yukberbagi!


Merasa ‘lebih’

Jujur… ini perasaan yg sangat alami, saat kita puas karena bisa merasa ‘lebih’ dari apa yang dilakukan oleh orang lain.
Entah dalam keseharian..entah dalam pekerjaan. Apalagi apa yang kita lakukan itu membuat kita dipuja puji sana sini.

Tanpa disadari hal tersebut berawal dari konsep pengasuhan yang ‘salah’ . Berikut salah satu ulasannya

“Berdasarkan hasil studi terbaru, anak yang tumbuh dengan sifat narsis memiliki orangtua yang memuji anak secara berlebihan. Nantinya, sifat narsis pada anak akan membuat mereka menjadi pribadi yang dominan, superior, dan selalu merasa berhak terhadap penghargaan meskipun kontribusi mereka terbilang minim. Parahnya, kebiasaan sering dipuji dari kecil ini bisa membentuk ketakutan akan kegagalan.” (Dampak Negatif Terlalu Sering Memuji Anak – Tabloid Nakita https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://www.tabloid-nakita.com/mobile/read/4950/dampak-negatif-terlalu-sering-memuji-anak&ved=0ahUKEwiIkYiJweLMAhWBLI8KHW7UAn8QFggYMAA&usg=AFQjCNHxpWSUTCljHh2doUdEKIM_j571zQ )

Bukan nyalahin para orang tua kita sebelumnya sih. Yang kalau dari ulasan itu telah membentuk konsep  narsis sehingga menjadi dominan dan superior.

Tapi saya sungguh prihatin kalau memang benar pribadi tersebut yang kemudian menjadi pihak yang akhir-akhir ini sering memperdebatkan hal yang tak perlu karenanya.

Sungguh ramai perdebatan di media sosial soal merasa ‘lebih’ ini.
Karena saya ibu-ibu..jadi saya bahas tentang ibu-ibu ya.

Banyak yang senang membanding-banding kan; ibu bekerja dan tidak bekerja, ibu menyusui dan tidak menyusui.
Ibu yang memberi kebebasan gadget pada anaknya dan yang tidak. Ibu beranak banyak dan ibu tanpa anak. Ibu melahirkan sesar dan ibu melahirkan normal. Ibu berpakaian terbuka dan ibu berpakaian tertutup.

Bukan hanya merasa lebih atau merasa hebat saja..setelah itu tiba-tiba merasa berhak dan wajar menyerang pihak lain yang menjadi versusnya.
Sungguh aneh sikap menghakimi semacam itu. Karena kita tak pernah tahu apa yang melatarbelakangi seseorang menjalani sebuah pilihan atau mengambil suatu keputusan.

Saya ibu 2 anak dengan cara sectio atau operasi caesar. Saya tak punya pilihan. Secara anatomi jalan lahir anak-anak sungguh jauh dari area vaginal. Walau dibilang posisi bayi saya sudah ‘turun’ tetap saja tenaga medis tak bisa menjangkaunya, dengan tangan saat periksa dalam. Memaksa saya melahirkan normal akan membuat anak saya kehilangan saya… ibunya.

Saya dulu bekerja penuh waktu…pernah paruh waktu dan sekarang jadi ibu rumah tangga. Tentu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karenanya saya jadi mengerti bagaimana berada di posisi masing-masing tersebut. Yang jelas, perasaan diapresiasi atasan saat bekerja dengan baik atau programnya sukses..beda betul dengan perasaan bahagia melihat anak kita telah melalui milestones tertentu dalam tumbuh kembangnya.

Saya pernah harus program kehamilan untuk mendapatkan Arsa, putra sulung saya. Saya tahu rasanya kecewa dan sedih melihat tes pack tak kunjung berstrip dua. Namun saya juga pernah merasa terkejut saat sekian lama tak berKB maipun program apapun..tahu-tahunya dikaruniai putra kedua. Jadi saya paham betul rasanya belum hamil dan hamil tanpa direncanakan. Termasuk pernah merasa kecewa tak bisa menyusui hingga dua tahun buat Arsa dan merasa luar biasa bahagia melampaui masa menyusui dua tahun untuk Adyatma.

Belum lagi soal siapa yang lebih ‘hebat’ dalam mengasuh didik anak autistik/abk lainnya. Saya suka merasa sedih. Bahkan ahli-ahli atau orang-orang yang berjuang dalam dunia yang sama sekalipun suka saling menyerang tentang teori/paham/konsep masing-masing terutama bila berkaitan dengan keberhasilan menangani anak autistik. Ingat lho autistik itu spektrum. Berhasil di anak A belum tentu untuk anak B.

Saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa saya belum ada apa-apa nya dengan asuh didik Arsa. Masih banyak ibunda2 di luar sana yang perjuangannya luar biasa dibanding saya. Saya sih cuma ibu yang keras kepala untuk terus berproses…terus eksplor supaya Arsa mandiri.

Karenanya…tulisan ini sungguh untuk self reminder diri. Buat apa sih merasa ‘lebih’ . Toh tiap orang punya perjuangan hidup dan tujuan hidup yang beda.

