang menyenangkan.

Hal itulah yang membuat saya makin tertantang ‘menjebloskan’ Arsa dalam komunitas dan pertunjukan ini. Apalagi sepengamatan saya, Arsa sejatinya menikmati alunan musik dan senang hati menari di beberapa sesi latihan.

Berbagai siasat pun dilakukan. Bepergian dulu sebelum latihan di akhir pekan, ternyata tak terlalu berefek. Mengiming-imingi untuk bepergian setelah latihan, hanya membuatnya echolalia mengulang ucap kata-kata pergi.. toko merah..tunggu.. sabar. Atau..pergi..mau makan..tunggu..sabar…Itu kalau akhir pekan.

Di hari biasa, tantangannya adalah apakah Arsa menjahit dulu (rutinitas) sebelum latihan, atau membawanya ke tempat latihan. Pernah menjahitnya kelamaan, hingga kami datang terlambat. Pernah membawa jahitan dan menjahit sambil menunggu, cukup merilekskannya; namun saat giliran berlatih Arsa tengah asyik menjahit dan tak mau berhenti yang artinya tidak ikut berlatih.

Setengah optimis saya mulai mendoakan agar Arsa nyaman saat menuju pentas hari H. Berulang kali saya bilang, kalau ia marah-marah atau ribut semasa latihan, nanti teman-teman jadi takut. Tak ada yang mau menari bersamanya lagi (padahal ini tak mungkin terjadi di Nalitari) Terapi homeopathy untuk meredam kecemasannya pun sudah saya siapkan.

Saat gladi kotor, Arsa masih bersuara latar terutama memanggil saya, walau ia mulai menyadari ada sorot lampu, ada panggung dll. Saat gladi bersih saya inisiatif sembunyi. Saat itu setting lampu seperti saat pertunjukkan. Surprise suara latar Arsa berangsur berkurang.

Hingga saat mulai berkostum dan dirias, Arsa mungkin menyadari ia akan tampil. Yang membuat Arsa tak nyaman mungkin face painting bak orang Indian. Berkali-kali ia hendak menghapus polesan cat di muka. Namun teman-teman satu repertoarnya terus memberinya semangat.

Saat Arsa masuk ke panggung..saya malah sempat ke toilet. Sengaja saya menghindar. Sambil terus berdoa dalam hati dengan mantra “Arsa baik-baik saja… Arsa bisa…Arsa nyaman…Arsa mau menari bersama teman-teman”

Tak satupun kecemasan saya terjadi. Arsa naik panggung, menari dengan suara latar cuma satu dua kali..yang kata ayahnya dari area penonton tersamar oleh hingar bingar suara musik repertoarnya.

Pelupuk mata saya nyaris basah, kalau tak ingat saya masih harus menari di repertoar ke empat dengan make up rapi. Perasaan saat itu campur aduk antara bangga dan bahagia. Karenanya begitu Arsa mulai menghapus riasan dan sedikit menggerutu, saya hanya beri sedikit chamomile untuk membuatnya tenang.

Hingga ketika giliran saya tampil, saya tak berpikir harus tampil cantik atau bagaimana. Saya mau tampil ekspresif dan lebih baik; karena saya mengapresiasi Arsa. Mengapresiasi teman-teman di Nalitari dengan cinta dan kasih sayang mereka. Tak hanya buat Arsa tapi juga untuk teman- teman Arsa yang lain.

Dan ketika semua repertoar usai dan menyimak respon penonton; perasaan saya hanya satu. Berterima kasih sungguh-sungguh karena saya bisa memiliki kesempatan menantang diri saya untuk tak lelah membuat Arsa terus ‘hidup’ . Walau saya ‘terkapar’ sampai dua hari setelahnya , namun kesabaran, lelah hati dan kerja keras kami berdua terbayar dengan kesan teman-teman usai menonton.

Kata mbak Fani, “kami harus lebih bisa bersyukur dan belajar mengasihi tanpa batas”.

Wow…Terima kasih atas keberuntungan memiliki kesempatan untuk ‘menari’ dengan hati. Bersama Arsa apalagi.

Advertisements


Bukan cuma “tinggal Lep”
15/10/2017, 4:12 am10
Filed under: Uncategorized

Waktu ide acara di salah satu gerai makanan kekinian pizza muncul di antara ibu-ibu Kelompok Bermain, sempat muncul keraguan, mosok Salam yang mengusung pangan lokal dan sehat ikut acara yang ditawarkan mereka. Membuat pizza lho? Bukan meracik gudeg atau mengolah jenang gempol.