Yang jelas saya akan ajarkan terus pada anak-anak. Dimulai dengan memuji mereka sewajarnya. Salah yah ditegur, dimarahi dan diberi tahu kesalahannya. Bersikap  perilaku positif tentu akan saya puji..beri reward atau reinforcement untuk konsisten dengan sikapnya.

Semuanya tentu tak semudah ditulis di sini. Tapi dengan mengingat ketidaksukaan pada sikap membanding-bandingkan plus arogansi merasa paling benar…tentu memicu saya untuk tidak melakukannya, plus menjadi reminder yang baik saat mengasuh didik anak-anak.

Kalau kesal sering dibanding-bandingin… yuk mulai dari diri sendiri..untuk tak mudah merasa ‘lebih’ .

Tak bisa rubah orang…minimal diri sendiri tidak melakukan hal yang sama.



‘Berhitung’ demi mandiri

Saya sudah mulai ajarkan anak sulung saya Arsa untuk berwirausaha. Dia autistik tapi mengapa tidak? Justru karena dia autistik…saya perlu ajarkan bagaimana ia kelak bisa menghidupi dirinya sendiri.

Awal-awal saya yang keluar modal untuk beli bahan, beli alat. Kain, benang, jarum, pemidangan dan pernak pernik lainnya.

Nah setelah terkumpul sejumlah uang, mulailah ia membiayai proses produksi. Lengkapi warna benang, beli pernak pernik jahit, beli bahan kain, biaya ngeframe atau ongkos jahit, dan tentu membayari duli ongkos kirim ke customer.
Semua saya catat..karena ia belum paham pencatatan keuangan.

Sejatinya sih… anak saya tak peduli berapa banyak uang yang ia peroleh. Ia cuma senang dan senang menjahit. Menghitung berapa biaya produksi atau untung yang didapat, juga belum bisa.
Namun saya berusaha untuk ‘hitung2an’ untuknya.

Saya sering berpikir, apakah saya keterlaluan memberi harga untuk karyanya Arsa. Jangan-jangan ada yang menganggap saya mulai komersil. Namun saya berpikir lagi. Ini handmade…ini adalah proses pembelajaran bagi Arsa.
Harga ke konsumen yang saya berikan adalah standar harga sebuah sulaman + (biaya bahan+ongkos jahit) kalau tas.
Kalau yang di frame : standar harga sebuah sulaman + biaya framing.
Dan kalau di luar kota berarti masing2 ditambah ongkos kirim lagi.

Yang terakhir karya Arsa Jahitan Arsa merantau ke Buitenzorg itu..Arsa yang biayai sendiri ongkos produksi dan ongkos kirimnya.

Nah… hitung-hitungannya; bila ada yang membeli produk Arsa…uang yang murni Arsa dapatkan nantinya, hanya seharga standar harga sebuah sulaman (range 180ribu – 300 ribu) yang kemudian saya tabung.

Tabung buat apa sih? Buat beli bahan lagi. Buat kursus jahit. Beli mesin jahit….sehingga nantinya Arsa bisa menjahit atau bahkan membordir dengan mesin. Sungguh senang membayangkannya.

Jalan Arsa memang masih panjang. Tapi mulainya Arsa berwirausaha ini..mudah-mudahan bisa membekalinya untuk jadi mandiri. Saya selalu mendoakannya.

image

Arsa ‘berhitung’ untuk kemandiriannya nanti.



Makin dikasihani..makin laku..
12/05/2016, 4:12 pm05
Filed under: Uncategorized

Susah juga rangkai judulnya.
Tapi ini tentang karakter.
Karakter orang yang suka share plus tentu yg baca postingan yg bikin mellow ato malah nangis bombay…n suruh ketik kata *min.

Kesimpulan saya.. tanpa sadar kita lebih ‘senang’ bila melihat postingan yg menyedihkan ato memprihatinkan.
Mungkin..mungkin empati ato sekadar simpati org2 masih bagus adanya. Saya patut bersyukur.

Tapi abis ngerasa kasihan..kita berbuat apa..utk membantu org tersebut?
Hahhh…bantu share
.. oke itu udh lumayan.
Trus apa lagi?  Bantu cari lokasi di mana org ybs…
Ini lbh lumayan…
Apa lagi?  Bantu hub dinas ato pihak terkait untuk bantu..
Wah..bagus itu..
Kalo kamu..apa?  Ga bantu apa-apa..cuma ketik *min ajah..
$#@&??

Pfiuhhhh…ga heran shitnetron negara manapun yg jual  kesedihan..yg ceritanya mellow selangit… bnyk disukai.
Karena kita…jangan2 ‘penikmat’  penderitaan org lain.

Saya punya contoh yg jelas.
Kisah saya jatuh bangun bersama Arsa yg autistik di sebuah website…sangat digandrungi.
Komennya banyak banget. Kayaknya sampai bbrp bln yg lalu msh ada yg komen n sharing ceritanya

Lalu saya buat lanjutannya. Bagaimana saya dan Arsa ‘move on’ dari perjuangan n kesedihan masa lalu…untuk menata hari depan….Yang ini malah minus komen. He..he…sungguh kondisi yg aneh, bukan..