Namun, yang jadi pertimbangan kemudian adalah bagaimana anak-anak KB (kelompok bermain) Salam yang sedang asik melontarkan mau jadi apa mereka nanti, untuk belajar proses dan pengalaman baru.

Ya, tanggal 22 September kemarin teman-teman kecil tidak hanya melihat dapur. Dalam kelompok berisi lima siswa, bersama-sama memakai celemek, bertudung kepala dan mengenakan sarung tangan kebesaran. Semua bersemangat mengantri giliran masuk dapur.

Tentang pemakaian tudung kepala (shower cap) , sempat beberapa anak terutama laki-laki tidak mau. Bungsu saya Adyatma salah satunya. Dalam pikiran sederhananya tudung kepala digunakan saat membungkus rambut di kamar mandi atau perawatan di salon. Namun ketika dijelaskan hal tersebut untuk mencegah masuknya helaian rambut yang terjatuh ke makanan, ia dan teman kecil yang semula enggan mau memakainya.

Teman-teman kecil inilah yang akan ‘memasak’ pizza mereka sendiri. Walau hanya memoles ‘dough’ pizza yang telah disiapkan dengan saus tomat, menaburkan keju plus daging atau sosis atau jamur sebagai topping sesuai keinginan mereka. Mereka juga yang akan menyaksikan sendiri bagaimana pizza-pizza hasil kreasi mereka itu keluar dari oven untuk siap disantap. Wah… seru yaaa. Sampai Terang minta digendong ibunya untuk melihat pizza buatannya keluar dari oven

Teman-teman kecil belajar jadi koki atau chef. Yang biasanya dikenal lebih kepada pekerjaan ibu atau perempuan. Tapi hari itu, anak laki-laki maupun perempuan sama antusiasnya untuk bercelemek dan ‘mengacak-acak’ dapur gerai pizza, yang dipandu bapak-bapak. Lho kok bapak bukan ibu-ibu?

Kompor yang besar, kulkas yang besar, oven yang besar memang lebih sesuai untuk dipergunakan bapak-bapak. Karenanya pesan yang disampaikan sebelum masuk dapur adalah untuk berhati-hati dan tidak saling mendorong. Jaga diri, jaga teman selalu diingatkan para fasilitator.

Pekerjaan memasak memang bukan hal baru bagi teman-teman Salam. Anak-anak kelompok bermain bahkan sudah terbiasa membersihkan, memotong sayur untuk dimasak ibu-ibu mereka pada Jumat tertentu. Herannya, biasanya saat itu mereka lahap menikmati makanan yang (ikut) mereka siapkan. Ada kebanggaan melihat wortel, sayur yang tadi dipotong kemudian dinikmati.

Anak-anak pun belajar bahwa ada cara, ada alat yang digunakan untuk mengolah makanan. Dan yang terpenting, belajar proses bagaimana sampai sebuah makanan tersaji di hadapan mereka dan melakukannya membuat teman-teman kecil ini lebih paham. Bukan cuma tinggal hap atau tinggal glek, seperti iklan lauk cepat saji. Teman-teman kecil juga belajar untuk menghargai, tidak hanya menghargai makanan yang disajikan namun juga menghargai orang yang membantu menyiapkannya.

Selain belajar tentang proses memasak, kunjungan ke gerai pizza ini sekaligus menjadi sarana anak-anak mengenal profesi yang mungkin nantinya menjadi pilihan cita-cita mereka. Bahwa tak selalu cita-cita itu melulu dokter, pilot, tentara, arsitek, guru atau bahkan ultraman, boboiboy, princess Anna…ehh..(ini benar diucapkan teman-teman kecil) tapi juga menjadi koki.

Belum ada sih teman kecil yang mengutarakan hendak jadi koki, tapi dari cerita ibu-ibu mereka ada beberapa yang selalu bersemangat membantu saat memasak di dapur. Vadin dan Dunia salah dua di antaranya.

Sebagai penutup, saya mau menggarisbawahi. Bahwa mengenal, mempelajari dan mencoba memasak adalah salah satu ketrampilan hidup yang wajib dipelajari setiap anak, apapun jenis kelamin mereka. Karena saat seseorang hendak makan, alangkah elok adalah saat ia mampu mencari, mempersiapkan dan mengolah sendiri bahan-bahan yang akan jadi makanannya. Bukan melulu tergantung atau disediakan orang lain.

Mudah-mudahan ide gerai pizza ini juga diikuti gerai makanan tradisional lain. Sehingga teman-teman kecil bisa belajar dan bereksplorasi ke sana suatu hari nanti.