Sy cb browsing ttg hal ini.
Ternyata ada temuan mengejutkan dari 
https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://researchnews.osu.edu/archive/tragedies.htm&ved=0ahUKEwi07pKG56TLAhVRB44KHZDTBHkQFggmMAQ&usg=AFQjCNGWqB_QB6Rh3DEKhqCG7cCJwN228g

Ini sedikit kutipan dari artikel tersb.
“Tragic stories often focus on themes of eternal love, and this leads viewers to think about their loved ones and count their blessings,” said Silvia Knobloch-Westerwick, lead author of the study and associate professor of communication at Ohio State University.

Tragedi membuat org memikirkan org2 yg dicintai dan mensyukurinya.

Riset yg kemudian dilakukan Knobloch-Westerwick ini sampai pada kesimpulan

“Tragedies don’t boost life happiness by making viewers think more about themselves.  They appeal to people because they help them to appreciate their own relationships more,” she said.

But why would people have to get sad by watching a tragedy to feel grateful about relationships in their own lives?

Knobloch-Westerwick said this fits with research in psychology that suggests negative moods make people more thoughtful.

“Positive emotions are generally a signal that everything is fine, you don’t have to worry, you don’t have to think about issues in your life,” she said.

“But negative emotions, like sadness, make you think more critically about your situation.  So seeing a tragic movie about star-crossed lovers may make you sad, but that will cause you to think more about your own close relationships and appreciate them more.”

Research has also shown that relationships are generally the major source of happiness in our lives, so it is no surprise that thinking about your loved ones would make you happier, she said.

“Tragedies bring to mind close relationships, which makes us happy.”

Emosi yg positif umumnya pertanda tak ada yg perlu dikhawatirkan..tak ada yang perlu diperjuangkan.

Emosi yang negatif seperti kesedihan atau penderitaan..membuatmu berpikir lebih kritis dan bersyukur atas relasi dan interaksi pertemanan selama ini.

Nah…
Mudah2an aja riset itu benar adanya ya..
Sebelum saya jadi..khawatir kalau2 keprihatinan atau rasa kasihan terhadap seseorg, diekspos dan disalahgunakan orang yg berniat jahat…misal utk melakukan penipuan.

Kuncinya sih…listen to your inner voice.
Mo kasihan ato ga…yuk belajar dengarkan kata hati.



‘Mendidik’ untuk jadi yang ‘terdidik’
02/05/2016, 4:12 pm05
Filed under: Uncategorized

Di hari yg belum berganti ini…media sosial ramai dengan hari pendidikan nasional…pemerkosaan remaja…aksi baku tembak polisi dan ‘jagoan’ asing…demo mahasiswa berujung rusuh…
Sungguh dunia yang ‘ramai’.

Dan kita makin tak ‘terdidik’ .
Tak peduli apa gelar di belakang nama…tak peduli kita pernah bersekolah di luar negeri sekalipun…atau tak pernah sekolah sama sekali; ternyata kecepatan jempol untuk beraksi di gadget tuh SAMA.
Begitu mudah mengklik share untuk sebarkan hoax,  memposting rangkaian kata menebar fitnah dan kebencian, memberi komentar seenak perut atau menyebar foto-foto tidak layak macam korban2 yang tak seharusnya konsumsi publik.

Dan walau kita tak melakukan itu semua.. seberapa banyak dari kita yang peduli untuk ‘mendidik’ teman-teman tersebut?
Dengan ‘meluruskan’ berita hoax…dengan melaporkan postingan foto bukan konsumsi publik sebagai spam atau inappropriate picture…dengan memberi komen yang sesuai dengan porsinya.

Dunia yang cuma sejauh jari-jari mengakses gadget dan jaringan…memang sudah berubah. Info..isu..berita apapun..dengan cepat menyebar plus meresap dalam pikiran kita.
Tapi banyak hal juga yang bisa kita akses untuk menjadi resources kita dalam mendidik.

Mau buat tugas…tak harus beli buku. Asal ada wifi atau jaringan
..tugas selesai.
Mau cari printable worksheet…asal punya printer…ortu semangat anak2 senang.
Mau cari resep buat masak bersama…tinggal pilih aja resep yang mana.
Mau cari tutorial atau Do It Yourself apapun..asal bisa akses youtube…search aja tutorial apa yang ingin diujicoba.
Mau cari educational games.. browsing lah yang mana yang sesuai umur.
Mau cari pattern jahit baju/tas pun..saat ini banyak yang membagikannya

Jadi…
Kekuasaan untuk bisa ‘mendidik’ atau menjadi yang ‘terdidik’ dengan baik itu sepenuhnya..sungguh tergantung kita. Tepatnya sih jari-jari tangan kita.
Dan itu tak melulu kita harus berlatar belakang pendidikan guru/tenaga kependidikan…atau kita punya sekolah.

Siapa pun bisa…asal mau.
Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Selamat ‘mendidik’ setiap saat!!
Selamat menjadi yang ‘terdidik’ dalam setiap langkah kita…di dunia nyata maupun dunia maya.